2. 1.4.1. Pencitraan
Sebagai salah satu genre sastra, puisi adalah ungkapan estetik dengan isntrumen bahasa, artinya keindahan puisi adalah keindahan bahasa itu sendiri.
Pemakaian bahasa (pemilihan kata) dalam puisi merupakan salah satu kunci
commit to user
keberhasilan penyair dalam mengapresiasikan isi jiwanya. Bahasa puisi adalah bahasa yang pilihan, padat, kaya, prismatis, konkret, figuratif dan penuh ekspresi, sehingga pemakaian bahasa yang tidak demikian akan melahirkan bahasa yang cair/tidak mampu mengemban sekian banyak makna yang diamanatkan oleh penyairnya (Sutejo, 2010: 17-18).
Bahasa dalam pembicaraan puisi SRPW karya Mangkunegara IV, memang dominan dengan unsur pencitraan. Di dalam SRPW ini banyak sekali aspek diksi yang mewakili sebuah pencitraan, terutama yang berhubungan dengan alam.
Penggambaran sifat, tingkah laku dan bagian tubuh manusia banyak digambarkan/diidentikkan dengan sifat-sifat benda alam, sehingga pengimajian kata yang digunakan oleh penyair berfungsi membuat lebih hidup gambaran dalam penginderaan dan pikiran. Di sinilah karenanya, penting menelusuri citraan yang ada di dalamnya.
Mengacu dari beberapa pendapat ahli mengenai pencitraan, Sutejo (2010:
19) memberikan penjabaran secara substansif, yaitu antara lain; Rene Wellek dan Austin Warren yang memformulasikan pencitraan sebagai reproduksi mental, suatu ingatan masa lalu yang bersifat indrawi dan berdasarkan persepsi/tidak selalu bersifat visual, Lebih lanjut dijelaskan bahwa citraan dapat meliputi citra pencecapan, penciuman, kinaesthetic termasuk haptic dan empathic, synesthetic, citraan “terikat”, dan citraan “bebas”. Rahmad Djoko Pradopo membedakan pencitraan menjadi beberapa jenis: (1) citra penglihatan (visual imagery), (2) citra pendengaran (audio imagery), (3) citra penciuman, (4) citra pencecapan, (5) citra gerak (movement imagery), dan (6) citra kekotaan dan kehidupan modern. Burhan
commit to user
Nurgiantoro mengelompokkan pencitraan berdasarkan pengalaman kelima indera:
(1) citra penglihatan (visual), (2) citra pendengaran (auditoris), (3) citra gerak (kinestetik), (4) citra rabaan (taktil termal), dan (5) citra penciuman (olfaktori).
Sedangkan Herman J. Waluyo menyatakan bahwa citraan sama dengan pengimajian yang ditandai dengan penggunaan kata yang konkret dan khas. Imaji yang ditimbulkan ada tiga macam, yakni imaji visual (penglihatan) yang berfungsi melukiskan sesuatu yang bergerak-gerak, imaji auditif (pendengaran) yang berfungsi agar pembaca seolah-olah dapat mendengarkan sesuatu, dan imaji taktif (citarasa) yaitu sesuatu yang seolah-olah bisa diraba, dirasakan atau disentuh (Waluyo, 1995: 78-79).
Mengacu pada jenis pencitraan yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, Sutejo (2010: 20-24) menjabarkannya sebagai berikut:
1). Citra Penglihatan (Visual Imagery)
Citra penglihatan ialah jenis citraan yang sering menekankan pengalaman visual (penglihatan) yang dialami pengarang kemudian diformulasikan ke dalam rangkaian kata yang seringkali metaforis dan simbolis. Citra penglihatan dapat memberikan rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang semula terlihat akan tampak/hadir di depan penikmat. Contoh dalam SRPW:
(8) Miwah lidhah lawan kilat thathit/ apapanthan lawênne anuksma/
kanèng liring karêmênne/ (Mn, Dhan, I/5/1-3)
„Sedangkan halilintar dan kilat petir, Bergerombol meganya menjelma, Dalam kerlingan mata yang menyenangkan‟
commit to user 2). Citra Pendengaran (Audio Imagery)
Citra pendengaran melukiskan bahasa yang merupakan perwujudan dari pengalaman pendengaran (audio). Citra pendengaran juga dapat memberikan rangsangan kepada indera pendengaran sehingga mengusik imaji pembaca untuk memahami teks sastra secara lebih utuh. Citraan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
(9) Srining swara lir rindinging pra apsari/ kumenyut nganyut jiwa. (Mn, Dhan, I/8/9-10)
„Merdunya suara seperti desahnya para bidadari, terasa menghanyutkan jiwa‟.
