BAB II PERJALANAN SINGKAT PANCASILA
D. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945
Tantangan terhadap Pancasila muncul kembali pasca runtuhnya dinasti yang dikonstruksi Soeharto melalui tangan besinya. Kurang lebih 32 tahun Pancasila berada di bawah cengkeraman Orde Baru dengan penafsiran monolitiknya. Selama itu pula Pancasila diperalat dan diperdaya untuk menginjeksikan pengaruhnya di masyarakat. Selain diinternalisasikan, Pancasila juga dijadikan alat legitimasi rezim yang oleh banyak pihak dinilai
330 J. Tjiptabudy, “Kebijakan Pemerintah Dalam Upaya Melestarikan Nilai-Nilai Pancasila Di Era Reformasi”, Jurnal Sasi, Vol.16. No.3, (Juli –September, 2010), hlm. 1.
100 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
otoritarian.331 Pancasila menjadi sarana justifikasi bagi kesewenang-wenangan penguasa untuk membungkam sikap kritis rakyatnya. Arogansi tindakan penguasa dengan dalih menjaga Pancasila pada gilirannya mengundang kebencian rakyat Indonesia terhadap Pancasila itu sendiri. Saking lamanya Soeharto menduduki singgasana kursi kepresidennya telah membuat dan mengubah watak pemerintahannya menjadi otoriter. Model kekuasaan Orde Baru yang otoriter dan diktaktor itu pada gilirannya melahirkan ketidakpuasan dikalangan rakyat Indonesia.
Mahasiswa sebagai agen perubahan (agen of change) pun mulai tergerak hati nuraninya untuk mengadakan perombakan terhadap sistem politik Indonesia. Demonstrasi merupakan strategi reformis yang ditempuh mahasiswa untuk menuntut Presiden Soeharto melepaskan kekuasaannya. Setelah mengadakan aksi demonstrasi besar-besaran diberbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia, tuntutan dan desakan mahasiswa agar Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya akhirnya berbuah manis.
Karena pada 21 Mei 1998 Soeharto merespon dan memenuhi tuntutan mahasiswa melalui pidato pengunduran dirinya sebagai Presiden Indonesia yang langsung disampaikannya di Istana Kepresidenan.
Presiden Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI dan digantikan oleh B.J. Habibie yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden.332 Sejak saat itu, Orde Reformasi dan babak baru perkembangan demokrasi di Indonesia dimulai.333 Pada periode ini sebenarnya sebagai transisi dari pemerintahan otoriter menuju pemerintahan yang demokratis. Para ilmuwan politik menyebut
331 A Salman Maggalatung, “Mari Selamatkan Pancasila”, Adalah Buletin Hukum dan Keadilan, Vol. 1 No. 12d, (2017) , hlm. 119.
332 Wikrama Iryans Abidin, Politik Hukum Pers Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2005), hlm.55.
333 M. Elly Setiadi, Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010), hlm. 49.
masa tersebut dengan masa transisi. Masa di mana muncul setelah rezim otoriter runtuh.334 Melihat demokratisasi di Indonesia, runtuhnya rezim otoriter Soeharto pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai langkah awal Indonesia dalam memasuki arus demokratisasi. Perubahan karakter/watak pemerintahan Indonesia menandakan demokratisasi sedang mengarah pada perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan sistem pemerintahan otoritarian menjadi demokrasi ini membawa harapan akan terciptanya tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih baik.335 Haruslah diakui, bahwa terlepas dari keberhasilannya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintahan Orde Baru telah gagal menciptakan sistem politik dan kehidupan bernegara demokratis.336 Sistem dan tatanan politik selama Orde Baru diakui keandalannya dalam melahirkan stabilitas politik – yang oleh penguasa Orde Baru dinyatakan sebagai prasyarat mutlak untuk mewujudkan stabilitas dan kemakmuran ekonomi–justru menjadi faktor yang mendestruksi hampir semua capaian yang dihasilkan oleh pemerintahan Orde Baru, termasuk pembangunan ekonomi.337 Lebih lanjut, memasuki pasca pemerintahan Orde Baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan era reformasi, tuntutan perubahan di semua sektor kehidupan tak terelakan lagi. Ada tiga aspek yang menuntut perubahan lebih cepat, yaitu aspek politik,
334 Sekjen Bawaslu RI, 2015, Kajian Sistem Kepartaian, Sistem Pemilu, dan Sistem Presidensil, Jakarta: Bawaslu RI.
335 Muhammad Ridha T.R, “Dilema Pelembagaan Partai Golongan Karya (Golkar) Di Tingkat Lokal: Fenomena Politik Klan”, Jurnal Ilmu Pemerintahan Cosgomov, Vol. 2, No. 1 (April, 2016), hlm. 163.
