• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

BAB II PERJALANAN SINGKAT PANCASILA

F. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Meskipun sudah ada gentlemen agreement di antara

―kelompok nasionalis‖ dengan ―kelompok agama‖ yang memper-debatkan relasi antara negara dan Islam dalam penyusunan dasar negara, polemik tentang negara Islam tidak pernah selesai.379 Masih terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang meragukan penerapan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga muncul juga wacana untuk menggantikannya dengan ideologi lain.

Ideologi berbasiskan agama merupakan salah satu ideologi yang ditawarkan sebagai alternatif pengganti Pancasila. Ini dipicu oleh keprihatinan atas kondisi sosial dan ekonomi yang makin terpuruk yang melanda Indonesia saat ini.380 Fenomena hubungan negara dan agama kembali mencuat seiring dengan runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Semenjak Presiden Soeharto lengser keprabon..., diskursus mengenai Islam dan Negara Pancasila memasuki pembabakan baru. Jika pada pemerintahan sebelumnya, Islam Politik (kelompok yang menjadikan Islam sebagai ideologi perjuangan dan cita-cita politik) menjadi ―target utama‖ dari agenda deradikalisasi dan depolitisasi Islam, maka era Pos Soeharto ditandai oleh ―revivalisme Islam Politik‖—baik dalam wujud partai politik maupun gerakan sosial keagamaan.381 Semakin subur dan meresapnya ideologi keagamaan dalam kehidupan bernegara, karena pemahaman parsial terhadap Pancasila yang dibangun Orde Baru tidak mampu bertahan lama menghadapi

379 Wildan Sena Utama, Polemik Negara Islam: Soekarno vs Natsir, https://www.prismajurnal.com/issues.php?id=%7B1A0F06D5-DBC3-8F35-B5AE-E715E50BBFB0%7D&bid=%7B0327B60F-DE6E-539B-9979-18978AD362C0%7D, (22 Januari 2020, 15:07).

380 Andreas Doweng Bolo dkk, Pancasila Kekuatan Pembebas: Pusat Studi Pancasila Universitas Katolik Parahyangan, (Yogyakarta: Kanisius, 2012), hlm.

20.

381 Andar Nubowo, “Islam dan Pancasila di Era Reformasi:Sebuah Reorientasi Aksi”, Jurnal Keamanan Nasional, Vol. I, No. 1, (2015), hlm. 61.

tekanan gelombang reformasi. Ditambah lagi, Pancasila setelah runtuhnya Orde Baru, dalam realitasnya mulai dilupakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.382 Sejak era Reformasi, banyak wacana yang mulai mempertanyakan kelayakan dan relevansi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Bahkan tak jarang pula ada yang berfikir, bahwa negara ini perlu mengganti ideologinya.383 Pemikiran tersebut semakin subur mengingat umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini sebagian masih bercita-cita mengembalikan tujuh kata pada sila pertama Pancasila sebagaimana tercantum dalam Piagam Jakarta. Sebagian lain berjuang untuk menegakkan syariat Islam sebagai dasar Negara. Sebagian lagi menolak mentah-mentah bukan hanya Pancasila, bahkan juga bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan hendak menggantikannya dengan Khilafah Islamiyah dan Negara Islam.384 Sebut saja Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang murni mengusung Khilafah Islamiyah.

HT memandang, bahwa penegakan kembali sistem khilafah merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar.385

Hizbut Tahrir adalah organisasi politik Islam yang independen. Organisasinya memiliki kekhasan seperti; berasaskan syari‘at Islam, ide, dan aksi politiknya bukan politik praktis tetapi politik-ideologis, konseptual, rasionalis dan non-kekerasan.386

382 Efriza, “Mengupayakan Kembali Eksistensi Pancasila“, Jurnal Populis, Vol.3, No.5,(Juni, 2018), hlm. 655.

383 Siti Fanatus Syamsiyah, “Pancasila dan UU NO. 17 Tahun 2003 (Analisa Terhadap Polemik HTI di Kabupaten Jember)”, Al-Tatwir, Vol. 3, No. 1 (Oktober, 2016), hlm. 158.

