BAB I PENDAHULUAN
1.5. Originalitas
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh I Dewa Ayu Kristiantari (2012) yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham Pada Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia”, dimana penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh I Harum Dianingsih (2003) dengan judul “Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing pada Penawaran Saham Perdana (IPO):
Studi Kasus Pada Perusahaan Go Public yang Terdaftar di PT Bursa Efek Jakarta Tahun 1997-2001”.
Penelitian yang dilakukan oleh I Dewa Ayu Kristiantari di Bursa Efek Indonesia terhadap perusahaan yang melakukan IPO dari tahun 1997-2010, yang menemukan bahwa reputasi underwriter, ukuran perusahaan, tujuan penggunaan dana hasil IPO berhubungan negatif dengan tingkat underpricing Sedangkan reputasi auditor, umur perusahaan, profitabilitas perusahaan (ROA), financial leverage (DER) dan jenis industri tidak mempunyai pengaruh signifikan pada tingkat underpricing.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian di atas.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada penelitian sebelumnya variabel yang digunakan adalah reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, umur perusahaan, tujuan penggunaan dana investasi, profitabilitas perusahaan, financial leverage, jenis industri. Sedangkan dalam penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah ukuran perusahaan, return on asset, financial leverage, persentase saham yang ditawarkan, volume
perdagangan, reputasi auditor, umur perusahaan, jenis industri. Perbedaan lainnya adalah objek penelitian, pada penelitian sebelumnya yaitu perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 1997-2010 di Bursa Efek Indonesia sedangkan dalam penelitian ini objeknya adalah perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO dari 2008-2017 di Bursa Efek Indonesia.
Berikut ini tampilan dari perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang yang disajikan dalam bentuk tabel.
Tabel 1.5
Perbedaan Penelitian Terdahulu Dengan yang Sekarang
No Uraian Penelitian Terdahulu Penelitian Sekarang 1
Judul Penelitian
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Underpricing Saham Pada Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Underpricing Saham Pada Saat Initial Public Offering di Bursa Efek Indonesia 2
Variabel Independen
Reputasi Underwriter, Reputasi Auditor, Ukuran
Perusahaan, Umur
Perusahaan, Tujuan Penggunaan Dana Investasi, Profitabilitas Perusahaan, Financial Leverage, Jenis Industri
Ukuran Perusahaan, Return on Asset, Financial Leverage, Persentase Saham yang Ditawarkan, Volume Perdagangan, Reputasi Auditor, Umur Perusahaan, Jenis Industri
3 Objek Penelitian
Seluruh Perusahaan yang IPO di BEI periode 1997-2010
Seluruh Perusahaan yang IPO di BEI periode 2008-2017. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan informasi
Kuantitatif dan Kualitatif Kuantitatif 5 Teknik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 2.1.1. Underpricing
Underpricing adalah suatu keadaan dimana harga saham yang ditawarkan di pasar perdana lebih rendah dibandingkan ketika ditawarkan di pasar sekunder.
Menurut Jogiyanto (2010) underpricing merupakan fenomena harga rendah terjadi karena penawaran perdana ke publik yang secara rerata murah. Harga saham yang diperdagangkan di pasar perdana telah ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pihak perusahaan (emiten) dan pihak underwriter dalam proses penetapan harga saham di pasar perdana (primary market) pihak underwriter sebagai pihak yang akan menjamin saham yang telah ditawarkan oleh pihak emiten cenderung akan menetapkan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga yang diharapkan dari pihak perusahaan (emiten) dengan tujuan untuk meminimalis risiko yang nantinya akan menjadi tanggung jawabnya bila saham tersebut tidak laku terjual habis. Selanjutnya harga di pasar sekunder (secondary market) akan ditentukan oleh kekuatan tarik menarik antara permintaan dan penawaran yang terjadi di bursa efek, yang disebut dengan nilai pasar. Tidak hanya sampai disitu penilaian harga saham ini juga tidak luput dari penilaian lainnya seperti nilai buku dan nilai interinsik saham (Hartono, 2000).
