BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teoritis
2.1.7. Volume Perdagangan
Volume perdagangan (transaksi) menurut Downes dan Goodman (2000) didefinisikan jumlah total saham, obligasi, atau future kontrak yang diperdagangkan dalam suatu masa tertentu. Angka volume ini dilaporkan oleh
bursa per individu emiten, yang dilakukan oleh perusahaan efek maupun secara total perdagangan. Istilah volume perdagangan (transaksi) dalam kamus keuangan berarti jumlah saham atau surat berharga yang diperdagangkan dalam satu periode, atau jumlah perdagangan suatu saham atau surat berharga.
Dapat pula berarti merupakan jumlah perdagangan saham atau surat berharga dalam pasar secara keseluruhan.
Volume perdagangan dalam penelitian ini merupakan jumlah lembar saham yang diperdagangkan dalam suatu periode waktu tertentu oleh berbagai emiten yang dijadikan sampel. Volume perdagangan mengukur unit yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu. Volume perdagangan akan membantu menentukan intensitas pergerakan harga, karena kenaikan harga saham harus dibarengi dengan kenaikan volume pergadangan untuk menunjukkan antusias dari pelaku pasar. Pada dasarnya tidak ada batasan minimal dana dan jumlah untuk membeli saham dalam perdagangan saham.
Jumlah yang dijual belikan dilakukan dalam satuan perdagangan yang disebut lot. Di Bursa Efek Indonesia satu lot berarti 100 lembar saham dan itulah batas minimal pembelian saham.
2.1.8. Reputasi Auditor
Reputasi auditor sering digunakan sebagai proksi dari kualitas audit, skala auditor, dan spesialis industri auditor. Pada penelitian ini reputasi auditor diukur dengan besar kecilnya kantor akuntan publik yang melakukan audit laporan keuangan suatu entitas. kantor akuntan publik besar yang pernah mengaudit perusahaan go public dan berafiliasi dengan kantor akuntan publik
internasional, begitupun sebaliknya dengan kantor akuntan publik kecil.
Reputasi auditor didasarkan pada kepercayaan pemakai jasa auditor bahwa auditor memiliki kekuatan tertentu yang secara umum tidak dapat diamati.
Auditor bertanggung jawab untuk menyediakan informasi yang mempunyai kualitas tinggi yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan para pemakai laporan keuangan. Reputasi auditor menunjukkan prestasi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor tersebut. Dalam penelitian ini reputasi auditor diproksikan dengan ukuran kantor akuntan publik. Klien biasanya mempersepsikan bahwa auditor yang berasal dari kantor akuntan publik besar dan yang memiliki afiliasi dengan kantor akuntan publik internasional lah yang memiliki kualitas yang lebih tinggi karena auditor tersebut memiliki karakteristik yang dapat dikaitkan dengan kualitas, seperti pelatihan, pengakuan internasional, serta adanya peer review. Auditor yang memiliki reputasi dan nama besar dapat menyediakan kualitas audit yang lebih baik, termasuk dalam mengungkapkan masalah going concern demi menjaga reputasi mereka (Efraim Ferdinan Giri, 2010). Menurut Rudyawan dan Badera (2007) menyatakan bahwa auditor memiliki reputasi besar dan nama dapat memberikan kualitas audit yang lebih baik, termasuk masalah kelangsungan diungkapkan dengan mempertahankan reputasi mereka.
Sementara klien biasanya merasakan auditor yang berasal dari lima besar atau berafiliasi dengan perusahaan akuntan internasional yang karakteristiknya asosiasi dengan kualitas, seperti pelatihan, pengakuan internasional serta peer review.
Penghakiman terhadap akuntan publik sering dilakukan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah dengan melihat kondisi bangkrut tidaknya perusahaan yang diaudit. Hal itu berarti bahwa saat ini nasib akuntan publik sepertinya dipertaruhkan pada jatuh bangun bisnis perusahaan kliennya. Ini menunjukkan bahwa reputasi auditor dipertaruhkan saat memberikan opini audit (Purba 2006).
