BAB IV : PENGGUNAAN LAGU POP DALAM PEWARTAAN IMAN BAGI KAUM MUDA
B. Pewartaan Iman dalam Gereja
4. Macam-macam Model Pewartaan Iman dalam Gereja
Pewartaan iman merupakan misi para Rasul yang diteruskan oleh Gereja sampai sekarang. Dengan demikian pewartaan merupakan hak dan kewajiban Gereja, sehingga perlu mendapat prioritas dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh
anggota Gereja. Oleh sebab itu dalam melaksanakan pewartaan tersebut, Gereja berusaha untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi dunia yang menjadi medan pewartaan dengan melaksanakan pewartaan dengan berbagai model serta cara. Berikut di bawah ini adalah contoh-contoh model pewartaan iman dalam Gereja meski tidak menutup kemungkinan adanya model-model pewartaan iman lainnya. Hal tersebut dapat dimengerti dengan memahami bahwa Gereja memiliki beragam cara untuk melaksanakan pewartaan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman.
a. Pelajaran Agama di Sekolah
Sekolah memiliki makna istimewa dalam sebuah proses pendidikan, yaitu sebagai tempat untuk membina bakat-bakat intelektual, mengembangkan kemampuan menilai dengan tepat, mengantar ke dalam warisan budaya, mengembangkan kepekaan nilai-nilai, serta mempersiapkan kehidupan profesi. Sesuai dengan misi tersebut, sekolah telah menjadi “pusat kegiatan maupun kemajuan yang secara serentak turut melibatkan keluarga, para guru, bermacam-macam perserikatan yang memajukan hidup berbudaya, kemasyarakatan, keagamaan, masyarakat sipil, dan segenap keluarga manusia” (GE 5). Untuk itu sekolah pun turut memperhatikan pengembangan manusia secara keseluruhan yang meliputi berbagai aspek seperti moral, akhlak, budi pekerti, ketrampilan, kesehatan, seni, dan budaya.
Kehadiran Gereja di dunia persekolahan terjadi sebagai jawaban atas tugasnya mewartakan jalan keselamatan serta menyelenggarakan pendidikan kepada semua orang beriman agar seluruh hidup mereka diresapi oleh Kristus sendiri. Kehadiran Gereja tersebut terwujud dalam bentuk Pelajaran Agama Katolik (PAK)
yang secara resmi mendapatkan tempatnya dalam pendidikan nasional Indonesia yaitu kurikulum di sekolah. Tujuan PAK sendiri tidak lain adalah membantu siswa untuk mengenal, menyadari, dan menghayati hidupnya dalam terang iman Kristiani sebagaimana yang diwartakan oleh Yesus Kristus. Kekhasan pewartaan iman dalam bentuk PAK terletak dalam penjabaran yang diberikan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2003):
Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan para siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Melalui penjabaran tersebut, dapat dimengerti bahwa kekhasan PAK sebagai pewartaan iman terletak pada sasaran dan proses pelaksanaannya. Pelaksanaan PAK dilakukan dengan menginteraksikan pemahaman, pergumulan, dan penghayatan iman siswa sehingga siswa mampu membangun hidup yang semakin beriman serta kesetiaan pada Injil Yesus Kristus yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah.
b. Homili/Kotbah
Sepanjang tahun liturgi, Gereja telah memilih tema-tema misteri iman dan kaidah-kaidah hidup Kristiani berdasarkan teks Kitab Suci untuk dirayakan dalam perayaan liturgi suci. Berkenaan dengan hal tersebut, homili menjadi bagian integral yang dianjurkan dalam liturgi Katolik untuk menguraikan misteri-misteri tersebut. Melaluinya umat memperoleh penjelasan akan misteri iman yang pada akhirnya dapat memupuk semangat hidup Kristiani mereka. Homili adalah bentuk pewartaan
iman yang berlangsung dalam perayaan liturgi untuk membantu umat meresapkan Sabda dalam hati dan pergumulan hidup mereka (Komisi Liturgi KWI, 2002: 49).
c. Dialog dengan Agama Lain
Pada dasarnya Gereja dipanggil untuk mewartakan Kabar Gembira serta keselamatan ke seluruh dunia, meskipun Gereja tidak dapat menutup mata akan pluralitas serta keragaman agama yang terdapat di dalam masyarakat. Hal tersebut tidak disambut dengan penolakan melainkan justru dengan penerimaan dan penghargaaan yang dilandasi dengan sikap hormat. Bukti pernyataan sikap Gereja tersebut termuat dalam dokumen hasil Konsili Vatikan II yang berbicara mengenai hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristiani yaitu Nostra Aetate.
Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu apa yang benar dan suci. Dengan sikap hormat tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkan sendiri, tetapi tidak jarang memantulkan sinar Kebenaran yang menerangi semua orang (NA 2).
