BAB II PERJALANAN SINGKAT PANCASILA
C. Pancasila Di Era Orde Baru
Perlu diketahui, bahwa pada akhir Orde Lama atau awal Orde Baru, kehidupan politik masyarakat dan bangsa begitu tidak
243 Sunarno, “Pemberhentian Presiden Republik Indonesia Dari Masa Ke Masa”, WACANA HUKUM, Vol..IX, (2 Oktober,.2011), hlm. 80.
244 Rhien Soemohadiwidjojo, Bung Karno Sang Singa Podium (edisi revisi), https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=WNg5DwAAQBAJ&oi=fnd&pg=
PR7&dq=pidato+bung+karno+&ots=BthcjhiTl1&sig=vDL_vNO-0s2KY2kAd0iZvJ2bsks&redir_esc=y#v=onepage&q=pidato%20bung%20karno&f
=false, (Kamis, 18 Maret 2020, 20:03).
245 Widayati, “Perbandingan Materi Muatan Ketetapan MPR Pada Masa Pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi”, Jurnal Pembaharuan Hukum, Vol. III, No. 1, (Januari – April, 2016), hlm. 132.
stabil.246 Pemerintah Orde Baru, di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto, lahir dalam suasana krisis ekonomi, kekalutan politik, dan huru-hara sosial yang terjadi sekitar pertengahan tahun 1960-an.247 Pada masa awal orde baru, yaitu tahun 1966 terjadi krisis keamanan nasional diakibatkan oleh aksi pemberontakan gerakan yang menamakan diri G30 S/PKI. Tujuan gerakan tersebut adalah untuk merebut kekuasaan politik dan pemerintahan. Akibat dari adanya gerakan tersebut kondisi rakyat Indonesia sangat gelisah.
Untuk menentramkan hati rakyat, Panglima Komando Strategi AD Soeharto menyampaikan pidato melalui RRI yang intinya adalah situasi ibu kota negara telah dikuasai kembali dan telah dipersiapkan langkah-langkah untuk menumpas gerakan 30 September tersebut.248 Mayor Jenderal Soeharto, yang ketika itu menjabat sebagai komandan pasukan strategis di Jakarta, lantas dengan cepat mengerahkan kekuatan-kekuatan anti komunis di Ibu Kota dan diseluruh Tanah Air.249 Tidak segan-segan, berbagai langkah represif pun ditempuh dan diambil Soeharto untuk menumpas G30 S/PKI. Sejak ditumpasnya peristiwa G30 S/PKI pada tanggal 30 September 1965, bangsa Indonesia telah memasuki fase baru yang dinamakan Orde Baru.250 Sejak 1966, Indonesia berada di bawah kekuasaan pemerintahan Orde Baru, sebuah
246 Mustofa Hasyim, Jejak Luka Politik dan Budaya , (Yogyakarta: Lipsas Prospek, 2000), hlm. 58.
247 Andi Suwirta, “Pers dan Kritik Sosial pada Masa Orde Baru: Studi Kasus Pers Mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung, 1966-1974”, MIMBAR PENDIDIKAN: Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan, Vol. 3, No. 2, (September, 2018), hlm.114.
248 Al –Donna Zhara Khairani, “Jargon-Jargon Politik Masa Orde Baru Dalam Menciptakan Stabilitas Nasional”, VATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 3, No. 3, (Oktober, 2015), hlm. 268.
249 Abdul Firman Ashaf, “Perlawan Pers Islam pada Masa Orde Baru”, Mediator, Vol. 7 No. 1 (2006), hlm. 3.
250Mudzakkir, “Pendidikan Islam Pada Masa Orde Lama dan Orde Baru” , Jurnal Alfatih, (Januari-Juni 2015), hlm. 60.
72 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
pemerintahan militer yang dipimpin Presiden Soeharto.251 Sesungguhnya era Orde Baru sudah dimulai sejak keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada Tahun 1966, yang menjadi dasar terjadi peralihan kekuasaan dari penguasa pemerintahan Orde Lama (Soekarno) kepada penguasa pemerintahan baru (Soeharto).252 Dengan berdasarkan surat perintah itu, Letjen Soeharto membubarkan Partai Komunis Indonesia pada Maret 1966.253 Kemudian pada tanggal 27 Maret 1968, Jenderal Soeharto sebagai pengemban Ketetapan MPRS No.
