• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMANFAATKAN KARYA SASTRA SEBAGAI SUMBER SEJARAH

Djoko Marihandono

(FIB Universitas Indonesia) Pendahuluan

Banyak dijumpai orang yang mengaku sebagai seorang sejarawan. Bisa jadi ia adalah seorang pengajar sejarah, penikmat sejarah, pengamat sejarah, penulis sejarah, atau profesi lainnya yang berhubungan dengan sejarah. Namun bagi saya, seorang sejarawan adalah orang yang menulis sejarah. Dengan demikian istilah “sejarawan” memiliki pengertian yang sudah terbatas. Hal ini penting mengingat bahwa menulis sejarah berbeda dengan menulis cerita fiksi atau novel.

Untuk menulis sejarah diperlukan metode dan metodologi. Dengan demikian seorang sejarawan harus memiliki kemampuan untuk menggunakan metode dan metodologi sejarah. Sementara untuk menulis cerita fiksi atau novel tidak diperlukan metode atau metodologi. Dengan demikian, apa yang dikatakan oleh kaum pengikut Postmodernisme yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara cerita fiksi dan karya sejarah perlu dipertanyakan kembali. Dalam meneliti sejarah, setelah topik penelitian ditentukan diperlukan beberapa langkah metodologis, antara lain penelusuran sumber, verifikasi sumber (kritik sumber), interpretasi yang berupa analisis dan sintesis, dan historiografi atau penulisan sejarah.26

Dalam hal pemilihan topik yang akan dibahas dalam penelitian sejarah, setidaknya terdapat beberapa hal yang patut dipertimbangkan, yakni batasan geografisnya (where), batasan-batasan periodenya (when), siapa yang melakukan (who), apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh siapa (what). Selanjutnya dapat pula dipertimbangkan mengapa atau motivasi dari apa yang dilakukan (Why), dan bagaimana terjadinya (How), atau yang sudah kita kenal dengan rumusan 5 W dan 1 H. Untuk memudahkan pencarian dan penelusuran data, penggunaan rumusan 5 W dan 1 H akan memudahkan bagi peneliti untuk mencari data yang diperlukan.

Setelah sumber data diperoleh, baik melalui pencarian maupun penelusuran sumber, diperlukan verifikasi sumber khususnya tentang forensik (Eksternal) dan kontennya (internal). Dalam melakukan verifikasi forensik, perlu diperhatikan originalitas, otentisitas, kredibilitas dan integritas sumber. Sementara itu, untuk verifikasi konten, perlu diperhatikan tentang konten itu sendiri (isi), konteks, dan struktur sumber yang akan digunakan.

Selanjutnya, peneliti membuat interpretasi dari sumber yang diperolehnya, dengan melakukan analisis dan membuat sintesis dari sumber data yang ada. Analisis dilakukan untuk mencari makna dari sumber tersebut, sehingga hasil analisis itu bisa disebut sebagai fakta. Makna ini bersifat kognitif, yang ada di dalam pikiran peneliti. Dalam sumber-sumber tersebut terdapat bermacam-macam makna. Makna tersebut harus disinkronkan sehingga terjadi keterkaitan atau hubungan antarmakna. Proses inilah yang disebut sebagai sintesa. Yang dilakukan dalam pembuatan sintesa adalah membuat suatu kerangka narasi yang menghasilkan suatu kisah. Pada saat menghubung-hubungkan makna, diperlukan suatu teori. Dari hasil sintesa dapat dilanjutkan ke tahap

26Lihat Kuntowijoyo, 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang, bab: 6 tentang “Penelitian Sejarah”.