336 Inu Kencana dan Azhary, Sistem Politik Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm. 123.
337 Masyrofah, “Arah Perubahan Sistem PemiluDalam Undang-Undang Politik Pasca Reformasi (Usulan Perubahan Sistem Pemilu dalam Undang-Undang Politik Pasca Reformasi)”, Jurnal Cita Hukum, Vol. I, No. 2 (Desember, 2013), hlm. 164.
102 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
ekonomi, dan hukum.338 Jika melihat agenda awal reformasi, perubahan-perubahan itu tentu saja adalah konsekuensi logis dari reformasi yang menginginkan perubahan secara menyeluruh pada segala aspek kehidupan (total reform).339
Pada awal pergerakan reformasi berkembang populer tuntutan perjuangan disebagian besar kalangan rakyat Indonesia mengenai persoalan-persoalan mendasar yang harus direspon dan segera diwujudkan. Adapun tuntutan perjuangan reformasi rakyat Indonesia, yaitu.
1. Amandemen UUD 1945.
2. Penghapusan Dwifungsi ABRI.
3. Penegakan Supremasi Hukum, penghormatan Hak Asasi Manusia (HAM), dan Pemberantasan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
4. Otonomi daerah yang seluas-luasnya (desentralisasi dan hubungan yang adil antara pusat dan daerah).
5. Mewujudkan kehidupan demokrasi termasuk kebebasan pers.340
Sebut saja reformasi di bidang hukum berusaha menegakan supremasi hukum.341 Untuk mencapai tujuan itu, tidak tanggung-tanggung, UUD 1945 pun menjadi target perubahan.
Padahal ide Perubahan UUD 1945 pernah digaungkan pasca Orde Lama runtuh tetapi tenggelam setelah Orde Baru naik ke panggung kekuasannya. Gagasan Perubahan UUD 1945 kembali muncul
338 Salim, Pengantar Hukum Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 3.
339 Agustinus Edward Tasma dan Heru Santosa, Polemik Epistemologi Pancasila Dan Demokrasi Yang Konstruktif Beserta Implementasi, Humanika, Vol. 6, No. 1, (Maret, 2006).
340 Dewa Gede Atmadja, Hukum Konstitusi: Perubahan Konstitusi Sudut Perbandingan, (Denpasar: Bali Age, 2006), hlm. 70.
341 Muhammad Muhtarom, “Perkembangan Lembaga Peradilan Indonesia Di era Reformasi”, Ishraqi, Vol. 4, No.2, (Juli-Desember, 2008), hlm.
146.
dalam perdebatan pemikiran ketatanegaraan dan menemukan momentumnya pada era reformasi.342 Rencana strategis yang ingin diwujudkan melalui gelombang reformasi besar-besaran adalah dengan mengubah UUD 1945 yang merupakan tatanan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab dengan dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945, secara tidak langsung akan mengubah tata kehidupan politik, kepemerintahan, dan kenegaraan Indonesia.343 Justru dari sinilah persoalan ideologi mulai muncul bersamaan dengan menyeruaknya gagasan reformasi konstitusi Indonesia. Euforia reformasi konstitusi tampaknya semakin menggelora di hati sanubari bangsa Indonesia yang memang sangat jenuh dengan praktek menyimpang di masa Orde Baru. Di tengah suasana euforia itulah, ideologi-ideologi yang hampir mati mendapat ruang gerak baru.344 Pada awal reformasi itu yang menjadi isu sentral umat Islam adalah bagaimana memaksimalkan tuntutan Islam dalam kerangka rule of law dan negara konstitusional, yaitu memulihkan Piagam Jakarta secara demokratis. Dapat dikatakan, bahwa mendorong pulihnya Piagam Jakarta itulah yang menjadi raison d’etre partai-partai Islam pasca Soeharto. Mereka meyakini, bahwa pemulihan Piagam Jakarta merupakan landasan konstitusional bagi pelaksanaan syari‘at Islam di Indonesia.345 Memang di awal-awal era reformasi sempat muncul gagasan dan perdebatan dalam konteks amandemen UUD 1945 untuk memasukkan semangat Piagam Jakarta atau pelaksanaan syariat Islam dalam konstitusi.346 Gagasan konseptual
342 Jimly Asshiddiqie, Implikasi Perubahan UUD 1945 Terhadap Pembangunan Nasional, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi, 2005), hlm. 6.