IX/MPRS/1966, dilantik secara resmi menjadi Presiden Republik Indonesia, menggantikan Soekarno.254 Pada awal berdirinya, rezim Orde Baru mendeklarasikan diri sebagai kritik atas rezim Orde Lama. Kritikan yang paling utama, bahwa Orde Lama telah gagal membangun dukungan politik masyarakat, yang ditandai dengan terjadinya pemberontakan di berbagai wilayah.255
Sejak berkuasa, Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto berusaha menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Usaha-usaha tersebut didasarkan pada tekad untuk melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. Menurut Soeharto, berdirinya Orde Baru tidak ada alasan lain kecuali untuk membangun kembali struktur kehidupan rakyat, bangsa, dan negara. Semuanya harus kembali berlandaskan penerapan semurni-murninya Pancasila dan UUD 1945.256 Dalam konteks ini, Orde
251 Abdul Firman Ashaf. Perlawanan Pers Islam pada Masa Orde Baru, Mediator,Vol. 7 No.1 (Juni, 2006), hm.3.
252 EMK. Alidar , Hukum Islam Di Indonesia Pada Masa Orde Baru (996-1997), LEGITIMASI, Vol.1 No. 2, Januari-Juni 2012), hlm.88.
253 Radius Prawiro, Kriprah, Peran...” hlm. 33.
254Ibid, hlm.33.
255 Agus Dwiyanto, Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik, (Yogyakarta: Gadjah Mada University, 2005), hlm. 44.
256 Dwi Wahyono Hadi dan Gayung Kusuma, Propaganda Orde Baru 1966-1980, Verleden, Vol.1 No. 1 (Desember, 2012), hlm. 42
Baru ingin melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam setiap gerak pembangunan yang dilaksanakan.257 Meski pada 1966, UUD 1945 secara resmi telah berlaku selama 11 tahun, langkah pertama untuk melaksanakannya masih harus dilakukan. Bahwa slogan yang kita sebutkan di atas sebenarnya merupakan reaksi terhadap pengalaman-pengalaman pada masa lalu, di mana UUD 1945 sering kali tidak ditaati atau malah diselewengkan.258 Oleh karena itulah tahun 1966 dari sudut hukum tata negara merupakan era baru dalam kehidupan ketatanegaraan Republik Indonesia di bawah UUD 1945.259 Adapun langkah-langkah kontekstual Orde Baru untuk menegakan dan mengembalikan kewibawaan Pancasila dan UUD 1945 dilakukan melalui Sidang Umum (SU) MPRS beberapa kali pada tahun 1966 yang menghasilkan keputusan sebagai berikut.
1. Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 yang mengukuhkan Supersemar.
2. Ketetapan MPRS No. XXI/MPRS/1966 tentang Pembaharuan Politik Luar Negeri.
3. Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaharuan Landasan Di Bidang Ekonomi dan Pembangunan.
4. Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya.
5. Pada Tahun 1967 dalam Sidang Istimewa MPRS dihasilkan antara lain: Ketetapan MPRS No. XXXIII yang isinya menarik mandat MPRS dari Presiden
257 Imron Rosyadi, “Gagasan dan Praktek Politik Islam Era 1960-1990-An Dalam Perspektif Orde Baru”, SUHUF, Vol. 20, No. 2, (November, 2008) , hlm.
125-126.
258 Sri Soemantri, “Tentang Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945”, (Bandung:Citra Aditya Bakti, 1989), hlm. 7.
259 Bagir Manan dan Kuntana Magnar, “Beberapa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia, (Bandung: Alumni, 1997), hlm. 8.
74 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
Soekarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden (Memberhentikan Presiden Soekarno dan menggantikannya dengan Pejabat Presiden Soeharto).260
Terkait Pancasila, Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No. 12/1968 tentang Tata Urutan dan Rumusan Pancasila sesuai dengan Pembukaan UUD 1945.261 Adapun latar belakang lahirnya Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968, yaitu.