2.1.9 Umur Perusahaan
Perusahaan yang sudah lama berdiri, keikutsertaannya dalam pasar modal merupakan salah satu jalan untuk mengembangkan usahanya (Widayani dan Yasa, 2013). Umur perusahaan yang semakin lama menandakan bahwa semakin banyak pengalaman yang dimiliki perusahaan. Pengalaman perusahaan yang sudah lama berdiri cenderung telah memiliki banyak informasi mengenai keadaan pasar saham di industri sejenis serta mengenai reputasi underwriter yang akan dipilih sebagai penjamin emisi perusahaan yang akan melakukan IPO. Menurut Riyadi (2012) semakin lama suatu perusahaan berdiri maka kesalahan informasi akan semakin kecil dan lebih dipercaya oleh para investor. Selain itu perusahaan yang telah lama berdiri akan lebih memiliki kondisi keuangan yang lebih matang. Perusahaan yang belum lama berdiri akan lebih sulit untuk membentuk ramalan laba dibandingkan dengan perusahaan yang telah lama berdiri.
2.1.10. Jenis Industri
Jenis industri menunjukkan karakteristik perusahaan yang beroperasi di dalam industri tersebut. Jenis industri pada umumnya dibedakan oleh produk yang dihasilkan. Sari (2011) menyatakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat dikategorikan ke dalam 2 kelompok besar, yaitu:
1. Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang menjalankan proses pembuatan produk. Sebuah perusahaan bisa dikatakan perusahaan manufaktur apabila ada tahapan input-proses output yang akhirnya menghasilkan suatu produk.
2. Perusahaan non manufaktur adalah perusahaan yang tidak menjalankan proses pembuatan produk.
2.2.1 Review Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan penelitian ini, seperti pada Tabel 2.2 berikut ini:
Tabel 2.2
Review Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti & Tahun
Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil 1 company size, dan industrial type
Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel percentage capacity for public offering, company size, and industrial type berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing pada tingkat, sedangkan variabel company age berpengaruh positif terhadap underpricing. company size, dan industrial type
Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel offer size tidak berpengaruh terhadap underpricing, sedangkan Variabel company age, company size, dan industrial type berpengaruh negatif signifikan terhadap underpricing.
Semua variabel independen yaitu Company Age, offer size, listing quality, ROA, Financial Leverage, Gross Proceeds, Ownership Retention Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel Financial Leverage dan Ownership Retention berpengaruh positif terhadap underpricing sedangkan Investment, underwriter quality, ROA, dan Gross Proceeds berpengaruh positif terhadap Underpricing. perusahaan berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, sementara DER, EPS, umur perusahaan, dan persentase saham yang ditawarkan ke publik tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing.
ROE, ukuran perusahaan, umur perusahaan, reputasi underwriter, penggunaan dana IPO untuk investasi, reputasi auditor
Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel ROE, ukuran perusahaan, umur perusahaan, reputasi underwriter, dan penggunaan dana IPO untuk investasi tidak berpengaruh terhadap underpricing, sementara variabel reputasi auditor berpengaruh negatif signifikan terhadap underpricing
Nama Peneliti No & Tahun
Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil
7 reputasi auditor, financial leverage, ROA, NPM, Current ratio, ukuran
perusahaan, umur
perusahaan Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel Reputasi underwriter, reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing, sedangkan variabel financial leverage berpengaruh positip terhadap underpricing, sedangkan variabel ROA, NPM, Current ratio, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing reputasi auditor, current ratio, EPS, ROE, ukuran perusahaan,
Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel Reputasi underwriter, reputasi auditor, ROE, ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap underpricing, sementara variabel current ratio dan EPS tidak berpengaruh terhadap underpricing (ROA), financial leverage (DER), ukuran perusahaan, umur perusahaan.
