• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASYARAKAT MINORITAS MUSLIM DI BARAT DAN

A. Masyarakat Minoritas Muslim: Sebuah Definisi

Kenyataan ini selalu terjadi sepanjang sejarah imigran muslim di Barat, betapapun fiqh klasik banyak menyatakan larangan tinggal di negara non-Islam, kecuali dalam keadaan terpaksa.4 Karena itulah bab ini secara khusus dimaksudkan untuk meng-ungkap realitas kondisi umat Islam di negara-negara Barat, dalam konteks ini difokuskan pada Amerika dan Inggris, terutama dalam kaitannya dengan problematika hukum Islam yang dihadapi.

A. Masyarakat Minoritas Muslim: Sebuah Definisi

Jumlah umat Islam di dunia sesungguhnya mencapai hampir seperempat jumlah manusia seluruhnya.5 Mereka tinggal menyebar di beberapa negara, baik sebagai kelompok mayoritas maupun minoritas. Sebagai mayoritas, umat Islam berada di 44 negara seperti di negara-negara Timur Tengah dan beberapa negara di Asia. Walaupun 90% masyarakat Timur Tengah beragama Islam, mereka bukanlah negara dengan jumlah

ketika Islam diyakini sebagai sebuah gerakan politik ideologis yang mengharuskan pemeluknya membangun negara Islam dalam upaya menjalankan syari’ah secara penuh. Menurutnya, Islam sebagai identitas adalah Islam sebagai lekatan tanda keturunan sebagai muslim tanpa keharusan mengikuti ajaran Islam. Selanjutnya, Islam sebagai keagamaan adalah praktik-praktik keagamaan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah, tetapi tidak sampai pada tingkatan ideologis seperti di atas. Lihat, Caroline Cox dan John Marks, The ‘West’, Islam and Islamism is

Ideological Islam Compatible with Liberal Democracy? (London: Civitas, Insitute

for the Study of Civil Society, 2003), hlm. 5.

4 Diskusi tentang fatwa ulama tentang tinggal di negara non-Islam dipaparkan dengan baik oleh Khaled Abou El Fadl dalam tulisannya yang berjudul “Islamic Law and Muslim Minorities: The Juristic Discourse on Muslim Minorities from the Second/Eight to the Elevent/Seventeenth Centuries,” dalam Islamic Law and

Society, Vol. 1, No. 2 (1994), dan Kathryn A. Miller dalam artikelnya yang

berjudul “Muslim Minorities and the Obligation to Emigrate to Islamic Territory: Two Fatwas from Fifteen-Century Granada,” dalam Islamic Law and Society, Vol. 7, No. 2 (2000). Dua tulisan ini banyak mengeksplorasi naskah klasik berke-naan dengan isu terkait. Lebih jelasnya, masalah ini dibahas pada bab 3 buku ini.

5 L. Carl Brown, Religion and State: The Muslim Approach to Politics (New York: Columbia University Press, 2000) .

Fiqh Minoritas penduduk yang paling banyak beragama Islam. Empat negara yang penduduknya paling banyak beragama Islam adalah Indo-nesia, Pakistan, Bangladesh, dan India. Negara terakhir ini (India) menarik untuk dicermati dalam sisi bahwa walaupun jumlah pemeluk Islam di negara ini cukup besar (lebih dari 200 juta jiwa), umat Islam di negara ini masih dalam posisi sebagai minoritas jika dibandingkan dengan jumlah pemeluk beragama Hindu yang jauh lebih besar mendominasi keberagamaan di India. Posisi muslim sebagai mayoritas dan minoritas tidak hanya ditentukan oleh ba-nyaknya jumlah umat Islam di negara ini, tetapi juga oleh perban-dingan jumlah populasinya dengan populasi yang memeluk agama lain.6

Minoritas (minority) yang dalam kamus Inggris didefinisikan sebagai “a group of people of the same race, culture, or religion

who live in a place where most of the people around them are of different race, culture, or religion”7 masih kurang aplikatif ketika harus diterapkan pada negara multi ras, multi etnis, dan multi agama, dengan komposisi lebih dari dua kelompok minoritas dengan jumlah yang relatif sama. Kesulitan mencari definisi yang tepat tentang minoritas diakui oleh Jamâl al-Dîn ‘Athiyyah Muhammad, yang kemudian memberikan karakter-karakter minoritas sebagai batasan definisinya. Menurutnya, suatu kelompok disebut minoritas apabila (1) dari sisi jumlah memang lebih sedikit dari keseluruhan penduduk yang mayoritas, (2) tidak memiliki daya dan kekuasaan sehingga perlu diproteksi hak-hak

