BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Mata
2.2.3 Keluhan Kesehatan Mata
2.2.3.4 Mata Kering
Keluhan mata kering bisa terjadi karena peningkatan penguapan air mata dan berkurangnya sekresi air mata. Kedua hal tersebut diakibatkan oleh kebutuhan untuk dapat memusatkan penglihatan pada suatu objek atau cahaya pada monitor.
Mata kering merupakan salah satu kondisi yang sering memicu terjadinya mata
pedih hal ini dikarenakan kurangnya cairan pada mata. Keadaan ini diperberat oleh beberapa faktor antara lain seperti penggunaan air conditioner (AC) atau alat pemanas sentral yang akan mengalirkan udara kering dengan aliran cepat, pencahayaan ruangan dengan tingkat iluminasi tinggi sehingga terjadi kontras yang berlebihan antara monitor dengan lingkungan kerja yang dapat mengganggu fungsi akomodasi dan berakibat pada ketidaknyamanan terhadap mata, dan monitor komputer yang diposisikan lebih tinggi dari ketinggian horizontal mata menyebabkan area permukaan mata yang terpajan oleh lingkungan menjadi lebih luas (Affandi, 2005).
Keluhan mata kering dapat ditmukan pada usia lanjut, alergi, keracunan obat, kinjungtivitis, sindrom sjorgen dan steven johnson (Ilyas, 2014).
2.2.3.5 Mata Merah
Mata merah merupakan kondisi dimana terjadi kemerahan dan peradangan dari selaput-selaput (conjuctiva) yang menutupi putih-putih dari mata-mata dan selaput-selaput pada bagian dalam dari kelopak-kelopak mata. Membran-membran atau selaput-selaput ini bereaksi pada suatu batasan yang luas dari bakteri-bakteri, virus-virus, agen-agen yang memprovokasi alergi, pengganggu-pengganggu (irritants), dan agen-agen racun, begitu juga pada penyakit yang mendasarinya dalam tubuh (Ilyas, 2014).
Mata akan terlihat merah apabila bagian putih mata atau sklera yang ditutup konjungtiva menjadi merah. Pada mata normal, sklera terlihat berwarna putih karena sklera dapat terlihat melalui konjungtiva yang tembus sinar dan kapsul tenon. Hiperemia konjungtiva terjadi akibat bertambahnya asupan pembuluh
darah ataupun berkurangnya pengeluaran darah seperti pada pembendungan pembuluh dara (Ilyas, 2014).
Mata terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva, yang terjadi pada peradangan mata akut misalnya konjungtivitis, keratitis, dan iridosiklitis atau pecahnya pembuluh darah. Pada keratitis maka pleksus arteri konjungtivitas permukaan melebar, sedang pembuluh darah arteri perikornea yang lebih dalam akan melebar pada iritis dan glaukoma akut kongestif. Pada konjungtivitis dimana pembuluh darah superfisial yang melebar. Maka bila diberi epinefrin topikal akan terjadi vasokontriksi sehingga mata akan putih.
Pada konjungtiva terdapat pembuluh darah :
1. Arteri konjungtiva posterior memperdarahi konjungtiva bulbi
2. Arteri siliar interior atau episklera yang memberikan cabang : arteri episklera masuk kedalam bola mata dan dengan arteri siliar posterior, longus bergabung membentuk arteri sirkular mayor atau pleksus, siliar yang akan memperdarahi iris dan badan siliar arteri episklera yang terletak di atas sklera, merupakan bagian arteri siliar anterior yang memberikan perdarahan ke dallam bola mata.
Arteri perikornea yang memperdarahi kornea.
Bila terjadi pelebaran pembuluh-pembuluh darah di atas maka akan terjadi mata merah. Selain dari pada pelebaran pembuluh darah, mata merah dapat juga terjadi akibat pecahnya salah satu dari kedua pembuluh darah di atas dan darah tertimbun dibawah jaringan konjungtiva (hematoma subkonjungtiva). Melebarnya pembuluh darah konjungtiva atau injeksi konjungtiva ini dapat terjadi akibat
pengaruh mekanis, alergi, mata kering (dry eyes), kurang tidur, iritasi akibat klorida, asap dan benda asing, ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva.
