Objek wisata ke’te kesu yang terkenal dengan adat dan nilai yang masih melekat membuat para wisatawan banyak tertarik berkunjung kesana. Pada objek wisata ke’te kesu ada norma yang masih terikat yang disampaikan oleh nenek moyang yang masih menunjang hidup mereka, seperti yang di atur dalam aluk dikenal dengann istilah 7777. Dalam pelajaran Aluk Sanda Pitunna/Aluk 7777 hanya 777 yang diubah menurut adat dan 7000 dikeluarkan.
Wajar saja, standar sanda pitunna memang tidak diragukan lagi, namun bagi masyarakat sekitar Tana Toraja, konsep standar ini memasukkan unsur kepercayaan dan persetujuan kepada pemberi kehidupan. Akibat dari pengabaian standar ini akan menimbulkan kedisiplinan bagi masyarakat
Toraja, misalnya kekecewaan panen, peristiwa bencana dan kutukan bawaan.
Sikap ini dapat disinggung sebagai kearifan local yang khas. Para pengunjung yang berada di objek wisata ke’te kesu harus menjaga sopan santun layaknya berziarah ke makam leluhur, karena jika para wisatawan melanggar aturan maka akan diberikan hukuman adat. Hal ini di karenakan nilai yang masih melekat yang ada pada objek wisata ke’te kesu.
Keunikan-keunikan yang dimiliki objek wisata ke’te kesu seperti rumah adat tongkonan,kuburan toraja, ukiran khas toraja, kuburan batu, peti kayu kepala kerbau dan tengkorak, patung leluhur serta goa yang memiliki sejarah dan keunikan tersendiri. Selain itu museum yang terdapat disana yang dijadikan sebagai koleksi benda adat kuno Toraja seperti ukiran, senjata tajam, keramik dan bendera merah putih yang pertamakali di kibarkan di Toraja.
Karena keunikan yang dimiliki Toraja serta keunikan yang dimiliki objek wisata ke’te kesu tidak dimiliki oleh daerah lain maka ini yang membuat banyaknya para wisatawan yang tertarik berkunjung. Adapun hal yang paling menonjol yaitu upacara rambu solo atau biasa di sebut dengan upacara kematian. Pada daerah ini keseriusan mereka terhadap kematian dapat dilihat dari ritual maupun upacara adat yang mewah, kuburan yang mewah, kuburan yang menggantung dan situs pemakaman yang penuh dekorasi.
Seperti yang telah di paparkan bahwa banyak potensi yang membuat objek wisata ke’te kesu ramai di kunjungi sehingga dapat memberikan pemasukan kepada Pemda atau menjadi unsur dari sebuah PAD. Potensi yang dimiliki seperti bagaimana cara mereka melihat kematian. Bagi orang Toraja, kematian bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan di dunia setelah tubuh ditinggalkan.
Keyakinan dan bagaimana masyarakat Toraja memandang kematian sangat
47
mempengaruhi bagaimana mereka memperlakukan upacara yang lewat, kita bisa menyebutnya layanan pemakaman. Jika sebagian besar dari kita, kematian biasanya tetap tidak dapat dipisahkan dengan kesedihan dan diselesaikan dengan cara yang sederhana, bagi orang Toraja kematian dianggap sebagai pesta dan dilakukan untuk skala besar dalam upacara Rambu Solo..
Selain itu, potensi lain yang dimiliki adalah tongkonan suatu tanduk hewan, yaitu daerah kepala kerbau di tiang depan. Dimana kepala kerbau yang dijajarkan melambangkan suatu status social, semakin banyak maka semakin tinggi status social seseorang. Selain itu potensi-potensi yang lain seperti banyak makam , baik dari segi ragam ataupun jumlah makam. Makam modern dinamakan Patene.
Alasan lain yaitu terdapat bangkai-bangkai yang diletakkan di atas sekat-sekat batu untuk mengawasi aset-aset yang umumnya diletakkan bersama jenazah di dalam peti kayu, dan dipasang pada bukaan-bukaan di tebing sehingga sulit diambil kembali. Ini berlaku untuk mencegah penjahat atau makhluk liar yang sering merusak ruang pemakaman. Di ruang makam Ke'te Kesu, terdapat tumpukan tulang dan tengkorak yang tampak berserakan.
Sebagian dari mayat biasanya dibaringkan seperti itu, sampai menjadi tulang dan inilah yang menajdi potensi untuk menarik wisatawan berkunjung.
Selain itu, ketika melihat kondisi lingkungan yang ada di objek wisata ke’te kesu dapat kita katakana bahwa lingkungan di sana sangat mendukung. Tidak adanya sampah yang dubuang sembarangan tempat, bersihnya fasilitas buang air kecil maupun buang air besar yang bersih yang membuat kenyamanan para wisatawan untuk berkunjung di ke’te kesu. Selain itu fasiltas ibadah dan
sumber air yang memadai juga menjadi salah satu kenymamanan para pengunjung.
