BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Skizofrenia adalah gangguan mental kompleks yang diidentifikasi dengan gangguan dalam pengujian realitas, apatis, isolasi sosial dan gangguan kognitif.
Hal ini menyebabkan hubungan interpersonal, pekerjaan, kehidupan sosial, perawatan diri dan defisit kehidupan mandiri. Gejala skizofrenia yang digambarkan dari ketidakmampuan mulai dari simtom positif dan negatif, hingga gangguan kognitif seperti perhatian, kecepatan pemrosesan, memori kerja, memori verbal jangka panjang dan fungsi eksekutif.1
Skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak faktor yang berperan terhadap terjadinya skizofrenia. Faktor-faktor yang berperan terhadap terjadinya skizofrenia antara lain adalah faktor genetik, biologis, biokimia, psikososial, status sosial ekonomi, stres, serta penyalahgunaan obat. Faktor-faktor yang berperan terhadap timbulnya skizofrenia adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, dan status ekonomi. Skizofrenia terkait dengan perkembangan saraf yang berbeda, kelainan struktural dan perilaku. Telah diusulkan bahwa kelainan seperti itu bisa berasal dari gangguan fungsi gen atau faktor non-genetik seperti etnis, obat dan penyalahgunaan alkohol, gaya hidup, obat-obatan, pra-kelahiran dan neonatal infeksi, malnutrisi ibu, komplikasi selama pra-kelahiran dan banyak faktor lainnya.2
Gangguan fungsi kognitif pada orang dengan skizofrenia seringkali dijumpai dan berdampak terhadap semua aspek kehidupan pasien, termasuk
kemampuan mereka dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Onsetnya dan perubahan yang ditimbulkannya dapat diamati sebagai penurunan yang lambat dan bertahap yang dalam banyak kasus, dimulai bahkan sebelum episode psikotik pertama. Tingkat prevalensi seumur hidup rata-rata gangguan kepribadian yang terbagi dengan karakteristik berupa perkembangan saraf kompleks dengan gangguan fungsi kognitif sebagai bagian utama, berdasarkan dari sejumlah studi yang dilakukan pada orang yang menderita skizofrenia dengan gejala klinis dan fungsi sosial pada orang dengan skizofrenia merupakan konsekuensi dari defisit neurokognitif. Defisit kognitif merupakan aspek inti dari penyakit skizofrenia.
Beberapa bukti, menunjukkan bahwa adanya domain penurunan nilai kognitif.
Misalnya, Bilder menemukan penurunaan ringan sampai defisit sedang dalam perhatian, kefasihan lisan, memori bekerja, dan kecepatan pemprosesan, dengan penurunan dalam memori verbal deklaratif dan eksekutif berfungsi.3-6
Saat ini, gangguan kognitif yang sedang terjadi diakui secara klinis sebagai salah satu gejala inti penderita skizofrenia. Patogenesis skizofrenia dan mekanisme terjadinya belum diketahui secara pasti. Beberapa studi menunjukkan bahwa patogenesis skizofrenia dapat dikaitkan dengan perubahan metilasi DNA, disfungsi mitokondria, gangguan neurotransmiter glutamat, dan pengurangan asam folat. Studi menemukan bahwa tingkat homocysteine pada orang dengan skizofrenia secara signifikan meningkat. Metabolisme homocysteine yang abnormal dapat menyebabkan kelainan metilasi DNA. Kelainan homocysteine merupakan faktor risiko untuk patogenesis skizofrenia dan morbiditas dan gangguan kognitif skizofrenia dapat terjadi dikaitkan dengan peningkatan level homocysteine.1
3 Pada studi Moustafa dan kawan kawan pada tahun 2014 di Australia menyebutkan bahwa peningkatan homocysteine pada orang dengan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif, berkontribusi pada gangguan kognitif mereka.
