• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teoritis

4. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kerja Peserta Didik yang sebelumnya disebut dengan Lembar Kerja Siswa, karena terjadinya perubahan kurikulum menjadi kurikulum 2013 menyebabkan Lembar Kerja Siswa (LKS) diganti menjadi Lembar kerja Peserta Didik (LKPD). Menurut para ahli,

lembar kerja peserta didik (LKPD) memiliki pengertian/definisi yang berbeda-beda. Ini dapat dilihat dari pernyataan sebagai berikut:

Menurut Depdiknas (2008: 13) lembar kerja siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa teoritis dan atau tugas-tugas praktis. Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah bacaan tertentu, kemudian membuat resume untuk dipresentasikan.

Sedangkan tugas praktis dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan.

Menurut Trianto (2010: 222) lembar kerja siswa (LKS) adalah panduan pesserta didik yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. Sedangkan menurut Sugiyono dalam Beladina dan Kusni (2013:2) menyatakan bahwa lembar kegiatan peserta didik (LKPD) atau dalam kata lain lembar kerja siswa (LKS) atau worksheet merupakan suatu media pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas peneliti menyimpulkan bahwa lembar kerja peserta didik (LKPD) adalah suatu lembar kerja yang digunakan peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar dengan adanya beberapa acuan pembelajaran dan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik untuk membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

b. Jenis-Jenis LKPD

Setiap LKPD disusun berdasarkan materi-materi dan tugas-tugas tertentu yang dikemas sedemikian rupa untuk tujuan tertentu (Prastowo, 2012:208). Karena adanya perbedaan tujuan dalam pembuatan LKPD, hal ini mengakibatkan LKPD mempunyai beragam bentuk. Ada lima macam bentuk LKPD yang umunya digunakan oleh peserta didik (Prastowo, 2012:208), sebagaimana dijelaskan sebagai berikut ini:

23

1) LKPD yang membantu peserta didik menemukan suatu konsep 2) LKPD yang membantu peserta didik menerapkan dan

mengintegrasikan berbagai konsep yag telah ditemukan 3) LKPD yang berfungsi sebagai penuntun belajar

4) LKPD yang berfungsi sebagai penguatan

5) LKPD yang berfungsi sebagai petunjuk pratikum

LKPD juga dapat disusun berdasarkan pendekatan yang digunakan. Menurut Johston dan Shavali dalam Majid dan Rochman (2015:234) dilihat dari pendekatan yang digunakan ada tiga bentuk LKPD, yaitu:

a) Bentuk LKPD ekpositori yang pengamatannya sudah diterapkan sebelumnya dan prosedurnya telah dirancang oleh guru, siswa hanya tinggal mengikuti prosedur tersebut.

b) Bentuk LKPD inkuiri, dimana hasil pengamatan belum ditetapkan sebelumnya sehingga hasil pengamatan oleh siswa sangat beragam dan prosedur pada LKPD dirancang oleh siswa.

c) Bentuk LKPD penemuan, yaitu hasil yang didapatkan sudah ditetapkan sebelumnya dan prosedur telah dirancang oleh guru.

d) LKPD pemecahan masalah, yaitu hasil dari LKPD tersebut ditetapkan sebelumnya dan prosedur dirancang oleh siswa”. (2015:234)

Berdasarkan pendapat pakar-pakar di atas dapat disimpulkan bahwa LKPD dapat disusun berdasarkan tujuan pembuatannya dan pendekatan yang digunakan. LKPD yang disusun berdasarkan tujuan pembuatannya mempunyai 5 bentuk yaitu: LKPD yang membantu peserta didik menemukan suatu konsep, LKPD yang membantu peserta didik menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan, LKPD yang berfungsi sebagai penuntun belajar, LKPD yang berfungsi sebagai penguatan, LKPD yang berfungsi sebagai petunjuk pratikum. LKPD yang disusun berdasarkan pendekatan yang digunakan terdiri dari tiga bentuk yaitu: bentuk

LKPD ekspositori, bentuk LKPD inkuiri, bentuk LKPD penemuan, dan LKPD pemecahan masalah.

c. Unsur-Unsur LKPD

Unsur-unsur atau komponen LKPD biasanya meliputi judul ekpserimen, teori singkat tentang materi, prosedur ekpserimen, data pengamatan serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi (Trianto, 2011:112). Dilihat dari strukturnya Prastowo (2012:207-208) mengemukakan “LKPD mempunyai enam unsur utama meliputi judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar, materi pokok, informasi pendukung, tugas atau langkah kerja dan penilaian”.

