• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengungkap Sumber Tafsir dalam Penafsiran Ayar-ayat Ibadah Ibadah

QAWL BAYĀN DAN KITĀB AL-BURHĀN

A. Mengungkap Sumber Tafsir dalam Penafsiran Ayar-ayat Ibadah Ibadah

1. Shalat

Sebelum menjelaskan tentang sumber tafsir yang terdapat pada penafsiran ayat-ayat ibadah, terlebih dahulu penulis kemukakan tentang kedudukan dan urgensi shalat.

a. Kedudukan dan Urgensi Shalat.

Pemilihan tema shalat pada penelitian ini disebabkan shalat mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Perintah shalat diulang-ulang beberapa kali dalam al-Qur‟an dan hadis. Pernyataan ini didukung oleh dalil-dalil dalam al-Qur‟an dan

Sunnah yang menjelaskan tentang posisi shalat dalam ajaran Islam. Dalil-dalil tersebut antara lain:

1). Shalat merupakan ciri terpenting orang bertaqwa. Firman Allah:



































“Kitab (Al-Qur‟an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”1 QS. al-Baqarah [2]: 2-3.

2).Shalat sebagai tiang agama (al-ṣalāt imād al-dīn) dan tidak boleh meninggalkan shalat dalam kondisi apapun. Keringanan dalam ibadah shalat hanya terdapat pada tehnik pelaksanaannya, seperti tidak sanggup berdiri, boleh mengerjakan shalat dengan duduk. Seseorang yang sakit keras sekalipun tidak boleh meninggalkan shalat dan tetap melaksanakan shalat sesuai dengan kesanggupannya. 3). Shalat merupakan amalan yang mula-mula dihisab pada hari

kiamat.2

1Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

Al-Qur‟an Terjemah dan Tajwid, (Surakarta: Ziyad, t.t.), h. 2. 2

Hadis Rasulullah Saw.

َأ ِنْب َةَراَرُز ْنَع ،ٍدْنِى ِبَِأ ِنْب َدُواَد ْنَع ،َةَمَلَس ُنْب ُداََّحْ اَنَ ثَّدَح، ٍبْرَح ُنْب ُناَمْيَلُس َنََرَ بْخَأ

ٍميَِتَ ْنَع ،َفَْو

َص َِّلِلا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق ،ِّيِراَّدلا

َدَجَو ْنِإَف ،ُة َلََّصلا ُدْبَعْلا ِوِب ُبَساَُيَ اَم َلَّوَأ َّنِإ " :َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُالله ىَّل

اوُرُظْنا :ِوِكِئ َلََمِلل َلَاَعَ ت َُّلِلا َلاَق ،ٌناَصْقُ ن اَهيِف َناَك ْنِإَو ،ًةَلِماَك ُوَل ْتَبِتُك ،ًةَلِماَك ُوَت َلََص

ْنِم يِدْبَعِل ْلَى ،

وَطَت

،ُةاَكَّزلا َُّثُ ،ِوِتَضيِرَف ْنِم َصَقَ ن اَم ُوَل اوُلِمْكَأَف ٍع

“Sesungguhnya amalan pertama seorang hamba yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya sempurna, maka ditulis sempurna. Dan jika shalatnya tidak sempurna, Allah Swt. berfirman kepada para malaikat: “Periksalah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang...”Ibn Majah Ibn Abū Abdillah Muhammad bin Yazīd Qazwainī, Sunan Ibn Majah, (T.tp: Dār al-Ihyā al-Kutub al-„Arabiyah, t.th), Jilid 1, h. 458. Mālik bin Anas bin Mālik

4). Islam ditegakkan atas lima sendi utama yaitu dua kalimah syahadat sebagai bukti pengakuan seorang hamba kepada Allah Swt. dan kerasulan Muhammad Saw., shalat lima kali sehari semalam, membayar zakat, menunaikan puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah ke Baitullah. 5).Tidak kurang dari tujuh ayat dalam al-Qur‟an, Allah

menyebutkan perintah shalat dirangkai setelah ungkapan keimanan.3 Seperti surat Ṭaha : 14, al-Nisā‟: 162, al-Taubah ayat 18, al-Bayyinah:5, al-Mu‟minūn ayat 2, al-An‟ām ayat 162.

Shalat merupakan perintah Allah Swt. kepada umat Islam yang wajib dilaksanakan lima kali sehari semalam. Shalat adalah pondasi dasar dan tiang agama Islam. Siapa yang menegakkan shalat, berarti menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan shalat berarti meruntuhkan agama. Shalat merupakan panduan untuk melatih pribadi atau karakter manusia menjadi pelaksana kehendak Allah.