384 Zakiyuddin Baidhawy, “Negara Pancasila Negara Syariah“, Maarif, Vol. 10, No. 1, ( Agustus, 2015), hlm. 41-42.

385Mohammad Rafiuddin, “MENGENAL HIZBUT TAHRIR (Studi Analisis Ideologi Hizbut Tahrir vis a vis NU)”, Islamuna, Vol. 2, No. 1, (Juni, 2015) , hlm.

34.

386 Muhammaddin, “Relevansi Sistem Khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Dengan Sistem Negara Islam Modern”, Intizar, Vol. 22, No. 2, 2016, hlm.

306.

124 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

Hizbut Tahrir sendiri menolak penggunaan kekerasan fisik untuk meraih target perjuangannya.387 Hizbut Tahrir merupakan kelompok politik, bukan kelompok yang bersandar pada aspek spiritual semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis), bukan lembaga sosial. Ide-ide Islam menjadi jiwa, inti, sekaligus sebagai rahasia kelangsungan kelompoknya.388 HizbutTahrir (HT) merupakan gerakan Islam trans nasional yang bergerak dalam dakwah dan politik. Didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani pada tahun 1953 di Palestina.389 Dalam hal ini, An-Nabhani memandang Islam sebagai prinsip yang serba lengkap (self-sufficient), ideologi modern yang komprehensif dan menyeluruh, dan superior terhadap ideologi-ideologi yang bersumber dari Barat.390 Dengan demikian, Islam adalah sistem yang paripurna dan komprehensif bagi seluruh kehidupan manusia.

Kaum muslim diwajibkan untuk memberlakukannya secara total dalam sebuah negara yang memiliki bentuk tertentu dan khas, yang tertulis di dalam sebuah sistem khilafah (pemerintah Islam).391 Hingga saat ini, Hizbut Tahrir (HT) tersebar di berbagai belahan

387 Syamsul Arifin,” Gerakan Keagamaan Baru dalam Indonesia Kontemporer: Tafsir Sosial Atas Hizbut Tahrir”, Al-Tahrir, Vol. 14, No. 1 (Mei, 2014), hlm. 124.

388 Azman, “Gerakan dan Pemikiran Hizbut Tahrir Indonesia”, al-daulah, Vol. 7, No. 1, (Juni, 2018), hlm.100.

389Mohamad Rafiuddi, “Mengenal Hizbut Tahrir (Studi Analisis Ideologi Hizbut Tahrir vis a vis NU”, slamuna, Vol. 2, No. 1(Juni, 2015), Islamuna, Volume 2 Nomor 1(Juni, 2015). Lihat juga Nur Hasan dan Mochamad Parmadi, Gerakan Sosial Keagamaan dan Agenda Politik Kelompok Radikal Pasca Pemberlakukan Perpu No 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Masyarakat: Studi Kasus Hizbut Tahrir Indonesia(HTI), Laporan Tulisan Klaster Tulisan Terapan dan Pengembangan Nasional, UIN Walisongo Semarang (2018)., hlm. 25.

390 Syamsul Rijal, “Radikalisme Islam Klasik Dan Kontemporer:

Membanding Khawarij Dan Hizbut Tahrir”, AL-FIKR, Vol.14, No.2, (Tahun 2010), hlm. 220.

391 Muhammaddin, “Relevansi Sistem Khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Dengan Sistem Negara Islam Modern”, Intizar, Vol. 22, No. 2, (2016), hlm.

