• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUATAN ELEKTROSTATIS YANG DIANGKUT

Dalam dokumen Fisika Eter Rahasia.pdf (Halaman 72-84)

Pada tahun 1879, Edwin H. Hall (Amer. Jour. Math, ii [1879], p. 287), seorang pelajar di Baltimore, mengulangi eksperimen yang diusulkan oleh H. A. Rowland, profesornya, yang eksperimen awalnya dengan cakram eboni bertutup kertas timah emas memperlihatkan bahwa muatan listrik pada cakram diangkut serta saat cakram diputar (Ann, d. Phys, clviii [1876], p. 487). Dalam eksperimen Hall, sehelai emas–yang di dalamnya arus mengalir— ditempatkan ke dalam celah magnetik. Ini menghasilkan gaya electromotive yang siku-siku terhadap medan magnet dan arus, yang proporsional dengan hasil kali keduanya. Ini dinamakan “Efek Hall”, dan sudah inheren pada tiga efek sebelumnya yang ditemukan jauh lebih dulu oleh Faraday.

Faraday telah menemukan induksi, dengan mendorong sebuah konduktor melewati medan magnet, memotong garis gaya magnet dan menghasilkan arus dalam konduktor. Efek kedua (dari tiga serangkai efek Faraday) adalah pembentukan medan magnet di inti besi yang tidak termagnetisasi, dengan mendorong sebuah konduktor pengangkut arus melewati celah di antara kutub-kutub inti tersebut. Efek Faraday yang ketiga adalah pembangkitan arus. Meskipun efek Hall adalah inheren, faktanya itu

merupakan kebalikan dari gaya yang diperoleh Faraday untuk mendorong konduktor melewati medan magnet. Penelitian Hall melengkapi tiga serangkai efek Faraday, dengan mengumumkannya hingga disadari banyak pihak. Efek ini merupakan basis untuk generator MHD (Magneto-Hydrodynamic), dan elektropropulsi, lewat alat khusus yang akhirnya diperoleh melalui penelitian Tesla.

Karena jarum galvanometer dalam eksperimen Hall hanya terdefleksi saat medan magnet timbul atau runtuh, gaya tolak fisikal yang tercipta merupakan hasil vektor yang telah diutarakan secara tegas dalam Risalat Maxwell (1862), hampir 15 tahun sebelumnya (diperoleh dari analisis Maxwell terkait dengan penelitian Faraday sekitar tahun 1845), meski Maxwell gagal menindaklanjutinya dengan eksperimen (karena ia wafat), persamaannya masih tetap digunakan.

Meski dinyatakan oleh Whittaker bahwa efek Hall, seperti rotasi magnetik cahaya, hanya terjadi pada benda berat dan tidak pada “eter bebas”, pernyataan ini jelas-jelas palsu, karena efek tersebut sebetulnya tergantung pada konduktifitas suatu medium. Ini merupakan kebohongan nyata dari Whittaker, mungkin “diharuskan” menurut revisi 1951. Fakta bahwa efek tersebut terjadi pada “benda berat” dan “medium konduktif” merupakan hal yang penting bagi elektropropulsi, karena menunjukkan reaksi antara benda dan medium demikian dengan “kerangka eterik” pokok yang diakses dalam proses tersebut.

Karena “medium alami” (eter dan atmosfer), yang sering disebutkan oleh Tesla dalam patennya, menjadi konduktif akibat pengaruh radiasi elektromagnetik berfrekuensi dan bervoltase cukup tinggi, efek-efek pada eter bebas (tergantung pada kondisi yang tepat) dapat mempengaruhi eter di dalam benda berat, sehingga mendorong benda tersebut melintasi eter bebas. Bukti paling mengejutkan bahwa efek Hall bekerja pada eter bebas, adalah “transmisi” energi listriknya Tesla lewat ruang melalui osilasi high frequency, sebagaimana diuraikan dalam kuliahnya tahun 1892 di hadapan Institute of Electrical Engineers, London.

