• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persidangan Konstituante

BAB II PERJALANAN SINGKAT PANCASILA

A. Persidangan Konstituante

Persoalan ideologis sempat surut pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Adanya upaya pihak penjajah untuk melanjutkan kolonialismenya membuat bangsa Indonesia melupakan masalah ideologi sejenak. Karena setelah merdeka bangsa Indonesia dihantam dan dibenturkan dengan isu-isu provokatif, misalnya negara yang baru berdiri dengan Republik Indonesia itu menganut pemerintahan diktaktor.155 Tuduhan buruk itu menggelinding kuat, seiring dengan besarnya kekuasaan Presiden yang diatribusikan oleh Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945. Ditambah lagi pada tanggal 22 Agustus 1945, PPKI menyelenggarakan rapat yang salah satu keputusannya adalah membentuk Partai Nasional Indonesia. PNI diharapkan menjadi partai tunggal dan sebagai pelopor dalam kehidupan berbangsa Indonesia.156 Hal itulah yang memberi dasar bagi suburnya fitnah asing atas pemerintahan Indonesia yang menurutnya mengarah pada kediktaktoran/otoriter. Oleh karena itu, untuk menepis tudingan miring itu, pada 16 Oktober 1945 Moh. Hatta dengan mengatasnamakan Presiden mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No X. Dengan begitu masa bulan madu besarnya kekuasaan yang dimiliki oleh Presiden Soekarno sedikit berkurang

155 Mas Soebagio, Beberapa Problema Hukum Pada Umumnya Dan Hukum Tata Negara Pada Khususnya, (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 39.

156 Muchamad Ali Safa’at, Pembubaran Partai Politik: Pengaturan dan Praktek Pembubaran Partai Politik Dalam Pergulatan Republik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), hlm. 125.

40 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

dengan dikeluarkannya Maklumat No. X oleh Wakil Presiden Moh.

Hatta atas usul dari Komite Nasional Indonesia Pusat yang ditetapkan pada tanggal 16 Oktober.157 Alasan Moh. Hatta menandatangani Maklumat tersebut atas nama Presiden. Karena semua ini dilakukannya untuk mewakili pemerintah, sebab pada saat itu Presiden Soekarno tidak dapat hadir karena kepergiannya ke luar kota, sehingga secara yuridis sebetulnya Maklumat tersebut harus dinamakan Maklumat Presiden.158

Selain Maklumat Wakil Presiden No. X, atas usul BP-KNIP, maka pada tanggal 14 November 1945 dikeluarkanlah juga Maklumat Pemerintah yang secara garis besarnya mengubah sistem pemerintahan presidensial menjadi sistem pemerintahan parlementer.159 Peristiwa sejarah tersebut dibenarkan oleh Soehino160 bahwa pada hari tanggal 14 November 1945 terjadilah perubahan sistem pemerintahan negara, dari sistem pemerintahan kabinet presidensial menjadi perubahan sistem pemerintahan negara kabinet parlementer. Keputusan untuk mengubah struktur politik sistem pemerintahan sebenarnya dapat diketahui dalam rapat plenonya yang ketiga di Jakarta pada tanggal 25-27 November 1945, KNIP menerima keputusan ini dan memberi dukungan kepada kabinet Sjahrir. Dengan demikian, bahwa praktis posisi presiden dipisahkan dari posisi kepala eksekutif.161 Secara otomatis kabinet presidensial di bawah pimpinan Presiden

157 Abdul Ghaffur, Perbandingan Kekuasaan Presiden Setelah Perubahan UUD 1945 Dengan Delapan Negara Maju, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2009), hlm. 80.

158 Dasril Radjab, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 193.

159 Miftah Thoha, Birokrasi Dan Politik Di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2011), hlm. 115.

160 Soehino, Hukum Tata Negara: Perkembangan Sistem Demokrasi Di Indonesia, (Yogyakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, 2010), hlm. 38.

161 M. Syafi Anwar, Menggapai Kedaulatan Untuk Rakyat: 75 Tahun Prof.

Mirriam Budiardjo, (Bandung: Mizan, 1998).

