BAB III METODE PENELITIAN
3.4. Metode dan Teknik Analisis Data
4.1.1. Purwakanthi Guru Swara (Asonansi)
Purwakanthi Guru Swara adalah perulangan bunyi berdasarkan persamaan vokal. Dalam bahasa Indonesia disebut asonansi, yaitu sajak berdasarkan perulangan bunyi bagian akhir suku kata/perulangan vokal. Asonansi ini berfungsi untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan bunyi (Keraf, 2006:130).
Bunyi bahasa di dalam bahasa Jawa dapat dibagi menjadi tiga kelompok, berdasarkan kriteria tertentu, yaitu: vokal, konsonan, dan semivokal. Fonem vokal bahasa Jawa berjumlah enam buah, yaitu : /i, e, , a, u, o/ (Wedhawati, 2006:65).
commit to user
Realisasi bunyi vokal tersebut umumnya terdapat pada : awal kata atau suku kata pertama, suku kata kedua dari belakang (paenultima), suku kata ketiga dari belakang (antepaenultima), dan suku kata terakhir (ultima). Dalam puisi SRPW karya Mangkunegara IV ini pola asonansi menampilkan bunyi-bunyi vokal yang bervariasi.
Realisasi bunyi vokal yang membentuk asonansi ini dapat berfungsi antara lain: (1) efek keindahan yang timbul akibat adanya paduan bunyi yang memberikan unsur musikalitas, (2) gambaran arti tertentu sejalan dengan gambaran makna yang dinuansakan oleh kata-kata pembentuk paduan bunyinya, (3) gambaran suasana tertentu sebagaimana tertampilkan oleh ciri artikulasi, bentuk dan cara penulisan, (4) gambaran hubungan kata atau unsur pembentuk teks, mampu mendekatkan kata-kata/makna kata dalam teks secara asosiatif (Aminuddin, 1995: 155). Berikut uraian mengenai realisasi pola perulangan bunyi vokal yang membentuk purwakanthi guru swara dalam SRPW karya Mangkunegara IV.
1) Asonansi /a/
Pola asonansi /a/ yang terdapat dalam puisi SRPW karya Mangkunegara IV ini hampir terdapat di semua judul serat. Asonansi /a/ memang cukup intens digunakan oleh penyair sebagai sarana dalam membangun unsur musikalis. Secara umum asonansi /a/ berfungsi memberikan tekanan struktur ritmik sebuah kalimat dalam larik-larik puisi, karena bunyi /a/ tersebut muncul secara berulang dalam posisi yang bervariasi. Pola asonansi /a/ dalam SRPW dapat muncul antara lain: 1) di suku kata kedua dari belakang (paenultima), 2) suku kata ketiga/keempat dari
commit to user
belakang (antepaenultima) dan 3) suku kata terakhir (ultima). Pemanfaatan asonansi /a/ dalam puisi SRPW dapat dilihat dalam data sebagai berikut.
(1) Lumarap ngalap jiwa (Mn, Dhan, I/5/6)
‘(panah) yang meluncur merenggut jiwa’
(2) Kagunturan ing krama sarkara (Mn, Dhan, I/1/2)
‘Terkena oleh kemanisan perlakuan’
(3) Brastha tanpa upaya (Mn, Dhan, I/1/6)
‘Musnah tanpa daya’
(4) Sun watara janma madyapada (Rp, Dhan, II/3/2)
‘Saya rasa orang di seluruh dunia’
(5) Swara sa-macapada (Mn, Dhan, I/8/6)
‘Suara seluruh dunia’
(6) Lalana (n)janjah nagari (Mn, Kin, II/1/2)
‘Berkelana menjelajah negara’
(7) Sumawana surya candra (Mn, Dhan, I/5/8)
‘Dan juga matahari dan rembulan’
(8) Wiraga-raga karana (Mn, Kin, II/4/4)
‘Gerakan tubuhmu menawan’
(9) Wandanira sumrambah warata (Mn, Dhan, I/4/2)
‘Seluruh tubuhmu menyebar merata’
(10) Wicara tanpa karana (Rp, Pang, I/5/1)
‘Berbicara tanpa dasar’
(11) Mbok Manawa ing ngarsa kurang waspada (Rp, Puc, IV/10/5)
‘Mungkin karena dalam awalnya kurang waspada’
(12) Sun watara musthika ingkang pinudya (Rp, Puc, IV/18/4)
‘menurutku itulah mustika yang dipuja-puja’
(13) Puwara tanpa karana (Mn, Mas, IV/3/4)
‘Berakhir tanpa sebab’
Pada data (1) tuturan ‘Lumarap ngalap jiwa’ ‘meluncur merenggut jiwa’
memperlihatkan bahwa pola bunyi /a/ pada kata lumarap ‘meluncur’ dan ngalap
commit to user
‘merenggut’ terdapat pada suku kata kedua dari belakang (paenultima) dan suku kata terakhir (ultima) dengan posisi tertutup. Sedangkan bunyi /a/ pada kata ‘jiwa’
‘jiwa’ terdapat pada suku kata terakhir (ultima) dalam posisi terbuka. Persamaan bunyi /a/ tidak selalu terdapat pada akhir kata setiap baris puisi (pada posisi terbuka), seperti data (1) terdapat pasangan bunyi vokal /a/ yang langsung diikuti oleh konsonan /p/. Namun demikian puncak kenyaringan bunyi berada pada /a/, sehingga persamaan bunyi tersebut dapat dikatakan sebagai asonansi /a/.