82

berikutnya, yakni membuat rekonstruksi atau menulis karya sejarah (historiografi). Rekonstruksi adalah proses pembuatan laporan akhir yang merupakan pengembangan dari kerangka narasi. Perbedaan antara kerangka narasi dan rekonstruksi adalah

diletakkannya dalam konteks pemikiran, yaitu dalam wujud metodologi.27 Berhubung

Sejarah selalu menggunakan ilmu bantu dalam membuat anilis historis, maka perlu dipahami metodologi dari pendekatan atau dari teori yang digunakan. Misalnya metodologi strukturasi, struktural, konstruktivistik, naratif, deskriptif, atau pun metodologi lainnya.

Apabila penelitian historis menggunakan peran agen (agent) atau sosok tertentu, dapat digunakan metodologi Giddens yang membahas tentang agen. Terjadi dinamisasi agen terhadap struktur agen yang sifatnya ajeg. Dinamisasi agen bisa melalui berbagai macam upaya, antara lain adanya Capability; dan Power. Dinamisasi agent terhadap struktur inilah yang disebut sebagai agensi (agency). Dengan demikian hasil karya historis dikatakan ilmiah karena menggunakan metodologi. Sementara penggunaan teori dalam penelitian sejarah bisa digunakan dan bisa tidak, sementara metodology dalam penelitian sejarah sifatnya wajib.

Ada sementara sejarawan yang mengatakan bahwa dalam penelitian sejarah tidak dapat digunakan hipotesis. Hal ini disebabkan:

a. Sejarah bertolak dari suatu peristiwa; b. Peristiwa tersebut telah berlalu;

c. Yang menghubungkan antara sejarah dan peristiwa adalah data masa lalu. Jadi bila ada hipotesis, penelitian sejarah akan memiliki resiko, yakni subjektivitasnya akan menjadi sangat tinggi. Alsannya adalah teori akan menguji hipotesis dan bukan menguji fakta. Padahal tugas sejarawan adalah mensitesakan fakta. Di samping itu, penggunaan hipotesis akan menyebabkan hal yang dalam sejarah disebut sebagai anakronistik, karena teori dan fakta berasal dari zaman yang berbeda pada saat peristiwa itu terjadi. Sebagai jalan keluar, dalam penelitian sejarah dapat digunakan asumsi, karena teori tidak menguji asumsi. Interpretasi sumber yang dilakukan setelah sumber dikritik, akan mengarah kepada asumsi. Hal ini penting untuk menekan subjektivitas dalam asumsi tersebut. Dengan demikian asumsi dapat diletakkan dalam konteks metodologi sehingga akan meminimalisir unsur subjektivitasnya. Asumsi-asumsi ini akan melengkapi kerangka rekonstruksi. Inilah yang dalam penelitian sejarah disebut sebagai retorika historis. Dalam pengambilan kesimpulan, asumsi ini akan berubah menjadi opini yang nilai subjektivitasnya rendah karena sudah dibingkai dalam metodologi. 28

27Menurut Helius Sjamsudin, metode adalah jalan, cara, prosedur, yaitu bagaimana mengetahui (How to know). Sementara itu metodologi adalah ilmu tentang metode, atau tahu bagaimana mengetahui (Know how to know). Sementara itu, historiografi adalah penulisan sejarah atau sejarah penulisan sejarah (History of historical writing). Lihat Helius Syamsudin, 2012.

Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak, hlm. 12-14.

28 Beberapa sejarawan menggunakan istilah hipotesis sebagai “suatu asumsi atau konsesi yang dibuat untuk kepentingan argumentasi”, ada sejarawan lain yang menggunakan istilah hipotesis sebagai “interpretasi dari suatu praksis atau kondisi yang diambil sebagai dasar untuk bertindak” lihat: Helius Sjamsudin. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak, hlm. 38-39.

