• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul Adaptasi Perubahan Iklim API untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Modul Adaptasi Perubahan Iklim API untuk"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL PANDUAN ADAPTASI PERUBAHAN

IKLIM (API) UNTUK PEMBINA DAN

INSTRUKTUR

Ekstrakurikuler Wajib Pendidikan Kepramukaan Jenjang Penggalang (SMP) dan Penegak (SMA)

(2)

1

Modul Panduan Adaptasi Perubahan Iklim (API) untuk Pembina dan Instruktur

Ekstrakurikuler Wajib Pendidikan Kepramukaan Jenjang Penggalang (SMP) dan Penegak (SMA)

Penyunting:

Ari Mochamad

Tim Penyusun (sesuai abjad):

Adi Pamungkas Amin Magatani Barry Adhitya Mariana Pardede Muhammad Andrianto

Plan International Indonesia

Menara Duta Building 2nd Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B-9 Kuningan, Jakarta Selatan 12910 Indonesia

©2016 Plan International Indonesia

(3)

2

Pengantar Penyusun

Plan International Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini mengimplementasikan program Adaptasi Perubahan Iklim Berpusat pada Anak di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui program ini Plan International berupaya untuk meningkatkan kemampuan adaptif anak-anak dalam menghadapi dampak (khususnya yang merugikan) akibat perubahan iklim yang terjadi di dua kabupaten tersebut.

Mengapa anak-anak penting untuk mendapatkan dukungan dalam meningkatkan kemampuan adaptif mereka terhadap perubahan iklim? Menempatkan posisi anak sebagai bagian sentral dalam program adaptasi ini bukan hanya sejalan dengan visi misi Plan International tetapi juga didasari oleh posisi mereka sebagai kelompok yang rentan perubahan iklim. Oleh karenanya anak-anak penting untuk ditingkatkan kemampuan adaptifnya melalui pengetahuan, pemahaman, keahlian dan pembelajaran dan praktek langsung serta penciptaan kondisi lainnya yang mendukung mereka untuk beradaptasi dari perubahan iklim.

Berdasarkan pengalaman Plan International pada kegiatan lainnya, anak-anak memiliki semangat/kemauan dan kemampuan – setelah dibekali pengetahuan dan kapasitas - untuk menyampaikan pesan-pesan kunci dan terlibat dalam kegiatan yang berpengaruh kepada lingkungan, sosial dan ekonomi. Demikian halnya dengan isu adaptasi perubahan iklim. Mereka diharapkan menjadi

‘penggerak’, tidak hanya bagi teman sebayanya tetapi juga bagi orang-orang di sekitar lingkungannya di mana mereka tinggal.

(4)

3

pramuka untuk berkreasi dalam berkegiatan dengan cara yang menyenangkan, mudah, dan sederhana sebagaimana yang bisa diterapkan dalam kegiatan kepramukaan.

Modul Panduan Adaptasi Perubahan Iklim (API) untuk Pembina dan Instruktur ini disusun agar bisa menjadi alternatif pedoman/panduan bagi Pembina dan instruktur untuk mengenalkan pengetahuan dan keterampilan tentang perubahan iklim kepada anggota gerakan Pramuka khususnya yang berada di Kwarcab Lembata dan Kwarcab Timor Tengah Utara.

Secara garis besar modul panduan ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama atau pendahuluan memfokuskan bagaimana memulai kegiatan dan tahapannya, kriteria keberhasilan peserta didik, penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler, kurikulum ekstrakurikuler API, pendekatan kegiatan kepramukaan, tanda ikut serta kegiatan (TISKA), pengenalan tentang SAKA KALPATARU, dan penilaian keberhasilan peserta didik.

Bagian kedua, memberikan informasi dan pengetahuan dasar tentang perubahan iklim. Dimulai dengan penjelasan perbedaan pengertian antara cuaca dan iklim, apa yang menyebabkan perubahan iklim? Dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, respon terhadap perubahan iklim melalui adaptasi dan mitigasi perubahan iklim beserta pilihan-pilihan kegiatan praktis keduanya. Selain itu bagian kedua juga berisi Rencana Pembelajaran untuk Penggalang (SMP) dan Penegak (SMA), sebagai satu contoh panduan melaksanakan kegiatan.

Bagian ketiga, berisi pilihan kegiatan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan informasi terkait adaptasi perubahan iklim. Bagian ini mengajak para peserta didik untuk memfasilitasi dan menyebarkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan tentang perubahan iklim melalui kegiatan kepramukaan agar tersebarluas di masyarakat.

Bahan atau materi dari modul panduan ini, sebagian besar diadopsi dari Modul YUNGA (Youth and United Nations Global Alliance) dan sumber yang relevan lainnya. Tentu saja masih banyak kekurangan di sana-sini, namun demikian kehadirannya dapat menjadi alternatif bagi gerakan kepramukaan di Indonesia dan pihak-pihak lainnya dalam mengenalkan pengetahuan dan keterampilan tentang adaptasi perubahan iklim.

(5)

4

Pengantar

Plan International Indonesia

Modul Panduan Adaptasi Perubahan Iklim (API) ini diperuntukkan bagi Pembina dan Instruktur Pramuka. Kehadiran modul ini melengkapi beberapa dokumen serupa sebelumnya yang telah diterbitkan oleh Plan International Indonesia seperti Panduan untuk Fasilitator tentang Adaptasi Perubahan Iklim, yang bersifat umum dan terbuka untuk digunakan oleh siapa saja yang punya minat dan kesungguhan dalam mempromosikan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Plan juga pernah menerbitkan kumpulan praktek-praktek baik adaptasi perubahan iklim yang ada di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Media informasi cetak dan audio-visual mengenai perubahan iklim sebagai alat atau instrumen edukasi, juga menjadi perhatian yang Plan telah lakukan.

Khusus mengenai modul panduan ini, kami menyusunnya melalui serangkaian proses lokakarya, ujicoba dan diskusi-diskusi untuk mendapatkan pandangan dan input dari berbagai pihak yang ada di Kupang, Jakarta, Lembata dan TTU, yang dilakukan sejak bulan Mei – Juli 2016.

Secara khusus Plan International Indonesia mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada beberapa pihak atas dukungan yang diberikannya, seperti Kwarda Gerakan Pramuka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kwarcab Lembata, Kwarcab Timor Tengah Utara, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lembata, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten TTU. Demikian pula ucapan ini disampaikan kepada sekolah SMP dan SMA baik di Lembata dan Kefamenanu. yang bersedia menjadi lokasi ujicoba modul ini.

(6)

5

SAMBUTAN

KETUA KWARDA GERAKAN PRAMUKA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

Fenomena perubahan iklim merupakan sebuah keniscayaan yang bisa dilihat dan dirasakan langsung dampaknya oleh semua manusia di berbagai belahan dunia termasuk oleh masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa wilayah di NTT mengalami kekeringan panjang sehingga masyarakat mengalami gagal tanam maupun gagal panen. Hal ini secara langsung akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan masyarakat yang terkena dampak langsung perubahan iklim tersebut. Kondisi hampir sama juga dialami para nelayan, dimana mereka terpaksa tidak bisa menangkap ikan karena cuaca buruk yang berkepanjangan.

Perubahan iklim terjadi baik karena aktifitas manusia maupun oleh faktor alam. Aktifitas manusia di berbagai sektor kehidupan diyakini jauh lebih besar dampaknya dalam mempercepat perubahan iklim global ketimbang faktor alam itu sendiri. Hal ini karena aktifitas industri, eksploitasi sumberdaya alam, aktifitas pertanian, peternakan, transportasi dan sebagainya menghasilkan emisi gas karbon yang pada akhirnya memicu terjadinya pemanasan global.

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa yang akan datang maka semua pihak harus bisa mengambil peran, termasuk dalam mengubah pola pikir dan perilaku manusia melalui dunia pendidikan. Dalam konteks ini keberadaan Gerakan Pramuka menjadi sangat strategis. Dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan sejak dini kepada anggota Gerakan Pramuka diharapkan bisa memberikan sumbangan dalam menangani berbagai dampak perubahan iklim baik melalui kegiatan mitigasi maupun kegiatan adaptasi.