Variabel Dependen:
Underpricing,
Variabel Reputasi underwriter dan umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing, sementara variabel profitabilitas perusahaan (ROA), dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat
Underpricing, sedangkan
Financial leverage (DER) berpengaruh positif terhadap underpricing.
umur perusahaan, tujuan penggunaan dana infestasi, profitabilitas perusahaan, financial leverage, jenis industri
Variabel Dependen:
Underpricing
Variabel reputasi underwriter, ukuran perusahaan, tujuan penggunaan dana investasi berpengaruh negatif terhadap underpricing, sedangkan variabel reputasi auditor, umur perusahaan, profitabilitas perusahaan, financial leverage, dan jenis industri tidak
Tingkat underpricing bersifat dinamis dan berbagai kekuatan pasar berinteraksi sekaligus dalam mengamati variasi harga yang baru dan hasilnya signifikan terhadap kerangka peraturan negara setempat dalam menjelaskan underpricing
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konseptual
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperikan bukti empiris tentang berbagai faktor yang dapat mempengaruhi underpricing saham pada perusahaan-perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO). Variabel-variabel independen yang digunakan adalah ukuran perusahaan, return on asset, Financial Leverage, persentase penawaran saham publik, volume perdagangan, reputasi auditor, umur perusahaan, jenis perusahaan, sedangkan variabel dependennya yaitu underpricing.
Gambar 3.1.
Kerangka Konseptual Ukuran Perusahaan (X1)
Return on Asset (X2) Financial Leverage (X3)
Underpricing (Y) Volume Perdagangan (X5)
Persentase Penawaran Saham Publik(X4)
Reputasi Auditor(X6)
Jenis Industri (X8) Umur Perusahaan (X7)
Penelitian ini dilakukan terhadap underpricing saham karena underpricing merupakan biaya tidak langsung (indirect cost) bagi perusahaan yang melakukan IPO (issuer). Artinya, bilaharga saham dapat diterima di pasar dengan harga yang lebih tinggi, kenapa tidak dijual pada harga tersebut, yaitu harga pada saat penutupan hari pertama di pasar sekunder. Para pemilik perusahaan menginginkan agar dapat meminimalisir underpricing. Underpricing adalah adanya selisih positif antara harga saham di pasar sekunder dengan harga saham di pasar perdana atau saat IPO. Selisih harga inilah yang dikenal sebagai initial return atau positif return bagi investor.
Pada kerangka konsep ini akan dijelaskan mengenai hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan uraian sebagai berikut:
a. Hubungan antara Ukuran Perusahaan terhadap Underpricing
Ukuran perusahaan dapat dijadikan sebagai proxy tingkat ketidakpastian saham. Perusahaan yang berskala besar cenderung lebih dikenal masyarakat sehingga informasi mengenai prospek perusahaan berskala besar lebih mudah diperoleh investor daripada perusahaan berskala kecil. Tingkat ketidakpastian yang akan dihadapi oleh calon investor mengenai masa depan perusahaan emiten dapat diperkecil apabila informasi yang diperolehnya banyak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2011) bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Penelitian ini menambahkan beberapa variabel independen dari penelitian sebelumnya. Diduga semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin kecil underpricing. Menurut Durukan (2002) menyatakan
ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap underpricing yang dihasilkan. Demikian pula hasil penelitian Yolana (2005) bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap underpricing.
b. Hubungan Antara Return on Asset Terhadap Underpricing
Return on Asset (ROA) digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Nilai return on asset yang semakin tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba di masa yang akan datang dan laba merupakan informasi penting bagi investor sebagai pertimbangan dalam menanamkan modalnya. Profitabilitas yang tinggi dari suatu perusahaan akan mengurangi ketidakpastian bagi investor sehingga akan menurunkan tingkat underpricing. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ghozali (2002) menyatakan bahwa return on asset berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing. Penelitian ini menambahkan beberapa variabel independen dari penelitian sebelumnya.