Ada beberapa mekanisme terkait homocysteine pada gangguan psikiatri secara biologis. Telah ditemukan bahwa homosistein berinteraksi dengan reseptor N-Methyl-D-Aspartate (NMDA), menginisiasi oksidative stress menginduksi apoptosis, memicu disfungsi mitokondrial dan menimbulkan kerusakan vascular.7
Pada studi Deng dan kawan-kawan pada tahun 2018 di Cina menyebutkan bahwa peningkatan serum homocysteine secara signifikan dapat digunakan sebagai alat diagnostik laboratorium untuk menentukan keparahan disfungsi kognitif pada pasien orang dengan skizofrenia episode pertama. Studi ini menyebutkan terjadinya gangguan kognitif secara signifikan pada pasien pasien orang dengan skizofrenia secara klinis.Studi- studi sebelumnya menemukan bahwa serum homocysteine dapat mempengaruhi 5-hydroxytryptamine dan biosintesis dopamine lobus frontal yang nantinya berefek pada fungsi lobus frontal. Hipofungsi prefrontal sehubungan dengan gangguan kognitif.Inilah yang menyebabkan bahwa peningkatan serum homocysteine pada pasien dengan orang skizofrenia berkorelasi dengan fungsi kognitif. Pada studi ini, diteliti subyek orang dengan skizofrenia episode pertama dengan peningkatan serum homocysteine lebih dari 15 µmol/L secara signifikan memiliki tingkat serum homocysteine dan menurunkan fungsi kognitif dibandingkan subyek yang memiliki tingkat homocysteine kurang dari 15 µmol/L ( p < 0,05 ).1
Pada studi Ayesa-Arriola dan kawan-kawan pada tahun 2012 di Spanyol menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat homocysteine dan
gangguan kognitif. Studi ini menyimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara peningkatan tingkat homocysteine dan gangguan kognitif pada pasien psikosis episode pertama . Rey Complex Figure (RCF) p= 0.81, Wechsler Adult Intelligence Scale III (WAISS-III) p= 0.04, Rey Auditory Verbal Learning Test (RAVLT) p =0.05, Zoo Map Test I (ZMT-I) p = 0.004, ZMT-II p= 0.006, Tower of London Test (TOL) p=0.006.8
Dari berbagai latar belakang di atas, berdasarkan perbedaan studi-studi sebelumnya, oleh Ayesa-Arriola dan kawan-kawan yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat homocysteine dan gangguan kognitif, sedangkan studi oleh Moustafa dan kawan-kawan serta Deng dan kawan-kawan yang menyebutkan bahwa peningkatan homocysteine berkontribusi pada gangguan disfungsi kognitif, dan melalui peninjauan kepustakaan, belum pernah ada penelitian yang sama, pernah dilakukan di Indonesia. Maka melalui studi ini penulis ingin mengetahui apakah terdapat korelasi antara Skor Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) dan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak di Indonesia, yang pada akhirnya dapat memberikan informasi kepada klinisi tentang apakah di Indonesia, Skor Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) berhubungan dengan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak ?
5 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka melalui studi ini disusun rumusan masalah sebagai berikut: Apakah terdapat korelasi antara skor Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) dan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak ?
1.3 Hipotesis
Terdapat korelasi antara skor Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina) dan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak.
1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui korelasi skor Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina) dan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik demografik pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak di RSJ Prof. Dr. M. Ildrem Medan.
2. Untuk mengetahui nilai rerata skor Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina) pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak.
3. Untuk mengetahui nilai rerata kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak.
4. Untuk mengetahui korelasi antara skor Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) dan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak.
1.5 Manfaat penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai korelasi antara skor Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) dan kadar homocysteine pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak di Instalasi rawat jalan RSJ Prof. Dr. M. Ildrem Medan.