343 H. Obsatar Sinaga, Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik:
Implementasi Kerjasama Internasional, (Bandung: Lepsindo, 2010), hlm. 47.
344 Muhammad Aziz Hakim, Repositioning Pancasila...,hlm. 133.
345 Muhamad Isyam, “Ki Bagus..., hlm. 2.
346 Masykuri Abdillah, “Hubungan Agama dan Negara Dalam Konteks Modernisasi Politik Di Era Reformasi“, Ahkam, Vol. XIII, No. 2, (Juli, 2013), hlm.
250.
104 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
untuk memasukan Islam sebagai ideologi negara melalui Perubahan UUD 1945 memperoleh dukungan dari berbagai ormas dan partai Islam yang ada. Peran ideologi politik juga tercermin dari upaya ormas-ormas Islam dan dua partai Islam, yaitu PPP dan PBB, untuk memasukkan tujuh kata, yaitu kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya, sebagaimana yang ada dalam Piagam Jakarta, ke dalam Pasal 29 (1) UUD 1945. Kedua partai itu, dengan sokongan beberapa ormas Islam menggunakan ajang Sidang Tahunan MPR tahun 2000 untuk menyuarakan ke-pentingannya. Munculnya organisasi-organisasi Islam sebagaimana yang disebutkan di atas, merupakan reaksi terhadap situasi sosial keagamaan dan politik yang dalam pandangan mereka tidak sesuai dengan Islam atau kepentingan kaum muslim.347 Meski tampak sadar akan minimnya dukungan fraksi lain dalam MPR, kedua partai tersebut, dengan dorongan ideologi yang kental, tetap berupaya memperjuangkan perubahan Pasal 29 (1) UUD 1945 itu.348 Bagi kelompok Islam Politik, Pancasila dianggap sebagai sebuah ideologi yang dimaksudkan untuk menghalangi penerapan syariah Islam di Indonesia. Pandangan ini bersumbu pada nalar kuantitatif bahwa Islam adalah penduduk mayoritas di Indonesia, sehingga penerapan syariat Islam bagi pemeluknya sebagaimana terangkum dalam ―tujuh kata‖ pada Piagam Jakarta, adalah sebuah keniscayaan.349 Isu Piagam Jakarta dalam amandemen menjadi isu politik yang banyak diperbincangkan, khususnya kalangan Islam yang secara sosiologis merupakan penduduk masyoritas (88 persen) menghendaki Piagam Jakarta dimasukan dalam
347Idrus Ruslan , “Membangun Kehidupan Harmonis Berbangsa Dan Bernegara Dengan Nilai Islam Dalam Pancasila“, Jurnal TAPIs, Vol. 9, No. 2, (Juli-Desember, 2013), hlm. 3
348 Firman Noor, “Perilaku Politik Pragmatis Dalam Kehidupan Politik Kontemporer:Kajian Atas Menyurutnya Peran Ideologi Politik Di Era Reformasi”, Masyarakat Indonesia, Vol. 40, No.1, (Juni, 2014), hlm. 64.
349 Andar Nubowo, “Islam dan Pancasila...”, hlm. 62.
amandemen, sementara kekuatan nasionalis menentang keinganan tersebut.350
Pertentangan antara kelompok nasionalis dengan kelompok agamis dibungkus rapi dalam bentuk sikapnya mengenai ide Perubahan UUD 1945. Tidak mengherankan bila sejak awal terjadi silang pendapat dan perdebatan politik terkait urgensi diadakannya Perubahan UUD 1945. Disatu pihak Perubahan UUD 1945 dipandang sebagai solusi fundamental untuk melaksanakan pembaharuan kehidupan bernegara yang sebelumnya mengandung ciri otoriter menuju pemerintahan yang lebih demokratis. Banyak ketentuan UUD 1945 yang dipandang melemahkah hak rakyat untuk mengontrol jalannya pemerintahan, sehingga mengakibatkan kesewenang-wenangan perilaku penguasa. Adapun alasan rasional yang dikemukakan mengenai perlunya Perubahan UUD 1945 dapat diformulasikan sebagai berikut.
1. Memuat Ketentuan yang memfokuskan kekuasaan pada lembaga eksekutif (executive heavy) yang dipimpin oleh Presiden. Selain sebagai kepala eksekutif secara praktis presiden menjadi ketua legislatif, karena jika presiden tidak mau menandatangani sebuah rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Pemerintah, maka rancangan undang-undang tersebut tidak dapat berlaku.