83 Permasalahan

Makalah ini akan membahas tentang pemanfaatan karya fiksi sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah secara umum dapat dikelompokkan menjadi beberapa hal , antara lain:

a. Sumber kolonial. Dalam sumber kolonial ini biasanya tercatat dengan jelas, kapan suatu peristiwa terjadi, apa yang dilakukan, siapa yang melakukan, mengapa terjadi, dan seterusnya;

b. Sumber lokal: sumber lokal ini biasanya berupa hikayat, tombo atau tambo, serat, cerita rakyat, yang mayoritas masih ditulis dengan menggunakan aksara lokal. Dalam sumber lokal tersebut tidak tertera secara pasti kapan peristiwa itu terjadi, siapa yang melaksanakan, apa yang dilakukan.

c. Karya sezaman yang merupakan karya-karya di luar arsip yang membahas tentang topi atau tema yang bersangkutan.

Namun, secara umum semua aktivitas manusia masa lampau dapat dijadikan sumber sejarah. Semua perilaku verbal, baik berupa tuturan lisan maupun teks tulis dapat dijadikan sumber sejarah. Sementara itu perilaku kinetis yang berupa artefak, lingkungan alam yang termodifikasi juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah juga. Bahkan Fernand Braudel, sejarawan Prancis menggunakan lingkungan alam asli sebagai setting penelitian sejarah, seperti dalam bukunya yang berjudul: La Méditernée et Le Monde Méditerraneen à l’ époque de Phillipe II yang terdiri atas 3 jilid. (Selanjutnya lihat Lampiran 1).

Sejarah Lisan dan Tradisi Lisan

Sumber lisan dapat juga digunakan sebagai sumber sejarah. Hal ini diperlukan untuk memperluas dimensi topik penelitian. Perlu dipertegas tentang perbedaan antara sejarah lisan dan tradisi lisan. Jan Vansina mendefinisikan tradisi lisan sebagai oral testimony transmitted verbally, from one generation to the next one or more.29 Tradisi lisan dibedakan dengan kesaksian saksi mata yang disampaikan secara lisan. Kesaksian yang disampaikan secara lisan juga tidak dituturkan kepada generasi satu ke generasi lainnya. Dengan demikian pengertian tentang tradisi lisan berbeda dengan kesaksian lisan. Tradisi lisan merupakan kebudayaan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan yang disampaikan melalui gethok tular antargenerasi. Tradisi lisan ini merupakan sumber sejarah yang menceritakan masa lampau, yang biasa dijadikan sumber penelitian ilmu Antropologi maupun sejarah. Berbeda dengan tradisi lisan,

sejarah lisan dicari dengan kesengajaan.30 Sumber sejarah yang merupakan hasil

wawancara hingga kini masih dilakukan. Bahkan Arsip Nasional Republik Indonesia hingga saat ini masih mengumpulkan sumber sejarah yang diperoleh dari wawancara dengan tokoh sejarah.

Sejarah lisan memiliki banyak manfaat. Banyak peristiwa yang terjadi pada masa lampau, yang dapat ditulusuri dari dokumen sejarah yang ditinggalkan. Namun, banyak permasalahan yang tidak tertangkap dari dokumen yang tersedia. Namun peristiwa unik yang melekat dalam ingatan seseorang, sekelompok orang atau bahkan masyarakat tidak dapat ditemukan dalam dokumen tulis. Banyak peristiwa yang tidak terekam dalam

29Lihat tulisan Jan Vasina yang berjudul “Once upon a time: Oral tradition as History in Africa” yang dimuat dalam buku Historical Stdies Today, karya Felik Gilbert dan Stephen R. Graubard (Eds). 1972. New York: W.W. Norton and Company.

30Lihat Kuntowijoyo, 1994. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya bekerjasama dengn Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, hlm. 20-21.

84

dokumen tertulis. Dalam bagian-bagian berikutnya akan diberikan contoh-contoh sumber lisan yang mencerminkan sikap, perilaku, atau bahkan mentalité dari suatu masyarakat, yang tidak terdapat dalam sumber arsip tertulis.

