GAMBARAN UMUM KABUPATEN CIREBON
2.1. Gambaran Umum Wilayah
2.2.2. Sarana dan Prasarana
Desa Dukuh Widara bisa dikategorikan sebagai sebuah desa semi urban. Hal ini ditandai dengan kemudahan akses terhadap berbagai layanan publik mulai dari transportasi, pendidikan, kesehatan dan sarana umum lainnya. Desa Dukuh Widara hanya berjarak sekitar 4 km dari ibu kota kecamatan dan sekitar 45 km dari ibu kota kabupaten. Kota-kota terdekat adalah Losari (±3 km) dan Ciledug (±3 km). Transportasi sangatlah mudah. Desa ini dilalui oleh jalan antar provinsi (alternatif) yang menghubungkan jalur pantura (Kecamatan Losari) di sebelah Utara ke Kecamatan Ciledug, Waled hingga Kabupaten Kuningan, dengan kondisi jalan beraspal yang cukup baik. Selain kendaraan pribadi, untuk mempermudah akses masyarakat, tersedia angkutan umum berupa mobil angkudes dan andong yang beroperasi dari pagi hingga sore hari, dengan rute Losari-Ciledug. Sementara untuk menuju ibu kota kabupaten, angkutan umum Cirebon-Losari beroperasi setiap waktu.
Gambar 2.9.
Jalan antar kabupaten yang membelah desa Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014
Untuk sarana telekomunikasi, telepon seluler paling banyak digunakan masyarakat di Desa Dukuh Widara. Berbagai operator telepon seluler memiliki sinyal yang cukup bagus sehingga masyarakat tak kesulitan dalam memilih layanan. Gerai pulsa (voucher) pengisian ulang untuk kartu telepon juga mudah ditemukan, demikian juga dengan berbagai perangkat telepon seluler.
Sementara untuk sarana informasi, televisi dimiliki hampir setiap rumah tangga. Sarana hiburan seperti sinetron hingga berbagai berita nasional bisa diakses masyarakat setiap saat. Saluran-saluran televisi nasional dapat menjangkau siaran tanpa harus menggunakan antena parabola.
Akses-akses masyarakat terhadap layanan umum juga relatif mudah karena tersedianya berbagai fasilitas umum. Untuk sarana pendidikan juga cukup lengkap. Mulai dari Playgroup (3 buah), TK (1 buah), Madrasah Diniyah (3), SD/MI (5 buah). Sementara untuk pendidikan lanjutan, sebuah Madrasah Tsanawiyah terdekat berada di Desa Kalimukti dengan jaraksekitar 1 km dari Desa Dukuh Widara dan SMP di Losari (± 2 km), sementara untuk Sekolah Lanjutan Atas, terdapat di Losari, Ciledug atau Pabedilan.
Sedangkan untuk sarana kesehatan, ada tiga tenaga kesehatan yang tinggal dan membuka praktek di Desa Dukuh Widara (2 bidan dan 1 mantri).
Puskesmas Pembantu berada di tengah-tengah desa, menyediakan pelayanan dari pagi hingga tengah hari, enam hari dalam seminggu (Senin-Sabtu). Pelayanan yang relatif lebih lengkap ada di Puskesmas utama, Puskesmas Kalibuntu yang berjarak sekitar 2 km dari desa. Sedangkan rumah sakit terdekat ada di Kecamatan Waled, Kota Cirebon, Kabupaten Tegal atau Kabupaten Kuningan.
2.2.3. Ekonomi dan Mata Pencaharian 2.2.3.1. Pertanian
Mayoritas mata pencaharian penduduk Desa Dukuh Widara adalah bertani, baik sebagai petani pemilik/ penggarap lahan maupun buruh tani berjumlah 2454 orang. Jenis pertanian di Desa Dukuh Widara adalah pertanian sawah dengan luas areal persawahan 147,888 ha yang dimiliki oleh kurang dari 500 orang, dimana kepemilikan lahan mayoritas kurang dari 10 ha. Persawahan di Desa Dukuh Widara adalah persawahan dengan sistem irigasi dengan tanaman utama berupa padi.
Gambar 2.10.