2. Memuat ketentuan-ketentuan yang berwayuh arti, multi tafsir (multi interpretabale) yang karena sistemnya adalah executive heavy, maka penafsiran konstitusi yang harus diterima sebagai kebenaran
350 Syaifruddin Jurdi, Kekuatan-Kekuatan Politik Di Indonesia, https://books.google.co.id/books?id=RdxDDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq
=pERKEMBANGAN+PARTAI+POLITIK+KOMUNIS&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwi2iL 3EwJbmAhWHT30KHYDlCqM4FBDoAQgtMAE#v=onepage&q=pERKEMBANGAN
%20PARTAI%20POLITIK%20KOMUNIS&f=false, (02 Desember 2019, 16;15).
106 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
adalah penafsiran yang dibuat atau dianut oleh presiden.
3. Terlalu banyak memberi atribusi kewenangan kepada lembaga legislatif untuk mengatur hal-hal yang sangat penting dengan undang-undang tanpa adanya limitasi yang tegas di dalam UUD 1945, padahal presiden sangat dominan dalam proses pembentukan undang-undang. Banyaknya atribusi kewenangan yang diolah di dalam executive heavy inilah yang menyebabkan isi undang-undang lebih banyak didominasi oleh kehendak presiden yang secara terus-menerus meng-akumulasikan kekuasaannya.
4. Terlalu percaya pada semangat orang sebagaimana dinyatakan sendiri dalam penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen. Di dalam Penjelasan UUD 1945 tersebut dinyatakan, bahwa Undang-Undang Dasar (konstitusi tertulis) tidaklah terlalu penting, yang lebih penting adalah semangat penyelenggara negara, jika semangat penyelenggara negara baik, maka negara akan baik. Pernyataan itu benar sebagian, tetapi kurang benar untuk seluruhnya.351
Adapun MPR sebagai lembaga negara yang berwenang melakukan Perubahan UUD 1945 mempunyai pandangan tersendiri mengenai perlunya UUD 1945 diubah, yaitu:352
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 membentuk struktur ketatanegaraan yang
351 Mahmud MD, Politik Hukum..., hlm. 378-379. Firman Noor, “Perilaku Politik Pragmatis Dalam Kehidupan Politik Kontemporer:Kajian Atas Menyurutnya Peran Ideologi Politik Di Era Reformasi”, Masyarakat Indonesia, Vol. 40, No.1, (Juni, 2014), hlm. 64.
352 Sekretariat Jenderal MPR RI, Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (Jakarta: Setjen MPR RI, 2011), hlm. 9-12.
bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat. Hal itu berakibat pada tidak terjadinya saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances) pada institusi-institusi ketatanegaraan. Penyerahan kekuasa-an tertinggi kepada MPR merupakkekuasa-an kunci ykekuasa-ang menyebabkan kekuasaan pemerintahan negara seakan-akan tidak memiliki hubungan dengan rakyat.
2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (presiden).
Sistem yang dianut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah dominan eksekutif (executive heavy), yakni kekuasaan dominan berada di tangan presiden. Pada diri presiden terpusat kekuasaan menjalankan pemerintahan (chief executive) yang dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang lazimnya disebut hak prerogatif (antara lain memberi grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasaan membentuk undang-undang. Hal itu tertulis jelas dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang berbunyi presiden adalah penyelenggara pemerintah negara tertinggi di bawah Majelis. Dua cabang kekuasaan negara yang seharusnya dipisahkan dan dijalankan oleh lembaga negara yang berbeda tetapi nyatanya berada di satu tangan (presiden) yang menyebabkan tidak bekerjanya prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi (checks and balances) dan berpotensi mendorong kekuasaan yang otoriter.
3. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengandung pasal-pasal yang terlalu
108 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
―luwes‖, sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu tafsiran (multitafsir), misalnya Pasal 7 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (sebelum diubah) yang berbunyi ―Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali‖. Rumusan pasal itu dapat ditafsirkan lebih dari satu, yakni pertama, Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih berkali-kali dan tafsir kedua adalah bahwa Presiden dan Wakil Presiden hanya boleh memangku jabatan maksimal dua kali dan sesudah itu boleh dipilih kembali. Contoh lain adalah Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (sebelum diubah) yang berbunyi ―Presiden ialah orang Indonesia asli‖, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak memberikan penjelasan dan memberikan arti apakah yang dimaksud dengan orang Indonesia asli. Akibat rumusan itu membuka tafsiran beragam, antara lain, orang Indonesia asli adalah warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia atau warga negara Indonesia yang orang tuanya Indonesia.
4. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terlalu banyak memberikan kewenangan kepada kekuasaan presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan undang-undang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menetapkan, bahwa presiden juga memegang kekuasaan legislatif, sehingga presiden dapat merumuskan hal-hal penting sesuai dengan kehendaknya dalam undang-undang.
Hal itu menyebabkan pengaturan mengenai MPR, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), HAM, dan pemerintah daerah disusun oleh kekuasaan
presiden dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang ke DPR.
5. Rumusan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang semangat pe-nyelenggara negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yanng memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan hak asasi manusia (HAM), dan otonomi daerah. Hal itu membuka peluang bagi praktek penyelenggaraan negara yang tidak sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, antara lain, sebagai berikut.
a. Tidak adanya saling mengawasi dan saling mengimbangi (checks and balances) antar lembaga negra dan kekuasaan terpusat pada presiden.
b. Infrastruktur yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi masyarakat, kurang mempunyai kebebasan berekspresi, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
c. Pemilihan umum (pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan demokrasi formal, karena seluruh proses dan tahapan pelaksanaannya dikuasai oleh Pemerintah.
d. Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak tercapai, justru yang berkembang adalah sistem monopoli, oligopoli, dan monosopni.
Urgensi UUD 1945 diubah dikemukakan kembali oleh Harun Kamil selaku Ketua PAH III, yang dalam sidang memberikan pandangannya, yaitu.
Kita menyadari bahwa betapa pentingnya amandemen Undang-Undang Dasar 1945 karena merupakan salah satu
110 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
agenda reformasi, juga kita mengetahui latar belakang daripada keinginan untuk mengubah ini adalah karena dianggap Undang-Undang Dasar 1945 ini sementara terlalu executive heavy, jadi ada pengaturan tentang lembaga-lembaga tertinggi negara dan banyak hal mengenai masalah HAM, yang perlu diperluas yang membuat latar belakang dan tujuannya adalah bagaimana supaya nanti dapat terciptanya suatu sistem politik demokratis yang kuat dan memberikan kesempatan adanya kedaulatan rakyat dan wujud demokrasi dan juga supremasi hukum dan terselenggaranya pemerintahan yang baik, untuk mewujudkan cita-cita kita untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.353
Bila ditelusuri lebih jauh lagi jejak sejarah pembahasan Undang-Undang Dasar 1945 yang dilaksanakan PPKI jelaslah ketentuan Pasal 3 itu memberikan tugas kepada MPR untuk menyusun Undang-Undang Dasar baru, karena Undang-Undang Dasar yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 itu memang dimaksudkan sebagai undang-undang dasar yang sifatnya sementara.354 Pendapat tersebut bersandarkan pada fakta historis, bahwa Sidang PPKI yang diketuai Soekarno dengan tugas mengesahkan undang-undang dasar (konstitusi) yang dalam satu kesempatannya menyampaikan, bahwa ;
Undang-Undang Dasar yang dibuat sekarang ini, adalah Undang-Undang Dasar Sementara. Kalau boleh saya memakai perkataan itu adalah Undang-Undang Dasar kilat. Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana
353 Sekretariat Jenderal MPR RI, “Buku Kedua Jilid 6: Risalah Rapat Badan Pekerja Panitia Ad Hoc III Sidang Umum MPR RI”, (Jakarta: Sekjen MPR RI, 1999), hlm. 2.
354Philius M. Hadjon, Lembasga-Lembaga Tertinggi Negara Menurut Undang-Undang Dasar 1945: Suatu Analisis Hukum dan Kenegaraan, (Surabaya:
PT Bina Ilmu, 1987) , hm. 5.
yang lebih tentram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang Dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna. Tuan-tuan tentu mengerti, bahwa ini adalah sekedar Undang-Undang Dasar Sementara, Undang-Undang Dasar kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grondwet.355
Penggalan Soekarno tersebut acap kali digunakan sebagai dasar pembenaran, bahwa para Perumus UUD 1945 (the framer of 1945 Constitution) menyatakan UUD 1945 bersifat sementara.356 Pada UUD 1945 itu, para pendiri bangsa ini sebenarnya telah memprediksi adanya pergantian zaman. Mereka menciptakan landasan dasar UUD 1945 itu agar bisa mengikuti pergantian zaman dengan mempersiapkan salah satu pasal dan ayat sedemikian rupa, sehingga dapat dijadikan sarana untuk menyesuaikan isi Undang-Undang Dasar 1945 dengan kebutuhan dan keadaan zaman.357
Dipihak lain, kelompok yang bersikukuh mempertahankan UUD 1945 beralasan, bahwa bukan UUD 1945 yang seharusnya dikambing hitamkan atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa.
