Dalam USAID (2014:45) Big Book adalah buku bacaan yang memiliki ukuran, tulisan, dan gambar yang besar. Ukuran Big Book bisa beragam, misalnya ukuran A3, A4, A5, atau seukuran koran. Ukuran Big Book harus mempertimbangkan segi keterbacaan seluruh siswa di kelas, Hal itu sejalan dengan pendapat Colville-Hall &
O’Connor (2006:488) yang mengemukakan bahwa Big Book merupakan buku yang berukuran bersar dengan teks cetak dan ilustrasi yang memiliki visualisasi tinggi untuk siswa sebagaimana guru membacakan buku tersebut kepada seluruh siswa di kelas. Lynch (2008:1) menyatakan bahwa Big Book dapat digunakan untuk mencapai
34
tujuan pembelajaran. Banyak literasi siswa yang baik digunakan untuk membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan membaca. Big Book dapat digunakan untuk memotivasi siswa dalam belajar serta memberikan efek positif kepada siswa karena dengan buku yang di cetak besar dan ilustrasi yang berwarna-warni memungkinkan siswa untuk tertarik dalam pembelajaran. Big Book dapat digunakan di kelas awal karena memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru dapat memilih Big Book yang isi cerita dan topiknya sesuai dengan minat siswa atau sesuai dengan tema pelajaran. Bahkan, guru dapat membuat sendiri Big Book sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa .
Curtain dan Dahlberg (USAID, 2014:46) menyatakan bahwa Big Book memungkinkan siswa belajar membaca melalui cara mengingat dan mengulang bacaan. Banyak ahli pendidikan yang menyatakan bahwa Big Book sangat baik dipergunakan di kelas awal karena dapat membantu meningkatkan minat siswa dalam membaca.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Big Book merupakan media pembelajaran yang berupa buku cetak besar yang mempunyai karakteristik sesuai dengan siswa kelas awal dan dapat mendukung pembelajaran di kelas khususnya dalam keterampilan membaca. Dalam penelitian ini Big Book digunakan dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman.
35 2. Ciri-ciri Big Book
Menurut Karges (Harimurti, 2010:4) mengatakan bahwa Big Book adalah buku
bergambar yang dipilih untuk dibesarkan karena memiliki “kualitas khusus”. Kualitas
khusus menurut Deni (Harimurti, 2010:4) adalah :
a) melibatkan ketertarikan anak dengan cepat karena gambar yang dimilikinya, b) mengandung irama yang menarik,
c) memiliki gambar yang besar, d) ada tulisan yang diulang-ulang, e) alur ceritanya sederhana dan jells, dan f) sering memasukkan unsur humor.
Sedangkan menurut Karges-Bone (USAID, 2014:46) menyebutkan ciri-ciri Big Book yaitu:
a. cerita singkat antara 10 sampai 15 halaman, b. pola kalimat jelas,
c. gambar memiliki makna,
d. jenis atau ukuran jelas terbaca, dan e. jalan cerita mudah dipahami.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Oktavia, dkk. (2016:5) yang menyebutkan bahwa media Big Book didesain dengan menarik dan membuat siswa melakukan aktivitas yang interktif dan menyenangkan karena di dalam Big Book terdapat gambar yang bermakna serta kosakata dan atau penggalan-penggalan cerita untuk diajarkan kepada siswa.
36
Dari beberapa pendapat tersebut media pembelajaran Big Book mempunyai ciri-ciri yang membuat pembelajaran siswa menarik dan menyenangkan karena terdapat gambar yang bermakna serta penggalan kosakata dan atau penggalan cerita yang menari serta berukuran besar sehingga dapat digunakan dalam kelas secara klasikal. 2. Tujuan Big Book
Dalam buku sumber dosen LPTK menyebutkan bahwa penggunaan Big Book dalam membantu pembelajaran membaca memiliki tujuan diantaranya yaitu :
a. memberi pengalaman membaca,
b. membantu siswa untuk memahami buku,
c. mengenalkan berbagai jenis bahan membaca kepada siswa, d. memberi peluang kepada guru memberi contoh bacaan yang baik, e. melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran,
f. menyediakan contoh teks yang baik untuk digunakan oleh siswa, dan g. menggali informasi.