a. Teori Dasar Fenomena Underpricing
Terdapat beberapa teori dasar yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena underpricing. Beberapa teori tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Asymetry Information Theory
Asymetry Information Theory adalah suatu keadaan dimana terdapat informasi yang tidak sama atau seimbang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, antara informasi yang dimiliki oleh pihak dalam emiten dan pihak luar (investor). Menurut Karsana (2009), asimetri informasi disebabkan adanya perbedaan informasi yang dimiliki oleh pihak-pihak yang terlibat dalam penawaran perdana emiten dan underwriter. Underwriter memiliki informasi yang lebih baik tentang pasar modal, sedangkan pihak emiten merupakan pihak yang tidak memiliki informasi tentang pasar modal sehingga apabila di antara mereka tidak memiliki informasi yang lengkap maka akan terjadi perbedaan harga. Perbedaan harga di kedua pasar tersebut mestinya dapat dihindarkan apabila penentu harga di kedua pasar memiliki informasi yang sama. Pada model Rock (1986) dalam Guntoro dan Harahap (2008), informasi asimetri terjadi pada kelompok informed investor dan uninformed investor. Informed investor yang mengetahui lebih banyak mengenai prospek perusahaan emiten akan membeli saham penawaran umum perdana jika after market price yang diharapkan melebihi harga perdana atau dengan kata lain kelompok ini hanya membeli saham penawaran umum perdana yang underpriced saja. Sementara kelompok uninformed investor karena kurang memiliki informasi mengenai perusahaan
emiten akan melakukan penawaran secara sembarangan, baik pada saham penawaran umum perdana yang underpriced maupun overpriced. Akibatnya, kelompok uninformed investor memperoleh proporsi yang lebih besar dalam saham penawaran umum perdana yang overpriced daripada kelompok informed investor. Menyadari bahwa mereka menerima saham penawaran umum perdana yang tidak proporsional, kelompok uninformed akan meninggalkan pasar perdana.
Agar kelompok ini berpartisipasi pada pasar perdana dan memungkinkan memperoleh return saham yang wajar serta dapat menutupi kerugian akibat membeli saham yang overpriced, maka saham penawaran umum perdana harus cukup underpriced.
Beatty dan Ritter, Benveniste dan Spindt membentuk hubungan yang signifikan antara intermediasi underwriter dan tingkat asimetri informasi. Beatty dan Ritter mempelajari 1028 IPO A.S. antara periode 1977 dan 1982. Dalam penelitian ini mereka menunjukkan bahwa tingkat underpricing diinduksi melalui penjamin emisi. Mereka juga menemukan bahwa karena penerbit sadar akan adanya tingkat asimetri informasi, dia cenderung berusaha untuk mengurangi ketidakpastian yang spesifik.
Rock mencontohkan kemungkinan adanya informasi asimetri antar berbagai kelas investor. Dalam model ini ia mengasumsikan peran penerbit dan penjamin emisi sebagai satu dan sama dan tidak ada konflik keagenan di antara keduanya. Pengungkapan informasi melalui draft dokumen tersedia bagi semua investor. Karena ketersediaan informasi dan subjektivitas yang terbatas terkait
dengan perkiraan pertumbuhan di masa depan, membuat investasi di IPO menjadi proposisi berisiko.
2. Signaling Theory
Signaling theory mengungkapkan bahwa tindakan dari perusahaan yang dengan sengaja dalam penawaran melalui penawaran umum perdana memberikan sinyal pada pasar berupa signal positif ataupun signal negatif bagi investor.
Menurut Jama’an (2008) Signaling Theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Teori sinyal menjelaskan bahwa pemberian sinyal dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri informasi. Manajer memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan laba yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan laba dan aktiva yang tidak overstate. Teori signal juga dapat membantu pihak perusahaan (agen), pemilik (prinsipal), dan pihak luar perusahaan mengurangi asimetri informasi dengan menghasilkan kualitas atau integritas informasi laporan keuangan. Untuk memastikan pihak-pihak yang berkepentingan meyakini keandalan informasi keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agen), perlu
mendapatkan opini dari pihak lain yang bebas memberikan pendapat tentang laporan keuangan (Mulyadi, 2002).