Jadi watak sistem pemerintahan sebelumnya yang otoriter dan diktaktor tidak sepenuhnya menjadi kesalahan UUD 1945, melainkan karena kepribadian penguasanya.
Secara garis besarnya konfigurasi politik dalam proses amandemen UUD 1945 melahirkan tiga kekuatan utama, yakni:
355 Mahkamah Konstitusi, Naskah Komperhensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002 (Buku I , Latar Belakang, Proses, dan Hasil Perubahan UUD 1945), (Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan MK, 2010), hlm 38.
356 Sri Soemantri, Prosedur dan..., hlm. 74.
357 Alwi Pribadi Machmmudin, Kandidat Seorang Presiden dan Sebuah Konsep, (Jakarta: Adam Malik Center, 2003), hlm. 19.
112 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd
a. Kelompok yang menolak sama sekali amandemen UUD 1945 yang umumnya didominasi oleh kalangan nasionalis tua para eksponen PNI dan Angkatan ‘45 serta sebagian purnawirawan TNI.
b. Kelompok yang menghendaki pembuatan UUD baru untuk mengganti UUD 1945 yang dianggap sebagai konstitusi yang tidak demokratis. Kelompok ini umumnya didominasi oleh kalangan NGO dan elemen masyarakat sipil lainnya, termasuk sebagian kalangan akademisi, seperti yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Konstitusi Baru.
c. Kelompok yang mengambil jalan tengah dengan melakukan perubahan atas beberapa ketentuan UUD 1945 tetapi tetap mempertahankan UUD 1945 yang asli. Kelompok ini lebih beragam meliputi kalangan akademisi,masyarakat sipil, purnawirawan TNI, tokoh agama, hingga aktivis pro-demokrasi. Misalnya, kelompok Majelis Bersama untuk Keselamatan Bangsa(MBKB) yang dimotori di antaranya oleh Adnan Buyung Nasution, Jenderal (Purn) Wiranto, Sholahudin Wahid, Prof. Sri Soemantri, Hariman Siregar dan Mulyana W. Kusumah.358
Pada hakekatnya sumber utama penolakan terhadap Perubahan UUD 1945, karena dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, yang juga merupakan pemersatu rakyat. Apalagi ―Pembukaan UUD 1945 mengandung Staatsidee berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tujuan (haluan) negara serta dasar negara yang
358 Aidul Fitriciada Azhari, “Evaluasi Proses Amandemen UUD 1945: Darri Demokratitasi Ke Perubahan Sistem”, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 9, No. 2, (September, 2006), hlm. 162.
harus tetap dipertahankan.359 Adapun kekhawatiran sebagian kalangan bila UUD 1945 benar-benar diubah, kemungkinan besar terjadi konflik politik berkepanjangan yang tidak berkesudahan.
Secara historis-empiris, belajar dari pengalaman Konstituante yang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya untuk menyusun dan menetapkan UUD permanen bagi Indonesia, karena tersandung permasalahan dasar negara. Mengingat dasar negara merupakan persoalan paling rumit yang harus dicarikan solusi untuk memperoleh konsensus tokoh bangsa. Trauma mendalam masa lalu atas problematika fundamental negara membuat bangsa ini lebih berhati-hati dalam menyikapi gagasan Perubahan UUD 1945.
Karena bisa jadi wacana Perubahan UD 1945 ditumpangi dengan agenda menggantikan Pancasila, yang kemungkinan besar akan berujung pada konflik. Pertentangan ideologis yang terjadi di tengah arus demokratisasi dapat mendorong bangsa Indonesia ke dalam jurang kehancuran. Harus ada jaminan, bahwa Perubahan UUD 1945 tidak akan menyentuh Pembukaan yang di dalamnya memuat Pancasila.
Setelah melalui ketegangan politis dan perjuangan yang panjang, agenda reformasi dalam rangka menyongsong
Setelah melalui ketegangan politis dan perjuangan yang panjang, agenda reformasi dalam rangka menyongsong