Putusan perkara No.19/KPPU-L/2005 ini bermula ketika KPPU menerima laporan mengenai dugaan adanya pelanggaran UU No.5/1999 pada kegiatan tender
pengadaan Gamma Ray Container Scanner oleh Badan Otorita Batam pada tanggal 28 September 2005. Laporan tersebut dibahas pada rapat komisi tanggal 10 November 2005, dan diputuskan bahwa laporan tersebut masuk sebagai perkara untuk diperiksa dalam pemeriksaan pendahuluan.
Majelis komisi yang menangani perkara ini adalah: Erwin Syahril (Ketua), Pande Radja Silalahi dan Mohammad Iqbal (masing-masing sebagai anggota). Dalam putusannya, KPPU menetapkan bahwa Panitia Pengadaan APBN DIPA 2005 Otorita Batam
(Terlapor I) dan PT. Mitrabuana Widyasakti (Terlapor II) terbukti melanggar Pasal 22 UU No.5/1999, dan dikenakan denda sebesar Rp 1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus ribu rupiah) terhadap Terlapor II.
Pada pemeriksaan pendahuluan tanggal 17 November 2005 sampai dengan 28 Desember 2005, tim pemeriksa yang terdiri dari Erwin Syahril, S.H., Dr.Pande Radja Silalahi dan Dr. Ir.
Ringkasan Keputusan KPPU
Bambang Purnomo Adiwiyoto mendengarkan keterangan dari Pelapor, Terlapor I dan Terlapor II. Dari pemeriksaan pendahuluan ini, tim pemeriksa menemukan adanya indikasi pelanggaran Pasal 22 UU No.5/1999, yaitu:
1. Perencanaan pengadaan Gamma Ray Container Scanner mengarah pada produk yang ditawarkan oleh Terlapor II;
2. Spesifikasi teknis mengarah pada produk yang ditawarkan oleh Terlapor II; 3. Kriteria penilaian spesifikasi teknis mengarah pada produk yang ditawarkan oleh
Terlapor II;
4. Penilaian spesifikasi teknis dilakukan oleh pihak yang tidak berkompeten; 5. Panitia pengadaan dan UPT Pengembangan Signal & Navigasi LIPI melakukan
tindakan diskriminasi kepada beberapa peserta lelang;
Berdasarkan hasil tersebut, tim pemeriksa merekomendasikan kepada Komisi untuk melanjutkan perkara ke dalam Pemeriksaan Lanjutan. Dalam Pemeriksaan Lanjutan tanggal 29 Desember 2005 sampai dengan 24 Maret 2006, Majelis Komisi mendengarkan keterangan dari Terlapor I, Terlapor II, dan Saksi-Saksi di bawah sumpah. Karena masih terdapat pihak yang perlu di dengar keterangannya, maka Majelis Komisi memutuskan untuk memperpanjang Pemeriksaan Lanjutan selama 30 hari kerja.
Berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh selama Pemeriksaan Pendahuluan, Pemeriksaan Lanjutan dan Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan, Majelis Komisi menyimpulkan:
1. Perencanaan pengadaan container scanner mengarah pada produk container scanner teknologi Gamma Ray Merk VACIS (Vehicle and Cargo Inspection System) yang diproduksi oleh SAIC (Science Application International Corporation) yang juga merupakan produk yang ditawarkan Terlapor II;
2. Spesifikasi teknis mengarah pada produk VACIS (SAIC);
3. Kriteria teknis dan penilaian teknis mengacu pada produk VACIS (SAIC);
4. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) untuk pekerjaan utama disusun berdasarkan harga produk VACIS (SAIC);
5. Pembobotan penilaian harga dan teknis dimaksudkan untuk memenangkan Terlapor II;
6. Terlapor II dan Panitia Pengadaan melakukan tindakan saling menyesuaikan harga penawaran dan HPS;
7. Panitia Pengadaan melakukan tindakan diskriminatif kepada peserta tender tertentu; 8. Penunjukan UPT Pengembangan Signal dan Navigasi LIPI sebagai Tim Teknis tidak
sesuai dengan prosedur;
9. UPT Pengembangan Signal dan Navigasi LIPI tidak memiliki kompetensi dalam melakukan penilaian aspek teknis dan bukan dalam bidangnya;
Sebelum memutuskan perkara ini, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
penanggung jawab pengadaan Gamma Ray Container Scanner, Penanggung Jawab Kegiatan APBN (DIPA 2005) Otorita Batam dan Panitia Pengadaan Gamma Ray Container Scanner telah melakukan tindakan-tindakan persekongkolan untuk memenangkan Terlapor II. Oleh sebab itu, Majelis Komisi merekomendasikan kepada atasan langsung dan pihak-pihak yang berwenang untuk mengambil tindakan administratif dan tindakan hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
2. Dalam tender pengadaan Gamma Ray Container Scanner di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, UPT Pengembangan Signal dan Navigasi LIPI telah melaksanakan pekerjaan yang bukan kompetensinya dan bukan bidangnya, serta melakukan tindakan memfasilitasi terjadinya persekongkolan dalam pengadaan container scanner di pelabuhan Batu Ampar untuk memenangkan Terlapor II. Oleh karenanya terhadap UPT Pengembangan Signal dan Navigasi LIPI yang dalam hal ini adalah para personel yang terlibat dalam pelaksanaan perencanaan dan pelaksanaan tender pengadaan Gamma Ray Container Scanner di Pelabuhan Batu Ampar, yaitu Ir. Agus Suwahyono dan Ir. Soenarko, maka Majelis
merekomendasikan agar LIPI memberikan sanksi administratif kepada mereka sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
Setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan serta Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan, Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan Terlapor I dan Terlapor II secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
2. Menghukum Terlapor II untuk membayar denda sebesar Rp 1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus ribu rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran penerimaan bukan pajak Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I yang beralamat di Jalan Ir. H. Juanda No. 19, Jakarta Pusat melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 1212;
3. Melarang Terlapor II untuk mengikuti tender pengadaan gamma ray container scanner selama 2 (dua) tahun di seluruh Indonesia;
Pemeriksaan dan penyusunan putusan terhadap perkara tersebut dilakukan oleh KPPU dengan prinsip independensi dan semata-mata sebagai pengemban amanat pengawasan terhadap pelaksanaan UU No. 5/1999 agar terwujudnya kepastian berusaha yang sama bagi setiap pelaku usaha dan menjamin persaingan usaha yang sehat dan efektif. Putusan Perkara No. 19/KPPU-L/2005 tersebut dibacakan dalam Sidang Majelis Komisi yang dinyatakan terbuka untuk umum pada hari Senin tanggal 5 Juni 2006 di Gedung KPPU Jl. Ir. H. Juanda no. 36 Jakarta Pusat.
2.40 Putusan Perkara No. 20/KPPU-L/2005
Tender PJU/SJU DKI Jakarta
Kasus ini berawal dari adanya laporan yang ditujukan kepada KPPU tanggal 14 September 2005 tentang adanya dugaan pelanggaran UU No. 5/ 1999 pada proses tender pengadaan di Dinas PJU dan SJU DKI Jakarta. Inti dari laporan tersebut adalah: 1. Ada upaya pembatasan peserta tender oleh panitia tender dengan membuat
persyaratan yaitu: peserta tender tender yang menawarkan luminer lengkap atau bola lampu dari luar negeri, produsennya harus mempunyai kantor perwakilan dan mempunyai investasi bidang perlampuan di Indonesia dan memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk tiap pabrik mengikuti pengadaan barang/jasa;
Ringkasan Keputusan KPPU
2. Ada persekongkolan antara perusahaan tertentu dengan panitia tender untuk menetapkan persyaratan tender yang menguntungkan peserta tender yang membawa produk merek Panasonic, Philips, General Electric (GE), dan Osram; Setelah laporan ini diklarifikasi dan diteliti, perkara ini dinyatakan cukup lengkap dan jelas kemudian dilanjutkan ke Pemeriksaan Pendahuluan. Dari pemeriksaan tersebut Majelis Komisi menetapkan bahwa ada indikasi pelanggaran Pasal 19 huruf a dan d, serta Pasal 22 UU No.5/1999 dilihat dari bentuk perilaku diskriminatif yang dilakukan distributor (authorized dealer) dan atau agen tunggal (perusahaan pemegang merek Panasonic, Philips, General Electric (GE), dan Osram yang tergabung dalam Asosiasi Industri Luminer Kelistrikan Indonesia (AILKI) yang juga menjadi peserta tender di Dinas PJU dan SJU DKI Jakarta.
