• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH-MASALAH ETIS YANG PERLU DIANTISIPASI

Selain mengkonseptualisasi proses penulisan bagian-bagian proposal, peneliti juga perlu mengantisipasi masalah-masalah etis yang bisa saja muncul dalam penelitian mereka (Hesse-Bieber & Leavey, 2006). Untuk mengetahui masalah-masalah etis ini, peneliti perlu terlibat langsung dalam pengumpulan data dari atau tentang orang lain (Punch, 2006). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menulis masalah-masalah etis seperti ini sangat dibutuhkan, utamanya untuk membangun argumentasi dalam penelitian dan menetapkan satu topik penting untuk format proposal. Peneliti juga harus mempro-teksi para partisipan mereka; membangun kepercayaan (pada) mereka; berusaha jujur dalam penelitian; mencegah kelalaian dan kecerobohan yang dapat mencemari nama baik organisasi atau insti-tusinya; dan berupaya mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dengan sikap arif dan bijaksana (Isreal & Hay, 2006). Pertanyaan-pertanyaan etis saat ini sudah mulai bermunculan, mulai dari masalah-masalah seperti pembocoran rahasia individu, autentisitas dan kredibilitas

112

laporan penelitian, peran peneliti dalam konteks lintas-budaya, hingga masalah-masalah privasi dari data-data internet (Isreal & Hay, 2006).

Dalam literatur, masalah-masalah etis biasanya dibahas di bagian kode-kode etik profesi dan di bagian respons-respons mereka terhadap dilema-dilema etis serta solusi-solusinya (Punch, 2005). Banyak organisasi nasional memublikasikan standar atau kode-kode etik dalam website profesional mereka sesuai, dengan bidang yang mereka garap. Sebagai contoh, lihatlah:

• "Ethical Principles of Psychologists and Code of Conduct," dalam www.apa.org/ethics, tahun 2002.

• "The American Sociological Association Code of Ethics," dalam www.asanet.org, tahun 1997.

• "The American Anthropological Association's Code of Ethics," dalam www.aaanet.org, Juni 1998.

• "The American Educational Research Association Ethical Standars of the American Educational Research Association," dalam www.aera.net, tahun 2002.

• ―The American Nurses Association Code of Ethics for Nurses Provisions,‖ dalam www.ana.org, Juni 2001

• Praktik-praktik etis melibatkan lebih dari sekedar mengikuti seperangkat pedoman statis, seperti pedoman-pedoman yang disajikan oleh organisasi-organisasi professional di atas. Lebih dari itu, peneliti juga perlu mengantisipasi dan menyampaikan masalah-masalah etis yang mungkin saja muncul dalam penelitian mereka (seperti, lihat Berg, 2001; Punch, 2005; dan Sieber, 1998). Masalah-masalah etis ini bisa saja muncul dalam penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran, serta semua tahap dalam tiga penelitian tersebut. Dalam bab-bab selanjutnya, saya sudah menjelaskan beberapa masalah etis dalam banyak tahapan penelitian. Dengan menyajikan masalah-masalah ini, saya berharap para peneliti dapat terdorong untuk lebih hati-hati merancang bagian-bagian proposal mereka. Meskipun pembahasan dalam buku ini tidak secara komprehensif mencakup semua masalah etis, setidaknya saya sudah menyajikan masalah-masalah etis yang paling sering muncul. Masalah-masalah tersebut sering kali muncul ketika peneliti tengah membatasi masalah penelitian (Bab 5); mengidentifikasi tujuan penelitian dan rumusan masalah (Bab 6 dan 7); dan mengumpulkan, menganalisis, dan menulis data penelitian (Bab 8,9, 10).

113

Masalah-masalah Etis dalam Masalah Penelitian.

