2.2 Front Pembela Islam (FPI)
2.2.4 Mekanisme Perjuangan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Sesuai dengan pola juang FPI, mekanisme perjuangan atau gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang diletakkan oleh organisasi antara lain :
1. Pengambilan keputusan berdasarkan syari’at Islam
2. Pelaksanaan keputusan dengan menempuh prosedur hukum formal negara terlebih dahulu
3. Penggunaan dan pemanfaatan kekuatan umat saat menemui jalan buntu
Sehubungan dengan mekanisme perjuangan di atas maka FPI membagi wilayah sasaran aksi amar ma’ruf nahi munkar menjadi dua:
1. Wilayah Aksi Amar Ma’ruf
Yaitu wilayah yang padat ma’siat dan didukung oleh masyarakat setempat atau setidaknya masyarakat tersebut tidak merasa terganggu dengan kema’siatan yang ada.
2. Wilayah Aksi Nahi Munkar
Yaitu wilayah yang padat ma’siat dan ditolak oleh masyarakat setempat atau setidaknya masyarakat tersebut sudah diresahkan dan diganggu oleh aktivitas kema’siatan yang ada.
Kemudian FPI memandang perlu untuk menggariskan Tertib Aksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dengan tetap memegang ketentuan: “mengedepankan kelembutan daripada ketegasan”.
1. Tertib Aksi Amar Ma’ruf
Allah SWT berfirman Q.S. 16. An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Berdasarkan ayat ini maka tertib amar m,a’ruf yang digariskan FPI adalah:
a. Berda’wah dengan hikmah (ilmu dan amal) b. Berda’wah dengan nasihat yang baik c. Berda’wah dengan dialog dan diskusi
2. Tertib Aksi Nahi Munkar Rasulullah SAW bersabda:
“barangsiapa di antara kamu melihat suatu kemunkaran maka hendaklah ia marubahnya dengan tangannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”.
Hadist tersebut menyadarkan kita bahwasanya perjuangan amar ma’ruf nahi munkar memiliki tiga kondisi: pertama, kondisi tangan yang harus bekerja. Kedua, kondisi lisan yang harus bicara. Ketiga, kondisi cukup hati yang bersikap.
Dari pemaparan hadits di atas pula bahwasanya tertib aksi nahi munkar yang digariskan FPI adalah:
a. Nahi munkar dengan tangan/tenaga/kekuatan/kekuasaan b. Nahi munkar dengan lisan
c. Nahi munkar dengan hati/sikap
Sejak awal pembentukannya, FPI telah meletakkan prosedur standar Gerakan Anti Ma’siat bagi Lasker FPI yaitu:”Dilarang Melanggar Hukum Agama dan Hukum Negara”. Kemudian disepakatilah Juklak Prosedur Standar Gerakan Anti Ma’siat bagi Laskar FPI sebagai berikut:
1. Prosedur menutup Tempat Maksiat ilegal (tanpa izin pemerintah) 2. Prosedur menutup Tempat Maksiat Legal (resmi dengan izin
pemerintah)
3. Prosedur Administratif
4. Prosedur internal menutup Tempat Maksiat 5. Larangan dalam Prosedur Standar
6. Prosedur membela diri 7. Sanksi pelanggaran prosedur 8. Prosedur menangani resiko aksi
9. Prosedur memenuhi permintaan umat dalam menutup Tempat Ma’siat 2.2.5 Tindakan Penertiban (Sweeping) Bentuk Aksi Nahi Munkar
Penegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) baik pada tingkatan pusat maupun cabang, khususnya FPI Cabang Kasemen bersumber dari Tertib Aksi Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar dengan tetap berpedoman “mengedepankan kelembutan daripada ketegasan”. Aksi Amar
Ma’ruf meliputi dakwah, majelis dzikir, majelis ilmu, dialog dan diskusi dengan masyarakat maupun aparatur Pemerintah.
Aksi nahi munkar meliputi demonstrasi, tindakan penertiban (sweeping) tempat maksiat legal maupun ilegal atas laporan masyarakat maupun rawan kejahatan yang didalamnya menjadi tempat praktek prostitusi, perjudian, Narkotika dan obat-obatan, minuman keras dan lain sebagainya. Salah satu bentuk aksi Nahi Munkar yang dilakukan oleh FPI Cabang Kasemen adalah melakukan penertiban (sweeping) tempat-tempat maksiat yang berkedok warung remang-remang (warem) dan lokalisasi prostitusi yang berada di kawasan Desa Dermayon Banten Lama.
Tindakan penertiban (sweeping) yang dilakukan FPI Cabang Kasemen pada tanggal 23 Desember 2015 tepatnya pukul 21.00 s.d 23.00 WIB yang berlokasi di kawasan Desa Dermayon Banten Lama dengan target penertiban adalah tempat maksiat berkedok warung remang-remang dan tempat prostitusi yang bersumber dari laporan keluhan dari masyarakat setempat. Tempat maksiat tersebut menjual aneka minuman keras, alat kontrasepsi dan lain sebagainya yang mendukung kegiatan prostitusi yang sangat meresahkan dan mengganggu kehidupan masyarakat di lingkungan sekitar.
Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, FPI Cabang Kasemen mengutus anggotanya yang bertugas sebagai informan untuk mencari tahu kebenaran atas laporan yang diterima dari masyarakat. Setelah dibuktikan kebenaran informasi tersebut barulah FPI Cabang Kasemen melakukan koordinasi dengan Tokoh Masyarakat setempat, aparatur Pemerintahan Desa, pihak
Kepolisian setempat dan Ormas keagamaan lainnya seperti Jamaah Anshorus Syariah (JAS) untuk meminta izin dan partisipasinya dalam proses penertiban yang akan dilakukan nantinya.
Pelaksanaan tindakan penertiban tempat maksiat tersebut melibatkan sebanyak kurang lebih 30 anggota FPI Cabang Kasemen dan sekitar 20 anggota masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar dan beberapa anggota dari ormas Jamaah Anshorus Syariah (JAS) yang turut berpartisipasi dalam proses penertiban tersebut. Setelah mendatangi tempat maksiat atau TKP, anggota FPI Cabang Kasemen melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti seperti minuman keras, alat kontrasepsi dan beberapa pelaku Pekerja Seks Komersial (PSK), setelah ditemukan barang bukti yang dicari kemudian sebagian barang bukti tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian dan sebagian lainnya dihancurkan di tempat tersebut. Selain itu, anggota FPI Cabang Kasemen memberikan himbauan dan membuat perjanjian secara lisan kepada pemilik tempat untuk tidak lagi menjual minuman keras serta menutup tempat prostitusi tersebut. Setelah proses penertiban selesai, seluruh anggota FPI Cabang Kasemen dan orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut meninggalkan tempat tersebut dengan tertib.
2.3 Tinjauan Persepsi