• Tidak ada hasil yang ditemukan

El-Nino & La-Nina

Dalam dokumen Modul Adaptasi Perubahan Iklim API untuk (Halaman 46-52)

Sementara dampak El Nino 2015 menyebabkan kemarau panjang di sejumlah wilayah di Indonesia khususnya di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setidaknya kekeringan telah melanda 16 provinsi di 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia hingga akhir Juli 2015. Lahan pertanian seluas 111 ribu hektar juga mengalami kekeringan. Kejadian ini juga menyebabkan terjadi defisit air sekitar 20 milyar meter kubik (BNPB, 2015).

Pusat prakiraan iklim Amerika (Climate Prediction Center) mencatat bahwa sejak tahun 1950, telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena El-Nino, 6 kejadian di antaranya berlangsung dengan intensitas kuat yaitu 1957/1958, 1965/1966, 1972/1973, 1982/1983, 1987/1988 dan 1997/1998. Intensitas El-Nino secara numerik ditentukan berdasarkan besarnya penyimpangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik equator bagian tengah. Jika menghangat lebih dari 1.5°C, maka El-Nino dikategorikan kuat.

Berkebalikan dengan El-Nino, fenomena La-Nina justru menyebabkan semakin meningkatnya curah hujan di Indonesia.

El-Nino & La-Nina

El-Nino

, dalam bahasa Spanyol artinya “anak lelaki”, sedangkan

La-Nina

artinya “anak perempuan”. Menurut sejarahnya para

nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur melihat fenomena meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin (sekitar bulan Desember). Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan menjadi berkurang. Di kemudian hari para ahli juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya diberi nama La-Nina Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun.

46

Ketika La-Nina datang, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat. Penduduk Indonesia diminta untuk waspada jika terjadi La-Nina karena mungkin bisa terjadi banjir. Sejak kemerdekaan di Indonesia, telah terjadi 8 kali La-Nina, yaitu tahun 1950, 1955, 1970, 1973, 1975, 1988, 1995 dan 1999.

Efek Rumah Kaca

Istilah efek rumah kaca diambil dari rumah kaca yang biasa dipakai untuk kegiatan berkebun dan bercocok tanam, yang terbuat dari kaca atau plastik yang memerangkap panas dari matahari di dalam, sehingga lebih hangat daripada di luar. Hal ini memungkinkan kita untuk menanam jenis tanaman yang memerlukan kondisi lebih hangat (misalnya tanaman tomat).

Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (disingkat CO2) di atmosfer bumi memiliki efek yang sama sebagai rumah kaca. Gas-gas ini memantulkan beberapa energi kembali ke bumi dan mencegahnya untuk lepas kembali keluar angkasa. Sebenarnya, Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan suhu rata-rata bumi kita menjadi hangat dan nyaman berkisar pada 15 ° Celcius (59 derajat Fahrenheit). Tanpa itu, bumi akan memiliki suhu rata-rata sekitar -19° C (sangat dingin!) dan akan menyebabkan suhu ekstrim sedemikian rupa sehingga tidak bisa mendukung kehidupan. Namun demikian, dalam perkembangannya, aktifitas

manusia menyebabkan suhu bumi semakin ‘panas’.

Bacaan lebih lanjut tentang El-Nino dan La-Nina untuk Guru dan Peserta Didik:

http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Publikasi/Artikel/Sejarah_Dampak _El_Nino_di_Indonesia.bmkg#ixzz47pQfHbPz

http://geografiuntukmu.blogspot.co.id/2011/04/apa-itu-el-nino-dan-la-nina-serta-apa.html

47

Gambar 1: Proses terjadinya efek rumah kaca

Jenis-jenis gas rumah kaca dan sumbernya

Berdasarkan panduan IPCC 1996 yang telah direvisi, yang dikategorikan sebagai gas rumah kaca adalah CO2, metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC, merupakan kelompok gas), perfluorokarbon (PFC, merupakan kelompok gas), dan sulfur heksafluorida (SF6). Gas-gas inilah yang juga menjadi acuan pada Protokol Kyoto (1997). Gas rumah kaca lain yang terdapat pada panduan IPCC 2006 adalah nitrogen trifluorida (NF3), trifluorometil sulfur pentafluorida (SF5CF3), eter terhalogenasi, dan halokarbon lain.

Dalam troposfer terdapat gas-gas rumah kaca yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Gas Rumah Kaca dapat terbentuk secara alami maupun sebagai akibat pencemaran. Gas Rumah Kaca yang berada di atmosfer (troposfer) dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu, Gas Rumah Kaca juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan, dan perubahan pemanfaatan lahan, seperti pertanian, pemukiman, industri, dan peternakan. Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti H2O (uap air), CO2 (karbon dioksida), O3 (ozon), CH4 (metana), N2O (dinitrogen oksida), CFC

48

(cholorofluorokarbon : CFC R-11 dan CFC R-12), dan gas lainnya seperti HFCS, PFCS, dan SF6 .

Uap Air (H20)

Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktifitas manusia secara langsung memengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.

Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik (akibat aktifitas manusia) akan menyebabkan meningkatnya kandungan uap air di troposfer, dengan kelembapan relatif yang agak konstan. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berlanjut sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2[1]. Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.

Karbondioksida (CO2)

Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.

Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktifitas manusia yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya. Pada tahun 1750, terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara (281 ppm). Pada Januari 2007, konsentrasi karbondioksida telah mencapai 383 ppm (peningkatan 36 persen). Pada tahun 2013, satelit NOAA di Hawai mencatat konsentrasi karbondioksida

49

mencapai 400 ppm. IPCC telah memperingatkan, jikalau melebihi 450 ppm, dikhawatirkan peningkatan suhu rata-rata bumi mencapai 2°C. Padahal masyarakat global saat ini berusaha untuk menghindari kenaikan temperatur melebihi 1.5°C. Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100, karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih tinggi malah memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat tiga kali lipat bila dibandingkan masa sebelum revolusi industri.

Metana (CH4)

Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat dikeluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.

Nitrogen Oksida (N20)

Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pre-industri.

Gas lainnya

Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilkan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon

50

(lapisan yang melindungi bumi dari radiasi ultraviolet). Selama masa abad ke-20, gas-gas ini telah terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang substansi-substansi yang menipiskan lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin sedikit dilepas ke udara.

Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.

Gunung berapi

Benarkah letusan gunung berapi merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global?. Letusan gunung berapi menyemburkan aliran lahar panas 700-1200 ° C (1292-2192 ° F), selain itu sebenarnya gunung berapi juga melepaskan sejumlah besar gas dan partikel ke dalam atmosfer, yang dapat mengubah jumlah radiasi matahari mencapai permukaan bumi sehingga menyebabkan pendinginan planet ini. Sebagai contoh, ketika Gunung Pinatubo di Filipina meletus pada tanggal 15 Juni 1991, meluncurkan sekitar 20 juta ton sulfur dioksida tinggi ke atmosfer. Sulfur dioksida menciptakan partikel awan besar yang menutupi

Bacaan lebih lanjut tentang Gas Rumah Kaca untuk Pembina dan instruktur sertaPeserta Didik:

http://basoarif10ribu.blogspot.co.id/2013/02/gas-rumah-kaca-adalah-gas-gas-yang.html

51

bumi dan bertahan di lapisan atmosfer selama dua tahun. Akibatnya sinar matahari terpantul ke angkasa, dan menghalanginya mencapai permukaan tanah. Hal ini menyebabkan pendinginan global sementara. Peristiwa serupa juga terjadi sebelumnya ketika Gunung Tambora meletus di bulan April 1815. Selain merenggut nyawa tidak kurang dari 92.000 jiwa, letusan Gunung Tambora juga menyebabkan tahun tanpa musim panas di Amerika Utara dan daratan Eropa di tahun 1816. Ini terjadi akibat debu letusan Tambora menimbulkan perubahan iklim drastic sehingga banyak panen gagal dan kematian ternak di belahan bumi bagian utara dan menyebabkan kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Dalam dokumen Modul Adaptasi Perubahan Iklim API untuk (Halaman 46-52)