Ibadah merupakan hal penting dalam kehidupan seorang muslim. Ibadah melambangkan pengabdian seorang hamba kepada Allah. Ibadah dalam Islam dipahami sebagai semua aspek yang meliputi pelaksanaan perintah Allah dan menghindari semua larangan Allah Swt. Ibadah langsung menghubungkan hamba dengan penciptanya dan mengembalikan manusia ke tujuan awal penciptaan, yaitu untuk menyembah Allah Swt.4

Ibadah terbagi dua, ibadah umum dan ibadah khusus. Ibadah umum meliputi setiap tindakan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun tempat dan waktunya tidak diatur secara terperinci oleh Allah Swt. Di antara bentuk ibadah umum adalah menghormati orang tua, infak, sedekah dan perbuatan baik lainnya yang sesuai dengan perintah Allah. Ibadah tertentu berarti praktek tertentu yang dilakukan seorang hamba untuk membuktikan kepatuhan kepada Allah, cara, waktu atau kadarnya ditetapkan Allah

bin Amīr bin al-Asbahī al-Madanī, Muwaṭo‟ Imām Mālik, (T.tp: al-Muasasah Risālah, 1412 H), jilid 1, 225. Lihat Shohib Abd Jabār, Musnad

al-Mawḍu‟ī al-Jamī‟ li al-Kutubi al-„Ashara…, Jilid 2, 2013, h. 43.

3Abd. Rahman Ghazaly, Kiat-kiat Menuju Shalat Khusyuk, ed.

Abudin Nata, Kajian Tematik al-Qur‟an tentang Fiqh Ibadah, (Bandung: Angkasa, 2008), h. 169.

4Abū Hamīd Muhammad Ibn Muhammad Ghazalī, Ihyā „Ulum

Swt. seperti melaksanakan lima ajaran Islam yaitu : mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, zakat (sedekah), puasa dan haji. Hal ini juga mencakup amalan lain seperti : umrah dan tilawah al-Qur‟an.5 Allah menyukai orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan serta memohonkan ampun kepada Allah.6

Dalam bahasa Arab, adakalanya satu kata mengandung banyak makna (mushtarak). Begitu juga halnya dengan kata shalat, mempunyai banyak makna (mushtarak). Di antaranya bermakna memasuki atau menuntun, tempat ibadah dan doa. Kata yaṣlā

terambil dari kata ṣhaliya. Sebagian ahli bahasa memaknai dengan menyalakan api sehingga memperoleh kehangatan atau kepanasan. Dapat juga bermakna masuk. Kata yaṣlā diulang sepuluh kali dalam al-Qur‟an, semuanya bermakna memasuki (memasuki neraka), seperti firman Allah:











“(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).”7 (QS. al-A‟lā [87] : 12).

Penjelasan ayat di atas bahwa orang yang ingkar kepada ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. akan merasakan panasnya api neraka, dan di dasar neraka adalah tempat kembaliya.8 Sulaiman al-Rasuli memaknai ayat di atas dengan orang yang akan masuk ke neraka yang besar.9 Shalat merupakan serangkaian amal yang wajib dilakukan

5Salasiah Hanim Hamjah, Noor Shakirah Mat Akhir, “Islamic

Approach in Counseling”, Springer Science, Bussines Media New York, 6 April 2013.

6Salih Yucel, The Effects of Prayer on Muslim Patient‟s Will Being”,

Boston University School of Theology, ProQuest Dissertations

Publishing, 2008. 3301023. http://e-resources.perpusnas.go.id/library.php proques, akses: 29-11-2016.

7 Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

Al-Qur‟an Terjemah..., h. 591.

8Ahmad Muṣṭafā al-Marāghī, Tafsīr al-Marāghī, (Mesir: Shirkah

Maktabah wa Maṭba‟ah Musṭafā al-Bābī al-Ḥalabī, 1974), Jilid 30, h. 126.

sebagai upaya menghindari diri dari siksaan neraka.10 Bermakna tempat ibadah seperti terdapat pada surat al-Hajj ayat 40.

Dalam teks-teks Islam, kata ṣalli merupakan bentuk perintah dari kata ṣallah yang bermakna doa. Firman Allah :



































“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. “Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”11 (QS. al-Taubah [9]: 103).