Sedangkan dilihat dari formatnya, Prastowo (2012:208) mengungkapkan “LKPD memuat delapan unsur, yaitu judul, kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan/bahan yang diperlukan untuk penyelesaian tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan”. Pendapat lain, Majid dan Rochman (2015:233) membagi unsur-unsur LKPD menjadi 4 unsur yaitu:

1) Informasi hendaknya “menginspirasi” siswa untuk menjawab/mengerjakan tugas; tidak terlalu sedikit atau kurang jelas sehingga siswa tidak bisa menjawab/mengerjakan tugas.

2) Pertanyaan masalah hendaknya betul-betul menuntut siswa menemukan cara/strategi memecahkan masalah tersebut.

3) Pertanyaan/perintah hendaknya merangsang siswa untuk menyelidiki, menemukan, memecahkan masalah dan/atau berimajinasi/mengkreasi.

4) Pertanyaan dapat bersifat terbuka atau membimbing (guide).

Berdasarkan pendapat para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur LKPD dilihat dari dua sudut pandang, dari struktur dan formatnya. Dilihat dari strukturnya LKPD mempunyai mempunyai enam unsur utama meliputi judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar, materi pokok, informasi pendukung, tugas atau

25

langkah kerja dan penilaian. Sedangkan dilihat dari formatnya LKPD memuat delapan unsur, yaitu judul, kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelasaian, peralatan/bahan yang diperlukan untuk penyelasaian tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan.

d. Tujuan Penyusunan LKPD

LKPD merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan dan diterapkan dalam pembelajaran. Banyak sekali guru yang memilih dan menggunakan LKPD dalam pembelajaran. Guru dalam memilih dan menggunakan LKPD harus mengetahui terlebih dahulu tujuan penyusunannya. Ada empat poin yang menjadi tujuan penyusunan LKPD yaitu:

“1) Menjadikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan. 2) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap materi yang diberikan. 3) Melatih kemandirian belajar peserta didik. 4) Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada peserta didik.” (Prastowo, 2012:206)

Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan tujuan utama penyusunan LKPD adalah sebagai bahan ajar bagi guru dan siswa. Tujuan penyusunan LKPD bagi guru adalah memudahkan guru tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disajikan. Tujuan penyusunan LKPD bagi siswa adalah memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan, menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap materi yang diberikan, melatih kemandirian belajar peserta didik.

e. Langkah-Langkah Penulisan LKPD

Sebuah keharusan bagi pendidik atau calon pendidik untuk bisa membuat sendiri bahan ajar yang yang akan diajarkan pada peserta didik. Untuk membuat peserta didik lebih tehipnotis diperlukan sebuah bahan ajar yang kreatif dan inovatif. Sesuai

tuntutan kurikulum 2013 edisi revisi 2017, salah satu bahan ajar yang bisa dibusat sendiri dan dikembangkan oleh pendidik adalah LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Untuk bisa membuat LKPD sendiri, Diknas (2004) mengemukan langkah-langkah penyusunan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) sebagai berikut:

1) Melakukan Analisis Kurikulum

Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar LKPD. Dalam menentukan materi, langkah analisisnya dilakukan dengan cara melihat materi pokok, pengalaman belajar, serta materi yang diajarkannya.

Disamping itu, pendidik juga harus mencermati kompetensi yang dimiliki peserta didik.

2) Menyusun Peta Kebutuhan LKPD

Peta kebutuhan LKPD sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKPD yang harus dibuat serta melihat frekuensi atau urutan LKPD-nya. Frekuensi LKPD sangat dibutuhkan dalam menentukan prioritas penulisan.

3) Menentukan Judul LKPD

Judul LKPD ditentukan atas dasar kompetensi-kompetensi dasar, materi-materi pokok, atau pengalaman belajar yang terdapat kurikulum. Satu kompetensi dasar dapat dijadikan sebagai judul LKPD apabila kompetensi tersebut tidak terlalu besar. Adapun besarnya kompetensi dasar dapat dideteksi, antara lain dengan cara diuraikan ke dalam materi pokok (MP) mendapatkan maksimal 4 MP, setiap kompetensi tersebut dapat dijadikan satu judul LKPD.