6 Masyarakat muslim di India yang berjumlah lebih dari 200 juta adalah penduduk asli India, bukan imigran seperti kebanyakan masyarakat muslim di Eropa dan Amerika. Di samping India, jumlah umat Islam yang juga banyak, tetapi berposisi sebagai minoritas adalah umat Islam Cina yang berjumlah lebih dari 150 juta. Lihat, Salah Sultan, “Methodological Regulations for the Fiqh of Muslim Mino-rities,” dalam www.salahsoltan.com/main/index.php?id=16,64,0,0,1,0,2, diakses tanggal 8 Mei 2008.

7 Stephen Bullons, et. all (eds.), Collins Build Learner’s Dictionary (London: Harper Collins Publishers, 1996), hlm. 698.

dan kewajibannya, (3) memiliki ciri khas keminoritasannya yang membedakan dari mayoritas, apakah atas dasar grup, etnis, budaya, bahasa, atau agama.8

Ketika kata minoritas ini digandengkan dengan muslim maka yang dimaksudkan adalah menjadi kelompok minoritas yang disatukan dalam satu karakter keberagamaan yang sama, yakni Islam. Tâj al-Sirr Ahmad Harrân mendefinisikan minoritas muslim dengan “sekelompok orang muslim yang hidup di bawah kekuasaan pemerintah non-muslim di tengah mayoritas masyarakat yang tidak beragama Islam.”9 Dengan kata lain, mereka hidup di negara di mana Islam merupakan agama yang bukan menjadi rujukan aturan dan juga bukan menjadi budaya mayoritas penduduknya. Jumlah minoritas muslim ini sangat signifikan. Ketika estimasi jumlah total penduduk muslim se-dunia diperkirakan 1.160. 095.000 milyar jiwa, sekitar 336,42 juta jiwa hidup sebagai minoritas.10

Salah Sultan, seorang sarjana pemerhati minoritas muslim dan sekaligus pendukung hadirnya fiqh al-aqalliyyât, menyatakan bahwa terma minoritas muslim tidak hanya dilihat dari sisi jumlah, tetapi juga dari hak-hak hukum yang mereka miliki. Menurutnya, ada dua bentuk minoritas muslim: pertama adalah minoritas atas dasar jumlah jiwa sebagaimana yang ada di Eropa, Amerika, India, dan Cina; dan kedua adalah minoritas atas dasar hak-hak hukum. Dalam kasus yang kedua ini, walaupun dalam posisi sebagai

8 ‘Athiyyah, Jamâl al-Dîn Muhammad. Nahwa Taf‘îl Maqâshid al-Syarî‘ah (‘Amman:

Al-Ma‘had al-‘Alamî li al-Fikr al-Islâmî, 2001), hlm. 7-8. Definisi senada juga dipakai oleh Yûsuf al-Qaradhâwî dalam bukunya Fî Fiqh al-Aqalliyât al-Muslimat

Hayât al-Muslimîn Wasath al-Mujtama‘ât al-Ukhrâ, hlm. 15-16.

9 Tâj al-Sirr Ahmad Harrân, Hadhir al-‘Alâm al-Islâmî (Riyâdh: Maktabah al-Rusyd, 2007), hlm. 142.

10Tentang jumlah minoritas muslim dan kondisi mereka pada umumnya, lihat,

ibid., hlm. 143-147. Menurut perkiraan Ahmad Harrân, jumlah umat Islam terus

bertambah, demikian pula jumlah minoritas muslim. Menurutnya, jumlah umat Islam se-dunia adalah 23,2% dari jumlah total penduduk bumi yang mencapai 5 milyar jiwa.

Fiqh Minoritas mayoritas, kaum muslim mengalami nasib seperti kebanyakan minoritas, yakni senantiasa mendapatkan pelecehan dan diskrimi-nasi, seperti di Kashmir, Chechnya, Uzbekistan, dan Azerbaijan.11 Dengan menggunakan batasan definisi minoritas muslim di atas, maka potret status masyarakat minoritas muslim yang ada saat ini adalah sebagai berikut:

1 . Minoritas muslim yang tinggal di Amerika sekitar lebih dari 8 juta jiwa, 22,4% di antaranya adalah penduduk asli keturunan Amerika dan 77% adalah imigran.

