• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan meng-

2. Pakailah kata-kata berim- berim-buhan meng-kan atau

meng-i di bawah ini untuk menyusun sebuah kalimat, lalu tentukan makna im-buhan tersebut! a. mengatakan b. mengatai c. mengambilkan d. mengambili e. menyamakan f. menyejahterakan g. menandatangani h. meniduri i. memetikkan

Rupanya David membawakansaya bingkisan khusus.

b. Kausatif

1. Menyebabkan seseorang atau sesuatu tindakan seperti yang disebutkan pada kata dasarnya. Contoh:

Pemerintahmendatangkanpaha ayam dari Amerika. 2. Menyebabkan seseorang atau sesuatu menjadi seperti yang

disebutkan pada kata dasarnya. Contoh:

Sebaiknya kamu membetulkankonsep ini sebelum kamu ajukan ke gurumu!

3. Menyebabkan jadi atau menganggap sebagai apa yang disebut kata dasarnya. Contoh:

Sebaiknya kita jangan terlalumendewakanuang.

4. Membawa ke tempat yang disebut pada kata dasarnya. Contoh: Perusahan itu memejahijaukansalah satu karyawannya karena memakai sandal bolong.

6.2.3 Makna Imbuhan

meng-Makna imbuhan meng-idibedakan menjadi imbuhan bermakna kuantitatif, berarti memberi, dan berhubungan dengan tempat.

a. Kuantitatif

Melakukan sesuatu atau tindakan yang berulang-ulang seperti yang disebutkan oleh kata dasarnya. Contoh:

Merekamemukulipencopet itu.

b. Memberi

Melakukan tindakan memberi kepada seseorang atau sesuatu seperti yang disebutkan oleh kata dasarnya. Contoh:

Percuma saja, perbuatanmu itu bagaikan menggarami

laut.

c. Tempat

Melakukan tindakan terhadap orang atau sesuatu yang ber-hubungan dengan tempat seperti yang disebutkan oleh kata dasarnya. Contoh:

Teguh mendatangirumah pacarnya.

d. Kausatif

Contoh:

Mitos Keka aan

Siapa di antara Anda yang tidak ingin menjadi kaya? Kaya di sini tentu saja dalam artian memiliki aset yang lebih dari cukup, baik itu aset likuid maupun nonlikuid. Tapi, sebagian dari Anda boleh jadi akan menjawab bahwa kekayaan bukan hal penting. Yang terpenting adalah bagaimana bisa hidup bahagia.

Untuk tidak terjebak pada makna kekayaan, baik dalam pandangan yang menganggap kekayaan adalah segalanya dan juga sebaliknya, tidak salah jika kita cermati beberapa mitos yang mengemukakan dalam masyarakat berkaitan dengan uang atau pun kekayaan.

Pertama, uang tidak pernah cukup, maka harus dikejar terus. Mitos ini salah kaprah, karena pada galibnya uang selalu cukup sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk mengelola uang sehingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya setiap orang memililiki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan uang.

Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih dulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebu-tuhan primer, sekunder, dan tersier. Memang, tingkat kehidupan yang Anda inginkan harus ditetapkan dahulu.

Setelah itu, Anda tentu akan mencari penghasilan. Di sini yang perlu Anda pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan bagaimana Anda memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng dan mampu memenuhi kebutuhan hidup Anda.

Jadi, bukan bagaimana mencari uang sebanyak-banyak-nya,melainkan mengkondisikan keadaan sehingga Anda memiliki uang yang cukup secara langgeng. Konkretnya, buat apa Anda memiliki uang dalam jumlah besar, kalau beberapa saat kemudian uang tersebut habis. Jauh lebih baik jika Anda memiliki uang cukup, namun terus berkelanjutan.

Kedua, jika memiliki uang, orang dapat memenuhi semua keinginannya. Ini juga keliru. Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Hal-hal yang menyangkut “rasa” di hati, kerap tidak terkait dengan uang. Kalau pun ada yang mencoba mem-beli, sifatnya artifisial dan hanya sementara. Jadi, kalau pada dasarnya memang tidak bahagia, maka kendati memiliki uang berkarung-karung tetap saja tidak bahagia.