Hesse-Biber dan Leavy (2006:86) mengajukan pertanyaan: ―Bagaimana masalah-masalah etis masuk kedalam bagian latar belakang masalah-masalah penelitian?‖ Dalam pendahuluan proposal, peneliti mengidentifikasi satu masalah atau isu yang penting untuk diteliti dan menyajikan rasionalisasi atas pentingnya penelitian tersebut. Selain itu peneliti juga perlu mengidentifikasi satu masalah yang akan menguntungkan individu-individu yang akan diteliti, satu masalah yang nantinya berguna bagi orang lain selain peneliti itu sendiri (Punch, 2005). Gagasan inti penelitian aksi/partisipatoris adalah: peneliti tidak boleh memarginalisasi atau melemahkan partisipan-partisipan yang ditelitinya. Masalahnya, tidak jarang identifikasi masalah penelitian justru semakin meminggirkan para partisipan yang diteliti. Untuk

mrncegah hal ini terjadi, peneliti terlebih dahulu harus membuat proyek-proyek utama agar kepercayaan partisipan dapat terbangun sehingga peneliti dapat mendeteksi marginalisasi apa saja yang tidak boleh dilakukan sebelum ia benar-benar menggarap penelitian.

Masalah-masalah Etis dalam Tujuan Penelitian dan Rumusan Masalah

Dalam merancang tujuan penelitian atau rumusan masalah, peneliti perlu menjelaskan tujuan penelitian kepada para partisipan (Sarantakos,2005). Penipuan sering kali muncul ketika partisipan memahami satu tujuan, tetapi penelitian memiliki tujuan lain yang berbeda. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti perlu menentukan sponsorship atas penelitian mereka. Misalnya, dalam merancang surat-surat pendahuluan untuk penelitian survey, sponsorship merupakan elemen penting yang dapat membangun kepercayaan dan kredibilitas instrument survey yang disebarkan peneliti.

Masalah-masalah Etis dalam Pengumpulan Data

Selain mempersiapkan data apa saja akan dikumpulkan, peneliti juga perlu respek terhadap para partisipan dan tempat-tempat yang akan diteliti. Banyak masalah etis muncul selama tahap pengumpulan data.

Jangan membahayakan Partisipan, dan hargailah kelompok-kelompok yang rawan kekerasan. Proposal openelitian yang diajukan sebaiknya sudah direview oleh Dewan

Peninjau Institusi/Instutional Review Board (IRB) atau lembaga-lembaga sejenis diperguruan tinggi mereka. Komite IRB ini dibangun atas dasar peraturan pemrintah untuk mencagah adanya kekerasan atau pelanggaran HAM. Bagi seorang peneliti, IRB dibutuhkan untuk meninjau kemungkinan terjadinya resiko-resiko penelitian, seperti resiko fisik, psikologis, sosial, ekonomi, atau hukum (Sieber,1998), yang mungkin saja muncul tiba-tiba. Selain itu,

114

peneliti juga mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan tertentu bagi komunitas yang rawan kekerasan, seperti anak-anak kecil (di bawah umur 19 tahun), partisipan-partisipan yang lemah mental, korban-korban kekerasan atau bencana, para napi, dan individu-individu yang terserang AIDS. Penelti juga harus menyimpan proposal penelitian yang berisi prosedur-prosedur dan informasi mengenai partisipan di komite IRB kampus mereka yang komite ini dapat meninjau sejauh mana proposal proposal tersebut menjangkau subjek-subjek atau partisipan-partisipan yang berada dalam resiko. Selain Proposal ini, peneliti juga harus membuat formulir izin tertulis yang ditandatangani oleh partisipan sebelum mereka terlibat dalam penelitian. Formulir ini menjelaskan bahwa hak-hak partisipan akan dijaga selama pengumpulan data. Elemen-elemen dalam formulir tersebut dapat meliputi beberapa informasi sebagai berikut (Sarantakos, 2005):

 Informasi mengenai peneliti

 Informasi mengenai institusi yang mensponsori

 Informasi mengenai prosedur-prosedur pemilihan partisipan

 Informasi mengenai tujuan penelitian

 Informasi mengenai keuntungan-keuntungan bagi partisipan

 Informasi mengenai tingkatan dan jenis keterlibatan partisipan

Natation of Risks bagi partisipan

 Jaminan kerahasiaan bagi partisipan

 Jaminan bahwa partisipan dapat mundur kapan saja

 Klausula nama-nama person yang dapat dihubungi jika ada pertanyaan

Salah satu masalah yang harus diantisipasi terkait dengan jaminan kerahasiaan adalah bahwa beberapa partisipan bisa saja identitas mereka dirahasiakan. Jika demikian Ihwalnya, peneliti sebaiknya meminta mereka untuk menjaga sendiri pendapat mereka dan

membebaskan mereka untuk mengambil keputusan. Akan tetapi, mereka juga harus diberitahu mengenai resiko ketidakrahasiaan tersebut, seperti kemungkinan terbongkarnya data dalam laporan akhir yang mungkin tidak mereka harapkan, informasi yang mungkin melampaui batas hak-hak orang lain seharusnya disembunyikan, dan sebagainya (Giardano, O‘Reilly, Taylor, & Dogra, 2007).