Karena medan listrik “memindahkan” eter—yang merupakan basis untuk pompa MHD (terutama saat digetarkan)—efek ini sebenarnya memperlihatkan “gaya electromotive” yang dapat dioperasikan, atau “gaya elektro-propulsi”, di antara benda berat dan eter, dengan memanfaatkan aksi elektromagnetik. Frekuensi tinggi dan voltase tinggi dibutuhkan oleh densitas

tinggi dan kehalusan eter. Saat Tesla berhasil mentransmisikan energi listrik dengan memanfaatkan arus—”gelombang radio”—berfrekuensi dan bervoltase tinggi, eter “terakses”. Penelitian Tesla pada poin tersebut telah memverifikasi, melalui eksperimen, semua hal yang telah dianalisis oleh Maxwell secara matematis sebagai sifat elektromagnetik cahaya.

Meski hal ini sudah dinyatakan secara tidak langsung, literatur-literatur yang saya peroleh tidak secara tegas menyatakan bahwa kelembaman dan momentum merupakan produk dari gaya rotasi elektromagnetik yang beraksi dalam benda, terhadap eter incompressible padat yang merembesi semua benda dan ruang. Juga tidak dirinci bahwa bola bergetar atau benda berat lainnya dapat didorong secara elektris melewati eter, tanpa kehadiran bola lain atau benda berat lain untuk menarik—kecuali dalam pernyataan-pernyataan Nikola Tesla dan “mesin terbang elektris ideal” “model T”/”flivver” temuannya.

Di tahun 1884, di mana Tesla menemukan medan magnet berotasi, J.J. Thomson berupaya menetapkan medan yang dihasilkan oleh bola terelektrifikasi yang bergerak, dan perkembangan matematis teori Maxwell mempercepat jalannya. Tentu saja lebih mudah mengatasi masalah demikian berdasarkan perilaku bentuk geometris sederhana yang dikenal—bidang datar, bola, dan silinder (J.J. Thomson, Proc. Lond. Math. Soc. xv [1884], p. 197).

Kemungkinan bahwa eter terdiri dari muatan positif diam yang mengangkut muatan negatif ‘sub-elektron’-nya sendiri yang elastis dan dapat dipindahkan tampaknya telah terelak dari pemikiran Thomson. Walaupun dia berasumsi bahwa arus pemindahan pasti terjadi pada eter, awalnya dia mengira ini disebabkan oleh efek magnetik muatan yang bergerak, meski dia gagal memperlihatkan bagaimana arus pemindahan terjadi, atau apa efeknya dari segi kelembaman dan momentum.

Ada semacam pertarungan antara pendukung elektrodinamik klasik dan pendukung teori elektromagnetik cahaya yang dipimpin Maxwell. Menurut pendukung teori klasik, konduktivitas terjadi pada kabel logam, dan lain-lain, sementara menurut Maxwell terjadi di ruang sekitar yang dielektris dan penuh eter, di mana konduktor hanya membantu “memandu” aksi. Tampaknya Tesla lebih cocok dengan Faraday/Maxwell. FitzGerald menyatukan dua pandangan tersebut dengan membuktikan bahwa unifikasinya Maxwell adalah valid sebab radiasi dapat dihasilkan melalui cara elektris murni.

Sejalan dengan ini, Thomson (1884) pertama-tama mempertimbangkan bola bermuatan yang bergerak seragam dalam garis lurus. Dia berasumsi

bahwa muatan listrik terdistribusi secara seragam, dengan medan listrik yang sama di semua arah, tak peduli di mana posisi bola tersebut, tetap sama seolah-olah sedang berhenti. Asumsi ini terbukti benar sepanjang kecepatan bola dan kecepatan cahaya diabaikan.

Di tahun 1889, Wm. Thomson (Proc. Roy. Irish Acad. i [30 Nov. 1889], p. 340), menyatakan, “Iinti pusaran rotasi harus dibuang; dan kita tidak boleh menyisakan apapun selain revolusi irotasi dan inti vakum.” Dengan ini, Thomson bermaksud bahwa “eter” vakum (di dalam pipa elektromagnet yang berotasi) tidak berotasi, barangkali lantaran densitasnya, tapi mungkin pula karena (jika inti tersebut berotasi bersama-sama dengan pipa gaya elektromagnetik yang berotasi) ia akan menetralisir aksi elektro-mekanis yang menghasilkan momentum.

