• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laju Adopsi Inovasi di Madrasah Ibtidaiyah

Dalam dokumen DIFUSI INOVASI PEMBELAJARAN TEMATIK (Halaman 116-0)

BAB VII LAJU ADOPSI INOVASI PEMBELAJARAN

C. Laju Adopsi Inovasi di Madrasah Ibtidaiyah

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik dalam proses difusi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidayah Tangerang Selatan yang berlangsung dalam rentang waktu 2013-2019 sebagaimana data hasil penelitian di atas sebagai berikut:

Tabel 7. 16 Laju Adopsi Inovasi di Madrasah Ibtidaiyah

NO

Tahun Adopsi Inovasi

Persentase Laju Adopsi Inovasi Pembelajaran Tematik

MI MIN MIS

1 2013 6 22 6

2 2014 9 9 10

3 2015 12 16 12

4 2016 18 11 19

5 2017 16 10 16

6 2018 18 11 18

7 2019 14 13 12

8 NONE 7 9 8

Berdasarkan table 7.16 di atas diketahui bahwa laju adopsi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah baik Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta berlangsung dari tahun 2013-2019. Pada tahun 2013 di Madrasah Ibtidaiyah laju adopsi

inovasi pembelajaran tematik terdiri dari enam persen, di Madrasah ibtidayah Negeri 22 % dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta terdapat enam persen. Pada tahun 2014 laju adopsi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah terdiri dari Sembilan persen, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sembilan persen, dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta adalah 10 persen. Pada tahun 2015 di Madrasah Ibtidaiyah terdiri dari 12 %, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 16 % dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta adalah 12 %. Pada tahun 2016 di Madrasah Ibtidaiyah adalah 18%, di Madrasah Ibtidaiya Negeri 11%, dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta adalah 19 %. Pada tahun 2017 di Madrasah Ibtidaiya 16%, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 10%, dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta adalah 16%. Pada tahun 2018 di Madrasah Ibtidaiyah 18%, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 11% dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta adalah 18%. Pada tahun 2019 di Madrasah Ibtidaiyah 14%, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 13%, dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta adalah 12%. Dengan demikian yang Paling banyak laju adopsi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah adalah tahun 2006 dan tahun 2018, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri paling banyak tahun 2013, dan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta paling banyak di tahun 2019.

Berdasarkan proses keputusan inovasi, laju adopsi inovasi yang berlangsung di tahun 2013-2019 di Madrasah Ibtidaiyah baik Madrasah Ibtidaiyah Negeri, dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta seperti data di atas sebagaimana tergambar pada table 4.39 berikut ini:

Tabel 7. 17 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2013 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Confirmation

MI 10 7 4 4 3

MIN 34 26 24 21 13

MIS 11 6 5 4 1

Berdasarkan table 7.17 di atas diketahui pada tahun 2013 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 10 % di MI, 34% di MIN, dan 11% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat tujuh persen di MI, 26% di MIN, enam persen di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat empat persen di MI, 24

% di MIN, dan lima persen di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui empat persen di MI, 21

% di MIN, dan empat % di MIS pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan

pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui tiga persen di MI, 13% di MIN, dan satu persen di MIS pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2013 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat dari gambar sebagai berikut:

Gambar 7. 1 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2014

Pada tahun 2014 laju adopsi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah dapat dideskripsikan sebagaimana tergambar pada table 7.18 sebagai berikut:

Tabel 7. 18 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2014 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Conifrmation

11

MI 11 10 9 8 6

MIN 10 13 8 4 10

MIS 12 12 11 9 7

Berdasarkan table 7.18 di atas diketahui pada tahun 2014 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 11 % di MI, 10% di MIN, dan 12% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat 10 % di MI, 13% di MIN, 12 % di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat sembilan persen di MI, delapan persen di MIN, dan 11% di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui delapan persen di MI, empat persen di MIN, dan Sembilan persen di MIS yang pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui enam persen di MI, 10% di MIN, dan tujuh persen di MIS yang pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2014 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat dari gambar sebagai berikut:

Gambar 7. 2 Laju Adopsi Inovasi tahun 2014

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2015 berdasarkan proses keputusan inovasi sebagaiman tergambar pada table 7.19 sebagai berikut :

12

Tabel 7. 19 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2015 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Conifrmation

MI 16 14 12 10 11

MIN 18 17 19 19 18

MIS 15 15 15 12 11

Berdasarkan table 7.19 di atas diketahui pada tahun 2015 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 16 % di MI, 18% di MIN, dan 15% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat 14 % di MI, 17% di MIN, 15 % di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat 12 % di MI, 19 % di MIN, dan 15% di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang

inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui 10% di MI, 19 di MIN, dan 12% di MIS yang pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui 11% di MI, 18% di MIN, dan 11 % di MIS yang pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2015 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat dari gambar 7.3 sebagai berikut:

Gambar 7.3 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2015

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik tahun 2016 di Madrasah Ibtidaiyah dapat dideskripsikan sebagaimana dapat dilihat pada table 7.20 sebagai berikut:

15

Tabel 7. 20 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2016 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Conifrmation

MI 19 20 16 19 16

MIN 12 10 13 15 11

MIS 19 22 21 22 19

Berdasarkan table 7.20 di atas diketahui pada tahun 2016 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 19 % di MI, 12% di MIN, dan 19% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat 20 % di MI, 10% di MIN, 22 % di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat 16 % di MI, 13 % di MIN, dan 21% di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang

inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui 19% di MI, 15 di MIN, dan 22% di MIS yang pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui 16% di MI, 11% di MIN, dan 19 % di MIS yang pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2015 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat dari gambar 7.4 sebagai berikut:

Gambar 7.4 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2016

Laju Adopsi inovasi pembelajaran tematik berdasarkan proses keputusan inovasi di Madrasah Ibtidaiyah tahun 2017 dapat dideskripsikan berdasarkan table 7.21 sebagai berikut:

19

Tabel 7. 21 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2017 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Conifrmation

MI 15 16 14 17 19

MIN 9 11 11 9 14

MIS 16 17 18 18 19

Berdasarkan table 7.21 di atas diketahui pada tahun 2017 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 15 % di MI, Sembilan persen di MIN, dan 16% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat 16 % di MI, 11% di MIN, 17 % di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat 14 % di MI, 11 % di MIN, dan 18% di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang

inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui 17% di MI, Sembilan persen di MIN, dan 18% di MIS yang pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui 19% di MI, 14% di MIN, dan 19% di MIS yang pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2017 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat dari gambar 7.5 sebagai berikut:

Gambar 7.5 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2017 16

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik tahun 2018 di Madrasah Ibtidaiyah dapat dideskripsikan sebagaimana tergambar pada table 7.22 sebagai berikut:

Tabel 7. 22 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2018 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Conifrmation

MI 16 16 17 22 17

MIN 9 8 10 19 13

MIS 16 18 21 23 21

Berdasarkan table 7.22 di atas diketahui pada tahun 2018 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 16 % di MI, Sembilan persen di MIN, dan 16% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat 16 % di MI, delapan persen di MIN, 18 % di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat 17 % di MI, 10 % di MIN, dan 21% di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui 22% di MI, 19% di MIN, dan 23% di MIS yang pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui 17% di MI, 13% di MIN, dan 21% di MIS yang pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2018 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat pada gambar 7.6 sebagai berikut:

Gambar 7.6 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2018

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah tahun 2019 berdasarkan proses kepututsan inovasi dapat dideskripsikan sebagaimana table 7.6 sebagai berikut:

Tabel 7.23 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2019 Satuan

Pendidikan

Persentase Proses Keputusan Inovasi

Knowledge Persuation Decision Implementation Conifrmation

MI 13 13 12 13 18

MIN 8 15 14 13 21

MIS 11 10 10 13 18

Berdasarkan table 7.23 di atas diketahui pada tahun 2019 laju adopsi inovasi pada tahap knowledge 13 % di MI, delapan persen di MIN, dan 11% di MIS dalam berupaya mencari informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, memahami perlunya mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menyetuji mengadopsi inovasi pembelajaran tematik dan mengetahui efektivitas mengadopsi inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap persuation diketahui terdapat 13 % di MI, 15 % di MIN, 10 % di MIS yang pertamakali tertarik untuk mengadopsi

inovasi pembelajaran tematik, mendiskusikan untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, menerima informasi untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, membentuk citra positif terhadap inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kepala madrasah untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan teman sejawat untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, mendapat dukungan kelompok kerja madrasah dan mendapat dukungan kelompok kerja guru.

Pada tahap decision diketahui terdapat 12 % di MI, 14 % di MIN, dan 10% di MIS yang pertamakali memutuskan terlibat pada kegiatan yang mengarah pada pilihan mengadopsi pembelajaran tematik, memutuskan berniat mencari informasi tambahan tentang inovasi pembelajaran tematik, dan memutuskan berniat untuk mencoba mempraktekan pembelajaran tematik

Pada tahap implementation diketahui 13% di MI, 13% di MIN, dan 13% di MIS yang pertamakali menggunakan pembelajaran tematik, focus melatih diri dalam penggunaan pembelajaran tematik, terus menambah informasi tentang inovasi pembelajaran tematik, secara regular menggunakan inovasi pembelajaran tematik, dan memodifikasi penggunaan inovasi pembelajaran tematik.

Pada tahap confirmation diketahui 18% di MI, 21% di MIN, dan 18% di MIS yang pertamakali mengakui manfaat penggunaan pembelajaran tematik, menjadikan pembelajaran tematik sebagai kegiatan rutin, mempromosikan kepada orang lain untuk mengadopsi inovasi pembelajaran tematik, dan meyakini pembelajaran tematik tidak akan digantikan dengan pembelajaran lain.

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik pada tahun 2019 berdasarkan proses keputusan inovasi dapat juga dilihat pada gambar 7.7 sebagai berikut:

Gambar 7. 7 Laju Adopsi Inovasi Tahun 2019

Berdasarkan hasil di atas menegaskan bahwa laju adopsi sebagai komponen waktu yang penting dalam proses difusi inovasi.

Rogers (2003) menjelaskan bahwa aspek waktu dalam proses difusi inovasi pembelajaran tematik sebagai aspek yang penting, demikian juga yang diakui oleh Suyantiningsih (2010) begitupula Warford (2010) menyetujuinya. Dimensi waktu dalam proses difusi inovasi melibatkan proses keputusan inovasi dari pengetahuan awal individu sampai dengan penerimaan atau penolakan inovasi, penerimaan inovasi oleh suatu kelompok atau individu dapat sebagai penerima cepat atau yan paling lambat dibandingkan dengan kelompok sosial yang lainnya, dan yang terakhir adalah tingkat kecepatan suatu inovasi diterima oleh suatu kelompok ditentukan oleh jumlah anggota yang menerima inovasi dalam periode waktu tertentu. Berdasarkan kepekaan terhadap inovasi dapat dikategorikan menjadi lima kategori pengadopsi inovasi yaitu 1) inovator, 2) pemula, 3) mayoritas awal, 4) mayoritas, dan 5) terlambat (Satori, Djam’an & Sa’ud, 2017). Hal ini pula yang dikategorikan oleh (M. E. Rogers, 2003) yaitu Innovators, early adopters, early majority, late majority, dan laggards. Peranan pentingnya waktu dalam laju adopsi inovasi diantaranya pada proses keputusan inovasi. Sementara itu proses keputusan inovasi terdiri dari

11

knowledge, persuasion, decision, implementation, dan confirmation (M. E. Rogers, 2003). Oleh karena itu dalam setiap tahap proses keputusan inovasi membutuhkan waktu untuk memutuskan menerima atau menolak suatu inovasi.

