Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi
B. Pandangan Islam tentang Dikotomi Pendidikan
Islam menolak kebijakan dikotomi dalam pendidikan yang berusaha mendiskriminasikan pendidikan agama. Islam sebagai agama dengan tegas menolak setiap sikap dan pandangan yang berusaha menghilangkan sisi religiusitas dalam dirinya. Karena menghilangkan nilai religius dan keagamaan dari Islam, justru akan menghilangkan Islam dari identitasnya, baik dengan alasan positif sekalipun seperti untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Tetapi Islam juga tidak serta merta mengabaikan ilmu
56
Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi Muh Subhan Ashari
pengetahuan yang bersifat rasional. Justru Islam memberi penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan mengangkat derajat mereka. Iman sebagai refleksi agama dan ilmu pengetahuan sebagai refleksi kehidupan dunia, keduannya sama-sama dihargai dalam Islam.
Firman Allah SWT dalam surat al-Mujadillah ayat 11.
ْمُكَل ُهَّللا ِحَسْفَي� اوُحَسْفاَف ِسِلاَجَمْلا ِف اوُحَّسَفَي� ْمُكَل َليِق اَذِإ اوُنَمآ َن�ِذَّلا اَهُّي�َأ اَ�
ٍتاَجَرَد َمْلِعْلا اوُ�وُأ َن�ِذَّلاَو ْمُكنِم اوُنَمآ َن�ِذَّلا ُهَّللا ِعَفْرَي� اوُزُشناَف اوُزُشنا َليِق اَذِإَو
ٌيرِبَخ َنوُلَمْعَي� اَِب ُهَّللاَو
Artinya: Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Mujadillah : 11)Dari ayat di atas ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama Allah akan mengangkat orang-oang yang beriman, dan kedua Allah juga mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Ditengah-tengah antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang beriman dalam ayat di atas terdapat wawu
athaf, wawu athaf disana fungsinya bukan untuk memisahkan, sebaliknya
wawu athaf disana fungsinya justru untuk menggabungkan keduanya. Sehingga penafsiran orang-orang yang diangkat Allah derajatnya dalam ayat di atas adalah orang-orang yang beriman dan berilmu secara sekaligus, tidak sepihak-sepihak. Dengan demikian, ayat ini juga menunjukkan pandangan Islam tentang intregitas. Bahwa antara agama dan ilmu tidak bisa dipisahkan. Iman yang menjadi kekuatan agama tidak boleh lepas dari ilmu pengetahuan dan juga sebaliknya.
Dalam kitab tafsirnya, al-Qurtubi menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman dengan pahala di surga, dan kemulian di dunia. Orang yang beriman akan diangkat derajatnya lebih tinggi dari orang yang tidak beriman, begitu juga orang
57 Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi
Muh Subhan Ashari
yang berilmu akan diangkat lebih tinggi derajatnya dari orang yang tidak berilmu. Sedangkan Ibnu Masud mengatakan bahwa ini adalah pujian Allah terhadap para ulama (orang-orang yang berilmu). Artinya Allah mengangkat derajat orang yang berilmu di atas orang-orang yang beriman tetapi tidak berilmu.5
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad juga menegaskan kembali betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan menurut Nabi Muhammad Saw, tidak hanya menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi jalan untuk mendapatkan kehidupan akhirat. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadis bersabda :
هيلعف اهم دارا نمو ،ملعلاب هيلعف ةرخلأا دارا نمو ،ملعلاب هيلعف ايندلا دارا نم
)نيابرط هاور( ملعلاب
Artinya : Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan dunia, maka haruslah dengan ilmu, barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan akhirat maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin mendapatkan kedua-duannya maka juga harus dengan ilmu. (HR. Thabrani)
Yang dimaksud dengan kata ilmu dalam Islam adalah semua jenis ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Karena Islam tidak membatasi ilmu, pada satu jenis ilmu tertentu. Dalam berbagai teks al-Quran maupun hadis yang ada, keduanya tidak melakukan sepesifikasi jenis ilmu tertentu. Hal ini menunjukkan apresiasi Islam terhadap semua fans ilmu, sekaligus menunjukkan tidak ada prinsip yang mendukung dikotomi dalam pendidikan Islam.