Dalam historiografi Indonesia, terdapat banyak sumber lokal yang dapat dijadikan sebagai sumber sejarah. Sumber lokal itu antara lain: babad, serat kanda, sajarah, carita, wawacan, hikayat, tutur, cerita-cerita manurung, riwayat, tarikh, tambo, kidung yang dalam bahasa sehari-hari oleh masyarakatnya disebut sebagi sejarah.31

Karya Sastra Sebagai Sumber Sejarah

Dalam melakukan penelitian sejarah, sudah sangat lazim digunakan sumber arsip yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini penting seperti halnya telah dibahas sebelumnya bahwa hanya sumber-sumber yang memenuhi kriteria kritik sumber dan lulus dalam kritik sumber dapat digunakan sebagai sumber penelitian. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber kolonial, keputusan pemerintah, surat perintah, laporan pemerintah, dapat diklasifikasikan sebagai sumber primer. Dari sumber-sumber tersebut tidak dapat diketahui bagaimana sikap atau perilaku si pelaku atau apa yang dikandung dalam hati kecil si pelaku sejarah. Berikut beberapa contoh pemanfaatan sastra seagai sumber sejarah.

Konflik antara Sultan Hamengku Buwono II dan Paku Buwono IV

Berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 1755, wilayah Monconegoro Wetan yang mencakup daerah Madiun, Pacitan, Ponorogo, dan Tulung Agung merupakan wilayah Kesultanan Yogyakarta. Sementara wilayah itu berbatasan dengan wilayah Kesunanan Surakarta. Berhubung pembagian wilayah tersebut belum memiliki batas yang jelas, dan perbatasan tersebut didasarkan pada hubungan kekerabatan, maka sering terjadi konflik horizontal di kalangan bawah antarpenduduk desa, yang berupa perang desa antara penduduk yang tinggal di wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Untuk mencegah peperangan antara Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta, Komisaris VOC, Nicolaas Hartingh, memanggil Sultan dan Sunan untuk berunding membicarakan tentang batas-batas wilayah yang baru dari masing-masing kerajaan di Jawa secara lebih jelas.

Dari kesepakatan itu pembaruan batas wilayah itu, Monconegoro Wetan juga dibagi kembali. Wilayah Madiun, Caruban, Magetan dan sebagian Pacitan masuk ke daerah Kesultanan Yogyakarta, sementara tanah di Jogorogo, dan sebagian Pacitan menjadi bagian dari Kesunanan Surakarta. Persoalan antara kedua kesultanan belum juga selesai tatkala terjadi pergantian tahta di kedua kesultanan Jawa itu.

Permasalahan menjadi semakin parah tatkala Sultan HB II mengangkat putra mantunya, Raden Ronggo Prawirodirjo menjadi adipati di Monconegoro Wetan. Sunan PB IV menganggap bahwa pengangkatan ini akan menjadi ancaman bagi Kesunanan, karena sebelumnya telah terjadi beberapa insiden. Raden Ronggo beberapa kali menerima laporan dari Bupati Pacitan tentang pelanggaran wilayah oleh bangsawan Kesunanan. Hal ini menimbulkan konflik antara Raden Ronggo dan bangsawan Surakarta. Pada saat Raden Ronggo akan menghadap Sultan Yogyakarta, ia singgah di Delanggu. Pada saat itu kepala desa Delanggu dibunuh oleh anak buah Raden Ronggo. Sifat kebencian Paku Buwono IV terhadap raden Ronggo tidak tercermin dalam arsip kolonial, tetapi tampak jelas dalam Serat Wicara Kras, yang bunyinya sebagai berikut:

85

Ronggo iku nora teler

Mang lamun ana bathuk kang kalimis Alisé lancip

Dèweèké apeparah Janaka Madiun Dudu Janaka Ngamarta

Pratandané tan bisa ngambah mring langit Lan nora bisa ngilang

“Ronggo itu tidak punya etika Hanya dahinya yang mengkilap Alis matanya tajam

Ia mengaku Janaka Madiun Bukan Janaka Amarta Yang tidak mampu terbang

Dan tidak mampu menghilang”32

Dalam teks di atas Raden Ronggo dianggap tidak memiliki etika, walaupun ia adalah putra mantu Sultan. Hal ini merupakan penghinaan baik bagi Sultan Yogyakarta, maupun bagi putra mantunya. Istilah Bathuk kalimis dan Alisé lancip adalah ungkapan bagi seseorang yang memiliki sifat sering jatuh cinta bagaikan seorang hidung belang. Ia diumpamakan sebagai tokoh wayang Janaka yang karakternya berlawanan dengan tokoh Janaka dalam pewayangan, karena Janaka adalah tokoh wayang yang bisa terbang dan mampu menghilang. Sementara, Raden Ronggo adalah seseorang ksatria tetapi tidak memiliki kesaktian. Dari bait ini, sudah dapat diketahui makna dari serat ini. Setidak-tidaknya ada hubungan yang tidak harmonis antarkedua kerajaan di Jawa pada saat itu. 33

Hubungan yang tidak harmonis antara kedua kerajaan di Yogyakarta ini dapat dilihat pada bait-bait yang seolah-olah mempertanyakan kesaktian dari Kesultanan Yogyakarta, tatkala tentara Inggris menyerang kraton Yogyakarta. Berikut baitnya:

Yes wus mendem tan angetung becik Mbuwang nista madya lan utama Mung ngetung-etung undake Doyan kibir takabur Yen benera Ngayogya dingin Mangsa nuliya bedah Abot sangganipun Sugih banda sugih putra

Myang santana sasat prabu Kurupati Ngastina gegempuran34

“Jika sudah mabuk tidak peduli kebaikan Mengabaikan keburukan dan kebenaran Hanya memperhitungkan keuntungan Suka bertakabur

Jika Yogyakarta memang benar Pasti tidak akan hancur Sangat berat resikonya Kaya harta kaya anak

Juga kerabat seperti Raja Kurupati Astina hancur lebur”

Makna dari naskah ini menunjukkan bahwa pihak Kraton Kesunanan mempersalahkan Kraton Yogyakarta, dan Sultan harus mengakui kesalahannya. Kesultanan Yogyakarta dicap sebagai kraton yang tidak peduli, tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, yang hanya mementingkan harta duniawi. Yogyakarta dianggap suka takabur, dan pantas untuk dihancurkan. Penyerangan ke Kraton Yogyakarta oleh Inggris akan menimbulkan kesengsaraan yang amat besar karena Sultan HB II memiliki anak dan kerabat yang banyak.

Mengingat bahwa serat ini berasal dari Kraton Surakarta, dan di antara kedua kerajaan di Yogyakarta saat itu sering terjadi konflik, sudah dapat dipastikan bahwa isi

32Lihat Serat Wicara Kras, t.t. Pupuh 11, padha 34. Koleksi Perpustakaan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Naskah ini ditulis menggunakan aksara Jawa. Di Ruang Naskah Perpustakaan Universitas Indonesia, serat ini sudah ditransliterasikan dengan huruf latin dan sudah didigitalisasikan.

33Lihat Djoko Marihandono dan Harto Juwono. 2008. Sultan Hamenku Buwono II: Pembela

Tradisi dan Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Banjar Adji Production, hlm: 154-156.

86

serat ini menjatuhkan pihak Kraton Yogyakarta. Sikap, emosi, tuduhan, hujatan dan hal negatif lainnya ditujukan kepada kesultanan Yogyakarta.