FitzGerald menemukan error disengaja dalam penelitian Thomson, yang menyatakan bahwa “syarat sirkuit” wajib tidak bisa terpenuhi kecuali kalau muatan bergerak pada bola dianggap sebagai arus, berkombinasi dengan arus pemindahan dan konveksi yang disebabkan oleh gerakan. Dalam mengkoreksi error Thomson, FitzGerald sangat antusias menyimpulkan bahwa gaya magnet yang disebabkan oleh arus pemindahan bola bergerak tidak menghasilkan efek apapun. Dalam kesimpulan ini, FitzGerald tampaknya melupakan efek “sangkar Faraday” dan efek “magneto-optical”, karena menurut pengakuannya bola bermuatan yang bergerak merupakan arus, dan semua arus menciptakan medan magnet, yang menimbulkan rotasi radiasi elektromagnetik dan cahaya di sekeliling eter sebagai efek.

Pada tahun 1888, Oliver Heaviside menunjukkan bahwa unit-unit elektromagnetik dan elektrostatis “menghilang” di dalam bola. Ini bertentangan dengan eksperimen Faraday di mana muatan elektrostatis yang ditempatkan di dalam bejana diam dan tertutup, “muncul” di bagian luar. Rupanya, bagi Heaviside pergerakan bola—yang meningkatkan momentumnya—terlihat mendorong muatan kembali ke dalam. Konsepsi Heaviside mengenai kesimetrian spheris muatan selama pergerakan dibantah oleh G.C.F. Searle di tahun 1896 (Phil. Trans, clxxxvii [1896], p. 675). Searle menemukan bahwa sistem “muatan titik” yang bergerak bukanlah bola, melainkan oblate spheroid (spheroid pipih), dengan poros kutub sepanjang arah gerakannya. Yang luput dijelaskan oleh Whittaker adalah, yang penting dalam penemuan ini, kaitan antara kelembaman, momentum, arus, muatan permukaan yang “menghilang” dan “muncul kembali”, dan polaritas

elektromagnetik sepanjang arah momentum, serta jalinan elektro-mekanis dengan eter, karena pemindahan garis listrik dan polaritas dapat disamakan dengan pergerakan, sesuai pemikiran saya bahwa pipa-pipa tersebut menciptakan momentum di dalam benda bergerak. Unit-unit elektrostatis/elektromagnetik yang “menghilang” ‘diduduki’ secara internal oleh mikroheliks, dalam mengekalkan/mempertahankan pergerakan benda melewati eter.

Pada waktu itu, Nikola Tesla belum tertinggal. Dia telah memperlihatkan bahwa “syarat sirkuit” bisa dipenuhi dengan cara yang benar-benar baru. Dalam kuliahnya di depan A.I.E.E. di Columbia College, N.Y., 20 Mei 1891, dia mendemonstrasikan teknologi tuanya, dan menyatakan bahwa dirinya mengkoneksikan “satu terminal” dengan sebuah lampu dan terminal lainnya dengan “sebuah benda terisolasi berukuran sesuai. Dalam semua kasus, benda terisolasi membantu melepaskan energi ke ruang di sekelilingnya, dan ekuivalen dengan kabel pemulangan (return wire).” Dalam kuliah ini, Tesla juga mendemonstrasikan “momentum elektromagnetik” yang diatributkan pada J.J. Thomson dengan penemuan tahun 1893 (J.J. Thomson, Recent Researches in Elect. And Mag., [1893], p. 13).