Dalam surat al-Qashas ayat 77 Allah SWT juga menjelaskan tentang pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat.
5 Abi Abdillah bin Abi Bakar al-Qurtuby, Al-Jâmi’ li Ahkâmi al-Qur’an, juz 20 (tt: Muassasah al-Risalah, 2006), hlm. 319.
58
Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi Muh Subhan Ashari
اَمَك ْنِسْحَأَو اَيْينُّدلا َنِم َكَبيِصَن َسْنَي� َلَو َةَرِخ ْلا َراَّدلا ُهَّللا َكاَ�آ اَميِف ِغَتْيباَو
َن�ِدِسْفُمْلا ُّبُِي َل َهَّللا َّنِإ ِضْرَْلأا ِف َداَسَفْلا ِغْبَي� َلَو َكْيَلِإ ُهَّللا َنَسْحَأ
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) karena Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al-Qashas ayat 77 )Ayat ini jelas sekali menggambarkan sikap Islam tentang integritas dan keseimbangan. Jika kita menelusuri makna ayat di atas sekaligus tafsirnya, maka kita akan menemukan bukti-bukti yang lebih jelas tentang hal itu. Dijelaskan dalam kitab tafsir al-Kasyaf karangan Zamakhsyari, dari Said Bin Musayyab mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi Musa adalah seorang ahli kimia. Ia kemudian mengajarkannya kepada Qarun sepertiganya saja dari ilmu tersebut, dan Qarun bisa menjadi orang terkaya pada zaman itu. Hanya saja Qarun kemudian berpaling dari jalan Allah, ia sombong dan mengatakan bahwa hartanya didapat karen ilmunya, bukan karena Allah. Maka dari itu, kemudian Allah menghancurkannya. Keterangan ini juga menjadi bukti bahwa Islam tidak menolak illmu pengetahuan, sebagaimana digambarkan oleh Nabi Musa a.s yang selain sebagai Nabi dan utusan Allah, ia juga sebagai seorang ahli kimia. Dari pemahaman di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu tidak bisa berdiri tanpa agama, sebaliknya agama juga butuh ilmu. Memang dengan ilmu pengetahuan, manusia bisa mendapatkan apa saja di dunia. Qarun bisa menjadi orang terkaya pada zamannya, karena ilmu. Barat bisa menjadi penguasa di dunia juga karena ilmu. Sebelumnya Islam juga menjadi mercusuar di dunia, juga karena ilmu. Tetapi ilmu jika tanpa di dasari agama, maka pada akhirnya yang terjadi adalah kehancuran dan kerugian yang lebih banyak.
Dalam surat al-Rum, Allah telah mengingatkan manusia agar senantiasa menjaga dirinya dengan agama.
59 Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi
Muh Subhan Ashari
اوُلِمَع يِذَّلا َضْعَيب ْمُهَق�ِذُيِل ِساَّنلا يِدْ�َأ ْتَبَسَك اَِب ِرْحَبْلاَو ِّرَيبْلا ِف ُداَسَفْلا َرَهَظ
َنوُع ِجْرَي� ْمُهَّلَعَل
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rûm : 41)Ayat di atas barangkali cukup untuk menjelaskan bagaimana akibat perbuatan manusia yang tidak dilandasi dengan ajaran agama. Hal ini juga semakin menunjukkan bahwa agama tidak hanya berguna untuk kehidupan akhirat saja, tetapi lebih dari itu agama juga berguna untuk kehidupan dunia itu sendiri. Agama menjaga manusia dari keberingasan dan hawa nafsu, sehingga mereka tidak terjebak pada kehidupan sesaat.
Ayat lain yang menunjukan konsep keseimbangan dan konsep intregitas pendidikan dalam Islam adalah surat al-Taubah ayat 122.