2. Hasil penelitian ini dapat diharapkan sebagai acuan bahan penelitian lainnya yang sejenis.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan untuk melakukan pemeriksaan homocysteine dan fungsi kognitif, pada praktek klinik.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Skizofrenia 2.1.1. Definisi
Skizofrenia adalah kumpulan sindroma klinis yang ditandai dengan kerusakan psikopatologi yang melibatkan kognisi, emosi, persepsi, dan aspek perilaku yang bermanifestasi pasa pasien dan mempengaruhi perjalanan penyakit dan berlangsung lama. Gangguan ini biasanya dimulai sebelum umur 25 tahun,menetap sepanjang hidup dan mempengaruhi seseorang dari semua kelas sosial. Baik penderita maupun keluarganya mengalami permasalahan sosial dari masyarakat akibat ketidak tahuan yang besar mengenai penyakit tersebut.9
Skizofrenia adalah gangguan otak yang mempengaruhi cara seseorang berperilaku, berpikir, dan melihat dunia. Orang dengan skizofrenia sering memiliki persepsi yang merubah realitas. Mereka mungkin melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada, berbicara dengan cara yang aneh atau membingungkan, percaya bahwa orang lain berusaha untuk menyakiti mereka, atau merasa seperti mereka terus-menerus diawasi. Hal ini dapat membuat sulit untuk bernegosiasi aktivitas kehidupan sehari-hari, dan orang-orang dengan skizofrenia menarik diri dari dunia luar atau bertindak dalam kebingungan dan ketakutan. Meskipun skizofrenia adalah gangguan kronis, ada bantuan yang tersedia. Dengan dukungan, pengobatan, dan terapi, banyak orang dengan skizofrenia dapat berfungsi secara independen dan hidup memenuhi.10
2.1.2. Epidemiologi
Risiko skizofrenia di keluarga, tingkat pertama dari penderita orang dengan skizofrenia adalah 10%. Jika kedua orang tua memiliki skizofrenia, risiko skizofrenia pada anak mereka adalah 40%. Kesesuaian untuk skizofrenia adalah sekitar 10% untuk kembar dizigot dan 40-50% untuk kembar monozigot.
Prevalensi seumur hidup skizofrenia secara umum diperkirakan sekitar 1% di seluruh dunia. Namun, review sistematis oleh Saha dan kawan-kawan, dari 188 studi yang diambil dari 46 negara menemukan risiko seumur hidup dari 4.0 per 1000 penduduk; estimasi prevalensi dari negara-negara yang paling maju secara signifikan lebih rendah dibandingkan dari negara digolongkan sebagai negara berkembang atau sedang berkembang. Imigran ke negara-negara maju menunjukkan tingkat peningkatan skizofrenia, dengan risiko memperluas ke generasi kedua.11
Di Amerika Serikat, sekitar 0.05 % dari total populasi diobati dengan diagnosa skizofrenia setiap tahunnya dan hanya setengah dari seluruh pasien orang dengan skizofrenik memperoleh pengobatan, meskipun mengalami gangguan yang berat. Prevalensi skizofrenia adalah sama antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun perbedaan kedua jenis kelamin adalah pada onset dan perjalanan penyakit. Onset adalah lebih awal pada laki-laki daripada perempuan.
Umur puncaknya 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 60 tahun sangat jarang. Sembilan puluh persen pasien yang mendapat pengobatan skizofrenia berusia antara 15 sampai 55 tahun. Secara umum, wanita dengan skizofrenia mempunyai hasil yang lebih baik dibandingkan pria.9
9 Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada April 2016 menyebutkan ada 21 juta penderita orang dengan skizofrenia di seluruh dunia.
Data Global Burden Disease (WHO 2004) menunjukkan bahwa skizofrenia termasuk dalam 20 besar penyakit terkait Years Lost due to Disability (YLD).12
Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia seperti gangguan psikosis adalah 1,7 per 1000 penduduk, ini berarti lebih dari 400.000 orang menderita gangguan jiwa berat (psikosis). Angka pemasungan untuk orang dengan gangguan jiwa berat sebesar 14.3 % atau sekitar 57.000 kasus gangguan jiwa yang mengalami pemasungan. Sedangkan untuk Sumatera Utara sebesar 0,9 permil.13,14
2.1.3. Etiologi
2.1.3.1. Faktor Genetik
Terdapat kontribusi genetik bagi sebagian bahkan mungkin semua bentuk dari skizofrenia, dan proporsi yang tinggi dari varian dalam kecenderungan untuk skizofrenia adalah karena adanya pengaruh genetik, misalnya, skizofrenia dan gangguan yang berkaitan dengan skizofrenia, dimana hal tersebut muncul pada nilai hubungan yang meningkat di antara kerabat biologis pasien orang dengan skizofrenia.9
2.1.3.2. Faktor Biokimia 2.1.3.2.1. Hipotesis Dopamin
Rumusan yang paling sederhana dari hipotesis dopamin adalah bahwa skizofrenia merupakan hasil dari terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. Teori ini berkembang dari dua observasi. Pertama, efikasi dan potensi dari obat-obat antipsikotik misalnya, antagonis reseptor dopamin yang berkaitan dengan
kemampuan mereka untuk bertindak sebagai antagonis dari reseptor dopamine D2. Kedua, obat-obatan yang meningkatkan aktivitas dopaminergik merupakan psychotomimetic.9
2.1.3.2.2. Serotonin
Saat ini beberapa hipotesis menyatakan bahwa serotonin yang berlebihan merupakan penyebab dari simtom positif dan simtom negatif dari skizofrenia.