Di tahun yang sama dengan temuan Searle (1896), W.B. Morton (Phil. Mag, xli |1896], p. 488) juga memperlihatkan bahwa densitas permukaan benda bermuatan tidak diubah oleh gerakan, tapi garis gaya tak lagi meninggalkan permukaan secara tegak lurus. Dia juga menemukan bahwa energi medan sekitar jauh lebih besar ketika sedang bergerak dibanding ketika diam. Karena dibutuhkan lebih besar tenaga guna menghasilkan kecepatan tertentu untuk bola bermuatan, dibanding untuk bola tak bermuatan, dan karena bola tersebut dapat bergerak sedemikian rupa sehingga mengurangi tenaga, hubungan antara muatan bergerak dan eter terverifikasi. Ini dianggap benar karena muatan meningkatkan “massa virtual” bola, dan induksi arus konveksi terbentuk manakala muatan digerakkan oleh pergerakan bola, tapi rasanya tak satu pun dari penjelasan-penjelasan ini yang mencatat secara eksplisit bahwa gaya di antara massa bermuatan yang bergerak dan ruang yang dilaluinya harus memiliki kerangka eter guna mendorong atau menarik, atau bahwa arus terdorong terbang di antara materi dan eter akibat pergerakan.

J. Larmor (Phil. Trans, clxxxvi [1895], p. 697) mengusulkan bahwa kelembaman materi berat mungkin pada akhirnya akan terbukti bersifat

demikian, karena atom terdiri dari sistem-sistem elektron. Satu-satunya keberatan terhadap ini adalah inkonsistensi “ketidakterbagian” elektron. Saya yakin ketidakterbagian ini disebabkan oleh “efek nyata” yang memperdaya, dihasilkan oleh instrumen pengukur yang cuma mengukur “seluruh” elektron, sebab instrumen cuma menggunakan “seluruh proton” ketimbang partikel-partikel eter. “Elektron tak terbagi” merupakan respon “setara dan berlawanan” terhadap “seluruh” muatan positif. Ini serupa dengan “prinsip ketidakpastian” Werner Heisenberg, dalam arti bahwa pengukuran tepat elektron yang kurang dari total menjadi mustahil akibat instrumen pengukuran.

Jika efek “masa virtual” yang lebih besar (W.B. Morton, supra) dihasilkan secara elektris, yang meningkatkan atau menurunkan kemudahan pergerakan benda melewati “eter bebas”, dan meningkatkan total energi sistem yang bergerak, maka jalinan antara benda berat dan kerangka eterik dapat terbukti, dan cara untuk menciptakan ketidakseimbangan gaya yang dibutuhkan untuk elektro-propulsi—penggunaan muatan bergerak dengan cara spesifik guna mengumpulkan arus-arus sistem yang bergerak—hanya merupakan soal waktu dan uang bagi Nikola Tesla.

Dalam penelitian Faraday, Maxwell, Wm. Thomson, J.J. Thomson, MacCullagh, Morton, Searle, Heaviside, Hall, dan FitzGerald, terdapat implikasi mengenai hubungan jelas antara momentum dan pergerakan muatan yang terhubung dengan massa, melewati eter (ultra-halus, netral, dinamis, dan seperti gas) yang eksis di semua ruang dan benda berat, yang terhadapnya gaya penderomotive elektromagnetik beraksi. Sekali ekuilibirum/ kesetimbangan eter dan ZPR “terganggu” oleh sistem bergerak, ‘pemindahan’ hanya dapat diralat oleh reaksi setara dan berlawanan, yakni aliran arus antara sistem bergerak dan eter. Thomson telah mengakui prinsip bahwa eter itu sendiri merupakan kendaraan momentum mekanis. Efek Hall telah memperlihatkan bahwa gaya tolak electromotive dihasilkan di sepanjang poros ketiga sebagai akibat dari arus dan medan magnet yang siku-siku, dan meski diduga bahwa gaya tolak ini tidak bisa dihasilkan “pada eter bebas”, melainkan hanya pada benda berat, penelitian Heaviside, Searle, dan Morton, menunjukkan bahwa muatan bergerak dapat meningkatkan atau menurunkan kemudahan normal pergerakan sebuah benda, membuktikan kemungkinan elektro-propulsi.

