PESAN-PESAN TENTANG IBADAH
G. Membaca/belajar
Membaca/belajar adalah kegiatan meresepsi, menganalisis, dan mengintepretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan. Pada dasarnya belajar adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mencari informasi tentang sesuatu yang bersifat baru. Belajar adalah suatu kegiatan dari yang tidak tahu menjadi tahu. Itu sebabnya belajar itu sangat penting bagi seluruh manusia. Oleh karena tanpa belajar manusia tidak akan mengetahui apa yang seharusnya diketahui.
Belajar itu merupakan suatu kebutuhan yang benar- benar harus dipenuhi. Belajar dapat diibaratkan seperti makan apabila kita tidak makan maka kita akan lapar. Begitu juga dengan belajar, apabila kita tidak belajar maka kita juga akan lapar akan ilmu-ilmu yang ingin kita ketahui.
Di dalam al-Quran juga dituliskan bahwa setap manusia dianjurkan untuk belajar seperti yang terdapat di dalam surat al-‘Alaq yang artinya “bacalah”. Oleh karena itu, setiap manusia seharusnya meluangkan waktu untuk belajar agar
menjadi bekal dalam mengatasi segala permasalahan- permasalahan kehidupan ini. Belajar sangat penting bagi kehidupan sehari-hari yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai.
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Oleh karenanya belajar sangat penting bagi kehidupan, maka bagi Alif belajar adalah menjadi prioritas utama dalam aktivitas sehari-harinya, sebagaimana tampak pada kutipan berikut ini.
“Alif, bagiku belajar adalah segalanya. Ini perintah Tuhan, perintah Rasul, perintah kemanusiaan. Bayangkan, kata-kata pertama wahyu yang diterima Rasulullah itu adalah iqra. Bacalah. Itu artinya juga belajar. Makanya, aku akan terus mempraktikkan ajaran Rasul itu, bahwa kita perlu belajar dari buaian sampai liang lahat. Aku tidak akan berhenti belajar walau nanti sudah dapat gelar atau lulus sekolah. Mungkin kamu bingung dengan kegilaanku belajar. Percayalah, tidak hanya aku yang gila. Ribuan tahun yang lalu, sekarang, dan di masa depan akan terus ada orang yang gila ilmu (R3W :34).
H. Bersedekah
Sedekah merupakan amalan yang mulia. Sedekah dengan ikhlas akan menjanjikan pahala buat pelakunya, karena setiap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan baik juga. Adapun manfaat sedekah antara lain adalah sebagai berikut (http://indahnyasedekahanda.wordpress.com, diakses pada 21 Desember 2014).
Pertama, sedekah dapat menghapuskan kesalahan dan meredakan murka Allah. Rasulullah Saw bersabda: “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan sakaratul maut” (Sayyid Sabiq).
Kedua, sedekah membuka pintu rezeki. Rasulullah Saw bersabda, ” Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR Al-Baihaqi). Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman: ” Hai anak Adam, infaqlah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu“(HR Muslim).
Ketiga, sedekah melipatgandakan rezeki. Sedekah tidak saja membuka pintu rezeki, tetapi juga melipatgandakan rezeki yang ada pada kita. “Perumpamaan nafkah yang
dikeluarkan oleh orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2:261).
Keempat, sedekah menjauhkan diri dari api neraka. Rasulullah Saw bersabda: “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma” ( Mutafaq’alaih).
Kelima, pelaku sedekah berada dalam naungan sedekahnya pada hari kiamat. Rasulullah bersabda: “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya” (HR Ahmad).
Mengingat sedemikian pentingnya hikmah sedekah sebagaimana dipaparkan di atas, maka pembelajaran bersedekah juga sangat diperhatikan di PM dengan harapan para peserta didiknya memiliki kepedulian sosial dan empati pada sesama. Kutipan berikut ini menggambarkan para santri di PM sudah terbiasa bersedekah kepada teman-temannya.
“Ayolah kawan-kawan. Kapan lagi kita bersepeda bersama ke kota. Aku akan traktir kalian semua di warung sate paling enak di sana,” bujuk said (N5M:122- 125).