Aktivitas antagonis serotonin dari clozapin dan antipsikotik untuk menurunkan gejala-gejala positif pada pasien orang dengan skizofrenia yang kronik.9
2.1.3.2.3. Norepinefrin
Anhedonia telah lama diperhatikan sebagai ciri yang penting dari skizofrenia. Degenerasi neuronal selektif di dalam sistem saraf norepinefrin dapat menjelaskan aspek simtomatologi dari skizofrenia. Namun, data biokimia dan farmakologi yang berhubungan hal ini masih belum meyakinkan.9
2.1.3.2.4. Hipotesis GABA
Neurotransmiter ɣ-aminobutyric acid (GABA) memiliki pengaruh pada patofisiologi skizofrenia berdasarkan penemuan bahwa beberapa penderita skiofrenia mengalami pengurangan neuron GABAergik di hipokampus.9
2.1.3.2.5. Neuropeptida
Neuropeptida seperti substance P dan neurotensin terletak di lokasi yang sama dengan katekolamin dan neurotransmitter indolamin dan mempengaruhi aksi dari neurotransmiter indolamin dan mempengaruhi aksi dari neurotransmiter ini.
Perubahan dari mekanisme neuropeptida dapat memfasilitasi, menghambat, atau merubah pola tujuan dari sistem saraf.9
11 2.1.3.2.6. Glutamat
Glutamat merupakan neurotransmitter utama dalam sistem safar pusat dan kadang-kadang dianggap sebagai ― master switch‖ dari otak, karena dapat membangkitkan hampir semua neuron sistem saraf pusat.9
2.1.3.2.7. Asetilkolin dan Nikotin
Beberapa studi postmortem pada skizofrenia telah menunjukkan penurunan reseptor muskarinik dan nikotin dibagian caudal dari putamen, hipokampus dan beberapa bagian dari korteks prefrontal, dimana reseptor tersebut berperan dalam susunan dalam sistem neurotransmiter yang terlibat dalam kognitif, dimana terjadi gangguan dalam skizofrenia.9
2.1.3.3. Neuropatologi
Pada abad ke-19, ahli neuropatologi gagal untuk menemukan dasar neuropatologi untuk skizofrenia, dan oleh karena itu mereka mengklasifikasikan skizofrenia sebagai gangguan fungsional. Pada akhir abad ke-20, para peneliti telah membuat langkah-langkah yang signifikan dalam menyingkap dasar neuropatologi dari skizofrenia, terutama pada sistem limbik dan bangsal ganglia, mencakup abnormalitas neuropatologi atau neurokimia pada korteks cerebral, thalamus dan batang otak.9
2.1.3.4. Sirkuit Saraf
Evolusi bertahap dari konseptualitas skizofrenia sebagai gangguan yang meliputi area-area yang berlainan dari otak sebagai pandangan perspektif skizofrenia sebagai gangguan dari sirkuit saraf otak. Sebagai contoh, bangsal ganglia dan cerebellum secara timbal balik berkaitan dengan lobus frontalis, dan abnormalitas pada fungsi lobus frontalis terlihat dalam beberapa studi pencitraan
otak. Hal ini juga dapat memberikan hipotesis bahwa lesi perkembangan yang dini pada jalur dopaminergik ke korteks prefrontal menghasilkan gangguan fungsi prefrontal dan sistem limbik dan menyebabkan simtom positif dan negatif serta gangguan kognitif yang dapat diamati pada orang dengan skizofrenia.9
2.1.3.5. Metabolisme Otak
Studi menggunakan magnetic resonance spectroscopy, suatu teknik untuk mengukur konsentrasi molekul spesifik di otak, menemukan bahwa orang dengan skizofrenia memiliki level phosphomonoester dan fosfat inorganik yang lebih rendah serta level phosphodiester yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol.