367.

penjuru dunia, negara-negara Benua Eropa seperti Inggris, dengan pimpinan HT DR. Imran Waheed, Australia dengan tombaknya Ismail Al Wahwah, begitu juga dengan Jepang dengan tokoh HT Prof. DR. Hassan Ko Nakata, HT juga sangat jelas tercatat di Palestina dengan tokohnya Imam Ameera, Sudan dengan Usman Abu Khalil, serta Indonesia dengan Ismail Yusanto dan...‖.392 Organisasi ini bertujuan untuk mengembalikan kejayaan Islam melalui penegakan negara Khilafah yang menyatukan seluruh dunia.393 HT berusaha memerdekakan negeri-negeri kaum Muslimin di seluruh dunia agar bebas dari kemunduran dan penderitaan, yang disebabkan cengkeraman berbagai ideologi Barat seperti nasionalisme, kapitalisme, dan sekularisme yang bertentangan dengan ajaran Islam.394 Menurut HT, apabila umat Islam ingin kembali jaya seperti di masa klasik,umat Islam harus berjuang menegakkan berdiri kembali khilafah Islamiyah, yakni sistem pemerintahan Islam berdasarkan kesatuan umat bukan negara kebangsaan.395

Luasnya jejaring HT diberbagai belahan dunia, juga menjalar sampai di Indonesia. Secara historis Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada awal dekade tahun 1980-an.396 Pada masa atau rezim Orde baru, yakni di bawah pemerintahan Soeharto,

392 Wahyu Budi Nugroho, “Fundamentalisme Hizbut Tahrir Indonesia (Politik Aliran Hizbut Tahrir)”, Makalah Disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bersama Gus Nuril, 20 Mei 2017 di Inna Bali Hotel.

393 Deni Junaedi, “Bendera di Hizbut Tahrir Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (Kajian Konteks Sejarah, Konteks Budaya, dan Estetika Semiotis)”, Kawistara, Vol. 2, No. 3, (Desember, 2012) hlm. 265.

394 Isnatin Ulfah, “Epistemologi Hukum Islam Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Di Balik Gagasan Anti Kesetaraan Gender”, Justitia Islamica, Vol. 10, No. 2, (Juli-Des. 2013), hlm. 224.

395 Asep Zaenal Ausop, “Demokrasi dan Musyawarah Dalam Pandangan Darul Arqam, NII, dan HTI”, Jurnal Sosioteknologi, Edisi 17 Tahun 8, (Agustus, 2009), hlm. 612.

396 Fadh Ahmad Arifan, “Paham Keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia”, JURNAL STUDI SOSIAL, Th. 6, No. 2, (Nopember, 2014), hlm. 94.

126 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

tahrir Indonesia melakukan strategi gerakan secara tertutup/under ground. Pada masa rezim soeharto; pemberlakuan Azas tungal Pancasila dan de-Islamisasi politik membuat gerakan-gerakan Islam termasuk didalamnya Hizbut-tahrir terpaksa melakukan gerakan bawah tanah.397 Bebasnya HTI berekspresi untuk membangun kelompok penekan tidak terlepas dari jatuhnya Soeharto yang diikuti oleh euforia demokrasi...Pada masa pemerintahan Habibie, kebebasan pers tidak terkendali, sehingga proses pembingkaian oleh HTI untuk memperkuat basis gerakannya menjadi makin terbuka.398 Di Indonesia, perkembangan pesat HT ini bisa dilihat dari kuantitas anggotanya dan intensitas kegiatan HT di ruang publik, yaitu dalam bentuk pawai, seminar (baik yang berskala internasional, nasional, dan lokal), dialog dan diskusi publik, serta proliferasi media di berbagai daerah di tanah air. Bahkan cabang HTI telah tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk di Papua.399 Jumlah jemaah pengikut Hizbut Tahrir Indonesia kini tersebar pada 33 Provinsi di Indonesia dan dibeberapa tempat penyebaran dari pada Hizbut Tahrir Indonesia sendiri sampai kepada pedesaan.400 Dengan jangkauan pengaruh yang semakin luas itulah, HTI mulai percaya diri dan mulai mengupayakan tahapan terakhir menuju penegakan khilafah, yakni

397 Hasanuddin dan Edi Sabara Manik, “Strategi Politik Hizbut Tahrir Dalam Menegakkan Khilafah Islam Di Indonesia”, l-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 17, No. 1, (Januari–Juni, 2018), hlm. 71.

398 M. Zainuddin, Suryaningsih, Rekalkulasi Transformasi Kelompok Penekan Menjadi Partai Politik: Kajian Pada Hizbut Tahrir Indonesia, Nakhoda:

Jurnal Ilmu Pemerintahan - nakhoda.ejournal.unri.ac.id, hlm. 55.