Pertanian padi sawah, salah satu mata pencaharian utama penduduk Desa Dukuh Widara
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014
Masa tanam 2-3 kali dalam setiap tahunnya. Masa tanam 3 kali hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki sawah di sebelah Barat sedangkan untuk yang di sebelah Timur hanya 2 kali. Hal ini disebabkan sistem pengairan irigasi akan terhenti pada musim kemarau (Agustus-Oktober). Pemilik/penggarap
sawah di bagian Barat diuntungkan karena berdekatan dengan Kali Cisanggarung sehingga masih bisa mendapatkan pengairan pada musim seperti itu. Pada musim tanam ke-3, biasanya petani akan menanam tanaman selain padi, seperti jagung, bawang merah atau jenis palawija lainnya. Untuk tanaman padi, biasanya dihasilkan 4 ton gabah/ha. Umumnya petani akan menjual dalam bentuk gabah ke para tengkulak. Sementara dalam proses penanaman dan pemanenan padi, biasanya masyarakat akan menggunakan sistem derep, dengan pembagian 5:1 (panen 5 kg akan mendapatkan 1 kg).
Gambar 2.11.
Bawang merah, salah satu hasil pertanian Desa Dukuh Widara Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014
Sedangkan untuk buruh tani, biasanya dikenal buruh tani bedugan dan buruh tani seharian. Buruh tani bedugan dimulai dari jam 7 pagi hingga tengah hari (waktu bedug/sholat dzuhur, sekitar jam 12), dan buruh harian dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore (waktu Asar). Upah buruh bedugan bervariasi antara laki-laki dan perempuan. Untuk buruh laki-laki adalah Rp. 40.000,-/hari tanpa makan, dan buruh perempuan Rp. 25.000,’/hari tanpa makan. Sedangkan untuk seharian, Rp. 55.000,- untuk laki-laki
dan Rp.35.000 untuk perempuan. Perbedaan yang cukup mencolok antara buruh laki-laki dan perempuan ini disebabkan beban kerjanya berbeda. Kaum perempuan biasanya hanya bertugas mencabuti rumput atau menyingkirkan ulat, sedangkan buruh laki-laki harus bekerja lebih keras seperti mencangkul. 2.2.3.2. Pengrajin Batu-bata
Selain bertani, pekerjaan lain yang cukup banyak dikerjakan oleh penduduk Desa Dukuh Widara adalah membuat batu-bata. Pembuatan batu-bata ini berpusat di ujung Barat desa, tepatnya di bantaran Kali Cisanggarung. Hal ini disebabkan bahan utama pembuatan batu-bata adalah endapan lumpur dari Kali Cisanggarung yang biasanya muncul setelah banjir. Endapan lumpur ini konon menghasilkan batu-bata yang berkualitas bagus sehingga batu-bata dari Desa Dukuh Widara cukup diminati. Pemesan biasanya tidak hanya berasal dari desa atau desa tetangga, tetapi sampai ke wilayah-wilayah yang agak jauh. Harga untuk 1000 keping bata adalah Rp. 800.000,- (sudah termasuk biaya antar).
Dalam proses pembuatan batu-bata, setiap harinya bisa dihasilkan 1000 keping bata. Pembakaran akan dilakukan minimal 10.000 keping bata. Untuk pembakaran, diperlukan kayu yang harus dibeli dengan harga 1,8 juta untuk satu truk, yang bisa digunakan untuk membakar sekitar 7000 keping bata. Meskipun begitu, masyarakat menganggap bahwa usaha pembuatan bata cukup menguntungkan. Biasanya warga akan mengerjakannya bersama-sama para anggota keluarga sehingga tidak diperlukan tenaga upahan. Namun pembuatan batu-bata hanya bisa dilakukan pada musim kemarau. Kerugian seringkali terjadi jika hujan deras tiba-tiba terjadi dan batu-bata yang tertumpuk di pinggir sungai dihanyutkan banjir.
Gambar 2.12.
