• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tender Pekerjaan Pelebaran Jalan Kolektor Utama Menuju Kawasan Industri Batam Center

tender pekerjaan pelebaran jalan kolektor utama menuju kawasan industri Batam Centre. Pemeriksaan Pendahuluan telah dilakukan pada tanggal 13 Februari - 28 Maret 2008, dilanjutkan hingga Pemeriksaan Lanjutan sampai dengan 23 Juni 2008. Adapun alur proses pelaksanaan tender adalah dimulai dari tender pekerjaan pelebaran jalan kolektor utama menuju kawasan industri Batam Center yang diumumkan di harian Media Indonesia dan papan pengumuman dengan nilai pagu sebesar Rp 1.848.000.000,00 (satu milyar delapan ratus empat puluh delapan juta rupiah). Sumber pendanaan tender pekerjaan pelebaran jalan kolektor utama menuju kawasan industri Batam Center berasal dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2007, Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam. Tender dilakukan dengan mengacu pada ketentuan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 dengan metode pascakualifikasi, dengan cara pemasukan dokumen penawaran dilakukan dengan Sistem Satu Sampul. Berdasarkan hasil pelaksanaan tender diketahui bahwa tender tersebut dimenangkan oleh Terlapor I dengan Nilai Penawaran Rp1.840.079.000,00 (satu milyar delapan ratus empat puluh juta tujuh puluh sembilan ribu rupiah) .

Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa dugaan pelanggaran adalah sebagai berikut:

a. PT Kurnia Djaja Makmur Abadi, PT Putera Nusa Perkasa, PT Mitra Graha Indonusa Indah dan PT Sumber Alam Sejahtera diduga melakukan persekongkolan horizontal sebagaimana dilarang Pasal 22 UU No. 5 /1999 dengan indikasi sebagai berikut: 1. Persesuaian dokumen yang meliputi kesamaan format penulisan dan kesalahan

pengetikan;

2. Pengakuan oleh L. Tambunan yang menyatakan bahwa kesamaan dokumen tersebut memang dipersiapkan oleh 1 (satu) orang dan PT Kurnia Djaja Makmur Abadi telah memberikan dokumen tender ke peserta tender yang lain yaitu pada PT Putera Nusa Perkasa dan PT Mitra Graha Indonusa Indah;

3. Tidak adanya sanggahan yang dilakukan oleh PT Kurnia Djaja Makmur Abadi atas penunjukan PT Putera Nusa Perkasa;

4. PT Sumber Alam Sejahtera salah melampirkan Surat Dukungan Dana AMP Mixing Plant milik PT Putera Nusa Perkasa.

5. Selisih persentase HPS dengan harga penawaran antara PT Putera Nusa Perkasa (pemenang tender) dengan PT Kurnia Djaja Makmur Abadi memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 0,99 %.

b. Panitia, PT Putera Nusa Perkasa dan PT Kurnia Djaja Makmur Abadi diduga melakukan persekongkolan vertikal sebagaimana dilarang Pasal 22 UU No. 5 / 1999 dengan indikasi sebagai berikut:

1. Panitia meloloskan PT Putera Nusa Perkasa pada evaluasi adminstrasi dan teknis, padahal perusahaan tidak memenuhi persyaratan;

2. Panitia tender tidak melakukan klarifikasi dokumen penawaran kepada masing-masing calon pemenang.

Sebelum memutus perkara ini, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: • Bahwa Majelis Komisi menilai adanya dokumen Metode Pelaksanaan PT Putera

Nusa Perkasa yang mirip dengan dokumen Metode Pelaksanaan milik PT Kurnia Djaja Makmur Abadi dan PT Mitra Graha Indonusa Indah, tidak cukup dijadikan alasan adanya kerjasama diantara ketiga perusahaan tersebut dalam pembuatan dokumen penawaran;

• Bahwa Majelis Komisi menilai adanya kemiripan dokumen-dokumen dan kesamaan alamat kantor tersebut di atas merupakan bukti adanya kerjasama dalam pembuatan dokumen penawaran antara PT Putera Nusa Perkasa dan PT Sumber Alam Sejahtera;

Ringkasan Keputusan KPPU

• Bahwa walaupun Panitia Tender tidak mengakui adanya post bidding namun Majelis Komisi berpendapat bahwa Panitia Tender telah melakukan post bidding, karena setelah pembukaan penawaran seluruh dokumen disimpan oleh Panitia Tender; • Bahwa Majelis Komisi berpendapat Panitia Tender telah memfasilitasi PT Putera