399 Syamsu Rizal, Perkembangan Paham Keagamaan Transasional Di Indonesia (Jaringan Hizbut Tahrir Indonesia Di Kota-Kota Makasar Sulawesi Selatan), (Jakarta:Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, 2011), hlm. 4-5.

400 Muhammad Tegar Siregar,” Eksistensi Presiden Dalam Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Terhadap Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia”, Skripsi UIN Sulta Syarif Kasim, hlm. 24-25.

mencari dukungan kepada tokoh-tokoh kuat untuk bersama HTI dalam rangka mengambil alih kekuasaan.401 Dibandingkan dengan beberapa gerakan Islam transnasional yang ada di Indonesia, HTI bisa dikatakan sebagai gerakan yang cepet tumbuh berkembang dan sangat jelas menunjukan watak transnasionalnya, serta menunjuk-kan perkembangan signifimenunjuk-kan secara kuantitas.402 Tidak heran bila HTI pun semakin terang-terangan meneriakkan Islam kaffah sebagai sistem formal.403 Lebih-lebih pasca reformasi, HTI bisa melakukan aktivitasnya secara terbuka hal ini ditandai dengan diadakannya diskusi terbuka tentang syariah ke berbagai daerah, seperti ke beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Mereka juga aktif menyebarkan gagasan khilafah ke berbagai Perguruan Tinggi melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Ketika itu, perkembangan HTI masih dalam proses pengembangan kader (tasqif) dan pembinaan umat dalam rangka memperkukuh tubuh partai.404

Pada fase ini, sasaran pengembangan anggota HTI yang pertama, adalah dengan berusaha merekrut masyarakat umum yang tinggal di wilayah perkotaan. Dimana sasaran utama yang menjadi target untuk diajak bergabung ke dalam HTI adalah masyarakat muslim yang biasa beribadah di masjid-masjid utama (besar/jami‟) yang ada perkotaan di banyak daerah, mulai tingkat provinsi hingga tingkat kabupaten dan kota. Dalam menarik umat Muslim untuk

401 Meila Iskatrilia, “Pembubaran Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Dalam Perspektif Siyasah”, Skripsi UIN Raden Intan Lampung, hlm. 45.

402 Abdul Qohar, “Eksistensi Gerakan Ideologi Transnasional HTI Sebelum Dan Sesudah Dibubarkan”, KALAM, Vol. 11, No. 2, (Desember, 2017), hlm.366.

403 Rendy Adiwilaga, “Puritanisme Dan Fundamentalisme Dalam Islam Transnasional Serta Implikasinya Terhadap Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa”, Journal Governance Vol. 2, No. 1, (Juni, 2017), hlm. 134.

404Nilda Hayati “Konsep Khilafah Islamiyyah Hizbut Tahrir Indonesia Kajian Living al-Qur’an Perspektif Komunikasi”, Epistemé, Vol. 12, No. 1, (Juni, 2017), hlm. 174.

128 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

bergabung, HTI biasanya mengadakan halaqoh atau pengajian yang relatif besar untuk mengenalkan kepada publik tentang konsep atau gagasan-gagasan khilafah Islamiyah. Upaya ini dikumandangkan secara intens di banyak tempat. Bahkan tidak jarang HTI melakukan aksi demonstrasi secara terbuka yang digelar sebagai pertunjukan atas kekutan politik (show of political forces) mereka pada publik. Lazimnya kegiatan ini dilakukan sebagai respon atas kebijakan negara yang dinilai tidak memihak kepada masyarakat dan memiliki peluang untuk digiring pada penawaran konsep khilafah atas kegagalan pelaksanaan sistem politik dan ekonomi modern ala Barat.

Sebagai contoh, di saat ada kebijakan kenaikan harga BBM, kenaikan tariff dasar listrik, meningkatnya kemiskinan, meningkatnya kasus korupsi...‖405

Artinya segala daya dan upaya pun dihalalkan HTI untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu mengubah ideologi Pancasia, termasuk juga dengan jalan memobilisasi massa dan media massa.