 Selain, itu prosedur etis lain yang harus dipenuhi peneliti selama pengumpulan data adalah persetujuan dari individu-individu yang berwenang (seperti, satpam) untuk memberikan akses bagi para peneliti untuk melakukan penelitiannya. Prosedur seperti

115

ini seringkali mengharuskan penelti untuk menulis sebuah surat yang menjelaskan jangka waktu penelitian, dampak potensial, dan hasil-hasil penelitian. Begitu pula, pemerolehan data melalui interview atau survey elektronik juga harus disertai ijin dari partisipan. Hal ini dilakukan, pertama-pertama dengan mengirimkan email

permohonan, baru kemudian melakukan survey dan wawancara.

 Peneliti juga harus respek pada lokasi-lokasi yang diteliti agar mereka tidak mendapat gangguan setelah melakukan penelitian. Tugas ini mengharuskan peneliti, khususnya dalam penelitian kualitatif, untuk terlibat dalam observasi atau wawancara

berkelanjutan di lokasi tersebut, sadar akan konsekuensinya, dan tidak boleh merusak tatanan fisik lokasi itu. Misalnya, jika punya waktu berkunjung, peneliti juga bisa ―menyusup‖ ke dalam aktivitas-aktivitas partisipan. Jika tidak, peneliti harus meminta izin terlebih dahulu. Apalagi, beberapa organisasi saat ini sudah memiliki aturan tersendiri bagi orang-orang yang ingin melakukan penelitian agar tidak terjadi perusakan di tempat mereka.

 Dalam penelitian-penelitian eksperimen, yang sering kali memperoleh keuntungan dari penelitian hanyalah kelompok yang ditreatment (atau sering kali dengan dengan kelompok eksperimen). Sedangkan kelompok control tidak mendapatkan apa-apa. Untuk menghindari hal ini, peneliti perlu melakukan beberapa eksperimentasi bagi semua kelompok dalam satu waktu atau secara bertahap sehingga kelompok-kelompok ini bisa mengambil secara merata.

 Masalah etis juga muncul ketika tidak ada mutualitas antara peneliti dan partisipan. Baik peneliti maupun partisipan seharusnya sama-sama dapat mengambil keuntungan dari penelitian. Akan tetapi, yang sering terjadi justru sebaliknya: kekuasaan disalah-gunakan dan partisipan dipaksa untuk terlibat dalam proyek tersebut. Untuk itulah, melibatkan para partisipan secara kolaboratif dalam penelitian mungkin dapat memunculkan muatlitas tersebut. Penelitian-penelitian yang benar-benar kolaboratif, seperti dalam beberapa penelitian kualitatif, dapat melibatkan partisipan sebagai co-researcher dalam proses penelitian, seperti merancang penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data, menulis laporan penelitian , dan menyebarkan hasil penelitian (Patton, 2002).

 Wawancara dalam penelitian kualitatif tampaknya sudah semakin banyak dipandang sebagai penelitian moral (Kvale, 2007). Untuk itu, pewawancara harus memastikan beberapa hal penting, seperti apakah wawancaranya dapat memperbaiki situasi manusia

116

(serta meningkatkan pengetahuan saintifik), seberapa sensitive interaksi wawancara pagi partisipan, apakah partisipan pernah berkata tentang bagaimana statemen mereka harus ditafsirkan, seberapa kritis pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan, dan apa saja akibat-akibat yang akan diterima pewawancara dan partisipan dari hasil wawancara tersebut.

 Peneliti juga perlu mengantisipasi kemungkinan informasi yang berbahaya dan intim yang diungkapkan selama proses pengumpulan data. Sulit mengantisipasi dan

merencanakan dampak dari informasi ini selama atau setelah wawancara (Patton, 2002). Misalnya, siswa bisa saja membicarakan pelecehan orang tuanya: atau para napi

berbicara tentang pelolosan dirinya dari penjara. Dalam situasi seperti ini, biasanya kode etik bagi peneliti (yang bisa saja berbeda satu sama lain) dapat memproteksi privasi partisipan-partisipan tersebut, dan tugas penelitian adalah menyampaikan proteksi ini kepada semua partisipan yang juga terlibat dalam penelitian.

