BAB II PERJALANAN SINGKAT PANCASILA
E. Pencabutan Ketetapan MPR No. II Tahun 1978
Pada masa Orde Baru terdapat usaha pembakuan makna sila-sila Pancasila melalui keputusan politik dengan lahirnya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau sering
362 Sekretariat Jendral MPR RI, Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta:
Sekjen MPR RI, 2011), hlm. 19-20.
116 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
disebut P-4.363 Pancasila sempat booming dan begitu populer sebelum gerakan reformasi bergulir, karena ditopang kebijakan ideologis Orde Baru. Setiap kebijakan atau tindakan Pemerintahan Orde Baru, baik yang berkarakter populis maupun konservatif selalu menggunakan Pancasila sebagai labelnya. Pancasila seakan-akan mendapat fungsi dan kedudukan yang layak dalam Pemerintahan Orde Baru. Fungsi dan kedudukan Pancasila tersebut mulai terancam di era reformasi yang ditandai dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan adanya krisis ekonomi yang mengakibatkan keterpurukan dihampir semua bidang kehidupan. Kepercayaan terhadap Pancasila mulai pudar dengan anggapan, bahwa Pancasila merupakan produk Orde Baru yang disakralkan pada jamannya.
Sehingga banyak kalangan yang menuntut adanya perubahan dengan menganggap Pancasila tidak lagi sebagai ideologi yang cocok bagi Indonesia.364 Apalagi kalau melihat realitas politik selama masa Pemerintahan Orde Baru kecenderungan rezim penguasa menjadikan Pancasila sebagai alat melegitimasikan kekuasaannya semakin nyata. Atas nama Pancasila, rezim ini melakukan kebijakan-kebijakan politik yang sarat dengan tindakan otoriter.365 Puncak dari semua tuntutan itu terjadi ketika Pancasila sebagai filsafat negara digugat eksistensinya. Pancasila, menurut kalangan yang menggugatnya itu, dianggap tidak relevan lagi dengan kondisi zaman dan bahkan dipandang sebagai akar dari krisis multidimensi yang kita alami, termasuk persoalan-persoalan
363 Sudaryanto, “Kekeluargaan Sebagai Kunci Pemahaman Pancasila”, Jurnal Filsafat, Vol.17, No. 2, (Agustus, 2007), hlm. 152.
364 Erna Septomowati, Persepsi Dan Aspirasi Terhadap Pendidikan Pancasila Di Perguruan Tinggi (Studi pada Dosen dan Mahasiswadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta), Skripsi Universitas Sebelas Maret, hlm. 2.
365 J. Tjiptabudy, “Kebijakan Pemerintah...”, hlm. 5.
di atas.366 Pancasila seolah tidak lagi relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara; bahkan para pejabat publik enggan berbicara tentang Pancasila.367 Setelah runtuhnya Orde Baru, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan.368
Disadari atau tidak, rakyat Indonesia menjadikan Pancasila sebagai tempat menumpahkan maupun melampiaskan kekesalannya terhadap dosa-dosa yang pernah diperbuat Orde Baru. Tanpa berpikir penjang lagi, peraturan yang dibentuk pada masa Orde Baru dan bersinggungan dengan Pancasila pun dicabut.
Sebut saja Tap MPR No. II Tahun 1978 tentang P4 yang dihapuskan dengan Tap MPR No. XVIII Tahun 1998 pada 13 November 1998. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetia Pancakarsa) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi di bumi Indonesia.
Pencabutan atas ketetapan tersebut dilakukan melalui MPR No.
XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetia Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Kembali Pancasila sebagai Dasar Negara.369 Adapun pertimbangan pencabutan landasan hukum P4, bahwa Pancasila sebagaimana
366 Agustinus Edward Tasma dan Heru Santosa, “Polemik Epistemologi Pancasila Dan Demokrasi Yang Konstruktif Beserta Implementasi”, HUMANIKA, Vol. 6 No. 1, (Maret, 2006), hlm. 86.
367 Azyumardi Azra, “Kegalauan Identitas dan Kekerasan Sosial:
Multikulturalisme, Demokrasi dan Pancasila”, EM ATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, Vol. 1, No. 1, (Juni, 2012), hlm. 7.
368 Iriyanto Widisuseno, “”Azaz Filosofis Pancasila Sebagai Ideologi Dan Dasar Neara”, Humanika, Vol. 20, No. 2, (2014), hlm. 62.
