• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Kurikulum 2013

2.1.1.3 Pendekatan Saintifik

2.1.1.3.2 Langkah Pendekatan Saintifik

Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta (Kemendikbud, 2013:214). Proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah ini dilakukan secara berurutan. Namun, pembelajaran ini juga menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah.

Pertama, kegiatan mengamati dapat membuat siswa mengetahui makna dari proses pembelajaran dengan adanya media obyek secara nyata (Kemendikbud, 2013:216). Proses mengamati menggunakan media nyata untuk dapat diamati oleh indera siswa. Kegiatan mengamati akan membuat siswa dapat terlibat langsung di dalam pembelajaran.

Kedua, kegiatan menanya menjadi langkah pendekatan saintifik selanjutnya. Kegiatan menanya dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal (Kemendikbud, 2013:217). Pembelajaran akan efektif bila terjadi interaksi baik antara guru ataupun siswa. Siswa yang menjawab pertanyaan menandakan bahwa siswa tersebut menanggapi pembelajaran yang dilakukan hari itu dengan menyampaikannya melalui bahasa lisan. Siswa memperhatikan apa yang diajarkan pada hari itu. Semakin sulit pertanyaan yang dilontarkan guru, dapat pula menunjukkan semakin tinggi tingkat kemampuan berpikir siswa yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Ketiga, kegiatan menalar dalam pembelajaran yang mengacu Kurikulum 2013 menandakan bahwa siswa diajarkan untuk lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta yang diamati untuk memperoleh pengetahuan (Kemendikbud, 2013:221). Kegiatan menalar membuat pemikiran siswa yang telah didapat selama pembelajaran dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Hasil dari penghubungan ini akan membuat siswa memperoleh pengetahuan.

Keempat, kegiatan mencoba, yang dilakukan oleh siswa dapat berupa eksperimen sederhana. Siswa harus memiliki keterampilan proses untuk dapat

mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar dan mampu menggunakan metode juga sikap ilmiah untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Kemendikbud, 2013:236). Kegiatan eksperimen dalam pembelajaran yang menggunakan Kurikulum 2013 menunjukkan bahwa kegiatan ini menuntut siswa untuk banyak melakukan kegiatan. Kegiatan eksperimen inilah yang nantinya akan mengasah keterampilan proses siswa.

Kelima, kegiatan mengolah, yang mengkondisikan siswa untuk belajar bekerjasama dengan siswa lain. Situasi belajar yang kolaboratif akan mampu membuat siswa berinteraksi dengan empati, saling menghormati dan menerima kekurangan juga kelebihan siswa lain (Kemendikbud, 2013:237). Kegiatan mengolah mengajak para siswa untuk mengerjakan tugas bersama-sama dan saling membantu satu sama lain. Sikap kerjasama inilah yang kemudian dapat membantu siswa untuk belajar berempati, menghormati dan menerima kekurangan juga kelebihan siswa lainnya.

Keenam, kegiatan menyimpulkan yang merupakan tindak lanjut dari kegaitan mengolah. Kegiatan menyimpulkan dapat dilakukan bersama-sama dalam satu kelompok atau dikerjakan sendiri setelah mengolah informasi (Kemendikbud, 2013:238). Kegiatan ini menjadi penting dilakukan agar siswa juga belajar bagaimana informasi yang telah didapat ditindak lanjuti dengan kegiatan menyimpulkan. Kesimpulan yang telah didapat kemudian akan menjadi pemahaman yang mendalam bagi diri siswa karena siswa mampu menyimpulkan sendiri dari kegiatan belajar yang telah dilakukan.

Ketujuh, kegiatan menyajikan dapat disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sbagai bahan untuk portofolio (Kemendikbud, 2013: 238). Guru dapat meminta siswa untuk membuat laporan tertulis dari apa yang telah dipelajarinya selama beberapa hari. Guru dapat memberitahukan terlebih dahulu kepada siswa bagaimana proses pembuatannya. Segala hasil pekerjaan siswa dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan juga dapat dikumpulkan dan dijadikan sebagai bahan penilaian oleh guru. Kumpulan dari hasil kerja siswa dalam beberapa hari, menjadi bukti otentik yang dapat membantu guru untuk menilai hasil kerja siswa.

Kedelapan, kegiatan mengkomunikasikan dilakukan pada kegiatan akhir untuk mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik individu ataupun kelompok (Kemendikbud, 2013:238). Kegiatan mengkomunikasikan dilakukan oleh siswa dengan menyampaikan hasil pekerjaannya atas pembelajaran yang telah dilakukan hari itu. Guru dapat bertugas untuk mengklarifikasi jika ada jawaban dari siswa yang kurang tepat. Kegiatan mengkomunikasikan dapat membuat guru ataupun siswa lain untuk belajar menghargai orang lain yang tengah menyampaikan hasil karyanya. Siswa lain juga dapat belajar dari hasil pekerjaan yang disampaikan oleh siswa lainnya.

Pendekatan keterampilan sains dapat diartikan pula sebagai pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses menerapkan berbagai macam keterampilan-keterampilan ilmiah di dalam kegiatannya. Penerapan-penerapan keterampilan ilmiah inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah atau pendekatan keterampilan proses.

Semiawan, dkk. (1985:18) mengungkapkan, keterampilan proses menjadi keterampilan ilmiah yang dapat mengembangkan hasil belajar dalam tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap. Keterampilan proses pun hampir sama halnya dengan keterampilan saintifik. Keterampilan proses meliputi kegiatan observasi, menghitung, pengukuran, klasifikasi, mencari hubungan/ waktu, membuat hipotesis, merencanakan penelitian, pengendalian variabel, interpretasi data, membuat kesimpulan, peramalan, menerapkan dan mengkomunikasikan.