Sesuai pendapat Yuniarti Dwi Pratiwi406, bahwa letupan pandangan dan gerakan keagamaan ini sering mengambil bentuk yang ekstrim dalam upaya untuk merubah Pancasila menjadi Ideologi Khilafah Islamiyah salah satunya, yaitu melalui media massa ataupun massa pendukung Khilafah yang di mobilisasi guna melakukan protes keras atas kebijakan Pemerintahan yang sah. Gerakan Islam transnasional ini menawarkan perubahan sistem politik yang lebih radikal, karena akan merubah sistem politik Indonesia ke sistem politik Khilafah Islamiyah, bentuk Negara republik diganti dengan

405 Nur Hasan dan Mochamad Parmadi, “Gerakan Sosial...”, hlm. 31.

406Yuniarti Dwi Pratiwi, “Peran Pancasila Sebagai Filter Ideologi Bangsa (Studi Kasus Konsep Negara Khilafah)”, Lembaga Kajian Petahanan untuk Kedaulatan NKRI “KRIS”. Vol. 4, No. 2, (Maret, 2020), hlm. 15.

daulah Islamiyah.407 Agenda utama yang menjadi karakter transnasionalnya adalah pendirian Khilafah, sebuah sistem pemerintahan Islam global dibawah kekuasaan seorang khalifah.408 Pandangan HTI tentang penerapan syariah didasarkan pada kritik atas demokrasi. Hal ini dilakukan HTI melalui juru bicaranya, M.

Ismail Yusanto yang melakukan kritik atas kedaulatan di dalam sistem demokrasi, yang tidak menjadikan kedaulatan Tuhan (hakimiyyatullah) sebagai sendi utama politik, melainkan mendaulat kedaulatan rakyat sebagai pilar utama sistem politik.409 HTI menganggap sistem demokrasi adalah buatan manusia bukan konsep yang berasal dari Islam sendiri. Selain itu hal HTI juga menentang gagasan nasionalisme. Hal tersebut dilakukan bukan hanya karena bertentangan dengan norma-norma Islam, melainkan juga demi memberi kontribusi terhadap wacana khilafah Islam global HTI. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut maka HTI membutuhkan dunia Muslim yang tanpa batas yang hanya bergantung kepada solidaritas Islam yang melampaui batas-batas geografis, ikatan genetik, latar belakang budaya, dan ras.410 HTI menginginkan di negeri ini bisa tegak syariah Islam, baik sebagai bagian dari Kekhilafahan atau mungkin justru menjadi pusat Kekhilafahan itu sendiri.411

Setelah sekian lama HTI mengepakan sayapnya di Indonesia, ternyata dalam perjalanannya keberadaan HTI dirasakan

407 Sudarno Shobron, “Model Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia”, PROFETIKA, Jurnal Studi Islam, Vol. 15, No. 1, (Juni, 2014), hlm. 45.

408 Syamsu Rizal, Jaringan Hizbut...”, hlm. 4

409 Syaiful Arif, Pandangan dan Perjuangan Ideologis HTI dalam Sistem Kenegaraan Indonesia, Aspirasi, Vol. 7, No. 1, (Juni, 2016), hlm. 94.

410 Romario, “Hizbut Tahrir Indonesia Dalam Ruang Media Sosial Instagram”, JURNAL AQLAM Journal of Islam and Plurality, Vol. 4, No. 1, (Juni, 2019), hlm. 27.

411 Fitrina Hasanah, (2016), Peranan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sebagai Organisasi Islam Non Partisan (Dalam Perspektif Khilafah), Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 46-47.