Menurut Rosmaini mengatakan bahwa Big Book dirancang untuk satu tema cerita tersendiri bahwa setiap cerita memiliki makna dan tujuan. Tujannya yaitu agar siswa mendapatkan makna bacaan dari cerita yang dilengkapi gambar yang setiap gambar yang dibuat berwarna dan bentuk gambar menarik (Kompasiana, 2015). Sedangkan menurut Lynch (2013:1) menyebutkan tujuan dari penggunaan Big Book yaitu untuk memberikan pengalaman membaca siswa melalui model buku yang sesuai dengan kelas awal, untuk memberikan cerita dalam kelas dan melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran sehingga siswa mempunyai kepercayaan diri dalam membaca.
37
Berdasarkan beberapa penjelas di atas tujuan media pembelajaran Big Book pada dasarnya untuk lebih mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran dan memfasilitasi siswa dalam memahami bahan ajar sehingga tujuan dari pembelajaran juga tercapai dengan adanya media ini.
3. Keistimewaan Big Book
Dengan ukurannya yang besar dan gambar yang menarik, Big Book memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya adalah berikut ini.
a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam kegiatan membaca secara bersama-sama.
b. Memungkinkan semua siswa melihat tulisan yang sama ketika guru membacakan tulisan tersebut.
c. Memungkinkan siswa secara bersama-sama dalam memberi makna pada setiap tulisan yang ada dalam Big Book.
d. Memberikan kesempatan kepada siswa yang lambat membaca untuk mengenali tulisan dengan bantuan guru dan teman-teman lainnya.
e. Disukai oleh siswa, termasuk siswa yang terlambat membaca. Dengan membaca Big Book secara bersama-sama, timbul keberanian dan keyakinan dalam diri siswa
bahwa mereka “sudah bisa” membaca.
f. Mengembangkan semua aspek kebahasaan.
g. Dapat diselingi percakapan yang relevan mengenai isi cerita bersama siswa sehingga topik bacaan semakin berkembang sesuai pengalaman dan imajinasi siswa.
38
Nambiar, (1993:5) memaparkan beberapa keuntungan menggunakan Big Book yaitu sebagai berikut.
a. Big Book berukuran besar, sehingga siswa dapat melihat gambar jalannya cerita dengan jelas, seperti saat membaca buku sendiri. Hal tersebut membuat siswa tertarik. b. Big Book membuat siswa menjadi lebih fokus terhadap bahan bacaan dan juga guru. Biasanya jika guru menggunakan buku biasa, siswa akan asyik bermain sendiri. Namun, dengan Big Book siswa akan tertarik dan mau mendengarkan cerita dari guru.
c. Big Book membuat siswa lebih mengerti dan memahami isi cerita dalam Big Book daripada buku bacaan biasa karena kata-kata yang terdapat dalam Big Book merupakan kata-kata sederhana. Siswa dapat mengikuti setiap kata yang diucapkan oleh guru dan mengetahui bagaimana penulisannya.
d. Big Book memfasilitasi siswa seakan-akan melihat langsung cerita yang dibacakan guru. Siswa dapat merasakan jalannya cerita, dan
e. Big Book merupakan hal baru yang akan membuat siswa tertarik dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap apa yang ada di dalamnya. Sehingga siswa menjadi lebih antusias dalam pembelajaran.
Big Book merupakan buku cerita yang berkarakteristik khusus yang dibesarkan baik teks maupun gambarnya sehingga memungkinkan terjadinya kegiatan membaca bersama antara guru dan murid. Big book dapat melibatkan ketertarikan anak dengan cepat karena gambar yang dimilikinya, mengandung irama yang menarik bagi anak dan membuat tulisannya mudah diingat, memiliki gambar yang besar, ada tulisan
39
yang ulang, memuat kosakata yang direncanakan dan sebagian diulang-ulang, mempunyai plot dan alur cerita yang sederhana dan jelas, dan seringkali memasukkan unsur humor.
Dari beberapa pendapat tersebut media pembelajaran Big Book mempunyai karakteristik yang sesuai dengan minat siswa sehingga pembelajaran dalam kelas akan lebih bermakna dan dapat mencapai tujuan pembelajaran.
