• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Bahasa Puitis sebagai Sarana Estetika Puisi

Pengarang dalam mengerahkan segala potensi bahasa selain untuk membangkitkan imaji pembaca agar mengetahui makna yang terkandung, juga bermaksud untuk memberikan efek estetis di dalam karyanya. Bahasa puisi merupakan bahasa konotatif, bahasa yang dipadatkan dan prismatis, artinya bahasa puisi dapat mewakili berbagai penafsiran. Bagi pengarang salah satu sarana dalam mewujudkannya adalah melalui penggunaan bahasa puitis.

Selanjutnya pemanfaatan bahasa puitis yang dimanfaatkan oleh pengarang dapat diwujudkan dalam: permainan/pemanfaatan unsur-unsur bunyi, diksi, pemanfaatan bentuk-bentuk kata, struktur kalimat yang khas, sampai pada pencitraan dan pemilihan bahasa figuratif. Berikut ini diuraikan sekilas tentang aspek–aspek pemanfaatan bahasa yang dipotensikan pengarang sebagai sarana pembangun estetika di dalam karya sastranya (dalam hal ini puisi).

2. 1.3.1. Pemanfaatan Unsur-Unsur Bunyi

Unsur bunyi/unsur musikalis dapat dikatakan merupakan aspek fonologis yang ada di dalam puisi. Dalam kaitannya dengan bahasa, yang dimaksud bunyi di sini adalah bunyi-bunyi yang diproduksi secara fonemis. Jadi, fonem inilah yang merupakan unsur terkecil dalam puisi. Unsur-unsur fonik ini terpancar dalam

commit to user

bentuk asonansi, aliterasi, rima, onomatopea, rentak dan sebagainya (John Spencer dalam Farid M. Onn, ed , 1982: 68).

Di dalam bahasa Jawa ada satuan-satuan lingual, khusunya kata yang bentuk foniknya dimanfaatkan secara khas oleh para pemakaianya untuk mencerminkan aspek-aspek kenyataan tertentu (Sudaryanto, 1989: 113). Dalam kaitannya dengan pemanfaatan unsur bunyi yang ada di dalam puisi, pengarang sering memanfaatkan ciri-ciri/bentuk-bentuk ikonik tersebut untuk menggambarkan suasana tertentu di dalam bait-bait puisinya. Oleh karena itu pemanfaatan potensi bahasa semacam ini perlu untuk diketahui/diteliti agar dapat terungkap visi batin pengarang.

Pencitraan memang akan lebih intensif jika didukung oleh permainan bunyi. Adapun pemakaian/permainan unsur bunyi yang secara dominan dipergunakan oleh pengarang antara lain berupa rima yang dapat berupa asonansi, aliterasi dan sebagainya.

Rima merupakan pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu jika dibaca. Marjorie Boulton menyebut rima sebagai phonetic form. Jika bentuk fonetik itu berpadu dengan ritma, maka akan mampu mempertegas makna puisi (Marjorie Boulton dalam Waluyo, 1995: 90).

Di dalam puisi Jawa tradisional (tembang), istilah Rima dapat dipadankan dengan purwakanti. Purwakanthi secara etimologis berasal dari kata purwa (permulaan) dan kanthi (memahami/mempergunakan). Purwakanthi mempunyai pengertian sebagai pengulangan bunyi, baik konsonan, vokal ataupun kata yang

commit to user

telah tersebut pada bagian depan. Purwakanthi ada tiga jenis yaitu sebagai berikut:

2.1.3.1.1. Purwakanthi Guru Swara (Rima Suara/Asonansi)

Purwakanthi berdasarkan persamaan suara/bunyi. Dalam bahasa Indonesia disebut asonansi yaitu sajak yang berdasarkan perulangan bunyi bagian akhir suku kata/perulangan vokal. Asonansi berfungsi untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan bunyi (Keraf, 2006: 130).

Contohnya :

(1) Aliwung mangun kung (Mn/Mij/III/21/6)

„Semakin membuat sedih karena cinta‟

Berdasarkan contoh (1) tersebut ditemukan adanya bentuk perulangan vokal /u/ di suku kata akhir.

2.1.3.1.2. Purwakanthi Guru Sastra (Aliterasi)

Purwakanthi berdasarkan persamaan sastra atau huruf. Dalam bahasa Indonesia purwakanthi guru sastra identik dengan sajak aliterasi yaitu sajak yang berdasarkan pada persamaan suku kata bagian awal atau permulaan konsonan.

Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Keraf, 2006: 130). Aliterasi adalah ulangan bunyi konsonan, lazimnya pada awal kata yang berurutan untuk mencapai efek kesedapan bunyi, dengan istilah lain purwakanthi atau runtut konsonan.

Misalnya;

(2) Patarendra parabing pawestri (Mn/Mij/III/2/1)

„Sumpah raja kepada istrinya‟

commit to user

Berdasarkan contoh (2) tersebut ditemukan adanya bentuk perulangan konsonan /p/ di suku kata awal, dan seterusnya.

2.1.3.1.3. Purwakanthi lumaksita

Purwakanthi berdasarkan persamaan kata, suku kata akhir dengan suku kata awal yang berurutan atau persamaan huruf akhir dengan huruf awal yang berturut-turut dalam suatu bait/baris tembang. Dengan kata lain purwakanthi lumaksita merupakan pengulangan bunyi, suku kata, kata atau frasa yang berurutan dalam suatu bait tembang untuk memberikan kesan estetis.

Contohnya;

(3) Gung rimang brangta mangarang/ rangu-rangu angranuhi/

(Mn/Kin/8/5-6)

„Begitu sedihnya karena tergila-gila oleh cinta, keragu-raguan yang memenuhi (hati ini)‟

Berdasarkan contoh tersebut ditemukan adanya bentuk perulangan suku kata /ra / pada akhir dan awal kata.

2.1.3.2. Pemanfaatan Bentuk Kata

Kreativitas dalam pemakaian bentuk kata juga dapat menjadi sarana pemanfaataan bahasa puitis dalam membangun tuturan yang estetis. Selanjutnya pemanfaatan bentuk kata tersebut adalah dengan penyiasatan struktur kata.

Penyiasatan struktur kata merujuk pada bangunan struktural yang menonjol, artinya struktur yang mungkin adalah suatu bentuk penyimpangan, namun disengaja oleh pengarangnya untuk memperoleh efek tertentu, khususnya efek estetis dan efek terhadap pembaca. Ada banyak gaya yang lahir dari penyiasatan struktur kata. Gaya yang sering digunakan orang dapat berangkat dari bentuk

commit to user

pengulangan, pemakaian afiksasi yang khas, pemajemukan, penggunaan struktur inversi dan sebagainya.

Kreativitas dalam pembentukan kata juga dapat menandai ciri khas kebahasaan seorang pengarang. Puisi jawa tradisional misalnya, seperti dalam SRPW karya Mangkunegara IV ini banyak memanfaatkan bentuk-bentuk kata.

Salah satunya yaitu dengan proses afiksasi yang memiliki aspek arti arkhais untuk memperoleh makna yang puitis. Melalui afiksasi yang khas tersebut maka dapat membedakan antara tuturan biasa (bahasa yang digunakan sehari-hari) dengan bahasa rinegga „bahasa yang diperindah‟, seperti yang ada di dalam puisi. Hal ini sejalan seperti apa yang disinggung Rene Wellek dan Austin Warren (dalam Sutejo 2010: 15) yang menegaskan bahwa tanpa pengetahuan untuk menentukan mana bahasa sehari-hari, dan mana bahasa yang bukan sastra, dan pengetahuan mengenai langgam sosial zamannya, stilistika tidak lebih dari impresionis belaka.

Melalui pemanfaatan bentuk kata dapat diketahui bagaimana seorang pengarang memanfaatkan potensi bahasa dalam menjalin tuturan yang indah.

Menurut Soepomo Poedjosoedarmo (1979: 6) kata-kata di dalam bahasa Jawa dapat berbentuk morfem bebas dan dapat dibentuk dengan mengalami pengimbuhan (afiksasi), di samping itu terdapat juga proses morfologi, seperti:

pengulangan (reduplikasi), pengubahan bunyi; baik dengan perubahan bunyi vokal maupun perubahan bunyi konsonan, pemajemukan, dan persandian.

Proses afiksasi puisi dalam SRPW karya Mangkunegara IV ini, unsur pembentukan kata (morfologi) lebih di tekankan pada pembentukan kata yang mengalami proses morfologis atau mengalami pembubuhan afiks-afiks yang

commit to user

mengandung aspek arti arkhais. Hal ini untuk dapat mengetahui bagaimana gaya/kekhasan maupun tujuan dari pemakaian bentuk-bentuk tersebut.

