BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
B. Taman Pendidikan Al-Qur’an
2. Sistem dan Metode Mengajar
Membahas tentang pengertian sistem dan pendidikan, maka yang dimaksud dengan sistem pendidikan disini adalah suatu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan. 44
Metode adalah cara pendekatan yang digunakan Guru dalam menyajikan Bahan Pengajaran kepada santri dalam PBM tatap muka (intra kurikuler).
Oleh karena metode itu menyangkut kegiatan harian, maka Guru harus terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatunya dengan memilih
43
As’ad Humam, Op Cit, hlm 14-15
44
metode yang man dipandang paling efektif dan komunikatif, sesuai pokok bahasan yang ditetapkan. Hal ini berkaitan dengan Program Kerja Harian yaitu pilihan tentang metode yang akan digunakan itu telah ditetapkan sebelumnya.45
Secara keseluruhan, metode itu bermacam-macam, seperti: metode latihan, penugasan, tanya jawab, demonstrasi, BCM
Akan tetapi berhubungan dengan proses belajar mengajar di TPQ/TKA ini mempunyai dua prosedur pendekatan, yaitu pendekatan klasikal dan pendekatan privat, maka macam-macam metode tadi dapat dipilih secara selektif sesuai daya efektifitasnya.
Penerapan metode pengajaran itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Penerapan Klasikal:
Metode BCM, demonstrasi, tanya jawab 2. Untuk Pendekatan privat
Metode latihan, penugasan, asistensi, demonstrasi, dan tanya jawab. Metode yang digunakan dalam pendekatan privat diatas adalah mengacu pada prinsip CBSA (Cara Belajar Santri Aktif).
Metode latihan dimaksudkan agar santri aktif berlatih, yaitu latihan membaca, disamping juga menulis dan menghafal, sedangkan guru lebih banyak menyimak sesudah ia memberikan kunci-kuncinya.
45
Metode penugasan digunakan pada saat santri menunggu giliran atau sesudah mendapat giliran privat. Tugas tersebut dapat berupa tugas menulis, menghafal atau bermain dengan alat permainan yang ada.
Latihan dan penugasan ini dapat diteruskan dirumah sebagai PR bagi santri, terutama bagi santri yang sudah mengikuti Program Tadarus guna menerapkan motto ”tiada hari berlalu tanpa tadarus”.
Metode asistensi dapat diterapkan sesudah TKA/TPQ dibuka lama dan sudah menghasilkan santri yang sudah memasuki Program Tadarus atau setidak-tidaknya buku Iqra’ jilid 5-6. dalam hal ini yang berperan sebagai asisten adalah santri tersebut, dengan memilih santri yang dippandang pintar dan lincah. Mereka diberi kepercayaan oleh gurunya untuk menyimak santri yang lain yang bahan pengajarannya berada di bawahnya. Misalnya, santri yang sudah memasuki jilid 5-6 menjadi asisten untuk menyimak santri yang baru memasuki jilid 1-4. santri yang sudah tadarus menjadi asisten untuk menyimak santri yang baru memasuki jilid 5-6. metode asistensi ini dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan guru privat atau pada saat guru privat berhalangan hadir.
Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan pada saat guru harus memberikan contoh bacaan cara penulisan kaidah makharijul huruf dan ilmu tajwid, atau contoh cara memperagakan gerakan salat, wudlu.
Metode tanya jawab digunakan dengan maksud untuk memancing perhatian santri atau menggugah ingatan dan daya nalarnya. Misalnya pada saat santri tertentu keliru dalam membaca atau menulis. Hal itu dapat
diluruskan dengan cara bertanya jawab kepada santri yang bersangkutan atau pada santri lain yang duduk berdekatan dengannya. Metode tanya jawab ini pada dasarnya dapat digunakan setiap saat, baik pada saat privat maupun pada saat klasikal, seperti halnya metode demonstrasi.46
Pelajaran dibagi menjadi dua tahap, yaitu klasikal dan privat dengan pembagian waktu sebagai berikut: 10 menit pertama klasikal, 40 menit di tengah privat, 10 menit terakhir kembali klasikal.