Bunyi /a/ yang muncul secara linear menimbulkan tekanan ritmik yang kuat. Tekanan ritmik ini menciptakan keindahan saat pengucapan kata dan mendekatkan kata-kata/kepaduan makna antar kata dalam larik-larik puisi. Hal ini dapat dilihat misalnya pada data (6) bunyi /a/ pada kata lalana ‘berkelana’ muncul secara berdekatan dengan bunyi /a/ pada kata njajah ‘menjelajah’ dan pada kata nagari ‘negara’ sehingga asonansi tersebut mampu mendekatkan kata-kata sebagai akibat tekanan ritmik bunyi /a/ yang muncul secara berulang. Selain itu perulangan tersebut juga mampu mendekatkan hubungan kata-kata secara asosiatif, yang ditunjukkan melalui kolokasi yang sangat serasi yaitu lalana
‘berkelana’, njajah ‘menjelajah’, nagari ‘negara’.
Dalam kajian stilistika, fungsi-fungsi bunyi bahasa pada puisi sering ditempatkan sebagai sesuatu yang membawa arti, mewakili jiwa puisi, dan dapat dianggap sebagai unit yang menentukan makna puisi. Dalam bahasa Jawa ada satuan-satuan lingual yang bentuk foniknya dimanfaatkan secara khas oleh para pemakainya (dalam hal ini penyair) yang dapat mencerminkan aspek-aspek kenyataan tertentu. Bunyi /a/ yang diucapkan dengan posisi mulut terbuka dengan
commit to user
bibir atas agak tertarik ke atas dan bibir bawah tertarik ke bawah menjadikan keduanya saling menjauhi. Wujud yang demikian itu dapat menunjukkan kelebaran dan keluasan. Hal tersebut mencerminkan kenyataan yang hendak disampaikan penyair. Perasaan dominan yang tergambar dari perulangan bunyi /a/
dapat mengasosiasikan/menyarankan sesuatu yang luas, lebar, besar, dan sebagainya. Hal ini seperti tercermin dalam data (4), (5), (6) dan (9) yaitu (4) Sun watara janma madyapada ‘Saya rasa orang di seluruh dunia’. (5) Swara sa-macapada ‘Suara seluruh dunia’, (6) Lalana (n)janjah nagari ‘Berkelana menjelajah negara’, (9) Wandanira sumrambah warata ‘Seluruh tubuhmu menyebar merata’.
Pengucapan bunyi /a/ dengan bibir yang terbuka, juga dapat menyarankan sesuatu yang menganga, kosong, dan hampa. Perasaan yang tercermin dalam bunyi /a/ dapat mensugestikan adanya sesuatu yang kosong atau ketiadaan harapan. Hal ini tercermin misalnya dalam data (3), (10) dan (13). Data (3) Brastha tanpa upaya ‘Musnah tanpa daya’, (10) Wicara tanpa karana ‘Berbicara tanpa dasar’, (13) Puwara tanpa karana ‘Berakhir tanpa sebab’
2) Asonansi /i/
Mangkunegara IV memang terkenal mahir dalam membuat persajakan yang membangun keindahan larik-larik puisinya. Hal ini juga tampak dalam pemanfaatan bunyi vokal /i/ yang berulang sebagai purwakanthi guru swara.
