BAB III PAKET PELAYANAN AWAL MINIMUM (PPAM)
3.5. Merencanakan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif dan
KOMPREHENSIF DAN TERINTEGRASI KE DALAM PELAYANAN KESEHATAN DASAR PADA SITUASI STABIL
PASCA KRISIS KESEHATAN
Pada tanggap darurat krisis kesehatan, pelayanan kesehatan reproduksi diberikan di tempat pelayanan kesehatan darurat. Namun demikian pada saat ini koordinator kesehatan repro-duksi harus mulai menyusun rencana pengintegrasian kebutuhan pelayanan kesehatan re-produksi ke dalam pelayanan kesehatan dasar yang rutin.
Jika situasi sudah stabil, pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif harus segera dilak-sanakan dengan mempertimbangkan:
a. Kemudahan komunikasi dan transportasi untuk rujukan b. Jarak ke tempat pelayanan kesehatan lainnya
Langkah langkah:
a. Menyusun rencana pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif
b. Mengumpulkan data sasaran dan cakupan untuk persiapan pelayanan keseha-tan reproduksi komprehensif. Pada keseha-tanggap darurat krisis kesehakeseha-tan, data dapat menggunakan estimasi dan setelah situasi normal, data mengunakan data riil c. Mengidentifikasi fasilitas pelayanan kesehatan yang tepat untuk melaksanakan
pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif
d. Memastikan ketersediaan peralatan, bahan dan obat untuk pelayanan PONED dan PONEK
e. Menilai kapasitas petugas dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif
f. Merencanakan pelatihan bagi petugas
g. Memastikan tersedianya peralatan, bahan dan obat kesehatan reproduksi bagi puskesmas PONED dan RS PONEK
Pengintegrasian komponen PPAM ke dalam pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif di tingkat pelayanan dasar adalah sbb:
a. Pelayanan KIA yaitu pemeriksaan kehamilan (antenatal care), pertolongan persalinan dan perawatan paska persalinan (nifas) termasuk bayi baru lahir
b. Pencegahan dan penanganan kekerasan pada perempuan, yaitu pencegahan dan pena-nganan kekerasan seksual serta kekerasan berbasis gender lainnya termasuk kekeras-an dalam rumah tkekeras-angga dkekeras-an perdagkekeras-angkekeras-an perempukekeras-an dkekeras-an lain-lain ykekeras-ang penkekeras-angkekeras-ankekeras-annya memerlukan pendekatan multisektor
c. Pencegahan dan penanganan HIV, yaitu PITC, VCT, PPIA, pengobatan ARV dan lain Koordinator kesehatan reproduksi melakukan langkah-langkah:
BAB IV LOGISTIK KESEHATAN REPRODUKSI PADA TANGGAP DARURAT
KRISIS KESEHATAN
Pada tanggap darurat krisis kesehatan selain memastikan terlaksananya lima komponen Paket Pelayanan Awal Minimum Kesehatan Reproduksi, koordinator kesehatan reproduksi harus memiliki kemampuan mengkoordinasikan pengelolaan logistik kesehatan reproduksi, mulai dari perencanaan kebutuhan, pendistribusian dan monitoring serta evaluasi penggu-naan logistik kesehatan reproduksi.
Logistik untuk kesehatan reproduksi pada tanggap darurat krisis kesehatan terdiri dari:
a. Kit Individu
a. Kit Bidan/Partus Set
a. Kit Kesehatan Reproduksi (RH Kit)
4.1 KIT INDIVIDU
Kit individu merupakan paket berisi pakaian, perlengkapan kebersihan diri, perlengkapan bayi, dll, yang diberikan kepada perempuan usia reproduksi, ibu hamil, ibu bersalin dan bayi baru lahir. Kit ini dapat langsung diberikan dalam waktu 1-2 hari saat bencana kepada peng-ungsi setelah melakukan estimasi jumlah sasaran.
Terdapat 4 jenis kit individu yaitu:
Kit Warna Sasaran
Kit higiene Biru Perempuan usia subur
Kit ibu hamil Hijau Untuk ibu hamil trimester III
Kit ibu bersalin Oranye Untuk ibu paska bersalin/nifas
Kit bayi baru lahir Merah Untuk bayi baru lahir sampai usia 3 bulan
Jenis barang yang terdapat di dalam kit individu bisa disesuaikan dengan kebutuh-an kesehatkebutuh-an reproduksi pengungsi serta anggaran yang tersedia. Kit di diadakan dan disimpan di gudang sesuai dengan per-aturan yang berlaku.