(7)

6

perubahan iklim. Tentu saja Pembina dan Instruktur yang nantinya menyampaikan materi-materi perubahan iklim bisa mengembangkan kreatifitasnya dalam menyampaikan materi-materi terkait sesuai dengan latarbelakang pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Kami juga berharap para Pembina dan Instruktur Pramuka yang terlibat dalam pelatihan-pelatihan tentang perubahan iklim terus menambah pengetahuan dan membekali diri dengan keterampilan-keterampilan yang relevan tentang perubahan iklim sekaligus melakukan eksperimen-eksperiman sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Kami mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada semua pihak yang turut terlibat dalam proses penyusunan Modul API ini baik kakak Pembina Gerakan Pramuka Kwarcab Lembata, Kwarcab Timor Tengah Utara, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Plan International, PMPB, CIS Timor, dan pihak-pihak lainnya tanpa terkecuali. Berharap ihtiar ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat NTT khususnya baik hari ini maupun di masa yang akan datang.

Kupang, Juni 2016

Ketua Kwarda Pramuka

(8)

7

Daftar Isi

Pengantar Penyusun………..

Pengantar Plan International Indonesia………. Sambutan Ketua Kwarda Gerakan Pramuka NTT………. Daftar Isi………. Daftar Gambar dan Tabel……….. Bagian Pertama

Sebelum Memulai Kegiatan……….. Tahapan Ketuntasan Kegiatan ekstrakurikuler API………. Kriteria Keberhasilan Peserta Didik………..

Penting Diingat Pembina dan Instruktur Pramuka Sebelum

Memulai Kegiatan……….. Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakurikuler………. Tiga Model Pelaksanaan Ekstrakurikuler Wajib Kepramukaan …… Tanda Ikut Serta Kegiatan (TISKA) dan TKK……….

Satuan Karya Kalpataru………. Aktor Perubahan (Fokus Strategi Perubahan Perilaku Adaptif)……

Kurikulum Kegiatan Eksrakurikuler API………. Jadwal Kegiatan Ekstrakurikuler API……….. Penilaian Keberhasilan Peserta Didik ………. Ayo Mulai ! ……….. Lembar Periksa Aktifitas………. Bagian Kedua

Informasi Dasar perubahan Iklim ………...

Perubahan Iklim dan Beragam Penyebabnya ……….. Dampak Perubahan Iklim……….

Solusi Perubahan Iklim: Mitigasi ..……….. Aksi-aksi Mitigasi ……….. Solusi Perubahan Iklim : Adaptasi………. Aksi-aksi Adaptasi………..

Rencana Pembelajaran untuk SMP/Penggalang……… Rencana Pembelajaran untuk SMA/Penegak………..

Bagian Ketiga

Merayakan dan Menyebarkan……… Merayakan Ketuntasan………...

Sebarkan pada Dunia………. Lampiran

Teka-teki Silang Perubahan Iklim ………..

Lagu Perubahan Iklim ………..

Sumber-sumber Informasi……….. Daftar Istilah ………. Tentang Program 4CA ……….

(9)

8

Daftar Gambar dan Tabel

Tabel 1 : Kejadian Kekeringan di Indonesia Periode 1815- 2011 64

Tabel 2 : Proyeksi luas daratan pantai yang hilang akibat naiknya permukaan air laut di Provinsi NTT

2010-20100 ….……… 65

Tabel 3 : Neraca Ketersediaan air di musim kemarau periode

2003 dan 2020 ……….. 66

Tabel 4 : Ringkasan Dampak Perubahan Iklim di berbagai

Sektor ………. 70

Gambar 1 : Proses terjadinya efek rumah kaca ……… 45

Gambar 2 : Kejadian Bencana dan Korban Meninggal Periode ……

1815-2011 ………..

(10)

9

Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita,

kita meminjamnya dari anak-anak kita.

– Peribahasa Amerika-

(11)

10

Sebelum Memulai Kegiatan

Bagaimana Menggunakan Buku Panduan ini?

Buku panduan ini dikembangkan untuk digunakan oleh pembina ataupun instruktur (fasilitator pendamping) yang memenuhi kriteria dalam mendampingi kegiatan ekstrakurikuler adaptasi perubahan iklim. Kegiatan ekstrakurikuler adaptasi perubahan iklim ini diperuntukkan bagi peserta didik tingkat SMP (Penggalang) dan SMA (Penegak) melalui kegiatan ekstrakurikuler wajib Pramuka untuk membuka wawasan dan membangun keterampilan dalam mendukung adaptasi perubahan iklim, sehingga diharapkan peserta didik mampu berkontribusi dalam menyelamatkan bumi dari ancaman dan dampak perubahan iklim. Sesuai prinsip kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan-kegiatan yang disajikan dalam buku ini praktiknya mengedepankan keterlibatan aktif peserta didik, menyenangkan dan bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Buku ini terdiri dari tiga bagian dengan kekhususan pembahasan di masing-masing bagian, yaitu:

Bagian pertama; menyediakan informasi mengenai kriteria ketuntasan peserta didik dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler adaptasi perubahan iklim dan penilaiannya dan bagaimana pendidikan perubahan iklim akan dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler wajib Kepramukaan disertai kurikulumnya.

Bagian kedua; menyediakan informasi dasar tentang perubahan iklim, mengapa terjadi perubahan iklim, dampak perubahan iklim dan alternatif tindakan untuk menggurangi dampak perubahan iklim. Bagian ini juga menyediakan contoh rencana pembelajaran adaptasi perubahan iklim untuk jenjang Penggalang (SMP) dan Penegak (SMA)

Bagian ketiga; menyediakan informasi pilihan-pilihan aktifitas

(12)

11

Apakah Pembina dan Instruktur Harus

Ahli Perubahan Iklim?

Pembina dan Instruktur kegiatan ekstrakurikuler tidak harus seorang ahli pada bidang klimatologi dan meteorologi, tidak harus juga berbelakang ilmu lingkungan atau kebencanaan. Siapapun dan dengan latar-belakang pengetahuan mampu berkontribusi secara positif untuk turut dalam mencegah ancaman dan dampak perubahan iklim. Namun akan sangat bermanfaat apabila kita mengetahui dan memahami informasi dasar mengenai perubahan iklim dan adaptasi perubahan iklim, baik dari modul panduan ini maupun dari sumber-sumber lainnya, agar pilihan solusinya didasari oleh sebab dan akibat dari munculnya fenomena perubahan iklim.

Berapa lama kegiatan ekstrakurikuler API ini dikenalkan sebenarnya tergantung minat dan pengetahuan peserta didik terhadap perubahan iklim dan adaptasi perubahan iklim yang telah diajarkan melalui beragam mata pelajaran dan informasi dari media massa. Sedangkan durasi kegiatan yang tersedia dalam panduan ini, terdiri dari 12 kegiatan yang perlu diselesaikan, membutuhkan waktu selama satu semester.

(13)

12

Tahapan ketuntasan kegiatan

ekstrakurikuler API

Contoh-contoh aktifitas dalam panduan ini disusun secara sederhana untuk memudahkan pembina dan instruktur pendamping bersama peserta didik menuntaskan kegiatan ekstrakurikuler. Terdapat 6 (enam) tema adaptasi, 1 tema selebrasi dan 1 tema diseminasi/penyebarluasan yang ditempatkan menjadi 1 paket dalam kegiatan ekstrakurikuler API ini. Untuk menjadi syarat ketuntasan kegiatan ekstrakurikuler API, setiap peserta didik perlu menyelesaikan 12 aktivitas plus 2 kegiatan selebrasi dan penyebarluasan informasi seperti dalam gambar di bawah ini:

Tema 1: Kesehatan

Menyelesaikan Aktifitas GKA-1/TKA-1 DAN GKA-2/TKA-2

+

Tema 2: Sumber Daya Air

Menyelesaikan Aktifitas GKA-3/ TKA-3 DAN GKA-4/ TKA-4

+

Tema 3: Ekosistem dan Lingkungan

Menyelesaikan Aktifitas GKA-5/ TKA-5 DAN GKA-6/ GKA-6

+

Tema 4: Pertanian

Menyelesaikan Aktifitas GKA-7/ TKA-7 DAN GKA-8/ PKA-8

+

Tema 5: Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

(14)

13

+

Tema 6: Infrastruktur dan Permukiman

Menyelesaikan Aktifitas GKA-11/ 11 DAN GKA-12/ TKA-12

+

(Fasilitasi?) Rayakan dan Sebarkan!