Mata merah yang disebabkan injeksi siliar atau injeksi konjungtival dapat memberikan gejala bersama-sama dengan keluhan dan gejala lain berikut :
1. Penglihatan menurun
2. Terdapat atau tidak terdapatnya sekret
3. Terdapatnya peningkatan bola mata pada keadaaan mata merah tertentu sehingga diperlukan pemeriksaan tekanan bola mata. Umumnya pada mata merah terdapat beberapa kemungkinan penyebab seperti konjungtivis akut, iritis akut, keratitis, tukak kornea, skleritis, episkleritis, glaukoma akut,
endoftalmitis, dan panoftalmitis (Ilyas, 2014).
2.2.3.6 Mata Gatal
Akibat dari mata gatal dikarenakan adanya infeksi bakteri atau virus yang membuat mata meradang. Mata gatal sering disebabkan oleh infeksi virus. Faktor penyebab lainnya adalah adanya rosacea, yaitu kondisi kulit yang berakibat mata menjadi gatal. Penyebab lainnya termasuk defisiensi vitamin B2 (riboflavin), yang sering menyebabkan mata gatal. Mata gatal merupakan keluhan yang sering ditemukan pada kelainan mata. Keluhan ini didapatkan pada blefaritis, konjungtivitis, keratitis, skleretis, trauma mata, benda asing pada mata, mata kering, trikiasis, enteropion, lagoftalmos dan pada setiap keadaan dengan kelainan konjungtiva seperti radang, alergi, jaringan ikat, kalazion, dan terkena benda asing (Ilyas, 2014).
2.2.3.7 Penglihatan Kabur
Penglihatan kabur terjadi bila mata tidak dapat memfokuskan objek penglihatan secara tepat di retina sehingga tidak terbentuk bayangan yang jelas.
Penglihatan kabur disebabkan oleh kelainan refraksi seperti hipermetropia, miopia, dan astigmatisma, selain itu bisa disebabkan oleh kacamata. Suatu keadaan yang disebut dengan presbiopia juga berkaitan dengan timbulnya keluhan penglihatan kabur. Faktor lingkungan kerja dapat berpengaruh pula terhadap timbulnya keluhan ini, yaitu layar monitor yang kotor, sudut penglihatan yang kurang baik, adanya refleksi cahaya yang menyilaukan atau monitor komputer yang berkualitas buruk atau rusak (Affandi, 2005).
2.2.4 Durasi Penggunaan Komputer Pada Mata
Menurut Lasabon (2013) waktu kerja seseorang menentukan kesehatanyang bersangkutan, efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerjanya. Aspek penting dalam hal waktu kerja meliputi :
1. Lamanya seseorang mampu bekerja dengan baik.
2. Hubungan antara waktu kerja dan istirahat.
3. Waktu bekerja sehari menurut periode waktu yang meliputi siang hari (pagi,siang, sore) dan malam hari.
The University of North Carolina at Asheville yang dikutip Hanum (2008) mengelompokkan beban kerja pekerja komputer atas dasar lama waktu kerja sebagai berikut :
1. Pekerja komputer dengan beban kerja berat adalah pekerja dengan lama waktu kerja 4 jam sehari secara terus–menerus.
2. Pekerja komputer dengan beban kerja sedang adalah pekerja dengan lama waktu kerja antara 2–4 jam sehari secara terus–menerus.
3. Pekerja komputer dengan beban kerja ringan adalah pekerja dengan lama waktu kerja kurang dari 2 jam sehari secara terus–menerus.