Shalat dengan makna doa, mengandung pengertian bahwa shalat adalah ibadah yang setiap bacaan dan gerakannya mengandung doa.12 Ibadah shalat berisi bacaan dan gerakan dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Kewajiban melaksanakan shalat berdasarkan pada al-Qur‟an, hadis dan ijma‟.13

Shalat adalah salah satu perbuatan amaliah pertama yang diwajibkan Allah setelah meluruskan aqidah para kafir Qurasy. Shalat merupakan proses yang melibatkan gerakan dan doa tertentu. Shalat dimulai dengan takbir, mengangkat tangan untuk menghadap kiblat. Seseorang berdiri lurus dalam shalat, posisi ini disebut qiyām dan membacakan ayat-ayat al-Qur'an. Kemudian membungkuk dengan tangan di lutut dalam posisi rukuk. Setelah berdiri, tegak lagi, sujud. Setelah dua sujud, seseorang dalam sujud, posisi duduk dan akhirnya, berakhir dengan salam, memutar kepala ke bahu kanan kemudian kiri. Setiap gerakan dan posisi disertai dengan pujian kepada Allah, seperti Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Perbuatan ini merupakan pengakuan terhadap rasa syukur, memuliakan serta mengagungkan

10

Dede Rosyada, Perspektif al-Qur‟an tentang Shalat, Kajian Tematik

al-Qur‟an tentang Fiqh Ibadah, ed. Abuddin Nata, h. 149.

11Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

Al-Qur‟an Terjemah..., h. 203. 12

Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2014), h. 75.

13Ibnu Rusyd, Bidāyat al-Mujtahid, Penerjemah Abu Usamah Fakhtur

Allah.14 Ketika seorang muslim melakukan shalat, pada hakekatnya menggantungkan diri pada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Kuat.

Manfaat shalat meliputi empat hal yaitu: spiritual, psikologis, fisik dan moral. Alasan yang dapat dikemukakan untuk ini adalah: pertama, shalat merupakan bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Kedua, shalat memiliki manfaat psikologis, berkonsentrasi pada shalat mengalihkan pikiran dari rasa sakit. Dalam arti fisik, gerakan shalat memungkinkan tubuh melakukan gerakan yang menyebabkan beberapa organ seperti otot untuk bersantai. Shalat sering menghasilkan kebahagiaan dan kepuasan, menekan kecemasan. Shalat juga meningkatkan ketenangan dan kenyamanan psikologis, karena shalat mengandung kemuliaan di dunia dan akhirat. Shalat dapat menyembuhkan penyakit spiritual seperti keserakahan, ketamakan, kesombongan dan iri hati.15

Beberapa ulama menganggap shalat berjamaah sebagai latihan kelompok dan menegaskan bahwa orang yang mengerjakan shalat berjamaah mendapatkan keuntungan moral dan kesejahteraan.16 Shalat memiliki efek positif pada jiwa. Shalat merupakan latihan bagi tubuh dan jiwa karena sebagian besar tubuh bergerak dan dapat menurunkan depresi. Shalat merupakan ibadah yang paling utama dan hendaklah dilakukan dengan ikhlas, semata-mata karena Allah dan tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain.17 Al-Qur‟an menggunakan kata doa untuk makna ibadah. Firman Allah Swt.





























14Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali, “Workship in

Islam, Penerjemah E.ECalverle (Salih Yucel, The Effects of Prayer on

Muslim Patient‟s Will Being”, Boston University School of Theology,

ProQuest Dissertations Publishing, 2008.

3301023.http://e-resources.perpusnas.go.id/library.php?id=00001 proques, akses: 29-11-2016.

15Yucel, “The Effects of Prayer...”, http://e-resources. perpusnas.

go. id/library. php? id= 00001 proques, akses : 29-11-2016.

16

Fazlur Rahman, Healt and Medicine in The Islamic Tradition, (New York: The Crossroad Publishing Company, 1987), h. 44.

17Yucel,“TheEffects of Prayer...”, http://e-resources. perpusnas. go.

“Dan Tuhanmu berfirman, berdoalah kepada-Ku niscaya akan

Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.”18

(QS. al-Mu‟mīn [40]: 60).