Dalam pada itu, sejauh menyangkut materi dekrit ada polemik tentang status Pembukaan UUD 1945 dan Piagam Jakarta. Sebagian orang berpendapat bahwa Dekrit tersebut, maka Piagam Jakarta berlaku kembali; alasannya karena di dalam Konsideran Dekrit itu disebutkan, bahwa Piagam Jakarta merupakan rangkaian dari dan menjiwai UUD 1945. Muatan Konsideran itu dijadikan dasar untuk mengatakan, bahwa Piagam Jakartalah yang berlaku karena Konsideranlah yang menyebabkan adanya diktum dari suatu keputusan (seperti Dekrit) itu. Oleh karena itu, golongan yang berpendirian seperti itu berpendapat, bahwa rumusan Pancasila yang sah berlaku adalah rumusan yang ada di dalam Piagam Jakarta yang sila pertamanya berbunyi: ―Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‘at Islam bagi pemeluk-pemeluknya‖.
Tetapi pendapat ini ditolak oleh golongan lain yang lebih berpedoman pada prosedur dan diktum.262
Dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968 pada masa Orde Baru, maka polemik ketatanegaraan menyangkut polemik pemberlakuan kembali UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dapat dituntaskan dengan baik. Secara
260 C.S.T Kansil dan Kansil Christiane, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hlm. 70.
261 Ketut Rindjin, Pendidikan Pancasila..., hlm. 59.
262 Mahmud MD, Dasar dan..., hlm. 59.
tegas ketentuan tersebut mengatur tata urutan penyebutan Pancasila secara benar sebagaimana rumusan ideologis yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Penegasan tersebut merupakan salah satu komitmen awal Orde Baru untuk membumikan Pancasila secara murni dan konsekuen. Aktualisasi Pancasila adalah prioritas utama yang harus dilakukan Orde Baru untuk memulai perbaikan kehidupan kenegaraan. Revolusi PKI hanyalah sebagai momentum pengantar untuk mengarahkan dan mengantarkan Indonesia pada upaya pencapaian cita-cita ideologisnya. Guna mendukung terealisasinya usaha itu, penumpasan PKI dan pengikutnya di Indonesia menjadi langkah stategis Orde Baru dalam mengupayakan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan Pancasila.
Revolusi PKI tahun 1965 bisa dikatakan merupakan titik awal perubahan dalam banyak bidang kehidupan di Indonesia baik kehidupan politik maupun kehidupan agama. Dalam kehidupan politik, penguasa Orde Baru berusaha melenyapkan ideologi Komunis di Indonesia.263 Pada awal mulanya strategi ideologis yang berusaha diterapkan maupun dilancarkan Pemerintah untuk membendung pengaruh paham komunis adalah dengan mengajukan ide penerapan Pancasila sebagai ideologi tunggal negara.
Penerapan Pancasila sebagai ideologi tunggal bangsa, tak pelak menjadi salah satu cara membangun citra pemerintahan yang anti dan bersih dari komunisme.264
Sejak awal Orde Baru memang menginginkan Pancasila sebagai ideologi tunggal yang mesti diterima oleh semua golongan. Demi tujuan tersebut, pemerintah kemudian menggunakan berbagai langkah politik sebagai tahapan perwujudannya. Pada 1966 Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menyelenggarakan seminar di Bandung tentang ideologi nasional. Seminar itu merekomendasikan