Selain itu para pihak yang ditentukan sebagai terlapor dalam tender pengadaan di Dinas PJU dan SJU DKI Jakarta sebanyak 12 pihak yaitu: PT Spektra Tata Utama (Terlapor I), PT Dinamika Prakarsa Elektrikal (Terlapor II), PT Fajar Sumber Rejeki (Terlapor III), PT Aula Pratama Bersama (Terlapor IV), PT Guna Era Distribusi (Terlapor V), PT Guna Elektro (Terlapor VI), PT Dwipurwa Naika Lestari (Terlapor VII), PT Panca Piranthi Artha (Terlapor VIII), PT Sairo Talenta Nauli (Terlapor IX), PT Alfa Montage (Terlapor X), CV Ria Natalia (Terlapor XI) dan Dinas Penerangan Jalan Umum dan Sarana Jaringan Utilitas Propinsi DKI Jakarta (Terlapor XII).
Kemudian proses dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lanjutan serta Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan. Dari kedua proses tersebut Majelis Komisi menemukan fakta-fakta pendukung seperti persaingan hanya terjadi antara 3 (tiga) merek, adanya pembatasan peserta tender oleh Authorized dealer, Authorized dealer mengatur peserta yang mengikuti tender, Authorized dealer dan Peserta yang direkomendasikannya mengatur pemenang tender dengan cara: sengaja tidak memenuhi persyaratan administrasi dan teknis, sengaja menawarkan harga di atas Owner Estimate (OE), dan Authorized Dealer menawarkan harga di atas harga yang ditawarkan oleh peserta yang direkomendasikannya, adanya persyaratan tender tentang adanya kantor perwakilan dan investasi bidang perlampuan di Indonesia, contoh barang tidak konsisten, tidak logis dan memicu terjadinya persengkongkolan, dan kegiatan ini bisa menimbulkan dampak persaingan usaha, yaitu: persaingan semu, dampak bagi pelaku usaha lain, dampak bagi kepentingan umum dan atau konsumen.
Berdasarkan fakta-fakta dan pertimbangan dari informasi-infomasi yang didapat selama proses pemeriksaan Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor IV, dan Terlapor VI tidak terbukti melanggar Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999; 2. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor IV, dan Terlapor VI secara sah
dan meyakinkan terbukti melanggar Pasal 19 huruf d Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
3. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X, dan Terlapor XI secara sah dan meyakinkan terbukti melanggar Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999; 4. Memerintahkan kepada Terlapor I, Terlapor II, Terlapor IV, dan Terlapor V
membayar denda masing-masing sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) dan disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Jakarta I beralamat di Jalan Ir. H.Juanda Nomor 19 Jakarta Pusat melalui Bank Pemerintah dengan kode Penerimaan 1212
dan harus dibayar lunas selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan putusan ini;
5. Menghukum Terlapor III, Terlapor V, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X, dan Terlapor XI tidak mengikuti kegiatan pengadaan barang Armatur Lengkap dan Komponen Lepas di Dinas PJU dan SJU DKI Jakarta selama 1 (satu) tahun terhitung sejak diterimanya pemberitahuan putusan ini.