130 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

semakin meresahkan, berdasarkan laporan kepolisiaan banyak penolakan di berbagai daerah, bahkan memicu konflik horizontal antara masyarakat yang pro dan kontra, kalau dibiarkan akan lebih meluas.412 Doktrin Khilafah Islamiyah diakui oleh para aktivis HTI sebagai antitesis ideologis yang siap menandingi, bahkan mengganti, posisi konsep negara-bangsa (NKRI) yang sudah dianggap final di Indonesia. Tidak ayal, sinyalemen ―menantang‖

dari kelompok HTI ini sempat membuat elit sejumlah organisasi sosial-keagamaan, terutama NU, menjadi gerah dengan menuduhnya sebagai organisasi makar yang hidup dengan mendompleng demokrasi.413 HTI pun sudah berani terang-terangan mengadakan kegiatan untuk mengkampanyekan dan menawarkan paham khilafah untuk menggantikan Pancasila. Tiada henti HTI mempropagandakan dan menyerang Pancasila sebagai ideologi kufur yang pantas ditinggalkan. Doktrin-doktrin agama ditafsirkan secara manipulatif untuk membenarkan argumentasinya yang menuding Pancasila sebagai ideologi yang membawa malapetaka, baik di dunia maupun diakhirat. Dengan konsep ideologis seperti itu wajar bila HTI mendapat perlawanan dari berbagai elemen masyarakat. Meskipun dulu keberadaan HTI sempat diterima masyarakat dengan segala ide-ide dan gagasannya yang revolusioner. Belakangan ini keberadaan HTI dianggap ancaman

412 Eka Djonari, “Kebijakan Aplikasi Penanganan Pancasila Dalam Perspektif Filsafat Hukum”, Unisham s-Intenational Conference 2019/ e-Procedings. e-Proceedings : International Conference 2019 “Contemporary Issues Islamic Management, Finance & Laws.”

Pada 11 April 2019 bertempat di Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah (UniSHAMS).

413 Masdar Hilmy, “Akar-Akar Transnasionalisme Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

‘,ISLAMICA, Vol. 6, No. 1, (September, 2011), hlm. 2.

karena akan mengubah Pancasila.414 Tentunya gerakan ideologis yang diusung HTI tidak cocok bagi kelangsungan hidup Indonesia yang bertumpu pada persatuan dalam keanekaragaman. Integrasi Indonesia pun menjadi pertaruhannya bila HTI dibiarkan secara terus menerus menggerogoti Pancasila. Begitu bahayanya Hizbut Tahrir Indonesia, sehingga pemerintah Indonesia dengan cepat menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia...‖.415 Penerbitan ini disampaikan langsung melalui Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM Bapak Wiranto.416

Dalam hubungannya dengan pembubaran ormas, menurut Wiranto selaku Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, ―pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),417 bukannya tanpa alasan. Paling tidak, Pemerintah mempunyai tiga

414 Ahmad Khadafi, Sejarah Kemunculah HTI Hingga Dibubarkan, https://tirto.id/sejarah-kemunculan-hti-hingga-akhirnya-dibubarkan-coiC, (10 Januari 2020, 10:30).

415 Muhammad Hardiansyah Kusuma,”Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia Oleh Pemerintah Republik Indonesia Dalam Pandangan Hukum Islam Dan Konstitusi Indonesia”, Skripsi Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung.

416Fahmil Rozil , “Civil Society Dan Radikalisme (Studi Atas Dukungan Nahdalatul UlamaTerhadap Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia)”, Skrispsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 5.

417 Pada tanggal 19 Juli 2017Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM secara resmi mencabut status badan hukum ormas Hizbut Tahrir Indonesia(HTI) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017 tentang pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-0028.60.10.2014 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan HTI. Pencabutan tersebut dilakukan sebagai tindaklanjut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 yang mengubah UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Lihat Itok Dwi Kurniawan, “Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia Indonesia Ditinjau Dari Perspektif Kewarganegaraan Liberal Dan Kewarganegaraan Republik”, file:///C:/Users/ACER/AppData/Local/Temp/2547-9130-1-PB.pdf

132 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

alasan kuat kenapa HTI yang sudah berbadan hukum harus dibubarkan

1. HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional.

2. Kegiatan yang dilaksanakan HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azaz, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia 1945 sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas.