Computer Vision Syndrome (CVS) dapat muncul segera setelah pemakaian komputer dalam jangka waktu lama atau lebih dari 4 jam. Berbagai gejala yang timbul pada pekerja komputer yang bekerja dalam waktu lama selain diakibatkan oleh cahaya yang masuk ke mata, juga diakibatkan karena mata seorang pekerja komputer berkedip lebih sedikit dibandingkan pekerja mata normal pekerja biasa sehingga menyebabkan mata menjadi kering dan terasa panas.
2.2.5 Istirahat Mata
Setelah bekerja dengan komputer perlu mengistirahatkan mata sejenak dengan melihat pemandangan yang dapat menyejukkan mata secara periodik (Santoso, 2009).
Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yang dikutip Murtopo dan Sarimurni (2005) perlu dilakukan istirahat selama 15 menit terhadap pemakaian komputer setelah 2 jam. Frekuensi istirahat yang teratur berguna untuk memotong rantai kelelahan sehingga akan menambah kenyamanan bagi pengguna komputer. Selain itu, pekerja yang melakukan istirahat 5 menit selama 4 kali sepanjang waktu bekerja dapat mengurangi keluhan kelelahan mata.
Menurut Nourmayanti (2009) ada tiga jenis istirahat bagi pengguna komputer, diantaranya:
1. Micro break, yaitu mengistirahatkan mata selama 10 detik setiap 10 menit bekerja, dengan cara melihat jauh (minimal 6 meter) diikuti dengan mengedipkan mata secara relaks.
2. Mini break, yaitu mengistirahatkan mata selama 5 menit setiap setengah jam dengan cara berdiri dan melakukan peregangan tubuh. Selain itu, lakukan juga melihat jauh dengan objek yang berbeda-beda.
3. Maxi break, yaitu mengistirahatkan mata dengan melakukan kegiatan seperti jalan-jalan, bangun dari tempat kerja, minum kopi atau teh dan makan siang.
2.2.6 Jarak Layar Monitor ke Mata
Jarak layar monitor yang terlalu dekat dapat mengakibatkan mata menjadi tegang, cepat lelah dan potensi ganggguan penglihatan (Hanum, 2008).
Apabila seseorang bekerja melihat objek bercahaya di atas dasar berwarna pada jarak dekat secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu mengakibatkan mata harus berakomodasi dalam jangka waktu yang lama sehingga terjadi penurunan daya akomodasi mata (Roestijawati, 2007).
Menurut Occupational Safety and Health Association (OSHA) pada saat menggunakan komputer jarak antara mata pekerja dengan layar sekurang-kurangnya adalah 20-40 inch atau sekitar 50 cm (Maryamah, 2011).
2.3 Kerangka Konsep Penelitian
Intensitas Cahaya
Keluhan Mata
Karakteristik Pengguna Game Online - Usia
- Jenis kelamin - Pendidikan - lama waktu penggunaan komputer
- Jarak pandang ke layar komputer - Istirahat saat
menggunakan komputer
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu untuk mengetahui analisis tentang intensitas cahaya dan karakteristik responden serta keluhan mata pada pengguna game online di Kecamatan Medan Tembung Tahun 2017.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lima warnet game online yang ada di Kecamatan Medan Tembung Kelurahan Indrakasih dengan alasan :
1. Belum pernah dilakukannya penelitian tentang pengaruh intensitas cahaya terhadap keluhan kesehatan mata pada pengguna game online di Kecamatan Medan Tembung tahun 2017.
2. Adanya kemudahan dan dukungan dari pihak penjaga warnet untuk melakukan penelitian.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari - April 2017 3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Terdapat lebih kurang tiga puluh game online yang ada di Kecamatan Medan Tembung. Berdasarkan pertimbangan kondisi pencahayaan, peneliti
Medan Tembung ada lima warnet game online yang pencahayaannya kurang.
Total populasi sebanyak 85 orang pada lima warnet yang berbeda.
3.3.2 Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus menurut Notoatmodjo (2005), sebagai berikut :
Keterangan :
n = Besar sampel d = Proporsi kejadian N= Besar populasi
Maka besar sampel yang akan diteliti adalah :
Dengan menggunakan rumus tersebut, jumlah sampel yang akan diteliti adalah 45 orang di lima warnet yang berbeda, maka dalam satu warnet banyaknya sampel yang akan diteliti adalah 9 orang.
