BAB I PENDAHULUAN
B. Rumusan Masalah
3. Mengajar di Pesantren
Kiai Sholeh Darat dipandang memiliki berbagai keahlian di bidang ilmu agama yang mana telah terbukti melalui karya-karya beliau yang sangat fenomenal. Bukan hanya itu, bahkan penguasa dari Mekah mempercayakan beliau sebagai salah satu pengajar di sana, karena kealiman dan keilmuan beliau di dalam hal agama. Di Mekah, Kiai Sholeh Darat mengadakan halaqah yang memiliki banyak pengikut. Halaqah tersebut dihadiri banyak kalangan, khususnya mayoritas etnis Melayu dan Jawa yang ada di Asia Tenggara. Kiai Sholeh Darat mengadakan halaqah ini, bersama-sama dengan para ulama yang berasal dari Nusantara, di antaranya yaitu Syaikh Ahmad Khatib, Syaikh Mahfudz Al Tarmasi, Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Ahmad Al Fathani, dan Syaikh Kholil Al Bangkalani (Darat, Terj. Miftahul Ulum dan Agustin Mufarohah, 2016:xxxi).
Kabar kemasyhuran Kiai Sholeh Darat dalam ilmu agama dan naiknya reputasi Kiai Sholeh Darat di Haramain terdengar sampai Nusantara. Kiai Hadi Giri Kusumo yang merupakan kakak ipar Kiai Sholeh Darat juga sedang belajar di Haramain, mengajaknya pulang Kiai Sholeh Darat untuk mengentaskan masyarakat di Nusantara dari kebodohan (Ulum, 2016:48). Pada mulanya Kiai Sholeh Darat menolak ajakan tersebut, karena beliau sudah diikat oleh penguasa Mekah sebagai
salah satu pengajar di Mekah. Hal ini tidak membuat Kiai Hadi Giri Kusumo menyerah untuk mengajak beliau pulang ke Nusantara, karena kehadiran Kiai Sholeh Darat di Nusantara dibutuhkan untuk membantu mengentaskan pribumi dari ketidaktahuan mereka dalam hal agama yang disebabkan oleh ulah Belanda, sehingga nantinya kehadiran Kiai Sholeh Darat mampu membawa kemajuan Islam di Nusantara. Kemudian, Kiai Sholeh Darat terpaksa pulang ke Nusantara, karena bersikerasnya Kiai Hadi Giri Kusumo dan undangan dakwah dari Syaikh Kholil Al Bangkalani (Hakim, 2016:71).
Selanjutnya, Kiai Hadi Giri Kusumo merencanakan untuk menculik Kiai Sholeh Darat untuk dibawa ke Nusantara. Kemudian, diculiklah Kiai Sholeh Darat dan dimasukkan di dalam peti bersama dengan barang-barang Kiai Hadi Giri Kusumo. Namun, rencana ini tidak berjalan dengan mulus, karena kejadian ini telah diketahui oleh sebagian orang dan terdengar sampai ke petugas ketika di dalam kapal, maka diperiksalah barang-barang Kiai Hadi Giri Kusumo dan ditemukanlah Kiai Sholeh Darat di dalam peti (Dzahir, 2012:12).
Dengan didapatinya Kiai Sholeh Darat di dalam sebuah peti, Kiai Hadi Giri Kusumo dianggap telah menculik salah satu syaikh yang ada di Mekah, maka beliau ditahan oleh petugas ketika kapal sudah berlabuh di Singapura. Berita ini sampai kepada murid-murid Kiai Hadi Giri Kusumo yang ada di Singapura. Kemudian, mereka membantu Kiai Hadi Giri Kusumo agar bisa bebas dari tahanan petugas. Kiai Hadi Giri Kusumo
dapat terbebas dari tahanan dengan syarat harus membayar denda yang diberikan, maka seketika itu murid-murid Kiai Hadi Giri Kusumo mengumpulkan dana untuk membantu kiainya agar bebas dari tahanan. Dengan begitu, terbebaslah Kiai Hadi Giri Kusumo karena bantuan dari para muridnya tersebut dan kemudian mengajak Kiai Sholeh Darat pulang ke Nusantara tanpa unsur paksaan (Ulum, 2016:49). Adapun waktu kepulangan dari Kiai Sholeh Darat ke Nusantara diperkirakan pada tahun 1870 atau 1880 (Hakim, 2016:72).