Ayat di atas menjelaskan bahwa perintah berdoa mempunyai makna sama dengan beribadah. Keengganan berdoa dan bermohon kepada Allah merupakan manifestasi kesombongkan diri kepada Allah Swt. Berbagai macam ibadah dapat dilakukan, salah satu di antaranya berupa mensyukuri nikmat yang dianugerahkan Allah dan berdoa agar nikmat tersebut dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.19

Dalam al-Qur‟an tidak ditemukan satupun perintah melaksanakan shalat atau pujian kepada orang yang melaksanakannya kecuali diiringi dengan kata aqīmu atau yang seakar dengannya. Ketika membicarakan sekelompok orang yang shalat, namun tidak menghayati hakikatnya, maka kata yang digunakan adalah al-muṣallīn tanpa menggunakana kata yang seakar dengan aqīmu.20 Namun, ketika seseorang melaksanakan shalat dengan benar dan baik, al-Qur‟an menggunakan kata wa al-muqīmi al-ṣalah. Firman Allah :

































“Orang-orang yang beriman apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka dan orang yang melaksanakan shalat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.” 21

(QS. Al-Hajj [22] : 35).

Dari segi makna, kata aqīmū berarti mengerjakan sesuatu secara berkesinambungan dan sempurna serta sesuai dengan syarat dan rukun

18Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

Al-Qur‟an Terjemah..., h. 474.

19M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan , Kesan dan

Keserasian al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), h. 666.

20M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah..., Jilid 9, h.57.

21Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

yang telah ditentukan. Dengan demikian, kata tersebut juga mempunyai makna perintah untuk khusyuk.22

Melakukan ibadah harus diiringi dengan niat ikhlas kepada Allah, seperti melaksanakan perintah shalat dan kurban. Mengerjakan shalat dan kurban dengan menyebut nama Allah dan mengakui tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah serta tidak ada sekutu bagi Allah.23 Melaksanakan perintah Allah sebagai wujud rasa syukur terhadap nikmat dan kebaikan yang telah diberikan Allah.

Shalat dapat membentuk moral manusia. Dalam shalat terjadi dialog langsung antara manusia dengan Tuhan dan membawa manusia dekat dengan Khaliq. Oleh sebab itu, semestinya seseorang ketika melaksanakan shalat merasa berhadapan dengan Allah, menyerahkan diri kepada Allah, mengharap ampunan, dibersihkan dari segala perbuatan dosa dan dijauhkan dari semua perbuatan yang tidak diredhai Allah. Dalam shalat, seorang hamba memohon kepada Allah agar diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan diberi kesanggupan untuk berbuat kebaikan.24

Al-Qur‟an dalam surat al-Mā‟ūn memberikan kecaman kepada orang yang lalai dalam melakukan shalat. Firman Allah Swt :



















“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”25

(QS. al-Ma‟un [107]:4-5).

Perbuatan ini dinilai sebagai salah satu indikator mendustakan agama, maka hal ini juga berarti perintah untuk melakukan shalat dengan khusyuk. Kata al-muṣallīn pada surat al-Mā‟ūn ditujukan kepada orang yang mengerjakan shalat tetapi melakukan shalat dengan ria, pamrih, serta bermuka dua, tidak memperhatikan syarat

22M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur‟an: Fungsi dan Peran

Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta : Lentera Hati, 2011), Jilid 2,

h. 105.

23Abu Fidā‟ Ismaīl bin Umar bin Kathīr, Tafsīr al-Qur‟ān al-„Aẓīm,

(Beirut: Dār Kutub al-„Ilmiyah, 1419 H), Jilid 8, h. 841.

24Rif‟at Syauqi Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh

Kajian Masalah Aqidah dan Ibadat, (Jakarta: Paramadina, 2002), h. 162.

25Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

dan rukun atau tidak memahami dan menghayati arti serta tujuan hakiki dari ibadah shalat.

Terhadap ayat di atas, Abdul Karim Amrullah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan azab kepada orang yang shalat, yaitu orang yang lupa dalam shalat. Makna lupa dalam shalat adalah :

1. Sengaja melalaikan shalat dengan mengakhirkan waktu shalat.

2. Sama saja bagi mereka mengerjakan shalat atau tidak. 3. Tidak mengharapkan pahala shalat dan tidak takut

meninggalkan shalat.

4. Lalai dalam mengerjakan shalat dan menganggap meninggalkan shalat perkara yang mudah.

5. Tetap mengerjakan shalat, tetapi tidak timbul penyesalan jika meninggalkan shalat.

6. Tidak menyempurnakan rukuk dan sujud dengan tuma‟nīnah. 7. Secara zahir mengerjakan shalat, namun hatinya selalu lupa

mengingat Allah.26

8. Tidak berkeinginan untuk menyempunakan syarat dan rukun shalat.27

Jika dijumpai salah satu ciri-ciri di atas, maka termasuk shalat orang yang lupa.28 Lupa juga bermakna seseorang tidak ingat kepada tujuan pokok shalat, hatinya menuju kepada selain Allah.29 Allah menyediakan neraka Wail bagi orang yang mengerjakan shalat namun hatinya lalai dan ria.30

26Abū Ja‟far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī: Jamī‟u

al-Bayān fī Takwīl al-Qur‟ān, (Beirut: Dār al-Maktab al-„Ilmiyah: 1999), h.