Said menyorongkan gelas besar dan semangkuk
makrunah, “Ya akhi, ngopi dulu supaya tidak ngantuk.” Itulah enaknya punya temen seperti Said yang sering dapat wesel. Konsumsi ditanggung banyak (N5M : 198).
’’Ayo....ayo.... aku traktir. Semua yang aku pesan adalah menu andalan mereka. Coba ini, saya jamin kalian tidak akan ketemu di tempat lain. Ini namanya gulai kacang hijau,’’ pamer Said(N5M:225-226).
Seperti memenangkan piala dunia, masing-masing kardus kami arak ke kamar. Di bawah kerubutan kawan- kawan, aku meletakkan paket di tengah kamar. Semua penasaran dan menahan napas. Siapa pun penerima paket di kamar ini, berarti membawa kebahagiaan buat semua (N5M:270).
I. Beristighfar
Beristighfar adalah mengucapkan kalimat astaghfirullah
dengan niat memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang telah dilakukan dengan harapan agar dosa akibat kesalahannya itu dihapuskan oleh Allah. Istighfar merupakan salah satu jalan untuk memohon ampunan-Nya. Manfaat istighfar bagi umat Islam sangat banyak. Setiap manusia tentu tidak terlepas dari berbuat salah dan khilaf dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika manusia berbuat salah maka sebaiknya segera memohon ampun kepada Allah agar dosanya diampuninya
Di antara banyak dzikir yang diamalkan ummat Islam sebagai hamba Allah, salah satunya adalah dengan beristighfar. Untuk itulah maka beristighfar dianjurkan untuk diperbanyak dan dikerjakan secara rutin. Istghfar jika dibaca secara rutin dalam setiap waktu dan kesempatan, terlebih setelah melaksanakan shalat akan memberikan dampak yang positif dan manfaat yang besar bagi si pelakunya.
Adapun di antara manfaat beristighfar adalah sebagai berikut. Pertama, untuk menggembirakan Allah. Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir” (HR.Bukhari dan Muslim).
Kedua, agar dosa-dosanya diampuni. Rasulullah bersabda, “Allah telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya)” (HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).
Ketiga, agar selamat dari api neraka. Hudzaifah pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu
menyebabkan ku masuk neraka’. Rasulullah bersabda,’Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam’.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).
Keempat, mendapat balasan surga. “Dan (juga) orang- orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”(QS.Ali’Imran: 135-136).
Kelima, untuk melapangkan kesempitan. Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka- sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad) (http://kuliahnyata. blogspot.com /keistimewaan-istighfar, diakses pada 21 Desember 2014).
Pesan tentang betapa pentingnya bacaan istighfar dalam trilogi novel N5M adalah dibacanya salah satu syair Abu Nawas di PM. Syair yang berisi istighfar ini biasanya dibaca bersama dengan dilagukan, sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Untuk pertama kalinya aku hanyut ketika melagukan syair nakal Abu Nawas bersama sebelum shalat Maghrib. Syair ini kami lantunkan dengan syahdu, meminta segala ampunan terhadap segala dosa kami yang bertabur seperti butir pasir. Suara ribuan orang bersipongang bagai guruh ke segala arah. Turut naik dengan nada meratap. Efeknya menjalar dalam ke urat hatiku. Aku jiwai dengan sepenuh hati setiap bait- baitnya…(N5M:142-143).
Ilahi lastu lilfirdausiahla, Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi Fahabli taubatan waghfir dzunubi, Fainaka ghafirudz-dzanbil azhimi…. Dzunubi mitslu a’adaadin rimali, Fahabli taubatan ya Dzul Jalaali, Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi, Wa `azanbi zaaidun kaifahtimali Ilhi ‘abdukal ‘aashi ataak,
Muqirran bi dzunubi wa qad da’aaka Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, Wain tadrud faman narju siswaaka
Wahai Tuhanku… aku sebetunya tak layak masuk surgaMu,
Tapi… aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,
Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,
Sesungguhnya Engkaulah maha pengampun dosa- dosa besar
Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir
Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang Maha Agung
Setiap hari umurku terus berkurang Sedangkan dosaku terus menggunung,
Bagaimana aku menanggungkannya Wahai Tuhan, hamba-Mu yang berdosa ini Dating bersimpuh ke hidupan-Mu
Mengakui segala dosaku
Mengadu dan memohon kepada-Mu Kalau Engkau ampuni itu karena
Engkau sajalah yang bisa mengampuni
Tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon
Ampun selain kepada-Mu? (N5M:143-144).