ِف اوُهَّقَفَيتَيِّل ٌةَفِئاَط ْمُهْينِّم ٍةَقْرِف ِّلُك نِم َرَفَين َلْوَلَيف ًةَّفاَك اوُرِفنَيِل َنوُنِمْؤُمْلا َناَك اَمَو
َنوُرَذَْي ْمُهَّلَعَل ْمِهْيَلِإ اوُعَجَر اَذِإ ْمُهَمْوَيق اوُرِذنُيِلَو ِن�ِّدلا
Artinya : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Qs. At-Taubah : 122)Fahrur Razi dalam kitab tafsirnya menjelaskan, bahwa pada waktu itu orang-orang Islam akan pergi (berangkat) jihad semuanya. Sedangkan Nabi Muhammad pada waktu itu berada di Madinah sendirian, kecuali
60
Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi Muh Subhan Ashari
hanya bersama para wanita dan orang-orang yang sakit. Tetapi para sahabat tetap akan meninggalkannya karena jihad saat itu merupakan tugas mulia. Maka kemudian turunlah ayat di atas. Menurut Fahrur Razi ayat di atas bermakna bahwa tidak boleh semua umat Islam pergi berperang atau jihad, tetapi harus ada sebagian kelompok yang bersama Rasul untuk belajar ilmu syari’at supaya mereka nanti bisa mengajari orang-orang yang tidak tahu dan orang-orang yang baru pulang dari jihad.6 Sebaliknya ketika orang-orang muslim pergi semuanya untuk mencari ilmu, ini juga tidak dibenarkan dan tidak mungkin. Tetapi jika hal itu memunkinkan dan tidak memberikan mafsadah dan kerusakan maka hal tersebut tidak masalah, bahkan wajib, sebagaimana hadis yang menyatakan bahwa mencari ilmu adalah wajib bagi seluruh umat Islam, sebagai mana sabda Nabi Saw. Bahwa mencari ilmu wajib bagi muslim laki dan muslim perempuan.7
Dikotomi dalam pendidikan, memang menjadi perhatian yang besar bagi umat Islam, mengingat dampak negatif dari sistem pendidikan ini tidak kecil. Menurut Syamsul Ma’arif, pola dikotomi telah menimbulkan problem tersendiri. Diantaranya, pertama, munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam. Kedua, kesenjangan antara pendidikan Islam dengan ajaran Islam. Ketiga, muncul disintegrasi sistem pendidikan Islam, sehingga saat ini boleh dikatakan kurang terjadi perpaduan. Keempat, dikotomi menyebabkan munculnya inferioritas para pengasuh lembaga pendidikan Islam.8 Menurut M Rusydi, dikotomi dalam pendidikan bisa melahirkan lembaga pendidikan yang lemah dalam hal metodologi dan kreatifitas. Selain itu dikotomi juga bisa melahirkan pendidikan yang doktrinal.9
Menurut Mulyadi Kertanegara, sistem dikotomi dapat menimbulkan efek yang tidak sedikit. Diantaranya adalah : Pertama, adanya klaim yang
6 Muhammad al-Razi Fahruddin ibnu Umar, Tafsir Fahrur Razi, juz 16 (Beirut: Dâr al-Fikr, tt), hlm. 231.
7 Abi al-Qasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari, Al-Kasyâf ‘an Haqâiqi Ghawamidzi
al-Tanzîl fî Wujûhi al-Ta’wîl, juz 3 (tt: Maktabah Abaikan, 1998), hlm. 107.
8 Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hlm. 15.
61 Kebijakan Dikotomi Pendidikan di Indonesia pada Masa Reformasi
Muh Subhan Ashari
berlebihan antar setiap fans ilmu, serta mempertentangkan status ilmiah antara satu ilmu dengan yang lain, khususnya antara ilmu agama dan sains. Kedua, timbulnya kesenjangan antara sumber ilmu. Pendukung ilmu agama hanya menganggap valid wayu, sedangkan pendukung sains hanya menganggap valid logika. Ketiga, munculnya disintegrasi pada tatanan ilmu. dan keempat munculnya metodologi yang tidak sama dan bertentangan antara ilmu agama dan sains.10
Adapun akibat secara umum, menurut Amin Abdullah, pola pikir bipolar-dikotomis telah membawa akibat yang tidak nyaman bagi kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Sebab akan menjadikan manusia terasing dari nilai-nilai spiritualitas dan moralitas, terasing dari dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya. Selain itu ia juga akan terasing dari lingkungan alam dan ragam hayati yang menopang kehidupannya, serta terasing dari denyut nadi lingkungan sosial-budaya sekitarnya.11