Distribusi Kit Individu – Aceh 2004
Pada tanggap darurat krisis kesehatan, akan sulit mendapatkan data sasaran dari PPAM seperti jumlah wanita usia su-bur, jumlah ibu hamil, ibu hamil yang akan mengalami komplikasi, jumlah laki-laki yang aktif secara seksual dll. Data yang tersedia biasanya hanya jumlah pengungsi saja.
Jika data riil tidak tersedia, maka perhi-tungan kebutuhan logistik untuk pelayan-an kesehatpelayan-an reproduksi dapat mengguna-kan estimasi statistik sbb:
a. Jumlah wanita usia subur : 25% dari jumlah pengungsi.
b. Jumlah ibu hamil:
1) Jika data angka kelahiran kasar (CBR
= Crude Birth Rate) tersedia gunakan CBR untuk mengestimasikan jumlah ibu hamil.
Contoh:
Jumlah pengungsi : 10.000 jiwa CBR: 35/1.000 kelahiran hidup
Estimasi jumlah ibu hamil selama 1 tahun: 35/1.000 x 10.000 = 350 ibu hamil
Estimasi jumlah ibu hamil per bulan:
350 : 12 bulan = 29 ibu hamil
2) Jika data CBR tidak tersedia, estimasi jumlah ibu hamil adalah 4% dari jum-lah pengungsi.
Estimasi jumlahibu hamil selama 1 ta-hun: 4% x 10.000 = 400 ibu hamil Estimasi jumlahibu hamil per bulan=
400 : 12 bulan = 33 ibu hamil
c. Ibu hamil yang akan mengalami kom-plikasi adalah 15-20% dari total jumlah ibu hamil saat ini, dan 5-7% dari ibu ha-mil akan membutuhkan operasi sesar d. Jumlah laki-laki yang aktif secara
sek-sual: 20% dari pengungsi dll
Koordinator kesehatan reproduksi harus dapat menghitung kebutuhan logistik ke-sehatan reproduksi pada tanggap darurat krisis kesehatan berdasarkan perkiraan la-manya waktu mengungsi.
Segera kumpulkan data riil sasaran bila situasi sudah memungkinkan!
DAFTAR ISI KIT INDIVIDU KESEHATAN REPRODUKSI
No Item Jumlah per kit Keterangan
A Kit Bayi Baru Lahir (0-3 Bulan)
1 Popok katun 12
2 Pakaian bayi katun 12
3 Sarung tangan & sarung kaki 12
4 Selimut gendong 1
5 Topi bayi (flannel) 1
6 Kelambu bayi 1
Dikemas terpisah agar tidak rusak dalam penyimpanan
7 Kain bedong (flannel, lembut) 12
8 Sabun mandi bayi 3 (80 gram)
9 Bedak bayi 3 (50 gram)
10 Handuk bayi (halus dan bisa menyerap air) 1
11 Minyak telon 3 (50 ml)
12 Tas warna merah dengan tulisan Kit Bayi
Baru Lahir 1
No Item Jumlah per kit Keterangan
B. Kit Ibu Hamil (Trimester ke-3)
1 BH khusus ibu hamil 1
2 Kain panjang (jarik) 1
3 Celana dalam (ukuran besar) 3
4 Baju hamil lengan daster/baju hamil
lengan panjang 1
5 Selimut 1
6 Sabun Mandi 3 buah (80 gram)
7 Pasta gigi 3 buah (75 gram)
8 Shampoo 3 botol (90 ml)
9 Sikat gigi 3 buah
10 Handuk 1 buah
11 Tas warna hijau dengan tulisan kit Ibu
Hamil 1
C. Kit Ibu Bersalin (Ibu Paska Bersalin/Nifas)
1 BH menyusui 3
2 Kain panjang (jarik) 1
3 Pembalut pasca bersalin 3
No Item Jumlah per kit Keterangan 4 Blus berkancing depan untuk menyusui 1
5 Blus putih berkancing depan 1
6 Celana dalam (ukuran besar) 3
7 Selimut 1
8 Sabun Mandi 3 buah (80 gram)
9 Pasta gigi 3 buah (75 gram)
10 Shampoo 3 botol (90 ml)
11 Sikat gigi 3 buah (80 gram)
12 Korset 1 buah
13 Handuk 1 buah
14 Tas warna oranye dengan tulisan kit ibu
pasca melahirkan 1
D. Kit Higiene (Perempuan Usia Reproduksi)
1 Sarung 1
2 Handuk 1
3 Sabun Mandi 3 buah (80 gram)
4 Pasta gigi 3 buah (75 gram)
5 Shampoo 3 botol (90 ml)
No Item Jumlah per kit Keterangan
6 Pembalut wanita 3 pack
@ isi 10 buah
7 Pakaian dalam wanita: BH dan celana
dalam 3 set
8 Sandal jepit 1 pasang
9 Selimut 1 buah
10 Sikat gigi 3 buah
11 Plastik sampah untuk pembalut 1 buah
12 Sisir 1 buah
13 Tas warna biru dengan tulisan hygiene kit
Pada tanggap darurat krisis kesehatan, ke-tersediaan semua jenis kit sangat diperlu-kan. Namun, apabila terdapat kendala dalam pendanaan dapat dipilih jenis barang yang benar benar dibutuhkan oleh sasaran, seba-gai contoh: wanita usia subur membutuhkan pakaian dalam dan pembalut. Kit disediakan oleh pemerintah dan disimpan di gudang se-suai dengan peraturan yang berlaku, atau pengadaan dan penyediaan kit individu da-pat dikoordinasikan dengan sektor atau
lem-Kit Individu Kesehatan Reproduksi
4.2 KIT BIDAN
Pada tanggap darurat krisis kesehatan, alat-alat kesehatan kemungkinan ba-nyak yang rusak termasuk alat kesehatan yang digunakan untuk menolong persalinan. Kit Bidan dapat diberikan kepada bidan untuk mengganti peralatan yang hilang saat bencana sehingga masih bisa melakukan pelayanan seperti se-diakala. Kit untuk bidan dapat diadakan sebelum bencana sebagai persediaan dan di simpan/diadakan di gudang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kit ini dapat didistribusikan sesegera mungkin pada saat bencana apabila dibutuhkan.
Pada pertolongan persalinan mungkin diperlukan juga beberapa alat tambahan seperti: baskom dan tempat air mengalir untuk mencuci tangan yang perlu dipi-kirkan penyediaannya.
Serah terima kit bidan – Gempa Padang 2009
4.3 KIT KESEHATAN REPRODUKSI (RH KIT)
Untuk melaksanakan PPAM kesehatan reproduksi yaitu dalam memberikan pela-yanan klinis bagi penyintas perkosaan, me-ngurangi penularan HIV serta mencegah meningkatnya kesakitan dan kematian ibu dan neonatal, telah dirancang paket-paket yang berisi obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan yang disebut Kit Kesehatan Reproduksi (Kit RH).
Kit kesehatan reproduksi dikemas dan di-beri nomor sesuai dengan jenis tindakan yang akan dilakukan. Alat, obat dan bahan habis pakai tersedia lengkap di tiap ke-masan. Sebagai contoh: Kit nomor 2 untuk pertolongan persalinan bersih, termasuk apabila persalinan terjadi pada situasi ti-dak dapat ditolong oleh tenaga kesehatan.
Kit nomor 12 untuk transfusi darah. Kit nomor 4 untuk kontrasepsi oral dan in-jeksi dan lain sebagainya. Penomoran ini bertujuan untuk memudahkan pengelola-an dpengelola-an penggunapengelola-annya pada situasi krisis kesehatan.
Kit kesehatan reproduksi dirancang un-tuk digunakan dalam jangka waktu tiga bulan untuk jumlah penduduk tertentu.
Kebutuhan kit tergantung pada jumlah pengungsi, dan jenis pelayanan yang akan diberikan dan perkiraan lamanya waktu mengungsi. Pendistribusian kit kesehatan reproduksi harus diikuti dengan penjelas-an kepada penerima tentpenjelas-ang isi kit, cara menyimpan dan penggunaannya. Harus diingat bahwa kit kesehatan reproduksi terdiri dari alat dan obat yang sama de-ngan yang tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan. Perbedaannya adalah alat dan obat tersebut sudah dikemas sehingga me-mudahkan petugas kesehatan dalam mem-berikan pelayanan pada situasi bencana.
Apabila terjadi bencana berskala besar di-mana dibutuhkan peralatan dan obat un-tuk pelayanan kesehatan reproduksi yang mendesak dan kit belum tersedia, Dinas Kesehatan setempat dapat mengajukan permohonan bantuan penyediaan kit ke-sehatan reproduksi kepada Kementerian
Kesehatan yang akan didatangkan dari Copenhagen, Denmark yang merupakan gudang logistik untuk bantuan kemanusia-an internasional. Pada saat memeskemanusia-an, ren-canakan pendistribusiannya, yang meliputi kemana akan dikirimkan, kondisi medan, alat transportasi yang akan digunakan dan gudang penyimpanan sementara.
Kit kesehatan reproduksi hanya dapat di-pesan pada bencana yang berskala besar, dimana sebagian besar fasilitas pelayan-an kesehatpelayan-an tidak dapat berfungsi. Perlu dipertimbangkan bahwa pengajuan kebu-tuhan kit kesehatan reproduksi dilakukan apabila memang benar-benar dibutuhkan.
Bila masih ada fasilitas pelayanan kesehat-an ykesehat-ang masih berfungsi, disarkesehat-ankkesehat-an untuk dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah/
Dinas Kesehatan setempat dapat menye-diakan kit kesehatan reproduksi dan bahan habis pakai secara lokal sesuai pedoman.
Koordinator kesehatan reproduksi harus memastikan bahwa obat dan alat kesehat-an tersedia dkesehat-an terintegrasi ke dalam sis-tem pelayanan yang sudah ada. Selain itu, Koordinator kesehatan reproduksi harus melakukan pengenalan singkat tentang isi dan cara penggunaan kit kesehatan re-produksi serta memastikan kit tersebut digunakan.
KIT KESEHATAN REPRODUKSI/KIT RH
Kit kesehatan reproduksi terdiri dari tiga blok, masing-masing blok ditujukan bagi ting-kat pelayanan kesehatan yang berbeda:
• Blok 1: Tingkat masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar untuk 10.000 orang/
3 bulan
• Blok 2: Tingkat pelayanan kesehatan dasar dan rumah sakit rujukan untuk 30.000 orang/3 bulan
• Blok 3: Tingkat rumah sakit rujukan untuk150.000 orang/3 bulan Blok 1
Blok 1 terdiri dari 6 kit (kit 0 sampai 5). Perlengkapan ini ditujukan untuk memberi-kan pelayanan kesehatan reproduksi di tingkat masyarakat dan perawatan kesehatan dasar. Kit ini berisi obat-obatan dan bahan habis pakai. Kit 1, 2 dan 3 terdiri dari dua bagian, A dan B, yang dapat dipesan secara terpisah
Blok 2
Blok 2 terdiri dari 5 kit (kit 6 sampai 10) yang berisi bahan habis pakai dan bahan yang dapat digunakan kembali. Perlengkapan ini ditujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan reproduksi pada tingkat puskesmas atau rumah sakit
Blok 3
Blok 3 terdiri dari 2 kit (kit 11 dan 12) yang berisi bahan habis pakai dan perlengkapan yang dapat digunakan kembali untuk memberikan pelayanan PONEK pada tingkat rujukan (bedah caesar). Kit 11 terdiri dari dua bagian, A dan B, yang dapat dipesan
secara terpisah
Kit Kesehatan Reproduksi BLOK 1
No Kit Nama Kit Kode Warna
Kit 0 Administrasi Oranye
Kit 1
Kondom
• Bagian A: kondom laki-laki
• Bagian B: kondom perempuan
Merah
Kit2
Persalinan Bersih (Perorangan)
• Bagian A: kit persalinan bersih
• Bagian B: untuk non kesehatan
Biru tua
Kit3
Pasca Perkosaan
• Bagian A: Pil Kontrasepsi darurat dan pengobatan IMS
• Bagian B: PPP (Pencegahan Pasca Pajanan)
Merah muda
Kit4 Kontrasepsi oral dan injeksi Putih
Kit5 Pengobatan IMS (Infeksi Menular Seksual) Biru muda/
Turkis BLOK 2
Kit6 Kit persalinan (Fasilitas Kesehatan) Coklat
Kit 7 AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) Hitam
Kit8 Penanggulangan Komplikasi Keguguran dan Aborsi Kuning
Kit Kesehatan Reproduksi
Kit 9 Menjahit Sobekan (leher rahim dan vagina) dan
Pemeriksaan vagina Ungu
Kit 10 Persalinan dengan Vakum (Manual) Abu-abu
BLOK 3
Kit 11
Tingkat rujukan
• Bagian A: peralatan
• Bagian B: obat-obatan dan bahan habis pakai
Hijau fluoresensi
Kit 12 Transfusi Darah Hijau Tua
Contoh kemasan kit kesehatan reproduksi
CARA MENGHITUNG KEBUTUHAN KIT KESEHATAN REPRODUKSI
Kit kesehatan reproduksi sudah dirancang untuk sejumlah penduduk tertentu.