Karena proses elektris dapat dibalik, metode Tesla terdiri dari penggunaan metode MHD Hall untuk mendorong aliran arus di antara sistem ‘diam’ (relatif terhadap bumi) dan eter—seakan-akan merupakan sistem “dinamis”—sebab meniru arus sistem bergerak, dan menciptakan disturbansi pada eter yang hanya bisa diralat oleh pergerakan sistem. Sekali arus mulai mengalir, medan magnet tercipta, menanamkan gaya rotasi yang menghasilkan pipa-pipa gaya mikroheliks yang ‘mengebor’ jalannya di sekeliling inti eter irotasional, dan mengumpulkan momentum yang menggerakkan/mendorong sistem melintasi eter.

Pernyataan Nikola Tesla (Kuliah di hadapan Institute of Immigrant Welfare, 12 Mei,1938), bahwa dirinya telah “menyusun” Teori Gravitasi Dinamis pada tahun 1893, dan beberapa dokumentasi ‘yang tersedia’ mengenai penelitian Tesla tahun 1891 atau lebih awal, menunjukkan bahwa dia telah mendahului ilmuwan Eropa yang dipimpin oleh Thomson, Searle, Morton, dan Larmor, yang pernyataan-pernyataannya muncul di akhir 1890-an.

Mengenai perkembangannya di tahun 1915, Tesla menyatakan pada 8 Desember 1915 dalam sebuah artikel New York Times bahwa “...pesawat tanpa awak...” elektro-propulsif miliknya dapat menempuh “...300 mil per detik...” (1,08 juta mil/jam), “...tanpa sayap atau mesin penggerak, didorong oleh listrik ke titik manapun di bumi...”

Artikel New York Times 22 September 1940 yang ditulis oleh Wm. L. Laurence melengkapi dokumentasi tersebut, menyatakan bahwa Tesla telah mengujicoba sistem Teleforce empat-bagian miliknya, yang mencakup “... sebuah metode baru untuk menghasilkan tenaga penggerak elektris yang sangat besar...”, sebagaimana digunakan pada pesawat listriknya.

K

ETIKA Tesla mulai muncul ke layar, “Good Old Boy’s Club” di Inggris sudah memperdebatkan teori eter dalam waktu yang cukup lama, dan Tesla, si pendatang baru, pasti telah merusak kebanggaan mereka sebagai hakim garis, dengan melakukan perjalanan terakhir untuk pendaratan.

Pada tahun 1847, Wm. Thomson, dalam mendiskusikan gerakan benda magnetizable di medan gaya non-seragam, mengatakan bahwa benda bermuatan menarik benda yang memiliki kapasitas induksi spesifik yang lebih besar daripada medium di sekelilingnya, dan menolak benda yang memiliki kapasitas induksi spesifik yang lebih rendah, untuk menghasilkan jalur berkonduksi terbaik menuju garis gaya.

Thomson juga menyatakan bahwa elektroda yang terbenam dalam medium penyekat cair (analogi eksperimen dengan benda di ruang penuh eter), pada “...frekuensi cukup tinggi”, akan menyebabkan gravitasi gas di sekelilingnya semuanya menuju elektroda, tapi terdapat opini umum (darinya dan rekan-rekan se-Eropanya) bahwa “mustahil” frekuensi seperti itu dapat dicapai. Opini terakhir ini kemudian segera dibantah oleh seorang pengikut dan pengagum penelitian Thomson.

Dalam pernyataan ulangan, Thomson yang lain—J.J. Thomson— mengklaim telah secara matematis mengembangkan teori pipa-pipa gaya bergerak (Phil. Mag, xxxi [1891], p. 149). Untuk penelitiannya, Recent

Researches in Electricity and Magnetism (1893, p. 13), dia berhipotesis bahwa

“eter adalah gudang momentum mekanis”, tapi apakah ini benar? Bukankah lebih mungkin bahwa “gudang” “momentum mekanis” berada dalam “materi berat” yang bereaksi dengan eter?

Kuliah Nikola Tesla di hadapan A.I.E.E. di Columbia College pada tahun 1891 didasarkan pada eksperimen-eksperimen sebelumnya. Dia menyebutkan “pipa-pipa gaya” dan mengungkapkan beberapa penemuannya menyangkut eter dan momentum. Kuliahnya pada Februari 1892 di hadapan Institute of Electrical Engineers, London, pada masa Good Old Boys masih

memperdebatkan apakah aksi elektromagnetik dapat terjadi pada eter bebas, Tesla menjelaskan bahwa dirinya berencana menjalankan motor di kejauhan lewat energi nirkabel, dengan peralatan yang telah dia buat, serta berencana menyuling energi bebas dari lingkungan.