Kegiatan observasi akan melibatkan berbagai indera untuk melihat, mendengar, merasa atau mencium (Semiawan, dkk., 1985:19). Siswa akan menjadi aktif untuk mengamati setiap hal yang ditugaskan dalam pembelajaran, karena banyaknya indera yang digunakan. Kegiatan observasi akan melatih siswa untuk memilih hal yang penting dan yang tidak penting.

Kegiatan menghitung identik dengan biasanya dilibatkan dalam pembelajaran matematika, namun dalam pembelajaran ilmu pengetahuan, ilmu sosial dan bahasa Indonesia, dapat pula dikembangkan (Semiawan, 1985:20). Kegiatan menghitung ini identik dengan kemampuan ilmuwan dalam melakukan berbagai eksperimen. Kegiatan menghitung akan semakin komplek dijenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kegiatan pengukuran dilakukan juga oleh seorang ilmuwan. Keterampilan mengukur penting dalam kerja ilmiah (Semiawan, 1985:21). Pengukuran dilakukan biasanya dengan membandingkan luas, kecepatan, suhu dan volume atau sebagainya.

Kegiatan klasifikasi adalah kemampuan yang juga dimiliki oleh seorang ilmuwan. Kegiatan ini penting dilakukan dalam kerja ilmiah. Pembuatan klasifikasi perlu memperhatikan dasar klasifikasi, seperti menurut suatu ciri khusus, tujuan atau kepentingan tertentu (Semiawan, 1985:22). Pembuatan klasifikasi dapat membuat siswa terlatih untuk menggolongkan beberapa data berdasarkan kriteria tertentu.

Kegiatan mencari hubungan/ waktu juga menjadi keterampilan yang diperlukan dalam kinerja ilmiah. Siswa dapat dilatih mampu mengenal bentuk dan arah. Siswa juga dapat dilatih melihat hubungan waktu dengan belajar membuat urutan kejadian, membuat jam sederhana dan sebagainya yang berkaitan dengan waktu.

Kegiatan membuat hipotesis juga merupakan keterampilan yang mendasar dari kerja ilmiah. Guru dapat melatih siswa untuk membuat hipotesis sederhana (Semiawan, 1985:25). Siswa dapat diajak untuk melakukan eksperimen dan membuat hipotesis sederhana atau dugaan sementara mengenai hasil dari eksperimen.

Kegiatan merencanakan penelitian atau eksperimen adalah usaha untuk menguji suatu hal melalui kegiatan penyelidikan praktis. Guru dapat melatih siswa untuk melakukan eksperimen sederhana (Semiawan, 1985: 26). Eksperimen sederhana dapat dimulai dengan membuat perencanaan, agar dengan perencanaan semua dapat berjalan dengan lancar. Perencanaan yang telah selesai, kemudian dilanjutkan dengan melakukan eksperimen sederhana.

Kegiatan pengendalian variabel adalah kegiatan untuk mengontrol dan memperlakukan variabel eksperimen atau penelitian (Semiawan, 1985:29). Eksperimen yang telah dilakukan dapat dilakukan dengan dua macam cara untuk membandingkan hasil dari eksperimen. Kegiatan semacam ini dapat membuat siswa untuk mengetahuinya secara langsung.

Kegiatan interpretasi data dilakukan dengan mengumpulkan data dari eksperimen yang telah dilakukan (Semiawan, 1985:29). Para guru dapat melatih siswa untuk menginterpretasi data dari eksperimen sederhana. Penginterpretasian data dapat dibuat dengan menggunakan tabel, grafik, histogram atau diagram.

Kegiatan membuat kesimpulan sementara dilakukan setelah melakukan eksperimen dan mengumpulkan data (Semiawan, 1985:30). Kesimpulan yang diambil bukan kesimpulan akhir. Kesimpulan yang didapat sini adalah kesimpulan sementara yang dibuat dalam waktu tertentu.

Kegiatan peramalan merupakan kegiatan memprediksikan suatu hal. Guru dapat melatih siswa untuk memprediksikan suatu hal dari eksperimen sederhana yang telah dilakukan oleh siswa (Semiawan, 1985:31). Kegiatan peramalan ini berasal dari data-data yang telah diperoleh siswa dari eksperimen yang dilakukan.

Kegiatan menerapkan adalah juga kegiatan bagian dari kinerja ilmiah. Guru dapat melatih siswa menerapkan konsep yang telah dimiliki untuk memecahkan masalah tertentu (Semiawan, 1985:32). Guru dapat melatih siswa untuk menerapkan berbagai macam konsep yang dimiliki sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang akan digunakan oleh guru.

Kegiatan mengkomunikasikan juga menjadi kegiatan akhir yang digunakan dalam kinerja ilmiah. Guru dapat melatih siswa untuk mengkomunikasikan suatu hasil eksperimen menggunakan gambar, tabel atau membuat karangan serta memuat berbagai pajangan hasil karya di ruang kelas (Semiawan, 1985:33). Keterampilan mengkomunikasikan dapat membuat siswa menjadi terlatih untuk menyampaikan hasil dari eksperimen yang dilakukan.

Pendekatan saintifik atau pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai proses pembelajaran dengan mengutamakan keterampilan proses dalam diri siswa. Kegiatan keterampilan proses inilah yang kemudian akan membuat siswa mampu belajar menerapkan konsep atau fakta yang telah dipelajari. Siswa dapat belajar baik secara pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Pembelajaran yang mencakup ketiga indikator ini dapat dilakukan dengan pendekatan saintifik melalui kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, menyajikan, menyimpulkan dan mengkomunikasikan.