3. Aktifitas yang dilakukan HTI dinilai telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahaya-kan keutuhan bangsa.418

Perppu Nomor 2 Tahun 2017 telah disahkan pemerintah yang mengatur tentang penindakan tegas dan sanksi kepada ormas yang berupaya atau kegiatan yang tidak mengacu dengan kehidupan Pancasila dan hukum NKRI.419 Sesungguhnya landasan rasional pembubaran HTI lebih didasari oleh ideologi khilafah yang didakwahkannya mengancam kedaulatan politik negara yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terlebih ideologi khilafah yang disuarakan HTI bersifat transnasional, yang melintasi batas-batas negara layaknya komunisme. Secara prinsipil, Ideologi HTI menolak paham nasionalisme, sehingga konsepnya meniadakan nation state. Untuk mendirikan negara Islam dalam konteks luas membuat konsep negara dan bangsa jadi absurd atau

418 Moh Mansyur, “Politik Hukum Pembubaran Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Indonesia (Studi Kasus PembubaranHizbut Tahrir Indonesia)”, Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 59-60.

419 Michelle Noor Azzaro, Analisis FramingPemberitaan Kasus Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Di Kompas.com, Tempo.co, dan Republika.co.id,

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/Commercium/article/view/254 45/23326, (10 Maret 2020, 18:30).

tidak jelas, termasuk Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Atas dasar itu, diperoleh kesimpulan, bahwa HTI mengusung ideologi destruktif yang berpotensi membahayakan keutuhan bangsa dan negara. Hal tersebut sudah mulai tampak jelas dengan terjadinya gesekan dan benturan ideologis di masyarakat.

Sedangkan konflik ideologis di masyarakat yang meletus di berbagai daerah sudah dapat dikatagorikan mengancam keamanan dan ketertiban, serta membahayakan NKRI. Oleh karena itu, tidak ada lagi kompromi sedikitpun terhadap organisasi manapun yang mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat.

Setelah Pemerintah membubarkan perkumpulan HTI dengan mencabut status badan hukumnya, tidak lantas membuat HTI menyerah begitu saja. HTI berusaha melakukan konsolidasi politik guna mempertahankan eksistensinya. HTI menyebutkan, bahwa langkah konsolidasinya dilakukan dengan cara melakukan perlawanan hukum dan politik. Konsolidasi dilakukan sebagai upaya memelihara dan memantapkan sesuatu yang telah dicapai, meningkatkan yang sedang dilakukan dan mengantisipasi hal-hal yang kemungkinan terjadi di masa depan. Perlawanan hukum dilakukan dengan proses hukum di pengadilan, sedangkan perlawanan politik dilakukan dengan mendorong berbagai pihak untuk menolak Perppu Ormas.420 Perlawanan pragmatis HTI dalam mempertahankan badan hukumnya yang telah dicabut, yaitu melalui tiga poin yang diadvokasi oleh pihaknya yang juga tidak lain sebagai langkah mempertahankan argumen, bahwa HTI sah berdiri, tidak melanggar dan tidak ada dasar pembubaran yang menjelaskan kesalahan HTI yang ditampakan oleh pemerintah.421

420 Reni Rentika Wati, Gerakan Politik Dan Organisasi Kemasyarakatan (Studi Atas Konsolidasi Politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Pasca Perppu No. 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hlm. 53.

421Ramadhan Farid Akbar, Aktivitas Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia di Surabaya Pasca Terbentuknya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

134 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto, mengatakan pihaknya bersama dengan beberapa ormas lain akan bertemu dengan Dewan Perwakilan Rakyat untuk membicarakan Perppu yang ditandatangani Presiden Joko Widodo, 10 Juli lalu. "Ini yang kita sebut dengan perlawanan politik, kita lakukan komunikasi dengan DPR. Siang ini bersama dengan ormas yang lain kita akan bertemu dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Kita berharap bahwa DPR

Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto, mengatakan pihaknya bersama dengan beberapa ormas lain akan bertemu dengan Dewan Perwakilan Rakyat untuk membicarakan Perppu yang ditandatangani Presiden Joko Widodo, 10 Juli lalu. "Ini yang kita sebut dengan perlawanan politik, kita lakukan komunikasi dengan DPR. Siang ini bersama dengan ormas yang lain kita akan bertemu dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Kita berharap bahwa DPR