KAJIAN PUSTAKA
2.3. Uraian Teori
2.3.3. Analisis Framing
2.3.3.1. Model-Model Analisis Framing
Konsep framing telah digunakan secara luas dalam literatur ilmu komunikasi untuk menggambarkan proses penseleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Dalam ranah studi komunikasi, analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi. Analisis framing digunakan untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksikan fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan tautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perpektifnya.
Eriyanto (2011: 113) menjabarkan ada empat model frame dalam analisis framing, yaitu Model Murray Edelmen, Model Robert N. Entman, Model William Gamson, dan Model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
1). Model Murray Edelmen
Murray Edelmen adalah ahli komunikasi yang banyak menulis mengenai bahasa dan simbol politik dalam komunikasi. Dalam bukunya gagasan Edelmen mengenai framing disarikan dari tulisannya,“Contestable Catagories and Public Opinion”. Menurutnya, apa yang kita ketahui tentang realitas atau tentang dunia tergantung pada bagaimana kita membingkai dan mengkonstruksi atau menafsirkan realitas. Edelmen mensejajarkan framing sebagai kategorisasi yaitu pemakaian perspektif tertentu dengan pemakaian kata-kata tertentu pula yang menandakan bagaimana fakta dan realitas atau fakta dipahami. Kategorisasi yang disebut Edelmen merupakan kekuatan yang sangat besar dalam mempengaruhi pikiran dan kesadaran publik (Eriyanto, 2011: 105).
2). William A. Gamson dan Modigliani
Menurut mereka framing adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan obyek suatu wacana. Selain itu, Gamson dan Modigliani juga merumuskan framing sebagai suatu hal yang didasarkan pada pemahaman wacana media sebagai satu gugusan perspektif interpretasi (interpretative package) saat mengkonstruksi dan memberi makna suatu isu (Bungin, 2008: 115).
Gamson dan Modigliani dalam Bungin (2008: 118) membagi struktur analisis model tersebut menjadi tiga bagian yaitu:
a) Media package merupakan asumsi bahwa berita memiliki konstruksi makna tertentu.
b) Core frame merupakan gagasan sentral
c) Condensing symbol merupakan hasil pencermatan terhadap perangkat simbolik (framing device/perangkat framing dan reasoning device/
perangkat penalaran).
3). Zhongdan dan Pan Konsicki
Zhondang dan Pan Kosicki melihat framing sebagai konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita (Bungin, 2008: 132). Mereka membagi struktur analisis model ini menjadi empat bagian yaitu:
1) Sintaksis adalah cara wartawan menyusun berita. Struktur sintaksisini memiliki perangkat; headlinedan lead (teras berita).
2) Skrip adalah cara wartawan mengisahkan fakta. Struktur skripmemfokuskan perangkat framing pada kelengkapan berita pada penggunaan 5W+1H yaitu: What (apa), When (Kapan), Who (siapa), Where (dimana), Why (mengapa)dan How (bagaimana).
3) Tematik adalah cara wartawan menulis fakta. Struktur tematik mempunyai perangkat framing yaitu: detail maksud danhubungan kalimat, nominalisasi antar kalimat, koherensi, & bentuk kalimat, kata ganti, unit yang diamati adalah paragraph atau proposisi.
4) Retoris adalah cara wartawan menekankan fakta. Struktur retoris mempunyai perangkat framing yaitu; leksikon/ilihan kata yangmerupakan penekanan terhadap sesuatu yang penting, grafis, metafor, dan pengandaian. Unit yang diamati adalah kata, idiom,gambar/foto dan grafis.
4). Model Robert Entman
Menurut Entman, meskipun analisis framing dipakai dalam berbagai bidang studi yang beragam, satu faktor yang menghubungkannya adalah bagaimana teks komunikasi yang disajikan, bagaimana representasi yang ditampilkan secara menonjol memengaruhi khalayak. Konsep framing Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain (Eriyanto, 2002: 186).
