GAMBARAN KESEHATAN MASYARAKAT DUKUH WIDARA
3.2. Penyakit Menular
3.4.2. Melakukan Penimbangan Bayi dan Balita (Usia 0-59 bulan) bulan)
Berdasarkan Data profil Promkes Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon tahun 2013 didapatkan data menimbang bayi dan balita tahun 2013 di Desa Dukuh Widara adalah 473 (28,34 %).76Kegiatan Posyandu di Desa Dukuh Widara dilaksanakan setiap satu bulan sekali, dan sebagai penanggung jawab pelaksanaan kegiatan Posyandu adalah pamong desa (Kepala Dusun) dan kader. Tidak ada kriteria khusus dalam hal menentukan pemilihan kader di Desa Dukuh Widara, hanya bagi
76Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Profil Promosi Kesehatan 2013
mereka yang mau bekerja secara sukarela saja. Tempat Posyandu di wilayah di Desa Dukuh Widara masih bertempat di rumah-rumah penduduk, terutama di rumah-rumah tokoh masyarakat, misalkan dirumah pamong desa yaitu di rumah Kepala Dusun. Kegiatan Posyandu dilakukan setiap satu bulan sekali di setiap blok Desa Dukuh Widara (Blok Pahing, Blok Manis , Blok Wage, Blok Kliwon, dan Blok Pon ), dihadiri oleh tenaga kesehatan sebagai perwakilan dari Puskesmas Kalibuntu untuk memberikan pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang berpartisipasi adalah bidan desa, petugas imunisasi, dan gizi. Masyarakat Desa Dukuh Widara biasanya melakukan penimbangan bayi dan balita mereka di Posyandu atau Puskesmas. Jarak dekat dengan rumah menjadi alasan dalam pemilihan tempat Posyandu. Apabila Posyandu atau Puskesmas lebih dekat dengan rumah , maka mereka akan memilih salah satu tempat penimbangan tersebut untuk memeriksakan kesehatan dan perkembangan anak-anak mereka.
”Dibawa ke Posyandu, cuma pengen tau perkembangannya, beratnya berapa. Klo sakit ya ke Puskesmas atau ke bidan.”77
“Lebih dekat dan enak di Puskesmas” Ingin tau perkembangannya.”78
Tempat yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan Posyandu di Desa Dukuh Widara, hampir semuanya sudah terlihat cukup bersih dan cukup luas, karena tempat yang dipilih biasanya tempat tinggal tokoh masyarakat atau pamong desa. Kegiatan pelayanan yang dilakukan di Posyandu sudah sesuai dengan 5 kegiatan utama Posyandu yaitu Kesehatan Ibu dan
77Sumber: Wawancara dengan Dorikah 78Sumber: Wawancara dengan Khodijah
Anak, Imunisasi, Gizi, KB, Pencegahan dan penanggulangan diare79. Sasaran Posyandu adalah ibu hamil, ibu nifas, dan menyusui, bayi dan balita dan PUS (pasangan usia subur).
Imunisasi merupakan suatu upaya untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan.80 Lima Imunisasi Dasar yang diberikan sesuai dengan program pemerintah dengan pemberian imunisasi yang diberikan pada bayi antara umur 0-12 bulan, terdiri dari imunisasi BCG, DPT, Polio, Hepatitis B, dan Campak.Sedangkan untuk ibu hamil, maka imunisasi yang diberikan adalah imunisasi tetanus (TT). Vaksin yang digunakan untuk pemberian imunisasi di Posyandu berasal dari Dinas Kesehatan selanjutnya di berikan ke Puskesmas, dan dari Puskesmas dapat digunakan untuk kegiatan Posyandu.
Beberapa alasan ibu di Desa Dukuh Widara membawa anaknya ke Posyandu, karena memang dianjurkan oleh bidannya, terutama bidan yang menolong persalinan, agar setiap bulan menimbangkan anaknya ke Posyandu, dan memang keingintahuan ibu-ibu itu sendiri untuk imunisasi, serta mengetahui perkembangan anaknya, terutama tentang berat badan.
“Sering nimbang di Posyandu, karena disuruh sama bidannya, tiap bulan harus ditimbang.”81
Kegiatan utama Posyandu mengacu pada sistem lima meja atau lima langkah pelayanan82 disajikan pada tabel 3.1.
79
Sumber: Depkes R.I, 2006 80Sumber: Marimbi, Hanum. 2010 81Sumber: Wawancara dengan Khodijah 82Sumber: Depkes R.I, 2006
Tabel 3.1. Kegiatan Posyandu di Desa Dukuh Widara, tahun 2014
Langkah/
Meja ke- Pelayanan Pelaksana
Pertama Pendaftaran Kader
Kedua Penimbangan Kader
Ketiga Pengisian KMS Kader
Keempat Penyuluhan Kader
Kelima Pelayanan Kesehatan Petugas Kesehatan dan sektor lain bersama kader
Sumber: Data Primer
Langkah atau meja keempat Posyandu sekaligus adanya penyuluhan kesehatan, menjelaskan data KMS atau keadaan anak berdasarkan data kenaikan berat badan yang digambarkan dalam grafik KMS, dan pelayanan pemberian makanan tambahan (PMT). Sedangkan di langkah atau meja ke-lima pelayanan kesehatan yang diberikan seperti pemberian imunisasi, obat-obatan, oralit, vitamin A, tablet zat besi, pil dan kondom, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, Pelayanan kontrasepsi IUD dan suntik. Dalam setiap kegiatan Posyandu di Desa Dukuh Widara hampir selalu ada makanan atau minuman tambahan yang disediakan, misalnya diberi bubur kacang, biskuit, telur rebus, susu atau Milkkuat. Untuk penyediaan PMT, biasanya diserahkan ke pamong desa /keluarganya/kadernya. Untuk beberapa makanan yang harus dimasak, biasanya akan disiapkan oleh kader atau pamong desa. Misalnya pembuatan bubur kacang, maka keluarga pamong desa tersebut akan menyiapkan dan biasanya menggunakan plastik untuk membungkusnya.