Oleh karena itu, jangan pernah berpikir uang merupakan satu-satunya cara mencapai tujuan hidup Anda. Atau di sisi lain, jika Anda masih merasa belum mampu mendapatkan dalam jumlah memadai, bukan berarti kiamat. Berapa pun uang Anda, sebenarnya, tetap cukup, sepanjang Anda mau melakukan penyesuaian.

Ketiga, uang perlu dicari agar bisa pensiun segera dan tidak perlu bekerja lagi. Ini juga tidak terlalu tepat. Bekerja dan mencari uang adalah dua hal berbeda. Artinya, jika mencintai pekerjaan WACANA A

1. Bentuklah kelompok! Setiap kelompok 3—4 siswa.

2. Datalah kata-kata yang berim-buhan meng-kan dan meng-i dariWACANA A dan tentukan pula maknanya! Tuliskan dalam bentuk tabel seperti TABEL B

sesudah wacana!

3. Buatlah paragraf yang mengan-dung 5 kata berim-buhan meng-kan!

4. Buatlah paragraf yang mengan-dung 5 kata berimbuhan meng-i!

Gbr. 6.3

Banyaknya uang yang dimiliki, dapat mengukur kekayaan

seseorang

dan mendapatkan makna hidup di situ, mengapa mesti pensiun? Dengan kata lain, bekerja tidak selalu identik demi uang. Akan tetapi, jika peker-jaan Anda hanya memberi beban hidup, kendati menghasilkan banyak uang, untuk apa Anda lanjut-kan? Pekerjaan dan uang itu mungkin sudah tidak bisa dinikmati lagi.

Di sisi lain, jika Anda merasa klop dengan pekerjaan, kendati uang yang dihasilkan tidak terlalu banyak, namun bisa memberi kelang-gengan, sebaiknya Anda berpikir dua kali soal uang. Hal yang penting, penghasilan Anda mema-dai, dalam arti dapat memenuhi kebutuhan Anda dalam jangka panjang, bahkan sampai pensiun.

Keempat, untuk menjadi kaya harus berpen-didikan tinggi. Mitos ini ada benarnya, tetapi tidak seratus persen. Realitasnya, kita melihat banyak orang tidak berpendidikan tinggi, tetapi memiliki aset sangat besar. Sebaliknya, tidak sedikit ka-langan memiliki latar pendidikan tinggi, tetapi hidup serba kekurangan. Yang benar adalah bagai-mana memanfaatkan pendidikan tinggi yang dimiliki untuk bekerja atau memilih pekerjaan sesuai dengan minat dan memberikan penghasilan memadai.

Kelima, jika berhasil memiliki uang lebih banyak, akan lebih besar kesempatan menabung. Ini benar-benar pelecehan, sebab menabung bisa

dilakukan pada jumlah berapa pun. Menabung tidak bergantung pada besarnya pendapatan, tetapi lebih pada kemauan. Lebih dari itu, kebia-saan banyak orang, semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula pengeluaran.

Selain kelima hal tersebut, masih banyak mi-tos lain berkaitan dengan uang dan kekayaan yang berkembang di masyarakat. Namun, lepas apakah ada yang percaya dan terpengaruh atau tidak, intinya sebagian mitos tersebut tidak berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya Anda mengubah para-digma dan menjadikan mitos sebagai referensi mencari kekayaan.

Hal yang utama, tentukan kembali tujuan hidup Anda. Kalau Anda tidak punya tujuan hidup, buat apa hidup? Tentu saja tujuan hidup setiap orang berbeda dan setiap orang berhak menen-tukan tujuan hidup masing-masing.

