d. PT. Rajawali Sakti Kalbar Jl. Cempaka No. 64 Mempawah Kab. Pontianak Kalimantan Barat Telp. (0561) 691514 (Terlapor IV);
e. PT. Jungkat Jl. Jend. Sudirman No.88 Sanggau Prop Kalimantan Barat atau Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 26 Sanggau Kalimantan Barat Telp. (0564) 21111 (Terlapor V);
f. PT. Purna Sarana Jl. KH. Ahmad Yani No. 59 Sanggau Kalimantan Barat Telp. (0564) 21477, Fax (0564) 22673 (Terlapor VI);
g. PT. Megah Megah Megah Jl. ST. Syahrir No. 23 Sanggau Kalimantan Barat Telp/ Fax. (0564) 21689 (Terlapor VII);
h. PT. Rafi Karya Jl. Pendidikan Gg. SMA No. 38 Sungai Pinyuh Kab. Pontianak Kalimantan Barat Telp. (0561) 652240 (Terlapor VIII);
i. PT. Sebukit Indah Mempawah Jl. Kartini No. 45 Sanggau Kab. Sanggau Kalimantan BaratTelp. (0564) 21227 (Terlapor IX);
j. PT. Lawang Kuari Jl. Merdeka No. 31 Sekadau Kalimantan Barat Telp. (0564) 41007, 21237, Fax (0564) 21577 (Terlapor X).
Berdasarkan Laporan Tim Pemeriksa kepada Majelis Komisi atas hasil rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan maka kemudian, Majelis Komisi menilai
berdasarkan bukti-bukti yang cukup dan mempertimbangkan seluruh pembelaan para Terlapor. Selanjutnya, Majelis Komisi mengambil kesimpulan bahwa:
1. Tentang Tindakan Para Terlapor
a. Terlapor I tetap meluluskan Terlapor IV sebagai pemenang dalam Paket Peningkatan Jalan Tayan Meliau meskipun kepemilikan sahamnya dimiliki oleh orang yang sama (kepemilikan silang), dan meloloskan kualifikasi PT. Mitra Konstruksi Kalbar sebagai cadangan pemenang dalam paket yang sama, meskipun terdapat kesamaan format dan susunan dokumen penawaran, serta kesamaan kesalahan pengetikan dokumen dengan peserta yang lain dalam paket pekerjaan yang sama;
b. Terlapor II meluluskan Terlapor V pada tahap pembuktian kualifikasi dan mengusulkan Terlapor V sebagai calon pemenang Paket Pekerjaan Peningkatan Jalan Entikong - Batas Kabupaten, meskipun Terlapor V tidak memiliki Sertifikat registrasi badan usaha jasa konstruksi dari LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi), memiliki kesamaan format dan susunan dokumen penawaran, serta memiliki kesamaan kesalahan pengetikan dokumen dengan peserta lainnya dalam paket pekerjaan yang sama;
c. Terlapor III memenangkan Terlapor IX pada Paket Pembangunan Jalan Segole Penyeladi, meskipun dokumen kualifikasi dalam penawarannya tidak lengkap, dan dokumen penawaran Terlapor IX memiliki kesamaan format dan susunan, serta memiliki kesamaan kesalahan pengetikan dengan dokumen penawaran peserta lainnya dalam paket pekerjaan yang sama;
d. Terlapor IV dengan PT. Mitra Konstruksi Kalbar, Terlapor V dengan Terlapor X memiliki kesamaan kepemilikan dan kepengurusan perusahaan.
Bahwa mengingat ketentuan Pasal 26 dan Pasal 27 UU No. 5/1999 yang pada pokoknya melarang adanya jabatan rangkap dan kepemilikan silang pada pasar bersangkutan yang sama, maka Majelis Komisi berpendapat adanya kesamaan kepemilikan dan kesamaan pengurus tersebut adalah bukan hal yang biasa dan dilarang oleh UU No. 5/1999, sebagai tindakan menciptakan persaingan semu diantara Terlapor IV dengan PT. Mitra Konstruksi Kalbar dan diantara Terlapor X dengan Terlapor V;
e. Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, dan Terlapor X melakukan penyesuaian dokumen penawaran berupa kesamaan format dan susunan dokumen penawaran serta kesamaan kesalahan pengetikan dokumen;
Ringkasan Keputusan KPPU
2. Bahwa sebagaimana tugas Komisi yang dimaksud dalam Pasal 35 huruf e UU No. 5/1999, Majelis Komisi merekomendasikan kepada Komisi agar memberikan saran kepada Bupati Kabupaten Sanggau untuk memberikan sanksi kepada Terlapor I, II, dan III karena lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai Panitia Pengadaan barang dan jasa di Dinas Kimpraswil Kabupaten Sanggau Sumber Dana DAK, DAU dan Ad Hoc Tahun Anggaran 2007, sebagai berikut:
1. Meminta kepada atasan langsung atau pejabat yang berwenang untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada Terlapor I, II, dan III;
2. Meminta kepada Bupati Kabupaten Sanggau untuk menginstruksikan kepada Kepala Dinas Kimpraswil Kabupaten Sanggau berikut instansi di bawahnya untuk membuat dan melaksanakan aturan tender sesuai ketentuan yang berlaku dengan memperhatikan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat; 3. Memberikan rekomendasi kepada BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan
Pembangunan) untuk melakukan audit teradap proyek Tender Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan Sanggau Tahun Anggaran 2007 di Kabupaten Sanggau di Dinas Kimpraswil Kabupaten Sanggau Propinsi Kalimantan Barat Tahun Anggaran 2007
Berdasarkan alat bukti, fakta, serta hasil penilaian, dan mengingat Pasal 43 Ayat (3) dan pasal 47 UU. No. 5/1999, maka Majelis Komisi membacakan putusan pada tanggal 17 Juli 2008 sebagai berikut:
1. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II dan Terlapor III terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU. No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
2. Menyatakan Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, dan Terlapor X terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; 3. Menghukum Terlapor IV membayar denda sebesar Rp 500.000.000,00 (lima ratus
juta Rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); 4. Terlapor V membayar denda sebesar Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah)
yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); 5. Terlapor VI membayar denda sebesar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) yang
harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); 6. Terlapor VII membayar denda sebesar Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) yang
harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); 7. Terlapor VIII membayar denda sebesar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) yang
harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan
Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha); 8. Terlapor IX membayar denda sebesar Rp 400.000.000,00 (dua ratus juta rupiah)
yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank
Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);
9. Terlapor X membayar denda sebesar Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan
Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423491 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).
KPPU telah selesai melakukan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap Perkara No. 31/KPPU-I/2007 tentang dugaan pelanggaran Pasal 19 huruf d UU No. 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh China Oilfield Services (COSL/Terlapor I) dan Dugaan Pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh COSL, PT COSL INDO (Terlapor II) dan CNOOC Ses Ltd. (Terlapor III). Hasilnya, Terlapor I dan Terlapor II tidak terbukti melanggar Pasal 19 huruf d UU No. 5/1999 dan Terlapor I, Terlapor II dan Terlapor III tidak terbukti melanggar Pasal 22 UU No. 5/1999.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap perkara ini, maka Majelis Komisi menilai bahwa:
1. Tindakan COSL hanya menunjuk PT COSL Indo sebagai agen COSL dan memutus keagenan PT Mutiara Virgo merupakan tindakan diskriminasi yang dibenarkan secara hukum sehingga tidak dapat dikualifikasikan sebagai praktek diskriminasi. Dengan demikian, tidak terdapat adanya pelanggaran Pasal 19 huruf d yang dilakukan oleh COSL.
2. Terkait dengan pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999, penunjukkan PT COSL Indo oleh CNOOC SES Ltd. sebagai pemenang tender bukan merupakan bentuk persekongkolan karena proses tender yang dilakukan oleh CNOOC SES Ltd. telah dilakukan secara terbuka sebagaimana ditunjuukan dengan keikutsertaan PT Transocean Indonesia sebagai peserta tender, meskipun di kemudian hari didiskualifikasi karena mengajukan pengecualian.
Selanjutnya, sebagaimana tugas Komisi yang dimaksud dalam Pasal 35 huruf e Undang-undang No. 5/1999, Majelis Komisi merekomendasikan kepada Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dan Pihak Terkait, sebagai berikut:
1. Merekomendasikan kepada Pemerintah untuk menyempurnakan dan
mengefektifkan pelaksanaan peraturan mengenai pengutamaan produk dalam negeri dalam kegiatan usaha minyak dan gas bumi sesuai dengan Pasal 40 ayat (4) UU No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, beserta menegakkan pelaksanaan pengawasan terhadap aturan tersebut dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat;
2. Merekomendasikan kepada Pemerintah untuk menyempurnakan sistem perizinan dalam bidang usaha minyak dan gas bumi terutama dalam pemberian Surat Izin