Saat memesan Kit Kesehatan Reproduksi tidak perlu menghitung jumlah masing-masing alat dan obat, tapi hanya diperlukan data jumlah pengungsi dan perkiraan lama waktu mengungsi.
Contoh:
• Blok 1 untuk 10.000 penduduk selama 3 bulan
Jika pengungsi sebanyak 50.000 orang, maka kit yang akan dipe-san sebanyak : 50.000 : 10.000 = 5 kit
• Blok 2 untuk 30.000 penduduk selama 3 bulan
Jumlah pengungsi: 50.000 maka kit yang akan dipesan adalah:
50.000 : 30.000 = 1,6 pesan 2 kit
Kit tidak bisa dipesan sebanyak 1,6 melainkan harus dibulatkan dan sisa obat dan bahan habis pakai bisa digunakan untuk waktu lebih dari 3 bulan
Apabila masa tanggap darurat krisis kesehatan telah lewat dan masih terdapat sisa alat, obat dan bahan habis pakai dari kit kesehatan reproduksi maka harus dise-rahkan kepada Dinas Kesehatan setempat untuk diatur pemanfaatannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Alat dan sarana penunjang lainnya:
a. Tenda kesehatan reproduksi yang dirancang khusus dengan sekat untuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan KB, pertolongan persalinan dan pelayanan lain yang memerlukan privasi bagi pasiennya
b. Buku KIA c. Generator
Contoh beberapa alat yang ada di dalam kit kesehatan reproduksi termasuk kit administrasi
BAB V PENILAIAN KESEHATAN
REPRODUKSI PADA TANGGAP DARURAT
KRISIS KESEHATAN
Pada tanggap darurat krisis kesehatan per-lu dilakukan penilaian untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi pasca bencana dan kebutuhan bagi penduduk yang ter-kena dampak atau pengungsi. Khusus un-tuk kesehatan reproduksi, penilaian tidak difokuskan pada ada tidaknya kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi, karena berdasarkan pengalaman, kebutuhan ke-sehatan reproduksi tetap ada dan justru meningkat pada situasi bencana.
Selain itu tidak perlu dilakukan penilai-an intervensi apa ypenilai-ang dibutuhkpenilai-an, kare-na intervensi kesehatan reproduksi pada tanggap darurat krisis kesehatan adalah melalui penerapan PPAM. Pada tanggap darurat krisis kesehatan pengumpulan data mengenai jumlah sasaran pelayan-an kesehatpelayan-an reproduksi (ibu hamil, ibu melahirkan dan lain-lain) tidak dilakukan karena berdasarkan pengalaman, data ter-sebut sulit didapatkan. Koordinator kese-hatan reproduksi dapat memperoleh data
sasaran pelayanan melalui estimasi sta-tistik dengan menggunakan data jumlah pengungsi.
Data jumlah pengungsi dapat diperoleh dari Tim Rapid Health Assessment (RHA) yang menggunakan form B1 (lampiran 1). Namun, koordinator perlu melakukan
penilaian terhadap kondisi tenaga kesehat-an, fasilitas pelayanan kesehatkesehat-an, keterse-diaan alat dan obat, berfungsinya sistem rujukan, ketersediaan pelayanan maupun kondisi kelompok rentan di pengungsian.