Dalam tahap privat tiap kelas ditangani oleh beberapa guru, dengan rasio perbandingan seorang guru mengajar antara 3 sampai 6 santri. Sistem individual/privat ini adalah khusus untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), Yaitu santrilah yang aktif membaca buku pegangan, sedang guru hanya mengawasi dan menyimak satu persatu secara bergantian antar santri serta merekam hasilnya pada Kartu Prestasi santri (KPS).
Untuk mengisi kekosongan waktu bagi santri yang belum, dan yang sudah privat, maka perlu diberi kegiatan (tugas) antara lain:
a) Menulis huruf Al-Qur’an (bagi santri TPQ) b) Mengulang pelajaran yang lalu
c) Bermain-main dengan permainan yang disediakan d) Dan lain-lain kegiatan.
e) Bagi santri yang lain diantara temannya (sukar diatur), sebaiknya diberi tugas dan perhatian khusus.
46
Tahap klasikal, tiap kelas diajar oleh seorang ustadz/ustadzah. Materi pelajaran sesuai dengan Program Harian (PH), yang melingkupi hafalan bacaan shalat, hafalan surat-surat pendek, hafalan ayat-ayat pilihan, bermain, cerita dan menyanyi lagu-lagu islami serta pengenalan pelajaran baru berkenaan dengan buku Iqra’.
Dengan sistem campuran ini (klasikal dan privat) maka kenaikan jilid bisa terjadi setiap saat, tergantung pada lambat atau cepatnya masing-masing santri dalam menerima pelajaran. Demikian pula masa pendaftaran untuk menjadi santri TKA/TPQ ini, tidak tergantung pada masa-masa tertentu, tetapi bisa sewaktu-waktu, selama daya tampung dan tenaga ustadz/ustadzah memungkinkan.
Pada tahap awal santri dibagi dalam beberapa kelas. Pengelompokan kelas didasarkan pada persamaan usia. Misalnya:
4-6 Tahun (Usia TKA) 7-12 Tahun (Usia TPQ)
Pada proses selanjutnya, setelah berjalan beberapa minggu, dan setiap santri telah memperlihatkan prestasinya masing-masing, khususnya dalam membaca buku Iqra’, maka pengelompokan belajar santri (TKA dan TPQ) didasarkan atas persamaan jilid (prestasi santri).
Misalnya: Santri TKA dikelompokkan: Buku Iqra’ Jilid 1 dan 2: Kelompok 1 Buku Iqra’ Jilid 3 dan 4: Kelompok 2 Buku Iqra’ Jilid 5 dan 6: Kelompok 3 SantriTPQ dikelompokkan:
Buku Iqra’ Jilid 1 dan 2: Kelompok 1 Buku Iqra’ Jilid 3 dan 4: Kelompok 2
Buku Iqra’ Jilid 5 dan 6: Kelompok 3
Pengelompokan ini untuk memudahkan penyajian materi pelajaran. Baik pada saat klasikal maupun privat. Sekiranya ruangan memungkinkan, sebaiknya dipisah dalam kelas-kelas tersendiri, tiap kelas idealnya berkisar antara 20-30 santri di bawah bimbingan seorang wali kelas yang bertanggung jawab atas kelancaran kelas tersebut. Atau waktu masuk belajar diatur sebagai berikut:
Pukul 14.00-15.00 (Kelompok 1) Pukul 15.00-16.00 (Kelompok 2) Pukul 16.00-17.00 (Kelompok 3)
Santri yang telah menyelesaikan paket buku Iqra’ dilanjutkan dengan paket tadarus Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah tadarus harus dikelompokkan sendiri dalam kelas tadarus, materi yang diberikan sesuai dengan kurikulum tadarus.
Saat privat setiap santri disimak bacaan Qur’annya sesuai materi tajwid praktis yang diberikan pada saat klasikal.47