Menyelesaikan 1 Aktifitas pilihan dari RP-13 sampai RP-17

dan SP-13 sampai SP-17

=

Selesai

Setiap peserta didik berhak mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Krida Adaptasi Perubahan Iklim/TISKA (Tanda Ikut

Serta Kegiatan)

Kriteria Keberhasilan Peserta didik

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, bakat, potensi dan minat peserta didik melalui kegiatan secara khusus yang diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah. Kriteria keberhasilan peserta didik mengacu kepada standar kompetensi kelulusan siswa kurikulum 2013 yang terdiri dari tiga aspek, yaitu:

Sikap: Memiliki [melalui menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, mengamalkan] perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia [jujur, santun, peduli, disiplin, demokratis, patriotik], percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan dirinya sebagai calon agen perubahan untuk adaptasi perubahan iklim.

(15)

14

abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri pada bidang perubahan iklim.

Pengetahuan: Memiliki [melalui mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi] pengetahuan prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian serta tindakan yang dapat dilakukan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Dalam panduan ini, terdapat lima komponen perilaku yang akan dicapai oleh peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler, ke-lima komponen perilaku tersebut disandingkan dengan tiga kriteria keberhasilan siswa untuk mendapatkan kriteria keberhasilan peserta didik khusus dalam kegiatan adaptasi perubahan iklim, yaitu:

Komponen Perilaku

Aspek Sikap Aspek Keterampilan

(16)

15

hasil karya kreatif

Memahami dan

Presentasi Percaya diri menyajikan

Penting diingat oleh Pembina

Pramuka dan Instruktur sebelum

memulai kegiatan

Panduan kegiatan ekstrakurikuler ini didesain untuk mendukung pembina dan instruktur pendamping dalam melaksanakan serangkaian aktifitas menuju ketuntasan kegiatan ekstrakurikuler API. Variasi aktifitas yang mendorong peserta didik untuk melakukan eksplorasi lingkungan sekitarnya tetap diutamakan. Pemahaman terhadap lingkungannya dengan baik, berpotensi untuk dioptimalkan sebagai langkah/upaya untuk mengurangi dampak merugikan akibat perubahan iklim. Namun, pembina dan instruktur pendamping sebelumnya harus memastikan lokasi aktifitas dan peralatan yang akan digunakan sesuai dengan usia

dan aman.

(17)

16

listrik. Selain itu, perlu dipersiapkan perlengkapan pertolongan pertama di sekolah sebagai bantuan darurat awal.

Penyelenggaraan Kegiatan

Ekstrakurikuler

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, pengembangan potensi peserta didik sebagaimana dimaksud dalam tujuan pendidikan nasional dapat diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan salah satu kegiatan dalam program kurikuler.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah program kurikuler yang alokasi waktunya tidak ditetapkan dalam kurikulum. Jelasnya bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan perangkat operasional (supplement dan complements) kurikulum, yang perlu disusun dan

Perlu diberitahukan kepada peserta didik

√Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas, terutama saat menggunakan peralatan mengandung zat kimia seperti cat dan lem

√ Menggunakan baju dan membawa

perlengkapan yang sesuai dengan arahan pembina atau instruktur pendamping

√ Berhati-hati dan mendengarkan arahan pembina atau instruktur pendamping saat menggunakan benda tajam dan benda listrik

√ Jika mengambil foto untuk dokumentasi, pastikan mendapat izin dari orang bersangkutan

dan didampingi oleh pembina atau instruktur

√ Jika beraktivitas di alam terbuka, terutama hutan, pastikan peserta didik memahami untuk

(18)

17

dituangkan dalam rencana kerja tahunan/kalender pendidikan satuan pendidikan.

Sedangkan definisi operasional kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum. Berdasarkan definisi tersebut, maka kegiatan di sekolah atau pun di luar sekolah yang terkait dengan tugas belajar suatu mata pelajaran bukanlah kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan Ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan memiliki fungsi pengembangan, sosial, rekreatif, dan persiapan karir.

a. Fungsi pengembangan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan.

b. Fungsi sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktek keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral dan nilai sosial.

c. Fungsi rekreatif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga menunjang proses perkembangan peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah lebih menantang dan lebih menarik bagi peserta didik.

(19)

18

Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dikembangkan dengan prinsip-prinsip; bersifat individual, bersifat pilihan, keterlibatan aktif, menyenangkan, membangun etos kerja, dan kemanfaatan sosial.

Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk, yaitu:

1. Individual; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh peserta didik secara perorangan.

2. Kelompok; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.

3. Klasikal; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh peserta didik dalam satu kelas.

4. Gabungan; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh peserta didik antar kelas.

5. Lapangan; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar sekolah atau kegiatan lapangan.

Ekstrakurikuler wajib merupakan program ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik, terkecuali bagi peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut.

Kepramukaan dalam Kurikulum Nasional 2013 termasuk dalam ekstrakurikuler wajib (dalam bentuk Krida) yang berarti harus diikuti oleh seluruh peserta didik dari tingkat dasar hingga menengah atas, terkecuali bagi peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Dalam pelaksananannya dapat bekerjasama dengan organisasi kepramukaan setempat/terdekat.

(20)

19

Tiga Model Pelaksanaan

Ekstrakurikuler Wajib Kepramukaan

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 Tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah maka kegiatan kepramukaan harus dilaksanakan di dua jenjang pendidikan tersebut.

Merujuk pada pasal 3 Peraturan Menteri tersebut pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib dilaksanakan dengan menggunakan tiga model yaitu Model Blok, Model Aktualisasi, dan Model Reguler. Masing-masing model pelaksanaan kepramukaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Model Blok

Model Blok adalah pola kegiatan ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan yang diselenggarakan setahun sekali, yakni pada awal tahun ajaran baru. Lebih tepatnya disisipkan pada kegiatan Masa Orientasi Sekolah dimana Model Blok Ini bersifat wajib diselenggarakan setahun sekali, berlaku bagi seluruh peserta didik, terjadwal, dan diberikan penilaian umum. Karakteristik dari penerapan Model Blok ini, peserta didik tidak diwajibkan memakai seragam pramuka dan dipegang langsung oleh guru bidang studi bersangkutan dengan dibantu oleh pembina Pramuka.

2. Model Aktualisasi

(21)

20

rutin, terjadwal, dan diberikan penilaian formal. Model aktualisasi bersifat wajib, dan berlaku untuk seluruh peserta didik dalam setiap kelas. Karakteristik pelaksanaan model aktualisasi antara lain : Kegiatan ini dilaksanakan setiap satu minggu satu kali; satu kali kegiatan model aktualisasi dilaksanakan selama 120 menit; diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka pada gugus depan; Kegiatan diorganisasikan oleh Pembina Pramuka; tidak memakai seragam Pramuka bagi yang bukan anggota Gerakan Pramuka; tidak menggunakan SKU/menggunakan jurnal; Pembina adalah guru kelas/guru mata pelajaran yang menjadi Pembina Pramuka atau Pembantu Pembina.

Kegiatan kepramukaan melalui model aktualisasi ini bertujuan untuk: (1). Pengenalan pendidikan kepramukaan yang menyenangkan dan menantang kepada seluruh peserta didik; (2). Sebagai media aktualisasi kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan dengan metode dan prinsip dasar kepramukaan; dan (3). Untuk meningkatkan kompetensi (nilai-nilai dan keterampilan) peserta didik yang sejalan dan sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui: Aplikasi Tri Satya dan Dasa Darma bagi peserta didik.

3. Model Reguler

Model Reguler adalah kegiatan sukarela berbasis minat peserta didik yang dilaksanakan di Gugus Depan oleh siswa yang berminat mengikuti kegiatan gerakan Pramuka; Pelaksanaan kegiatan sepenuhnya dikelola dan diatur oleh gugus depan Pramuka pada satuan pendidikan.