Nusa Perkasa dengan meloloskannya sebagai pemenang tender walaupun tidak melampirkan surat pernyataan di atas materai yang isinya tidak dalam pengawasan Pengadilan, tidak bangkrut, kegiatan usahanya tidak sedang

dihentikan dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana;

Berdasarkan alat bukti yang diperoleh, maka Majelis Komisi membacakan putusan pada 1 Agustus 2008 sebagai berikut:

1. Menyatakan Terlapor I dan Terlapor V terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar Pasal 22 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;

2. Menyatakan Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV tidak terbukti melanggar Pasal 22 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;

3. Menghukum Terlapor I membayar denda sebesar Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan

Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah selesai melakukan pemeriksaan dan telah menetapkan putusan terhadap perkara No. 02/KPPU-L/2008 yaitu dugaan pelanggaran terhadap Pasal 19 huruf (d) UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No. 5/1999). Dugaan pelanggaran tersebut adalah persaingan usaha tidak sehat dalam pemberian hak pengelolaan reklame di lokasi outdoor Bandara Internasional Juanda Surabaya. Perkara yang berawal dari adanya laporan ke KPPU telah melalui proses Pemeriksaan Pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 16 Januari-27 Februari 2008, dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lanjutan pada tanggal 27 Februari-27 Mei 2008, yang

diperpanjang sampai dengan 8 Juli 2008.

2.85 Putusan Perkara No. 02/KPPU-L/2008

Pengelolaan Reklame di Lokasi Outdoor

Bandara Internasional Juanda - Surabaya

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Tim Pemeriksa dan pembelaan oleh Terlapor, Majelis Komisi menilai sebagai berikut:

1. Pasar bersangkutan dalam perkara ini adalah hak pengelolaan reklame di lokasi outdoor Bandara Internasional Juanda;

2. Tindakan PT Angkasa Pura I (Persero) yang mengkonsesikan hak pengelolaan reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya seluas 1.414,23 m2 kepada PT Sido Maju Industri Estat tanpa melalui proses tender, sedangkan lokasi outdoor lainnya melalui beauty contest bukan merupakan bentuk praktek diskriminasi karena PT Angkasa Pura I (Persero) mengkonsesikan hak pengelolaan reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya tersebut sebagai kompensasi atas pembangunan tollgate berdasarkan Keputusan Direksi PT Angkasa Pura I (Persero) Nomor: KEP.305/KU.20/1992. 3. Tindakan PT Angkasa Pura I (Persero) yang tidak memberikan informasi tentang

adanya space reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya seluas 1.414,23 m2 pada saat penjelasan teknis usaha beauty contest untuk pengelolaan reklame di Bandara Internasional Juanda bukan merupakan bentuk praktek diskriminasi; 4. Tindakan PT Angkasa Pura I (Persero) yang menetapkan batas bawah harga sewa

tempat reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya lebih rendah dari batas bawah harga sewa tempat reklame di lokasi outdoor lainnya merupakan bentuk praktek diskriminasi; 5. Tindakan PT Angkasa Pura I (Persero) yang menetapkan harga batas bawah yang

berbeda di lokasi tollgate dan sekitarnya lebih rendah dari harga batas bawah dalam sewa tempat reklame di lokasi outdoor lainnya, serta tidak memberikan informasi tentang adanya space reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya seluas 1.414,23 m2 pada saat penjelasan teknis usaha beauty contest untuk pengelolaan reklame di Bandara Internasional Juanda, hal tersebut mengakibatkan disparitas antara harga sewa tempat reklame di lokasi-lokasi outdoor Bandara Internasional Juanda dengan perbandingan sebagai berikut:

1.414,23 m2 325 m2 607 m2 PT Sido Maju CV Team Work PT Advertising

Industri Estat Indonesia

Rp 50.000,00 Rp 150.000,00 Rp 150.000,00 Rp 85.000,00 Rp 509.000,00 Rp 155.000,00 Luas

Pengelola

Batas bawah harga sewa tempat reklame Harga sewa/m2/bulan

Lokasi Tollgate dan sekitarnya Area parkir Akses MasukJalan

6. PT Angkasa Pura I (Persero) telah melakukan praktek diskiriminasi dalam

pengkonsesian hak pengelolaan reklame di lokasi outdoor Bandara Internasional Juanda yang menghambat persaingan diantara perusahaan pengelola reklame di lokasi outdoor Bandara Internasional Juanda;