Masalah-masalah Etis dalam analisis dan Interpretasi Data

Ketika peneliti menganalisis dan menginterpretasi data kuantitatif ataupun kualitatif, tidak jarang masalah-masalah muncul yang mengharuskan peneliti untuk membuat keputusan etis yang tepat.

Dalam mengantisipasi masalah-masalah etis ini, mempertimbangkan beberapa hal berikut:

 Bagaimana peneliti memproteksi anonimitas individu-individu, peran-peran, dan peristiwa-peristiwa yang diteliti dalam proyek penelitiannya? Misalnya, dalam penelitian survey, peneliti tidak memasukkan nama-nama partisipan selama proses coding dan perekaman. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan nama alias atau nama samaran dari para partisipan atau tempat-tempat tertentu, untuk

memproteksi identitas mereka.

 Data, setelah dianalisis, harus dijaga selama dalam jangka waktu tertentu (misalnya, Sieber, 1998, merekomendasikan jangka waktu 5-10 tahun). Setelah itu peneliti sebaiknya membuang data tersebut agar tidak jatuh ke tangan peneliti-peneliti lain yang ingin ,enyalahgunakannya.

 Pertanyaan tentang siapa yang memiliki data tersebut setelah proses pengumpulan dan analisis data juga menjadi masalah yang sering kali memecah belah tim penelitian dan membuat mereka bertengkar satu sama lain. Dalam hal ini, proposal peneliti

117

solusinya, seperti melalui proses saling memahami antara antara peneliti, partisipan, dan pihak fakultas (Punch, 2005). Berg (2001) merekomendasikan agar digunakan persetujuan personal untuk menunjuk siapa pemilik pemilik data penelitian tersebut. Hal ini dilakukan agar data dapat terjaga dari individu-individu yang tidak terlibat dalam penelitian.

 Dalam interpretasi data, peneliti perlu memastikan bahwa informasi yang diperoleh benar-benar akurat. Untuk mengetahui akurasi ini, dalam penelitian kuantitatif, peneliti dapat bernegosiasi dan berinterogasi dengan para partisipan (berg, 2001). Untuk penelitian kualitatif langkah tersebut dapat diterapkan dengan cara menerapkan satu atau beberapa strategi validasi data bersama para partisipan atau dengan cara membandingkan data tersebut dengan sumber-sumber data lain yang relevan (lihat strategi-strategi validasi kualitatif pada Bab 9).

Masalah-Masalah Etis dalam Menulis dan Menyebarluaskan Hasil Penelitian

Masalah-masalah etis tidak berhenti dalam pengumpulan dan analisis data saja. Masalah-masalah tersebut juga bisa terjadi dalam proses penulisan dan penyebaran laporan penelitian final. Untuk mengantisipasinya, Anda bisa menerapkan beberapa langkah berikut:

 Jelaskan bagaimana penelitian Anda tidak akan menggunakan bahasa atau kata-kata yang mengandung bias pada orang-orang tertentu, baik itu bias gender, orientasi social, ras, etnis, ketidakmampuan, maupun usia. Publication Manual APA (2001) memberikan tiga saran. Pertama, sajikan bahasa yang tidak bias pada tingkat spesifisitas yang sesuai (seperti, daripada menulis ―prilaku pelanggan tersebut biasanya adalah para lelaki, ― lebih baik menulis, ―perilaku pelanggan tersebut……(jelaskan) ). Kedua, untuk keperluan melabeli atau sejenisnya, gunakan bahasa yang tegas dan peka (seperti, daripada menulis ―400 Hispanik‖, lebih baik menulis ―400 orang yang terdiri dari penduduk meksiko, Spanyol, dan Puerto Rico‖). Ketiga, cobalah untuk benar-benar mengenali identitas para partisipan dalam penelitian (seperti, daripada menulis ―subjek‖ lebih baik menggunakan kata-kata ―partisipan‖, daripada menulis ― dokter perempuan‖ lebih baik menggunakan ―dokter‖ atau ―ahli medis‖ saja, tanpa ada identifikasi jenis kelamin).

