DAFTAR LAMPIRAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan 1. Hipotesis Pertama
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran TAI dengan model STAD terhadap prestasi kognitif dan pada prestasi afektif siswa tidak ada perbedaan karena walapun prestasi afekifnya tinggi belum tentu prestasi kognitifnya akan tinggi.
Pembelajaran dengan menggunakan model TAI dan STAD memberikan pengaruh yang berbeda terhadap prestasi kognitif. Dari data Tabel 4.20 menjelaskan bahwa untuk siswa yang mendapat perlakuan dengan model
commit to user
pembelajaran TAI mempunyai rataan prestasi kognitif lebih besar dibandingkan rataan prestasi kognitif dengan model pembelajaran STAD. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran TAI siswa yang dipilih menjadi asisten adalah siswa yang mempunyai kemampuan awal yang relatif tinggi dan sebelum pembelajaran asisten tersebut telah diberi pembekalan mengenai materi kinematika gerak.
Asisten bertugas membantu anggota kelompoknya dalam mengisi LKS dan membantu anggota kelompoknya apabila ada yang kurang paham. Sehingga apabila salah seorang anggota kelompok yang kurang memahami materi dapat ditanyakan kepada anggota kelompok yang lain atau kepada asisten masing-masing kelompok sebelum ditanyakan kepada guru. Sedangkan pada model STAD pada saat berdiskusi dan mengisi LKS jawaban diskusi kelompok kurang tepat tetapi karena malu bertanya kepada guru akhirnya jawaban yang kurang tepat tersebut akan menyebabkan hasil prestasi kognitif yang rendah dan ada siswa yang tidak mempelajari pokok bahasan kinematika gerak dan hanya bergantung kepada teman satu kelompoknya.
Pada pembelajaran TAI siswa yang malu bertanya kepada guru dapat mengajukan pertanyaan kepada asisten dan apabila asisten belum dapat menjawab pertanyaan teman satu kelompoknya, maka asisten dapat menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru mata pelajaran. Jadi asisten yang terpilih dapat memotivasi siswa lain untuk mempelajari materi kinematika gerak dan dapat mempengaruhi sikap, minat, nilai, konsep diri dan moral teman dalam satu kelompoknya.
Sedangkan dalam pembelajaran STAD siswa masih merasa malu bertanya kepada
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
139
guru sehingga kurang yakin dengan hasil diskusi dengan teman satu kelompoknya dan semangat belajar menjadi rendah serta menyebabkan sikap, minat, nilai, konsep diri dan moral juga menjadi rendah.
Materi kinematika gerak yang merupakan materi hitungan dan pemahaman konsep lebih mudah disampaikan dalam penyampaian materinya dengan menggunakan model STAD dan TAI. Pada proses belajar mengajar siswa mengamati demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan siswa mengisi dan menjawab soal yang ada pada LKS. Pada model STAD yang digunakan dua kelas yaitu X1 dan X4 masing- masing kelas berisi 29 siswa, satu kelas dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa dan sikap ilmiah dan kreativitasnya bersifat heterogen begitu juga pada kelas TAI yang digunakan dua kelas yaitu kelas X3 dan X5 pada setiap kelas berjumlah 29 siswa, jumlah kelompok dan anggota kelompoknya serta cara pengelompokannya sama saja dengan model STAD bedanya pada kelas TAI tiapkelompok mempunyai satu orang asisten yang membimbing anggota kelompoknya dalam pembelajaran.
Dalam proses pembelajarannya guru menyajikan pelajaran dengan menggunakan demostrasi tiap satu kelompok diberikan LKS, dalam pelaksanaannya siswa mengisis LKS yang diberikan oleh guru. Setelah guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Hal ini sebagai dasar untuk menentukan tim yang akan mendapatkan penghargaan. Berdasarkan perolehan skor, maka skor terbanyak akan mendapatkan penghargaan dengan sebutan “Tim terbaik”.
