BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
C. Masalah-masalah yang dihadapi Taman Pendidikan Al-Qur’an
2. Masalah Metode Pengajaran
Yang dimaksud dengan metode itu sendiri adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan soiswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
a) Kurangnya Tenaga Pendidik
Awal berdirinya lembaga pendidikan Al-Qur’an ini dipelopori oleh tokoh-tokoh agama dan anak-anak muda yang mampu mengajar Al-Qur’an dan peduli terhadap kondisi masyarakat disekitarnya. Ia siap mengabdikan dirinya untuk mengajar mengaji dengan didasari keikhlasan tanpa mengharapkan gaji atau imbalan apapun yang bersifat materi, karena terdorong oleh rasa bertanggung jawab terhadap sesama muslim untuk saling membantu atau membagi ilmu, serta rasa tanggung jawab di hadapan Allah. Kondisi ini berlangsung terus
menerus dari generasi ke generasi berikutnya, sehingga semarak tau tidaknya suatu aktifitas pengajian anak-anak banyak tergantung dari kepedulian dan keikhlasan tenaga pendidik.
Untuk masa lampau keadaan para tenaga pendidik atau ustadz/ustadazah yang demikian tidak menjadi persoalan. Hampir di setiap kelompok umat Islam dengan mudah didapatkan anak-anak muda yang mengabdikan dirinya untuk mengajar mengaji di lingkungannya. Akan tetapi zaman sekarang tentunya sangat sulit, dimana perjuangan hidup yang semakin ketat dengan kebutuhan semakin meningkat, sehingga nampak semakin langka anak-anak muda yang mencurahkan perhatiannya untuk mengajar mengaji di lingkungannya masing-masing. Mereka lebih mementingkan mencari nafkah untuk kebutuhan hidupnya dan keluarganya sendiri.
Keterbatasan ini antara lain disebabkan karena pekerjaan guru ngaji ternyata kurang menjanjikan masa depan terutama dalam hal kesejahteraan hidupnya, sehingga wajar kalau pendidikan anak di TPQ hanya ditangani sukarelwan-sukarelawan yang sangat incindental dan sementara sifatnya seta kurang professional.66
b) Kualitas Tenaga Pendidik
Problem lain yang berkaitan dengan tenaga kependidikan adalah tenaga pendidik atau ustadz/ustadzah yang cenderung menurun. Pada masa lalu mayoritas dari para guru adalah alumni pondok pesantren
66
yang dilihat kualitas cara membaca Al-Qur’an relatif lebih baik. Namun lama kelamaan jumlah mereka semakin berkurang dan terkadang diganti dengan alumni-alumni sekolah umum yang secara general bacaan Al-qur’annya kurang fasih. Sekarang banyak guru ngaji yang bermodalkan semangat dan keberanian semata, sedang kemapuan membaca Al-Qur’an sangat memprihatinkan.
Adapun alternatif pemecahannya terhadap masalah diatas adalah kalau melihat sumber utama menurunnya semangat guru atau ustadz/ustadzah kebanyakan karena tuntutan ekonomi. Maka langkah yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan nilai kesejhteraan bagi para ustadz/ustadzah, kalau bisa pengurus mencarikan lapangan pekerjaan bagi para ustadz/ustadzah, di luar mengajar TPQ, misalnya percetakan buku tentang TPQ, dari hasil percetakan itu selain untuk keperluan mengaji juga untuk melengkapi sarana danprasarana yang diperlukan TPQ. Dengan langkah yang seperti ini kemungkinan semangat para ustadz/ustadzah akan semakin meningkat untuk mengajar mengaji.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam mengatasi masalah yang kedua adalah:
a) Dengan mengadakan berbagai penataran dan lokakarya tentang Taman Pendidikan Al-Qur’an sebagaimana yang dikemukakan oleh AMM Yogyakarta.
b) Mengadakan penyeleksian para ustadz/ustadazah dalam bacaan Al-Qur’an dan mengadakan pembinaan. Untuk pembinaan dan peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an bagi guru, bisa dilakukan dengan mengadakan tadarus bersama dengan menghadirkan ustadz yang ahli sebagai pembimbingnya sekaligus menyimak materi-materi hafalannya.
c) Mengadakan studi komparatif ke TPQ yang telah maju dengan menyerap hal-hal yangbaru yang dapat diterapkan ke TPQ yang diasuhnya.
d) Penyediaan perpustakaan yang berisi tentang ilmu Al-Qur’an dan cara mengajrnya serta buku-buku teks mengajar Al-Qur’an.67 3. Masalah Metode Pengajaran
Yang dimaksud dengan metode itu sendiri adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan soiswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
Seorang pengajar (Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an) khususnya, harus mengetahui macam-macam metode pengajaran, kelemahan dan kekurangan dari beberapa metode pengajaran. Sebab dengan pemahaman tersebut, maka tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan akan tercapai secara efektif dan efisien.
Prinsip pengajaran Al-Qur’an pada dasarnya bisa dilakukan dengan bermacam metode. Diantara metode-metode itu ialah sebagi berikut.
67
Pertama, guru membaca terlebih dahulu, kemudian disusul anak/murid. Dengan metode ini guru dapat menerapkan cara membaca huruf dengan benar melalui lidahnya. Sedangkan anak dapat melihat dan menyaksikan langsung praktik keluarnya huruf dari lidah guru untuk ditirukannya, yang disebut dengan musyafahah. ”adu lidah”.
Kedua, murid membaca didepan guru, sedang guru menyimaknya. Metode ini dikenal dengan metode sorogan atau ”ardul qira’ah ”setoran bacaan”
Ketiga, guru mengulang-ulang bacaan, sedang anak atau murid menirukannya kata per kata dan kalimat per kalimat juga secara berulang-ulang hingga terampil dan benar.68
Namun guru yang ada di TPQ sebagian besar masih menggunakan metode yang sesuai dengan keinginan guru sendiri tanpa melihat faktor yang mempengaruhi pemilihan metode antara lain: anak didik, tujuan, situasi, fasilitas, dan guru.
Penerapan metode pengajaran di TPQ dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a) Metode klasikal
b) Metode privat, individual atau sorogan
Sesuai dengan tuntutan zaman yaitu era globalisasi, maka umat Islam menurut reformasi pendidikan, kususnya masalah metode pengajaran Al-Qur’an. metode pengajaran harus bisa menjawab tuntutan
68
masyarakat Islam dalam upaya pemberantasan buta huruf dan tulis Al-Qur’an.
Adapun pemecahan terhadap masalah pengajaran di TPA antara lain yaitu:
a) Memberikan metode pengajaran yang bervariasi sesuai dengan materi yang diberikan.
b) Pemilihan dan penentuan metode dialkukan dengan pengenalan terhadap karateristik dari masing-masing metode pengajaran.
c) Guru mengetahui kelebihan dan kekurangan dari beberapa metode pengajaran.