Bunyi /i/ sering dimanfaatkan oleh penyair untuk mengasosiasikan suatu karakter yang kecil, ringan, lembut, halus dan sebagainya.
commit to user
Pola asonansi /i/ dalam puisi SRPW ini dapat muncul secara bervariasi, dapat dilihat dalam data berikut.
(14) Miwah lidhah lawan kilat thathit (Mn, Dhan, I/5/1)
‘sedangkan halilintar dengan kilat petir’
(15) Srining swara lir rindinging pra apsari (Mn, Dhan, I/1/6)
‘Merdunya suara seperti desahnya para bidadari’
(16) Lir kincenging alis kang maweh gring (Rp, Puc, IV/10/5)
‘Seperti terangkatnya alis sang pemberi rasa asmara’
(17) Tumali tangkil kumantil (Mn, Kin, II/12/6)
‘Saling bertalian pada pohonnya bergelantungan’
(18) Putri Adi nagri Kubarsi (Kadarwati) (Pys, Dhan, I/2/5)
‘Putri anak negeri Kubarsi (Kadarwati)’
(19) Kang sari misih piningit (PRK, Kin, I/1/6)
‘Serbuk sarinya masih tersimpan’
(20) Kang medem mencit ning uwit (PRK, Kin, I/1/3)
‘yang belum mekar di atas / pucuk pohon’
(21) Maripih milar malipir (PRK, Kin, I/8/4)
‘mencuat terlihat pucuknya dari pembungkus’
(22) mamardi wigaring sari (PRK, Kin, I/9/2)
‘menjaga/menanti sampai terurainya sari’
Pada data (14-22) pola asonansi bunyi /i/ dapat muncul pada 1) suku kata pertama, 2) suku kata kedua dari belakang (paenultima), dan 3) suku kata terakhir (ultima) dari belakang. Posisi pola asonansi /i/ dapat muncul secara terbuka dan tertutup.
Pengucapan bunyi /i/ membuat pita suara menyempit, sehingga bunyi yang dihasilkan akan cenderung terdengar nyaring dan ringan. Unsur fonik tersebut dapat mencerminkan/mengasosiasikan sesuatu yang terdengar indah, merdu, dan menyentuh perasaan, disamping juga dari segi artikulatoris yang menyempit
commit to user
menyarankan sesuatu hal yang kecil. Nuansa yang tergambar dari adanya unsur bunyi /i/ tersebut seperti halnya tercermin dalam data (19) Kang sari misih piningit ‘Serbuk sarinya masih tersimpan’ dan (20) Kang medem mencit ning uwit
‘yang belum mekar di atas/pucuk pohon’. Pada data (19) dan (20) perulangan bunyi /i/ tersebut menggambarkan/mendeskripsikan suatu bagian dari tumbuhan yang masih tersimpan dan juga berarti masih kecil. Keadaan tumbuhan tersebut dapat diasosiasikan sebagai perlambangan dari seorang wanita yang masih muda, suci, dan lugu.
Di dalam bahasa Jawa pemakaian bunyi /i/ pada suku kata terakhir (ultima) pada posisi terbuka juga dapat menjadi ciri keikonikan tertentu. Pemakaian bunyi /i/ tersebut dapat menjadi ciri sebuah gender, yaitu wanita. Adapun asumsi tersebut salah satunya dapat dipengaruhi oleh pandangan mengenai wanita yang memiliki tubuh dan tenaga lebih kecil jika dibandingkan dengan laki-laki. Lebih kecilnya tenaga yang dikeluarkan untuk pembentukan bunyi /i/ daripada bunyi /a/
dapat menjadi salah satu alasan adanya ciri keikonikan bunyi /i/ untuk menyebut wanita. Hal ini seperti halnya terlihat dalam data (15) Srining swara lir rindinging pra apsari ‘Merdunya suara seperti desahnya para bidadari, (18) ’Putri Adi nagri Kubarsi (Kadarwati)‘ Putri anak negeri Kubarsi’. Pada data (16) kata ‘Apsari’
‘bidadari’ dengan bunyi /i/ yang terletak pada posisi ultima dan terbuka, dapat menunjukkan seorang dewa berjenis kelamin wanita (bidadari). Demikian juga pada data (18), kata ‘putri’ dengan bunyi /i/ di akhir kata pada posisi terbuka, juga dapat menjadi ciri yang menunjukkan jenis kelamin perempuan.
commit to user
Asonansi /i/ juga membawa konsekuensi bahwa pemanfaatan bunyi /i/
dapat mendekatkan kata-kata dan menunjukkan kepaduan makna antarkata dalam larik-larik puisi. Dalam data (17) terdapat pemanfaatan bunyi asonansi /i/ yaitu tuturan Tumali tangkil kumantil ‘Saling bertalian dipohonnya bergelantungan’.