Pembuatan batu-bata dengan memanfaatkan endapan lumpur Sungai Cisanggarung
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014
2.2.3.3. Migrasi
Migrasi dilakukan oleh masyarakat Desa Dukuh Widara sejak lama31. Di masa lalu, migrasi biasanya lebih bersifat migrasi musiman. Masyarakat mencari pekerjaan ke kota ketika musim tanam sudah usai dan tinggal menunggu padi untuk dipanen. Daripada menganggur di desa, masyarakat akan pergi ke kota terdekat mencari pekerjaan untuk mengisi waktu-waktu yang kosong. Kota tujuan utama adalah Jakarta, yang relatif dekat dan menjanjikan banyak lowongan pekerjaan. Dengan semakin banyaknya pertambahan penduduk dan semakin terbatasnya lowongan pekerjaan, migrasi ini perlahan berubah menjadi migrasi yang tetap. Tidak hanya ke kota-kota di dalam negeri tapi juga keluar negeri.
Migrasi ke luar negeri sudah dimulai sejak awal tahun ’90-an, tetapi jumlahnya masih sedikit. Baru setelah terjadinya krisis moneter tahun 1998, jumlah buruh migran ke luar negeri meningkat. Tujuan utamanya negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi atau Kuwait dengan lowongan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga untuk kaum perempuan dan sopir untuk kaum lelaki.
Migrasi ke luar negeri ini masih berlanjut hingga sekarang, bahkan cenderung mengalami peningkatan. Pada akhir tahun 2013, jumlah penduduk Desa Dukuh Widara yang menjadi buruh migran sebanyak 424 orang, dengan komposisi 33 orang perempuan dan 88 orang laki-laki. Negara tujuan dan jenis pekerjaan pun bervariasi. Singapura, Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan adalah negara-negara tujuan yang sedang populer karena kondisi kerja dan gaji yang lebih menjanjikan. Taiwan dan Hongkong umumnya menjadi tujuan para perempuan muda, dengan lowongan pekerjaan sebagai baby sitter atau pekerja pabrik.
Sementara Korea Selatan diminati oleh kebanyakan kaum lelaki muda. Korea Selatan merupakan negara tujuan favorit karena tawaran gaji yang tinggi (konon gajinya bisa mencapai hingga Rp. 20-an juta/ bulan). Meski prosedurnya sedikit lebih rumit karena mensyaratkan ijazah minimal SMA/ sederajat, memiliki sertifikat lulus tes Bahasa Korea dan biaya keberangkatan yang cukup besar (bisa mencapai sekitar Rp. 30 juta), tapi dianggap sebanding dengan gaji yang didapat.
Bekerja ke luar negeri seolah menjadi gengsi tersendiri bagi masyarakat Desa Dukuh Widara, terutama ke negara-negara dengan gaji yang tinggi. Peningkatan ekonomi bisa terlihat dari rumah-rumah yang dibangun. Bentuk rumah bisa menjadi indikasi ke negara mana anggota keluarga tersebut bekerja,
sehingga di masyarakat sering dikenal istilah ‘Araban’, ‘Korea-an’, ‘Taiwanan’ dsb.
Gambar 2.13.
Lembaga Kursus Bahasa Asing untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin ke luar negeri (Dokumentasi Peneliti, 2014)
Di samping itu, migrasi ke kota-kota terdekat masih dilakukan dan umumnya dilakukan oleh orang-orang muda, selepas mereka lulus dari sekolah menengah (umumnya SMP/sederajat) dengan kota tujuan utama Jakarta atau Bandung. Kaum perempuan biasanya menjadi baby sitter atau pembantu rumah tangga. Sementara kaum lelaki kebanyakan memilih usaha wiraswasta, seperti pedagang.
Bekerja ke kota tidak hanya dilakukan oleh orang-orang muda yang belum menikah. Pasangan yang sudah menikah pun cukup banyak yang bekerja di kota. Kadang hanya salah satu dari mereka, suami/istri, sementara pasangan satunya tinggal di rumah mengasuh anak. Tak jarang juga kedua orang tuanya bekerja di kota, sementara anak-anak ditinggalkan di desa untuk diasuh oleh kakek-nenek mereka atau anggota keluarga yang lain (paman, bibi) dan bahkan ada yang diasuh oleh tetangga.