Soekarno meletakan jabatan pada tanggal 14 November 1945 dan diganti oleh kabinet baru dengan Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri.162 Namun sebelum ditetapkannya perubahan sistem pemerintahan Indonesia, telah keluar Maklumat Pemerintah No. 3 November 1945 yang memberikan landasan yuridis bagi terbentuknya partai politik. Mengingat pada masa pemerintahan Bala Tentara Jepang, semua organisasi politik dibubarkan, sehingga praktis pada saat Proklamasi Kemerdekaan secara formal tidak terdapat partai politik.163 Dengan demikian, konfrontasi Indonesia dengan Belanda secara tidak langsung telah memberikan tekanan politik kepada tokoh-tokoh bangsa.

Puncak dari ketegangan politik antara Indonesia dengan Belanda pada akhirnya memaksa bangsa ini untuk menerima salah satu hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang merubah bentuk negara republik Indonesia dari bentuk negara kesatuan menjadi negara serikat atau berbentuk federal dengan undang-undang dasar Republik Indonesia Serikat sebagai konstitusinya.164 Negara federal mulai berdiri bersamaan dengan disahkannya Konstitusi RIS pada 27 Desember 1949. Dengan berlakunya KRIS yang mendasari bentuk negara federal, maka secara otomatis UUD 1945 tidak berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia, melainkan hanya berlaku di Republik Indonesia sebagai negara bagian RIS dengan ibu kotanya Yogyakarta.165 Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah sebuah negara dengan bentuk federal yang menggabungkan lima belas negara bagian yang telah didirikan Belanda selama tiga tahun

162 Moh. Kusnardi dan Bintan R. Sarigih, Susunan Pembagian Kekuasaan Menurut Sistem Undang-Undang Dasar S1945, (Jakarta: PT Gramedia, 1986), hlm. 139.

163 Rusadi Kantaprawira, Sistem Politik Indonesia, Suatu Model Pengantar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1990), hlm. 80.

164 Abdul Djamali, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2008), hlm. 114.

165 Dominikus Rato, Pengantar Hukum Adat, (Yogyakarta: Pressindo, 2009), hlm. 146.

42 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

sebelumnya di wilayah yang didudukinya, sebagai bagian usaha melawan Republik Indonesia (RI) yang revolusioner itu. Namun republik revolusioner yang menjadi anggota ke enam belas RIS inilah yang mendominasi struktur federal. Sehingga mereka yang naik ke tampuk kekuasaan pada bulan Desember 1949 adalah para pemimpin yang berkuasa dari masa revolusi. Soekarno menjadi presiden dan Hatta menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia baru itu.166 Pemerintah Indonesia di Yogyakarta sebagai negara bagian dari Republik Indonesia Serikat mempunyai program kabinet, yang terpenting adalah meneruskan perjuangan untuk mencapai negara kesatuan yang meliputi seluruh kepulauan Indonesia dan dimaksudkan dalam Proklamasi 17 Agustus 1945.167 Perlu dipahami, bahwa kesediaan bangsa Indonesia menerima hasil KMB merupakan sebuah strategi dan taktik belaka untuk mengakhiri pertikaian diantara kedua belah pihak. Sasaran yang harus dicapai dengan KMB adalah mengakhiri segala pertikaian dan pertentangan dengan pihak Belanda di segala lapangan kenegaraan: politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.168 Lagi pula dalam hal ini, Konstitusi RIS merupakan hasil maksimal yang bisa dicapai oleh pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang berjuang di pihak republik untuk mewujudkan keutuhan dan kesatuan bangsa dan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.169 Berarti bentuk negara federal ini hanya dianggap sebagai suatu adempause, saat bernapas, dalam perjuangan kita untuk menyelenggarakan terwujudnya negara kesatuan yang

166 Herbert Feit, Dinamics of Guaded Democracy. In Ruth T. Mc Vey, (Jakarta: Sinar Harapan, 2001), hlm. 10.

167 Wirjono, Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, (Bandung:PT Refika Aditama, 2008), hlm. 10-11.

168 Kuntjoro Pubropranoto, Perkembangan Hukum Administrasi Negara, (Bandung: Angkasa Offset, 1981), hlm. 78.

169 Djamal, Pokok-Pokok Bahasan Pancasila, (Bandung: Remadja Karya, 1986), hlm. 35.

merdeka.170 Dan benar saja pada tanggal 17 Agustus 1950, Indonesia kembali membentuk negara kesatuan dengan memberlakukan UUD Sementara.171 Apabila kita membandingkan pokok isi UUD Sementara ini dengan pokok isi Konstitusi RIS.