Sebelum memutus perkara ini, Majelis Komisi mempertimbangkan bahwa Terlapor bersikap kooperatif selama pemeriksaan di KPPU. Selanjutnya, berdasarkan alat bukti, fakta serta kesimpulan dan mengingat Pasal 43 ayat (3) dan Pasal 47 UU No. 5 /1999 yang telah diuraikan di atas, pada 19 Agustus 2008 Majelis Komisi memutuskan: 1. Menyatakan PT Angkasa Pura I (Persero) secara sah dan meyakinkan melanggar

Pasal 19 huruf (d) UU No. 5/1999;

2. Memerintahkan kepada PT Angkasa Pura I (Persero) untuk melakukan negosiasi ulang harga sewa tempat reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya seluas 1.414,23 m2 dengan PT Sido Maju Industri Estat untuk sisa jangka waktu hak pengelolaan reklame di lokasi tollgate dan sekitarnya seluas 1.414,23 m2 terhitung sejak Putusan KPPU dibacakan.

Ringkasan Keputusan KPPU

Perkara yang berawal dari adanya laporan ke KPPU telah melalui proses Pemeriksaan Pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 26 Februari-10 April 2008, dilanjutkan dengan Pemeriksaan Lanjutan sampai dengan tanggal 7 Juli 2008. Putusan atas perkara ini dibacakan pada tanggal 20 Agustus 2008.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, maka pelaku usaha yang diduga melakukan pelanggaran dan ditetapkan sebagai Terlapor adalah:

1. PT Petrokimia Gresik (Persero) (Terlapor I); 2. PT Murni Sri Jaya (Terlapor II); dan

3. Koperasi Serba Usaha Mahkota Tani (Terlapor III).

Selanjutnya, juga diketahui bahwa pupuk bersubsidi merupakan bidang industri yang masuk kategori highly regulated, karena pengadaan dan penyalurannya mendapat pengawasan dari pemerintah, yang bertujuan agar petani mendapatkan pupuk dengan harga yang murah dan terjangkau sehingga dapat menunjang sektor pertanian. Produksi, distribusi, dan margin/tingkat keuntungan penjualan pupuk bersubsidi tersebut diatur melalui berbagai peraturan (Peraturan Presiden (Perpres), Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), dan Peraturan Daerah (Perda). Fakta yang ditemukan adalah bahwa melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 03/M-DAG/PER/2/2006 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk sektor pertanian, pemerintah memberikan hak monopoli kepada PT. Petrokimia Gresik untuk memproduksi pupuk jenis ZA, SP-36 dan NPK, termasuk kewenangan penuh dalam

menunjuk distributor. KSU (Koperasi Serba Usaha) Mahkota Tani ditunjuk sebagai distributor baru pada pertengahan tahun 2007, distributor pupuk bersubsidi PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Kabupaten Sragen sebelumnya hanya PT. Murni Sri Jaya.

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Tim Pemeriksa, pembelaan oleh Terlapor dan bukti-bukti, Majelis Komisi menilai sebagai berikut: 1. Bahwa pasar bersangkutan dalam perkara ini adalah Penunjukkan Distributor Pupuk Bersubsidi ZA, SP-36 dan NPK produksi PT. Petrokimia Gresik di Wilayah Kabupaten Sragen Jawa Tengah;

2. Bahwa Peraturan Menteri Perdagangan No. 03/M-DAG/PER/2/2006 memberikan hak monopoli dan kewenangan yang terlalu besar bagi PT. Petrokimia Gresik dalam menunjuk distributor;

3. Bahwa penunjukkan KSU Mahkota Tani sebagai distributor PT. Petrokimia Gresik merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah persaingan usaha yang sehat karena dilakukan tanpa melalui proses seleksi terbuka atau beauty contest, yang dapat mengakibatkan tidak didapatkannya distributor yang kompeten, kredibel dan mampu memberikan, mendistribusikan pupuk secara baik dan tepat; 4. Bahwa Majelis Komisi tidak menemukan dampak negatif, gejolak serta terjadinya

kelangkaan pupuk dalam distribusi pupuk bersubsidi ZA, SP-36 dan NPK di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dari penunjukkan KSU Mahkota Tani sebagai distributor.

Bahwa selanjutnya Majelis Komisi merekomendasikan kepada Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada:

1. Menteri Perdagangan

Merevisi Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 03/M-DAG/ PER/2/2008, dan menerbitkan peraturan baru yang mengatur proses penunjukkan distributor pupuk bersubsidi melalui proses seleksi berbasis kompetensi atau beauty contest dan memperhatikan kesempatan berusaha yang sama serta prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat;

2.86 Putusan Perkara No. 10/KPPU-L/2008

Penunjukkan Distributor Pupuk Bersubsidi Produksi