Keterbatasan jenis pekerjaan agaknya menjadi faktor tingginya minat masyarakat untuk mencari pekerjaan ke luar kota atau luar negeri. Meski sebenarnya lowongan pekerjaan mencukupi, tetapi menjadi petani tentulah bukan pilihan pekerjaan yang diminati oleh kaum muda.
2.2.4. Perekonomian
Kegiatan perdagangan di Desa Dukuh Widara kebanyakan jual beli hasil-hasil pertanian. Hanya sedikit yang menjadi tengkulak bawang merah, padi gabah atau hasil pertanian lainnya seperti sayur-sayuran dan palawija. Hasil-hasil pertanian tersebut, terutama palawija, akan dijual di pasar-pasar terdekat. Tidak ada pasar di Desa Dukuh Widara. Pasar terdekat berada di Losari, sekitar 3 km dari desa. Pasar ini buka setiap hari, dengan puncak keramaian dari pagi hingga tengah hari. Barang-barang yang diperjual belikan mulai dari sayur-sayuran, aneka bahan makanan, buah-buahan, pakaian, dan aneka kebutuhan rumah tangga lainnya. Toko-toko dengan berbagai spesialisasi barang dagangan berderet di pinggir jalan utama di depan pasar, termasuk juga dua toko waralaba terbesar di tanah air, Alfamart dan Indomaret.
Namun begitu, untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat biasanya cukup membeli di warung-warung terdekat. Warung-warung kelontong tersebar di seluruh desa. Tidak hanya itu, untuk kebutuhan makanan, masyarakat juga dimudahkan dengan adanya penjual makanan siap saji, mulai dari nasi beraneka macam (nasi uduk, nasi putih, nasi kuning), bubur, serta beraneka macam lauk pauk. Masyarakat disibukkan dengan kegiatan bertani, sehingga biasanya enggan memasak di rumah. Membeli makanan jadi, dianggap lebih praktis. Warung-warung kecil yang menjual makanan siap saji tersebut kebanyakan buka pagi-pagi sekali. Usai subuh, warga akan berkerumun untuk
membeli makanan sebelum berangkat ke sawah atau melakukan pekerjaan lainnya. Warung-warung makanan ini biasanya akan tutup ketika matahari sudah terbit sekitar pukul 7 pagi dengan dagangan yang sudah habis terjual. Beberapa warung makanan yang lain membuka warungnya menjelang siang hari. Mereka biasanya menjual aneka rujak, pecel, atau gado-gado. Penjual nasi beserta lauk pauknya juga masih bisa ditemui.
Seminggu sekali, pada Jum’at malam, diadakan pasar malam di pinggir desa yang menjadi perbatasan dengan desa tetangga, Pasuruan. Pasar malam ini biasanya tidak terlalu lengkap. Barang-barang yang dijual mulai dari peralatan rumah tangga, baju, mainan anak-anak dan aneka penganan seperti martabak atau gorengan. Namun begitu, masyarakat, terutama anak-anak biasanya akan sangat antusias dengan datang beramai-ramai ke pasar malam. Pasar ini buka dari petang hingga sekitar jam 9 malam. Para pedagang kebanyakan berasal dari desa-desa di luar Dukuh Widara. Pasar malam ini sifatnya ‘bergiliran.’ Pada Rabu malam misalnya, di desa sebelah diadakan pasar malam, kemudian pada Minggu malam dilakukan di desa sebelahnya lagi.
Sementara untuk kebutuhan keuangan, beberapa bank lengkap dengan mesin ATM juga tersedia di Losari.
2.2.5. Organisasi Sosial 2.2.5.1. Sistem kekerabatan
Seperti masyarakat Etnik Jawa lainnya, masyarakat Desa Dukuh Widara menganut sistem kekerabatan bilineal/bilateral, yakni menarik garis keturunan dari pihak ayah maupun ibu. Anak laki-laki maupun perempuan sama saja nilainya di masyarakat. Meskipun ada kecenderungan anggapan bahwa anak laki-laki memikul tanggung jawab untuk bekerja lebih keras. Ketika
seorang anak laki-laki memasuki usia yang dianggap dewasa (sekitar 18 tahun), ia dituntut untuk mempunyai pekerjaan. Sementara seorang anak perempuan biasanya akan mencari pekerjaan di usia remaja dan ketika menikah biasanya berhenti untuk memfokuskan diri menjadi ibu rumah tangga, meski kenyataannya banyak seorang perempuan tetap bekerja setelah berumah tangga.
Garis keturunan biasanya bisa dirunut hingga generasi ke-4, yakni buyut hingga ke cicit, meski masyarakat mengenal penyebutan keturunan hingga 7 generasi, yakni: anak, putu, buyut, canggah, wareh, udek-udek dan gantung siwur. Sementara untuk penyebutan anggota keluarga adalah:
1. Buyut Lanang (buyut laki-laki) – Buyut Wadon (buyut perempuan)
2. Bapak Tua (kakek) – Mbok Tua (nenek) 3. Mimi (ibu) – Mamak/Bapak (Bapak)
4. Paman/Mamang (adik laki-laki ibu/ayah) – Bibi (adik perempuan ibu/ayah)
5. Uwak (kakak laki-laki maupun perempuan ayah/ibu) 6. Ipar (istri/suami kakak/adik)
7. Kakang/ Aang Wadon (kakak perempuan/laki-laki) 8. Adi (adik, laki-laki/perempuan)
9. Putu (cucu laki-laki/perempuan)
10. Kakang/Adi Ponakan (kakak/adik sepupu laki-laki/perempuan)
11. Keponakan (anak dari adik/kakak baik laki-laki maupun perempuan)
12. Nok (sebutan untuk anak perempuan)
13. Tong/ Cung/ Cong (sebutan untuk anak laki-laki)
14. Mak/ Bi, sebutan untuk tetangga perempuan yang sudah dianggap tua
Meskipun begitu, saat ini, sebutan-sebutan itu sudah banyak mengalami banyak variasi sebagai pengaruh dari berbagai interaksi. Ada yang menyebut “Mama”, “Umi”, “Bunda” , “Ibu” untuk Ibu, ada yang menyebut “Ayah”, “ Papa”, “Abi”, “Ayah” untuk ayah, “Mbak” atau “Yayuk” untuk kakak perempuan, dan “Mas” untuk kakak laki-laki.
Gambar 2. 14.
Diagram kekerabatan masyarakat Desa Dukuh Widara Sumber : Visualisasi peneliti
2.2.5.2. Pernikahan
Pernikahan bagi masyarakat Desa Dukuh Widara bukanlah hal yang rumit. Pernikahan umumnya dilangsungkan karena keinginan masing-masing pasangan. Orang tua cenderung memberi kebebasan bagi anak-anaknya untuk mencari pasangannya masing-masing, meski saran-saran tentang pasangan yang dianggap terbaik tetap diberikan. Proses pernikahan juga tidak rumit. Pasangan yang akan menikah biasanya sudah saling mengenal dan telah melalui proses yang
disebut ‘pacaran’. Jika masing-masing sudah siap menikah (pengecualian pada pasangan yang menikah karena ‘kecelakaan’), pihak laki-laki akan menanyakan kepada pihak perempuan. Jika sudah dicapai persetujuan, akan dicari tanggal baik untuk pernikahan yang biasanya didasarkan pada primbon Jawa.
Usia pernikahan di Desa Dukuh Widara adalah 18-25 tahun, dimana kebanyakan pasangan menikah pada usia 20 tahunan. Meski pada beberapa kasus, terjadi pernikahan di usia yang masih sangat muda (15-17 tahun), dan ada juga yang menikah di atas usia 30 tahun. Biasanya usia pasangan laki-laki lebih tua 3 hingga 5 tahun dari usia pasangan perempuan. Meskipun hal ini juga bukan hal yang mutlak.
Sebelum pernikahan, mempelai perempuan biasanya akan menjalani pingitan, yakni tidak boleh bertemu calon mempelai laki-laki selama beberapa waktu dan juga menjalani perawatan diri dengan berbagai produk kecantikan, seperti luluran. Pada hari-H, akan dilakukan ijab kabul dengan cara-cara Islam yang biasanya akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Meski pada beberapa pasangan, karena alasan biaya, kadang resepsi dilangsungkan beberapa bulan kemudian atau bahkan tidak dilaksanakan.