3.3.2.1 Cara Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel memakai accidental sampling yang dilakukan berdasarkan kebetulan, yakni siapa saja individu yang ditemui yang sedang menggunakan komputer game online di warnet dengan kriteria:
a. Bermain game online secara berulang (langganan) di warnet dengan waktu bermain ≥ 2 jam dalam sehari
b. Tidak memilki kelainan mata 3.4 Pengumpulan Data
3.4.1 Metode
Melakukan pengukuran intensitas cahaya pada pekerja pengguna game online oleh peneliti menggunakan alat Luxmeter dan wawancara menggunakan kusioner.
3.4.2 Sumber Data
Sumber data diperoleh secara primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pengukuran intensitas cahaya, serta wawancara dengan menggunakan kusioner. Data sekunder diperoleh dari Kecamatan Medan Tembung dan Kelurahan Indrakasih mengenai gambaran umum wilayah dan kependudukan.
3.5 Definisi Operasional
1. Intensitas cahaya kurang adalah tingkat pencahayaan di meja pengguna game online yang diukur dengan lux meter dimana cahaya < 300 lux
2. Intensitas cahaya cukup adalah tingkat pencahayaan di meja pengguna game online yang diukur dengan lux meter dimana cahaya ruangan ≥ 300 lux.
3. Usia adalah lamanya waktu perjalanan hidup responden yang dihitung sejak ia lahir sampai pada saat pelaksanaan wawancara yang dinyatakan dalam satuan tahun berdasarkan pernyataan lisan dari responden.
4. Jenis kelamin adalah ciri dari mahluk hidup yang membedakan jenis mahluk hidup tersebut. Dikategorikan atas laki-laki dan perempuan.
5. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang pernah diselesaikan atau yang sedang dijalani oleh responden. Dikategorikan atas SD, SLTP, SLTA, dan Mahasiswa.
6. Lama waktu penggunaan komputer adalah lama waktu yang digunakan pengguna komputer di warnet selama sehari dengan satuan jam.
7. Jarak pandang ke layar monitor adalah jarak antara monitor komputer dengan mata pengguna komputer diukur dengan satuan cm.
8. Istirahat adalah waktu yang digunakan oleh pengguna game online untuk mengistirahatkan mata dan tubuh atau berhenti sejenak dalam bermain game online.
3. 6 Cara Kerja
Pengukuran besarnya intensitas pencahayaan dilakukan dengan menggunakan alat Luxmeter. Pengukuran pencahayaan dilakukan secara lokal.
Pencahayaan lokal diukur pada titik yang telah ditentukan yaitu pengukuran dilakukan di tempat kerja atau meja kerja pada objek yang dilihat oleh pengguna (SNI 16-7062-2004 tentang Pengukuran Intensitas Penerangan di Tempat Kerja).
1. Tahap Persiapan
Dalam penelitian pengukuran dilakukan oleh peneliti. Alat dihidupkan dengan cara membuka bagian penutup Luxmeter.
2. Tata cara
a. Hidupkan Luxmeter yang telah dikalibrasi dengan membuka penutup sensor.
b. Bawa alat ke tempat titik pengukuran yang telah ditentukan, untuk pengukuran intensitas penerangan lokal.
c. Baca hasil pengukuran pada layar luxmeter setelah menunggu beberapa saat sehingga didapat nilai angka yang stabil. Setelah melakukan pengukuran pada satu titik, tutup sensor untuk mengembalikan ke angka nol. Setelah angka dilayar telah menunjukan angka nol, lakukan pengukuran pada titik lainnya.
d. Catat hasil pengukuran pada lembar hasil
f. Matikan luxmeter setelah selesai dilakukan pengukuran.