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing
Keputusan perusahaan dalam melakukan go public dan melempar saham-sahamnya ke publik perlu dipikirkan dan diperhatikan oleh perusahaan emiten dengan matang, hal tersebut dikarenakan perusahaan emiten harus mengetahui dengan pasti isu-isu yang akan muncul yaitu: jenis atau tipe saham apa saja yang akan dikeluarkan, berapa harga saham yang akan ditetapkan per lembar sahamnya dan kapan waktu pelemparan yang tepat. Pada umumnya masalah perusahaan yang berhubungan dengan penawaran umum perdana akan diserahkan ke banker investasi yang memiliki keahlian khusus didalam penjualan sekuritas.
Underpricing terjadi karena adanya asimetri informasi yang akan memengaruhi harga saham penawaran perdananya lebih rendah daripada harga pasar di pasar sekunder. Underwriter memiliki informasi yang lebih baik tentang pasar modal, sedangkan pihak emiten merupakan pihak yang tidak memiliki informasi tentang pasar modal sehingga apabila di antara mereka tidak memiliki informasi yang lengkap maka akan terjadi perbedaan harga. Signaling Theory mengungkapkan bahwa tindakan dari perusahaan dalam penawaran saham perdananya melalui penawaran umum perdana memberikan sinyal pada pasar berupa signal positif ataupun signal negatif bagi investor. Hal yang tidak kalah penting adalah sikap dan tanggapan dari investor yang merupakan pihak penyandang dana dalam penawaran umum perdana. Keputusan atau respon dari investor tentunya didasari
atas pengetahuan dan pengamatannya terhadap informasi yang tersedia (Jama’an, 2008).
2.1.2. Initial Public Offering (IPO)
Dalam pasar finansial, Initial Public Offering (IPO) atau dalam bahasa Indonesia disebut penawaran umum perdana) adalah penjualan pertama saham umum sebuah perusahaan kepada investor umum. Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua. Biasanya perusahaan tersebut akan merekrut seorang bankir investasi untuk menjamin penawaran tersebut seorang pengacara korporat untuk membantu menulis prospektus. Penjualan saham diatur oleh pihak berwajib dalam pengaturan finansial dan jika relevan, sebuah bursa saham.
Biasanya menjadi sebuah persyaratan untuk mengungkapkan kondisi keuangan dan prospek sebuah perusahaan kepada para investor (Hartono dan Ali, 2002)
Suatu perusahaan bisa menjual saham pemegang saham lama dan/atau bisa juga saham baru dan/atau bisa juga kombinasi saham lama dan saham baru. Jika perusahaan pada saat IPO menjual saham lama yang dimiliki oleh pemegang saham, maka dana hasil IPO akan masuk ke kantong pemegang saham lama. Tapi, jika yang dijual adalah saham baru, maka dana hasil IPO akan masuk ke kas perusahaan. Dengan demikian, akan ada perbedaan dampak atas menjual saham lama atau menjual saham baru terhadap bisnis perusahaan. Jika saham lama maka perusahaan tidak mendapat dana tambahan untuk ekspansi, tapi jika saham baru maka perusahaan akan memiliki dana untuk ekspansi namun pemegang saham
lama tidak mendapatkan dana tunai. Beberapa tujuan dari IPO menurut Sunariyah (2002) diantaranya:
1. Strategic Listing
Perusahaan melakukan IPO dengan tujuan utama mendapatkan status sebagai perusahaan tercatat di Bursa. Bagi beberapa sektor bisnis, status ini sangat penting, karena akan menunjukkan bahwa seolah-olah perusahaan mereka dapat dipercaya, perusahaan mereka memiliki tata kelola yang baik, perusahaan mereka juga diawasi oleh berbagai pihak, informasi tentang perusahaan mereka tersedia di berbagai media, dan lainnya. Itu semua akan mereka gunakan untuk mengembangkan bisnis, mendapatkan nasabah baru, bahkan digunakan untuk alasan prestise. Alasan ini tidak salah dan bahkan boleh-boleh saja, asalkan setelah IPO, perusahaan yang diwakili oleh manajemen perusahaan tidak menganak-tirikan investor minoritas. Tidak sedikit perusahaan yang IPO dengan alasan utama ini, kemudian hari tidak memperdulikan nasib investor minoritas, bahkan tidak lagi memperdulikan kinerja perusahaan dan harga saham di pasar sekunder.