Maka perbedaannya, kecuali perbedaan yang terbawa oleh sebab Konstitusi RIS berbentuk federasi, sedang UUD Sementara ini berbentuk unitaristis.172

Jika dipandang dari sudut efektivitas ketatanegaraan, maka UUD 1950 ini telah merupakan suatu perbaikan daripada dua UUD yang berlaku lebih dulu, tetapi tidak hanya UUD 1945 dan 1949 tapi UUD 1945 pun mengakui diri sebagai sementara karena tidak dibentuk oleh wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat dalam pemilihan umum.173 Berbeda dengan UUD 1945 yang menganut sistem pemerintahan presidensil, maka KRIS 1949 dan UUDS 1950 berkonsepsikan sistem pemerintahan parlementer. Periode demokrasi parlementer (1950-1959) merupakan periode ketidakpastian yang ditandai oleh tidak tercapainya konsensus mengenai tujuan-tujuan sosial dan ekonomi yang hendak dicapai dan pemberontakan-pemberontakan daerah yang dilandasi oleh agama, etnik, dan ketikdakpuasan terhadap kelemahan pusat.174 Belum lagi seringnya stabilitas politik pemerintahan terguncang oleh manuver-manuver politik yang tidak sehat. Kontrol politik yang berlebih-lebihan mengakibatkan kabinet jatuh bangun tanpa

170 Mirriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 281.

171 Mahkamah Konstitusi,Mengawal Demokrasi dan Menegakan Keadilan Substansif: Refleksi Kinerja MK 2009 Proyeksi 2010. (Jakarta: Sekjen Kepaniteraan MK, 2010) , hlm.59.

172 Soepomo, Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, (Djakarta: Noordhoff-Kolff, 1954), hlm. 13.

173 Peringgodigdo, Tiga Undang-Undang Dasar, (Jakarta: PT Pembangunan, 1981), hlm. 15.

174 Colin MacAndrews dan Ichlasul, Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Pembangunan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003), hlm. 13).

44 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

bisa merampungkan program kerja yang dibuatnya. Dalam kurun waktu sembilan tahun saja, tidak kurang dari tujuh kabinet yang menerima mosi tidak percaya dari parlemen.175 Jatuh bangunnya kabinet pada periode ini menandakan Indonesia tengah mengalami krisis politik berkepanjangan. Krisis politik yang dialami kabinet telah menimbulkan rasa tidak puas dikalangan pemerintahan, ditambah dengan mundurnya Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden 1956.176 Sepeninggal Hatta pada tahun 1956 dari kursi Wakil Presiden sungguh pun banyak pihak yang mengharapkan ia terus juga memegang jabatan tersebut.177 Sebelum mundurnya Hatta, pada tahun 1952-1953 telah memperlihatkan secara umum melemahnya Hatta dan orang-orang lain yang serupa pandangan-nya, dan bersamaan itu terjadi kebangkitan Soekarno dan kelompok-kelompok nasional radikal di dalam partai-partai politik dan Angkatan Darat.178

Kondisi politik Indonesia pada masa itu sangat memilukan dan merisaukan, karena terjadi pergolakan politik yang memunculkan ketidakseimbangan dalam ekosistem politiknya.

Kegaduhan politik tersebut mendapat pijakan kuat dari sistem pemerintahan parlementer yang memperlihatkan tidak adanya satu partai politik yang berhasil menguasai mayoritas kursi di parlemen.

Pemilu yang dilangsungkan ternyata memunculkan ―Empat Partai Besar‖, yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan jumlah suara 8,5 juta (22,3%), Masjumi dengan 8 juta suara (20,9%), Nahdlatul Ulama (NU) dengan 7 juta suara (18,4%), dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan 6,1 juta suara (16,4%). Keempat partai ini

175 Martin Hutabarat dkk, Hukum dan Politik Indonesia: Tinjauan Analisis Dekrit Presiden dan Otonomi Daerah, (Jakarta: Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 25.

176 Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009), hlm. 4.

