• Tidak ada hasil yang ditemukan

LI NGKUNGAN: SEBUAH PENGANTAR AWAL

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 155-161)

M. I smail N., S.S., M.A.

Sastra I ndonesia FBS Universitas Negeri Padang e-mail: [email protected]

Abstrak

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara sastra dengan lingkungan sehingga diharapkan dapat memunculkan wacana bahwa lingkungan juga berperan penting dan menjadi latar peristiwa dalam sastra. Begitu juga sebaliknya, sastra dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan ide atau gagasan betapa pentingnya lingkungan dalam hidup manusia sehingga harus dijaga dan dipelihara demi keberlanjutan hidup manusia. Dalam hal ini, penulis mencoba untuk menyajikan bahwa sastra merupakan salah satu bidang ilmu yang peduli terhadap lingkungan.

Sastra seringkali membicarakan persoalan-persoalan lingkungan sosial seperti fenomena prilaku manusia yang selalu kontradiksi dengan nilai-nilai yang telah tertanam pada diri kita yang diwariskan secara turun temurun. I su-isu seperti persoalan yang muncul ketika laki-laki miskin menikahi perempuan kaya dan keturunan bangsawan, upaya pemberontakan terhadap streotipe perempuan yang berkembang selama ini dalam masyarakat, dan sebagainya marak dibicarakan dalam karya sastra. Akan tetapi, secara tidak sadar dalam pikiran kita telah ditanamkan betapa pentingnya lingkungan fisik dalam menciptakan suasana keharmonisan hidup masyarakat.

Pemilihan latar yang dilakukan oleh para pengarang seperti dalam novel Pengakuan

Pariyem karya Linus Suryadi AG., Gerhana karya A.A. Navis, Orang-orang Proyek karya Ahmad

Tohari, dll., tanpa sengaja mensugesti pembaca untuk menerima dan ikut merasakan suasana konflik yang diceritakan dalam novel itu. Demikian juga halnya dalam puisi, alam menjadi media untuk mengemukakan ide-ide atau gagasan yang ingin disampaikan pengarang dalam karyanya. Misalnya, puisi-puisi Afrizal Malna, Sitok Serengenge, Taufiq I smail, W.S., Rendra, Hamid Jabbar, Sapardi Djoko Damono, dll. Pesan-pesan lingkungan dalam puisi ini pun sebenarnya telah ada pada masa penyair-penyiar lampau seperti dalam puisi-puisi Roestam Effendi, Amir Hamzah, dll.

Kata-kata kunci: Sastra, Lingkungan, Perspektif

Karya sastra juga dapat membelajarkan pembaca untuk mencintai lingkungan. Di samping fungsi dan nilai yang lain, karya sastra secara tidak langsung menjadi media untuk menyadarkan pembaca betapa hubungan manusia dengan lingkungannya amat erat, lingkungan menjadi habitat hidup manusia. Bahkan, di dalam karya sastra, lingkungan itu mencitrakan karakter dan peran tokoh serta sebagai salah satu mediasi penyelesaian konflik cerita. Akan tetapi, apa yang saya kemukakan dalam makalah ini bukanlah merupakan hasil sebuah penelitian atau studi pustaka yang luas. Ini hanyalah sebuah penghayatan yang merupakan hasil pengejawantahan saya selama mengampu mata kuliah I lmu Sosial Budaya Dasar, di dalamnya terdapat materi hubungan antara manusia dengan lingkungan. Ketika mendiskusikan materi itu dengan mahasiswa, terlintas dalam pikiran saya bahwa karya sastra juga pada dasarnya peduli terhadap lingkungan.

Deskripsi sebuah lingkungan dalam karya sastra dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa hal itu menjadi sebuah pakem penciptaan karya sastra sebagai sebuah seni yang menirukan alam. Pengarang dalam mendeskripsikan latarnya bertujuan untuk menambah estetika karyanya. Oleh sebab itu, persoalan dalam tulisan ini dibahas dengan mengacu pada deskripsi latar tempat (setting) terjadinya peristiwa dalam cerita. Hanya saja yang

perlu diingat adalah sastra berurusan dengan kode bahasa bukan fakta seperti buku sejarah.

Newton (1990:7) mengemukakan membaca dan menafsirkan tidak dapat dipisahkan dalam hubungannya dengan wacana sastra. Dalam wacana-wacana non-sastra kendala-kendala tertentu memaksa wacana-wacana tersebut untuk dibaca dengan cara khusus. Mereka begitu terikat pada tujuan-tujuan kemanusiaan sehingga misalnya, orang tidak dapat ‘mengiaskan’ serangkaian perintah, karya ilmiah, dokumen sejarah, tanpa sama sekali merusak tujuan-tujuannya. Tetapi wacana sastra tidak dapat dibatasi hanya pada seperangkat tujuan-tujuan kemanusiaan tertentu yang menentukan kendala-kendala pada cara membacanya.

Kode sastra tidak bisa lepas dari kode bahasa (A. Teeuw,1983:17). Oleh sebab itu, Saya menguraikan hubungan sastra dengan lingkungan hanya berdasarkan tafsiran dan anggapan dari kode bahasa semata. Burke menyebut kesusasteraan merupakan ‘tindakan simbolis’. Menurut Junus (1981:198) karya sastra bukannya memindahkan kenyataan yang ada dalam kehidupan nyata ke dalam dirinya. Pengarang hanya menyatakan reaksinya terhadap kenyataan yang dia lihat, bukan memindahkannya, meski bagaimanapun ia mencoba menjadi seorang realis karatan. Subjek ilmu sastra bukanlah sastra, tetapi kesastraannya, yaitu hal yang membuat suatu karya menjadi karya sastra (Jakobson dalam Newton, 1990:19)

Latar dalam karya sastra salah satu unsur yang amat penting dalam menghadirkan peristiwa yang dekat dengan kehidupan manusia sehingga pembaca merasakan peristiwa itu faktual. Dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mood emosional yang melingkupi sang karakter; kesunyian yang melingkupi sang karakter (Stanton, 1965). Latar mendeskripsikan general local dan

historical time di dalam tindakan atau prilaku tokoh sehingga latar merupakan

suasana/ pemandangan yang merupakan bagian penting dari sebuah peristiwa cerita (Abrams, 1957).

*

Lingkungan dalam karya sastra dapat dilihat ketika pengarang mendeskripsikan latar karyanya. Berbagai variasi muncul dalam deskripsi itu. Mulai dari lingkungan asri yang ditumbuhi banyak pepohonan sampai dengan megah dan gemerlapnya bangunan- bangunan yang didirikan oleh manusia. Seperti yang diungkapkan Linus Suryadi AG (10- 11)berikut.

Mentari pagi mengorakkan sinar Jagad ngayogya lepas dari kegelapan Dan bunga-bunga pun berkembang Dan burung-burung pun terbang Dalam gelora cahaya hari pun bergema Masing-masing mengikuti irama alam.

Dalam kutipan di atas dapat dilihat bahwa deskripsi alam atau lingkungan yang asri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Alam yang bersahabat selalu menjadi keinginan dasar manusia karena hal itu merupakan habitat hidupnya: tempat untuk mencari penghidupan dan berkembang biak.

“...Hidup tak perlu dirasa Hidup tak perlu dipikir Dari awal sampai akhir Hidup itu pun mengalir Bagaikan kali Winanga

Bagaikan kali Codhe, di tengah kota, Bagaikan kali Gajah Wong

(Suryadi AG, 2002:167)

Bahkan, manusia selalu belajar dari alam seperti kiasan perjalanan hidup manusia dengan aliran kali Winangan, Codhe, dan Gajah Wong. Kali-kali itu mengalir tanpa hambatan, beda dengan kali Ciliwung yang setiap kali harus dibersihkan dari tumpukan- tumpukan sampah. Hal itu juga menandakan bahwa kebiasaan masyarakat sekitar ketiga kali yang membelah kota Yogyakakarta itu berbeda dengan masyarakat sekitar kali Ciliwung, Jakarta. Masyarakat yang tinggal di tepian kali Codhe misalnya, memiliki keinginan untuk menjaga kali itu agar bersih dan airnya mengalir—sewaktu masih belajar di Yogyakarta pada tahun 2008, saya pernah diajak oleh teman ikut membersihkan kali Codhe bersama warga yang lain.

Lingkungan yang lebih khusus lagi terdapat dalam kutipan berikut.

Pohon kelapa gading di depan Tumbuh, menambah asri pekarangan Perdu pohonnya dan kuning buahnya Berjanjang-janjang bergelantungan Di tengah alam yang hijau subur Kuning subur pohon kelapa gading

(Suryadi AG, 2002:133)

Pengarang melukiskan betapa asrinya sebuah rumah dengan pekarangan yang ditumbuhi oleh pepohonan. Jika sekiranya setiap rumah atau bangunan terutama di kota- kota besar memiliki lebih dari satu pohon, kecemasan terjadinya pemanasan global tentu akan berkurang. Saya kira semua kita setuju bahwa lingkungan amat penting bagi kehidupan kita dan generasi berikutnya. Oleh sebab itu, sastra memang berurusan dengan universal truth, kebenaran yang universal (A. Teeuw,1983: 22).

Bukan hanya Linus Suryadi Ag, pengarang lain yang mendeskripsikan lingkungan

dengan rinci salah satunya Ayu Utami seperti yang terdapat dalam kutipan berikut.

“yang penting yang dekat adalah rumpun-rumpun pisang dan bambu betung yang begitu tuanya sehingga merunduk membikin lorong satu dengan yang lain. Jika didekati, kelopok di ruas-ruasnya adalah sebuah dunia lain di mana semut dan kutu putih berteduh dari matahari dan air hujan tropis. Setalah itu, pohon-pohon kelapa, yang jangkung maupun yang genjah, yang memberikan makan kumbang badak dengan bunga dan tunasnya. Lalu, tanaman buah: durian, nangka, lengkeng. Dan dibelakan semua itu, hidup pohon-pohon yang semakin tua, semakin kekar batangnya, semakin lebar dan panjang-panjang tangannya...”

(Utami, 2007:47)

Ayu Utami mendeskripsikan sebuah lingkungan yang ditanami oleh berbagai jenis pepohonan beserta jenis hewan yang bisa hidup di pepohonan tersebut. Satu tanaman dapat memberikan tempat bagi beberapa jenis serangga, kemudian serangga merupakan sumber makanan bagi burung. Dalam hal ini, siklus rantai makanan (simbiosis mutualisme) tercipta sedemikian rupa. Salah satu ciri lingkungan yang baik adalah ketika siklus rantai makanannya itu tidak terganggu. Jika salah satu komponen terputus maka populasi salah satu jenis hewan yang berada dalam siklus itu akan meningkat sehingga hewan yang biasanya hidup di hutan keluar dan memasuki wilayah pemukiman manusia.

Bentuk lain yang dikemukakan Ayu Utami dalam karyanya adalah sebuah mitos yang tidak masuk akal tetapi dipercaya oleh masyarakat pemiliknya.

Nama gadis itu Upi. Kemudian si I bu bercerita tentang anak perempuannya yang gila. Ketika lahir kepalanya begitu kecil sehingga ayahnya menyesal telah membunuh seekor penyu di dekat tasik ketika istrinyahamil muda. Dan akhirnya anak itu tak pernah bisa bicara, meski tubuhnya kemudian tumbuh dewasa.

Peristiwa dalam kutipan di atas adalah peristiwa yang tidak masuk akal. Akibat membunuh seekor penyu ketika istri hamil, seorang ayah menerima kutukan. Akan tetapi, kearifan lokal yang demikian dapat melestarikan berbagai jenis makhluk hidup dari kepunahan. Mitos-mitos seperti ini banyak terdapat di I ndonesia dengan aneka ragam bentuk sesuai dengan kepercayaan budayanya masing-masing.

Misalnya, bagi orang Batak tidak diperbolehkan membunuh ular di sawah terlebih lagi ketika istri sedang hamil. Jika dilanggar, si I bu akan melahirkan anak dengan kulit bersisik seperti kulit ular. Jika ditelisik lebih jauh, mitos itu berguna bagi petani karena ular dapat mengurangi populasi tikus di sawah.

Karya sastra lain yang dapat dilihat sebagai karya yang mewacanakan lingkungan adalah Ali Akbar Navis. Salah satu karyanya yang dengan jelas menguraikan permasalahan lingkungan terdapat dalam novelnya yang berjudul Gerhana, terbit pada tahun 2004 silam. Perhatikanlah kutipan berikut.

“Kalau hujan jatuh di kota Padang, adakalanya sangat lebat dan lama berlangsungnya. Air pun naik ke jalan raya. Sebab kota ditumbuhkan tanpa saluran air. Di beberapa bagian kota adakalanya air naik ke tangga rumah, terus ke lantai. Bahkan adakalnya sampai ikut duduk di kursi atau tidur di ranjang. Meskipun demikian, air hujan di kota padang tidak nakal. Belum pernah menghanyutkan rumah penduduk.”

