• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Variasi Bahasa

Dalam dokumen BAB I BAHASA DAN KEBUDAYAAN (Halaman 79-83)

Selain memiliki level variasi, dalam konteks pemakai atau si penutur bahasa dapat digambarkan dengan menggunakan beberapa model yaitu model linguistik dan realitas, model strukturalis, model transformasi baik tradisional dan model Labov, model-model dinamis seperti model Skala Implikasional Guttman dan model Gelombang Bailey. Model menunjukkan arti keadaan, objek, dan kejadian. Semua model terbentuk seolah-olah sebagai prinsip. Ada beberapa model bahasa yaitu model linguistik, model realitas, model strukturalis, model transformasi, dan model dinamis.

a. Model Linguistik dan Realitas

Dalam model ini, para lingiuis berasumsi pada pandangan kaum realitas. Kaum realitas menemukan prosedur kerja baru tentang sistem abstraknya bahasa dapat dilacak di antara data yang terkandung pada sejumlah bentuk ujar bahasa itu (Lyons, 1968, dalam Ibrahim, 1995 : 72).

Model linguistik berkaitan erat dengan psikologi dalam menggambarkan bahasa. Hal ini dicetuskan oleh Chomsky pada tahun 1972. Chomsky (1972) mengatakan bahwa subbidang psikologi yang berkaitan dengan sistem kognitif yang dibentuk oleh penutur dan mitra tutur (pembicara-pendengar) lazim membentuk suatu pengetahuan bahasa. b. Model Strukturalis

Model ini memiliki pandangan bahwa bahasa sesungguhnya merupakan aktivitas fisik. Fakta-fakta bahasa diasumsikan sebagai manifestasi fisik ujar dan tulisan yang harus dikaji seperti fakta dalam ilmu alam. Model ini memandang bahasa sebagai

80

aktifitas pisik yang harus dijelaskan secara induktif dengan prosedur kerja pertama semua kegiatan dan peristiwa bahasa dikaji atau diamati, selanjutnya dirumuskan hipotesis, selanjutnya hipotesis diuji, yang selanjutnya dirumuskannya teori. Selain itu, model strukturalis berasumsi bahwa bahasa itu bersifat homogen.

c. Model Transformasi

Kebalikan dari model strukturalis, model transformasi berpandangan bahwa bahasa pada intinya adalah aktivitas mental yang penjelasannya menggunakan metode deduktif. Persamaannya dengan model strukturalis, model ini juga memiliki asumsi bahwa bahasa bersifat homogen. Secara tradisional, model ini terdiri atas 4 komponen yaitu (1) komponen dasar (leksikal), (2) transformasional, (3) fonologis, dan (4) fonetik. Bailey mengembangkan model ini bertumpu pada grammar yang bersifat polileksikal. Model grammar Bailey ini sama dengan struktur sintaksis milik Chomsky. Model Bailey ini bersifat statis dan tidak dinamis serta bersifat linguistik bukan sosiolinguistik, karena tidak memiliki ciri-ciri sosiologis dan psikologis pada diri pemakai bahasa itu. Labov mengembangkan model yang ditawarkan Bailey dengan konsep pemikiran tentang aturan variabel dalam fonetik dalam situasi formal dan informal. Sebagai contoh dalam bahasa Inggris orang Negro Amerika pada kosakata fortnight terjadi variasi /t/ pada situasi formal dan bisa /?/ pada situasi informal. Hal ini menurut Labov, jika dilihat dari prinsip sosiolinguistik, jika penutur berada pada kontak dialek dalam konteks formal, maka penutur akan mengubah aturan ujarnya dengan cara yang tidak sistematis.

d. Model Dinamis

Model-model yang diuraikan pada subbab 2.2.1 sampai 2.2.3 cenderung bersifat linguistik murni dan statis. Kini para pakar sosiolinguistik cenderung memandang model-model dinamis yang mengandung perubahan sebagai bagian dari kualitas sistem sosial. Dalam kedinamisan itu terdapat sistem dan arah yang dapat diwujudkan dengan memakai model dinamis dan probabilitas.

Sehubungan dengan hal tersebut, Guttman mengajukan model dinamis dengan konsep Pengukuran Skala Implikasional. Konsep Guttman ini berlandaskan pada psikologi sosial. Contoh skala implikasional Guttman ini bisa diterapkan pada skala mengenai ketinggian. Bila dikatakan bahwa tinggi badan saya melebihi lima kaki sebelas inchi, ukuran ketinggian ini berimplikasi bahwa saya harus memberikan jawaban positif terhadap pertanyaan: Apakah Saudara memiliki tinggi lebih dari empat kaki enam inci? Konsep Guttman ini tidak bisa diterapkan pada data linguistik. Akan tetapi, selanjutnya dicoba dikembangkan oleh Bailey dengan data linguistik. Bailey sendiri memberi nama

81

konsepnya dengan Model Gelombang. Model Gelombang ini dapat digambarkan sebagai berikut.

1 2

A + + 1 2 = bentuk variasi bahasa B - + A,B,C = informan/pemakai bahasa C - -

Dari carta di atas tampak bahwa informan A menggunakan kedua bentuk variasi bahasa, B hanya menggunakan satu bentuk variasi, sedangkan C memakai bentuk bahasa standar. Informan A secara sosiolinguistik disebut menggunakan variasi luas.