c. Hubungan antara Persentase Penawaran kepada Publik terhadap Underpricing Persentase penawaran kepada publik menunjukkan porsi kepemilikan saham yang dikuasai oleh publik. semakin besar dana yang diharapkan maka semakin besar persentase penawaran kepada publik. Jumlah hutang menggambarkan kemungkinan perusahaan menggunakan dana dari hasil penawaran umum untuk membayar hutangnya. Yong (2009) menyatakan bahwa persentase penawaran kepada publik dapat dijadikan indikator untuk melihat aktivitas investor di pasar sekunder, karena persentase penawaran berhubungan dengan kegiatan spekulatif dari investor. Dana yang diperoleh perusahaan pada
saat IPO berhubungan dengan persentase penawaran kepada publik. Investor melihat perusahaan yang persentase penawarannya besar memiliki prospek yang baik pada masa yang akan datang. Penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2008) menyatakan bahwa persentase saham yang ditawarkan ke public berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Penelitian ini menambahkan beberapa variabel independen dari penelitian sebelumnya.
d. Hubungan Volume Perdagangan terhadap Underpricing.
Berbagai penelitian terhadap hubungan antara volume perdagangan dengan perubahan harga pada berbagai pasar modal di luar menunjukkan korelasi positif antara keduanya di mana hal ini sesuai dengan semboyan kuno dari Wall Street bahwa “it takes volume to make prices move”. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Crouch (1970) menunjukkan korelasi positif antara volume harian dengan perubahan harga dalam bursa saham secara keseluruhan maupun pada sampel beberapa saham. Semakin tinggi volume perdagangan maka harga saham akan cenderung berfluktuatif, namun apakah akan terjadi underpricing atau tidak kita dapat melihatnya di sesi terakhir penutupan bursa saham pada hari pertama.
Hal ini diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap hubungan volume perdagangan terhadap underpricing. Penelitian ini menambahkan beberapa variabel independen dari penelitian sebelumnya.
e. Hubungan Antara Financial Leverage dengan Underpricing
Financial leverage merupakan salah satu dari sub pembahasan mengenai rasio solvabilitas yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutangnya yang terdiri dari beberapa pendekatan baik pendekatan dari sisi modal, maupun dari sisi aset yang dimilikinya. Apabila financial leverage ini tinggi
menunjukkan resiko suatu perusahaan dan akan mengurangi minat investor sehingga akan meningkatkan ketidakpastian suatu perusahaan. Menurut Kim, et al,. (2001), secara teoritis, financial leverage menunjukkan risiko suatu perusahaan dan kondisi ketidakpastian. Besarnya financial leverage perusahaan akan menunjukkan semakin besarnya risiko finansial atau risiko keagagalan perusahaan untuk mengembalikan pinjamannya sehingga dapat mempengaruhi penetapan harga saham yang wajar pada saat IPO. Financial leverage yang tinggi akan mengakibatkan penetapan harga saham yang cenderung underpriced karena akan berpengaruh pada tingginya ketidakpastian return yang akan diterima investor atas investasinya. Oleh karena itu semakin tinggi financial leverage perusahaan maka akan semakin besar pula tingkat underpricing (Setianingrum dan Suwito, 2008). Penelitian yang dilakukan Setianingrum dan Suwito (2008) serta Ghozali dan Mansur (2002) menunjukkan bahwa financial leverage mempunyai pengaruh positif terhadap underpricing. Namun penelitian Witjaksono (2012) menunjukkan bahwa financial leverage tidak mempunyai pengaruh terhadap underpricing.
f. Hubungan Antara Reputasi Auditor dengan Underpricing
Salah satu persyaratan bagi perusahaan yang akan go public adalah laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Selain itu dalam kelanjutannya auditor akan menjadi narasumber bagi investor mengenai laporan keuangan yang diterbitkan emiten. Laporan keuangan merupakan indikator dasar dalam melakukan pengambilan keputusan investasi. Dengan demikian, emiten sangat berkepentingan dengan penilaian dan pendapat yang dibuat oleh auditor agar memperoleh nilai laporan keuangan yang bagus. Reputasi auditor sangatlah
berpengaruh pada kredibilitas laporan keuangan ketika perusahaan melakukan IPO. Informasi yang ada dalam prospektus tingkat kepercayaannya tergantung dari pihak auditor yang melakukan audit. Oleh karena itu, kualitas auditor turut memberikan pengaruh terhadap keberhasilan IPO yang ditunjukkan dengan adanya underpricing yang kecil (Moizer, 1997). Penelitian yang dilakukan Beatty (1989) dan penelitian Aini (2013) menunjukkan bahwa reputasi auditor mempunyai pengaruh negatif terhadap underpricing. Namun penelitian yang dilakukan Kristiantari (2012) serta penelitian Daljono (2000) menunjukkan bahwa reputasi auditor tidak mempunyai pengaruh terhadap underpricing.