2. Fund Raising
IPO juga bisa lakukan dengan tujuan utama mendapatkan dana murah dari Pasar Modal. Mengapa bisa disebut dana murah? Jawabannya karena tidak ada keharusan dan kepastian berapa keuntungan yang akan diperoleh investor dengan membeli suatu saham. Sehingga, jika suatu perusahaan melakukan IPO hanya dengan tujuan mendapatkan dana murah, maka mereka tidak merasa memiliki tanggungjawab untuk memberikan keuntungan yang memadai bagi para investor.
Akibatnya, keuntungan perusahaan tidak pernah tambah naik malah bahkan bisa jadi merugi setelah melakukan IPO. IPO dengan tujuan utama seperti ini sangat merugikan investor, karena dana mereka tidak dihargai dengan baik oleh perusahaan yang sahamnya mereka miliki.
3. Public Company
IPO dengan tujuan utama menjadi perusahaan publik adalah merupakan tujuan IPO yang sesungguhnya. Suatu perusahaan yang ingin menjadi perusahaan publik, mereka akan mendapat berbagai keuntungan, baik dari sisi prestise maupun dana. Tetapi, mereka harus membuat perusahaan memiliki tatakelola yang bagus, perkembangan perusahaan yang baik, dan keuntungan yang tinggi serta peduli dengan kepentingan investor. Perusahaan yang IPO dengan tujuan ini akan menjadikan para investor sebagai teman bisnis, dimana semua hak mereka tidak akan ada yang diabaikan atau dihilangkan. Mengapa ada perusahaan yang IPO dengan bersungguh-sungguh menjadi perusahaan publik? Pengalaman mengatakan bahwa suatu perusahaan yang benar-benar menjadi perusahan publik akan mendapat berbagai keuntungan yaitu harga saham mereka dihargai lebih tinggi, saham mereka akan lebih likuid, mudah mendapatkan pendanaan, kredibilitas perusahaan makin baik, bisnis mereka akan lebih cepat berkembangnya. Itu semua akan mereka miliki karena semua investor diperlakukan sebagai teman bisnis, sehingga para investor akan menjadi ujung tombak mereka, khususnya dalam pembentukan brand image perusahaan.
Selain tujuan yang disebut di atas, IPO juga memiliki manfaat menurut Jogiyanto (2010) diantaranya:
1. Sebagai Sumber Pendanaan Baru
Dana untuk pengembangan, baik untuk penambahan modal kerja maupun untuk ekspansi usaha, adalah faktor yang sering menjadi kendala banyak perusahaan. Dengan menjadi perusahaan publik, kendala pendanaan tersebut akan lebih mudah diselesaikan. Perolehan dana dapat melalui penjualan saham kepada publik, mempermudah akses perbankan, dan mempermudah akses perusahaan untuk masuk ke pasar uang melalui penerbitan surat utang baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Memberikan competitive advantage untuk pengembangan usaha
Dengan menjadi perusahaan publik, perusahaan akan memperoleh banyak keunggulan kompetitif untuk pengembangan usaha di masa yang akan datang.
Misalnya, melalui IPO, perusahaan berkesempatan untuk mengajak partner kerjanya seperti supplier dan buyer untuk menjadi pemegang saham. Sebagai perusahaan publik, emiten dituntut oleh banyak pihak untuk dapat selalu meningkatkan kualitas kerja operasionalnya.
3. Melakukan merger atau akuisisi melalui penerbitan saham baru
Pengembangan usaha melalui merger atau akuisisi merupakan salah satu cara yang cukup banyak diminati untuk mempercepat pengembangan skala usaha perusahaan.
4. Peningkatan kemampuan going concenrn
Kemampuan going concern bagi perusahaan adalah kemampuan untuk tetap dapat bertahan dalam kondisi apapun termasuk dalam kondisi yang dapat mengakibatkan bangkrutnya perusahaan.
5. Meningkatkan citra perusahaan
Dengan go public, suatu perusahaan akan selalu mendapat perhatian media dan komunitas keuangan. Artinya, perusahaan tersebut mendapat publikasi secara cuma-cuma sehingga dapat meningkatkan citranya.
