• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.3 Pandangan Terhadap Sarana dan Prasarana

Dari hasil penelitian diketahui responden menilai dengan kategori baik; lokasi puskesmas dari segi kemudahan transportasi 96,5 % (55 orang), kebersihan ruangan puskesmas 94,7 % (54 orang), fasilitas dan kenyamanan pada ruang tunggu 56.1 % (32 orang), fasilitas dan kenyamanan ruang periksa 75,4 % (43 orang), kualitas barang habis pakai 87.7 % (50 orang), kelengkapan peralatan laboratorium 50,9 % (29 orang).

Hasil pengkategorian, 94,7 % responden menilai sarana dan prasarana secara keseluruhan dengan kategori baik. Dari pengkategorian berdasarkan penilaian responden tentang sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas Kota Rantauprapat, diperoleh hasil dengan kategori baik yaitu apabila penilaian atau tanggapan responden tentang sarana dan prasarana kesehatan yang diterimanya, menimbulkan penilaian yang baik, karena kebutuhan yang diinginkan sebagian besar terpenuhi. Nilainya >75 % dari nilai maksimalnya.

Dari wawancara mendalam dengan 9 orang informan, 5 orang (55,6 %) mengatakan lokasi Puskesmas tepat dan strategis di tengah kota dan mudah diakses.

Tujuh orang (77,8 %) mengatakan luas bangunan dan halaman parkir, belum baik, masih perlu perluasan. Lapangan parkir, sempit.

Lima orang (55,6 %) mengatakan kelengkapan ruangan, peralatan, mobiler, AC, TV, kebersihan dan penampilan fisik, masih kurang. Ruang tunggu pengambilan kartu, terlalu sempit. Ruang tunggu berobat, tidak ada. Peralatan perlu diperbaharui dan dilengkapi. Obat kurang memadai. Pemakaian obat generik, tidak masalah, asal sesuai dengan penyakit, tidak terkesan murahan dan tidak semua penyakit obatnya sama.

Puskesmas, sebagai sarana pelayanan kesehatan, sesuai fungsinya, sampai saat ini disiapkan untuk memberikan pelayanan medis dasar. Kondisi ini menimbulkan keterbatasan bagi pasien yang menderita jenis penyakit yang tidak dapat ditangani di puskesmas, sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit atau sarana pelayanan yang lebih lengkap. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh puskesmas, terbatas, sesuai dengan maksud didirikannya.

Puskesmas Kota Rantauprapat, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, diatas rata-rata puskesmas yang ada. Namun dengan perkembangan teknologi dan informasi, demand masyarakat juga berkembang.

Dari hasil penelitian baik dari responden maupun dari informan, menjelaskan fenomena ini dengan baik. Responden, yang saat ini merupakan pengunjung setia puskesmas, menilai sarana dan prasarana puskesmas dengan kategori yang baik

(94,7 %), karena kebutuhannya akan sarana dan prasarana puskesmas sebagai pendukung pelayanan, sudah dapat terpenuhi dengan baik. Sementara informan yang 88,9 % nya pernah menjadi pengunjung puskesmas menilai sarana dan prasarana puskesmas masih kurang baik (55,6 %), luas bangunan dan tempat parkir tidak memadai (77,8 %).

Dengan meningkatnya demand masyarakat, yang dipicu oleh perkembangan teknologi dan informasi, memberi isyarat kepada pengambil kebijakan untuk juga membenahi sistem pelayanan dasar yang ada, mengikuti demand masyarakat tersebut. Karena pada hakikatnya, puskesmas sebagai sarana pelayanan dibuat adalah untuk menyahuti kebutuhan masyarakat, bukan untuk kepentingan pembuat kebijakan.

Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan pemerintah, adalah organisasi kesehatan fungsional yang diharapkan menjadi pusat pengembangan kesehatan masyarakat dan dapat membina peran serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. (Depkes, 2004). Pelayanan kesehatan yang menyeluruh adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif dan ditujukan untuk semua golongan umur dan jenis kelamin. Terpadu adalah suatu upaya untuk menyatukan berbagai struktur dan fungsi administratif yang berdiri sendiri sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan. (Depkes, 1999).

Sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama, Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, meliputi Pelayanan Kesehatan Perorangan dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat.

Pelayanan Kesehatan Perorangan, melakukan pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan per orangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan untuk puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya (Depkes RI, 2004).

Harapan peran terhadap kehadiran Puskesmas di atas, akan dapat “dibumikan” bila pelayanan yang ada di Puskesmas sebagai ujung tombak, dapat disesuaikan dengan demand masyarakat. Penyesuaian ini menjadi penting, mulai dari tingkat perencana, pengambil kebijakan, sampai kepada pelaksana dan harus dilaksanakan segera. Kelambanan dalam menyesuaikan dengan demand masyarakat, –atau bila dimungkinkan, merekayasa demand masyarakat–, akan semakin

melebarkan kesenjangan yang terjadi antara supply dan demand pada pelayanan kesehatan. Sehingga yang terjadi adalah “pelanggan setia puskesmas”, semakin lama, semakin berkurang dan puskesmas akan berubah fungsi menjadi Pusat Kesehatan Masyarakat Miskin.

5.4 Pandangan Tentang Tarif

Dari hasil penelitian diketahui, 52,6 % (30 orang) responden menilai tarif puskesmas yang berlaku saat ini, mampu membiayai pelayanan kesehatan sesuai permintaan mereka. Alasan yang dikemukakan (a) Sudah disubsidi pemerintah (22 orang), (b) Tarif sudah sesuai pelayanan (4 orang), (c) Hanya untuk berobat jalan (2 orang), (d) Pelayanan sudah bagus (2).

Selanjutnya, sebesar 36,8 % (21 orang) setuju bila tarif puskesmas yang berlaku sekarang, dinaikkan untuk peningkatan kualitas pelayanan. Alasan yang dikemukakan, (a) Supaya pelayanannya lebih baik dan mutu obat dapat ditingkatkan (13 orang), (b) Setuju dinaikkan tapi tarif tetap terjangkau (5 orang), (c) Supaya dokternya ikut memeriksa dan petugas lebih termotivasi (3 orang).

Hasil pengkategorian, 50,9 % responden menilai tarif secara keseluruhan dengan kategori baik. Dari pengkategorian berdasarkan penilaian responden tentang Tarif di Puskesmas Kota Rantauprapat, diperoleh hasil dengan kategori kurang

baik yaitu apabila penilaian atau tanggapan responden tentang Tarif, menimbulkan

penilaian yang kurang baik karena kebutuhan yang diinginkan sebagian saja yang terpenuhi. Nilainya 40-74 % dari nilai maksimalnya.

Dari wawancara mendalam dengan 9 informan, 8 orang (88,9 %) mengatakan tarif terjangkau masyarakat bawah, tapi terlalu murah untuk menengah ke atas. Sebenarnya, tarif tidak masalah, asal pelayanannya baik. Kalau tidak mampu, pemerintah menyediakan fasilitas Askeskin. Di praktek dokter, orang bersedia membayar mahal, karena puas dengan pelayanannya.

Lima orang (55,6 %) mengatakan karena tarifnya murah, yang datang ke Puskesmas adalah masyarakat menengah ke bawah. Ada kesan, karena tarifnya murah, obatnyapun murah dan lebih rendah sehingga tidak bermanfaat mengobati. Murah identik dengan tidak berkualitas. Kebijakan tarif murah, turut memperkuat kesan tidak baik puskesmas. Untuk memperbaiki kesan tersebut, tarif Puskesmas sebaiknya dinaikkan dengan diikuti peningkatan kualitas obat-obatan dan kualitas pelayanan. Masalah tarif diseimbangkan, dengan melakukan subsidi silang. Puskesmas harus punya jiwa kewirausahaan. Profit penting dalam rangka menghidupkan dan memperbaiki kinerja puskesmas.

Delapan orang (88,9 %) setuju tarif disesuaikan bila ada pelayanan spesialis di puskesmas. Kenaikan tidak masalah, dengan peningkatan kualitas pelayanan yang akan terjadi, tetapi harus lebih murah dari tarif pelayanan swasta.

Pemilihan sarana pelayanan kesehatan, dipengaruhi seberapa jauh efektivitas pelayanan tersebut terhadap penyakit yang diderita, berat ringannya penyakit, jenis sarana dan prasarana, kualitas pelayanan tenaga kesehatan, serta tarif atau kemampuan membayar biaya pelayanan. Kombinasi beberapa faktor tersebut di atas secara serasi akan berpengaruh terhadap angka kunjungan sarana pelayanan tersebut.

Penetapan tarif murah, tidak menjamin angka kunjungan puskesmas akan menjadi baik. Bahkan sebaliknya bisa terjadi, penetapan harga yang lebih tinggi akan meningkatkan angka kunjungan. Hal ini tergantung kepada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan tersebut dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Dari hasil pengkategorian tarif, diperoleh dengan kategori kurang baik yaitu apabila penilaian atau tanggapan responden tentang Tarif, menimbulkan penilaian yang kurang baik karena kebutuhan yang diinginkan sebagian saja yang terpenuhi yaitu 50,9 % (40-74 % ) dari nilai maksimalnya.

Dari informan, 5 orang (55,6 %) mengatakan karena tarifnya murah, yang datang ke Puskesmas adalah masyarakat menengah ke bawah. Sebagian masyarakat enggan datang ke Puskesmas, karena murah dan itu identik dengan tidak berkualitas. Kebijakan tarif murah, turut memperkuat kesan tidak baik puskesmas. Untuk memperbaiki kesan tersebut, tarif Puskesmas sebaiknya dinaikkan dengan diikuti peningkatan kualitas obat-obatan dan kualitas pelayanan.

Hasil yang diperoleh dari responden dan informan memberi informasi bahwa tarif masih perlu perbaikan karena baik responden sebagai representasi kelas menegah ke bawah (dari segi penghasilan dan pendidikan) maupun informan yang merepresentasi kelas menengah ke atas menilai tarif belum sesuai dengan permintaannya. Penetapan tarif yang tepat sesuai permintaan kedua kelompok masyarakat di atas, akan meningkatkan angka kunjungan puskesmas Kota Rantauprapat. Untuk menentukan besaran tarif yang tepat dan sesuai untuk keduanya, membutuhkan studi tersendiri dengan memperhatikan kemampuan dan

kemauan masyarakat dalam membayar (ATP/ WTP), di satu sisi dan biaya sebenarnya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pelayanan yang baik pada sisi lainnya.

Selanjutnya dalam penetapan tarif Puskesmas oleh Pemerintah, sangat tergantung kepada penilaian pemerintah dan kepentingan subjektif pada saat penetapannya. Dengan keluarnya kebijakan pemerintah tentang Askeskin, dimana masyarakat tidak mampu diberi fasilitas berobat gratis, maka tarif puskesmas untuk pelayanan perseorangan sudah bisa difokuskan kepada masyarakat menengah dan atas. Kemampuan dan kemauan dalam membayar masyarakat bawah sudah tidak menjadi pertimbangan dalam penentuan tarif, karena kelompok masyarakat ini memperoleh pelayanan dengan tanpa biaya. Berapapun tarif yang ditetapkan, tidak menjadi masalah bagi berlangsungnya pelayanan terhadap masyarakat dalam kelompok Askeskin.

Permintaan informan terhadap peningkatan kualitas pelayanan, dengan pengadaan pelayanan spesialis di Puskesmas, dengan tarif yang disesuaikan, cukup tinggi (88,9 %). Sementara responden hanya sebesar 36,8 % yang setuju bila tarif dinaikkan untuk peningkatan kualitas pelayanan.

Hal ini dapat dijelaskan dengan mengutip pendapat Fuchs (1998), Zubkoff (1981), bahwa faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain adalah penghasilan dan pendidikan. Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demand untuk pelayanan kesehatan. Pendidikan yang tinggi cenderung mempunyai demand yang lebih tinggi dan meningkatkan kesadaran akan

status kesehatan dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan. (Trisantono, 2006).

Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (1988) yang dikutip oleh Siregar (2004), yang juga telah dikutip pada pembahasan sebelumnya, bahwa kebutuhan dan demand seseorang terhadap kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sosial budaya dan sosial ekonomi.