Kata tangkil ‘bertalian’ dan kumantil ‘bergelantungan’ memiliki kedekatan hubungan arti secara asosiatif karena menunjukkan kolokasi yang tepat dan serasi, yaitu saling berkaitan satu dengan yang lain. Tuturan pada data (17) tersebut memiliki tekanan ritmik yang kuat sebagai akibat bunyi /i/ yang muncul dan berulang tiga kali secara linier. Tekanan ritmik ini mampu mensugestikan keindahan pengucapan larik-larik dalam puisi.
3) Asonansi /u/
Tekanan ritmik dari asonansi bunyi /u/ dapat menciptakan keindahan pengucapan larik-larik puisi. Pola asonansi /u/ sebagai purwakanthi guru swara dalam SRPW muncul secara berulang dengan posisi yang bervariasi. Pola asonansi /u/ secara berulang dapat muncul pada 1) suku kata ketiga dari belakang (antepaenultima), 2) suku kata kedua dari belakang (paenultima), dan 3) suku kata terakhir dari belakang (ultima). Posisi asonansi /u/ dalam pola asonansi dapat terbuka dan tertutup. Pemanfaatan asonansi /u/ dapat dilihat dalam data sebagai berikut.
(23) Manungsung asung ganda (Mn, Dhan, I/3/10)
‘Semakin menyebarkan bau harum’
(24) Ayu tur tuhu ing janji (Rp, Puc, IV/9/4)
‘Cantik juga setia pada janji’
(25) Puwara gung wuyung (Mn, Dhan, I/1/7)
‘Akhirnya menjadi sangat kasmaran’
commit to user (26) Kumenyut nganyut jiwa (Mn, Dhan, I/8/10)
‘Terasa menghanyutkan jiwa’
(27) Kambuh-kambuh mbuburu (Pys, Dh, 1/9/4)
‘Rasanya ingin terus memburu’
(28) Bramara sekung mangun-kung (PRK, Kin, I/6/1)
‘Kumbang penasaran sedih karena terpesona’
(29) Tumpek tumpuk sungsun (Mn, Dhan, I/4/7)
‘Berdesakan penuh sesak di tubuhmu’
(30) Sayekti kalamun suwung (Mn, Kin, II/1/1)
‘Jika memang keadaannya kosong’
Pola asonansi bunyi /u/ digunakan oleh pujangga secara bervariasi. Bunyi /u/ dalam data (24) misalnya, dapat muncul pada suku kata pertama dan kedua dari belakang dengan posisi terbuka dan tertutup, yaitu Ayu tur tuhu ing janji
‘Cantik juga setia pada janji’. Bunyi /u/ dapat muncul pada suku kata pertama dan kedua dari belakang, yaitu pada data (24) kata tuhu ‘setia’. Data (27) memperlihatkan asonansi bunyi /u/ muncul pada suku kata pertama, kedua dan sekaligus ketiga dari belakang dengan suku kata terakhir (ultima) dalam posisi terbuka, yaitu mbuburu ‘memburu’. Bunyi /u/ tidak pernah muncul pada awal kata dan pada posisi selain ultima tidak ditemukan posisi yang terbuka.
Asonansi bunyi /u/ yang muncul secara berulang dapat menciptakan keindahan dalam pengucapan, karena dapat memberikan tekanan ritmik dalam larik puisi. Hal ini sangat penting dalam struktur puisi yang dilagukan seperti dalam puisi Jawa tradisional (tembang Jawa). Tekanan ritmik ini menciptakan keindahan saat pengucapan kata dan mendekatkan kata-kata yang mengandung bunyi-bunyi /u/ tersebut.
commit to user
Pola struktur bunyi /u/ dalam SRPW juga dapat mencerminkan aspek-aspek/kenyataan tertentu, salah satunya yaitu untuk menggambarkan perasaan pengarang. Perasaan dominan yang tergambar dari tuturan yang dibangun oleh asonansi /u/ dapat mengasosiasikan/menyarankan sesuatu yang bertambah, lebih atau semakin. Hal ini juga dapat tercermin melalui ciri keikonikan pola pengucapan bunyi /u/. Pada saat mengucapkan bunyi /u/, posisi mulut cenderung maju atau jika dilihat dari samping akan bertambah panjang/memanjang. Ciri keikonikan tersebut dapat mengasosiasikan sebuah kenyataan akan sesuatu yang bertambah, lebih/superlatif atau semakin. Hal ini ternyata juga tercermin dari data (23) Manungsung asung ganda ‘Semakin menyebarkan bau harum’, (34) Ayu tur tuhu ing janji ‘Cantik juga setia pada janji’, (35) Puwara gung wuyung
‘Akhirnya sangat kasmaran’, (36) Kumenyut nganyut jiwa ‘Terasa sangat memilukan’, (37) Kambuh-kambuh mbuburu ‘Rasanya ingin terus memburu’.
Pada data (33) sampai (37) tuturan yang dibangun oleh asonansi /u/ mampu menunjukkan atau menggambarkan sebuah suasana emosi yang menggebu-gebu, segala sesuatu diharapkan semakin dapat bertambah dan lebih. Pemanafaatan bunyi yang demikian akan mampu menciptakan tuturan yang bergaya Hiperbolis.
4) Asonansi /ê/ (pêpêt)
Asonansi /ê/ dalam puisi SRPW karya Mangkunegara IV sering muncul dalam posisi yang bervariasi. Pola asonansi /ê/ dapat muncul secara berulang pada 1) Suku kata keempat/ketiga dari belakang, 2) suku kata kedua dari belakang (paenultima) dan suku kata terakhir dari belakang (ultima) dan tidak pernah
commit to user
muncul pada posisi awal maupun akhir kata. Pemanfaatan bunyi /ê/ ini dapat dilihat pada data berikut:
(31) Rumakêt kêkêt neng sira (Mn, Dhan, I/8/8)
‘Melekat erat di dirimu’
(32) Sêdhêng sêdhêt amantêsi (Mn, Kin, II/4/2)
‘Terasa selaras singset menjadi serasi’
(33) Dhemês luwês mêrak ati (Mn, Kin, II/5/2)
‘Elok luwes menyenangkan hati’
(34) Gedhongên nêng jinêm wangi (Mn, Kin, II/17/6)
‘Simpanlah di tempat tidur’
(35) Napas sêsêg kêkêtêg kumitir (Mn, Mij, III/9/4)
‘Napas sesak berdebar gemetaran’
(36) Sêsêndhonan gênti-gênti (Rp, Pang, I/4/7)
‘Bernyanyi berganti-gantian’
Bunyi asonansi /ê/ dapat muncul pada suku kata ketiga dari belakang, seperti dalam data (35) kêkêtêg ‘berdebar’. Bunyi /ê/ dapat muncul pada suku kata kedua dari belakang, seperti kata gênti-gênti ‘berganti-gantian’ (data 36), dan suku kata pertama dari belakang luwês ‘luwes’ (data 33). Bunyi /ê/ tidak pernah ditemukan pada posisi awal ataupun akhir kata, sehingga tidak pernah berada dalam posisi suku kata terbuka.
Dalam data (33) terdapat kalimat Dhemês luwês mêrak ati ‘Elok luwes menyenangkan hati’. Kalimat tersebut apabila diucapkan sangat musikalis dan enak didengar, sebab adanya bunyi vokal /ê/ yang muncul secara berturut-turut.
Adanya purwakanthi guru swara akibat munculnya vokal /ê/ secara berulang-ulang menyebabkan kemerduan baris dalam puisi.
commit to user
Bunyi /ê/ cenderung menghasilkan suara yang lemah lembut, sehingga dapat menciptakan suasana yang halus, lembut dan menyenangkan. Hal ini seperti tercermin pada data (32) dan (33). Tekanan ritmik bunyi /ê/ yang divariasikan dengan bunyi /s/ dimanfaatkan oleh pujangga dalam menggambarkan keadaan tubuh dan gerakan seorang wanita yang selaras dan menyenangkan, sehingga dapat mempertegas perasaan penyair dalam menggambarkan seorang wanita yang didambakannya.
5) Asonansi /e/ (taling)
Pola asonansi /e/ yang terdapat dalam SRPW karya Mangkunegara IV juga muncul secara variatif, tetapi secara intens sedikit digunakan oleh pengarang.