Empat tahun kemudian, Wm. Thomson menyatakan “kecenderungan”-nya untuk “berspekulasi” bahwa “perubahan gaya elektrostatis yang disebabkan oleh elektrifikasi yang berubah-ubah dengan pesat” dijalarkan oleh “gelombang-gelombang kondensasi pada eter bercahaya (luminiferous

aether)” (Bottomley, Nature liii [1896], p. 268). Ini tampaknya mengindikasikan

bahwa Thomson mulai menerima Tesla secara serius.

Dalam kuliahnya untuk Good Old Boys di London pada tahun 1892, Tesla menyatakan bahwa frekuensi ‘yang diperlukan’ itu—yang oleh Thomson disebut “mustahil” diproduksi—”...lebih rendah dari yang diperkirakan semula”, dan selanjutnya (di bagian relevan, penekanan adalah tambahan dari saya): “Kita bisa saja membuat molekul-molekul gas saling bertubrukan dengan memanfaatkan impuls elektrik berfrekuensi tinggi yang berubah-ubah, sehingga kita dapat meniru proses nyala api; dan dari eksperimen-eksperimen

high frequency yang telah mampu kita peroleh, saya pikir hasilnya dapat

dibuat dengan impuls-impuls yang bisa ditransmisikan melalui konduktor.” “...Saya menaruh perhatian besar untuk mendemonstrasikan kekakuan gumpalan gas”...”dengan frekuensi serendah itu, katakanlah 10.000 per detik, yang dapat saya hasilkan dari alternator khusus tanpa kesulitan.” “... bagaimana medium gas harus bertindak di bawah pengaruh tekanan-tekanan elektrostatis sangat besar yang mungkin aktif di ruang antarbintang, dan yang mungkin berubah-ubah dengan kecepatan tak terbayangkan?”

Dalam hal ini, Tesla tampaknya juga menyebut ZPR omnidirectional. Pernyataannya juga memperlihatkan bahwa dia sedang berupaya menyusun pikirannya tentang karakteristik eter, seperti pertanyaan apakah eter itu kaku atau cair, dan di bawah kondisi apa eter akan berubah, serta sifat dinamis atau statisnya, densitasnya tinggi atau rendah, dan seterusnya: “Apa yang menentukan kekakuan sebuah benda? Pasti kecepatan dan jumlah materi yang bergerak. Dalam lingkungan gas, kecepatan benda mungkin sangat tinggi, tapi densitasnya kecil sekali, dalam lingkungan cairan, kecepatannya kemungkinan besar kecil, meski densitasnya amat tinggi; dan dalam kedua kasus, penolakan kelembaman mempertegas dirinya. Sebuah benda bisa saja

bergerak dengan sedikit atau banyak kebebasan melewati massa bervibrasi, namun secara keseluruhan ia akan kaku.”

Pernyataan ini mencerminkan ujicoba Tesla sebelumnya, karena, sebelum kuliahnya di London tahun 1892, dia telah menjalankan ujicoba antara dua pelat yang yang dielektrifikasi, menyatakan bahwa “ruang” di antara kedua pelat menjadi “solid state” (kondisi padat) saat terkena “frekuensi dan voltase cukup tinggi”. Ini menjawab isu tentang bagaimana “benda padat” dapat melewati massa eter yang padat, bervibrasi, dan

interpenetrating (saling menembus) yang secara keseluruhan bersifat kaku.

Inilah esensi bagaimana “penolakan kelembaman” ‘kerangka eter’ pokok dapat dikumpulkan oleh benda yang dielektrifikasi yang mengaktifkan eter dengan arus-arus “berfrekuensi dan bervoltase cukup tinggi”. Sementara penolakan kelembaman eter “mempertegas” diri, benda yang dielektrifikasi tersebut terdorong melintasi eter oleh gaya tolak MHD, yang sebenarnya merupakan gaya “bor mikroheliks”.