Gizi merupakan bagian dari proses kehidupan dan proses tumbuh kembang seseorang, sehingga pemenuhan kebutuhan
gizi secara adekuat turut menentukan kualitas tumbuh kembang sebagai sumber daya manusia di masa datang. Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Gizi kurang banyak terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun. Gizi buruk adalah kondisi gizi kurang hingga tingkat yang berat dan disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Gizi buruk bila kondisi gizi kurang berlangsung lama, maka akan berakibat semakin berat tingkat kekurangannya. Gizi buruk terjadi bila tubuh tidak mendapatkan zat-zat gizi baik untuk pertumbuhan dan perkembangan serta mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi essensial. Beberapa faktor penyebab adalah 1) faktor sosial adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. Baita diberi makanan sekedarnya atau asal kenyang padahal miskin gizi. 2) Kemiskinan dianggap sebagai biang keladi munculnya penyakit di negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun seringkali tak bisa dipenuhi. 3) Laju pertambahan penduduk, dan 4) Infeksi.83
Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini bersifat irreversible (tidak dapat pulih).
Menurut ahli gizi dari IPB Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, standar acuan status gizi balita adalah berat badan menurut
83Sumber: ferryngongo.blogspot.com/2012/10/makalah-perbedaan-gizi-kurang- dan-gizi.html?m=1
umur (BB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan tinggi badan menurut umur (TB/U).84
Pedoman yang digunakan adalah standar berdasarkan tabel WHO-NCHS (National Center for Health Statistics). Status gizi pada balita dapat diketahui dengan mencocokkan umur anak dalam bulan, dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang maka status gizinya kurang.
Di Posyandu telah disediakan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dapat digunakan untuk memprediksi status gizi anak berdasarkan kurva KMS yaitu dengan cara mengetahui dahulu umur anak, kemudian di plot berat badannya dalam kurva KMS. Bila masih dalam garis hijau maka status gizinya baik, bila dibawah garis merah maka status gizi buruk. Parameter status gizi balita yang umum digunakan di Indonesia adalah berat badan menurut umur. Parameter ini dipakai menyeluruh di Indonesia.85
Berdasarkan perhitungan berat badan per umur, didapatkan data dari Puskesmas Kalibuntu pada bulan Mei tahun 2014 terdapat 1 balita gizi kurang. Faktor ekonomi, dimana warga masyarakat disana sebagian besar masih bermata pencaharian buruh tani, buruh bata dan buruh bangunan, serta pola asuh yang dialihkan dari ibu kepada keluarga sehubungan ibu bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dapat menjadi suatu faktor penyebab dari masih adanya gizi kurang tersebut.
“Ya mungkin karena faktor ekonomi, karena banyak keluarga yang pekerjaannya sebagai buruh, buruh tani, buruh bata, dan juga anak nya kan diasuh oleh keluarga bukan oleh ibunya”86
84Sumber: Marimbi, Hanum. 2010 85Sumber:Hanum Marimbi,2010
Gambar 3.5.
Tempat Kegiatan Posyandu di Blok Kliwon, Desa Dukuh Widara Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014
Pemberian Konseling dan Vitamin dari pihak Puskesmas, khususnya bagian gizi, kepada anak gizi kurang tersebut telah dilakukan. Namun berdasarkan informasi dari bidan desa di daerah tersebut, faktor pola makan yang kurang telaten terhadap anaknya, dan anaknya yang dianggap susah makan, masih mengakibatkan anak tersebut masih tergolong gizi kurang.
Tingkatan perkembangan Posyandu yaitu a) Posyandu pratama (merah) ditandai dengan kegiatan Posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum bisa rutin dilakukan tiap bulan dan kader aktif terbatas, b) Posyandu madya (kuning) ditandai dengan kegiatannya lebih dari delapan kali pertahun dengan jumlah kader 5 orang atau lebih. Namun cakupan program utamanya (KB, KIA, GIZI, imunisasi) masih rendah yaitu lebih besar dari 50 persen, c) Posyandu purnama (hijau), frekuensinya
lebih dari delapan kali per tahun, jumlahkader 5 orang atau lebih, cakupan program utamanya lebih besar dari 50%. Sudah ada dan program tambahan dana sehat, d) Posyandu mandiri (biru). Kegiatannya secara teratur, cakupan lima program utama sudah bagus. Ada program tambahan dan dana sehat menjangkau lebih dari 50%.87
Dari kelima Posyandu di Desa Dukuh Widara, semuanya sudah tergolong kriteria Posyandu Madya, dimana jumlah kader setiap Posyandu sudah berjumlah lima dan cakupan program lebih besar dari 50%. Namun belum memiliki program tambahan dan dana sehat belum menjangkau 50%.