4. Langkah-langkah membuat Big Book
Pembuatan Big Book dapat dilakukan secara manual menggunakan alat yang sederhana, atau juga dapat dibuat dengan menggunakan teknologi komputer dengan menggunakan program atau sofware tertentu. Berikut ini langkah-langkah pembuatan Big Book yang dilakukan secara manual dan menggunakan alat yang sederhana. 1. Siapkan kertas minimal berukuran A3 sebanyak 8-10 halaman atau 10-15 halaman, spidol warna, lem, dan kertas HVS.
2. Tentukan sebuah topik cerita.
3. Kembangkan topik cerita menjadi cerita utuh dalam satu atau dua kalimat sesuai dengan level atau jenjang kelas. Tuliskan kalimat singkat di atas kertas HVS dengan cara: kertas HVS dipotong menjadi empat bagian memanjang, tulis menggunakan spidol besar (spidol whiteboard) setiap kalimat dengan ukuran yang sama di atas kertas berukuran 1/4 kertas HVS tersebut, tuliskan kalimat dengan huruf-huruf alfabetis yang tepat sesuai dengan kaidah. Tempelkan setiap kalimat tersebut di halaman yang sesuai dengan rencana awal.
40
4. Siapkan gambar ilustrasi untuk setiap halaman sesuai dengan isi cerita. Gambar ilustrasi dapat dibuat atau diambil dari sumber yang sudah ada.
5. Tentukan judul yang sesuai dengan Big Book. Tentukan pula gambar ilustrasi yang menarik dan sesuai dengan judul, dan tulislah nama penulisnya.
6. Ide cerita Big Book dapat diambil dari kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan siswa. Selain itu, isi Big Book juga dapat diambil dari informasi penting berisi pengetahuan, prosedur, atau jenis teks lainnya yang sesuai dengan tema di setiap kelas. Tema dapat diambil dari kurikulum SD/MI yang berlaku.
Dalam penelitian ini, media Big Book dibuat sendiri oleh peneliti dengan menggunakan teknologi computer dengan program Corel Draw. Berikut ini langkah-langkah pembuatan Big Book dalam penelitian ini.
1. Menentukan tema yang sesuai dengan pembelajaran. Dalam penelitian ini mengambil tema Pertanian dan Kegemaran.
2. Mencari atau membuat cerita yang sesuai dengan tema yang sudah ditentukan. 3. Penggal kalimat cerita menjadi 8 sampai 10 halaman.
4. Cari animasi atau gambar yang sesuai dengan cerita pada tiap halamannya.
5. Gambar animasi yang sesuai dengan cerita pada kertas HVS biasa kemuadian tebalkan dengan spidol.
6. Scan gambar agar lebih jelas jika dimasukkan dalam program Corel Draw. 7. Gambar ulang gambar animasi yang sudah discan.
41
9. Letakkan gambar animasi dan teks kalimat dalam satu halaman kemudian exsport agar gambar dan teks menyatu.
10. Ubah lembar menjadi ukuran A3 kemudian urutkan dari awal cerita sampai akhir cerita.
11. Print gambar kemudian urutkan gambar dan spiral membentuk buku. E. Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Dalam upaya mendidik atau membimbing anak, agar mereka dapat mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin, maka bagi para pendidik, orang tua, atau siapa saja yang berpentingan dalam mendidik anak, perlu untuk memahami perkembangan anak. Menurut Yusuf (2001:12) memahami perkembangan anak sangat penting karena alasan berikut ini :
1. masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan,
2. pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya,
3. pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri, dan memecahkan masalah yang dihadapinya, dan
4. melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi peerkembangan tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Yusuf (2001:178-184) menyebutkan fase perkembangan anak usia sekolah dasar sebagai berikut.
42 1. Perkembangan Intelektual
Anak pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung). Pada usia SD daya pikir anak sudah berkembang ke arah berpikir konkret dan rasional. Tugas guru untuk mengembangkan kemampuan anak, maka guru seharusnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar pendapatnya tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan guru, membuat karangan, menyusun laporan.