706. Makna yang mirip sama, juga dikemukakan oleh Ibnu Kathīr. Lihat „Imaduddīn Abu al-Fida‟ Isma‟īl Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur‟ān al-„Azīm, (Beirut: Dār al-„Ilmiyyah, 1999), Jilid 8, h. 468.

27Amrullah, Kitāb al-Burhān..., h. 244.

28Amrullah, Kitāb al-Burhān..., h. 245.

29

Shihab, Tafsir al-Mishbah...,h. 649.

30Mahmud Yunus, Tafsir Qur‟an Karim 30 Juz, (Djakarta: Hidakarya

Agung, 1973), h. 920. Mahmud Yunus pada tafsirnya menjelaskan sumber tafsir adalah al-Qur‟an, hadis-hadis yang ṣahīh (tidak boleh menafsirkan dengan hadis yang ḍa‟īf atau mauḍu‟), tafsir dengan perkataan sahabat, khusus menjelaskan asbāb al-nuzūl, bukan berdasarkan pendapat dan fikiran semata, tafsir dengan perkataan tabi‟īn, bila ijma‟ atas suatu tafsir, karena

Sementara Sulaiman al-Rasuli berpendapat bahwa orang yang lalai dalam shalat adalah orang yang lupa dalam shalat dengan menyia-nyiakan waktu shalat.31 Allah mengancam orang yang shalat, yaitu orang yang mengerjakan shalat hanya gerakan-gerakan fisik saja, tidak diiringi dengan penghayatan dalam hati. Lalai dalam shalat, juga berarti tidak menyadari apa yang dikerjakan tubuh dan diucapkan lidah. Gerakan-gerakan shalat dilakukan dalam keadaan lengah dan mengucapkan bacaan shalat hanya sekedar hafalan tanpa memahami dan menghayati bacaan shalat.32 Shalat yang dilakukan tidak membawa pengaruh terhadap mental.33

Ash-Shiddieqy dalam tafsirnya menguraikan tentang azab Allah terhadap orang-orang yang tidak ada pengaruh shalat dalam dirinya dan tidak menghasilkan sikap sesuai yang diharapkan. Hal ini terjadi karena mengerjakan shalat tidak diiringi dengan kekhusyukan hati dan tidak meresapi gerakan-gerakan yang dilakukan dalam shalat. Shalat dikerjakan karena kebiasaan dan rutinitas saja, sedangkan bacaan yang diucapkan hanya sekedar hafalan, jiwa tidak mengetahui makna, hikmah dan rahasia gerakan-gerakan shalat.34 Mengerjakan shalat karena ria dan ingin dilihat orang. Beribadah untuk pamer agar mendapat pujian dari orang lain atau karena ada tujuan politik.35

Uraian tentang shalat juga dapat dilihat Tafsir Pase bahwa shalat pada hakekatnya adalah mengingat Allah. Shalat merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif antara seorang hamba dengan Allah dan bukti pengabdian hamba kepada Khaliq. Shalat bukan hanya menjauhkan pelaku dari perbuatan keji dan munkar, namun shalat dapatmendorong pelaku untuk berbuat baik. Orang yang melakukan shalat, tetapi menganggap shalat tidak penting akan

tafsir menggunakan ijtihad bagi ahli ijtihad, tafsir dengan tafsir aqli bagi Mu‟tazilah. Di samping itu tafsir aqli menurut Syi‟ah dan tafsir sufi bagi ahli tasawuf. Lihat Mahmud Yunus, Tafsir Qur‟an Karim. VI. Mahmud Yunus menegaskan tidak boleh menafsirkan al-Qur‟an dengan Isra‟iliyat.

31

Al-Rasuli, Risālat Qawl al-Bayān..., h. 116.

32Tim Tashih Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Tafsirnya,

(Yogyakarta: Universitas Indonesia, 1995), h. 818.

33

Bachtiar Surin, al-Dzikrā: Terjemah dan Tafsir al-Qur‟an dalam

Huruf Arab dan Latin Juz 26-30, (Bandung: Angkasa, 1991), h. 2728.

34Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Qur‟an

al-Majid al-Nur, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995), cet. Ke 2, h. 4478.

membuat pikirannya kacau dan hatinya tidak tunduk kepada kebesaran Allah. Sikap lalai (sahūn) atau mengabaikan shalat yang sangat tercela.36

Maksud orang yang lupa adalah orang munafik bila mengerjakan shalat tidak diiringi dengan hati sama sekali. Apabila berada di hadapan orang banyak, mereka menyembah Allah, namun ketika sendirian tidak demikian. Sifat tersebut melekat pada orang munafik karena menganggap shalat tidak wajib. Bagi orang munafik mengerjakan shalat semata-mata karena ria, tidak berniat menghadapkan diri kepada Allah dan tidak memahami rukun-rukun shalat, seperti berdiri, rukuk dan sujud.37

Orang yang lalai dalam shalat adalah orang munafik. Secara lahir mengerjakan shalat, namun batinnya tidak mengerjakan shalat. Kata li al-muṣallīn (bagi orang yang shalat), yaitu orang yang melaksanakan shalat secara konsisten, kemudian melalaikan shalat. Lalai dalam artian meninggalkan shalat secara keseluruhan dan melaksanakan shalat di luar waktu yang telah ditetapkan.38 Lalai dalam shalat juga berarti lalai dari waktu shalat pertama, lalu ditunda hingga waktu shalat berikutnya, baik secara terus menerus maupun tidak. Lalai melaksanakan rukun dan syarat shalat, tidak khusyuk dalam shalat dan tidak menghayati bacaan shalat.39 Orang yang melakukan semua kelalaian tersebut menunjukan kemunafikan yang sempurna.

Shalat dilaksanakan tidak secara ikhlas, malah sebaliknya diiringi dengan perbuatan ria (semata-mata bertujuan untuk dipuji manusia), menunjukkan ibadah shalat tidak membawa pengaruh pada dirinya sehingga merasa keberatan menyisihkan harta guna membantu dan meringankan beban orang lain. Perbuatan ini, termasuk perbuatan orang yang mendustakan agama.40

36T.H. Thalhas, Tafsir Pase: Kajian Surah al-Fatihah dan

Surah-surah dalam Juz „Amma, (Jakarta: Bale Tafsir al-Qur‟an Pase, 2001), h. 132.

37Amrullah, Kitāb al-Burhān..., h. 243.

38Imaduddīn Abu Fidā‟ Ismaīl Ibn Kathīr, Tafsīr Qur‟ān

al-„Azīm…, Jilid 8, h. 468.

39Ibn Kathīr, Tafsīr Juz „Amma min Tafsīr al-Qur‟ān al-„Azīm…, h.

358. Amrullah, Kitāb al-Burhān..., h.243.

40Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh..., h. 161. Lihat

Ancaman Allah ditujukan kepada orang lalai dalam shalat yaitu orang yang mengerjakan shalat tetapi tidak sampai ke hati. Lalai karena tidak menyadari bacaan-bacaan shalat yang diucapkan dan yang dikerjakan oleh anggota tubuh. Rukuk dan sujud dilakukan dalam keadaan lengah. Mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkan. Kata-kata yang diucapkan dalam shalat hanya hafalan semata dan gerakan yang dilakukan tidak memberi pengaruh sedikitpun.41

Abdul Karim Amrullah menyebutkan bahwa manusia pada masa Rasulullah melaksanakan shalat dan berkurban tidak karena Allah. Oleh sebab itu Allah memerintahkan nabi Muhammad Saw agar umat nabi Muhammad mengerjakan shalat, berkurban serta mendekatkan diri kepada Allah dengan ikhlas. Firman Allah Swt.









“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhan-Mu dan berkurbanlah sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.”42

QS. al-Kauthar [108]: 2.

Pada ayat ini Allah menekankan agar shalat dan berkurban karena Allah, bukan karena yang lain.43 Allah Swt. memerintahkan kepada umat Nabi Muhammad untuk menyembah Allah dengan ikhlas, megerjakan shalat dan membayar zakat.



































“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” QS. al-Bayyinah [98]: 5.

41Tim Tashih Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Tafsirnya,

(Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 1995), h. 818.

42Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an Kementerian Agama,

Al-Qur‟an Terjemah..., h. 602.

Mengerjakan shalat dengan sepenuh hati dan memenuhi syarat serta rukun yang telah ditentukan. Suci hati dalam shalat menurut