Tanda Ikut Serta Kegiatan (TISKA) dan

Tanda Kecakapan Khusus (TKK)

(22)

21

tertentu. Biasanya berbentuk medali atau lencana/badge yang dikenakan di baju Pramuka sampai batas waktu tertentu. Kegiatan kepramukaan seperti Jambore Nasional misalnya memfasilitasi anggota Pramuka untuk bisa mendapatkan TISKA. Seorang anggota Pramuka bisa mendapatkan TISKA setelah mengikuti 60% - 80% jumlah kegiatan yang disyaratkan.

Mekanisme pemberian TISKA bagi anggota Pramuka yang mengikuti kegiatan adaptasi perubahan iklim secara rutin ini perlu dipertimbangkan mengingat keberadaan SAKA KALPATARU belum ada di semua Kwarda, termasuk di Kwarcab Lembata dan Kwarcab Timor Tengah Utara. Sehingga anggota Pramuka dari masing-masing gugus depan bisa mendapatkan TISKA melalui kwarcab masing-masing yang difasilitasi oleh para pembina/Instruktur.

Lalu syarat apa yang harus ditempuh bila anggota Pramuka ingin mendapatkan TISKA? Kegiatan yang disediakan melalui modul panduan ini bisa menjadi pertimbangan bagi seorang anggota Pramuka untuk mendapatkan TISKA. Merujuk pada penjelasan di tahapan ketuntasan belajar peserta didik sebelumnya, maka seorang peserta didik dinyatakan tuntas bila sudah mengikuti 12 kegiatan wajib dan 2 kegiatan pilihan yang ada dalam modul panduan ini. Namun demikian karena lazimnya TISKA bisa didapatkan setelah anggota gerakan pramuka bisa mengikuti kegiatan 60% - 80% kegiatan, TISKA tentang adaptasi perubahan iklim ini bisa didapatkan setelah anggota Pramuka mengikuti 8 kegiatan wajib dan 2 kegiatan pilihan.

Sebagai gambaran, seorang anggota Pramuka bisa mengikuti kegiatan secara rutin merujuk pada PKA/AKA 1-12 (wajib) dan kegiatan pilihannya RP 11 – 15 dan SP 11 - 15 yang disediakan pada bagian dua modul panduan ini. Dengan demikian kegiatan yang harus diikuti adalah 10 tema kegiatan ditambah 2 kegiatan pilihan = 10 tema x 2 – 5 jam pelajaran. Minimal kegiatan yang harus diikuti adalah 24 jam pelajaran atau jika bisa mengikuti kegiatan seluruhnya adalah 60 jam pelajaran.

(23)

22

Adapun jenis TISKA yang bisa dikeluarkan kepada peserta didik tersebut tinggal disesuaikan dengan kekhususan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari. Ini bisa juga merujuk pada badge/lencana yang dikembangkan oleh Modul YUNGA.

Bagaimana dengan model SKK/TKK? Model SKK/TKK bisa dimasukkan dalam latihan atau ekstrakurikuler wajib kepramukaan sesuai dengan program latihan mereka. Jika di suatu Kwarda atau Kwarcab belum berdiri SAKA KALPATARU, maka TKK dari SAKA ini bisa diberikan dan diujikan oleh pembina Pramuka di gugus depan (Gudep) yang bersangkutan tanpa harus mengikuti kegiatan rutin Saka-nya. Jadi dibalik kalau sudah punya TKK yang berhubungan dengan ke-saka-an, maka seorang anggota Pramuka yang sudah punya TKK ini kalau punya keinginan untuk bergabung dalam kegiatan latihan di suatu Saka, tinggal lapor ke pamong Saka bahwa dia sudah memiliki kualifikasi tertentu dengan menunjukkan bukti TKK yang dia miliki.

Satuan Karya Kalpataru

Satuan Karya Pramuka atau disingkat Saka merupakan terobosan Gerakan Pramuka dalam menyediakan wadah bagi anggota pramuka usia 16-25 tahun (Penegak dan Pandega) dalam mendalami pengetahuan dan keterampilan khusus terkait isu-isu tertentu dan tentunya disamping keterampilan dan pengetahuan tentang kepramukaan pada umumnya.

(24)

23

Lingkungan Hidup ini menekankan pada isu lingkungan, pengelolaan sampah, perubahan iklim dan konservasi keanekaragaman hayati. Tujuan akhir Saka Kalpataru adalah membentuk generasi muda yang ramah pada lingkungan hidup fokus pada peningkatan (1) pengetahuan, (2) pengalaman, (3) keterampilan, (4) kecakapan, dan (5) kepemimpinan.

Kerjasama pembentukan Saka Kalpataru ini disahkan dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Kupang Nusa Tenggara Timur melalui Surat Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka nomor: 13/Munas/2013 tanggal 5 Desember 2013 yang merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang ditandatangani tanggal 20 November 2011 dalam dokumen kesepakatan bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 17/MENLH/11/2011 dan No. 014/PK-MoU/11/2011 tentang Pelaksanaan Program dan Kegiatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kesepakatan tersebut menjadi implementasi dari Undang-undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-undang nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, serta Undang-undang nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

Sebagaimana layaknya Satuan Karya Pramuka lainnya, para anggota akan dikelompokkan dalam krida-krida yang mengkhususkan pada materi tertentu. Setiap Krida memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKK) untuk memperoleh Tanda Kecakapan Khusus Kelompok Kesatuan karyaan. Krida dan SKK dalam Saka Kalpataru terdiri atas :

1) Krida 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dengan tiga SKK yaitu SKK Komposting, SKK Daur Ulang dan SKK Bank Sampah. 2) Krida Perubahan Iklim dengan tiga SKK yaitu SKK Hemat Air,

SKK Hemat Energi Listrik dan SKK Transportasi Hijau.

(25)

24

Aktor Perubahan (Fokus strategi

Perubahan Perilaku yang Adaptif)

Melalui kegiatan ekstrakurikuler API ini, kita akan menyasar generasi muda untuk mendukung mereka menjadi aktor perubahan sejak muda, sehingga diharapkan mampu mempersiapkan masa depan dengan lebih baik dan membangun kepercayaan diri bahwa mereka dapat membuat perubahan. Rencana menjadikan mereka aktor perubahan ini salah satunya dengan mengembangkan perubahan perilaku yang dapat bertahan hingga dewasa. Karena banyak permasalahan sosial dan lingkungan sebagai akibat dari sikap dan perilaku yang tidak sehat. Banyak orang membutuhkan perilaku yang adaptif, bukan hanya dalam program kegiatan ekstrakurikuler API ini, tetapi sepanjang rentang kehidupan mereka. Sehingga membutuhkan lebih dari sekedar program membangun kesadaran, namun ditambah dengan memberikan nilai-nilai, sikap dan keterampilan.

Apa yang dapat kita lakukan?

Ada beberapa tindakan yang selama ini dipercaya dapat mempromosikan perubahan perilaku untuk jangka panjang yang juga dipromosikan dalam panduan ini, yaitu:

Fokus pada perilaku yang spesifik dan bisa dicapai oleh peserta didik

Memprioritaskan aktifitas yang sederhana dan spesifik untuk perubahan perilaku. Misalnya hemat air saat cuci tangan dan mandi.

Membiasakan perencanaan dan pemberdayaan

(26)

25

Mengkaji perilaku saat ini dan menghilangkan hambatan

Mendorong peserta didik untuk merubah perilaku saat ini dan apa saja pilihan untuk merubahnya. Mungkin akan banyak alasan dilontarkan sebagai penyebab perilaku saat ini. Ajak mereka mendiskusikan secara terbuka alasan-alasan tersebut dan bagaimana sesama mereka mencari solusinya.

Praktikkan keterampilan

Terbiasa makan sayur? Sayur jenis apa saja? Coba ajak mereka identifikasi jenis-jenis sayur tersebut, cari tahu bagaimana tumbuhan itu bisa tumbuh di daerah mereka, coba membeli bibit dan menanamnya di sekolah dan di rumah. Ajak untuk beranikan diri melakukan eksperimen. Hal ini juga berlaku untuk tema lainnya, kesehatan, sumberdaya air, infrastruktur dan permukiman, adaptasi pesisir serta tema ekosistem dan lingkungan. Terus lakukan sampai terbiasa dan mendapatkan manfaatnya.

Jalan-jalan!