2. Perkembangan Bahasa
Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai pembendaharaan kata. Siswa menguasai keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan/ petualangan, riwayat para pahlawan).
3. Perkembangan Emosi
Emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan. Emosi merupakan faktor dominan yang mempengruhi tingkah laku individu termasuk perilaku belajar. Upaya dalam menciptkan suasana belajar yang menyenangkan untuk siswa perlu dilakukan, antara lain: a) mengembangkan iklim kelas bebas dari
43
ketegangan, b) memperlakukan siswa sebagai individu yang mempunyai harga diri, c) memberikan nilai objektif, dan d) menghargai hasil karya siswa.
4. Perkembangan Moral
Anak pada usia sekolah dasar sudah dapat mengkuti peraturan atau tuntutan dari orangtua atau lingkungan sosialnya. Anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Misalnya, siswa memandang atau menilai bahwa perbuata nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orangtua merupakan suatu yang salah atau buruk.
5. Perkembangan Motorik
Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, mengetik, berenang, main bola, dan atletik.
Untuk masa sekolah dasar sering disebut masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Menurut Yusuf (2001:24) masa ini diperinci menjadi dua fase.
1. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, sekitar usia 6 atau 7 tahun sampai 9 atau 10 tahun. Beberapa sifat anak-anak pada masa ini antara lain seperti berikut:
a) adanya hubungan positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi, b) sikap tunduk pada peraturan-peraturan permainan tradisional,
c) adanya kecenderungan memuji diri sendiri,
44
e) apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting, dan
f) pada masa ini anak menghendaki nilai yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas.
2. Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira umur 9 atau 10 sampai umur 12 atau 13 tahun, beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini ialah :
a) adanya minat kecenderungan melakukan hal-hal praktis, b) rasa ingin tahu yang tinggi,
c) masih membutuhkan guru untuk mendampingi menyelesaikan tugas dan menghadapi tugas-tugasnya,
d) nilai sebagai ukuran yang tepat untuk prestasi di sekolah, dan
e) gemar membentuk kelompok sebaya dan menciptakan peraturan sendiri dalam bermain.
Piaget ( Jahja, 2011:57) mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat bagian.
1. Tahap sensory-motor, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada anak usia 0 sampai 2 tahun. Pada perkembangan ini anak hanya dapat mengetahui hal-hal yang dapat ditangkap dengan inderanya.
2. Tahap pre-operasional, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada anak usia 2 sampai 7 tahun. Pada perkembangan ini konsep stabil terbentuk dan dengan objek konkrit anak dapat memahami suatu objek.
45
3. Tahap concrete-operasional, yaitu perkembangan kognitif yang terjadi pada anak usia 7 sampai 11 tahun. Pada perkembangan ini sudah mulai mengetahui simbol-simbol matematis. Menurut Kuswana (2011 : 157) mengemukakan tahapan operasional konkrit mempunyai proses-proses penting yang penting dalam tahapan ini diantaranya:
a) pengurutan : kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuraran bentuk atau ciri lainnya,
b) klasifikasi : kemampuan untuk mengidentifikasi menurut karakteristiknya,
c) kelayakan : siswa mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya,
d) reversibility : siswa dapat mengetahui jumlah dari benda-benda dapat diubah dan dikembalikan,
e) konservasi : siswa dapat memahami bahwa kuantitas dan jumlah benta tidak dipengaruhi oleh pengaturan dan tampilan benda, dan
f) Penghilang sifat egosentrisme : kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, tetapi kemampuan penyesuaian diri terkendali.
4. Tahap formal-operational, yaitu perkembangan kognitif yang tejadi pada anak usia 11 sampai 15 tahun. Pada tahap ini mampu memikirkan yang abstrak dati bentu-bentuk yang lebih kompleks.
Dalam penelitian ini mengambil subjek siswa sekolah dasar kelas III sehingga berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak tersebut masuk ke dalam kategori siswa kelas rendah dengan rentang usia yang sesuai dengan tahap
46
operasional konkret dari piaget dimana siswa mampu memahami suatu objek dengan benda konkrit dan dalam segi keahasaan siswa mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dalam hal ini benda konkret yang digunakan yaitu media pembelajaran Big Book.