2.41 Putusan Perkara No. 21/KPPU-L/2005
Diskriminasi Distribusi Gas oleh Pertamina
Pada tanggal 27 Juni 2006, KPPU telah mengeluarkan putusan berkaitan dengan dugaan pelanggaran UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No.5/1999) berkaitan dengan diskriminasi distribusi gas di wilayah Cibitung dan Cilegon yang dilakukan oleh PT. Pertamina (persero). Perkara ini bermula dari adanya laporan mengenai adanya dugaan pelanggaran UU No.5/1999 berkaitan dengan diskriminasi distribusi gas di wilayah Cibitung dan Cilegon yang dilakukan oleh PT. Pertamina (persero), PT. Banten Inti Gasindo dan PT. Isma Asia Indotama. Berkiatan dengan adanya laporan tersebut, KPPU melakukan serangkain kegiatan pemeriksaan yaitu yaitu pemeriksaan pendahuluan, pemeriksaan lanjutan dan perpanjangan pemeriksaan lanjutan.
Dalam pemeriksaan pendahuluan yang dilakukan pada tangal 21 November 2005 sampai dengan 30 Desember 2005. Dari hasil pemeriksaan pendahuluan, Tim menemukan adanya indikasi pelanggaran ketentuan Pasal 6, Pasal 19 huruf a dan d, dan Pasal 25 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 dan merekomendasikan kepada Komisi dan disetujui pada Rapat Komisi untuk melanjutkan ke dalam pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan Lanjutan telah dilakukan pada tanggal 2 Januari 2006 sampai dengan 28 Maret 2006 yang kemudian diperpanjang selama 30 hari kerja sampai dengan tanggal 15 Mei 2006.
Dari serangkaian pemeriksaan tersebut KPPU menyimpulkan bahwa tidak adanya bukti bahwa telah terjadinya pelanggaran terhadap Pasal 6, Pasal 19 huruf a dan d serta Pasal 25 ayat (1) huruf a dengan alasan bahwa penghentian penyaluran gas oleh PT Pertamina kepada PT. Igas Utama merupakan akibat dari tidak dipenuhinya kewajiban oleh PT Igas Utama yang sebelumnya telah disepakati dalam Surat Keputusan Bersama pada tanggal 31 Agustus 2004. Penghentian penyaluran gas tersebut juga bukan merupakan bentuk tindakan yang menghalangi PT. Igas Utama untuk melakukan kegiatan usaha yang sama di pasar bersangkutan karena PT. Pertamina bukan merupakan pesaing dari PT. Igas Utama atau keduanya tidak berada pada pasar bersangkutan yang sama yaitu wilayah Cibitung dan Cilegon. Begitu juga halnya dengan kegiatan yang dilakukan oleh PT. Isma Asia Indotama secara sendiri atau bersama dengan PT Pertamina tidak ditemukan kegiatan yang menghalangi kegiatan usaha PT Igas Utama untuk melakukan kegiatan usaha yang sama di wilayah Cibitung. Berkaitan dengan penyaluran pasokan gas kepada PT Banten Inti Gasindo yang lebih banyak dibanding kepada PT Igas Utama adalah karena telah sesuai dengan pembayaran (advance payment) dan hal tersebut ini bukan merupakan bentuk diskriminasi dari PT. Pertamina kepada PT. Igas Utama.
Perbedaan harga kepada setiap trader yang diberlakukan oleh PT Pertamina bukan untuk mendiskriminasi kepada trader yang satu dengan trader lainnya. Penentuan harga gas oleh PT. Pertamina dengan mempertimbangkan perhitungan ekonomis yaitu jarak pengangkutan gas ke titik serah, indeksasi terhadap waktu, indeksasi terhadap bahan baku atau bahan bakar pengganti, indeksasi terhadap produk, indeksasi terhadap indek harga konsumen, indeksasi terhadap harga energi dan margin.