6. Meningkatkan nilai perusahaan
Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa, setiap saat dapat diperoleh valuasi terhadap nilai perusahaan. Setiap peningkatan kinerja operasional dan kinerja keuangan, umumnya akan memiliki dampak terhadap harga saham di bursa.
Adapun keuntungan yang didapat dari go public menurut Jogiyanto (2010) sebagai berikut:
a. Kemudahan meningkatkan modal di masa datang b. Meningkatkan likuiditas bagi pemegang saham c. Nilai pasar perusahaan diketahui
Selain keuntungan di atas, ada pula kerugian yang ditimbulkan dari go public menurut Hartono (2003) sebagai berikut:
a. Biaya laporan yang meningkat
b. Perusahaan yang go public diwajibkan menyerahkan laporan laporan kepada regulator setiap kuartal dan setiap tahunnya.
c. Pengungkapan (disclosure)
d. Beberapa pihak di dalam perusahaan umumnya keberatan dengan ide pengungkapan.
e. Ketakutan untuk diambil alih
f. Manajer perusahaan yang hanya mempunyai hak veto yang rendah umumnya diganti dengam manajer baru jika perusahaan diambil alih.
Tahapan-tahapan dalam proses Initial Public Offering diantaranya:
a. Tahap Persiapan
1. Perusahaan yang akan melakukan IPO terlebih dahulu mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham.
2. Mempersiapkan Penjamin Emisi/Underwriter.
b. Tahap Pemasaran
Bapepam akan melakukan penelitian tentang keabsahan dokumen, keterbukaan seluruh aspek legal, akuntansi, keuangan dan manajemen.
Langkah selanjutnya adalah pernyataan pendaftaran yang diajukan ke BAPEPAM sampai pernyataan pendaftaran yang efektif, maka langkah-langkah lain yang harus dilakukan adalah :
1. Due diligence meeting 2. Public expose dan roadshow 3. Book building
4. Penentuan harga perdana
c. Tahap Penawaran Efek pada Pasar Perdana
Setelah pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh BAPEPAM maka efek yang dikeluarkan oleh emiten sudah boleh dipasarkan kepada masyarakat.
Mekanisme penawaran umum ini ditentukan dan diatur oleh underwriter yang
ditunjuk oleh emiten. Penawaran umum inilah yang dinamakan penawaran pada Pasar Perdana.
d. Tahap Pencatatan Efek di Bursa dan Perdagangan di Pasar Sekunder
Setelah melakukan penawaran umum maka emiten akan mencatatkan perusahaannya di bursa atau Bursa Efek Indonesia (BEI) dan atau di bursa lain baik dalam negeri maupun di luar negeri sepanjang emiten sanggup memenuhi syarat pencatatan suatu emisi di suatu bursa dan tentu saja sesuai dengan kebutuhan dari emiten.
e. Prospektus dan Kelengkapannya
Prospektus bagi emiten adalah sebagai sarana untuk memperkenalkan diri kepada investor. Dalam prospektus ini emiten menguraikan semua tentang emisi yang ditawarkan.
2.1.3. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat dijadikan sebagai proxy tingkat ketidak pastian saham. Perusahaan yang berskala besar cenderung lebih dikenal masyarakat sehingga informasi mengenai prospek perusahaan berskala besar lebih mudah diperoleh investor daripada perusahaan berskala kecil. Tingkat ketidakpastian yang akan dihadapi oleh calon investor mengenai masa depan perusahaan emiten dapat diperkecil apabila informasi yang diperolehnya banyak (Ardiansyah, 2004).
Tingkat ketidak pastian perusahaan berskala besar pada umumnya rendah karena dengan skala yang tinggi perusahaan cenderung tidak dipengaruhi pasar, sebaliknya dapat mewarnai dan mempengaruhi keadaan pasar secara keseluruhan.
Keadaan ini dapat dinyatakan sebagai kecilnya tingkat resiko investasi perusahaan
berskala besar dalam jangka panjang. Sedangkan pada perusahaan berskala kecil tingkat ketidak pastian di masa yang akan datang besar, sehingga tingkat resiko investasinya lebih besar dalam jangka panjang (Nurhidayati dan Indriantoro, 1998).