 Masalah-masalah etis lainnya dalam menulis penelitian bisa saja meliputi usaha-usaha untuk menekan, memalsukan, atau mengkreasikan penemuan-penemuan ―baru‖ untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan peneliti atau audiens. Praktik-praktik curang seperti ini

118

tidak diterima dalam komunitas penelitian professional, dan tindakan tersebut biasanya akan membentuk sifat atau prilaku saintifik yang buruk (Neuman, 2000). Proposal penelitian seharusnya mengendalikan kesempatan peneliti untuk tidak terlibat dalam praktik-praktik seperti ini.

 Dalam merencanakan penelitian, peneliti perlu mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi dilaksanakannya penelitian tersebut pada partisipan-partisipan tertentu dan tidak

menyalahgunakan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Peneliti harus memberikan gandaan publikasi penelitian tersebut pada pihak-pihak yang pernah ditelitinya (Creswell, 2007).

 Masalah lain etis yang sering dijumpai dalam tulisan-tulisan akademik adalah praktik eksploitasi terhadap sejumlah pegawai universitas dan disertakannya nama individu-individu yang secara substansial tidak berkontribusi atas penelitian. Israel dan hay (2006) membahas praktik tidak etis yang disebutnya sebagai hadiah kepengarangannya bagi individu yang tidak berkontribusi pada penelitian dan hantu kepenarangan bagi staf-staf yunior yang membuat kontribusi penting, namun namanya tidak dimasukkan dalam daftar contributor.

 Pada akhirnya, peneliti juga perlu mengekspos detail-detail penelitiannya agar pembaca dapat mengetahui kredibilitas penelitian tersebut (Neuman, 2000). Prosedur-prosedur dalam penelitian kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran harus disajikan secara rinci dalam setiap bab. Begitu pula, peneliti seharusnya tidak melakukan duplikasi secara berlebihan dengan menyajikan secara persis data, pembahasan, dan kesimpulan yang sama dari makalah seseorang, sementara peneliti tidak menawarkan materi yang baru. Beberapa jurnal biomedis mengharuskan pengarang untuk menyatakan apakah mereka telah atau sedang memublikasikan makalahnya pada media-media lain ataukah tidak (Israel & Hay, 2006).

RINGKASAN

Peneliti perlu memikirkan bagaimana menulis proposal penelitian dengan baik sebelum benar-benar terlibat dalam proses penelitian. Pertimbangkan Sembilan argumentasi yang ditawarkan Maxwell (2005) sebagai elemen-elemen kunci yang perlu dimasukkan dalam proposal, kemudian gunakanlah salah satu dari empat outline topic atau format penelitian-yang sudah dijelaskan dalam bab ini-untuk membuat proposal kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran.

119

Dalam pembuatan proposal, mulailah merangkai kata-kata di atas kertas berdasarkan gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran Anda; cobalah membangun kebiasaan membangun menulis secara regular; dan terapkan strategi-straregi penulisan yang baik, seperti

menggunakan istilah-istilah yang konsisten,menunjukkan level gagasan naratif yang berbeda-beda, dan menciptakan koherensi untuk meningkatkan kekuatan tulisan. Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain menggunakan kalimat aktif dan verba-verba yang kuat dan tegas, serta merevisi dan mengedit kembali tulisan Anda.

Sebelum menulis proposal, peneliti juga perlu memikirkan masalah-masalah etis yang perlu diantisipasi dan dideskripsikan dalam proposal. Masalah-masalah ini berhubungan dengan semua tahap proses penelitian. Dengan mempetimbangkan keberadaan partisipan, lokasi penelitian, dan pembaca potensial, penelitian bisa menjadi sejenis studi yang benar-benar dirancang berdasarkan praktik-praktik etis yang sesungguhnya.

Latihan Menulis

1. Buatlah satu outline topic-topik atau draft bagian-bagian untuk proposal

kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Masukkan topic-topik utama seperti yang telah dijelaskan dalam bab ini.