3.7 Aspek Pengukuran
Aspek pengukuran adalah mengukur intensitas pencahayaan dan keluhan kesehatan mata pada pengguna game online. Untuk dapat mengetahuinya dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat luxmeter oleh peneliti di lima warnet yang berbeda dengan jumlah titik pengkuran sesuai dengan jumlah sampel yaitu 45 titik yang diukur di meja pengguna game online, serta dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner.
3. 8 Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran akan diolah dan dianalisis secara dekskriptif, disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dinarasikan dengan studi kepustakaan yang relevan.
4.1 Gambaran Umum Kecamatan Medan Tembung 4.1.1 Geografi
Kecamatan Medan Tembung adalah salah satu kecamatan yang ada di Kota Medan. Luas wilayah Kecamatan Medan Tembung adalah 7,78 Km2. Secara administratif Kecamatan Medan Tembung terdiri dari 7 Kelurahan yaitu Kelurahan Indrkasih, Kelurahan Sidorejo Hilir, Kelurahan Sideorejo, Kelurahan Bantan Timur, Kelurahan Bandar Selamat, Kelurahan Bantan dan Kelurahan Tembung. Kelurahan Medan tembung terletak di wilayah Timur Kota Medan dengan batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara : Dengan Kabupaten Deli Serdang 2. Sebelah selatan : Dengan Kecamatan Medan Denai 3. Sebelah Barat : Dengan Kecamatan Medan Perjuangan 4. Sebelah Timur : Dengan Kabupaten Deli Serdang 4.1.2 Kependudukan
Jumlah pendudukan Kecamatan Medan Tembung pada tahun 2015 133.579 jiwa dimana jumlah penduduk bedasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 65.760 jiwa dan perempuan sebanyak 69.003 jiwa. Sebagian besar penduduk di kecamatan ini adalah suku-suku pendatang seperti: Tionghoa, Minang, Batak, Aceh dan Jawa sedangkan suku asli Suku Melayu Deli 40% saja.
Kelurahan Bantan memiliki jumlah penduduk yang relatif besar dibandingkan dengan Kelurahan lain yang ada di Kecamatan Medan Tembung yaitu sebanyak
29. 075 jiwa, kemudian Kelurahan Indrakasih sebanyak 21, Kelurahan Sidorejo Hilir 19.728 jiwa, Kelurahan Sidorejo 21.601 jiwa, Kelurahan Bantan Timur 20.494 jiwa, Kelurahan Bandar Selamat 18.212 jiwa, Kelurahan Tembung 10.772 jiwa.
Kelurahan Indrakasih memiliki luas wilayah 1, 49 Km2 dengan jumlah penduduk nomor dua terbanyak setelah Kelurahan Bantan. Komposisi mata pencaharian penduduk di Kelurahan Indrakasih adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebanyak 556 orang, Pegawai Swasta sebanyak 5.934 orang, ABRI sebanyak 243 dan Petani sebanyak 28 orang, pedagang sebanyak 512 orang, dan pensiunan sebanyak 93 orang.
4.2 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Medan Tembung di Kelurahan Indrakasih Medan. Jumlah warnet yang menjadi tempat penelitian adalah sebanyak 5 warnet. Bangunan dari kelima warnet yang diteliti adalah berupa rumah toko. Adapun kondisi fisik pada warnet A yaitu dengan luas ruangan kurang lebih 27 meter persegi. Bangunan merupakan bangunan permanen, bagian dinding terbuat dari tembok, bagian atap dibuat permanen dan memiliki plafon.
Untuk sirkulasi udara tidak terdapat jendela, sebuah kipas agin dan satu bola lampu. Ventilasi tedapat pada pintu ruko dengan luas >10% luas lantai.
Kondisi fisik pada warnet B yaitu dengan luas ruangan kurang lebih 10x4 meter persegi. Bangunan merupakan bangunan permanen, bagian dinding terbuat dari tembok, bagian atap dibuat permanen dan memiliki plafon. Untuk sirkulasi udara terdapat sebuah jendela, dan satu bola lampu. Ventilasi tedapat pada pintu
ruko dengan luas >10% luas lantai.. Hampir serupa dengan kondisi fisik pada warnet B, warnet C memiliki luas ruangan kurang lebih 10x3 meter persegi.