Reduplikasi juga merupakan proses morfologi/pembentukan kata dalam bahasa Jawa. Proses ini merupakan pengulangan satuan gramatik baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak (Ramlan, 1985: 57).

Dalam reduplikasi, kata berubah dengan beberapa macam proses pengulangan.

Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, proses pengulangan dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

a. Perulangan seluruh/utuh meliputi:

(1) Perulangan seluruh bentuk dasarnya tanpa variasi fonem.

(2) Perulangan seluruh bentuk dasarnya dengan variasi fonem (Dwilingga salin swara).

b. Perulangan sebagian suku pertama (Dwipurwa) dan perulangan sebagian suku kedua (Dwiwasana).

c. Perulangan berkombinasi dengan pembubuhan afiks.

Pemajemukan merupakan gabungan dua kata atau lebih yang mempunyai arti baru bila dibandingkan dengan arti komponen-komponennya. Kata majemuk dalam istilah Jawa sering disebut dengan tembung saroja. Pemajemukan juga merupakan sarana yang digunakan pengarang dalam membentuk tuturan yang estetis.

Adanya aturan pembuatan tembang macapat menyebabkan suatu kata dapat berubah bentuk maupun hanya terjadi perubahan fonem saja. Perubahan

commit to user

bentuk kata dapat disebabkan karena tuntutan guru wilangan, informalisasi ragam, dan puitisasi ragam. Untuk memenuhi jumlah guru wilangan atau jumlah suku kata yang sesuai dengan konvensi tembang, maka sering terjadi kontraksi, yaitu pengurangan jumlah suku kata dengan cara menggabungkan dua kata menjadi satu kata. Penggabungan ini selalu mengikuti hukum sandi. Penggabungan dua kata menjadi satu kata, dalam istilah Jawa disebut dengan nama tembung. Kata sandi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sandi luar dan sandi dalam (Harjodipuro, 2000: 13). Sandi luar atau disebut tembung garba, maksudnya pertemuan kata dengan kata yang lain, dan sandi dalam atau morfofonemik maksudnya pertemuan suatu kata dengan afiksasi yang menimbulkan bunyi baru yang semula tidak ada. Misalnya kata tekèng „datang di‟ berasal dari kata {teka + ing}; pertemuan bunyi // dengan /i/ berubah menjadi /è/. Untuk sandi dalam misalnya kata pasaban „tempat berkunjung‟, berasal dari {(pa + sb + an)};

pertemuan bunyi // dengan /a/ tetap menjadi /a/. Perubahan fonem suatu kata tersebut dapat terjadi karena adanya tuntutan krama, guru lagu, dan perubahan fonem yang menyatakan arti sangat.

2.1.3.3. Pemanfaatan Pilihan Kata (Diksi)

Pemilihan kata oleh penyair sangat erat kaitannya dengan hakekat puisi yang penuh dengan kata-kata yang dipadatkan. Penyair dituntut kecermatan dalam memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata tersebut di tengah kata lain, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi. Dalam proses pemilihan

kata-commit to user

kata itulah sering terjadi pergumulan penyair dengan karyanya, bagaimana penyair memilih kata-kata yang benar-benar mengadung arti yang sesuai dengan yang diinginkan, baik dalam arti konotatif maupun denotatif.

Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan perbendaharaan kata atau kosakata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa (Keraf, 2006: 24).

Pengarang dalam menyajikan/mengemas tuturannya memiliki gaya tersendiri untuk dapat memberi kesan tertentu pada karyanya. Pemilihan kosakata yang dipergunakan dalam SRPW beragam jenisnya. Kekhasan penggunaan diksi atau pemilihan kosakata yang sering digunakan oleh pujangga untuk membungkus tuturannya agar bernilai estetis antara lain dapat berupa: (a). tembung saroja (b).

tembung dasanama, (c). tembung garba, (d). tembung baliswara, (e).

Penggunaan wangsalan, (g). Penggunaan kata ganti yang khas maupun pemilihan jenis kalimat tetentu, Adapun penjelasannya sebagai berikut:

2.1.3.3.1. Tembung Saroja

commit to user

Tembung saroja adalah kata rangkap, maksudnya dua kata yang sama atau hampir sama artinya digunakan bersama (Padmosoekotjo, 1960). Misalnya anteng jatmika „tenang‟. Kata anteng dan jatmika sama-sama memiliki arti „sikap yang tenang / tidak banyak ulah‟.

2.1.3.3.2. Baliswara

Baliswara adalah dua buah kata atau lebih yang dirangkap menjadi satu tetapi kata yang memberi keterangan berada di depan kata yang diterangkan.

Fungsi penggunaan tembung baliswara untuk menyesuaikan guru lagu pada tembang macapat. Misalnya, muni rempeg yèn budi ber „berbunyi sejajar jika bermurah hati‟. Kata budi ber dapat diganti dengan ber budi „murah hati‟.

2.1.3.3.3. Dasanama

Pengertian secara etimologis dasanama berasal dari dasa „sepuluh‟ dan nama „nama‟, maksudnya satu hal mempunyai nama lain sebanyak sepuluh atau lebih. Dasanama adalah kata-kata yang mempunyai padanan kurang lebih ada sepuluh kata dalam bentuk kata lain. Adanya dasanama, diksi menjadi beraneka ragam dan tuturan menjadi tidak monoton karena tuturan dibangun dengan kekayaan kosakata yang beraneka ragam. Dengan kata lain satu kata dapat memiliki variasi nama yang lainnya. Fungsi dari dasanama adalah untuk: a) variasi kalimat, b) menghindari pengulangan penggunaan kata, agar tidak monoton. Misalnya dalam penyebutan kata „ati‟ atau „hati‟ yaitu dengan penyebutan nama lain yang juga memiliki arti yang sejenis, yaitu galuh, kalbu, nala, penggalih, prana, tyas, wardaya dan sebagainya.

2.1.3.3.4. Wangsalan

commit to user

Wangsalan adalah sebuah tuturan atau kalimat yang mengandung teka-teki dan jawabannya sekaligus terdapat pada kalimat tersebut, tetapi jawabannya tidak secara eksplisit disebutkan, hanya kadang-kadang suku kata dari jawaban teka-teki tersebut digunakan/disiratkan dalam salah satu kata yang terdapat dalam kalimat selanjutnya (Subalidinata, 1968: 67).

Berdasarkan wujudnya, Subalidinata (1968: 67) membedakan wangsalan menjadi empat jenis, yaitu :

a) Wangsalan bebas, yaitu wangsalan yang dibentuk dari bahasa sehari-hari. Pemakaian wangsalan ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari sebagai variasi/hiburan atau mungkin sindiran, dan jawaban dari teka-teki yang ada dalam wangsalan tersebut sudah umum / banyak yang mengetahui. Contoh : (4) “We lha, njanur gunung (aren), dengaren kersa tindak mrene” „we lah, janur gunung (aren), tumben mau datang ke sini‟.

b) Wangsalan yang terikat oleh guru wilangan,

- Wangsalan yang berupa satu kalimat yang terdiri dari dua baris.

Baris pertama terdiri dari empat suku kata yang merupakan teka-teki, dan baris kedua merupakan terdiri dari delapan suku kata yang di dalamnya terdapat suku kata yang mengandung jawaban dari teka-teki tersebut.

Contoh : (5) „Ronning kamal, mumpung anom magurua.‟

„daun kamal (sinom), mumpung masih muda bergurulah‟

commit to user

Baris pertama merupakan teka-teki yang jawabannya adalah sinom, sedangkan baris kedua terdapat suku kata yang mengandung / mengambil suku kata dari jawaban teka-teki itu, yaitu anom dari sinom.

- Wangsalan yang berupa dua kalimat, setiap kalimat terdiri dari dua baris. Baris pertama empat suku kata yang merupakan teka-teki, dan baris kedua delapan suku kata yang mengandung suku kata dari jawaban teka-teki tersebut. Contoh : (6) „Rambut lati, peken alit pinggir mergi‟ (rawis, warung) Aja uwis sinau yen durung wasis.

c) Wangsalan Edi-peni, pada dasarnya sama dengan wangsalan sebelumnya hanya selain terikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata) juga menggunakan purwakanthi. Contoh: (7) „Ronning mlinjo, sampun sayah nyuwun ngaso‟ (So) „Daun mlinjo (So), sudah capek minta istirahat‟.

d) Wangsalan yang terkandung dalam tembang. Wangsalan ini terdapat dalam sebuah tembang yang saling terkait.