Sedangkan pada model TAI Setiap kelompok dipimpin seorang siswa sebagai
commit to user
asisten kelompok yang mempunyai kemampuan lebih dibandingkan anggota lainnya. Asisten kelompok diberi pembekalan asisten terlebih dahulu sehari sebelum proses pembelajaran berlangsung. Dalam pembekalan asisten tersebut, siswa yang menjadi asisten di ajarkan langkah-langkah pembelajaran, pemberian konsep-konsep yang ada dalam Kinematika gerak. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang menjadi asisten lebih siap memberi bantuan kepadan teman satu kelompoknya yang kurang paham. Pada akhir pelajaran guru akan memberikan penjelasan dan kesimpulan dari materi yang telah dipelajari, Setelah itu baru siswa kembali ketempat masing-masing dan diberikan tes individu untuk melihat pemahaman siswa pada materi kinematika gerak. guru memberikan skor kepada setiap kelompok, nilai penskoran diperoleh dari nilai kelompok dan nilai individu.
Berdasarkan perolehan skor, maka skor terbanyak akan mendapatkan penghargaan dengan sebutan “Tim Terbaik”. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran TAI lebih baik daripada model pembelajaran STAD pada materi kinematika gerak terhadap prestasi belajar siswa aspek kognitif dan afektif.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dian Purnamasari, (2010). “Studi Komparasi Model Pembelajaran Kooperatif Model TAI (Teams Assisted Individualization) Dan Jigsaw Ditinjau Dari Kemampuan Memori Terhadap Prestasi Belajar”. Menyimpulkan bahwa, Model TAI merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa akan saling bekerja sama dan berinteraksi sehingga banyak mendapatkan informasi. Dengan adanya diskusi kelompok dalam model TAI dapat lebih memudahkan siswa dalam usaha
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
141
memahami materi serta mendistribusikannya pada masing-masing kelompok, sehingga kompetensi dan tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai.
2. Hipotesis kedua
Sikap ilmiah memberikan pengaruh terhadap afektif siswa, tetapi tidak pada ranah kognitif siswa. Berdasarkan uji lanjut anava dengan menggunakan uji compare means (uji rata-rata) dengan menggunakan SPSS 17 terlihat bahwa sikap ilmiah tinggi memberikan hasil aefektif lebih baik daripada sikap ilmiah rendah. Siswa yang memiliki sikap ilmiah atau attitude of science tinggi akan melakukan model pembelajaran TAI maupun STAD dengan kesadaran penuh.
Setiap siswa telah memiliki sikap ilmiah untuk melakukan diskusi dengan sebaik-baiknya. Setiap siswa akan bekerja jujur, disiplin kreatif, toleran karena telah memahami materi pelajaran bukan sekadar konsep tetapi membutuhkan sikap-sikap tersebut. Mereka akan mengikuti pembelajaran tanpa dipaksakan hingga muncul kesadaran dan tanggung jawab terhadap materi pelajaran itu sendiri. Mereka akan mematuhi kaidah penemuan konsep-konsep meteri pelajaran tersebut melalui model ilmiah walaupun tidak di dalam kelas.
Siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi bekerja berdasarkan kesadaran tentang materi pelajaran Sikap ilmiah tidak memberikan pengaruh terhadap aspek kognitif siswa. Sikap ilmiah cenderung ke arah pengembangan sikap dari pada prestasi kognitif siswa. Hal ini dapat dilihat pada aspek-aspek dasar sikap ilmiah bab dua yang cenderung ke arah aspek afektif daripada ke arah aspek kognitif siswa. Prestasi kognitif siswa akan tetap baik walaupun sikap ilmiahnya tinggi atau rendah.
commit to user 3. Hipotesis Ketiga
Kreativitas memberikan pengaruh terhadap afektif siswa, tetapi tidak pada ranah kognitif siswa. Berdasarkan uji lanjut anava dengan menggunakan uji compare means (uji rata-rata) dengan menggunakan SPSS 17 terlihat bahwa Kreativitas tinggi memberikan hasil afektif lebih baik dari pada Kreativitas rendah.
Angket kreativitas diberikan pada saat sebelum pembelajaran, kreativititas merupakan penunjang dalam proses pembelajaran. Kreativitas sebagai faktor internal siswa yang banyak dipengaruhi atau dapat muncul oleh faktor eksternal siswa, seperti kondisi sekolah, guru, dan keluarga untuk tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran TAI dan STAD menuntut siswa untuk saling bekerjasama dan membantu satu sama lainya dalam kelompok masing-masing dimana setiap kelompok terdiri dari kelompok yang heterogen, dan pada saat menjawab angket siswa kurang teliti dalam menjawab soal angket pada kreativitas belajar Sehingga kreativitas siswa lebih berpengaruh pada prestasi afektif dari pada prestasi kognitif .