2.1.4. Return On Asset
Return on asset merupakan salah satu rasio profibalitas, yaitu rasio yang menunjukkan seberapa efektifnya perusahaan beroperasi sehingga menghasilkan keuntungan atau laba bagi peruusahaan. Return on asset digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva yang dimilikinya (Ang, 1997). Nilai return on asset yang semakin tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba di masa yang akan datang dan laba merupakan informasi penting bagi investor sebagai pertimbangan dalam menanamkan modalnya. Profitabilitas yang tinggi dari suatu perusahaan akan mengurangi ketidak pastian bagi investor sehingga akan menurunkan tingkat underpricing (Ghozali, 2002). Hal ini berarti kemungkinan investor untuk mendapatkan return awal semakin rendah.
2.1.5. Financial Leverage
Menurut Fahmi (2012), financial leverage terjadi pada saat perusahaan menggunakan sumber dana yang menimbulkan beban tetap. Apabila perusahaan menggunakan hutang, maka perusahaan harus membayar bunga.
Apabila financial leverage ini tinggi menunjukkan resiko suatu perusahaan dan akan mengurangi minat investor sehingga akan meningkatkan ketidakpastian suatu perusahaan.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi financial leverage, yaitu sebagai berikut :
1. Tingkat pertumbuhan penjualan
Tingkat pertumbuhan penjualan masa depan merupakan ukuran sampai sejauh mana laba per saham dari suatu perusahaan yang dapat ditingkatkan oleh leverage. Jika penjualan dan laba meningkat, pembiayaan dengan hutang dengan beban tertentu akan meningkatkan pendapatan pemilik saham.
2. Stabilitas arus kas
Bila stabilitas penjualan dan laba lebih besar, maka beban hutang tetap yang terjadi pada perusahaan akan mempunyai resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang menjual dan labanya menurun.
2. Karakteristik Industri
Kemampuan untuk membayar hutang tergantung pada profitabilitas dan juga volume penjualan. Dengan demikian stabilitas laba adalah sama pentingnya dengan stabilitas penjualan.
3. Struktur aktiva
Struktur aktiva mempengaruhi sumber-sumber pembiayaan melalui beberapa cara. Perusahaan yang mempunyai aktiva tetap jangka panjang, terutama jika permintaan akan produk cukup meyakinkan, akan banyak menggunakan hutang hipotek jangka panjang. Perusahaan yang sebagian aktivanya berupa piutang dan persediaan barang tidak begitu tergantung pada pembiayaan jangka pendek.
4. Sikap manajemen
Sikap manajemen yang paling berpengaruh dalam memilih cara pembiayaan adalah sikapnya terhadap pengendalian dan resiko.
Perusahaan besar yang sahamnya dimiliki oleh banyak orang akan memilih penambahan penjualan saham biasa karena penjualan ini tidak akan banyak mempengaruhi pengendalian perusahaan. Sebaliknya, pemilik perusahaan kecil mungkin lebih sering menghindari penerbitan saham biasa dalam usahanya untuk tetap mengendalikan perusahaan sepenuhnya karena mereka biasanya sangat yakin terhadap prospek perusahaan mereka dan karena mereka dapat melihat laba besar yang akan mereka peroleh.
5. Sikap pemberi pinjaman
Manajemen ingin menggunakan leverage melampaui batas normal untuk bidang industrinya, pemberi pinjaman mungkin tidak tersedia untuk memberi tambahan pinjaman. Pemberi pinjaman berpendapat bahwa hutang yang terlalu besar akan mengurangi posisi kredit dari peminjaman dan penilaian kredibilitas yang dibuat sebelumnya.
Manajemen ingin menggunakan leverage melampaui batas normal untuk bidang industrinya, pemberi pinjaman mungkin tidak tersedia untuk memberi tambahan pinjaman. Pemberi pinjaman berpendapat bahwa hutang yang terlalu besar akan mengurangi posisi kredit dari peminjaman dan penilaian kredibilitas yang dibuat sebelumnya.