Ringkasan Keputusan KPPU
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, KPPU juga menemukan beberapa fakta lain bahwa Perbedaan penafsiran mengenai prosedur pemberian ijin usaha di bidang minyak dan gas bumi dan hak khusus antara BPH Migas dengan Direktorat Jenderal Migas sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004, dapat menimbulkan ketidakpastian kepada pelaku usaha untuk mengurus ijin usaha. Belum ditetapkannya besaran toll fee oleh BPH Migas untuk wilayah Cibitung dan Cilegon, juga telah mengakibatkan timbulnya dispute antara trader dengan konsumen. Berkaitan dengan munculnya perbedaan penafsiran dalam Perjanjian Jual Beli Gas antara PT. Pertamina dengan PT. Igas Utama seharusnya dapat dicarikan solusi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak sehingga tidak merugikan konsumen. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan Terlapor I, PT. Pertamina (persero) tidak terbukti melanggar
ketentuan Pasal 6, Pasal 19 huruf a dan d, dan Pasal 25 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
2. Menyatakan Terlapor II, PT. Banten Inti Gasindo tidak terbukti melanggar ketentuan Pasal 19 huruf a dan d Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999; 3. Menyatakan Terlapor III, PT. Isma Asia Indotama tidak terbukti melanggar
ketentuan Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
Selanjutnya, Majelis Komisi memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah sebagai berikut:
1. Meminta kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk segera menyelesaikan perbedaan penafsiran antara Direktorat Jenderal Migas dengan BPH Migas mengenai proses pemberian ijin usaha di bidang minyak dan gas bumi agar pelaku usaha memperoleh kepastian dalam berusaha;
2. Meminta kepada Gubernur Banten untuk tidak melakukan tindakan yang hanya menguntungkan satu pelaku usaha saja yaitu PT. Banten Inti Gasindo sehingga pelaku usaha lain mendapat kesempatan yang sama untuk berusaha di wilayah Propinsi Banten;
3. Meminta kepada BPH Migas untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul berkaitan dengan kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa dalam perkara ini.
2.42 Putusan Perkara No : 22/KPPU-L/2005
Tender Pipanisasi oleh PGN
KPPU telah melakukan pemeriksaan dan klarifikasi laporan yang masuk ke KPPU berkaitan dengan dugaan pelanggaran UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No.5/ 1999) mengenai persekongkolan tender pengadaan pipa untuk proyek transmisi gas jalur lepas pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi untuk proyek pipanisasi gas South Sumatera-West Java (SSWJ) tahap II PT. Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk. Hal ini berkaitan dengan dugaan bahwa dalam tender yang diadakan oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) tersebut terjadi kecurangan dengan menunjuk salah satu peserta tender yaitu Konsorsium SEAPI-Welspun sebagai pemenang dengan cara yang tidak sah dan adanya diskriminasi terhadap peserta tender lain. Untuk menyelidiki hal tersebut, KPPU membentuk Majelis Komisi yang bertugas melakukan pemeriksaan yang intensif dan berkesinambungan guna mencari data dan fakta yang mendukung untuk dapat memutuskan apakah dalam tender yang diadakan PGN tersebut terdapat bukti-bukti pelanggaran terhadap UU No. 5 Tahun 1999.
Langkah selanjutnya, Majelis Komisi memanggil saksi-saksi, memeriksa surat-surat dan dokumen-dokumen, mendengar keterangan Pelapor, mendengar keterangan para Terlapor, keterangan para saksi, mendengar keterangan ahli, dan menyelidiki kegiatan para Terlapor. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dalam bentuk Pemeriksaan Pendahuluan, Majelis Komisi menemukan adanya indikasi pelanggaran terhadap Pasal 19 huruf d dan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dalam bentuk sebagai berikut: pembentukan Konsorsium SEAPI-Welspun, nilai penawaran Konsorsium SEAPI–Welspun, penunjukan DNV Singapore sebagai konsultan untuk melakukan inspeksi, PGN tidak melakukan inspeksi terhadap semua pabrik pipa dan pabrik plat peserta tender, dan pengguguran seluruh peserta dalam tender pertama. Dari Pemeriksaan Pendahuluan telah didapat bukti-bukti berupa dugaan pelanggaran pasal dan para terlapor yaitu: Terlapor I adalah PT. Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk. (PGN), Terlapor II yaitu Ketua Panitia Tender Pengadaan Pipanisasi Gas Sumatera Selatan-Jawa Barat Tahap II Paket Labuhan Maringgai-Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk. (Ketua Panitia), Terlapor III yaitu PT. South East Asia Pipe Industries (SEAPI), Terlapor IV adalah PT. Bakrie & Brothers, Tbk. (Bakrie & Brothers), Terlapor V adalah Welspun Gujarat Stahl Rohren Pte. Ltd. (Welspun), Terlapor VI adalah Daewoo International Corporation (Daewoo), Terlapor VII yaitu Det Norske Veritas Pte. Ltd (DNV Singapore), Terlapor VIII yaitu PT. Cipta Dekatama Tastek (Cipta Dekatama), sehingga dinilai memenuhi kriteria untuk dilanjutkan ke Pemeriksaan Lanjutan. Dari hasil Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan serta Perpanjangan Pemeriksaan Lanjutan didapat bukti-bukti sebagai berikut:
- Alasan penunjukan DNV Singapore dapat diterima namun tidak mengikuti prosedur yang telah diatur dalam Keputusan Direksi Nomor: 065.K/92/750/2002 tanggal 1 April 2002;
- Tindakan Panitia Tender yang tidak melakukan inspeksi terhadap SEAPI dan plate supplier-nya telah mengakibatkan adanya perlakuan yang berbeda terhadap para peserta tender;
- Pembatalan tender telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
- Majelis Komisi menilai prosedur tender ulang yang dilakukan oleh Panitia Tender adalah tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
- Pembentukan Konsorsium SEAPI-Welspun adalah tindakan yang sesuai dengan ketentuan namun pembentukan konsorsium tersebut telah mengurangi persaingan (lessening the competition);
- Gugurnya Cipta Dekatama dalam tender ulang adalah sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
- Persyaratan delivery schedule yang dibuat oleh PGN terlalu ketat;
- Pengiriman surat oleh manajemen Bakrie & Brothers tidak berpengaruh secara nyata terhadap penentuan pemenang tender.
Berdasarkan bukti-bukti tersebut di atas, maka Majelis Komisi menilai dugaan pelanggaran pasal 19 UU No. 5 Tahun 1999 telah terpenuhi, dengan unsur sebagai berikut:
- Unsur-unsur Pasal 19 huruf d UU No. 5 Tahun 1999 terpenuhi;
- Oleh karena unsur bersekongkol tidak terpenuhi, maka Majelis Komisi tidak perlu membuktikan unsur-unsur Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 lebih lanjut.
Ringkasan Keputusan KPPU
Dari hasil pemeriksaan dan bukti-bukti yang didapat, Majelis Komisi telah membuat putusan yang dibacakan dalam Sidang Majelis Komisi yang dinyatakan terbuka untuk umum pada hari Selasa tanggal 18 Juli 2006 di Gedung KPPU, Jl. Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta Pusat dengan putusannya adalah:
1. Menyatakan bahwa PGN secara sah dan meyakinkan terbukti melanggar ketentuan Pasal 19 huruf d Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
2. Menyatakan bahwa Terlapor I (PGN), Terlapor II (Panitia Tender), Terlapor III (SEAPI), Terlapor IV (Bakrie and Brothers), Terlapor V (Welspun), Terlapor VI
(Daewoo) dan Terlapor VII (DNV Singapore), Terlapor VIII (Cipta Dekatama) secara sah dan meyakinkan tidak terbukti melanggar ketentuan Pasal 22
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
3. Memerintahkan Terlapor I (PGN) untuk menghentikan kerjasama dengan Terlapor VII (DNV Singapore) dalam pekerjaan konsultan dalam tender pengadaan pipa untuk proyek transmisi gas jalur lepas pantai Labuhan Maringgai – Muara Bekasi untuk proyek pipanisasi gas South Sumatera – West Java (SSWJ) tahap II PT. Perusahaan Gas Negara (Persero),Tbk.;
4. Memerintahkan Terlapor I (PGN) untuk melaksanakan secara konsisten peraturan pengadaan barang dan atau jasa sesuai dengan Keputusan Direksi PGN dan atau peraturan lain yang menyangkut pengadaan barang dan atau jasa;
5. Memerintahkan kepada Direktur Utama PT PGN dan Komisaris PT PGN agar memberikan sanksi administratif atas tindakan-tindakan oleh Jobi Triananda selaku Project Manager SSWJ IV.