BAB V. INTERNALISASI SABDA BAHAGIA YESUS DALAM UPAYA
C. LAPORAN PELAKSANAAN KATEKESE AUDIO VISUAL I
2. Laporan Pelaksanaan Katekese Audio Visual I
Katekese audio visual dilaksanakan sesuai dengan rencana yakni meliputi beberapa hal di antaranya:
a. Identitas
1) Tema: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena
merekalah yang empunya Kerajaan Sorga
2) Tujuan: Menemukan dan menggali makna kemiskinan yang ditawarkan
Yesus bagi mereka yang ingin bahagia
3) Sub Tema 1: Manfaatkan Kegunaannya, Waspadai Resikonya
4) Tujuan: Bersama pendamping peserta mampu menganalisis pengaruh
media televisi bagi kehidupan baik yang positif mapun yang negatif di balik pesonanya yang menakjubkan sehingga mampu menggunakannya secara tepat.
5) Peserta : Novis tahun pertama dan kedua
6) Pengamat: Sr. Reinilda Wuga, OSU dan Sr. Herlina Nogo Manuk, OSU
b. Proses Pertemuan
Pada bagian pembukaan pendamping memberikan penjelasan singkat mengenai proses, tujuan dan arah katekese audio visual yang akan dilaksanakan termasuk penjelasan mengenai SOTARAE. Setelah itu pertemuan dibuka dengan doa oleh salah satu peserta, kemudian pendamping mengajak peserta untuk
157
menyanyikan lagu “Ut Omnes Unum Sint” dengan diiringi gitar oleh salah
seorang novis.
Pendamping mengajak peserta merenungkan lagu Ut Omnes Unum Sint,
yang merupakan doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Selanjutnya pendamping menggunakan panduan seperti yang ada dalam persiapan katekese. Peserta diajak menyaksikan dua tayangan VCD yang menampilkan dua tawaran yang berbeda tentang makna kebahagiaan. Setelah menonton, pendamping mengajak peserta untuk diskusi mengenai kedua tayangan tadi dengan metode SOTARAE. Langkah 1-3 dari metode SOTARAE didiskusikan bersama dalam kelompok besar dengan
dipandu oleh pendamping. Hasil diskusi ditulis pada white board dan isinya
sebagai berikut: 1) Kesan peserta:
♦ Kebijaksanaan Tertinggi: Merasa kagum, bangga akan kekayaan budaya yang disajikan dengan kreativitas tinggi, menarik dengan variasi tari-tarian, cerita dari relief yang mengandung nilai-nilai spiritual, tidak membosankan dan menyentuh perasaan
♦ Dua Wajah Televisi: merasa lelah, membawa masuk pada dunia penuh ilusi dan khayalan kosong, mudah bosan karena sebagian besar tayangannya berisi tawaran uang, barang, kecantikan, kemewahan yang mengarah pada hidup konsumtif, hedonis dan instan
2) Fakta Obyektif
♦ Kebijaksanaan Tertinggi: kebahagiaan batin, kebahagiaan dalam menemukan empat kalimat suci, Candi Borobudur keajaiban surgawi yang
158
mengarah pada hidup spiritual yang tinggi dalam pilihan hidup dan pencarian jati diri.
Prioritasnya: Kebijaksanaan tertinggi yang menjadi prioritasnya adalah kebahagiaan sejati, pendidikan olah rohani dan moral.
♦ Dua Wajah Televisi: mengarah pada kekerasan, pembodohan,
kebohongan, impossible, perbedaan pandangan agama bertolak belakang
dengan iklan. Produksi terus menerus, konsumen dijadikan obyek. Hiperbola membesar-besarkan fakta.
Prioritasnya: kebahagiaan semu, pembodohan besar-besaran, budaya instan, Ilusi masuk dalam khayalan.