Kepedulian biasanya dimulai dengan mengetahui secara pasti apa yang terjadi. Apa yang sudah terjadi akibat perubahan iklim? Cobalah ajak dan temani untuk melakukan perjalanan ringan, di sekitar kita, di pesisir, di kebun. Ajak berkumpul dengan nelayan, kurangi waktu menggunakan telepon genggam dan televisi. Dengan begitu dapat membangun rasa tanggungjawab terhadap lingkungan alam dan sosial di sekitar mereka.

Ajak keluarga, teman dan lainnya

Kalau bisa mengajak satu anak muda melakukan perubahan perilaku, kenapa tidak dengan keluarga, teman dan tetangganya? Sebarkan seruan untuk perubahan perilaku dengan mengajak keluarga, teman dan tetangga bergabung dalam sebuah sesi bercerita apa yang baru saja dipelajari walaupun masih berupa tindakan kecil. Jika ingin mendapatkan efek lebih besar, undanglah pejabat dan anggota dewan untuk ikut mendengarkan anak-anak.

Membuat komitmen publik

(27)

26

Catat dan ikuti perubahan serta rayakan capaian

Perubahan perilaku adalah kerja keras. Lakukan pencatatan setiap perubahan walau sekecil apapun dan tidak ada salahnya memberi penghargaan sederhana atas perubahan perilaku tersebut.

Anda contohnya!

Peserta didik, anak-anak dan generasi muda melihat dan mencontoh Anda. Mereka menghargai Anda, terpesona dengan cara Anda mengajar dan mereka seringkali berusaha melakukan sesuatu agar Anda kagum terhadap mereka. Maka tentu perilaku Anda adalah kunci utama perubahan perilaku mereka. Ingat peribahasa ini, guru kencing berdiri, murid kencing berlari !

Kurikulum Kegiatan Ekstrakurikuler API

Kurikulum ekstrakurikuler API dikembangkan berdasarkan tema-tema yang diharapkan memudahkan peserta didik untuk mengetahui, memahami dan mempraktikkan pilihan-pilihan tindakan untuk adaptasi perubahan iklim. Setiap tema memiliki kompetensi dan diwakili oleh contoh pilihan-pilihan kegiatan yang secara detail dibahas di Bagian Ketiga buku ini.

Setiap tema dapat diselesaikan oleh peserta didik setelah menuntaskan 1 paket kegiatan. Struktur kurikulum kegiatan ekstrakurikuler disajikan dalam tabel di bawal ini:

Jenjang SMP/ Penggalang

Tema Adaptasi Aktifitas Kompetensi

Kesehatan

Aktifitas Kode GKA.1

- Mampu menjelaskan konsep dan pengertian Perubahan iklim (PI) dan API dan hubungannya dengan kesehatan - Mampu menjelaskan

jenis-jenis penyakit akibat perubahan iklim dan penyakit akibat PI - Mampu mempraktikkan

(28)

27

Aktifitas Kode GKA.2

sederhana perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) - Mampu menjelaskan

kepada teman dan

keluarga untuk berperilaku hidup bersih dan sehat

Sumberdaya Air

Aktifitas Kode GKA.3

- Mampu menjelaskan konsep dan pengertian PI dan API dan hubungannya dengan kebutuhan air bersih

- Mampu menjelaskan pentingnya hemat air

Aktifitas Kode GKA.4

- Mampu mempraktikkan dan menjelaskan cara pengertian PI dan API - Mampu menjelaskan

- Mampu menjelaskan pengertian PI dan API - Mampu menjelaskan

dampak PI dan pertanian

Aktifitas Kode GKA.8

- Mampu mempraktikkan dan menjelaskan cara konsep dan pengertian PI dan API dan hubungannya dengan kenaikan muka air laut

(29)

28

dan

Pulau-Pulau Kecil

kenaikan air laut Aktifitas Kode GKA.10 - Mampu menjelaskan

pengertian dampak kenaikan muka air laut (dampak fisik dan sosial) - Mampu menjelaskan konsep dan pengertian PI dan API dan hubungannya dengan infrastruktur dan

Aktifitas Kode GKA.12 - Mampu menjelaskan adaptasi yang dilakukan terkait perubahan iklim dan dampaknya bagi

permukiman - Mampu menjelaskan

adaptasi yang dilakukan terkait perubahan iklim dan dampaknya bagi

infrastruktur

Jenjang SMA/ Penegak

Tema Adaptasi Aktifitas Kompetensi

Kesehatan

(30)

29

Sumberdaya Air

Aktifitas Kode TKA.3

kebutuhan air bersih - Mampu mengidentifikasi

pilihan-pilihan tindakan memanen air dan tindakan hemat air

Aktifitas Kode TKA.4

- Mampu membuat teknologi terapan sederhana untuk ketersediaan air bersih dan mempresentasikannya - Mampu menggerakkan

teman dan masyarakat untuk memanen air dan menghemat air dengan pengertian PI dan API dan hubungannya dengan

kepada teman dan keluarga tentang energi alternatif.

- Mampu mengidentifikasi pergantian musim, pola tanam dan varietas tanaman yang adaptif di lingkungan sekitar

Aktifitas Kode TKA.8

(31)

30

kenaikan muka air laut (dampak fisik dan sosial)

Aktifitas Kode TKA.10

- Mampu memahami dan menjelaskan pilihan tindakan untuk adaptasi kenaikan permukaan air laut (mencegah abrasi atau pola tangkap ikan) kenaikan muka air laut

Infrastruktur

dan

Permukiman

Aktifitas Kode TKA.9

- Mampu menjelaskan konsep dan pengertian PI dan API dan hubungannya dengan infrastruktur dan

permukiman

- Mampu menjelaskan faktor-faktor dampak perubahan iklim bagi infrastruktur dan permukiman

Aktifitas Kode TKA.10

- Mampu menjelaskan adaptasi yang dilakukan terkait perubahan iklim dan dampaknya bagi

permukiman - Mampu menjelaskan

adaptasi yang dilakukan terkait perubahan iklim dan dampaknya bagi

infrastruktur

Sesi Merayakan dan Sebarkan!

(32)

31

Tugas pembina dan instruktur pendamping adalah mendorong peserta didik untuk menyiapkan presentasi hasil-hasil kegiatan dalam beragam aktifitas secara kreatif dan berkelompok. Sebagai penghargaan, setelah selesai presentasi dapat diberikan lencana perubahan iklim atau Tanda Kecakapan Khusus Krida Perubahan Iklim sesuai panduan Saka Kalpataru maupun piagam penghargaan.

Selain merayakan, tentu menyebarkan berita baik capaian-capaian peserta didik dapat membangun kebanggaan dan sikap positif, selain juga sebagai informasi bagi pihak luas mengenai kegiatan ekstrakurikuler adaptasi perubahan iklim yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan masing-masing. Kegiatan juga dapat beragam sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Tema Aktifitas Tujuan Pembelajaran

Merayakan

Aktifitas Kode RP.11

Membangun sikap percaya diri, kebanggaan diri dan kemampuan penyajian

dalam rangka ikut serta untuk melakukan tindakan

Kode PKA : Paket aktifitas ekstrakurikuler untuk jenjang SMP/ Penggalang Kode AKA : Paket aktifitas ekstrakurikuler untuk jenjang SMA/ Penegak

(33)

32

Persyaratan Peserta Kegiatan

Ekstrakurikuler API

Untuk dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler API, selain karena peminatan peserta didik terhadap perubahan iklim dan perilaku adaptifnya, karena melalui kepramukaan, maka untuk jenjang SMP (Penggalang), syarat utamanya telah mencapai Tanda Kecakapan Umum (TKU) Penggalang Rakit. Sedangkan untuk jenjang SMA (Penegak), syarat utamanya telah mencapai Tanda Kecapakan Umum (TKU) Penegak Bantara.

Peran Para Pihak dalam Kegiatan

Ekstrakurikuler

Untuk mendukung kesuksesan dan ketuntasan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler API ini dengan menyenangkan, diharapkan beberapa pihak terlibat sesuai porsi masing-masing, setidaknya dalam kebijakan disebutkan tiga pihak yang perlu andil dalam kegiatan ekstrakurikuler ini;

(1) Satuan Pendidikan; Kepala sekolah, dewan guru, guru pembina ekstrakurikuler, dan tenaga kependidikan bersama-sama mengembangkan ragam kegiatan ekstrakurikuler; supervisi, pembinaan dan melaksanakan evaluasi terhadap program ekstrakurikuler.