Bunyi vokal /e/ di dalam fonem vokal bahasa Jawa memiliki alofon bunyi yaitu /è/. Realisasi bunyi /e/ ini dapat dilihat pada data berikut :
(37) Kenya kang nèdhèng birai (PRK, Kin, I/1/2)
‘Wanita yang sedang memendam birahi’
(38) Lèngè ing tyase ngalèlèh (Mn, Dhan, I/2/3)
‘Rasa asmara yang ada di hati semakin membuat tidak berdaya’
(39) Larasing rèh neng jinêm-mrik (Mn, Kin, II/7/6)
‘Membuat santainya/nyamannya diri di tempat tidur’
(40) Taru kang nèdhèng rumembe (ndadi) (Rp, Dhan, II/7/3)
‘Pohon yang sedang bersemi (ndadi)’
(41) Kang mèdêm manêring warni/ winèwèr dening salaga (PRK, Kin, I/4/4-5)
‘Yang belum mekar dan berwarna, Yang masih tergulung oleh pembungkusnya (belum mekar)’.
Dalam data (37) - (41) bunyi /e/ muncul berselingan dengan bunyi /è/ dan bunyi /ê/ secara bervariasi. Namun puncak kenyaringan bunyi tetap berada pada bunyi /e/ dan /è/ yang penulisan di dalam huruf jawa sama-sama menggunakan
commit to user
penanda ‘taling’. Perulangan bunyi /e/ dapat muncul pada suku kata kedua dan terakhir dari belakang, pada posisi tertutup maupun terbuka. Hal ini seperti terdapat pada data (40) rumembe ‘bersemi’, bunyi /e/ muncul pada suku kata pertama dari belakang dan dalam posisi terbuka.
Purwakanthi swara bunyi /e/ membawa konsekuensi bahwa bunyi /e/
dapat mendekatkan kata-kata dalam larik-larik puisi. Dalam data (38) Lenge ing tyase ngaleleh ‘Rasa asmara yang ada di hati semakin membuat tidak berdaya’, dapat mendekatkan kata-kata dalam larik puisi. Penafsiran demikian didasarkan pada adanya paduan bunyi vokal /e/. Bunyi /e/ pada kata Lenge ‘rasa asmara’
muncul secara berdekatan dengan bunyi /e/ pada tyase ngaleleh ‘di hati yang semakin membuat takberdaya’, sehingga tuturan tersebut memiliki tekanan ritmik sebagai akibat bunyi /e/ yang muncul secara berulang.
Perulangan bunyi /e/ yang divariasikan dengan /ê/ dan /è/ dapat mengasosiasikan sesuatu yang tersimpan dan terpendam, seolah-olah ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya, seperti halnya dalam data (37) dan (41).
6) Asonansi /o/
Pola asonansi /o/ dalam SRPW muncul pada 1) suku kata ketiga atau keempat dari belakang, 2) suku kata kedua dari belakang dan 3) pada awal kata atau suku kata pertama dari belakang. Pemanfaatan bunyi /o/ dapat dilihat dalam data berikut :
(42) Sajroning meh layon (Mn, Mij, III/12/2)
‘Hampir saja akan mati’
(43) Amelok sumorot (Mn, Mij, III/18/2)
‘Terlihat bersinar’
commit to user (44) Oneng anon mring sira (Mn, Dhan, I/6/10)
‘Kangen ingin melihat dirimu’
(45) Tinumbing ron angayomi (PRK, Kin, I/4/5)
‘Terbalut daun yang melindungi’
(46) Kontraning dyah kotama (Mn, Dhan, I/2/10)
‘Terlihat menyebar dewi keutamaan’
Di semua serat dalam SRPW asonansi bunyi /o/ hanya berulang maksimal tiga kali, dan rata-rata hanya berulang dua kali. Seperti halnya asonansi bunyi /e/, perulangan vokal bunyi /o/ juga kurang intens digunakan oleh penyair. Pada data (44) bunyi /o/ muncul pada awal kata yaitu oneng ‘kangen’, kemudian disusul bunyi /o/ pada suku kata terakhir dari belakang anon ‘melihat’ dengan posisi tertutup.
Pada data (44) walaupun hanya terdapat bunyi /o/ yang berulang dua kali, namun dapat dirasakan tekanan ritmiknya. Struktur ritmik dalam data (44) terbangun dari bunyi /o/ yang disusul bunyi /n/ dan muncul secara berulang, yaitu oneng ‘kangen’ yang kemudian disusul bunyi /o/ pada anon, sehingga tekanan
struktur ritmik ini mendekatkan kata-kata dalam larik puisi. Demikian juga pada data (46) kontraning dyah kotama ‘Menyebarlah dewi keutamaan’. Bunyi /o/ yang hanya berulang dua kali mampu menimbulkan tekanan ritmik, karena kata kontraning ‘menyebarlah’ dibangun oleh bunyi vokal /o/ pada posisi suku kata ketiga dari belakang dan berawalan konsonan /k/, kemudian disusul oleh posisi vokal /o/ yang sama pula, yaitu pada kata kotama ‘keutamaan’.