Sesampainya Kiai Sholeh Darat di Jawa, beliau tidak langsung mendirikan pesantren, tetapi Kiai Sholeh Darat mengajar di salah satu pesantren yang ada di desa Maron, Kecamatan Loana, Purworejo. Pesantren tersebut bernama pesantren Salatiyang yang didirikan pada abad ke 18 M dan dipelopori oleh tiga orang kiai sufi yaitu Kiai Achmad Alim, Kiai Muhammad Alim dan Kiai Zain Al Alim. Kemudian, pesantren ini diteruskan oleh Kiai Zain Al Alim. Sementara itu, Kiai Achmad Alim mendirikan pesantren di desa Bulus, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo. Adapun Kiai Muhammad Alim (Putra dari Kiai Achmad Alim) mengembangkan pesantrennya yang telah didirikan di Desa Maron juga yang diberi nama Pesantren Al Anwar (Darat, Terj. Miftahul Ulum dan Agustin Mufarohah, 2016:xxxiv).
Di Pesantren Salatiyang lebih memfokuskan pada bidang menghafal Al Quran disamping juga mengkaji kitab-kitab kuning. Kemungkinan besar Kiai Sholeh Darat di pesantren ini lebih membantu
pada pendalaman kitab kuning seperti pelajaran fiqh, nahwu, shorof dan tafsir kepada para santri yang sedang menghafal Al Quran. Sebenarnya, kedatangan Kiai Sholeh Darat di pesantren Salatiyang adalah untuk menimba ilmu lagi dengan Kiai Zain bukan untuk mengajar di pesantren tersebut. Kemudian, dalam sebuah riwayat dikatakan bahwasanya Kiai Sholeh Darat mengajar di pesantren Salatiyang sampai pada sekitar 1870- an. Di antaranya santri yang lulusan dari pesantren ini adalah Kiai Baihaqi (Magelang), Kiai Ma’aif (Wonosobo), Kiai Muttaqin (Lampung Tengah), Kiai Hidayat (Ciamis), Kiai Haji Fathullah (Indramayu) dan lainnya (Dzahir, 2012:16).
Sepulangnya dari Purworejo yaitu pesantren Salatiyang, Kiai Sholeh Darat mendirikan sebuah pesantren yang menjadi tempat halaqah para santri beliau di Darat, Semarang, sehingga berdirilah pesantren Darat. Namun, menurut keterangan dari Agus Tiyanto, pesantren Darat didirikan oleh mertua Kiai Sholeh Darat yaitu Kiai Murtadlo (Hakim, 2016:79), sementara Kiai Sholeh Darat hanya melanjutkan dan membesarkan pesantren tersebut yang awalnya hanya sebuah langgar atau masjid untuk mengaji menjadi tempat yang bisa untuk santrinya bermukim (Dzahir, 2012:17).
Pondok pesantren Darat terletak di Melayu Darat, Kecamatan Semarang Utara dekat dengan daerah pantai. Sekarang berganti nama menjadi Desa Dadapsari. Arsitektur pesantren ini menggunakan bahan kayu jati yang terdiri dari rumah Kiai, mushola dan asrama santri. Jadi,
pesantren ini tidak jauh beda dengan pesantren-pesantren pada umumnya. Sekarang, bekas dari pesantren ini sudah berubah menjadi beberapa rumah kampung pedesaan yang tersisa hanyalah masjid tempat untuk beribadah sehari-hari dan itu pun sudah direnovasi.Selanjutnya, perlu diketahui bahwasanya pesantren yang dipimpin oleh Kiai Sholeh Darat merupakan pesantren yang termasuk ke dalam pesantren pascasarjana bukan pesantren tingkat dasar. Hal ini dikarenakan banyaknya santri yang sudah pernah menimba ilmu sebelumnya, baik dari pesantren di wilayah Nusantara maupun yang sudah belajar dari Haramain. Artinya, para santri yang berguru kepada Kiai Sholeh Darat sudah mempunyai bekal atau santri senior, bukan santri junior yang masih belum mempunyai modal dalam keagamaan (Hakim, 2016:79-80).