4. Hipotesis Keempat
Model pembelajaran TAI dan STAD tidak berinteraksi dengan sikap ilmiah terhadap kognitif dan afektif siswa. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi akan menghasilkan kognitif dan afektif yang tinggi tidak peduli model pembelajaran yang digunakan. Siswa yang telah memiliki sikap ilmiah tinggi akan mengikuti pembelajaran dengan baik walaupun diajarkan dengan menggunakan model yang berbeda-beda. Sebaliknya siswa
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
143
yang memiliki sikap ilmiah rendah akan memberikan nilai yang tetap rendah walapun diajarkan dengan model yang berbeda-beda. Demikian juga sikap ilmiah tinggi akan selalu menghasilkan afektif yang lebih baik daripada sikap ilmiah rendah tidak tergantung dari model yang digunakan.
5. Hipotesis Kelima
Hasil uji hipotesis kelima dengan menggunakan uji anava 3 jalan 2 x 2 x 2 pada SPSS 17 menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan kreativitas siswa terhadap aspek kognitif dan afektif siswa. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kreativitas tinggi akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki sikap ilmiah rendah baik yang diajarkan dengan model TAI maupun model STAD.
Demikian juga siswa yang memiliki kreativitas tinggi akan tetap memperoleh hasil afektif lebih baik apa pun model pembelajaran yang akan digunakan oleh guru. kreativitas tinggi juga akan selalu menghasilkan afektif lebih baik dari pada kreativitas rendah tidak tergantung dari model pembelajaran yang digunakan baik TAI maupun STAD.
6. Hipotesis Keenam
Berdasarkan hasil uji hipotesis keenam dengan menggunakan uji anava 3 jalan 2 x 2 x 2 pada SPSS 17 menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara sikap ilmiah dengan kreativitas siswa terhadap aspek kognitif dan afektif siswa. Pada penelitian ini tidak ditemukan pengaruh yang signifikan antara sikap ilmiah dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi kognitif dan afektif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa siswa yang mempunyai sikap ilmiah tinggi dengan kreativitas
commit to user
belajar tinggi dapat membentuk konsep yang sama pada diri siswa dan mendapatkan hasil prestasi yang lebih baik pada prestasi kognitif dan afektif, yang ditunjukkan dengan sikap siswa pada saat proses pembelajaran. Siswa yang memiliki sikap ilmiah rendah dengan siswa yang memiliki kreativitas belajar rendah tetap dapat mengikuti proses belajar dikelas dengan baik. Sehingga tidak ada pengaruh sikap ilmiah tinggi maupun rendah dan kreativitas belajar tinggi maupun rendah terhadap prestasi kognitif dan afektif.
7. Hipotesis Ketujuh
Berdasarkan uji hipotesis didapatkan tidak ada interaksi antara pembelajaran kooperatif menggunakan model STAD dan TAI dengan sikap ilmiah dan kreativitas terhadap prestasi kognitif dan afektif siswa. Hasil ini menjelaskan bahwa pembelajarran kooperatif menggunakan TAI selalu menghasilkan prestasi kognitif dan afektif lebih baik daripada menggunakan model STAD, walaupun sikap ilmiah dan kreativitas siswa tinggi atau rendah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara model pembelajaran, sikap ilmiah dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar fisiks pokok bahasan kinematika gerak. Artinya tingkat sikap ilmiah tingkat kreativitas belajar dan penggunaan model pembelajaran mempunyai pengaruh sendiri-sendiri terhadap prestasi belajar fisika pada kinematika gerak. Hal ini dimungkinkan karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses pencapaian prestasi belajar baik dalam maupun luar diri siswa diluar faktor model pembelajaran, sikap ilmiah dan kreativitas belajar siswa yang digunakan dalam penelitian ini, serta masih banyak keterbatasan dalam penelitian ini sehingga
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
145
peneliti tidak dapat mengontrol faktor-faktor tersebut di luar kegiatan belajar mengajar.