263 Amos Sukamto, “Ketegangan Antar...”, hlm. 32.
264 Dwi Wahyono Hadi Gayung Kasuma, “Propaganda Orde Baru 1966-1998”, Varleden, Vol. 1 No. 1, (Desember, 2012), hlm. 42.
76 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
Pancasila sebagai asas ideologi setiap partai, organisasi sosial-keagamaan, serta administrasi pemerintahan. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan usaha memberlakukan asas tunggal pada 1975 meskipun menemui kegagalan karena muncul respons negatif. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat pemerintah putus asa. Pemerintah secara bertahap kemudian mendekati berbagai organisasi sosial dan politik untuk menjelaskan kebijakan itu secara argumentatif dan memberikan beberapa konsesi yang dianggap perlu.265
Perjuangan keras Pemerintah untuk menerapkan Pancasila sebagai ideologi tunggal bagi Indonesia tidak lain bertujuan untuk menghadapi dan menanggulangi berbagai ancaman ideologis yang bersifat desktruktif bagi keutuhan bangsa. Dalam perspektif historis-realitasnya Orde Baru tidak hanya memandang paham komunis sebagai satu-satunya ideologi yang dapat mengancam dan membahayakan negara Pancasila. Sebab kelompok-kelompok tertentu yang gerakannya mengusung ideologi kanan (keagamaan) untuk dijadikan platform kehidupan berbangsa dan bernegara adalah ancaman fluktuatif bagi Orde Baru. Diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi segala tantangan potensial tersebut. Tanggal 16 Agustus 1982 di hadapan DPR, Soeharto menyampaikan pidato kenegaraan, dikemukakan gagasan supaya organisasi kekuatan sosial politik berasas tunggalkan Pancasila.266 Penetapan Pancasila sebagai ideologi tunggal bagi Orde Baru adalah kebijakan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tetapi
265 Moch Abu Khoir, Peran KH As’Ad Syamsul Dalam Penerapan Asas Tunggal Pancasila Di Nahdlotul Ulama, Fakultas Adab Dan Humaniora, (Skripsi tidak diterbitkan, 2018), hlm 41-42.
266Vivi Yunita Aisyah, “Peran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Dalam Penerimaan Asas Tunggal Pancasila Berdasar Sumber Lisan Para Kader”, AVATARA,e-Journal Pendidikan Sejarah, Vol. 2, No. 1, (Maret, 2014), hlm. 18
kebijakan Orde Baru untuk mengamankan dan memperkuat kedudukan Pancasila dianggap sebagai pembatasan pergerakan umat Islam. Secara umum reaksi kalangan Islam mengenai pemberlakuan asas tunggal Pancasila ada tiga macam yaitu: 1) Menerima secara total tanpa kritik; 2) Menerima karena terpaksa sambil menanti keluarnya UU keormasan; dan 3) Menolak sama sekali. Golongan yang pertama adalah PPP, NU, Perti, dan disusul organisasi Islam yang lebih kecil, seperti dewan masjid Indonesia.
Golongan yang kedua antara lain Muhamadiyah dan HMI.
Sedangkan yang ketiga adalah Pelajar Islam Indonesia (PII) serta tokoh Islam antara lain Deliar Noer, Syafruddin Prawiranegara, Yusuf Abdullah Puar, serta para muballigh yang secara terbuka melalui acara pengajian menyatakan ketidak setujuannya terhadap asas tunggal.267
Dengan demikian, wacana penerapan Pancasila sebagai asal tunggal bagi segala organisasi bukannya tanpa hambatan.
Perlawanan terutama datang dari kelompok Islam yang tidak menyetujui kebijakan tersebut. Demonstrasi pun bergulir di Jakarta, untuk menolak penerapan Pancasila sebagai asas tunggal yang dimunculkan Presiden kedua RI Soeharto. Bagi kelompok ini, menerima Pancasila sebagai dasar ideologi sama saja dengan murtad dan kekafiran karena hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.268 Bagi kalangan Islam, gagasan asas tunggal menimbulkan masalah, bukan karena mereka menolak Pancasila dan UUD 1945, akan tetapi kekhawatiran, bahwa dengan menghapus ciri ―Islam‖, Pancasila akan menjadi ―agama baru‖, mereka khawatir ―semangat Islam‖ yang menjadi ―roh‖ semangat
267 Mokhamad Abdul Aziz, “Sikap Organisasi Kemasyarakatan Islam Terhadap UU No. 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan Dan Perpu No. 2 Tahun 2017 (Perspektif Studi Kebijakan Dakwah)”, JURNAL ILMU DAKWAH, Vol. 37, No.1,,(Januari –Juni, 2017), hlm. 119.
268 Andar Nubowo, “Islam dan Pancasila di Era Reformasi: Sebuah Reorientasi Aksi”, Jurnal Keamanan Nasional, Vol. I No. 1, (2015, hlm. 65.