(2) Komite Sekolah; Komite Sekolah/Madrasah sebagai mitra sekolah yang mewakili orang tua peserta didik memberikan usulan dalam pengembangan ragam kegiatan ekstrakurikuler dan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler.

(34)

33

Jadwal Kegiatan

Ekstrakurikuler API

Penjadwalan waktu kegiatan ekstrakurikuler dirancang pada awal tahun atau semester dan di bawah bimbingan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan peserta didik. Jadwal waktu kegiatan ekstrakurikuler ini butuh diatur sedemikian rupa sehingga tidak menghambat pelaksanaan kegiatan kurikuler atau dapat menyebabkan gangguan bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan kurikuler.

(35)

34

Penilaian Keberhasilan Peserta Didik

Peserta didik diwajibkan untuk mendapatkan nilai memuaskan pada kegiatan ekstrakurikuler wajib pada setiap semester. Nilai yang diperoleh pada kegiatan ekstrakurikuler wajib kepramukaan berpengaruh terhadap kenaikan kelas peserta didik. Nilai di bawah memuaskan dalam dua semester atau satu tahun memberikan sanksi bahwa peserta didik tersebut harus mengikuti program khusus yang diselenggarakan bagi mereka. Penilaian kegiatan ekstrakurikuler wajib dilakukan dengan kriteria keberhasilan yang lebih ditentukan oleh proses dan keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan dengan model penilaian kualitatif.

Format penilaian keberhasilan peserta didik dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan kriteria keberhasilan dan catatan proses serta keikutsertaan secara aktif. Format penilaian diisi oleh guru pembina maupun fasilitator pendamping setiap proses kegiatan berlangsung dan mencantumkannya dalam laporan perkembangan siswa.

(36)

35

Nama Sekolah :

Kelas :

Wali Kelas :

Guru Pembina :

Tahun Pelajaran :

Semester :

Nilai Keterangan S K P Keterangan S K P Keterangan S K P Keterangan S K P Keterangan S K P Keterangan

Keterangan: S Sikap K Keterampilan P Pengetahuan

Nomor Induk

No Nilai Proses Kerjasama

Lembar Penilaian Kegiatan Ekstrakurikuler Adaptasi Perubahan Iklim

Nilai Proses Kreatifitas Nilai Proses Observasi Nilai Proses Penelitian Nilai Proses Presentasi Kehadiran & Partisipasi Aktif

Nama Peserta Didik

Ayo Mulai !

Runtutan kegiatan yang disarankan

Untuk mendorong adanya perubahan perilaku pada peserta didik agar lebih memahami pentingnya perilaku adaptif dalam menghadapi perubahan iklim dan melakukannya dengan menyenangkan, melalui kegiatan ekstrakurikuler API enam langkah dapat dilakukan oleh pembina atau instruktur pendamping untuk menguatkan perubahan perilaku tersebut, antara lain:

(37)

36

instruktur pendamping dapat mengundang seseorang yang dianggap memiliki keahlian sesuai tema-tema tertentu, misalnya penyuluh pertanian untuk bicara tema bercocok tanam.

Selanjutnya pembina atau instruktur pendamping dapat menginformasikan sebelumnya kepada peserta didik untuk mencari tahu apa itu perubahan iklim dari berbagai media maupun berdiskusi dengan orang tua masing-masing.

2. Setiap sesi aktifitas perlu dipastikan peserta didik memahami perubahan iklim, apa, bagaimana, dampaknya bagi kehidupan. Walaupun telah diberikan panduan setiap aktifitas, peserta didik masih berkesempatan untuk melakukannya sesuai dengan pola pikir, budaya dan peminatannya.

3. Berikan waktu yang cukup kepada peserta didik untuk melakukan aktifitasnya. Sikap kepercayaan diri cukup penting dalam kegiatan ekstrakurikuler ini, termasuk bagaimana sikap menerima pendapat dalam bekerjasama dengan anggota kelompoknya. Bahkan peserta juga dalam beberapa sesi dapat dibebaskan untuk melakukan sesuatu secara kreatif dengan caranya sendiri. Ini dapat menjadi bahan evaluasi proses kegiatan esktrakurikuler API.

4. Presentasi menjadi bagian utama dalam materi inti. Pembina dan instruktur pendamping perlu melakukan observasi bagaimana terjadi perubahan perilaku selama proses berlangsung dan kemudian mencatatkannya dalam lembar daftar periksa aktifitas dan lembar penilaian. Ajak peserta didik mendiskusikan pengalamannya melalui refleksi di akhir aktifitas, termasuk bagaimana penilaian mereka mengenai perubahan iklim yang terjadi dan pilihan adaptasi yang telah dilakukan.

5. Pembina dan instruktur pendamping perlu menyiapkan sebuah sesi selebrasi setelah 12 aktifitas tuntas dilaksanakan oleh peserta didik dalam kurun waktu 1 semester. Dorong peserta didik untuk berani melakukan presentasi hasil-hasil kegiatan ekstrakurikuler dengan cara-cara yang kreatif. Dalam selebrasi penghargaan layak diberikan kepada peserta didik atas usahanya menuntaskan seluruh aktifitas dalam kegiatan ekstrakurikuler API.

(38)

37

Berdasarkan 6 langkah dalam memulai kegiatan esktrakurikuler di atas, poin 1-4 merupakan langkah utama dalam aktifitas pembelajaran kegiatan ekstrakurikuler. Gambar di bawah ini mensarikan tiga kegiatan utama dalam proses pembelajaran yang terdiri dari langkah awal, langkah pemberian materi inti dan langkah akhir berupa penutupan sesi.

Lembar Periksa Aktifitas

Lembar periksa aktifitas digunakan oleh pembina dan instruktur pendamping untuk mencatat kehadiran dan ketuntasan peserta didik untuk setiap tema yang disediakan serta memberikan penilaian kualitatif terhadap proses yang dijalankan oleh peserta didik.

(39)

38

Lembar Periksa Aktifitas

Kegiatan Ekstrakurikuler Adaptasi Perubahan Iklim Nama Peserta Didik : ______________________________________

Jenjang Pendidikan : ______________________________________

Tema Kode

Aktifitas

Nama Aktifitas Tanggal Selesai

Paraf Guru Keterangan

Kesehatan

Sumberdaya air

Ekosistem dan lingkungan

Pertanian

Wilayah pesisir dan pulau kecil

(40)

39

“….katakanlah

dunia secara keseluruhan mungkin bisa

beradaptasi hingga kenaikan suhu 2 derajat Celsius

(yang itupun masih mengorbankan beberapa spesies,

tempat dan orang), bagaimana jika suhu terus

meningkat hingga 4 derajat Celcius (dan situasinya

sekarang menuju

ke tingkat ini), maka semua taruhan tidak berlaku.

Dengan kata lain, kemampuan kita untuk memprediksi

berakhir. "

Saleemul Huq, climate change expert

www.iied.org/ipcc-rings-warning-bell-louder-anyone-listening

(41)

40

Informasi Dasar Perubahan Iklim

Apa itu perubahan Iklim?

Perubahan iklim sebenarnya sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Meskipun belum tentu semua orang memahami tentang konsep perubahan iklim namun bisa dipastikan bahwa semua orang bersentuhan langsung dengan perubahan iklim. Perkembangan media massa dan kemajuan teknologi komunikasi dewasa ini semakin memudahkan orang untuk mengakses sumber-sumber informasi termasuk di dalamnya informasi tentang perubahan iklim.

Seluruh kehidupan di muka bumi ini sangat dipengaruhi oleh iklim. Oleh karenanya manusia, binatang, tumbuhan bahkan mahkluk kecil tidak kasat mata bisa bertahan hidup karena menyesuaikan diri dengan iklim, termasuk apabila terjadinya perubahan pada kondisi iklim. Petani di Lembata misalnya tahu kapan saatnya memulai untuk menanam jagung, atau kapan waktu yang tepat untuk menanam padi. Kita juga bisa mengamati bagaimana burung-burung tertentu harus bermigrasi ke lokasi-lokasi yang tersedia cukup sumber makanan dan tersedia cukup air. Fenomena yang kurang lebih sama juga bisa kita amati pada beberapa jenis tanaman, dimana untuk menyesuaikan diri dengan datangnya musim kemarau pohon jati atau bunga flamboyan harus menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan air.