3). Citra Penciuman
Citra penciuman ialah penggambaran yang diperoleh melalui pengalaman indera penciuman, selanjutnya citraan jenis ini dapat membangkitkan emosi penciuman pembaca untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh atas pengalaman indera yang lain. Citraan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
(10) Ganda arum tinumrapkên maring/ wandanira sumrambah warata/
sumrik-sumrik sarandune/ kongas mangêkêsing kung/ (Mn, Dhan, I/4/1-4)
„Bau harum yang ada pada, Seluruh tubuhmu menyebar merata, Aroma keharuman seluruh tubuh, Semerbak harumnya tersimpan dalam rasa asmara‟.
4). Citra Perabaan (Tactil Imagery)
Citraan perabaan ialah penggambaran atau pembayangan dalam cerita yang diperoleh melalui pengalaman indera perabaan. Citra perabaan seringkali digambarkan bagaimana sesuatu secara “erotik” dan “sensual” dapat memancing imaji pembaca. Dapat dicontohkan sebagai berikut :
commit to user
(11) Pandukên kanaka lungit/ sumarah karsanta gusti” (Mn, Kin, II/18/5)
“Pijit-pijitlah dengan kuku yang tajam, pasrahlah pada kehendakku”.
5). Citra Gerak (Movement Imagery)
Citraan gerak merupakan penggambaran sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai sesuatu yang dapat bergerak ataupun gambaran gerak pada umumnya. Citraan gerak dapat diilustrasikan sebagai berikut :
(12) Anjegreg (n)jenger anjentung/
jinjang jejantunge rujit/
cipta murca ring tyasira/
gumulung ngrangkul geguling/
rinasa-rasa udrasa/
drawaya waspa dres mijil//
„Diam tegak berdiri mematung menyesal, Jantung bergetar karena sedih,
Hilanglah segala kata-kata, Bergulung memeluk guling, Terasa ingin menangis, Air mata deras mengalir‟.
Beberapa jenis citraan di atas digunakan oleh penyair atau pengarang tidak secara terpisah, melainkan dipergunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisannya.
2. 1.4.2. Pemakaian Bahasa Figuratif
Majas/Bahasa figuratif (Figurative leanguage) pada dasarnya merupakan bagian dari gaya bahasa itu sendiri. Adanya bahasa figuratif ini menyebabkan puisi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, dan terutama menimbulkan kejelasan angan (Pradopo, 1993: 62).
commit to user
Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa untuk menyatakan sesuatu makna dengan cara yang tidak biasa yakni secara tidak langsung. Kata atau bahasanya bermakna kias atau lambang (Waluyo, 1995: 83). Dalam penggunaannya, figurative leanguage mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu hal yang lain. Fungsi puitisnya ialah dapat memperjelas, menjadikan sesuatu lebih menarik dan memberikan daya hidup dalam karya sastra (Sutejo, 2010: 27).