Dengan terkumpulnya data dan informasi tersebut, maka dapat disusun strategi dan rencana PPAM kesehatan reproduksi.
5.1 LANGKAH–LANGKAH DALAM MELAKUKAN PENILAIAN
Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan penilaian kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi
1. Mengumpulkan data sekunder/data dasar prakrisis: data sasaran, indikator
penting terkait kesehatan reproduksi seperti angka kelahiran kasar, persalin-an oleh tenaga kesehatpersalin-an, data fasilitas pelayanan kesehatan (lihat lampiran 2).
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan
Penilaian Kesehatan Reproduksi - Gempa Padang 2009
gambaran tentang kondisi kesehatan reproduksi sebelum bencana terjadi 2. Melakukan estimasi jumlah sasaran
ke-sehatan reproduksi untuk respon ben-cana. Estimasi dilakukan dengan meng-gunakan data jumlah pengungsi yang didapat dari tim RHA (lihat lampiran 3) 3. Melakukan penilaian tentang kondisi
fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan ketersediaan alat dan obat untuk memberikan pelayanan ke-sehatan reproduksi (lihat lampiran 4) 4. Jika terjadi bencana berskala besar,
perlu mendata lembaga/organisasi/
LSM yang bekerja di bidang kesehatan reproduksi pada tanggap darurat kri-sis kesehatan. Data ini dapat diperoleh melalui kegiatan koordinasi dengan sektor kesehatan (lihat lampiran 5) Hal
ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan membagi peran lembaga yang be-kerja di bidang kesehatan reproduksi di daerah yang terkena dampak bencana, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam memberikan pelayanan
5. Mengumpulkan data kondisi ibu hamil dan melahirkan di pengungsian de-ngan melakukan wawancara dede-ngan 2-3 ibu hamil/melahirkan yang ditemui di kamp/tenda pengungsian (lihat lam-piran 6). Data ini dikumpulkan untuk mengetahui tentang ketersediaan pela-yanan bagi ibu hamil dan pasca bersalin di pengungsian
6. Mendata kondisi pengungsian terma-suk faktor-faktor yang meningkatkan risiko Kekerasan Berbasis Gender (li-hat lampiran 7)
5.2 PIHAK YANG MENILAI
Penilaian kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi dilakukan oleh tim kesehatan repro-duksi atau oleh pengelola program kesehatan reprorepro-duksi di dinas kesehatan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dijelaskan di atas.
5.3 CARA MENGANALISIS, MENGGUNAKAN DAN MENDISEMINASIKAN HASIL
PENILAIAN
Hasil penilaian harus spesifik agar dapat membuat keputusan yang tepat terhadap intervensi yang harus dilakukan. Hasil ini secara jelas memprioritaskan dan mengidentifikasi kebutuh-an di masing-masing unit dalam sistem kesehatkebutuh-an. Hasilnya harus memberikkebutuh-an rekomenda-si mengenai bagaimana memastikan intervenrekomenda-si PPAM dapat berkelanjutan dan membantu dalam merencanakan penambahan komponen- komponen pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif. Lihat contoh format laporan penilaian di lampiran 8.
Hasil rekomendasi diinformasikan kepada semua organisasi yang terlibat dalam respon ben-cana, termasuk masyarakat melalui mekanisme koordinasi kesehatan dan sistem pelaporan yang ada saat bencana.
BAB VI MONITORING DAN
EVALUASI
Monitoring dan evaluasi dilakukan pada setiap tahapan krisis kesehatan. Untuk pelaksanaan PPAM kesehatan reproduksi, monitoring dan evaluasi digunakan seba-gai dasar penyusunan program kegiatan untuk memantau hal sebagai berikut:
a. memastikan keberhasilan atau ke-gagalan pelaksanaan kegiatan paket pelayanan awal minimum termasuk mengidentifikasikan adanya permasa-lahan atau kendala selama pelaksanaan PPAM
b. memberikan akuntabilitas dan transpa-ransi bagi lembaga yang membutuhkan
c. memastikan penggunaan kit kesehat-an reproduksi pada tingkat puskesmas dan rumah sakit
d. memastikan kesiapan pelayanan kese-hatan reproduksi komprehensif
Dalam melaksanakan monitoring dan eva-luasi, terdapat tantangan yang mungkin ditemui oleh koordinator kesehatan repro-duksi di lapangan, yaitu:
a. menentukan kapan waktu yang tepat untuk transisi ke pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif
b. menentukan waktu yang tepat untuk menyampaikan hasil monitoring dan evaluasi. Hasil ini akan menjadi da-sar pertanggung jawaban dan dada-sar
pembuatan keputusan untuk menen-tukan langkah pada saat transisi serta pelaksanaan pelayanan kesehatan re-produksi komprehensif. Penggunaan
hasil secara tepat juga akan memasti-kan bahwa kegiatan dilaksanamemasti-kan se-cara berkelanjutan, sesuai konteks dan kebutuhan masyarakat.