177 Deliar Noer, Pengantar Ke..., hlm. 43.

178 Herbert Feit, Dinamics of..., hlm. 14.

berturut-turut memperoleh 57, 57, 45, dan 39 kursi di Parlemen yang terdiri dari 257 orang anggota. Di antara keempat partai besar itu, Masjumi dan NU merupakan partai Islam. Di samping itu, ada 4 partai kecil berbasis Islam yang juga mendapat kursi di parlemen, yakni Partai Syarikat Islam Indonesia, Perti, Partai Persatuan Tharikat Islam, dan Angkatan Kesatuan Ummat Islam dengan masing-masing 1.091.160 suara (2,9%, 8 kursi), 483.014 suara (1,3%, 4 kursi), 85.131 suara (0,2%, 1 kursi), dan 81.454 suara (0,2%, 1 kursi).179 Untuk membentuk kabinet yang solid dan kokoh, kelemahan itu coba disiasati dengan membangun koalisi antar partai politik yang meraih kursi di parlemen. Sayangnya koalisi yang dibangun atas dasar pragmatisme politik telah melahirkan kesepakatan rapuh yang sewaktu-waktu dengan mudah retak, digoyang oleh konsekuensi ditariknya dukungan oleh partai politik penyokongnya di parlemen. Sebab semua pemerintahan pada dasarnya bersifat koalisi, karena itu pergeseran dukungan dari kelompok yang kecil sekali cukup untuk menimbulkan perimbangan baru dalam parlemen. Krisis kabinet biasa terjadi setiap saat akibat soal-soal kecil yang dipermasalahkan beberapa orang wakil yang akhirnya menimba keuntungan dari krisis tersebut. Kekurang mantapan kabinet sebagian berasal pula dari kenyataan, bahwa ia merupakan sebuah koalisi yang bisa digoyahkan oleh pertikaian-pertikaian yang terjadi antara partai-partai politik yang mendukungnya180 Rupanya memang begitu, perangai mudah berkonflik masih melekat kuat, sehingga kabinet sering mengalami kesulitan mencapai konsensus.181

Tidak jauh berbeda dengan hasil pemilu pertama untuk memilih anggota DPR, maka pemilu kedua yang berlandaskan pada UU No. 7 Tahun 1953 ialah memilih anggota Konstituante juga

179 Muhammad Iqbal, “Isu Dasar...,” hlm. 147.

180 Rusadi Kantaprawira, Sistem Politik..., hlm. 86.

181 Mas’oed dan MacAndrews, Perbandingan Sistem Politik, (Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press, 2006), hlm. 55-56.

46 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

tidak memperlihatkan keberhasilan partai politik dalam memenang-kan mayoritas kursi di badan tersebut. Padahal Konstituante memegang peran yang sangat strategis dan fundamental bagi kelangsungan Republik Indonesia ke depannya. Sebab Pasal 134 UUDS 1950182 menempatkan Konstituante sebagai lembaga penyusun konstitusi baru yang bersifat permanen bagi Indonesia.

Oleh karena itu, dalam pelantikan anggota Konstituante yang berlangsung dan bertempat di Gedung Merdeka pada Tanggal 10 November 1956, Presiden Soekarno telah berpesan kepada Konstituante agar secepat mungkin menyusun undang-undang dasar baru dan tidak lagi mengulur-ngulur waktu. Konstituante diharapkan dapat membuat undang-undang dasar yang benar-benar mencerminkan kepentingan rakyat Indonesia. Setelah itu mulailah diadakan usaha untuk menyusun undang-undang dasar baru sama sekali dengan dibentuknya lembaga Konstituante yang secara khusus ditugaskan untuk membentuk konstitusi baru.183 Lembaga Konstituante pun mulai bergerak melakukan tugas-tugasnya untuk mengkonstruksikan dan menetapkan UUD baru bagi Indonesia.

Semenjak itu, Konstituante menjadi medan perdebatan yang tidak berkesudahan, medan pertarungan bagi partai-partai dan pemimpin-pemimpin politik mengenai persoalan-persoalan prinsipil.184 Padahal perdebatan-perdebatan terhadap masalah-masalah pokok lainnya yang menjadi tugas badan itu, (seperti masalah bentuk dan

182 Lihat Bab V Konstituante Pasal 134 berbunyiKonstituante (Sidang Pembuat Undang-undang Dasar) bersama-sama dengan Pemerintah selekas-lekasnya menetapkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang akan menggantikan Undang-undang Dasar Sementara ini

183 Jimly Asshiddiqie, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, (Jakarta:

Kelompok Gramedia, 2009), hlm. 291.