78 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
organisasi menjadi mati.269 Berarti penetapan Pancasila sebagai ideologi tunggal negara berimplikasi besar terhadap gerak langkah perjalanan Islam. Salah satu momentum politik menentukan yang memengaruhi perjalanan gerakan Islam adalah penetapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi semua organisasi, yang dikenal dengan kebijakan asas tunggal, pada 1980-an. Dengan lahirnya kebijakan itu, para aktivis dan umat Islam umumnya menyadari bahwa tidak mungkin lagi menjalankan aktivisme gerakan seperti sebelumnya. Bahkan menurut Taufik Abdullah, politik asas tunggal dapat dilihat sebagai ―halaman terakhir‖ bagi perjalanan Islam politik.270 Mengingat penerapan kebijakan asas tunggal ideologi negara tidak memberikan ruang dan kesempatan di luar Pancasila, termasuk Islam sebagai platform organisasi, baik yang bersifat sosial maupun politik. Kebijakan Pancasila sebagai asas tunggal bernegara mengandung makna, bahwa setiap ormas dan partai politik harus menjadikan Pancasila sebagai dasar organisasi atau partai politik. UU No. 8 tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, yang mewajibkan setiap Organisasi Kemasyarakatan untuk menggunakan satu azas, yaitu azas Pancasila pada akhirnya memecah beberapa Ormas, karena pada dasarnya mereka sudah memiliki azas organisasi misalnya azas agama (azas islam, Kristen dll), azas nasionalis dan sebagainya.271 Dengan berpedoman pada penjelasan di atas, dapat dikatakan, bahwa semua organisasi tidak dimungkinkan lagi berasaskan dan berideologikan selain Pancasila, termasuk juga yang secara
269 Citra Nur Noviansi dkk, “Jaringan Islam Liberal: Gerakan Liberalis Islam Serta Pergerakan Dan Perkembangannya Di Indonesia (2001-2010)”, Jurnal Sejarah Lontar, Vol. 10, No, 1 (Januari-Juni, 2013), hlm. 19.
270 Zuhri Humaidi, Islam dan Pancasila: Pergulatan Islam dan Negara Periode Kebijakan Asas Tunggal”, Kontekstualita, Vol. 25, No. 2, (2010), hlm.
293.
271 Marzuki Alie, Mewujudkan Cita-Cita Negara Pancasila, Parlementaria, Edisi 82, TH XLII, (2011), hlm. 3.
terangan menyuarakan aspirasi lamanya memasukkan kembali tujuh kata Piagam Jakarta ke dalam UUD 1945.272
Sebagai tindak lanjut atas rencana kebijakan pemanunggalan Pancasila sebagai ideologi negara, maka diseminasi dalam kehidupan berbangsa haruslah segera dilakukan.
Pemerintah mulai gencar mengkampanyekan Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan bernegara sejak awal tahun 1980-an.
Untuk melancarkan niatnya tersebut, Orde Baru menggunakan jalur politik hukum dengan menetapkan RUU Asas Tunggal Pancasila.
Sebagaimana disinggung di atas, bahwa dengan penetapan asas tunggal tersebut, artinya semua organisasi yang ada di Republik Indonesia wajib mendasarkan diri pada asas Pancasila dan dilarang menggunakan asas yang lain. Berarti siapapun yang tidak menggunakan asas Pancasila dianggap tidak sejalan dengan kebijakan politik pemerintah di masa itu dan akan dianggap anti Pancasila.273 Dengan kata lain, siapapun yang berani secara terang-terangan menentang kebijakan pemerintah, merupakan bentuk lain dari pengkhianatan terhadap Pancasila. Tak pelak Soeharto tidak hanya meletakkan Pancasila sebagai ideologi nasional, tetapi sekaligus sebagai alat legitimasi kekuasaan. Akibatnya, siapa yang dianggap sebagai ―musuh‖ rezim selalu diidentifikasikan sebagai
―musuh Pancasila‖, menolak apa yang menjadi kebijakan Orde Baru atau Soeharto tentang tatanan ideologis dalam kehidupan bernegara adalah menolak Pancasila. Di zaman Orde Baru, terminologi "Anti Pancasila' seringkali diidentikkan dengan ideologi "kekiri-kirian". Sehingga siapapun yang tidak sejalan
272 Fajar Syarif: Ijtihad Politik NU: Negara Pancasila Adalah Negara Islam, Alfua d, Vol. 3, No. 2 , (December, 2019), hlm. 56-57.