g. Hubungan Antara Umur Perusahaan dengan Underpricing
Umur perusahaan merupakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam bertahan. Perusahaan yang sudah lama berdiri dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa perusahaan tersebut banyak pengalaman dan kemampuan yang besar untuk bertahan. Investor cenderung lebih percaya pada perusahaan yang sudah lama berdiri jika dengan perusahaan yang masih baru. Kepercayaan investor ini akan mengakibatkan investor yakin untuk menginvestasikan dananya pada perusahaan emiten. Perusahaan yang telah lama berdiri mempunyai lebih banyak pengalaman terkait dengan bidang bisnis yang dilakukan dibandingkan dengan perusahaan yang masih baru. Namun perusahaan yang sudah lama berdiri cenderung memiliki birokrasi yang kompleks dan kurang fleksibel dalam pengambilan keputusan (Beatty, 1989). Perusahaan yang telah lama berdiri memiliki lebih banyak pengalaman dan lebih baik dalam mengeksploitasi pasar secara lebih baik dibanding dengan perusahaan yang baru. Diharapkan perusahaan lama yang lebih berpengalaman ini mampu mengurangi asimetri informasi dan memperkecil
ketidakpastian di masa akan datang (Sharma and Seraphim, 2010). Penelitian yang dilakukan Beatty (1989) menunjukkan bahwa umur perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap underpricing. Namun penelitian yang dilakukan Puspaningsih dan Mujib (2011) menunjukkan bahwa umur perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap underpricing.
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Putra (2010) dan Beatty (1989) yang menghasilkan bahwa terdapat pengaruh signifikan umur perusahaan terhadap underpricing saham pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI Tahun 2006-2010. Penelitian Safitri (2013) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan umur perusahaan terhadap underpricing saham pada perusahaan yang melakukan IPO.
h. Hubungan Antara Jenis Industri dengan Underpricing
Jenis industri digunakan sebagai variabel independen untuk melihat apakah underpricing terjadi pada hampir semua jenis industri yang IPO atau hanya pada jenis industri tertentu saja dan apakah terdapat perbedaan signifikan dalam tingkat underpricing-nya. Variabel jenis industri bisa saja mempengaruhi underpricing karena tiap industri memiliki risiko dan tingkat ketidakpastian yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan berinvestasi.
Risiko untuk setiap jenis industri berbeda karena adanya perbedaan karakteristik.
Perbedaan risiko ini menyebabkan tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor untuk setiap sektor industri juga berbeda sehingga tingkat underpricing juga mungkin akan berbeda (Yolana dan Martani, 2005). Penelitian yang dilakukan Suyatmin dan Sujadi (2006) menunjukkan bahwa jenis industri tidak mempunyai pengaruh terhadap underpricing.
3.2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konsep yang telah diuraikan sebelumnya diperolehlah hipotesis sebagai berikut:
Ukuran perusahaan, return on asset, financial leverage, persentase penawaran saham publik, volume perdagangan, reputasi auditor, umur perusahaan, dan jenis industri berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap underpricing saham saat initial public offering di Bursa Efek Indonesia.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal yang merupakan penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Dari jenis data yang digunakan penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, metode penelitian kuantitatif ditujukan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2013)
4.2. Lokasi dan Jadwal Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada seluruh perusahaan yang terkait dan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan mengakses situs resmi www.idx.co.id.
Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli 2016 sampai dengan Januari 2018.
4.3. Populasi dan Sampel
Penelitian ini mengambil populasi perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di BEI dari tahun 2008-2017 yang mengalami underpricing dengan teknik sampel jenuh atau sensus sehingga diperoleh sebanyak 130 perusahaan yang mengalami underpricing selama periode tersebut sebagai populasi dan jumlah tersebut juga dijadikan sebagai sampel.