Setiap bait aku lantunkan dengan sepnuh hati, mohon ampun kepada Tuhan dan mohon ampun kepada Amak. Dadaku terasa luruh dan plong. Rasanya pengaduanku didengar oleh-Nya. Pengaduan pendosa yang tidak ada tempat lain untuk mengadu selain-Nya (N5M:144).
J. Mengajar
Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing peserta didik dalam kegiatan belajar yang mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan peserta didik dan bahan pengajaran, sehingga terjadi proses belajar mengajar. Mengajar dapat diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Oleh karenanya mengajar merupakan suatu proses yang kompleks, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh peserta didiknya.
Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami peserta didik. Guru yang berhasil mengajar di suatu sekolah belum tentu berhasil di sekolah lain. Itulah sebabnya ada pendapat bahwa mengajar itu adalah suatu “seni” tersendiri.
Hal terpenting terkait dengan aktivitas mengajar adalah adanya jiwa keikhlasan dari para pendidik untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi generasi penerus yang shalih dan unggul. Jiwa keikhlasan – yang oleh ustadz- ustadz di PM diyakini sebagai “energi tertinggi”ini – telah dicontohkan oleh para ustadz di PM dimana mereka tidak digaji dan mengajar hanya dengat niat beribadah kepada Allah, tampak pada kutipan berikut ini.
Jiwa keikhlasan dipertontonkan setiap hati di PM. Guru-guru kami yang tercinta dan terhebat-hebat sama sekali tidak menerima gaji untuk mengajar. Mereka
semua tinggal di dalam PM dan diberi fasilitas hidup yang cukup, tapi tidak ada gaji. Dengan tidak adanya ekspektasi gaji semenjak awal, niat mereka menjadi khalis. Mengajar hanya karena ibadah, karena perintah Tuhan. Titik (N5M:296-297).
Begitu niat ikhlas terganggu, seorang guru biasanya merasakannya dan langsung mengundurkan diri. Akibat seleksi ikhlas ini, semua guru dan kiai pun punya tingkat keikhlasan yang terjaga tinggi yang artinya juga energi tertinggi. Dalam ikhlas, sama sekali tidak ada transaksi yang merugi. Nothing to lose. Semuanya dikerjakan all-out dengan mutu terbaik. Karena mereka tahu, cukuplah Tuhan sendiri yang membalas semuanya. Tidak ada transfer duit dan materi di PM. Hanya transfer amal, doa, dan pahala. Indah sekali. Sosok Ustadz Khalid kembali muncul di pelupuk mataku (N5M:297).
Inilah yang aku pelajari dan pahami tentang keikhlasan. Dan aku tahu, hampir semua kami di kelas enam meresapi pemahaman ini (N5M:297).
Bahkan keikhlasan para ustadz di PM karena sudah mencapai level tinggi dinyatakan dengan istilah “mewakafkan diri”, sebuah istilah yang bermakna totalitas dalam perjuangan dan pengabdian. Kutipan berikut menginformasikan hal itu.
“Pertanyaan bagus akhi. Jadi begini. Saya pribadi telah memutuskan untuk berwakaf kepada PM. Dan barang yang saya wakafkan adalah diri saya sendiri”.
Aku kurang mengerti dengan jawabannya.
“Maaf Tad, boleh diperjelas lagi, mewakafkan diri?” “ Iya, sederhananya, kalau kita mewakafkan tanah ke sekolah, maka tanah itu berpindah ke tangan sekolah itu selamanya, untuk kepentingan sekolah dan umat. Dan saya, karena tidak punya tanah, yang saya wakafkan adalah diri saya sendiri saja” (N5M : 253).
BAB VI
BENTUK DAN MAKNA