FAQ

Apakah dengan demikian perubahan iklim itu identik dengan pergantian musim hujan dan musim kemarau? Lalu apa bedanya dengan perubahan cuaca? Apakah perubahan iklim sama dengan

perubahan cuaca? Agar kita memiliki dasar pemahaman yang sama bagian ini akan membahas tentang pengertian cuaca, iklim,

mengapa terjadi perubahan iklim, apa saja dampak perubahan iklim serta aksi-aksi yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan

(42)

41

Cuaca

Pernahkah kita menyaksikan acara prakiraan cuaca di sebuah stasiun televisi? Di acara prakiraan cuaca penyiar selalu menginformasikan kondisi kota-kota di Indonesia seperti; Kota Kupang pagi cerah, sore berawan; Jakarta pagi berawan, malam hujan ringan hingga hujan sedang; Jayapura pagi hingga malam hujan ringan; Surabaya pagi hingga malam berawan dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti mengalami perubahan-perubahan sebagaimana disebutkan di atas. Hujan tiba-tiba berubah dengan cepat menjadi panas atau sebaliknya.

Kondisi kota-kota yang berbeda pada saat yang sama sebagaimana disebutkan di atas adalah fenomena cuaca. Perubahan-perubahan di atas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti temperatur/suhu, cahaya matahari, kelembaban udara, tekanan udara, atau kecepatan angin. Secara sederhana cuaca bisa didefinisikan sebagai keadaan udara/atmosfer yang terjadi pada satu tempat tertentu dalam jangka waktu yang terbatas/singkat.

Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata suhu, curah hujan, tekanan udara, atau kondisi lainnya dalam jangka waktu yang panjang biasanya 30 tahun atau lebih.

Sementara itu pengertian iklim sebagaimana disepakati dalam WCC tahun 1979 menyebutkan sebagai sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference: 1979).

(43)

42

Penyebab Perubahan Iklim

Perubahan Iklim dan Beragam Penyebabnya

Perubahan iklim dipahami sebagai proses berubahnya pola dan intensitas unsur iklim pada periode waktu yang dapat dibandingkan, biasanya dalam kurun waktu rata-rata 30 tahun. Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, perubahan iklim didefinisikan sebagai berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktifitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan. Perubahan iklim dapat diamati dengan adanya perubahan pola, intensitas atau pergeseran paramater utama iklim yang meliputi curah hujan, suhu, kelembaban, angin (magnitude dan arah), tutupan awan dan penguapan. Kita tidak bisa dengan mudah mengamati perubahan iklim, karena hal itu terjadi dalam periode waktu yang cukup lama. Namun, kita mungkin pernah mendengar orang tua atau kakek kita mengatakan bahwa musim panas saat ini lebih panas dibandingkan ketika mereka masih anak-anak atau ketika tumbuh dewasa, atau sebaliknya saat ini lebih panjang musim hujannya dibandingkan saat mereka masih muda. Ilmuwan telah menyelidiki masa lalu bumi dan mengamati iklim saat ini, dan telah menemukan fakta bahwa planet ini mengalami pemanasan cepat. Jadi, mengapa terjadi perubahan iklim?

Faktor Alam

(44)

43

Antartika, atau sedimen dari bagian bawah laut atau danau. Cincin pohon dan lapisan batuan juga memberi mereka petunjuk tentang iklim sepanjang sejarah. Catatan ini menunjukkan kepada kita bahwa iklim bumi berubah jauh sebelum manusia berkeliaran di planet. Ada zaman es ketika es di kutub membentang sepanjang jalan ke khatulistiwa. Bahkan, lebih dari 400.000 tahun yang lalu, iklim bumi telah bergerak antara periode glasial dingin (zaman es) dan periode interglasial hangat. Saat ini kita dalam periode interglasial. Jadi apa faktor-faktor yang memengaruhi iklim bumi? Mari kita pelajari lagi pada bagian selanjutnya.

Energi Matahari

Jumlah radiasi, atau energi matahari yang mencapai bumi memainkan peran besar pada iklim bumi dan jumlahnya berubah sepanjang waktu. Bahkan, para ilmuwan mempelajari permukaan

Es Kutub Utara dan Selatan

Es di kutub adalah lapisan es yang sangat luas yang terletak di Kutub Utara maupun kutub Selatan. Bagian yang tertutup es itu bisa memiliki ketebalan tiga hingga empat meter di Kutub Utara dan bahkan lebih tebal di Kutub Selatan (Antartika). Pada dasarnya kutub Utara adalah lautan beku dengan lingkaran Arktik di sekelilingnya berupa daratan. Sedangkan Antartika atau Kutub Selatan terdiri dari banyak sekali gunung – gunung es dan danau hingga lautan. Wilayah Antartika kerap lebih disebut sebagai benua. Jumlah es di kutub selatan diperkirakan merupakan 90 persen jumlah es di planet bumi ini. Kutub Utara maupun Kutub Selatan ini paling sedikit menerima sinar matahari, itulah sebabnya daerah ini selalu membeku.

Benua Antartika jauh lebih dingin daripada Arktik sehingga bahkan terdapat lapisan es di sana yang tidak pernah meleleh sepanjang sejarah. Temperatur rata-ratanya -49 derajat Celcius. Suhu terdingin pernah tercatat pada 21 Juli 1983 sebesar -89,6 derajat Celcius di Stasiun Vostok, dekat kutub

geomagnetik selatan. (Kompas, 21 januari 2008). Sementara suhu pada benua Arktik lebih rendah dengan suhu terdinginnya adalah -34 derajat celcius sehingga lubang ozon yang terbentuk di kutub selatan lebih besar

dibandingkan dengan kutub utara. Luas lubang ozon di kutub selatan,

(45)

44

matahari untuk memprediksi berapa banyak energi bumi yang akan dihasilkan di masa depan. Mereka melakukan ini dengan memantau bintik-bintik matahari –bintik dingin pada permukaan matahari yang terkait dengan radiasi matahari yang lebih tinggi.

Kekuatan El Nino dan La Nina

El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yang dikenal sebagai El Nino, adalah fenomena alam yang terjadi ketika air di Pasifik dekat Equator menjadi luar biasa hangat dan mengubah hujan dan pola angin di seluruh dunia. Kondisi sebaliknya, disebut La Niña, adalah ketika air di Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya. Kedua El Nino dan La Niña dapat menyebabkan beberapa cuaca yang tidak biasa di dunia, dan fenomena ini adalah bagian alami dari variasi iklim.

Fenomena El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, tingkat berkurangnya curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas El Nino tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Dampak El Nino di Indonesia yang bisa kita amati adalah terjadinya kemarau panjang. Sebagian besar kejadian-kejadian El-Nino itu, mulai berlangsung pada akhir musim hujan atau awal hingga pertengahan musim kemarau yaitu bulan Mei, Juni dan Juli. El-Nino tahun 1982/1983 dan tahun 1997/1998 adalah dua kejadian El-Nino terhebat yang pernah terjadi di era modern dengan dampak yang dirasakan secara global termasuk di Indonesia.

(46)

45

mengalami gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak memenuhi kebutuhan tanaman.

Sementara dampak El Nino 2015 menyebabkan kemarau panjang di sejumlah wilayah di Indonesia khususnya di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setidaknya kekeringan telah melanda 16 provinsi di 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia hingga akhir Juli 2015. Lahan pertanian seluas 111 ribu hektar juga mengalami kekeringan. Kejadian ini juga menyebabkan terjadi defisit air sekitar 20 milyar meter kubik (BNPB, 2015).

Pusat prakiraan iklim Amerika (Climate Prediction Center) mencatat bahwa sejak tahun 1950, telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena El-Nino, 6 kejadian di antaranya berlangsung dengan intensitas kuat yaitu 1957/1958, 1965/1966, 1972/1973, 1982/1983, 1987/1988 dan 1997/1998. Intensitas El-Nino secara numerik ditentukan berdasarkan besarnya penyimpangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik equator bagian tengah. Jika menghangat lebih dari 1.5°C, maka El-Nino dikategorikan kuat.

Berkebalikan dengan El-Nino, fenomena La-Nina justru menyebabkan semakin meningkatnya curah hujan di Indonesia.