Pesantren ini kemudian melahirkan banyak ulama yang berada di Nusantara dan sekaligus menjadi pejuang kemerdekaan RI. Di antaranya yang menjadi murid Kiai Sholeh Darat ketika Kiai Sholeh Darat masih di Mekkah adalah K.H. Dalhar (Watu Congol, Muntilan, Magelang), K.H. Dimyati (Termas, Pacitan), K.H. Dahlan (Termas, Pacitan), K.H. Kholil Harun (Kasingan, Rembang), K.H. Raden Asnawi (Kudus), Syaikh Mahfudz Al Tarmasi (Termas, Pacitan).
Adapun murid-murid Kiai Sholeh Darat ketika sudah kembali ke Nusantara di antaranya adalah K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlotul Ulama’ dari Jombang), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), R.A. Kartini (Tokoh Emansipasi Wanita dari Jepara), Kiai Abdul Syakur
ibn Muhsin, K.H. Idris (Solo, yang menghidupan kembali Pesantren Jamsaren), K.H. Sya’ban (Ahli Falak dari Semarang), Kiai Amir (Pekalongan, menantu Kiai Sholeh Darat), K.H. Siroj (Payaman, Magelang), K.H. Munawwir (Cucu Kiai Hasan Besari dan pendiri PP. Al Munawir Krapyak, Yogyakarta), K.H. Abdul Wahhab Chasbullah (Tambak Beras, Jombang), K.H. Abas Djamil (Buntet, Cirebon), K.H. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), Kiai Yasin (Rembang), Kiai Abdul Shamad (Surakarta), Kiai Yaser Areng (Rembang), K.H. Subakir (Demak), K.H. Abdul Hamid (Kendal), K.H. Yasin (Bareng, Kudus), K.H. Ridwan Ibnu Mujahid (Semarang), K.H. Syahli (Kauman, Semarang), K.H. Thohir (Putra dari Kiai Bulkin Mangkang, Semarang), K.H. Sya’ban (Ahli Falak dari Semarang yang menulis artikel Qabul Al ‘Athoya ‘an Jawabi ma Shodaro li Syaikh Abi Yahya untuk mengoreksi kitab Majmu’at Asy Syari’ah karya Kiai Sholeh Darat), K.H. Anwar Mujahid (Semarang), K.H. Abdullah Sajad (Sendangguwo, Semarang), Mbah Dawud (Semarang), K.H. Ali Barkan (Semarang), K.H. Ihsan (Jampes, pengarang kitab Siroju At Tolibin syarah dari kitab Minhaj Al ‘Abidin dan kitab tentang kopi dan rokok Irsyadu Al Ikhwan syarah kitab Tadzkiratu Al Ikhwan karya K.H Dahlan gurunya), K.H. Umar (Pendiri PP. Al Muayyad Solo), K.H. Ridwan (Semarang), K.H. Mudzakir (Sayung, Demak) (Dzahir, 2012:13).
Pesantren Darat, selain difungsikan sebagai kaderisasi ulama’ juga menjadi tempat penggemblengan para pejuang kemerdekaan RI. Oleh
karena itu, tempat ini menjadi salah satu tempat yang diawasi oleh Belanda. Setelah Kiai Sholeh Darat wafat pada tahun 1903, pesantren Darat diteruskan oleh menantunya K.H. Dahlan (Adik K.H. Mahfudz Al Tarmasi dan kakak K.H. Dimyati Al Tarmasi) yang dinikahkan dengan Siti Zahroh putri Kiai Sholeh Darat. Kemudian setelah wafatnya K.H. Dahlan, Siti Zahroh menikah dengan Kiai Amir Pekalongan dan sekaligus pimpinan Pesantren Darat diambil alih oleh Kiai Amir. Tidak lama kemudian, Siti Zahroh meninggal dan Kiai Amir memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya yaitu Pekalongan. Setelah Kiai Amir, pesantren Darat diambil alih Kiai Idris. Kiai Idris memboyong sejumlah santrinya ke Solo untuk menghidupkan lagi pesantren yang ada di Jamsaren Solo (Hakim, 2016:82).
4. Langkah Gerakan Muhammad Sholeh Darat Al Samarani