“Alternator khusus” yang dibicarakan Tesla berdiameter 32 inchi, yang, jika serupa dengan tipe yang digunakan pada piring terbang yang saya lihat di tahun 1953, barangkali dikendalikan oleh salah satu turbin tanpa bilah (bladeless turbine) milik Tesla. Di tahun 1890-an, Tesla mengatakan bahwa

alternator tersebut telah menghasilkan hingga 10 ampere dan 30 kilocycle.

Salah satu alternator itu diperlihatkan di bawah ini:

Piring terbang yang saya lihat di tahun 1953 memperlihatkan karakteristik presesi yang boleh jadi disebabkan oleh penggunaan alternator demikian, yang output dan rpm (rotate per minute)nya di bawah keadaan tersebut dapat diubah-ubah bersama level tenaga piring terbang, seakan-akan

diputar semakin cepat oleh turbin saat pesawat menggunakan semakin banyak tenaga untuk berakselerasi. Sudut tinggi dan frekuensi rendah presesi sesuai dengan penggunaan alternator berdiameter besar dan berfrekuensi tinggi, yang diputar secara lebih lambat pada saat melayang-layang, dan rpm-nya ditingkatkan untuk menghasilkan tenaga yang lebih besar ketika pesawat berakselerasi.

Karena alternator tersebut kemungkinan besar dipasangkan secara kuat pada airframe pesawat, itu dapat membuat keseluruhan pesawat bergerak presesi pada saat melayang-layang, sedangkan akselerasi menurun (downward

acceleration) akibat gravitasi diseimbangkan oleh akselerasi elektropulsi

naik (upward electropulsive acceleration), ketika pesawat melayang-layang pada tempatnya di atas bumi. Fenomena ini menunjukkan bahwa gerakan presesi yang saya lihat pada tahun 1953 disebabkan oleh mesin internal yang berotasi, atau oleh momentum sudut “virtual” yang dihasilkan oleh efek-efek elektropulsi.

Gaya seimbang yang menahan pesawat di udara ekuivalen dengan menahannya di “gimbals5 udara”, sehingga pesawat melakukan gerakan presesi secara bebas menurut kecepatan massa dan momentum sudut alternator yang berotasi. Ini memerlukan tenaga yang sangat kecil, sebab gaya elektropulsi mengurangi kelembaman pesawat hingga hampir nol. Di sisi lain, gaya rotasi yang ditanamkan medan magnet pada arus listrik, untuk menghasilkan mikroheliks, boleh jadi merupakan penyebab presesi, sebagai “reaksi setara dan berlawanan”, melalui aksi rotasi presesi kolektif yang ditanamkan pada semua atom seluruh massa pesawat.

Tesla memecahkan masalah bagaimana menetralkan kecenderungan pesawat untuk berotasi akibat tenaga putar alternator atau turbin, dengan menggunakan dua turbin atau alternator, dipasang pada poros paralel dalam satu arah atau berotasi-imbang, sebagaimana dinyatakan dalam patennya nomor 1.655.114, Apparatus for Aerial Transportation, 3 Januari 1928. Kenyataannya, alternator dan turbin tunggal yang berputar pada poros paralel terpisah, yang dihubungkan oleh gear box (kotak persneling), akan melakukan hal yang sama.

Ketika pesawat berakselerasi hingga kekuatan dan kecepatan penuh, laju presesinya yang rendah dan sudut presesinya yang tinggi menjadi hanya

5 Susunan cincin dan poros guna mempertahankan posisi horizontal peralatan dalam kapal, pesawat, dan lain-lain—penj.

goyangan high frequency, sementara pesawat terlempar jauh dalam 3 detik (saya perkirakan sejauh 7,5 mil). Ini cocok dengan alternator yang diputar dengan kecepatan yang semakin tinggi. Goyangan presesi cepat keliling pesawat cenderung mengaburkan garis bentuknya, sehingga membuat kita sulit untuk memperoleh definisi tepat bentuk piring terbang dalam foto dan

Dalam dokumen Fisika Eter Rahasia.pdf (Halaman 72-84)