Sebagai contoh KD Elastisitas dan Hukum Hooke, KD ini memiliki 3 MP. Materi pokok dari KD ini yaitu Elastisitas, Hukum Hooke, Pegas Susunan Seri dan Paralel. Setiap materi pokok KD Elastisitas dan hukum hooke dapat dijadikan satu judul LKPD.

27

4) Penulisan LKPD

Untuk memulai menulis LKPD, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan kompetenis dasar, untuk merumuskan kompetensi dasar, dapat kita lakukan dengan menurunkan rumusannya langsung dari kurikulum yang berlaku.

b. Menentukan alat penilaian, penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja peserta didik. Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, dimana penilaiannya berdasarkan penguasaan kompetensi.

c. Menyusun materi, untuk menyusun materi LKPD, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Hal yang penting kita ketahui adalah materi LKPD sangat tergantung pada kompetensi dasar yang akan dicapainya.

d. Memperhatikan struktur LKPD, ini adalah langkah terakhir dalam penyusunan sebuah LKPD. pendidik harus mengetahui struktur LKPD, yang terdiri atas enam komponen, judul, petunjuk belajar (petunjuk untuk siswa), kompetensi dasar, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah kerja dan penilaian.

5. Penerapan Inkuiri Terbimbing berbantukan LKPD

Pembelajaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja, akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian, inti dari strategi pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik untuk lebih aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Pada pembelajaran inkuiri terbimbing tersebut pesrta didik akan meraskaan langsung proses pembelajarannya.

Agar tercapainya tujuan pembelajaran tersebut, penulis menambahkan berbantuan LKPD. LKPD ini berisi lembaran kerja peserta didik digunakan untuk membatu aktifitas belajar peserta didik, agar peserta didik mudah memahami materi pembelajaran. LKPD ini yang dikemas secara rinci untuk peserta didik dan untuk mempermudah guru dalam menyampaian materi pembelajaran. LKPD ini akan dapat membantu untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Oleh sebab itu dengan menerapkan strategi inkuiri terbimbing berbantuan LKPD dapat mempermudah dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik akan lebih mudah memahami dan mengingat materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Ini sesuai dengan yang tujuan pembelajaran. yaitu: untuk menjadikan peserta didik yang lebih aktif, kreatif dan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

6. Hasil Belajar

Sudjana dalam Majid (2014:27) mengemukakan bahwa penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hasil belajar pada hakikatnya puncak dari proses belajar. Adanya hasil belajar berkat penilaian dari guru. Penilaian dan pengukuran hasil belajar dilakukan dengan mengukur pencapaian kompetensi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi, yaitu dari sisi siswa dan guru (Majid, 2014:27). Dari sisi siswa, hasil belajar berupa pencapaian kompetensi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sedangkan dari sisi guru, hasil pembelajaran berupa terselesainya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru. Objek sasaran hasil belajar adalah pencapaian kompetensi. Dalam hal ini kompetensi diartikan sebagai:

“1). Seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang sebagai sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang

29

pekerjaan tertentu, 2) kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan prilaku, 3) integrasi domain kognitif, afektif dan psikomotrik yang direfleksikan dalam perilaku”. (Majid, 2014:29)

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Ketiga ranah hasil belajar ini dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Ranah Kognitif (Pengetahuan)

Ranah kognitif merupakan tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir, seperti kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah yang menuntut peserta didik untuk menghubungkan, menggabungkan ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut .

Domain kognitif menurut Bloom dan kawan-kawan terdiri dari enam tingkatan, yaitu: 1) Pengetahuan (Knowledge). 2) Pemahaman (comprehension). 3) Penerapan (application). 4) Analisis (analysis). 5) Sintesis (synthesis). 6) Evaluasi (evaluation) (Sanjaya, 2008: 130).

Jadi dapat disimpulkan kemampuan kognitif yaitu kemampuan daya fikir seseorang tentang hal yang dipelajarinya.