273 Devita Retno, Penyebab Peristiwa Tanjung Periok 12 September 1984, https://sejarahlengkap.com/indonesia/penyebab-peristiwa-tanjung-priok, (25 Desember 2019, 08:00).
80 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
dengan kekuasaan sering diberi "cap" sebagai PKI.274 Dengan begitu, Pancasila dijadikan 'alat' untuk menjatuhkan siapapun yang tidak sejalan dengan kekuasaan dengan label "Anti Pancasila".275 Pada masa itu, oleh berbagai kalangan, bahkan penguasa, Pancasila seringkali dijadikan sebagai alat pukul politik (political hammer) terhadap perbedaan pendapat atau pandangan.276
Menariknya lagi, bahwa pada saat itu pemerintah sedang berusaha untuk memonopoli tafsir atas Pancasila, sehingga ketika sekelompok sarjana berbicara mengenai Pancasila dalam framing berupa kritik terhadap pemerintah, tentu saja itu dianggap sebagai
―ancaman‖ yang serius.277 Dengan begitu Pemerintah sejatinya memanipulasi Pancasila sebagai senjata ampuh untuk membungkam kebebasan akademik. Pancasila digunakan sebagai stampel untuk mengesahkan dan melegalisir segala tindakan represif penguasa. Penafsiran Pancasila hanya datang dari penguasa untuk menutupi semua keburukannya dalam menyalahgunakan kewenangannya. Tanpa kecualian, seorangpun tidak berhak menafsirkan Pancasila. Pada masa Orde Baru, interpreter tunggal Pancasila adalah Soeharto sendiri.278 Dalam konteks itu, Orde Baru dalam meneguhkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar
274 Tongat, Pancasila Sebagai Dasar Falsafah Negara Dan Makna Filosofisnya Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Nasional, MMH, Ji/id 41, No. 3, (Juli, 2012), hlm. 399.
275 Mu’id Aris Shofa, “Memaknai Kembali Multikulturalisme Indonesia Dalam Bingkai Pancasila”, PK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 1, No. 1, (Juli, 2016), hlm. 36.
276 Marzuki Alie, Cita-Cita Negara Pancasila, Di sampaikan Pada Diskusi Harian Pelita di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta, (10 Maret, 2011), hlm.2
277 Tarli Nugroho , “Ekonomi Pancasila Refleksi Setelah Tiga Dekade”, Bahan urun-rembug dalam diskusi “Membangun Paradigma Ilmu Pancasila”, Jumat, 1 April2011, di Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM. Diskusi ini merupakan pertemuan kedua dari prosesinisiasi membangun “komunitas epistemik” di Kampus Bulaksumur. hlm. 6.
278 Mahnan Marbawi, Pancasila: Studi Penguatan Pancasila Pasca Orde Baru Melalui Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Tanggareng:Cinta Buku Media, 2019), hlm. 36.
falsafah dan konstitusi negara dilakukan secara top down, dominatif dan represif, dan dalam satu tafsir.279 Penafsiran tunggal terhadap Pancasila merupakan cara lain Orde Baru untuk mensakralkan ideologi negara tersebut. Pancasila yang selama masa Orde Baru, sangat ―disakralkan‖ dan dijadikan legitimasi ideologis untuk mengendalikan seluruh segi kehidupan.280 Pancasila sebagai ideologi bangsa mengarah pada penafsiran tunggal dan statis dengan tujuan untuk meligitimasi kekuasaan.281 Faktanya Presiden Soeharto hanya menjadikan Pancasila sebagai sandaran legitimasi dan tempat berlindung untuk terus mempertahankan kekuasaannya dengan menciptakan stabilitas politik dan keamanan nasional.
Sejarah mencatat, bahwa rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto mampu berkuasa selama 32 tahun di Republik Indonesia. Meskipun pada awal mulanya, sangat tidak mudah bagi Orde Baru untuk memberi pijakan legitimasi atas kekuasaannya tersebut. Mengingat pasca pecahnya tragedi G 30 S/PKI stabilitas nasional masih terganggu dan terguncang.