(Navis, 2004:2)

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa banjir tidak hanya bisa diatasi dengan memperbanyak pepohonan. Kota Padang adalah sebuah daerah yang hijau yang ditumbuhi banyak pepohonan tetapi masih mengalami banjir ketika hujan lebat turun. Permasalahannya menurut Navis karena saluran air yang tidak tertata dengan benar terlebih lagi hujan yang disertai dengan pasang-naik air laut. Beberapa hari sebelum makalah ini ditulis, peristiwa yang dideskripsikan oleh Navis itu terjadi lagi bahkan genangan air mulai meluas.

Dahulu sebelum gempa September 2009 yang terjadi di Sumatera Barat, titik-titik banjir atau genangan air itu hanya beberapa saja, sekarang hampir menyeluruh pada jalan-jalan utama di kota Padang. Pemerintah setempat harus lebih bekerja keras agar dapat memperbaiki saluran-saluran itu sehingga air dapat mengalir dengan lancar. Jika tidak, bukan saja banjir yang akan datang melainkan juga akan berdampak pada kesehatan masyarakat kota Padang. Bahkan, banjir kota Padang sekarang sudah ‘nakal’. Akibat hujan deras, rumah warga sepanjang aliran sungai di Nagari (desa) Batu Busuk hanyut bahkan sampai menelan korban.

Kemudian, situasi yang dideskripsikan oleh A.A. Navis itu juga terjadi pada tempat Ahmad Tohari. I a juga mendeskripsikan bencana banjir di dalam karyanya, Orang-Orang

Proyek, karena meluapnya air sungai Cibawor. Berikut kutipannya.

“Pagi ini sungai Cibawor kelihatan letih. Tiga hari yang lalu hujan deras di hulu membuat sungai ini banjir besar. Untung sudah jadi watak sungai pegunungan banjir yang terjadi berlangsung cepat. Air yang semula jernih mulai mengeruh di pagi hari, meninggi dan segara menggelora setengah jam kemudian. Cibawor seperti sedang digelontor dari hulu dengan bah besar yang pekat berlumpur serta membawa segala macam sampah, dari sandal karet, bekas botol plastik, dari batang pisang sampai batang mahoni.”

“Banjir kali ini memang besar. Setelah air surut hanya beberapa jam kemudian banyak sampah tersangkut di ranting pepohonan. Pada tebing yang curam tampak rerumputan dan pakis-pakisan tercerabut oleh derasnya air. Dinding cadas yang tergerus. Pada bantaran yang landai banjir telah menutup hamparan lahan pertanian dengan lumpur, batu, dan pasir....”

(Tohari, 2004:1)

Permasalahan lingkungan yang dapat ditafsirkan dari pernyataan Ahmad Tohari itu adalah sungai yang tercemar oleh sampah seperti sandal bekas dan botol-botol plastik. Meluapnya air sungai pada dasarnya berawal dari volume air banyak yang datang dari hulu. Air hujan tidak mampu diserap oleh tanah karena populasi pepohonan yang sudah

berkurang. Tanah yang ditahan oleh akar pepohonan tergerus sehingga membuat air sungai berwarna kecoklatan. Hal ini pulalah yang terjadi di kota Padang, di Nagari Batu Busuk itu, kurang lebih 10 km dari pusat kota Padang. Pada tahun 2012, peristiwa banjir terjadi di dua kali daerah yang sama.

*

Dalam puisi juga dapat kita temukan berbagai deskripsi alam yang dianggap sebagai media untuk menumbuhkan pentingnya lingkungan itu bagi manusia. Seperti puisi Hamid Jabbar berikut.

Sejuta Panorama Suara

...

kicauan sejuta burung desahan sejuta bayu lambaian sejuta daun ayunan sejuta pohon belukaran sejuta semak siraman sejuta cahaya lekukan sejuta lembah desiran sejuta airkali lebaran sejuta batu ...