Sikap Gereja tersebut sangat sesuai dengan pluralitas dalam dunia saat ini, di mana keragaman merupakan isu sensitif dan dapat menimbulkan perpecahan sewaktu-waktu. Dengan bersikap toleran dan menghargai perbedaan, arah pewartaan iman Gereja kepada dunia yang plural diwujudkan dalam bentuk dialog antar umat beragama. Dialog tersebut tidaklah menjadi upaya perbandingan maupun upaya doktrinasi, melainkan merupakan ungkapan kesaksian pengalaman iman yang berlandaskan pada kasih dan pengharapan (KWI, 1996: 168-169). Melalui dialog antar agama, Gereja mewartakan dan memberikan ”kesaksian tentang iman serta perihidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio budaya, yang terdapat pada mereka.” (NA 2).
d. Katekese
Dalam sebuah anjuran apostolik Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan bahwa “katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen” (CT 18). Sedangkan Marinus Telaumbanus memaknai katekese sebagai “usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari di mana di dalamnya terdapat unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan, serta pendewasaan” (1999: 5). Dengan demikian dapat diketahui bahwa katekese memiliki kaitan yang sungguh erat dengan seluruh kehidupan dan perkembangan Gereja. Untuk itu katekese tidak dapat dipisahkan dari kenyataan dunia yaitu pergulatan hidup sesama jemaat dan sesama manusia pada umumnya, sehingga proses katekese terus berusaha menyesuaikan diri dengannya. Melalui perjalanan waktu yang panjang, katekese telah mengalami berbagai perkembangan mendasar.
Sejarah proses katekese diawali dengan zaman katekismus, di mana katekismus menjadi pusat katekese. Hal tersebut menyebabkan pewartaan lebih ditekankan dalam bentuk teologi yang abstrak serta miskin Kitab Suci dan liturgi dengan proses yang bersifat deduktif. Ketidakpuasan akan model katekese tersebut membuahkan sebuah pembaruan yang muncul saat Perang Dunia II dan berlangsung hingga Konsili Vatikan II yaitu katekese kerygmatik. Pembaruan bidang katekese ini hanya terletak pada pembaruan isi bukan pembaruan metode sehingga masih terasa kering. Pembaruan katekese mulai dipikirkan kembali secara lebih mendalam sejak
zaman Konsili Vatikan II yang menghasilkan paham-paham teologis yang baru (Adisusanto, 2000: 1-9).
Hingga pada tahun 70-an, Gereja Katolik Indonesia merasa tertantang untuk mengembangkan arah katekese yang sesuai dengan kondisi umat di Indonesia sendiri. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan PKKI yang melibatkan komisi kateketik dari seluruh keuskupan di Indonesia. Pelaksanaan PKKI I berhasil merumuskan katekese umat, di mana katekese dipandang sebagai “komunikasi iman dalam usaha saling menolong untuk membaktikan dan menghayati hidup beriman baik perorangan maupun bersama, berpolakan Yesus Kristus menuju hidup Kristiani yang dewasa sejati” (Komisi Kateketik KWI, 1997: 10). Dalam katekese umat terdapat dua elemen penting, yaitu pengalaman iman yang dimiliki umat serta harta kekayaan iman Kristiani. Secara sederhana, katekese umat dapat dimengerti sebagai proses yang mempertemukan antara pengalaman iman umat dengan harta kekayaan iman Kristiani yang dimiliki oleh Gereja. Dengan adanya pertemuan antara kedua elemen tersebut, katekese menjadi suatu proses yang utuh dan memperkembangkan. Pengalaman iman umat diteguhkan oleh harta kekayaan iman, sedangkan harta kekayaan iman menjadi nyata di tengah dunia lewat pemaknaan atas pengalaman hidup umat sendiri.
Pada saat itu pun Gereja tengah berhadapan dengan krisis sehubungan dengan perkembangan media elektronis yang sedemikian pesat. Krisis tersebut telah berakar pada gerakan kateketis pada zaman katekismus, di mana gerakan tersebut terlalu bersifat teoritis tanpa akar rohani dan keterlibatan pribadi di dalamnya, sehingga iman jemaat hanya berupa sebuah rumusan intelektual. Iman yang demikian dangkal itulah begitu mudah hancur, ketika dihadapkan pada serbuan media elektronis yang mengandung berbagai informasi yang menyentuh setiap lapisan kehidupan.
Pada saat itu katekese kontekstual hadir sebagai usaha Gereja menjawab permasalahan tersebut. Katekese kontekstual berpijak dan berangkat atas konteks hidup dan permasalahan sosial yang dihadapi umat serta mengarah pada pertumbuhan iman yang terwujud dalam sikap solidaritas untuk ikut mengatasi permasalahan yang ada (Iswarahadi, 1992).
Kontekstualisasi katekese bergerak dalam tiga konteks, yakni konteks aktual, alkitabiah, dan historis, dalam komunikasi kritis dan kreatif... Masalah-masalah sosial adalah konteks aktual yang mengundang umat untuk membaca tanda-tanda zaman dalam terang Injil. Proses dari aksi menuju refleksi kembali ke aksi (praxis) rupanya merupakan proses katekese kontekstual yang paling sesuai (Komisi Kateketik KWI, 1997: 23).
Pada zaman audio visual ini katekese audio visual merupakan sebuah pilihan model pewartaan alternatif yang memiliki keunggulan sebagai katekese yang menyentuh sekaligus merangsang daya khayal dan menjawab kerinduan akan kepenuhan hidup. Katekese model ini disampaikan melalui media dan membantu orang menerima sebuah ide melalui getaran perasaan jiwa sebagai seorang beriman. Pewartaan yang disampaikan secara audio visual lebih menimbulkan iman daripada menjelaskan akan iman itu sendiri. Katekese audio visual berangkat dari realitas yang dialami oleh peserta dan medium audio visual mengajak kelompok untuk saling bicara, menyapa hati, memanggil mereka untuk bertobat dan mendorong mereka untuk bertindak (Adisusanto, dkk., 2001).
C. Tantangan Pewartaan bagi Kaum Muda Metropolitan pada Zaman Audio