Untuk mencapai tujuan hidup tersebut, siapa pun selayaknya memiliki perencanaan. Lazimnya, salah satu bagian dari tujuan hidup adalah me-miliki tujuan keuangan, sekaligus membuat pe-rencanaan. Dalam kaitan perencanaan keuangan inilah Anda mesti mampu menghindarkan diri dari mitos-mitos keuangan. Elvyn G Masassya, “Praktisi Keuangan”

Sumber:Kompas, 6 Februari 2005 ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

No Kata berimbuhan

meng-kan dan meng-i Kalimat Makna imbuhan

1. 2. 3. 4. 5. TABEL B

6.3 Membaca Puisi

Kegiatan membaca puisi (poetry reading) mulai populer sejak hadirnya kembali WS. Rendra dari kelananya di Amerika Serikat. Agar Anda dapat membaca puisi dengan baik perlu memperhatikan hal-hal berikut:

† † † †

† Interpretasi (penafsiran)

Untuk memahami sebuah puisi kita harus dapat menangkap simbol-simbol atau lambang-lambang yang dipergunakan oleh penyair. Bila kita salah dalam menafsirkan makna simbol/lambang, kita dapat salah dalam memahami isinya.

† † † †

† Teknik vokal

Untuk pengucapan yang komunikatif diperlukan penguasaan intonasi, diksi, jeda, enjambemen,dan lafal yang tepat.

† † † †

† Performance (penampilan)

Dalam hal ini pembaca puisi dituntut untuk dapat memahami pentas dan publik.

Pembaca puisi juga dapat menunjukkan sikap dan penampilan yang meyakinkan. Berani menatap penonton dan mengatur ekspresi yang tidak berlebihan. Selain itu, pembaca puisi harus memperhatikan pula irama serta mimik. Mimik merupakan petunjuk apakah seseorang sudah benar-benar dapat menjiwai atau meresapkan isi puisi itu. Harmonisasi antara mimik dengan isi (maksud) puisi merupakan pun-cak keberhasilan dalam membaca puisi.

Ingatlah tidak setiap puisi dapat dibaca (dilisankan) tanpa menempatkan tanda tafsir pengucapannya terlebih dahulu. Adaka-lanya Anda menemui deretan baris atau bait yang satu dengan yang lain mempunyai jalinan pengucapan atau ada pula yang secara tertulis terpisah, sehingga perlu jeda. Bila Anda kurang tepat dalam memberi jeda, akan dapat mengaburkan maknanya.

Seorang penyair mempunyai beberapa kiat agar puisinya dapat dicerna atau dinikmati pembaca. Penyair kerap menampilkan gambar angan atau citraan dalam puisinya. Melalui citraan penikmat sajak memperoleh gambaran yang jelas, suasana khusus atau gambaran yang menghidupkan alam pikiran dan perasaan penyairnya.

Perhatikan kutipan sajak Amir Hamzah berikut ini: Nanar aku gila sasar

Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menarik ingin Serupa dara di balik tirai

Dalam puisi di atas citraan penglihatan yang terasa ada dalam angan-angan pembaca. Pembaca seolah melihat sosok wanita rupa-wan yang mengintai dari balik tirai.

Di samping citraan/imajinasi visual (yang menimbulkan pembaca seolah-olah dapat melihat sesuatu setelah membaca kata-kata tertentu), terdapat pula imajinasi lain, seperti imajinasi auditory

(pendengaran), imajinasi articulatory (seolah mendengar kata-kata tertentu), imajinasi alfaktory (seolah membau/mencium sesuatu), imajinasi organik (seolah Anda seperti merasa lesu, capek, ngantuk, lapar, dan sebagainya).

Setelah Anda dapat menafsirkan lambang-lambang dalam puisi, untuk mewujudkan keutuhan makna, Anda dapat lakukan langkah parafrasa puisi, memberi tanda jeda, serta tekanan atau intonasinya. Puisi. Puisi, menurut KBBI adalah 1

ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusun-an larik dan bait; 2 gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilh dan ditata secara cermat sehingga mem-pertajam kesadaran orang akan pe-ngalaman dan membangkitkan tang-gapan khusus lewat penataan bunyi; 3 sajak.

1. Bentuklah kelompok 4—5