(Jabbar, 1998:59)

Hamid Jabbar mengemukakan betapa alam ini indah dengan kicauan burung, angin yang mendayu, hijaunya gunung, dan air yang mengalir dihiasi oleh batu. Semuanya adalah lingkungan tempat manusia hidup dan berkembang biak. Pada sisi lain, jauh sebelum Hamid Jabbar mempublikasikan karyanya, WS Rendra, Amir Hamzah, Roestam effendi, Taufik Ismail, dan para penyair lainnya telah melukiskan alam dalam karya-karya mereka. Perhatikan kutipan puisi Rendra berikut.

Ciliw ung yang Manis

Ciliwung mengalir

dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta ...

Ciliwung bagai lidah terjulur

Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya. Dan Jakarta kecapaian

dalam bisingnya yang tawar

dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar ...

Dan bulan bagai perempuan tua letih dan tak diindahkan menyeret langkahnya atas kota

Dan bila ia layangkanpandangnya ke Ciliwung Kali yang manis membalas menatapnya! Hoi! Hoi!

Ciliwung bagai lidah terjulur

Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya. Teman segala orang miskin

timbunan rindu yang terperam bukan bunga tapi bunga. Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk

dan Jakarta disinggung dengan pantatnya.

Lima puluh satu tahun yang lalu, Rendra mennggambarkan betapa indahnya sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta. Airnya mengalir ibarat lidah yang menjulur serta lekukan-lekukan sungai yang tampak indah menyentuh gedung-gedung Jakarta. Akan tetapi, sungai Ciliwung yang tampak kini tentu berbeda jauh dengan Ciliwung dahulu. Lingkungan berubah diakibatkan oleh populasi penduduk yang padat. Ciliwung sekarang sudah dipenuhi oleh sampah sampai menutupi permukaan air sungai. Barangkali tepatlah yang disebut oleh Abrams bahwa latar atau setting dalam sebuah karya sastra itu merupakan historical time, salah satu bukti yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang.

*

Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika saya kemukakan bahwa karya sastra juga dapat menjadi mediator untuk menumbuhkan kesadaran pembaca akan pentingnya memelihara lingkungan baik sifatnya biotik maupun abiotik untuk kemaslahatan umat manusia terutama bagi generasi berikutnya. Karya sastra Indonesia, terlebih lagi yang mengemukakan secara eksplisit pentingnya memelihara lingkungan masih belum banyak ditemukan. Hal ini penting mengingat bahwa karya sastra bukan saja harus mempersoalkan pergeseran nilai-nilai moral, agama, dsb. Saya kira pesan-pesan akan kepedulian lingkungan ini juga bukan saja disampaikan dalam bentuk karya sastra melainkan juga karya seni lain, terutama film-film yang notabene lebih luas penikmatnya. Sederhananya, pesan-pesan itu boleh jadi dalam bentuk tindakan-tindakan aktor seperti membuang sampah pada tempatnya, sikap menghargai pepohonan, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1957. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston, I nc.

Jabbar, Hamid. 1998. Super Hilang. Jakarta: Penerbit Balai Pustaka.

Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan. Navis, A.A. 2004. Gerhana. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Newton, K.M. 1990. Menafsirkan Teks (diterjemahkan oleh Sulistia dari judul asli

I nterpreting the Text). New York: Harvester and Wheatsheaf.

Rendra. 1961. Empat Kumpulan Sajak Rendra. Jakarta: PT. Pembangunan.

Sedyawati dan Damono (ed). 1991. Seni dalam Masyarakat I ndonesia Bunga Rampai. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi (Diterjemahkan oleh Sugihastuti dan Rossi dari judul aslinya An I ntroduction to Fiction). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suryadi AG, Linus. 2002. Pengakuan Pariyem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT. Gramedia. Teeuw, A. 1983. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya. Tohari, Ahmad. 2004. Orang-Orang Proyek. Yogyakarta: Matahari. Utami, Ayu. 2007. Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Media

Catatan Biodata: M. I smail Nasution

Lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan, 1 Oktober 1980. Sarjana Sastra I ndonesia lulusan Univ. Negeri Padang (dulunya I KI P Padang) pada tahun 1998 s.d. 2003. Kemudian, melanjutkan studi bidang I lmu Sastra di UGM pada tahun 2007 s.d. 2010. Tugas tetap di UNP Padang dalam mata kuliah kesastraan. Menjadi peserta dan pemakalah dalam beberapa seminar dan menulis beberapa artikel pada jurnal ilmiah.

HETERONORMATI VI TAS

DALAM NOVEL LELAKI TERI NDAH KARYA

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 155-161)