Rangkuman :

Ada beberapa butir penting yang dapat dibuat berdasarkan pembahasan di atas. Variasi bahasa merupakan perbedaan-perbedaan bentuk bahasa yang disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi, variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa itu. Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan penuturnya, seperti idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek, dan berdasarkan pemakaiannya. Selain itu, ada variasi bahasa berdasarkan keformalannya dan sarana yang digunakan. Dua asumsi utama yang masih diandalkan dalam aksioma linguistik deskriptif adalah: (1) Dikotomi langue dan parole, (2) dikotomi linguistik diakronis dan sinkronis.

Kekayaan variasi bahasa sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat. Hal itu dilakukan sebagai upaya menanamkan pandangan bahwa variasi bahasa bukan sebagai suatu keanehan sehingga bahasa kosa kata harus diseragamkan. Pemikiran ini akan membentuk cara pandang mereka bahwa variasi bahasa merupakan sebuah kultur yang harus dijaga dan dipertahankan. Oleh karena itu, variasi yang dimiliki oleh sebuah daerah harus dipelihara dengan baik.

Tipe-tipe variasi bahasa dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan variabel linguistik yang dikemukakan oleh Labov yaitu indikator, marker, dan streoripe. Indikator berkaitan dengan faktor sosial dan geografi yang bersifat tetap dari satu situasi ke situasi yang lain dan bukan merupakan style-shifting. Marker merupakan style-shifting sehingga

82

berkaitan erat dengan situasi sosial, perbedaan lawan tutur, dan tujuan-tujuan personal. Streotipe merupakan cermin dari indikator. Streoripe tidak berkaitan dengan style- shifting dan merupakan pengubahan style yang merupakan peniruan terhadap fitur linguistik yang dikenal secara luas oleh masyarakat.

Variasi bahasa dapat bersumber dari luar bahasa (faktor ekternal) dan dari dalam bahasa itu sendiri (internal). Faktor eksternal yang meliputi daerah asal penutur, kelompok sosial, situasi berbahasa, dan zaman penggunaan bahasa itu sedangkan faktor internal sangat berhubungan erat dengan sistem bahasa yang bersangkutan baik yang berada pada tataran fonologi maupun morfologi.

Pengetahuan mengenai sumber dan tipe variasi bahasa dapat membantu kita untuk lebih memahami variasi-variasi yang ada di Indonesia. Dengan pengkajian yang mendalam terhadap sumber dan tipe variasi bahasa tersebut diharapkan dapat membantu kita untuk menggolongkan variasi-variasi bahasa yang ada ke dalam tipe-tipe variasi bahasa serta mengetahui secara mendalam mengenai sumber-sumber penyebab variasi bahasa.

Jika dikaitkan dengan bahasa, tidak ada seorang pun yang bebas melakukan apa yang benar-benar dia sukai. Setiap individu tidak bisa mengucapkan kata-kata semaunya. Hal inilah yang memunculkan variasi bahasa. Variasi bahasa itu dapat disebabkan oleh adanya perbedaan tempat, waktu, pemakai, pemakaian, situasi, dan status.

Tempat (setting) sebuah peristiwa bisa menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda sekalipun tujuan dan partisipan yang dilibatkan sama. Tempat peristiwa tutur terjadi dapat pula memengaruhi pilihan bahasa dan gaya dalam bertutur. Variasi bahasa berdasarkan waktu diistilahkan dengan kronolek atau dialek temporal. Variasi bahasa ini yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Variasi bahasa dari segi pemakai/penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu yang berada pada satu tempat/wilayah atau area tertentu.

Pembagian variasi bahasa dari segi penutur meliputi idiolek, dialek, kronolek, seks/jenis kelamin dan usia. Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek. Fungsiolek adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang tertentu. Misalnya bidang jurnalistik, bidang sastra, militer, perdagangan, dan sebagainya. Situasi atau suasana tutur dapat memengaruhi pilihan ragam bahasa. Pemilihan ragam bahasa pada suasana resmi cenderung menggunakan ragam formal, seperti di tempat rapat. Variasi bahasa juga

83

dapat didasarkan pada status sosial seorang. Status sering ditentukan oleh keanggotaan kelas sosial, tingkat pendidikan, profesi, dan tingkat kebangsawanan.

Secara sosiolinguistik, bahasa memiliki beberapa level variasi seperti variasi sitematis, variasi distribusional, variasi insidensial, dan variasi realisasional. Selain memiliki level variasi, dalam konteks pemakai atau si penutur bahasa dapat digambarkan dengan menggunakan beberapa model yaitu model linguistik dan realitas, model strukturalis, model transformasi baik tradosional dan model Labov, model-model dinamis seperti model Skala Implikasional Guttman dan model Gelombang Bailey.

Soal :

1. Tariklah sebuah simpulan dari beberapa definisi para ahli tentang hakikat variasi bahasa!

2. Sesuai konteks Indonesia, jelaskanlah hal-hal yang dapat menjadi sumber dalam variasi bahasa!

3. Hubungkanlah tipe-tipe variasi bahasa yang disampaikan oleh Labov dengan fenomena yang ada di sekitarmu!

4. Buatlah sebuah ilustrasi mengenai variasi bahasa berdasarkan waktu, pemakai, dan status!

5. Sebutkanlah hal-hal yang membedakan antara level variasi sitematis dan variasi distribusional dalam kajian Sosiolinguistik!

Dalam dokumen BAB I BAHASA DAN KEBUDAYAAN (Halaman 79-83)