Framing memberikan tekanan lebih pada bagaimana teks komunikasi ditampilkan dan bagian mana yang ditonjolkan atau dianggap penting oleh
lebih terlihat jelas, lebih bermakna, atau lebih mudah diingat khalayak. Informasi yang menonjol lebih diterima oleh khalayak. Bentuk penonjolan tersebut bisa beragam. Menempatkan aspek informasi lebih menonjol dibandingkan yang lain, lebih mencolok, melakukan pengulangan informasi yang dipandang penting atau dibungkam dengan aspek budaya yang akrab di benak khalayak. Dengan bentuk seperti itu, sebuah ide atau informasi lebih mudah terlihat, lebih mudah diperhatikan, diingat dan ditafsirkan karena berhubungan dengan skema pandangan khalayak. Karena kemenonjolan adalah produk interaksi antara teks dan penerima, kehadiran frame dalam teks bisa jadi tidak seperti yang dideteksi oleh peneliti, khalayak sangat mungkin mempunyai pandangan apa yang dia pikirkan atas suatu teks dan bagaimana teks berita tersebut dikonstruksi dalam pikiran khalayak (Eriyanto, 2008: 186).
Tahap awal framing tidak dilakukan oleh media. Manusia memiliki kemampuan untuk menafsirkan realitas yang terjadi di sekitarnya berdasarkan frame of reference dan field of experience yang dimilikinya. Eriyanto (2011: 123) menyatakan, ada empat hal yang dilakukan manusia ketika menyusun bingkai konstruksi realitasnya sendiri, yaitu:
1. Simplifikasi. Manusia cenderung memandang segala peristiwa melalui kerangka berpikir yang sederhana, sesuai dengan tingkat kemampuan berpikirnya. Seiring dengan bertambahnya usia, pengetahuan, dan pengalaman, manusia akan memandang dunia secara lebih beragam.
Namun tetap saja proses pemahaman realitas akan dilakukan secara sederhana.
2. Klasifikasi. Manusia menyadari bahwa dunia terdiri dari berbagai hal, sehingga secara psikologis manusia akan memisahkan hal-hal tersebut ke dalam beberapa kategori untuk memudahkan proses pemahaman. Manusia melekatkan ciri-ciri tertentu pada sebuah kategori tertentu, sehingga segala peristiwa yang terjadi dapat terlihat perbedaan-perbedaannya.
3. Generalisasi. Klasifikasi membantu manusia melihat ciri-ciri peristiwa atau individu. Generalisasi merupakan kelanjutan dari proses tersebut, yang pada akhirnya membatasi ciri-ciri yang berdekatan atau mirip pada ciri-ciri yang didapat pada klasifikasi. Hal ini dapat menghasilkan prasangka.
4. Asosiasi. Suatu peristiwa tidak hanya diidentifikasi atau dipahami, tetapi selanjutnya dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa lain. Keragaman dunia dianggap memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.
Framing dalam model Entman dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar dari pada isu yang lain. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas isu. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakana, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas.
Menurut Etnman, framing berita dapat dilakukan dengan empat teknik,
sebagai apa dan nilai positif atau negatif apa, penyebab masalah (diagnose cause) yaitu identifikasi penyebab masalah siapa yang dianggap penyebab masalah, membuat penilaian moral (make moral judgement) yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah, dan penekanan penyelesaian masalah (treatmen rekommendations) yaitu menawarkan suatu cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan penanggulangannya (Eriyanto, 2011: 126).
Konsep framing dalam pandangan Entman secara konsisten menawarkan sebuah cara untuk mengungkapkan the power of a communication text. Framing pada dasarnya merujuk pada pemberitaan definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan. Analisis framing dapat menjelaskan dengan cara yang tepat pengaruh atas kesadaran manusia yang didesak oleh transfer (atau komunikasi) informasi dari sebuah lokasi, seperti pidato, ucapan/ungakapan, news report, atau novel (Pareno, 2005: 75).
Framing kata Entman, secara esensial meliputi penseleksian dan penonjolan. Membuat frame adalah menseleksi beberapa aspek dari suatu pemahaman atas realitas, dan membuatnya lebih menonjol di dalam suatu teks yang dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga mempromosikan sebuah definisi permasalahan yang khusus, interpretasi kausal, evaluasi moral, dan atau merekomendasikan penanganannya. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: Seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu. Framing dijalankan oleh media dengan menseleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain. Framing adalah pendekatan untuk mengetahui
bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita (Eriyanto, 2009: 145).