Selanjutnya, konsentrasi dari N-acetyl aspartate lebih rendah di hipokampus dan lobus frontral pada orang dengan skizofrenia.9
2.1.3.6. Elektrofisiologi
Beberapa studi elektroensefalografi menunjukkan bahwa banyak orang dengan skizofrenia mempunyai rekaman yang abnormal, peningkatan aktifitas terhadap prosedur aktivasi, penurunan aktifasi alfa, peningkatan aktifitas theta dan delta, kemungkinan aktifitas epileptiform yang lebih dari biasanya. Orang dengan skizofrenia juga menunjukkan ketidakmampuan untuk menyaring suara-suara yang tidak relevan dan sangat sensitif terhadap lingkungan yang bising. Kerasnya suara dapat membuat sulit berkonsentrasi dan mungkin menjadi faktor timbulnya halusinasi pendengaran. Sensitivitas terhadap suara ini mungkin berkaitan dengan gangguan genetik.9
13 2.1.4. Simtom Klinis
Beberapa penelitian membuat sub kategori dari simtom penyakit ini kedalam 5 bagian yaitu : simtom positif, simtom negatif, simtom kognitif, simtom agresif dan simtom depresi/cemas.15
1. Simtom positif
Waham, halusinasi, penyimpangan dan pernyataan yang berlebih-lebihan dalam berbahasa dan berkomunikasi, pembicaraan/perilaku yang tidak beraturan, perilaku katatonik dan agitasi.
2. Simtom negatif
Afek tumpul, penarikan emosi, rapport yang buruk, ketidak pedulian, menarik diri dari kehidupan sosial, ganguan berfikir abstrak, alogia, avolisi, anhedonia, gangguan pemusatan perhatian.
3. Simtom kognitif
Gangguan berpikir, inkoherensia, asosiasi yang longgar, neologisme, gangguan pengolahan informasi.
4. Simtom agresif
Permusuhan, penghinaan verbal, penyiksaan fisik, menyerang, melukai diri sendiri, merusak barang-barang, impulsive, tindakan seksual.
5. Simtom depresi/cemas
Mood depresi, mood cemas, perasaan bersalah, ketegangan, iritabilitas cemas.15
2.1.5. Kriteria Diagnosis
Kriteria diagnosis untuk skizofrenia berdasarkan PPDGJI-III adalah sebagai berikut:16
Gangguan skizofrenia berdasarkan PPDGJI-III umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual yang dipertahankan, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Walaupun tidak ada simtom-simtom patognomonik yang khusus, dalam praktek ada manfaatnya untuk membagi simtom-simtom tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang sering terdapat secara bersama-sama, misalnya :16
(a) ―thought echo‖, ―thought insertion‖ atau ―withdrawal‖ dan ―thought broadcasting‖
(b) Waham dikendalikan (delusion of control), waham yang dipengaruhi (delusion of influence) atau ―passivity‖, yang jelas merujuk pada pergerakan tubuh atau pergerakan anggota gerak, atau pikiran, perbuatan atau perasaan (sensations) khusus; persepsi delusional;
(c) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri, atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh;
(d) Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan kemampuan ―manusia super‖
15 (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain);
(e) Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus;
(f) Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan(interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
(g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), sikap tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas serea, negativisme, mutisme, dan stupor;
(h) Simtom-simtom ―negatif‖ seperti sikap sangat masa bodo (apatis), pembicaraan yang terhenti, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
(i) Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.16
2.1.6. Pedoman Diagnostik
Persyaratan yang normal untuk diagnostik skizofrenia ialah harus ada sedikitnya satu simtom tersebut di atas yang amat jelas (dan biasanya dua simtom atau lebih apabila simtom-simtom itu kurang tajam atau kurang jelas) dari simtom yang termasuk salah satu kelompok simtom (a) sampai (d) tersebut di atas, atau paling sedikit dua simtom dari kelompok (e) sampai (h) yang harus selalu ada secara jelas selama kurun waktu satu bulan atau lebih.16
2.2. Fungsi Kognitif Pada Skizofrenia
Penurunan kognitif pada proses memori, memori deklaratif dan perhatian adalah gejala dasar skizofrenia yang berkontribusi heterogenitas di fenomenologis gejala ekspresi dan pengaruh pada kompleksitas, keragaman dan hasil dari penyakit. Skizofrenia adalah gangguan kronis melibatkan sekitar 1% dari populasi umum. Prefrontal korteks memainkan peran yang dominan dalam kehidupan psikis manusia, karena mengintegrasikan informasi yang datang langsung dari daerah limbik, neokorteks, batang otak, hypothalamus dan secara tidak langsung melalui talamus dari hampir semua wilayah otak, sehingga disfungsional, yang tertentu struktural dan atau perubahan fungsional dalam hal ini bagian dari sistem susunan syaraf pusat menuju kuantitatif dan gangguan kualitatif kesadaran, perencanaan, pelaksanaan tindakan, kuantitatif dan kualitatif gangguan penglihatan, konsentrasi, pidato, emosi dan mempengaruhi. Sebagai kelompok, orang dengan skizofrenia memiliki prestasi yang lebih rendah padaberbagai tes kognitif, terutama yang berkaitan dengan regulasilobus frontal seperti perhatian, yang penggunaan strategi dan pemecahan masalah.5
17 2.3. Montreal Cognitive Assessment (MoCA)
Montreal Cognitive Assessment (MoCA) dirancang sebagai instrumen skrining cepat untuk disfungsi kognitif ringan. Hal ini menilai domain kognitif yang berbeda: perhatian dan konsentrasi, fungsi eksekutif, memori, bahasa, keterampilan visuoconstructional, pikiran konseptual, perhitungan, dan orientasi.