184 Ismail Suny, Pergesaran Kekuasaan Eksekutif, (Jakarta: Bumi Aksara, 1986), hlm. 191.

batas negara) berjalan cukup lancar, tetapi sekali tentang dasar negara disentuh, iklim politik dalam sidang menjadi hangat.185

Pada mulanya, dalam majelis konstituante ada tiga rancangan dasar negara yang diajukan oleh tiga fraksi, yaitu Pancasila, Islam, dan sosial ekonomi. Namun yang menjadi topik paling menarik untuk dibahas adalah tarik ulur antara kelompok yang mendukung Pancasila dengan kelompok yang mengusung Islam. Kelompok nasionalis mempertahankan agar dasar negara tetap Pancasila dengan susunan sila seperti terdapat dalam pembukaan UUD1945, sedang kelompok Islam berjuang keras agar Islam menjadi dasar negara Indonesia.186 Kemudian sebuah isu sentral pun muncul, apakah negara ini sebaiknya seperti Masyumi meminta terutama didasarkan atas Islam atau apakah, seperti PNI mengajukan pandangannya, dasar keagamaan itu sebaiknya yang telah ada dalam Pancasila itu, yang hanya menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa.187 The debates on political and philosophical prinsiples inevitably provoked in the writing of any constitution, revealed the Constituen Assemblya as a whole as devide of any two: onne group wanting on Islamic basis for the state, the other demanding the acceptence of the Pancasila.188 Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa permasalahan yang dihadapi pada masa sidang Konstituante berlangsung, di mana diperdebatkan mengenai

185 Mahmud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2001), hlm. 3.

186Heni Wahyu Widayati, “ Dialog Pemikiran Tentang Islam dan Negara Di Indonesia Diawal Kemerdekaan”, Jurnal Dakwah, Vol. X, No. 2 (Juli-Desember, 2009), hlm. 222.

187 Herbert Feit, Dinamics of..., hlm.16.

188 H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Djakarta 22 Juni 1945 Dan Sejarah Konsensus Nasional Antara Nasionalis Islami dan Nasionalis Sekuler Tentang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945-1959, (Jakarta: CV Rajawali, 1986), hlm. 86.

48 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

dasar negara yang akan berlaku seterusnya bagi negara Indonesia.189

Perdebatan dengan adu argumentasi tingkat tinggi pun selalu mewarnai dan menghiasi sidang-sidang Konstituante.

Sebagaimana disampaikan di atas, bahwa umumnya, perdebatan yang mengemuka dalam sidang Konstituante berkisar pada ideologi yang ingin diperjuangkan sebagai dasar negara Indonesia. Pada waktu itu, ideologi dapat dibedakan lagi atas Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme.190 Semakin lama perjalanan sidang Konstituante, perdebatan mengenai dasar negara bukannya mengkerucut pada sebuah solusi yang dapat diterima dan disepakati semua pihak. Sebab dari waktu ke waktu intensitas konflik ideologis bukannya mereda, melainkan bertambah runcing dan semakin tidak jelas ujung pangkalnya. Konstituante selama dua setengah tahun lebih bersidang belumlah mampu menghasilkan konstitusi baru sebagai pengganti UUDS 1950. Konstituante malah menjadi medan pertarungan ideologis yang sengit dan tidak berkesudahan diantara tokoh bangsa menyangkut persoalan yang bersifat prinsipil. Tentunya persidangan Konstituante yang berlarut-larut tentang dasar negara mengkhawatirkan kondisi politik Indonesia. Karena tak kunjung selesai, maka pada tanggal 22 April 1959 di depan DPR, Presiden berpesan agar Konstituante menetapkan UUD 1945 saja sebagai konstitusi.191 Pada tanggal 22 April 1959, konsepsi Pemerintah tanggal 19 Februari tentang kembali kepada UUD 1945 itu, dengan amanat Presiden yang berjudul: Res Publica, Sekali lagi res publica, disampaikan kepada sidang pleno Konstituante di Bandung, supaya UUD 1945 oleh

189 Hardono Hadi, Hakikat dan Muatan Filsafat Pancasila, (Yogayakarta:

Kanisius, 1994), hlm. 37.