Diperlukan strategi integratif futuristik untuk mewujudkan pemerintahan yang stabil dan kondusif demi memperlancar jalannya pembangunan nasional disegala bidang. Melalui proses yang cukup panjang, pemerintah Orde Baru berusaha menciptakan stabilitas politik dan keamanan nasional pasca peristiwa 1965.
Seperti halnya yang ditegaskan oleh Ali Moertopo, bahwa stabilitas politik dan keamanan nasional merupakan syarat utama bagi kelangsungan pembangunan.282 Dipandang dari sudut orientasinya,
279 Amsar A Dulmanan, Asas Tunggal Pancasila Dan Upaya Memaknai Kembali “Stabilisasi “ Politik Indonesia, Konfrontasi: Jurnal Kultur, Ekonomi, Dan Perubahan Sosial, Vol. 4, No. 2 (Juli, 2015), hlm. 3.
280Winarno, “Menungkap Kembali Tafsir Pancasila: Di Balik Pencabutan Ketetapan MPR MPR Tentang P4”, , Forum Ilmu Sosial,Vol. 39, No. 2, (Desember, 2012), hlm. 185.
281 Marzuki Alie, “Cita-Cita Negara..”, hlm. 2.
282 Dwi Wahyono Hadi Gayung Kasuma, “Propaganda Orde...”, hlm. 40.
82 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
Pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto yang mulai berkuasa sejak 1966, berbeda dengan Orde Lama di bawah Soekarno. Dalam hal ini, Orde Baru lebih tertarik dengan pembangunan ekonomi.
Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer.283 Adapun alasan argumentatif Orde baru lebih memilih membangun ekonomi ketimbang politik, karena ekonomi yang kuat dan mapan, akan menjauhkan Indonesia dari kemiskinan dan keterbelakangan.
Sedangkan implikasi lebih jauh dari kemapanan ekonomi adalah dapat mengeliminir bahaya komunisme yang kerap kali tumbuh subur di negara-negara terbelakang/miskin. Sayangnya pembangunan ekonomi Orde Baru dibarengi dengan penciptaan stabilitas politik dan keamanan melalui pendekatan militeristik.
Sehingga tidaklah mengherankan bila perjalanan Orde Baru meninggalkan sejumlah sejarah hitam yang bagi sebagian masyarakat Indonesia, merupakan penindasan yang sangat sistematis.284 Berarti perhatian Orde Baru ini memiliki implikasi yang jelas bagi politik bangsa Indonesia karena fokusnya pada pembangunan, karena itu membutuhkan suasana politik yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.285 Dalam perkembangannya, stabilitas pembangunan ekonomi lantas diidentikkan dengan stabilitas nasional. Perlahan-lahan konsep stabilitas nasional diperluas menjadi logika anti-kritik dan anti konsep. Sebagai logika anti-kritik, stabilitas nasional dikaitkan dengan masalah-masalah security dan banyak berfungsi untuk membantu penyelenggaraan
283 Heni Yuningsih, “Kebijakan Pendidikan Islam Masa Masa Orde Baru”, Jurnal Tarbiya, Vol. 1, No. 1, (2015), hlm. 176.
284 Sri Hastuti P, “Pengalaman Indonesia Menuju Demokrasi Beberapa Catalan Atas Pemilihan Umum Pada Masa Orde Lama, Orde Baru Dan Pasca Orde Baru”, Jurnal Hukum, Vol. 12, No. 28 (Januari, 2005), hlm. 52.
285 Okrisal Eka Putra, “Hubungan Islam dan Politik Masa Orde Baru”, Jurnal Dakwah, Vol. 9, No. 2 (Juli-Desember, 2008), hlm. 197.
mekanisme kekuasaan negara. Sebagai logika anti konsep, stabilitas nasional dikaitkan dengan masalah legitimasi dan banyak berfungsi untuk mendukung seni mengelola otoritas kekuasaan negara.286
mekanisme kekuasaan negara. Sebagai logika anti konsep, stabilitas nasional dikaitkan dengan masalah legitimasi dan banyak berfungsi untuk mendukung seni mengelola otoritas kekuasaan negara.286