6.1 CARA MELAKUKAN MONITORING PPAM
Monitoring PPAM dapat dilakukan pada 2 (dua) tahap krisis kesehatan yaitu:
a. Pada tahap tanggap darurat krisis ke-sehatan, monitoring dilakukan secara berkala setelah satu atau dua minggu pelaksanaan PPAM kesehatan repro-duksi bergantung pada perkembangan respon bencana dan kebutuhan ma-sing-masing organisasi. Minimal, data bulanan harus tersedia untuk diinfor-masikan sebagai bahan untuk penyu-sunan program. Monitoring dilakukan untuk setiap komponen PPAM dengan menggunakan indikator kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan tabel berikut ini. Lihat lampiran 9
b. Pada tahap pascakrisis atau ketika kondisi telah stabil monitoring dilaku-kan dengan menggunadilaku-kan medilaku-kanisme yang sudah ada dan digunakan pada situasi normal. Monitoring rutin dila-kukan dengan menggunakan meka-nisme Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) yang dilakukan rutin setiap bulan
6.2 EVALUASI
Tujuan evaluasi adalah untuk menganalisa efisiensi dan efektivitas program. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan kegi-atan program dan pelayanan (keluaran/
output) dengan manfaat (hasil/outcome)
dan dampak kesehatan masyarakat serta membantu para petugas kesehatan repro-duksi untuk menentukan hal-hal tersebut memenuhi tujuan yang telah ditetapkan.
6.2.1 Waktu Evaluasi
Evaluasi dilakukan diakhir pelaksanaan kegiatan.
6.2.2 Instrumen Evaluasi
Evaluasi menggunakan metode-metode assessment sistematik untuk mengukur aspek kua-litatif maupun kuantitatif dari penyelenggaraan pelayanan. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah wawancara dengan informan kunci, misalnya ketua atau anggota masya-rakat yang terkena dampak untuk mendapatkan informasi terkait kualitas kegiatan dan pe-nerimaan/penilaian masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan.
Evaluasi terhadap kualitas atau akses pelayanan mencakup kajian terhadap dokumen-doku-men operasional (seperti laporan lokasi, laporan perjalanan, laporan supervisi, catatan pela-tihan) serta daftar tilik untuk pelayanan kesehatan reproduksi secara kualitatif. Pengkajian data yang dikumpulkan dari sistem monitoring juga harus dilihat sebagai bagian dari proses evaluasi.
6.2.3 Data yang Dibutuhkan untuk Evaluasi
Beberapa komponen yang penting untuk dinilai dalam melakukan evaluasi pelaksanaan PPAM, adalah sebagai berikut:
1. Efektivitas dari kegiatan: apakah kegiatan sudah mencapai tujuan yang ditentukan?
2. Efisiensi dari kegiatan: apakah sumber daya yang ada telah dimanfaatkan secara efisien termasuk sumber daya manusia, peralatan dan pemanfaatan dana dll?
3. Relevansi dari kegiatan: apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai dengan kebu-tuhan dari masyarakat yang terkena bencana?
4. Dampak dan kesinambungan kegiatan: apakah kegiatan memberikan dampak yang baik kepada masyarakat dan dapat dilanjutkan setelah bencana selesai?
5. Permasalahan: apakah ada masalah yang dialami dalam mengimplementasikan kegiatan dan bagaimana solusi untuk mengatasi masalah tersebut
6. Proses pembelajaran: pelajaran apakah yang didapatkan selama pelaksanaan kegiatan
6. Proses pembelajaran: pelajaran apakah yang didapatkan selama pelaksanaan kegiatan