El-Nino & La-Nina

(47)

46

Ketika La-Nina datang, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat. Penduduk Indonesia diminta untuk waspada jika terjadi La-Nina karena mungkin bisa terjadi banjir. Sejak kemerdekaan di Indonesia, telah terjadi 8 kali La-Nina, yaitu tahun 1950, 1955, 1970, 1973, 1975, 1988, 1995 dan 1999.

Efek Rumah Kaca

Istilah efek rumah kaca diambil dari rumah kaca yang biasa dipakai untuk kegiatan berkebun dan bercocok tanam, yang terbuat dari kaca atau plastik yang memerangkap panas dari matahari di dalam, sehingga lebih hangat daripada di luar. Hal ini memungkinkan kita untuk menanam jenis tanaman yang memerlukan kondisi lebih hangat (misalnya tanaman tomat).

Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (disingkat CO2) di atmosfer bumi memiliki efek yang sama sebagai rumah kaca. Gas-gas ini memantulkan beberapa energi kembali ke bumi dan mencegahnya untuk lepas kembali keluar angkasa. Sebenarnya, Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan suhu rata-rata bumi kita menjadi hangat dan nyaman berkisar pada 15 ° Celcius (59 derajat Fahrenheit). Tanpa itu, bumi akan memiliki suhu rata-rata sekitar -19° C (sangat dingin!) dan akan menyebabkan suhu ekstrim sedemikian rupa sehingga tidak bisa mendukung kehidupan. Namun demikian, dalam perkembangannya, aktifitas

manusia menyebabkan suhu bumi semakin ‘panas’.

Bacaan lebih lanjut tentang El-Nino dan La-Nina untuk Guru dan Peserta Didik:

http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Publikasi/Artikel/Sejarah_Dampak _El_Nino_di_Indonesia.bmkg#ixzz47pQfHbPz

(48)

47

Gambar 1: Proses terjadinya efek rumah kaca

Jenis-jenis gas rumah kaca dan sumbernya

Berdasarkan panduan IPCC 1996 yang telah direvisi, yang dikategorikan sebagai gas rumah kaca adalah CO2, metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC, merupakan kelompok gas), perfluorokarbon (PFC, merupakan kelompok gas), dan sulfur heksafluorida (SF6). Gas-gas inilah yang juga menjadi acuan pada Protokol Kyoto (1997). Gas rumah kaca lain yang terdapat pada panduan IPCC 2006 adalah nitrogen trifluorida (NF3), trifluorometil sulfur pentafluorida (SF5CF3), eter terhalogenasi, dan halokarbon lain.

(49)

48

(cholorofluorokarbon : CFC R-11 dan CFC R-12), dan gas lainnya seperti HFCS, PFCS, dan SF6 .

Uap Air (H20)

Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktifitas manusia secara langsung memengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.

Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik (akibat aktifitas manusia) akan menyebabkan meningkatnya kandungan uap air di troposfer, dengan kelembapan relatif yang agak konstan. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berlanjut sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2[1]. Perubahan dalam

jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.

Karbondioksida (CO2)

Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.

(50)

49

mencapai 400 ppm. IPCC telah memperingatkan, jikalau melebihi 450 ppm, dikhawatirkan peningkatan suhu rata-rata bumi mencapai 2°C. Padahal masyarakat global saat ini berusaha untuk menghindari kenaikan temperatur melebihi 1.5°C. Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100, karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih tinggi malah memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat tiga kali lipat bila dibandingkan masa sebelum revolusi industri.

Metana (CH4)

Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat dikeluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.

Nitrogen Oksida (N20)

Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pre-industri.

Gas lainnya

(51)

50

(lapisan yang melindungi bumi dari radiasi ultraviolet). Selama masa abad ke-20, gas-gas ini telah terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang substansi-substansi yang menipiskan lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin sedikit dilepas ke udara.

Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.

Gunung berapi

Benarkah letusan gunung berapi merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global?. Letusan gunung berapi menyemburkan aliran lahar panas 700-1200 ° C (1292-2192 ° F), selain itu sebenarnya gunung berapi juga melepaskan sejumlah besar gas dan partikel ke dalam atmosfer, yang dapat mengubah jumlah radiasi matahari mencapai permukaan bumi sehingga menyebabkan pendinginan planet ini. Sebagai contoh, ketika Gunung Pinatubo di Filipina meletus pada tanggal 15 Juni 1991, meluncurkan sekitar 20 juta ton sulfur dioksida tinggi ke atmosfer. Sulfur dioksida menciptakan partikel awan besar yang menutupi

Bacaan lebih lanjut tentang Gas Rumah Kaca untuk Pembina dan instruktur sertaPeserta Didik:

http://basoarif10ribu.blogspot.co.id/2013/02/gas-rumah-kaca-adalah-gas-gas-yang.html

(52)

51

bumi dan bertahan di lapisan atmosfer selama dua tahun. Akibatnya sinar matahari terpantul ke angkasa, dan menghalanginya mencapai permukaan tanah. Hal ini menyebabkan pendinginan global sementara. Peristiwa serupa juga terjadi sebelumnya ketika Gunung Tambora meletus di bulan April 1815. Selain merenggut nyawa tidak kurang dari 92.000 jiwa, letusan Gunung Tambora juga menyebabkan tahun tanpa musim panas di Amerika Utara dan daratan Eropa di tahun 1816. Ini terjadi akibat debu letusan Tambora menimbulkan perubahan iklim drastic sehingga banyak panen gagal dan kematian ternak di belahan bumi bagian utara dan menyebabkan kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Faktor Manusia

Revolusi Industri

Sepanjang sejarahnya, aktifitas manusia telah menyebabkan dampak terhadap lingkungan mereka dan makhluk lain di planet ini. Hal ini terutama ketika manusia mulai membuat permukiman dan mengembangkan kota, menyebabkan perubahan besar dalam lanskap, seperti aktifitas penebangan hutan, pembangunan permukiman dan jalan, menggunakan lahan bercocok tanam dan pada akhirnya menyebabkan binatang punah.

Manusia mulai menimbulkan dampak besar terhadap atmosfer sejak beberapa ratus tahun yang lalu, selama Revolusi Industri di Benua Eropa antara tahun 1760 dan 1850. Orang-orang mulai membakar bahan bakar fosil dalam jumlah besar (seperti minyak bumi, batubara dan gas alam) dan terjadi perubahan besar dalam mengelola lahan pertanian.

Hal ini menyebabkan pelepasan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer. Karena penduduk dunia dan ekonomi terus

Bacaan lebih lanjut tentang Gunung Berapi

untuk Pembina dan insruktur serta Peserta Didik:

http://ete.cet.edu/gcc/?/volcanoes_teacherpage

Gambar

Tabel 1    : Kejadian Kekeringan di Indonesia Periode 1815- 2011
Gambar 1: Proses terjadinya efek rumah kaca
Tabel 1: Kejadian Kekeringan di Indonesia Periode 1815- 2011
Tabel 2. Proyeksi luas daratan pantai yang hilang akibat naiknya permukaan air laut di Provinsi NTT 2010-20100
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Fikri (2014) kliping adalah sebuah aktifitas/kegiatan menggunting atau memotong bagian- bagian tertentu dari sebuah buku, koran, majalah atau yang lainnnya dan kemudian

Kondisi iklim ekstrem sebaliknya dari El-Nino, yaitu peristiwa menurunnya suhu permukaan air laut mulai dari bagian tengah hingga timur Samudra Pasifik (sekitar pantai daerah

Mengingat airtanah dapat berkontribusi dalam adaptasi dan terakumulasi di bagian utara wilayah Malang yang mempunyai risiko penurunan ketersediaan air paling tinggi

1) Buku-buku yang dapat digunakan di sekolah atau lembaga pendidikan, namun bukan merupakan buku pegangan utama atau pokok bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Tujuan materi ini adalah untuk mengenalkan peserta pelatihan pada konsep Adaptasi terhadap Perubahan Iklim (API) dan bagaimana pengarus-utamaannya dalam perencanaan

Keseluruhan aktivitas peserta didik diharapkan dapat menuliskan dan menyebutkan kembali bagian-bagian ruangan rumahnya masing-masing, adapun kegiatan pengayaan yang akan dilaksanakan