Waktu untuk mengelola Moca adalah sekitar 10 menit. Total skor adalah 30 poin;
skor 26 atau di atas dianggap normal.17
MoCA memiliki sensitivitas 90%, dan spesifitas 87% untuk menilai fungsi konitif. Di Indonesia, MoCA telah divalidasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Husein dan kawan-kawan pada tahun 2009 dan disebut sebagai MoCA-Ina. Tes MoCA versi Indonesia (MoCA-Ina) telah valid menurut kaidah validasi transkultural dan dipercaya sehingga dapat digunakan.18,19
2.4. Homocysteine
Senyawa Homocysteine (Hcy) pertama kali ditemukan tahun 1932 dan diberi nama oleh du Vigneaud. Homocysteine (2 amino 4 mercaptobutanoic acid ) merupakan non protein sulfhydryl amino acid, yang metabolismenya terletak pada persimpangan antara jalur transulfurasi dan remetilasi biosintesis metionin.20
Homocysteine merupakan senyawa antara yang dihasilkan pada metabolisme metionin suatu asam amino esensial yang terdapat dalam beberapa bentuk di plasma. Sulfhidril atau bentuk tereduksi dinamakan homocysteine, dan disulfida atau bentuk teroksidasi dinamakan homocysteine. Bentuk disulfida juga terdapat bersama-sama dengan sistein dan protein yang mengandung residu sistein reaktif (homocysteine yang terikat protein), bentuk ini dinamakan disulfida
campuran. Bentuk teroksidasi merupakan bagian terbesar (98-99%) dalam plasma sedangkan bentuk tereduksi hanya 1% dari total homocysteine dalam plasma.
Dalam keadaan normal homosistein dalam darah relatif sangat sedikit, dengan kadar antara 5-15 umol/L. Kadar homocysteine di kompartemen ekstrasel ditentukan oleh beberapa hal yaitu pembentukannya di dalam sel, metabolisme dan eksresinya.21
Gambar 1.Jalur Metabolisme Homocysteine.
(Dikutip dari :Bolander-Gouaille C, Bottiglieri T. Homocysteine Related Vitamins and Neuropsychiatric Disorders. Second edition ed. New York: Springer; 2007.)
Tahap pertama metabolisme homocysteine adalah pembentukan S-adenosil metionin (Gambar 1) yang merupakan donor metil terpenting pada reaksi transmetilasi. adenosilmetinin, selanjutnya mengalami demetilasi membentuk S-adenosilhomocysteine, yang kemudian dihidrolisis menjadi adenosin dan homocysteine. Homocysteine selanjutnya memasuki jalur transsulfurasi atau jalur remetilasi. Sekitar 50% homocysteine yang memasuki transsulfurasi, secara irrevesibel berikatan dengan serin melalui pengaruh enzim sistasionin β-sintase, untuk membentuk sistasionin. Sistasionin ini selanjutnya di metabolisme menjadi
19 sistein dan α–ketobutirat melalui pengaruh γ-sistasionase. Sistein yang terbentuk
19 sistein dan α–ketobutirat melalui pengaruh γ-sistasionase. Sistein yang terbentuk