369 Winarno, “Menungkap Kembali...”, hlm.185.
118 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
yang dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, perlu ditegaskan posisi dan peranannya dalam kehidupan bernegara; bahwa ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/I978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetia Pancakarsa) yang materi muatan dan pelaksanaannya tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan bernegara, perlu dicabut.
Penyelenggaraan P4 berdasarkan Tap MPR No.
II/MPR/1978 yang digalakan Orde Baru dinilai kaum reformis sebagai kegagalan total dalam menanamkan pemahaman Pancasila.
Sebagian kalangan masyarakat memandang kebijakan ini merupakan bentuk pemaksaan ideologi dari pemerintah sekaligus strategi Soeharto untuk memperkuat kekuasannya. Mereka yang menolak antara lain seperti kelompok Petisi 50 dan kelompok agama yang diwakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP).370 Mencermati pertimbangan Tap MPR No. XVIII Tahun 1998, bahwa Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 dinilai sebagai kekeliruan Orde Baru dalam mengintepretasikan Pancasila. Kekeliruan terbesar ketika dibuatnya Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/1978 berkaitan dengan menjadikan Pancasila harus ditafsirkan secara tunggal dan bergantung kepada pemerintah yang berkuasa.
Kekeliruan dalam tatanan implementatif dalam TAP MPR Nomor II/MPR/1978 ini bertentangan dengan semangat Pancasila sebagai ideologi yang bersifat terbuka.371 Pemerintahan Orde Baru dianggap mempersonifikasikan dan menjelmakan dirinya sebagai intepreter tunggal atas kedudukan Pancasila sebagai dasar negara.
Meskipun Tap II/MPR/1978, Pasal 1 menjelaskan, bahwa Pedoman
370 Martin Sitompul, Atas Nama Ideologi Negara, https://historia.id/
politik/articles/atas-nama-ideologi-negara-6mR23, ((Kamis, 28 Mei 2020, 10:23).
371 Aditya Nurahmani dan Muhammad Robi Rismansyah, “Problematika dalam Mewujudkan Pancasila Sebagai Ideologi yang Bernilai Substantif”, Padjadjaran Law Review VI, (Desember, 2018), hlm. 73.
Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila tidak merupakan tafsir Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana tercermin dalam Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh, dan Penjelasannya tetapi P4 kelihatan lebih penting dari Pancasila itu sendiri. Lebih jauh P4 dan Pancasila menjadi kata sakti segenap dalam kesempatan pejabat dari tingkat pusat hingga lokal dan forum-forum formal maupun non formal.372
Beberapa hal yang dipandang publik sebagai faktor penyebab gagalnya penataran P4, yaitu pelaksanaannya yang cenderung formal, doktriner, kuantitatif (misalnya, penataran model 100 jam) dan koersif. Model penataran P4 yang bersifat formal cenderung menempatkan peserta sebagai individu yang kaku.Bersifat doktriner mengakibatkan Pancasila seolah bertendensi mengganti sumber kearifan moral dan etika dari suku, ras, dan agama. Padahal, seharusnya sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, nilai-nilai tersebut bisa hidup berdampingan dan saling melengkapi. Selanjutnya, bersifat kuantitatif, penataran P4 seolah mengejar jumlah peserta yang berhasil ditatar dari berbagai jenjang dan intensitas (yang diukur dengan waktu).
Kemudian, bersifat koersif karena dalam pelaksanaannya disertai sanksi. Penataran yang sangat masif, intensif, dan frekuensif membuat asupan overdosis (melebihi takaran). Situasi seperti itu cenderung mengakibatkan kejenuhan (overload).373 Selain itu, karena tidak adanya contoh nyata bagaimana penerapan P4 dalam kehidupan sehari-hari. Para tokoh di pemerintahan maupun di masyarakat tidak dapat menjadi teladan penerapan butir-butir P4.
Televisi juga sering menayangkan perilaku tokoh yang tidak
372 Samsuri, “Civic Virtues Dalam Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan Di Era Orde Baru”, Jurnal Civics, Vol. 1, No. 2 (Desember, 2004) , hlm. 228
373 Redi Panuju, Merawat Pancasila Tanpa Menyalahkan P4,
https://www.jawapos.com/opini/sudut-pandang/04/10/2017/merawat-pancasila-tanpa-menyalahkan-p4/, (Kamis, 28 Mei 2020, 12:07).