Terdapat enam tingkatkan kognitif, yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analilis, sintesis dan evaluasi. Dalam pengetahuan kognitif diharapkan peserta didik harus mencapainya agar nilai peserta didik lebih meningkat.

b. Ranah afektif

Ranah afektif merupakan tujuan pendidikan kelanjutan dari ranah kognitif. Artinya seseorang hanya akan memiliki sikap tertentu terhadap suatu objek manakala telah memiliki kemampuan kognitif

yang tingkat tinggi. Indikator yang akan peneliti amati dalam penilaian ranah afektif yaitu (Abdul Majid.2014:166-168) :

1) Percaya diri berhubungan dengan keberanian saat menyampaikan pendapat dalam diskusi.

2) Toleransi/kepedulian berhubungan dengan prilaku yang muncul pada diri siswa dalam berdiskusi yang mampu menghargai pendapat orang lain.

3) Kerjasama dalam kelompok berhubungan dengan pengorganisasian, dimana siswa mampu bekerjasama dalam mengorganisasikan hubungan nilai-nilai tertentu dan akan menjadi prioritas daripada nilai-nilai yang lain.

4) Rasa ingin tahu berhubungan dengan perilaku siswa dalam memberitan pertanyaan seputar materi pembelajaran.

5) Bertanggung jawab berhubungan dengan sikap siswa dalam berdiskusi untuk menyelasikan tugas yang telah dibagi dalam kelompok masing-masing.

c. Ranah psikomotor

Ranah psikomotor meliputi semua tingkah laku yang menggunakan syaraf dan otot badan. Ranah ini sering berhubungan dengan bidang studi yang lebih banyak menekankan kepada gerak-gerakan atau keterampilan, misalnya seni lukis, musik, pendidikan jasmani dan olahraga, atau mungkin pendidikan agama yang berkaitan dengan bahasan tentang gerakan-gerakan tertentu, termasuk juga pelajaran bahasa. Simpson dalam Anas Sudijono (1998:57-58) mengemukakan bahwa hasil belajar ranah psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.

Aspek psikomotor yang peniliti nilai adalah penilaian kinerja.

Penilaian kinerja adalah suatu penilaian yag meminta siswa untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang

31

mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan (Abdul Majid.2014:200).

Jadi, indikator yang akan peneliti gunakan dalam melakukan penilaian adalah :

1) Menyiapkan, berkaitan dengan kemampuan mengenali dan menyiapkan alat yang digunakan sesuai dengan pedoman yang disediakan serta penentuan variabel pengamatan juga tepat.

2) Mencoba, berkaitan dengan kemampuan melakukan percobaan berdasarkan prosedur dengan teliti.

3) Mengolah, berhubungan dengan kemampu untuk mengolah suatu data sesuai dengan teori yang tepat dan dilakukan sebanyak tabel yang ada.

4) Menyajikan, berkaitan dengan mampu mempresentasi hasil kegiatan yang dilakukan dengan maksimal dan penyajian data dilampirkan secara lengkap (Majid, 2014:52).

7. Pembelajaran Konvensional

Konvensional berasal dari kata konvensionil yang artinya menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan. Menurut Ibrahim dan Nana Syaodih dalam Syaodih (2003:40) bahwa pembelajaran konvensional adalah kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat menerima atau menghafal pada umumnya diberikan secara klasik, peserta didik yang berjumlah kurang lebih 40 orang, pada waktu yang sama menerima bahan yang sama. Umumnya kegiatan ini diberikan dalam bentuk ceramah. Dalam mengikuti kegiatan belajar ini, peserta didik dituntut untuk selalu memusatkan perhatian terhadap pelajaran, kelas harus sunyi dan semua peserta didik duduk di tempat masing-masing mengikuti uraian guru.

Belajar secara klasik cenderung menempatkan peserta didik dalam posisi pasif, sebagai penerima bahan ajar upaya mengaktifkan peserta didik dapat dilakukan melalui penggunaan metode tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan lain-lain (Syaodih, 2003: 40).

Pembelajaran konvensional yang peneliti maksud adalah pembelajaran yang biasa digunakan guru. Adapun pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu strategi pembelajaran kooperatif dengan pendekatan saintifik. Menurut Yatim (2009:267) pembelajaran kooperatif adalah: “model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan social (social skill) termasuk interpersonal skill.”

Menurut Yatim (2009:267) adapun langkah–langkah umum pembelajaran kooperatif (sintaks) adalah: a) Pemberian informasi seperti penyampaian tujuan pembelajaran serta skenario pembelajaran; b) Mengorganisasikan siswa atau peserta didik dalam kelompok kooperatif;

c.) Membimbing siswa atau peserta didik untuk melakukan kegiatan atau berkooperatif; d) Evaluasi; e) Pemberian penghargaan.

