The End of History and The last Man 1
E. Makhluk Akhir Sejarah: “Men without Chests”?
Banyak orang berasumsi bahwa kemungkinan akhir sejarah berkisar pada persoalan apakah ada alternatif-alternatif keberlangsungan eksistensi demokrasi liberal yang nyata dalm kontek dunia ke kinian. Ada pelbagai kontroversi, misalnya apakah komunisme benar-benar telah mati, apakah agama atau ultransionalisme mungkin kembali, dan pernyaan-pertayaan semacam itu. Namun persoalan yang lebih besar, ialah berkaitan dengan kebaikan dan keistimewaan dari demokrasi liberal itu sendiri, dan bukan hanya pada persoalan apakah ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya saat ini. Dengan asumsi bahwa demokrsi liberal—untuk sementara— selamat dari musuh-musuh ekternalnya, apakah kita bisa berasumsi bahwa masyarakat demokratis yang berhasil, akan tetap pada jalurnya dalam waktu yang tak terbatas? Atau apakah demokrasi liberal mengandung pelbagai pertentangan internal yang serius, yang pada akhirnya akan meruntuhkannya sebagai sebuah sistem politik? Terkait dengan hal itu, Fukuyama berpendapat bahwa memang tidak ada keraguan bahwa negara-negara demokrasi kontemporer menghadapi pelbagai persoalan serius, mulai dari obat bius, gelandangan, dan kejahatan yang merusak lingkungan, sampai tingkah laku konsumerisme. Tetapi problem-problem
138
The End of History and The Last Man Abdul Jabpar
tersebut secara nyata bukannya tidak bisa dipecahkan atas dasar prinsip-prinsip liberal, juga tidak sedemikian serius sehingga mengarah pada keruntuhan seluruh masyarakat seperti runtuhnya komunisme pada tahun 1980-an.26
Fukuyama mempertegas tesisnya bahwa “demokrsi Liberal” merupakan ideologi terakhir, dengan meminjam argumentasi Alexandre Kojève—sebagai penafsir besar Hegel. Kojève berpendapat bahwa sejarah telah berakhir karena apa yang disebut sebagai “negara homogen dan universal” secara terbatas memberikan jawaban terhadap permasalahan “pengakuan” dengan menggantikan hubungan antara raja dan budak dengan pengakuan yang universal dan sederajat. Apa yang dicari manusia selama perjalanan tahap-tahap sejarah ialah pengakuan. Di dunia modern, akhirnya dia menemukannya, dan “terpuaskan sepenuhnya”. Klaim Kojève ini merupakan pernyatan serius dan sungguh-sungguh, dan bagi Fukuyama harus kita terima secara sungguh-sungguh juga. Karena mungkin pemahaman terhadap persoalan politik selama masa ribuan tahun sejarah manusia bisa disebut sebagai usaha untuk memecahkan problem pengakuan. Pengakuan ialah sentral problem politik, karena ia merupakan asal-usul dari tirani, imprealisme, dan hasrat utnuk mendominasi.
Namun demikian, meskipun “recognition” memiliki sisi gelap, ia tidak dapat dihapuskan dari dunia politik, karena secara simultan ia merupakan dasar psikologis untuk memunculkan kebajikan-kebajikan politik seperti keberanian (courage), semangat untuk kepentingan umum
(public-spiritedness), dan keadilan (justice). Seluruh masyarakat politik harus mempergunakan hasrat untuk memperoleh pengakuan, dan pada saat yang bersamaan harus melindungi diri dari penegaruh-pengaruh negatifnya yang merusak. Akhirnya, jika pemerintahan konstitusional kontemporer telah menemukan sebuah formula di mana semuanya diakui, serta merta menghindari lahirnya tirani, maka ia sesunggunya memiliki klaim khusus
139 The End of History and The Last Man
Abdul Jabpar
terciptanya stabilitas dan umur yang panjang di antara reim-rezim yang pernah muncul di dunia.
Kemudian, pertanyaan terkhir ialah; apakah pengakuan itu bisa diterapkan pada warga Negara demokrasi liberal kontemporer “yang sepenuhnya memuaskan”? Masa depan demokrasi liberal sangat bergantung pada jawaban-jawaban pertanyaan ini. Kelompok Kiri mengatakan bahwa pengakuan universal dalam demokrasi liberal sangat tidak sempurna karena kapitalisme menciptakan ketidakadilan ekonomi dan memerlukan pembagian kerja yang ipso facto mengimplikasikan pengakuan tidak sama. Dalam hal ini, tingkat kemakmuran absolut sebuah bangsa tidak mampu memberikan solusi, karena orang-orang yang relative miskin, tidak akan kelihatan sebagai manusia di antara anggota warga negara mereka. Jadi demokrasi liberal, dengan kata lain, tetap mengakui masyarakat yang sederajat (equal) secara tidak sederajat (unequal).
Kritik yang lebih tajam atas pengakuan universal datang dari
Kelompok Kanan yang sangat konsen dengan plbagai akibat dari komitmen Revolusi Perancis terhadap persamaan manusia. Mereka menemukan juru bicaranya yang paling brilian pada seorang filsuf besar, yakni Nietzsche27—
27 Nietzsche lahir di Rochen pada 15 Oktober 1844. Hari kelahirannya sama dengan hari kelahiran Raja Prusia saat itu, Friedrich Wilhelm. Karenanya, sang ayah memberi nama baptis Friedrich pada bayinya. Saat yang paling membahagiakan bagi Nietzsche, ialah kurun waktu kebersamaanya dengan sang ayah. Namun fase bahagia itu, nampak terlalu singkat karena di usia Nietzsche menginjak empat tahun, tiba-tiba ayahnya sakit keras dan meninggal tahun 1849. Kakeknya, Friedrich August Ludwig (1756-1862), merupakan pejabat penting dalam Gereja Lutheran, posisinya disejajarkan dengan seorang uskup dalam Gereja Katolik. Ayahnya, Karl Ludwig Nietzsche (1813-1849), merupakan pendeta saleh di desa Rocken, dekat Lutzen. Sedangkan ibunya, ialah Franziska Oehler (1826-1879), juga merupakan seorang Lutheran yang berasal dari keluarga pendeta. Sikap Franziska sering bertentangan dengan Nietzsche, namun tragisnya, dialah orang yang paling dekat dengan Nietzsche. Dia adalah seorang filsuf eksistensialis terkenal dengan jargon yang paling fenomenal yang dikumandangkannya yakni”Tuhan sudah mati” (bahasa Jerman: ”Gott ist tot”).Karya-karyanya antara lain Die Geburt de Tragodie aus dem Geiste der Musik (The Birth of Tragedy out of The Spirit of Music, lahirnya tragedi dari Semangat Musik), 1872; Unzeitgemasse Betrachtungen (Untimely Medition, Permenungan yang Terlalu Awal) 1873 dan 1876; Menschliches, Allzumenschliches (Human, All-Too—Human) 1878; serta pada tahun 1879, ia menulis dua buku yakni Vermischte
140
The End of History and The Last Man Abdul Jabpar
dalam banyak hal pandangannya ditentang oleh pengamat masyarakat demokratis, yakni Alexis de Tocqueville. Nietzsche percaya bahwa dengan demokrasi modern tidak merepresentasikan penguasaan diri bekas para budak, tetapi kemenangan tanpa syarat dari para budak dan jenis moralitas yang memperbudak. Tipikal masyarakat demokrasi liberal ialah “manusia terakhir”, setelah dididik oleh para pendiri liberalisme modern, ia menyerahkan kepercayaanya yang berlebihan pada nilainya sendiri yang superior demi mendukung pemeliharaan diri yang menyenangkan. Demokrasi liberal memproduksi “manusia tanpa dada” (men without
chests), yang terdiri dari hasrat dan akal, tetapi kehilangan thymos, pandai menemukan cara-cara baru untuk memuaskan pelbagai keinginan melalui kalkulasi kepentingan pribadi jangka panjang. Manusia terakhir tidak memiliki hasrat untuk diakui sebagai yang lebih besar daripada yang lain, dan hasrat ini, tidak mungkin ada keunggulan dan pencapaian. Dia puas dengan kebahagiaannya dan tidak mampu merasakan rasa malu apa pun karena tidak mampu meningkatkan diri melebihi keinginan-keinginan itu, manusia terakhir berhenti menjadi manusia.28
Dengan mengikuti alur pemikiran Nietsche, kita dipaksa untuk mengajukan pertayaan-pertanyaan berikut: tidakkah manusia yang terpuaskan secara sempurna hanya dengan pengakuan universal ialah manusia yang kurang utuh, sungguh suatu yang menjijikkan, “manusia terakhir” tanpa perjuangan dan tanpa inspirasi? Tidak adakah sisi dari kepribadian manusia yang secara sengaja menempuh perjuangan, bahaya, resiko, dan tantangan, serta sisi ini tetap tidak terpenuhi oleh “perdamaian dan kemakmuran” dari demokrasi liberal kontemporer?
Meinungen und Spruche (Mixed Opions and Maxims; Kumpulan Gagasan dan Pepatah), dan Der wanderer und Sein Schatten (The Wander and His Shadow, Petualang dan Bayang-bayangnya). St. Sunardi, Nietzsche, (Yogyakarta: LKiS, 1999), hlm. 3-22, lihat juga Marc Sautet, Nietzsche untuk Pemula, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 6-7, juga Sindhunata, “Kritik Humanisme Ateis” dalam Basis Nomor 11-12, Tahun Ke-49, November-Desember 2000, Yogyakarta, hlm. 3. juga Nietzsche, dalam http://www. edinformatics.com/great_thinkers/nietzsche.html, juga Nietzsche, dalam http:// www.rightsphilosophyforum.org/Nietzsche.html.
141 The End of History and The Last Man
Abdul Jabpar
Tidakkah kepuasan dari manusia-manusia tertentu tergantung pada pengakuan yang secara inheren tidak sama? Tidakkah hasrat terhadap pengakuan yang tidak sama merupakan dasar kehidupan yang langgeng, bukan hanya untuk masyarakat aristokratik yang sudah berlalu, tetapi juga di negara-negara demokrasi liberal modern? Tidakkah masa depan mereka tergantung pada level di mana para warga negaranya berupaya untuk diakui bukan hanya sebagai sama, tetapi sebagai yang unggul dibangding yang lain? Dan mungkin tidak adanya rasa takut menjadi “manusia terakhir” hina, yang tidak mengarahkan manusia untuk menegaskan diri mereka dengan cara-cara terbaru dan tidak terduga, bahkan sampai pada tahap tertentu kembali menjadi “manusia-manusia pertama” yang terlibat dalam peperangan berdarah demi gengsi, pada zaman ini mempergunakan senjata-senjata modern.
Bagi Fukuyama, pertanyaan-pertanyaan ini secara alami muncul, ketika kita bertanya adakah sesuatu yang disebut kemajuan, dan apakah kita dapat mengkonstruksi sebuah sejarah universal yang koheren dan direksional tentang umatb manusia. Dan buku The End of History And The Last Man” berpretensi untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut di atas.29