190 Rusadi Kantaprawira, Sistem Politik..., hlm. 80.

191 Fatmawati, Struktur dan Fungsi Legislasi Parlemen Dengan Sistem Multikameral: Studi Perbandingan antara Indonesia dan Berbagai Negara, (Jakarta: UI Pres, 2010), hlm. 89.

Konstituante ditetapkan sebagai UUD RI menggantikan UUDS 1950.192

Menanggapi pidato Soekarno tersebut, Konstituante kemudian mengadakan pemungutan suara untuk menentukan sikap apakah akan langsung menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi permanen yang menggantikan UUDS 1950. Setelah Konstituante melakukan pemungutan suara sampai tiga kali ternyata tidak kunjung memenuhi qourom, seperti yang diminta UUDS 1950.

Artinya ambang batas jumlah suara yang semestinya dicapai Konstituante untuk mengambil keputusan tidak terpenuhi. Oleh karena itu, kedua golongan yang saling berhadap-hadapan tidak berhasil mencapai kompromi. Padahal sejak semula sudah bisa diduga tanpa suatu kompromi politik, Konstituante akan gagal dalam mengambil keputusan. Mengapa? Tidak lain disebabkan, baik partai Islam (Masyumi, NU, Perti, PTII) maupun partai-partai pendukung dasar negara Pancasila, sama-sama tidak memenuhi syarat suara minimal untuk memenangkan sikap tentang UUD 1945.193 Kegagalan Konstituante dalam menetapkan UUD baru sangat tampak, karena dari ketentuan yang terdapat dalam UUD Sementara 1950 jelas, bahwa undang-undang dasar baru tidak mungkin akan ditetapkan, kecuali apabila ada kompromi politik diantara golongan-golongan (fraksi-fraksi) yang ada dalam Konstituante. Dan Kompromi selalu dimungkinkan terhadap hal-hal yang tidak mendasar. Akan tetapi terhadap hal-hal-hal-hal yang bersifat mendasar kompromi sukar dicapai.194

Tidak tercapainya titik temu tentang dasar negara dalam persidangan Konstituante lambat laun memunculkan implikasi destruktif terhadap perkembangan masyarakat. Karena perbedaan pendapat yang cukup tajam mengenai dasar negara sudah terang

192 C.S.T. Kansil dan Christine S.T Kansil, Pancasila dan..., hlm. 96.

193 Mahmud MD, Politik Hukum..., hlm. 30.

194 Sri Soemantri, Bunga Rampai..., hlm. 60.

50 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

akan mendatangkan akibat-akibat negatif bagi masyarakat.195 Karena semakin lama pertikaian ideologis ditubuh Konstituante rupanya merambat dan menjalar ke masyarakat yang notabene adalah akar rumput dalam politik. Masyarakat yang sejatinya berada di luar arena politik ternyata ikut terseret ke dalam pusaran konflik ideologis yang berpotensi membahayakan integrasi bangsa Indonesia. Atas dasar itu, Presiden Soekarno secara subjektif menilai adanya bahaya yang mengancam keutuhan negara Proklamasi Indonesia. Penilaian tersebut memperoleh pijakan kuat, menyusul munculnya pernyataan politik dari Partai Masyumi yang memboikot sidang Konstituante. Berarti Konstituante tidak akan sempurna lagi dalam melaksanakan tugas-tugasnya untuk menyusun dan menetapkan undang-undang dasar baru bagi Indonesia. Sayang sekali, badan konstituante yang sudah terbentuk berkat pemilihan umum yang demokratis pada tahun 1955 ternyata tidak dapat bekerja sampai menghasilkan undang-undang dasar baru negara Republik Indonesia.196 Setelah bersidang selama lebih kurang dua setengah tahun, Konstituante ini belum menghasilkan kata tentang UUD karena ―ketidaksepakatan‖ tentang dasar negara.197 Situasi ini kemudian memicu munculnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang isinya, yaitu (1) menetapkan Pembubaran Konstituante, (2) menetapkan berlakunya UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950, (3) pembentukan MPRS dan DPAS.198

195 Notosusanto dkk, Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1985), hlm. 3.

196 Riski Febria Nurita, “Dinamika Perkembangan...

‘, hlm. 210.

197 Moh. Mahmud MD, “Politik Hukum...”, hlm.130.

198 Winarno, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2015), hlm. 79.