Penangkapan Sultan Hamengku Buwono II oleh Inggris

Setelah penandatangan kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811, Pulau Jawa dan sekitarnya dikuasai oleh Inggris. Kesempatan itu digunakan oleh para raja Jawa untuk menyusun kekuatan agar tanah-tanah kerajaan yang disita oleh pemerintah Belanda dikembalikan kepada kedua raja Jawa itu. Sunan HB IV memanggil abdi dalem untuk menyerahkan surat pribadinya kepada Sultan HB II. Isi surat itu adalah ajakan melanjutkan rencana kerjasama mereka menghadapi tekanan Letnan Gubernur Jenderal Raffles sebagai penguasa tertinggi di Jawa dan sekitarnya dan menuntut pengembalian tanah-tanah kerajaan yang diambil oleh pemerintahan sebelumnya. Dalam surat itu, Sunan menyarankan agar Sultan tidak perlu gentar terhadap tekanan Raffles. Selaku penguasa di wilayah kerajaan Jawa, John Crawfurd menerima informasi itu dari Pangeran Notokusumo yang dikenal dekat dengan pemerintahan Inggris. Ia menduga kedua sultan berencana akan memberontak. Pada 15 Juni 1812, Raffles bersama pasukannya tiba di Semarang, kemudian menyusun strategi untuk menyerang Kraton Yogyakarta. Pasukan Inggris sudah bersiap di alun-alun utara Yogyakarta pada 20 Juni 1812, langsung melakukan penyerangan. Pukul 12.00 pada tanggal tersebut kraton Yogyakarta diduduki Inggris. Bagaimana penangkapan sultan terjadi, diceritakan dalam Serat Behah Ngayogyokarto. Berikut syairnya:

Apan Mugeng ing Srimanganti Tinimbalan wus samya ngapura Sumanten Jeng Sultan mangku Kang neng Loji wus daut Pan binekta dhateng wadya Gris Myang Supe ingkang jaga Rumeko delanggung Linajengken mring Benggala Putra kalih Pangeran Makudiningrat Pangeran Mertasana 35

“Setibanya di Srimanganti Dipanggil untuk diampuni Begitu Sultan muncul Segera dibawa ke Loji Ditangkap oleh pasukan Inggris Bersama Sepoi yang mengawalnya Dijaga sangat ketat

Terus dibawa ke Benggala

Putra berdua Pangeran Mangkudiningrat Pangeran Mertasana

Dari naskah ini, terdapat beberapa hal yang perlu dijelaskan dan diluruskan. Pertama bahwa yang dimaksudkan sebagai ‘Loji’ di sini adalah benteng Vredeburg yang berada di sebelah utara Kraton Yogyakarta. Tidak ada hubungannya dengan Loji Kecil, yaitu bangunan yang terletak di antara Benteng Vredeburg dan Kraton Yogyakarta. Berdasarkan serat ini, setelah ditangkap Sultan HB II dibawa ke Benggala India.

Berdasarkan arsip kolonial, setelah Sultan HB II menyerah, Raffles menghentikan serangannya. Penyerahan diri Sultan dibarengi dengan permintaan agar pasukan Inggris segera keluar dari kraton dan jangan menjarah harta benda yang berada di dalam kraton. Pada 20 Juni 1812, Raffles menurunkan Sultan HB II dari tahtanya dan sebagai penggantinya diangkatlah Sultan HB III. Saat itu Gillespie komandan pasukan Inggris dalam rangka penyerbuan ke kraton Yogyakarta bertemu dengan Sultan HB II di Balai Sri Manganti. Ia menyarankan agar Sultan HB II segera berangkat ke Benteng Vredeburg, dan dirinya menjamin bahwa Raffles akan memafkannya. Setelah

35Naskah ini diambil dari Babad Bedhah ing Ngayogyakarta, pupuh XXIII, padha 16. Naskah ini disimpan di museum Sonobudoyo Yogyakarta, ditulis dengan menggunakan aksara Jawa. Transliterasi naskah ini berada di ruang naskah Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok, dan sudah digitalisasikan.