Langkah-langkah umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut: a) Mengamati adalah guru meminta peserta didik untuk mengamati media atau objek secara nyata. b) menanya adalah peserta didik bertanya tentang apa yang ingin diketahuinya tentang objek atau media yang di sajikan. c) Mencoba adalah guru meminta peserta didik harus mencoba atau melakukan sendiri sesuai dengan konsep-konsep terkait. d) Menalar adalah peserta didik harus berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat di observasi untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. e) mengkomunikasikan yaitu peserta didik mengkomunika-sikan hasil kerja sama dalam kelompok.

Sedangkan menurut Abdul (2014:234) langkah–langkah umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah:

a. Mengamati

Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran. Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat

33

bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca.

b. Menanya

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada siswa untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing siswa untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

c. Mencoba

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA misalnya, peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.

d. Menalar

Menalar adalah salah satu istilah dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta

didik harus lebih aktif dari pada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.

e. Mengkomunikasikan

Pada kegiatan akhir diharapkan peserta didik dapat mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok dan atau secara individu dari hasil kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengomunikasikan ini dapat diberikan klarifikasi oleh guru agar peserta didik mengetahui secara benar apakah jawaban yang telah dikerjakan sudah benar atau ada yang harus diperbaiki. Hal ini dapat diarahkan pada kegiatan konfirmasi sebagaimana pada standar proses.

Dari uraian di atas tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperatif serta pendekatan saintifik, maka dapat ditarik kesimpulan bahwasan model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang melatih kecakapan akademik, sekaligus keterampilan social termasuk interpersonal skill. Model kooperatif memiliki 5 langkah atau sintaks, yaitu: 1) Pemberian informasi seperti penyampaian tujuan pembelajaran serta skenario pembelajaran; 2) Mengorganisasikan siswa atau peserta didik dalam kelompok kooperatif; 3) Membimbing siswa atau peserta didik untuk melakukan kegiatan atau berkooperatif; 4) Evaluasi; 5) Pemberian penghargaan.

Sedangkan pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang lebih menekankan pada keaktifan siswa dan banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sedangkan guru hanya sebagai pembimbing dalam kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran akan bersifat student center bukan teacher center. Pendekatan saintifik memiliki beberapa langkah–langkah yaitu: mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan.

35

B. Penelitian yang Relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Yogi Dwi Putra (2013) STAIN Batusangkar yang berjudul “penerapan metode inkuiri terbimbing berbantuan kit dalam pembelajaran fisika di kelas X SMAN 1 Koto Singkarak.” Hasil penelitiannya menyatakan, bahwa pengaruh inkuiri terbimbing menggunakan KIT terhadap hasil belajar secara signifikan dengan skor 70%. Bedanya penelitian yang peneliti lakukan adalah menggunakan LKPD dan hasil belajar peserta didik.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Irma S. M. Tarigan, Rita Juliani, Juli Limbong, Jurnal pendidikan fisika dengan judul “pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk meningkatkan hasil Belajar dan aktivitas belajar siswa” Vol.7 No.1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa hasil belajar kelas eksperimen yang menerapkan model inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada hasil belajar kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Hasil belajar siswa yang meningkat dari rata-rata 31,05 menjadi 70,54 diperoleh karena kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang memiliki keunggulan yaitu pada saat pembelajaran siswa terlibat langsung sehingga termotivasi, siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembelajaran dan guru membimbing siswa, pada proses pembelajaran di kelas siswa yang belajar dengan model inkuiri terbimbing lebih bebas dalam menemukan konsep sendiri. Bedanya penelitian yang peneliti lakukan adalah menggunakan LKPD

3. Penelitian yang dilakukan oleh M. Nurhudayah, Albertus Djoko Lesmono, Subiki, dengan judul “penerapan model inkuiri terbimbing (guided inquiry) dalam pembelajaran fisika SMA di Jember (studi pada keterampilan proses sains dan keterampilan berpikir kritis)” Vol. 5 No.

1. Berdasarkan hasil analisis uji independent sample t-test pada SPSS 22

1. Berdasarkan hasil analisis uji independent sample t-test pada SPSS 22

Dokumen terkait