120 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
menggambarkan penerapan buit-butir P4. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, para manggala juga bukan merupakan teladan yang baik. Tidak sedikit peserta penataran yang bergunjing: ―walah ngomong doang‖, ―Kelakuannya sendiri begitu, kok sekarang menceramahi macem-macem.‖374
Kegagalan P4 di masa Orde Baru mau tidak mau mendorong perubahan paradigma baru bangsa Indonesia dalam memandang Pancasila di era reformai. Reformasi 1998 sebagai penanda berakhirnya Orba mengawali ―ke Pancasilaannya‖ dengan pencabutan TAP MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 (Eka Prasetia Pancakarsa). Hal ini kemudian menyebabkan polemik dan adu argumentasi dan persoalan yang nyaris tanpa akhir. Bagi sebagian kalangan, Penghapusan P4 pada era reformasi lebih dilatarbelakangi alasan emosional-politis, dengan menuding P4 digunakan sebagai sarana indoktrinasi Presiden Soeharto dalam melanggengkan kekuasaannya. Sementara golongan lainnya menyorot pertimbangan MPR yang dituangkan dalam huruf b, yang menyatakan, bahwa ―P4 tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan bernegara‖, sesuatu yang dinilai sangat sempit dalam memahami materi muatan yang ada dalam TAP MPR No. II Tahun 1978 tersebut.375 Tidak menutup kemungkinan, bahwa kelompok tersebut sebenarnya memiliki maksud terselubung, menginginkan dasar negara yang lain bagi bangsa Indonesia, yang bersifat sektarian murni ataupun sebaliknya yang bersifat murni nonsektarian tertentu. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini tampaknya terjebak oleh pemikiran sesaat yang sempit atau bahkan oleh dorongan perasaan irasional-emosional, sehingga mengingkari
374 Muchlas Samani, Menyamai Budi Pakerti Jangan Seperti P4, http://eksis.ditpsmk.net/artikel/menyemai-budi-pekerti-jangan-seperti-p4, (Kamis, 28 Mei 2020, 10:15).
375 Ashabul Kahpi, “Kedudukan Pancasila Sebagai Dasar Negara Pasca TAPMPR No.I/MPR/2003”, Jurisprudentie, Vol. 4, No. 2, (Desember, 2017), hlm.
62-63.
kenyataan yang dimiliki bangsa Indonesia sendiri yakni sebagai masyarakat majemuk, multikultural dan heterogenitas bangsa yang sangat pluralistik.376
Pemahaman keliru lainnya terhadap P-4 pada masa Orde Baru seolah-olah identik dengan Pancasila sehingga pencabutannya menimbulkan kesan, membicarakan Pancasila tidak relevan lagi dengan situasi reformasi.377 Dihapusnya P4 melalui pencabutan Tap MPR No. II Tahun 1978 seolah-olah menjadi penanda runtuhnya Pancasila di era reformasi. Pancasila yang terlanjur dikooptasi Orde Baru ikut pudar dalam ingatan rakyat Indonesia bersamaan dengan jatuhnya penguasa dari tahta kekuasaannya.
Pasca bergulirnya reformasi, Pancasila tidak lagi menjadi primadona yang biasanya santer terdengar di ruang publik. Akibat kesalahan P4 terutama dalam pendekatannya, Pancasila yang tadinya disanjung-sanjung dalam berbagai waktu dan kesempatannya, kini mulai dilupakan dan ditinggalkan pendukung-nya. Tidak ingin dicap sebagai bagian dari masa lalu Orde Baru merupakan alasan kuat mereka untuk menanggalkan Pancasila.
Pancasila menjadi tidak menarik lagi untuk dikaji, dibahas, dan didiskusikan sebagai bahan renungan publik. Pancasila seakan-akan tidak mendapat tempat yang layak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya, Pancasila pun perlahan-lahan tergeser dan terpinggirkan dari panggung politik dan budaya bangsa Indonesia. Bahkan semakin lama terendus adanya upaya-upaya terselubung yang ingin menggeser kedudukan Pancasila sebagai dasar negara.378
376 Victor Santoso Tandiasa, “Refleksi Tap MPR No. II//MPR/1978 Tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila”, http://forumkajianhukumdankonstitusi.blogspot.com/2013/01/menatap-ulang-peranan-serta-efektivitas_9989.html, (Jumat, 29 Mei 2020, 08:44)
377 Sudaryanto, “Kekeluargaan Sebagai...”, hlm. 152.
378 Benyamin Molan, “Reposisi Pancasila dengan Membuka Ruang bagi Konstruksi Budaya”, RESPONS, Vol. 22, No. 02, (2017), hlm. 169.
122 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd