• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga Konsep Pendidikan dalam Definisi Pendidikan a) Pendidikan Segregasi

Kritik Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan terhadap Pendidikan Segregasi, Pendidikan Inklusif, dan Pendidikan Integrasi

B. Pembahasan 1. Istilah Pendidikan

2. Tiga Konsep Pendidikan dalam Definisi Pendidikan a) Pendidikan Segregasi

Segregasi secara etimologi berasal dari kata segregate yang artinya memisahkan, para pakar menjelaskan segregasi adalah pemisahan

10 Abdul Fatah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm. 28.

11 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta : Hidakarya Agung, 1992), hlm. 37.

12 Muhammad Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 60.

153 Kritik Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan terhadap Pendidikan Segregasi...

Aris Nurlailiyah

satu golongan dengan golongan yang lain.14 Sistem pendidikan yang penyelengggaraannya dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikananak normal yaitu pemisahan difabel dari sistem pendidikan reguler. Di Indonesia bentuk sekolah segregasi ini adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan jenis difabelnya. SLB A untuk anak tunanetra, SLB B untuk anak tunarungu, SLB C untuk anak tunagrahita, SLB D untuk anak tunadaksa, SLB E untuk anak tunalaras dan SLB F untuk difabel ganda.

Dalam pendidikan segregasi dibutuhkan alat-alat bantu belajar yang dirancang khusus untuk siswa. Contohnya untu difabel netra disediakan buku-buku Braille, alat bantu hitung taktual, peta timbul dan lain sebagainya, Jumlah siswa dalam satu kelas tidak lebih dari delapan orang, lingkungan yang memiliki mainstream ramah difabel, fisik aksesibel seperti kamar mandi, gedung dan lain sebagainnya dan adanya modelling (contoh difabel sukses).

Diantara kelebihan sistem pendidikan ini adalah memudahkan pendidik dalam menyampaikan materi, sarana dan prasarana yang sesuai, siswa tidak menjadi bahan ejekan dari siswa lain yang normal. Sedangkan kelemahannya, biaya relative mahal, egoistik dalam kesenjangan kualitas pendidikan, efektif dan efisien untuk kepentingan individu, kurang sosialisasi dengan khalayak umum.

Minimnya SLB, menjadikan difabel harus tinggal di asrama jauh dari orang tua sehingga anak tidak belajar dengan dunia nyata yang memiliki tetangga dan masyarakat secara umum serta anak difabel akan terkelompok dengan jenis difabel yang sama sehingga kurang adanya sosialisasi dengan siswa yang memiliki jenis difabel yang berbeda dan lain sebagainya.

14 Mimin Casmini, Pendidikan Segregasi, http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ PEND._LUAR_BIASA/195403101988032-MIMIN_CASMINI/Pendidikan_Segregasi.pdf,

154

Kritik Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan terhadap Pendidikan Segregasi... Aris Nurlailiyah

b) Pendidikan inklusif

Inklusif secara etimologi diambil dari bahasa Inggris yakni

inclusion yang memiliki arti termasuknya atau pemasukan. Secara istilah adalah mewujudkan suatu kehidupan yang ramah tidak diskriminatif dalam segala aspek kehidupan masyarakat,15 dengan demikian inklusi tidak hanya menyangkut aspek kepercayaan, sosial, ekonomi namun juga aspek pendidikan. Inklusi merupakan cita-cita untuk menuju kehidupan adil dan makmur serta sejahtera yang harus dicapai dalam suatu tatatan negara. Sehingga, falsafah pendidikan inklusif merupakan upaya untuk mewujudkan sekolah yang ramah dalam pembelajaran.

Ramah disini adalah menghargai hak dasar manusia, memperhatikan kebutuhan individual, menerima keanekaragaman, tidak deskriminatif, menghindari labelisasi dan pendidikan untuk semua. Setiap anak berhak untuk mengakses dan mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak, belajar hidup bersama dan bersosialisasi, perhatian yang sama sebagai peserta didik, integrasi pada lingkungan, Penerimaan terhadap perbedaan dan lain sebagainya. Sekolah ramah menuntut perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tindak yang membutuhkan kesiapan siswa, guru dan orang tua juga kesiapaninfrastruktur.