Bahasa figuratif/majas sering juga disebut dengan istilah gaya bahasa. Hal ini sebagai istilah lain yang pada intinya merujuk pada gaya kalimat yang memiliki corak-corak tertentu, seperti: perbandingan, pengiasan, pertautan, dan sebagainya. Gaya bahasa dalam pengertian ini perlu dijelaskan dengan istilah style yang juga sering disebut/diistilahkan sebagai „gaya bahasa‟ karena juga merujuk pada gaya pengarang dalam berbahasa. Gaya bahasa yang berupa bahasa figuratif ini merupakan salah satu sarana perwujudan dari style/gaya kebahasaan pengarang dalam pengungkapannya atau merupakan bagian dari style itu sendiri. Bahasa figuratif mengungkapkan suatu hal di dalam karya sastra, tidak secara ekspilisit, akan tetapi dibungkus dengan menggunakan perumpamaan, perbandingan, pertautan, dan sebagainya. Oleh karena itu, bahasa figuratif ini lebih sempit jangkauannya daripada style atau gaya berbahasa/gaya bahasa, yang meliputi semua hierarki kebahasaan, seperti pilihan kata, frasa, klausa, dan sebagainya.
Akan tetapi pengungkapan bahasa figuratif sering disebutkan dengan „gaya bahasa‟, sehingga ada penyebutan seperti: gaya bahasa litotes, gaya bahasa
commit to user
metafora, dan sebagainya. Perihal penyebutan ini dapat diterima, akan tetapi menurut hemat peneliti penggunaan istilah tersebut perlu dijelaskan agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman,
Ada beberapa pendapat dan jenis gaya bahasa yang berupa bahasa figuratif dilihat dari berbagai aspek oleh beberapa ahli, yaitu antara lain: Kutha Ratna (2009: 164) yang berpendapat bahwa majas merupakan penunjang, unsur-unsur yang berfungsi untuk melengkapi gaya bahasa. Majas (figurative leanguage) didefinisikan sebagai pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis/pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan. Lebih lanjut Kutha Ratna membedakan majas menjadi empat macam, yaitu: a) majas penegasan, b) perbandingan, c) pertentangan, dan d) majas sindiran. Berbeda dengan Kutha Ratna, Scoot (1980: 107) lebih sedikit spesifik mengatakan bahwa majas/bahasa figuratif mencakup metafora, simile, personifikasi dan metonimi.
Adapun Panuti Sudjiman membedakan majas (figurative leanguage) menjadi tiga yaitu : (i) Majas perbandingan, seperti metafora, analogi, (ii) majas pertentangan seperti ironi, hiperbola, litotes, dan (iii) majas pertautan seperti metonimia, sinekdok, eufemisme, dan lain-lain (Sudjiman, 1996: 48). Sedangkan Pradopo yang menyebut sebagai bahasa kiasan, mengikuti apa yang dikemukakan oleh Alternbern (1970) membedakannya ke dalam: (i) perbandingan/simile, (ii) metafora, (iii) perumpamaan epos, (iv) personifikasi, (v) metonimi, (vi) sinekdok dan (vii) alegori (Pradopo, 2005: 62).
Gorys Keraf (2006: 115-145) mengemukakan bahwa gaya bahasa itu sendiri dapat meliputi semua hierarki kebahasaan, pilihan kata secara individual,
commit to user
frasa, klausa, dan wacana. Jangkauan gaya bahasa sangat luas, tidak hanya mencakup unsur-unsur kalimat yang mengandung corak-corak tertentu, seperti yang umum terdapat pada retorika klasik. Kemudian ia membagi gaya bahasa menjadi dua segi, yaitu segi Nonbahasa dan segi Bahasa. Dalam hal segi bahasa dibedakan menjadi:
1). Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, yang mencakup gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi, gaya bahasa percakapan.
2). Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana, yaitu antara lain: gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, gaya menengah.
3). Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat: gaya bahasa klimaks, gaya bahasa antiklimaks, gaya bahasa paralelisme, gaya bahasa antitesis, gaya bahasa repetisi.
4). Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yang dibedakan sebagai berikut:
(i) Gaya bahasa retoris (seperti: aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis dan preterisio, apostrof, asindenton, polisindenton, kiasmus, elipsis, eufimismus, litotes, histeron proteron, pleonasme dan tautologi, parifrasis, prolepsis atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma, koreksio atau epanortosis, hiperbol, paradopks, dan oksimoron).
(ii) Gaya bahasa kiasan (seperti: persamaan atau simile, metafora, alegori, personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekode, metonimia,
commit to user
antonomasia, hipalase, ironi, sinisme, sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, dan paronomasia).