Perulangan bunyi /o/ dalam SRPW dapat membantu menimbulkan imaji visual pembaca, seperti dalam data (43), (44) dan (46). Amelok sumorot ‘terlihat bersinar’, anon ‘melihat’, dan kontra ‘terlihat menyebar’, sama-sama
commit to user
menunjukkan suasana/pelukisan keadaan yang merupakan perwujudan dari pengalaman penglihatan.
IV. I. 2. Purwakanthi Guru Sastra (Aliterasi)
Unsur bunyi yang juga memberikan sentuhan nuansa musikalis dalam SRPW karya Mangkunegara IV ini, adalah perulangan bunyi berdasarkan persamaan sastra atau huruf. Perulangan tersebut sering disebut sebagai purwakanthi guru sastra. Dalam puisi modern purwakanthi guru sastra juga identik dengan istilah aliterasi.
Realisasi perulangan bunyi aliterasi yang sering dimanfaatkan penyair di dalam setiap larik puisinya, antara lain dapat memberikan: (1) efek keindahan yang timbul akibat adanya paduan bunyi yang memberikan unsur musikalitas, (2) gambaran arti tertentu sejalan dengan gambaran makna yang dinuansakan oleh kata-kata pembentuk paduan bunyinya, (3) gambaran suasana tertentu sebagaimana tertampilkan oleh ciri artikulasi, bentuk dan cara penulisan, (4) gambaran hubungan kata atau unsur pembentuk teks, mampu mendekatkan kata-kata/makna kata dalam teks secara asosiatif (Aminuddin, 1995: 155).
Bahasa Jawa mempunyai 21 konsonan, yaitu /b/, /c/, /d/, /D/, /g/, dan /h/
/j/, /k/, /?/, /l/, /m/, /n/, /ñ/, /ŋ/, /p/, /r/, /s/, /t/, /T/, /w/, dan /y/. Di di bawah ini akan diuraikan pemanfaatan aliterasi atau persajakan bunyi-bunyi konsonan sebagai pendukung keindahan tuturan pujangga dalam SRPW.
commit to user 1) Aliterasi /b/
Di dalam SRPW pola aliterasi bunyi /b/ tidak banyak muncul/kurang intens digunakan oleh penyair, namun demikian tekanan ritmik dari bunyi /b/ yang berulang mampu memberikan penekanan dan unsur musikalis pada larik puisi.
Realisasi bunyi /b/ dapat dilihat pada data sebagai berikut.
(47) Bubar padha tumiba (Mn, Dhan, 1/4/6)
‘Hilang saling berjatuhan’
(48) Yen bêndu marang kang abdi (Mn, Kin, II/17/4)
‘Kalau masalah mendatangiku’
Pada data (47) dan (48) bunyi /b/ dapat muncul di awal kata seperti pada kata Bubar ‘hilang’ (data 47) dan bêndu ‘masalah’ (data 48). Bunyi /b/ juga muncul pada suku kata terakhir dari belakang (ultima), yaitu kata tumiba
‘berjatuhan’. Posisi letak suku kata di dalam larik puisi memang tidak memiliki arti/ciri keikonikan tertentu, namun letak posisinya yang bervariasi dapat memberikan tekanan ritmik pada larik sehingga memberikan nuansa keindahan pada saat mengucapkannya.
Bunyi /b/ sebagai bunyi hambat bilabial bersuara dapat mengasosiasikan nada berat, sehingga dapat memberikan nuansa kurang menyenangkan (cocophony) dalam larik puisi. Hal ini seperti tercermin dalam data (48) Yen bêndu marang kang abdi ‘Kalau masalah mendatangiku’. Nuansa yang tergambar dalam tuturan tersebut adalah suatu hal yang berkaitan dengan kesulitan dan sesuatu yang tidak menyenangkan.