Bangunan merupakan banguna permanen, bagian dinding terbuat dari tembok, bagian atap dibuat permanen dan memiliki plafon. Untuk sirkulasi udara tidak terdapat sebuah jendela, dan satu bola lampu. Ventilasi tedapat pada pintu ruko dengan luas >10% luas lantai. Sedangkan untuk warnet D luas ruangan kurang lebih 8x3 meter persegi. Bangunan merupakan banguna permanen, bagian dinding terbuat dari tembok, bagian atap dibuat permanen dan memiliki plafon. Untuk sirkulasi udara terdapat sebuah jendela, dan satu bola lampu. Ventilasi tedapat pada pintu ruko dengan luas >10% luas lantai.
Pada warnet E luas ruangan kurang lebih 11x4 meter persegi. Bangunan juga merupakan banguna permanen, bagian dinding terbuat dari tembok, bagian atap dibuat permanen dan memiliki plafon. Untuk sirkulasi udara tidak terdapat sebuah jendela, dan satu bola lampu. Ventilasi tedapat pada pintu ruko dengan luas >10% luas lantai.
4.3 Hasil Penelitian
Observasi yang dilakukan terhadap 45 pengguna game online di Kecamatan Medan tembung adalah untuk mengukur intensitas cahaya dan karakteristik responden serta keluhan mata dengan menggunakan alat Luxmeter sebagai pengukur intensitas cahaya dan keluhan mata dengan wawancara menggunakan kuesioner.
4.3.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden dilakukan dengan pengumpulan data menggunakan kusioner dengan hasil sebagai berikut :
a. Usia, Jenis Kelamin dan Pendidikan, Lama Penggunaan Komputer, Jarak Pandang ke Layar Monitor, dan Istirahat Menggunakan Komputer.
Usia, Pendidikan Lama Penggunaan Komputer, Jarak Pandang ke Layar Monitor, dan Istirahat Menggunakan Komputer pada responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Usia, Pendidikan, Lama Penggunaan Komputer, Jarak Pandang ke Layar Monitor, dan Istirahat Menggunakan Komputer pada Pengguna Game Online di Kecamatan Medan Tembung Tahun 2017
Dari tabel 4.1 distribusi responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa responden terbanyak adalah pada kelompok usia 21-25 tahun yaitu sebanyak 20 responden (44,5%). Distribusi responden berdasarkan Jenis kelamin responden, semua responden adalah laki-laki. Distribusi responden berdasarkan pendidikan terbanyak adalah pada mahasiswa terbanyak sebanyak 20 responden (44,5%),
Dari tabel 4.1 juga dapat diketahui bahwa berdasarkan karakteristik responden menurut lama waktu penggunaan komputer yang paling banyak yaitu >
4 jam sebanyak 41 responden (91,2%). Berdasarkan karakteristik responden menurut jarak pandang ke layar monitor yang paling banyak yaitu < 50 cm yaitu sebanyak 39 responden (86,7%)
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui karakteristik responden menurut isitrahat yang dilakukan oleh responden, responden yang melakukan istirahat mata sebanyak 11 responden (24,4%) dan frekuensi istirahat yang dilakukan responden yaitu < 15 menit setiap 2 jam.
4.3.2 Intensitas Cahaya
Hasil pengukuran yang dilakukan pada pengguna game online berulang di Kecamatan Medan Tembung Tahun 2017 berdasarkan tingkat intensitas cahaya dengan standar intensitas cahaya yang memenuhi syarat adalah ≥ 300 lux pada ruang administrasi atau komputer.
Distribusi responden berdasarkan intensitas cahaya pada pengguna game onlien di Kecamatan Medan Tembung tahun 2017 seluruhnya adalah tidak memenuhi syarat kesehatan.