2. Minoritas muslim yang tinggal di Eropa Timur dan Eropa Barat. 3. Minoritas muslim di Cina dengan jumlah lebih dari 150 juta

jiwa yang seluruhnya adalah penduduk asli Cina.

4. Minoritas muslim di India dengan jumlah lebih dari 200 juta jiwa yang seluruhnya adalah penduduk asli India.

5. Umat Islam di negara-negara Asia Tengah yang berposisi sebagai mayoritas, seperti Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, dan Azerbaijan, atau sebagai minoritas seperti di negara-negara Asia Tenggara, seperti Thailand dan Singapura, serta negara Asia Selatan seperti Sri Langka.

6. Minoritas muslim yang tinggal di Tanzania, Uganda, Kenya, Ghana, Nigeria, dan Afrika Selatan.12

Penjelasan di atas memberikan gambaran nyata bahwa jumlah mereka sangat banyak, lebih-lebih diakumulasikan dengan jumlah kelompok minoritas lainnya. Karena itulah maka mereka perlu mendapatkan perhatian agar nasib mereka tidak senantiasa

11Bahkan untuk kategori yang kedua ini termasuk pula negara-negara muslim di mana masyarakat mayoritas muslimnya tidak bisa menikmati hak sebagaimana yang diberikan kepada minoritas non-muslim. Lihat, Salah Sultan, “Methodologi-cal Regulations for the Fiqh of Muslim Minorities”.

termarjinalkan dan hak-hak mereka tidak sering terlupakan. Maka pantas dan rasional ketika kelompok minoritas mendapatkan perhatian dunia, terutama dari kalangan pemerhati dan pejuang hak-hak asasi manusia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan aturan khusus tentang proteksi hak-hak minoritas yang harus menjadi rujukan setiap bangsa anggota PBB.13 Meskipun demikian, perdebatan tentang hak-hak minoritas ini berlanjut pula dalam kancah akademik dan belum menemukan titik akhir, karena permasalahan hak-hak minoritas juga masih berlanjut seiring dengan permasalahan politik kepentingan yang melingkupinya.

Kontroversi tentang hak-hak minoritas ini sesungguhnya berujung pada pencarian makna keadilan. Kymlicka, seorang teorisi politik liberal dan pejuang hak-hak minoritas terkemuka, dan teman-temannya, menyatakan bahwa hak-hak minoritas perlu dipertahankan. Pendekatan colour-blind liberalisme tradisional14 harus dilengkapi dengan pengakuan hak-hak minoritas untuk mempertahankan budaya, agama, atau identitasnya sehingga diperlukan takaran hukum dan perundangan khusus. Sementara itu, Barry menyatakan bahwa egalitarianisme liberal tidak mungkin membuka jalan teraplikasinya hak-hak minoritas seperti yang diadvokasi oleh para teorisi multikulturalisme, karena dengan memberikan hak-hak khusus pada kelompok minoritas berarti dengan sengaja membuat jurang pemisah dan pembeda antara mereka dan kelompok mayoritas. Maka muncullah pendapat ketiga oleh Patrick Loobuyck yang mencoba menengahi dua pendapat

13Kovenan PBB tentang perlindungan hak minoritas (ICCPR) ayat 27 menyatakan: “In those states in which ethnic, religious or linguistic minorities exist, persons belonging to such minorities should not be denied the right, in community with the other members of their group, or enjoy their culture, to profess and practice their own religion, or to use their own language.”

14Pendekatan ini disebut pendekatan colour–blind atau buta warna karena meniscayakan kesamaan perlakuan terhadap semua manusia tanpa memandang warna kulitnya.

Fiqh Minoritas di atas, yaitu yang disebut multicultural measures (ukuran-ukuran multikultural), yang didefinisikannya sebagai “an exceptional,

temporary measure directed toward a specific cultural, ethnic or religious group to give more substance to the concept of equal opportunity” (ukuran sementara yang bersifat eksepsional yang

ditujukan pada kelompok budaya, etnis atau agama tertentu untuk memberikan substansi yang lebih pada konsep kesempatan yang sama). Dengan demikian, perbedaan perlakuan bukanlah sebagai akibat dari pengakuan hak-hak khusus kelompok minoritas, melainkan sebagai hasil dari penerapan praktis pengakuan hak-hak kewarganegaraan individual dan liberal.15

B. Masyarakat Minoritas Muslim di Barat: Sketsa