Pada resepsi pernikahan ini, juga dilakukan ritual adat yang disebut sebagai ‘tandur penganten’. Tandur adalah pembacaan kidung yang berisi doa-doa memohon kebahagiaan kepada kedua mempelai.32 Sebagian masyarakat juga mempercayai bahwa dilakukannya ritual tandur juga memohonkan agar kedua mempelai lekas dikaruniai keturunan. Ritual tandur biasanya dipimpin oleh seorang lebe. Di Desa
32Sumber: Wawancara dengan lebe Desa Dukuh Widara yang sering melakukan tandur penganten
Dukuh Widara, seorang bapak bernama Pak Sum, meski sudah menjadi mantan lebe masih dipercaya untuk melakukan tandur. Prosesi tandur adalah kedua pengantin berdiri atau ‘ditandur’ (ditanam), diapit kedua orang tua mereka, lalu lebe akan berdiri di tengah-tengah dan mulai menyanyikan kidung. Kidung yang dinyanyikan berbahasa Jawa. Menurut Pak Sum, tradisi tandur ini berasal dari masa Kerajaan Demak oleh Ki Mangun Rasa, sahabat dari Sunan Kali Jaga. Ki Mangun Rasa ini konon adalah orang yang sering menggantikan ndalang Sunan Kali Jaga ketika Sunan Kali Jaga sedang berhalangan.
Tradisi lain yang khas adalah jamu-jamu, tradisi yang dilakukan untuk anak bungsu ketika menjadi pengantin. Pengantin akan berpura-pura menjual jamu dengan maksud meminta sumbangan dari para sanak-saudara. Sumbangan yang diberikan bersifat sukarela dan jumlahnya tidak ditentukan.
Setelah pernikahan, biasanya perempuan akan dibawa suaminya. Tapi tak jarang juga seorang suami ikut tinggal dengan keluarga istri.
2.2.5.3. Organisasi Masyarakat
Sementara itu organisasi-organisasi kemasyarakatan ada yang masih di bawah pemerintahan desa, ada pula yang dikelola secara bersama oleh masyarakat. Organisasi-organisasi yang dikelola oleh desa antara lain: PKK, Karang Taruna dan Kelompok Tani.
PKK adalah organisasi untuk ibu-ibu yang diketuai oleh istri kuwu. Kegiatannya berupa pengajian Fatayat & Muslimat (organisasi Islam untuk perempuan di bawah NU) yang diadakan sekali setiap sebulan, arisan yang diadakan setiap minggu ke-2 setiap bulannya, dan senam khusus ibu-ibu diadakan seminggu sekali. Kegiatan-kegiatan ini bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja.
Karang Taruna sebagaimana namanya, diperuntukkan untuk kaum muda, terutama laki-laki. Menurut salah seorang pejabat desa, organisasi ini, meski masih berjalan tapi juga tidak terlalu aktif. Kegiatan biasanya hanya berupa olahraga bersama seperti voli atau sepak bola. Sedangkan Kelompok Tani lebih berfungsi dalam mengatur hal-hal teknis dalam kegiatan pertanian seperti penggunaan saluran irigasi dan distribusi pupuk.
Organisasi-organisasi yang dibentuk masyarakat biasanya lebih bersifat keagamaan yang dikenal dengan istilah ‘jemiahan’ berupa kegiatan pengajian. Kelompok jemiahan biasanya dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Jemiahan khusus perempuan dan jemiahan khusus laki-laki. Lingkup kelompok biasanya lebih kecil, mereka yang tinggal di satu RT atau satu lingkungan pemukiman mengacu pada letak mushalla terdekat.
Jemiahan dilakukan pada sore maupun malam hari, sekali dalam
seminggu. Selain jemiahan juga dikenal istilah ‘nariahan’, mengacu pada pembacaan Surat Nariah, dan yasinan (pembacaan Surat Yasin) untuk kaum lelaki yang biasanya diadakan pada malam Jum’at. Organisasi-organisasi pengajian ini biasanya juga akan mengorganisasikan kegiatan-kegiatan terkait peringatan hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi atau Rajaban. Biasanya pembiayaan untuk kegiatan seperti itu akan ditanggung bersama dengan sistem iuran.