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Titik Pengukuran Intensitas Cahaya (Lux) pada Pengguna Game Online di Kecamatan Medan Tembung Tahun 2017
Warnet A Warnet B Warnet C Warnet D Wanet E
Rerata 53,3 55,6 44,4 40 52,2
Standar deviasi 19,36 19,43 8,81 8,66 21,08
Minimum 30 30 30 30 30
Maksimum 90 90 60 50 80
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa intensitas cahaya yang tertinggi pada Warnet A yaitu sebesar 90 lux dengan rerata intensitas cahaya sebesar 53,3 lux. Intensitas cahaya yang tertinggi pada warnet B sebesar 90 lux dengan rerata intensitas cahaya sebesar 55,6 lux. Intensitas cahaya yang tertinggi pada warnet C yaitu sebesar 60 lux dengan rerata intensitas cahaya sebesar 44,4 lux.
Intensitas cahaya yang tertinggi di warnet D yaitu sebesar 50 lux dengan rerata intensitas cahaya sebesar 40 lux. Intensitas cahaya yang tertinggi di warnet E yaitu sebesar 80 lux dengan rerata intensitas cahaya sebesar 52,2 lux.
4.3.3 Keluhan Mata Responden
Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat keluhan mata pada pengguna game online berulang di Kecamatan Medan Tembung tahun 2017.
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan Mata dengan Intensitas Cahaya < 300 Lux pada Pengguna Game Online di Kecamatan Medan Tembung Tahun 2017
Keluhan Ada Tidak Ada Total
n % n % n %
Mata Merah 29 64,4% 16 35,6% 45 100%
Mata Berair 31 68,9% 14 31,1% 45 100%
Mata Pedih 38 84,4% 7 15,6% 45 100%
Mata Kering 25 55,6% 20 44,4% 45 100%
Penglihatan Kabur 29 64,4% 16 35,6% 45 100%
Sakit Kepala 26 57,8% 19 42,2% 45 100%
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa distribusi responden berdasarkan keluhan mata dapat diketahui bahwa responden yang mengalami mata merah yaitu 29 responden (64,4%), responden yang mengalami mata berair yaitu sebanyak 31 responden (68,9%), responden yang mengalami mata pedih yaitu 38 responden (84,4%) Responden yang mengalami mata kering yaitu sebanyak 25 responden (55,6%), responden yang mengalami penglihatan kabur yaitu 29 responden (64,4%), responden yang mengalami keluhan sakit kepala yaitu 26 responden (57,8%). Berdasarkan tabel di atas maka diketahui bahwa seluruh responden mengalami keluhan mata dengan keluhan mata tebanyak adalah mata pedih.
Tabel 4.4 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Mata Merah mengalami mata merah adalah 21-25 tahun yaitu sebanyak 14 responden (31,3%), dan yang mengalami mata merah paling sedikit yaitu pada kelompok umur 10-15 tahun yaitu sebanyak 3 responden (6,7%).
Tabel 4.5 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Mata Berair mengalami mata berair adalah 16-20 tahun yaitu sebanyak 14 responden (31,3%), dan yang mengalami mata berair paling sedikit yaitu pada kelompok umur 10-15 tahun yaitu 5 responden (11,1%).
Tabel 4.6 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Mata Pedih mengalami mata pedih adalah 16-20 tahun yaitu sebanyak 17 responden (37,8%), dan yang paling sedikit mengalami mata pedih yaitu pada kelompok umur 10-15 tahun sebanyak 6 responden (13,3%).
Tabel 4.7 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Mata Kering pada Pengguna Game Online mengalami mata kering adalah 16-20 tahun yaitu sebanyak 12 responden (26,7%), dan yang mengalami mata kering paling sedikit yaitu pada kelompok umur 10-15
Tabel 4.7 Tabulasi Silang Umur Responden dengan Keluhan Mata Kering pada Pengguna Game Online mengalami mata kering adalah 16-20 tahun yaitu sebanyak 12 responden (26,7%), dan yang mengalami mata kering paling sedikit yaitu pada kelompok umur 10-15