commit to user 2) Aliterasi /c/
Pola aliterasi /c/ juga merupakan bentuk variasi bunyi yang dipotensikan penyair dalam membangun larik puisi yang bernuansa estetis. Bunyi /c/ seperti halnya aliterasi /b/ mampu memberikan struktur ritmik dalam larik puisi. Tekanan ritmik ini menimbulkan rima yang dapat menciptakan keindahan dalam pengucapan. Pola aliterasi bunyi /c/ dalam SRPW dapat dilihat pada data sebagai berikut :
(49) Cahyane cumundhuk, cumandhi ring wajanira (Mn. Dhan, 1/7/7)
‘Cahayanya tepat mengenai, terpaut di gigimu’
(50) Cipta murca ring tyasira (Mn, Kin, II/22/3)
‘Angan-angan/keinginan hilang dari hati’
(51) Kalak cêlak pacar-cina (NRS, Kin, I/2/3)
‘Bunga Kalak pacar-cina’
(52) Micara nora cêtha (Rp, Dhan, II/6/9)
‘berbicara menjadi tidak jelas’
Pada data (49) Cahyane cumundhuk, cumandhi ring wajanira ‘Cahayanya tepat mengenai, terpaut di gigimu’. Bunyi /c/ yang berulang sebanyak tiga kali pada setiap awal kata mampu mendekatkan kata-kata dalam larik puisi. Aliterasi /c/ yaitu pada kata cumundhuk ‘mengenai’ dan cumandhi‘terpaut’ juga memiliki kedekatan hubungan arti secara asosiatif, yaitu kata-kata tersebut sama-sama memiliki makna terkait pada sebuah obyek.
Perulangan bunyi /c/ pada data (49) yang dipadu dengan perulangan bunyi /m/ dan /dh/ dimanfaatkan penyair dalam membangun tuturan yang bernuansa romantis, seperti yang tercermin dalam data (49) dimana penyair ingin
commit to user
menggambarkan ekspresinya tentang keindahan salah satu bagian dari wanita, yaitu gigi yang berkilau seperti halnya ketika diterpa sinar.
3) Aliterasi /d/
Perulangan bunyi konsonan merupakan salah satu sarana penyair guna mencapai/mendapatkan unsur estetis dalam tiap-tiap bait puisi yang dijalinnya.
Pengulangan bunyi /d/ juga bertujuan dalam menciptakan keindahan saat pengucapan larik puisi. Pola bunyi /d/ yang membentuk purwakanthi guru sastra dalam SRPW karya Mangkunegara IV dapat dilihat pada data berikut.
(53) Pada panduming budaya/ dayaning reh sila-krami (Pyk, Kin, I/1/5)
‘Tempat warisan budaya, Kekuatan/daya dari perkara tata krama’
(54) Sadpada dupi andulu (PRK, Kin, I/8/1) ‘Kumbang saat itu melihat’
(55) Kadereng kudu andarung/ kumedah dadiya abdi (Mn, Kin, II/6/1-2) ‘Keinginan hati yang ingin lekas terwujud, mengharuskanku tuk
mengabdi padamu’
(56) Myang dêdêg pangadêgipun (Mn, Kin, II/4/1) ‘Dalam bentuk postur tubuhnya’
(57) Ingsun kang dadya sadpada (Mn, Kin, II/13/3) ‘Diriku yang kan jadi kumbangnya’
(58) Sayêkti kadawan/ drawayane tyas naputi/ dumadi dadalan lêna// (Mn, Mas, IV/17/2-4)
‘Sesungguhnya terlalu, menjadi Luluh hati diliputinya, kan menjadi jalan bagi kelengahan’
Data (53) membuktikan bahwa bunyi /d/ yang berulang sebanyak empat kali mampu menciptakan keindahan pengucapan larik puisi. Bunyi /d/ dalam SRPW dapat muncul pada posisi 1) awal kata 2) suku kata ketiga dari belakang, 2) suku kata kedua dari belakang, 3) suku kata terakhir dari belakang, dan tidak ditemukan bunyi /d/ yang muncul di akhir kata.
commit to user
Pada data (54) Sadpada dupi andulu ‘kumbang saat itu melihat’ memiliki perulangan bunyi /d/ sebanyak empat kali. Kemerduan purwakanthi guru sastra tentu akan menjadi berkurang apabila salah satu kata dari tuturan itu diganti
Pada data (54) Sadpada dupi andulu ‘kumbang saat itu melihat’ memiliki perulangan bunyi /d/ sebanyak empat kali. Kemerduan purwakanthi guru sastra tentu akan menjadi berkurang apabila salah satu kata dari tuturan itu diganti