Pemilihan framing model Robert Entman ini menjadi beralasan mengingat ia adalah seorang pemikir framing dan ahli yang pertama kali meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media. Konsep mengenai framing ditulis dalam sebuah artikel untuk Journal of Political Communication dan tulisan lain yang mempraktikkan konsep itu dalam suatu studi kasus pemberitaan media.
Konsep framing oleh Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media.
Selain itu, model ini digunakan karena konsep Entman dipraktikkan dalam studi kasus pemberitaan media dan digunakan pula pada praktik jurnalistik, melihat bagaimana frame memengaruhi kerja wartawan dan bagaimana wartawan membuat satu informasi menjadi lebih penting dan menonjol dibanding dengan cara yang lain. Menurut Entman, meskipun analisis framing dipakai dalam berbagai bidang studi yang beragam, satu faktor yang menghubungkannya adalah bagaimana teks komunikasi yang disajikan, bagaimana representasi yang ditampilkan secara menonjol mempengaruhi khalayak. Konsep framing Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain (Eriyanto, 2002: 186). Tak hanya itu, dalam proses framing juga terdapat berbagai kepentingan yang menempel dengannya, bisa berasal dari pemilik/pemegang saham terbesar media, pengiklan, atau institusi penekan lain seperti pemerintah, agama, dan lain-lain.
Hal tersebut menjadi sesuai dengan pemberitaan surat kabar Serambi Indonesia yang menonjolkan aksi demonstrasi atau penolakan terhadap Ahok dalam pemberitaannya dibandingkan dengan pencalonan Ahok sebagai gubernur Jakarta. Isu tersebut juga bersinggungan dengan agama, yang bagi sebagian besar masyarakat Aceh menjadikan hal tersebut sebagai fokus utama. Hal itupula yang kemudian menjadi alasan mengapa peneliti memilih analisis framing model Robert Entman, karena dalam pemberitaannya Serambi Indonesia menonjolkan isu demonstrasi dan penolakan terhadap Ahok karena penghinaan Alquran tersebut bersinggungan dengan agama sehingga mendapat porsi lebih dalam pemberitaannya.
Untuk menerapkan analisis framing dalam melihat bagaimana konstruksi yang dilakukan oleh media yang bersangkutan, maka salah satu model yang bisa digunakan adalah model yang dikembangkan oleh Robert Entman. Dalam buku Analisis Framing yang ditulis oleh Eriyanto (2007: 188) dikatakan bahwa dalam konsepsi Entman, framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan. Adapun ke empat konsep ini jika dibuat dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Struktur Analisis Framing Model Robert Entman Pendefenisian Masalah dianggap sebagai faktor penyebab dari suatu masalah?
Membuat Penilaian Moral (Make moral judgements)
Nilai moral apakah yang ditampilkan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang digunakan untuk melegitimasi suatu tindakan?
Saran Penyelesaaian Masalah (Treatment recommendation)
Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah/ isu? Cara apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah?
Sumber: Eriyanto, 2007:135
Berangkat dari asumsi tersebut dan untuk mengetahui bagaimana pembingkaian yang dilakukan media, terdapat sebuah perangkat framing yang dikemukakan Entman yang dapat menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan. Maka Entman dalam Eriyanto (2007:
189-191) membagi perangkat framing ke dalam empat elemen sebagai berikut:
1) Pendefinisian masalah (Define Problems). Ini merupakan elemen yang pertama kali dapat terlihat mengenai framing. Elemen ini merupakan bingkai yang paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan ketika ada masalah atau peristiwa, bagaimana peristiwa atau isu tersebut dipahami. Peristiwa yang sama dapat dipahami secara
berbeda. Dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.
2) Penyebab masalah (Diagnose Causes). Elemen ini merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa. Penyebab disini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who).
3) Membuat Penilaian Moral (Make Moral Judgement). Elemen ini merupakan elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/
memberikan argumentasi pada pendefinisian masalah yang telah dibuat.
Ketika masalah sudah didefinisikan, penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut.
4) Penekanan penyelesaian masalah (Treatment Recommendation). Elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan dan jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat bergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab masalah.
Gambar 2.1
Teknik Analisis Framing Model Robert Entman
Sumber: Sobur, 2004:173