4.4 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dengan menggunakan data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media, yaitu dengan mengumpulkan data sekunder (Laporan tahunan perusahaan pada seluruh perusahaan yang menjadi sampel penelitian). Sumber data tersebut dapat diperoleh dari Indonesian Stock Exchange.
4.5. Definisi Operasional Variabel
Pengamatan yang menjadi objek penelitian adalah ukuran perusahaan, return on asset, financial leverage, persentase penawaran saham publik, volume perdagangan, reputasi auditor, umur perusahaan, dan jenis industri sebagai variabel independen. Adapun underpricing dijadikan sebagai variabel dependen.
4.5.1. Variabel Independen a. Ukuran Perusahaan
Untuk mengukur besarnya skala atau ukuran dari perusahaan adalah dengan melihat total aktiva dari laporan keuangan perusahaan tahun terakhir sebelum perusahaan tersebut melakukan IPO di Bursa dengan rumus:
SIZEt = Ln(Total Asset) Keterangan:
SIZEt = Ukuran perusahaan tahun t Ln = Natural logaritma
Total Asset = Total aset perusahaan tahun t
b. Return On Asset
Return on Asset (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Nilai ROA dapat diukur dengan rumus:
NIAT Keterangan : ROA =
TA ROA : Return on Asset
NIAT : Net Income After Tax TA : Total Assets
c. Financial Leverage
Financial leverage dapat dihitung berdasarkan rumus yang terdapat pada salah satu rasio solvabilitas yaitu dengan menggunakan Debt to Total Asset Ratio (DAR), yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar nilai aset yang berasal dari hutang. Rumus yang digunakan adalah :
Total Kewajiban Debt to Total Asset (DAR) =
Total Aset
d. Persentase Penawaran Saham Publik
Persentase saham yang dipegang oleh pemilik saham menunjukan banyak sedikitnya pengungkapan informasi privat perusahaan. Informasi kepemilikan saham oleh pemilik akan digunakan oleh investor sebagai pertanda bahwa prospek perusahaannya baik. Semakin besar tingkat kepemilikan yang ditahan akan memperkecil ketidakpastian. Dalam hal ini persentase saham yang ditawarkan diukur dengan menggunakan persentase saham yang ditawarkan kepada publik.
e. Volume Perdagangan
Jumlah volume saham suatu emiten yang diperdagangkan di hari pertama melantai di Bursa Efek Indonesia sampai sesi penutupan terakhir dengan menggunakan satuan volume lembar saham.
Volume = Ln (Volume Saham)
f. Reputasi Auditor
Reputasi auditor diukur berdasarkan frekuensi auditor melakukan audit terhadap laporan keuangan emiten. Dalam penelitian ini dibuat peringkat auditor dengan cara membuat record dari perusahaan yang melakukan IPO dan membuat urutan sesuai dengan frekuensi auditor yang melakukan audit selama 1 tahun dalam periode penelitian. Asumsinya emiten diberi nilai 1 apabila menggunakan jasa auditor yang masuk kategori “big four” dalam setiap tahun dan bila emiten tidak menggunakan jasa auditor yang tidak masuk dalam “big four” dalam setiap tahun diberi skala 0.
g. Umur Perusahaan
Umur perusahaan dihitung dalam skala tahun dan diukur dengan lamanya perusahaan beroperasi yaitu sejak perusahaan didirikan sampai dengan ketika perusahaan tersebut melakukan IPO. Informasi mengenai tanggal berdirinya perusahaan dan saat perusahaan tersebut melakukan IPO dapat dilihat di catatan
Umur perusahaan dihitung dalam skala tahun dan diukur dengan lamanya perusahaan beroperasi yaitu sejak perusahaan didirikan sampai dengan ketika perusahaan tersebut melakukan IPO. Informasi mengenai tanggal berdirinya perusahaan dan saat perusahaan tersebut melakukan IPO dapat dilihat di catatan