87

bertemu dengan Raffles, ia menyampaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Sultan HB II, dan ia dinyatakan bersalah. Oleh karena itu, Sultan seharusnya dihukum mati, akan tetapi karena usianya sudah tua, ia akan dibawa ke Batavia. Untuk itu, ia diizinkan ditemani oleh puteranya Pangeran Mangkudiningrat dan Pangeran Mertosono selama sultan berada di pembuangan.

Di Batavia, Raffles meminta pendapat dari para penasehatnya mengenai penahanan Sultan HB II. Menurut penasehatnya, Sultan harus dibuang ke luar Jawa, karena bila dibiarkan di Jawa akan sangat berresiko terhadap pemerintahan di Batavia. Berhubung penahanan seseorang ke luar Jawa bukan wewenangnya, maka Raffles meminta nasehat kepada Gubernur Jenderal Lord Minto di Calcutta. Dalam keputusan Lord Minto, diinstruksikan bahwa Sultan HB II harus dikirim ke pangkalan Inggris di pulau Penang, di wilayah yang belum dikenalnya, sehingga Sultan tidak akan dapat

berkomunikasi dengan kerabatnya di Yogyakarta.36 Dengan demikian apa yang tertera

dalam Serat Bedhah Ngayogyakarta tersebut adalah bahwa Raffles berkonsultasi dengan Gubernur Jenderal EIC Lord Minto yang saat itu berada di Benggala, dan bukan Sultan HB II yang dibuang ke Ceylon.

Jalan Raya Pos

Pada masa pemerintahan Daendels, telah dibuat jalan yang membentang antara Anyer dan Panarukan, yang jaraknya hampir 1.000 km, menghubungkan antara bagian barat pulau Jawa dan bagian timur pulau Jawa. Berdasarkan novel Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, disebutkan sebagai berikut:

BLORA—REMBANG

Jalan raya pos, Jalan Daendels, membentang 1000 kilometer sepanjang Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Sejak dapat dipergunakan pada 1909 telah menjadi infrastruktur penting dan untuk selamanya. Dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, disusul masa pendek pendudukan militerisme Jepang sampai 1945, berlanjut dengan Revolusi 1945—1949, orang sudah tak peduli lagi bahkan tidak ingat lagi padanya.

Untuk pertama kali kudengar namanya tentu saja dari guruku di sekolah dasar. Instituut Boedi Oetomo, disingkat IBO. Di bawah pimpinan ayahku sendiri sekolah ini sudah banting setir jadi sekolah nasional pada tahun 30-an. Apa pula sekolah nasional itu? Pendeknya secara tidak langsung—karena tidak mungkin secara langsung—diajar membenci penjajahan Barat, Eropa, Belanda. Sebaliknya mengagungkan bangsa sendiri, tidak peduli ilmiah atau tidak, asal memerosotkan wibawa kolonial.37

Kutipan ini menjelaskan tentang Daendels yang telah membangun jalan raya Anyer-Panarukan. Berdasarkan arsip kolonial, Herman Willem Daendels tiba di pelabuhan Anyer dari Eropa pada 1 Januari 1808. Ia kemudian menggunakan jalan darat menuju ke Batavia. Di Serang ia dijemput oleh Komandan Militer Serang Pieter Philip Dupuy, yang mengawalnya hingga sampai ke Batavia pada 4 Januari 1808. Setelah bertemu dengan Gubernur Jenderal Albertus Hendricus Wiese, Daendels dilantik sebagai

36 Lihat Djoko Marihandono dan Harto Juwono, 2009. Sultan Hamengku Buwono II: Pembela

Tradisi dan Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Bandar Aji Production, hlm. 159-165.

37 Pramoedya Ananta Toer, 2005. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara, hlm. 7-8.

88

Gubernur Jenderal pada 14 Januari 1808, tepatnya dua minggu setelah ia mendarat di pulau Jawa. Dari Anyer hingga Batavia, ia menggunakan jalan darat, yang berarti bahwa jalan itu sudah ada dan sudah dapat dilewati. Dengan demikian, perlu diragukan apakah