Secara garis besar pendidikan inklusif adalah instansi pendidikan yang menerima difabel dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan jenis kelainannya. Jika diterapkan dalam sebuah sistem pendidikan, maka harus disiapkan kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan, siap mengelola kelas yang heterogen dengan menerapkan kurikulum dan pembelajaran yang bersifat individual, guru pada sekolah inklusif

15 Richard J. Mouw dan Sander Griffon, Pluralism dan Horizons (Eerdsmans Publishing company: 1993), hlm. 2.

155 Kritik Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan terhadap Pendidikan Segregasi...

Aris Nurlailiyah

dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya lain dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Perkembangan pendidikan inklusifdi Indonesia masih berujung pro dan kontra, sampai saat ini belum ada bukti empirik bahwa SLB merupakan satu-satunya sistem terbaik untuk pendidikan difabel, biaya relative lebih mahal dibanding dengan sekolah regular, akses SLB yang jauh dan tidak terjangkau, SLB (terutama yang berasrama) merupakan sekolah yang memisahkan anak dari kehidupan sosial yang nyata, di sekolah reguler terdapat anak berkebutuhan khusus yang tidak mendapatkan layanan yang sesuai, penyelenggaraan SLB berimplikasi adanya labelisasi anak ‘cacat’ yang dapat menimbulkan stigma sepanjang hayat, proses edukasi kepada masyarakat agar menghargai adanya perbedaan.16

Namun, UU memberikan kesempatan pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus, beberapa masyarakat masih memilih SLB karena jauh lebih efektif, belum siapnya sekolah reguler terutama menyangkut sumberdaya yang terbatas.17 Bagaimanapun untuk menciptakan pendidikan inklusif diperlukan pemikiran yang serius, bagaimana memodifikasi materi, soal, penilaian, evaluasi dan lain sebagainya. Sehingga praktek dilapangan banyak intansi yang berlebel pendidikan inklusif dengan sarana sistem pendidikan integrasi.

Tujuan Pendidikan inklusif memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan kebutuhannya, mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar, menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran.

16 Syukron Zahidi, “Perbedaan Pendidikan Inklusif, Segregasi dan Reguler”, dalam izzaucon.blogspot.com/2014/06/perbedaan-pendidikan-inklusi-segregasi.html, diakses pada 2 Januari 2015.

156

Kritik Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan terhadap Pendidikan Segregasi... Aris Nurlailiyah

Landasan pendidikan inklusif berasal dari beberapa sumber yaitu,

pertama, filosofis bangsa Indonesia “bhinneka tunggal ika”. Kedua, andangan Agama, dalam Islam ada beberapa sumber yang ditegaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, kemuliaan seseorang di hadapan Tuhan (Allah) bukan karena fisik tetapi taqwanya, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri, manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling silaturahmi (inklusif’) dan lain sebagainya. Ketiga, hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk hidup layak, hak pendidikan, hak kesehatan, hak pekerjaan.

Keempat, landasan Yuridis UUD 1945 (Amandemen) Ps. 31, UU No. 23 Tahun 2002, UU No. 20 Tahun 2003,Ps. 5 ayat 1, 2, 3, 4, Pasal 11 ayat 1 dan 2 dan lain sebagainya.

Kelima, peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan. Pasal 2 ayat (1) Lingkungan Stándar Nasional Pendidikan meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dalam PP No. 19/2005 tersebut juga dijelaskan bahwa satuan pendidikan khusus terdiri atas SDLB, SMPLB dan SMALB.

Keenam,Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 380/C.C6/ MN/2003.

Proses sudut pandang masyarakat terhadap difabel yang bersifatremedial dan charity, lambat laun bergeser dengan diawalinya konvensi PBB dunia tentang penyandang disabilitas yang memberikan perubahan cara pandang menjadi HAM yaitu difabel memiliki hak yang sama dengan non difabel dalam segala aspek.18 Sehingga difabel tidak lagi dipandang sebagai obyek tetapi subyek yang memiliki hak yang sama dan berperan aktif di masyarakat.

18 Michael Yudha Winarno DKK, Towards an Inclusive Society in Indonesia: A Bridge

Over Troubled Water (Yogyakarta: Caritas Germany Country Office Indonesia, 2010), hlm. 107.

157 Kritik Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan terhadap Pendidikan Segregasi...

Aris Nurlailiyah

c) Pendidikan Integrasi

Pendidikan integrasi yaitu sekolah reguler (Sekolah untuk anak-anak normal) yang menerima ABK dengan kurikulum dan sistem pendidikan reguler/biasa.19 Jenis pendidikan ini tidak membedakan antara kurikulum anak normal dan difabel, guru tidak harus lulusan dari PLB, sarana dan prasarana sama, sejara garis besar perlakuan yang akan diterima siswa difabel tidak ada bedanya dengan yang normal. Sehingga menjadi salah satu kelebihan ketika anak difabel bisa bersosialisasi dengan teman-temannya yang non difabel, akan tetapi menjadi salah satu kendala tersendiri dalam hal teknis semisal siswa difabel tidak bisa mengikuti materi secara menyeluruh seperti siswa non difabel dan guru kurang berpengalaman dalam menangani siswa difabel.