122

BAB VIII KESIMPULAN

Inovasi Pemberlajaran tematik telah terdifusikan pada Organisasi satuan pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Tangerang Selatan baik negeri maupuan swasta dengan perolehan rata-rata 4.15 dari 279 anggota organisasi yang menyatakan setuju terhadap inovasi pembelajaran tematik. Inovasi Pembelajaran tematik dipersepsikan memiliki tingkat keinovasian yang netral dengan perolehan total rata-rata 3,76 oleh 206 guru Madrasah Ibtidaiyah Tangerang Selatan.

Inovasi Pembelajaran terdifusikan di Madrasah Ibtidaiyah Tangerang Selatan melalui proses keputusan inovasi knowledge, persuation, decision, implementation dan confirmation dengan paling banyak penggunakan saluran pelatihan, kepala sekolah, dan workshop dan paling sedikit terdiri dari penggunaan buku kurikulum, lokakarya, whatsapp, tweeter, news online, instagram, majalah, radio, koran dan ebook.

Change Agent yang berperan dalam proses difusi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah yang paling banyak adalah Kepala Madrasah dan yang paling sedikit adalah Widyaiswara.

Peran yang dilakukan oleh change agent terdiri dari To develop a need for change, To establish an information exchange relationship, To diagnose problems, To create an intent to change, To translate an intent into action, To stabilize adoption and prevent disocontinuance dan To achieve a terminal relationship

Laju adopsi inovasi pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah dalam proses keputusan inovasi rata rata paling banyak pada tahun 2016 untuk tahap knowledge, persuation, dan decision, tahun 2018 untuk tahap implementation, tahun 2017 untuk tahap confirmation. Sementara itu, tahun 2013 merupakan yang paling sedikit proses difusi inovasi pembelajaran tematik dalam proses keputusan inovasi. Laju Adopsi inovasi pembelajaran tematik berdasarkan kategori pengadopsi diketahui bahwa di Madrasah Ibtidaiyah Tangerang Selatan terhadap inovasi pembelajaran tematik dapat kelompokan menjadi terdapat 8% guru sebagai innovator, 10%

guru sebagai early adopter, 34% guru sebagai early majority, 35%

guru sebagai late majority, dan 13% guru sebagai laggard.

124

DAFTAR PUSTAKA

Aiman, U. (2016). Evaluasi Pelaksanaan Penilaian Autentik Kurikulum 2013; Studi Kasus Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tempel Sleman Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Madrasah, 1(1), 115–122.

Akdon. (2017). Modul Aplikasi Statistika Dalam Pendidikan. SPS UPI.

Alshmrany, S., & Wilkinson, B. (2018). Factors Influencing the Adoption of ICT by Teachers in Primary Schools in Saudi Arabia. International Journal of Advanced Computer Science

and Applications, 8(12), 143–156.

https://doi.org/10.14569/ijacsa.2017.081218

Asiah, H. dkk. (2017). Inovasi Model Penilaian Proses Pada Pembelajaran Kimia Untuk Mengukur Keterampilan Laboratorium Dan Aktivitas Siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 11(2).

Chumdari, C., Sri Anitah, S. A., Budiyono, B., & Nunuk Suryani, N.

(2018). Implementation of Thematic Instructional Model in Elementary School. International Journal of Educational

Research Review, 3(4), 23–31.

https://doi.org/10.24331/ijere.424241

Dianti, P. (2017). Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran.

JPIS, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 1(1), 115–124.

https://doi.org/10.17509/jpis.v23i1.2062.6846, DOI:

http://dx.doi.org/10.17509/jpis.v23i1

Dibra, M. (2015). Rogers Theory on Diffusion of Innovation-The Most Appropriate Theoretical Model in the Study of Factors

Influencing the Integration of Sustainability in Tourism Businesses. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 195,

Influencing the Integration of Sustainability in Tourism Businesses. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 195,

Dalam dokumen DIFUSI INOVASI PEMBELAJARAN TEMATIK (Halaman 116-0)