3) Tema-tema
♦ Di antara dua pilihan, kebahagiaan sejati vs kebahagiaan semu,
♦ Hidup di antara dua pilihan kebahagiaan yakni kebahagiaan surgawi atau
kebahagiaan duniawi
♦ Mencari kebahagiaan sejati di tengah kebahagiaan semu
Dari tema-tema ini pendamping mengajak peserta untuk mendalami kedua tayangan tadi dengan menganalisisnya dalam kelompok kecil. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan tiga cara membaca televisi yakni semiotik, psikologi dan ideologi. Sesudah itu kelompok kecil mencari pesan Bapa Gereja terhadap penggunaan media. Hasil diskusi kelompok adalah sebagai berikut:
♦ Simbol: relief, musik, tarian, kata-kata, busana, bentuk dan tingkatan
159
tayangan kedua: produk kosmetik, makanan, kuis, minuman, politik, barang-barang (hiburan, instant, kebohongan, kekerasan, konsumtif). Kemewahan (uang, rumah, HP, kendaraan, peralatan kosmetik, fashion), dan kekerasan
♦ Psikologi: Kebijaksanaan Tertinggi menuju pada kebahagiaan sejati dan
kebijaksanaan, kebahagiaan batin (sejati) pengaruhnya pada pemirsa moral lebih baik, memperdalam hidup rohani, memperoleh ketenangan batin. Dua Wajah Televisi tawaran hidup mewah, kenikmatan, kepuasan, budaya
instan persaingan dalam penggunaan produk, kecemburuan, boros, penurunan daya ingat. Pengaruhnya terhadap pemirsa: kebahagiaan semu dengan pola hidup konsumtif, instan, hedonis, egois, individualisme
♦ Ideologi, yang menguntungkan: pemirsa, Stasiun TV, pemilik produk,
Yang dirugikan: konsumen atau pemirsa yang tidak kritis Seruan Bapa Gereja terhadap media komunikasi
♦ Positif: memperoleh informasi dengan cepat, hiburan, membangun
kreativitas, media sebagai sarana yang memperlancar komunikasi, hidup berkomunitas dan kerjasama. Bila digunakan dengan tepat media massa sangat membantu menyegarkan hati dan budi untuk mewartakan Kerajaan Allah.
♦ Negatif: penonton tak berdaya, persaingan, kekerasan, kerakusan harta,
egoisme, kurang menghargai hidup dan Hak Asasi Manusia, perkembangan media massa mengakibatkan kesenjangan sosial dan mentalitas semakin instan. Industri media kehilangan rasa tanggung
160
jawabnya bagi kebaikan umum bila hanya mementingkan kepentingan sendiri.
♦ Peluang: memberikan kesempatan bagi konsumen untuk belajar banyak
tentang hal yang ditayangkan melalui media dan penggunaan media. Komunikasi sejati menuntut keberanian dan tekad Gereja memberikan kebebasan menggunakan media sejauh demi pendidikan Kristen dan demi keselamatan manusia.
♦ Tantangan: tidak diberi kesempatan, dana terbatas, kurang kreativitas
untuk mengolah dan mengembangkan yang sudah ada dalam Kitab Suci atau Santo santa, minimnya dukungan dari orang-orang di atas, minimnya peminat. Aksi: menggunakan peluang yang bisa digunakan dari media televisi seperti lewat sinetron, lagu-lagu, renungan, film dokumenter rohani, film kartun yang di dalamnya mencakup nilai budaya, pendidikan, moral dan religius.
Dari hasil analisis kelompok-kelompok kecil dan dari keseluruhan proses pendamping membuat suatu rangkuman dan peneguhan sebagai berikut: “Saudari-saudariku yang terkasih kita tadi sudah melihat fakta bagaimana televisi memiliki pengaruh positif dan negatif itu tergantung dari bagaimana ia digunakan dan motivasi yang mengiringinya. Bapa Suci sendiri menyatakan bahwa teknologi komunikasi yang berkembang pesat termasuk media televisi merupakan anugerah Tuhan dan hasil kecerdasan manusia yang harus dan wajib kita gunakan untuk pewartaan Kerajaan Allah, untuk mewartakan kebenaran. Setelah kita bersama melihat tantangan dan peluang yang dihadirkannya kita yang telah bertekad memilih untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan harus berusaha dengan
sungguh-161
sungguh untuk mampu menggunakan dan memanfaatkan media ini. Kita pun harus senantiasa waspada terhadap resiko pengaruh buruk yang bisa ditimbulkannya. Tetapi untuk itu Yesus sendiri tahu bahwa hidup di dunia ini tidak mudah dan Yesus berdoa khusus dan memohon kepada Bapa untuk kita”. Salah satu peserta membaca dari Injil Yohanes 17. Setelah peserta membacanya, kemudian pendamping mengajak peserta untuk hening sejenak, kemudian memberikan kata-kata peneguhan seperti yang telah pendamping siapkan dalam persiapan pelaksanaan katekese.
Aksi: bersama-sama peserta membuat suatu rencana aksi konkrit yang bisa dilaksanakan secara pribadi maupun bersama; memiliki sikap kritis terhadap penggunaan media, memilih tayangan yang bermanfaat, menjadikan media sebagai sarana untuk katekese
Setelah semua proses dilalui bersama, pendamping membagikan lembaran kuesioner untuk evaluasi. Dari hasil evaluasi seperti yang terdapat dalam lampiran 4, semua peserta sangat senang mengikuti proses katekese audio visual dengan cara ini terlebih dalam membangun sikap kritis. Dengan pengalaman ini banyak di antara peserta merasa terbantu untuk mengkritisi media dan menggunakan media untuk kepentingan yang berarti. Pertemuan ditutup dengan doa penutup dan lagu “Bagai Rajawali”.