2. Carilah artikel jurnal yang didalamnya melaporkan penelitian kualitatif, kuantitatif, atau metoe campuran. Cobalah melatih diri anda dengan membaca pendahuluan artikel tersebut dan gunakan metode hook and eye yamh telah dijelaskan dalam bab ini. Identifikasikanlah aliran gagasan dari kalimat satu ke kalimat yang lain dan dari paragraph satu ke paragraph yang lain, serta

kekurangan-kekurangan di dalamnya.

3. Pertimbangkanlah salah satu dilema etis berikut ini yang –anggap saja- pernah anda hadapi ketika melakukan penelitian. Gambarkan cara-cara yang bisa anda terapkan untuk mengantisipasi masalah tersebut dan membahasnya dalam proposal penelitian Anda.

a. Seorang narapidana yang tengah Anda wawancarai bercerita tentang kesempatan melarikan diri pada malah hari. Apa yang akan anda lakukan?

b. Salah seorang peneliti dalam tim Anda menduplikasi kalimat dari penelitian lain dan memasukkannya dalam laporan akhir penelitian. Apa yang anda lakukan?

c. Seorang mahasiswa melakukan beberapa kali wawancara pada sekelompok individu di tempat anda. Setelah wawancara keempat, mahasiswa tersebut bercerita kepada

LATIHA

N MEN

120

Anda bahwa Institutional Review Board sebenarnya tidak menyetujui proyek penelitian tersebut. Apa yang anda lakukan?

BACAAN TAMBAHAN

Maxwell, J. (2005). Qualitative Research Design: An Interactive Approach. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA:Sage

Joe Maxwell menyajikan ringkasan menarik mengenai proses pembuatan proposal untuk penelitian kualitatif yang juga dapat diterapkan dalam penelitian kuantitatif dan metode campuran. Dia kemudian menyajikan Sembilan langkah membuat proposal dan contohcontohnya. Selain itu, dia juga menganalisis dan menyajikan satu contoh proposal kualitatif -yang menurutnya- layak untuk diikuti.

Sieber, J.E. (1998). ―Planning Ethically Responsible Research‖. Dalam L. Bickman & D. J. Rog (Ed). Handbook of Applied Social Research Methods. Thousand Oaks, CA:Sage. (hlm. 127-156)

Joan Sieber membahas pentingnya perencanaan etis sebagai bagian integral dalam merancang penelitian. Dalam bab ini, diamenyajikan review komprehensif mengenai beragam topic yang berhubungan dengan masalah-masalah etis, seperti IRB, formulir perizinan, privasi, kerahasiaan, dan anonimitas, serta beberapa resiko penelitian dan

komunitas yang rawan kekerasan. Pembahasannya sangat luas, dan strategi-strategi yang ia rekomendasikan juga sangat melimpah.

Israel, M., & Hay, L. (2006). Research Ethics for Social Scientists: Between Ethical Conduct and Regulatory Compliance. London: Sage

Mark Israel dan Lain Hay menyajikan analisis kritis tentang manfaat berfikir serius dan sistematis mengenai apa saja yang membentuk prilaku etis dalam ilmu social. Mereka mereview beragam teori etika, seperti pendekatan konsekuensialis dan non-konsekuensialis, viriue ethics, dan pendekatan normative berorientasi-kepedulian. Mereka juga menjelaskan sejarah perilaku etis di berbagai Negara di dunia ini. Sepanjang buku ini, mereka

menawarkan contoh-contoh kasus etis yang sebenarnya dan cara-cara yang bisa ditempuh peneliti untuk menghadapi kasus-kasus tersebut secara etis. Dalam lampiran buku ini, mereka menyajikan tiga contoh kasus dan mengajak para sarjana untuk berkomentar mengenai bagaimana mereka akan mendekati ketiga kasus tersebut.

121

Wolcott, H.F. (2001). Writing up Qualitative research. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA: Sage

Harry Wolcott, seorang ahli etnografi pendidikan, mengumpulkan sumber-sumber berharga terkait dengan proses penulisan penelitian kualitatif. Dia menyurvei teknik-teknik ampuh bagaimana seseorang memulai menulis, mengembangkan detail, menghubungkan literature, teori, dan metode; merevisi dan mengedit; dan merampungkan proses penulisan dengan menghadirkan aspek-aspek ini sebgai judul dan lampiran. Bagi para penulis, buku ini sangat penting, baik untuk keperluan penelitian kualitatif, kuantitatif, maupun metode

122

Halaman Kosong