Seperti yang dikatakan Kepala Dinas Pariwisata bahwa Objek Wisata ke’te kesu ini telah di tetapkan olhe UNESCO sebagai cagar budaya. Karena hal tersebutlah yang menjadi potensi objek wisata ke’te kesu ramai di kunjungi.
Selain itu, objek wisata ke’te kesu juga memiliki adat dan budaya yang tidak dimiliki oleh desa atau daerah lain, bisa dikatakan perbedaan yang dimiliki objek wisata ke’te kesu ini yang menjadi pendukung atau potensi ramainya ke’te kesu di kunjungi.
Dari semua potensi dan keunikan yang dimiliki objek wisata ke’te kesu dapat bertahan karena adanya pengelolaan yang baik dari notaris dan pemilik yayasan seperti Kepala Adat Objek wisata ke’te kesu.
Adapun yang dikatakan para wisatawan yang berkunjung ke objek wisata ke’te kesu, mengatakan bahwa karena potensi-potensi yang telah saya paparkan di atas yang membuat wisatawan penasaran dan akhirnya mengunjungi ke’te kesu secara langsung.
Pada objek wisata ke’te kesu jenis pengunjung di bagi mejadi empat jenis yaitu wisatawan mancanegara, wisatawan nusantara, pemda dan pelajar.
Dimana harga tiket setiap wisatawan berbeda-beda, wisatawan mancanegara sebesar Rp.30.000, wisatawan Nusantara dan Pemda sebesar Rp. 15.000, dan pelajar sebesar Rp.5.000-, setiap tahunnya Ke’te kesu selalu memberikan kontribusi kepada PAD. Dimana yang dialokasiakan kepada pemda sebesar 40% sedangkan sisanya sebesar 60% diberikan kepada pengelola.
Penerimaan objek wisata ke’te kesu murni dari pendapatan hasil penjualan tiket masuk. Karena perbedaan jumlah tiket pengunjung juga memberikan
49
pemasukan yang cukup baik, karena pemasukan atau pendapatan yang diperoleh murni dari tiket masuk, maka pengelola selalu menjaga keunikan-keunikan yang dimiliki objek wisata ke’te kesu.
Pada tahun 2019-2021 pendapatan dari objek wisata ke’te kesu sempat mengalami penuruan dimana penurunan sangat jelas terjadi pada tahun 2020 dikarenakan covid-19 yang sempat melanda yang menyebabkan pernah terjadinya Lockdown dan PPKM yang menyebabkan wisatawan tidak dapat berkunjung. Pada tahun 2019 potensi objek wisata ke’te kesu memberikan kontribusi ke PAD masih normal, walapun pendapatan yang diperoleh pada tahun 2019 lebih sedikit dari tahun 2021 namun lebih banyak dari tahun 2020.
Perbedaan yang terjadi dari jumlah wisatawan pada objek wisata wisata ke’te kesu mengalami penurunan yang sangat jelas terlihat khususnya pada tahun 2020 karena di sebabkan adanya covid-19 yang masuk ke Indonesia.
Hal tersebut membuat beberapa tempat wisatawan di locdown atau di tutup secara total pada bulan mei sampai agustus. Namun penutupan untuk wisatawan mancanegara lebih dahulu di tutup yaitu pada bulan maret.
Walapun sempat mengalami penutupan beberapa bulan, objek wisata ke’te kesu tetap memberikan kontribusi kepada pemda setiap tahunnya. Hal itu disebabkan karena potensi-potensi yang dimiliki objek wisata ke’te kesu dan keunikan yang dimiliki objek wisata ke’te kesu yang membuat wisatawan tetap tertarik berkunjung.
Setelah adanya penutupan objek wisata atau lockdown, masih ada PPKM yang berlaku, namun haal tersebut tidak membuat objek wisata ke’te kesu tidak memberikan kkontribusi kepada Pemda. Hal yang dilakukan pengelola objek wisata pada saat pembukaan kembali objek wisata yaitu menerapkannya
protocol kesehatan yang ketat. Seperti menyediakan tempat cuci tangan, adanya razia masker dan mengedukasi masyarakat secara langsung agar mematuhi protocol kesehatan. Ketika adanya pengunjung objek wisata yang kedapatan tidak menggunakan masker atau tidak mematuhi protocol kesehatan maka tidak diperbolehkan memasuki wilayah tempat objek wisata.
Adapun pendapatan atau jumlah wisatawan yang selalu mendominasi dari tahun 2019-2021 adalah wisatawan nusantara, kemudian wisatawan mancanegara setelah itu pelajar. Walapun wisatawan mancanegara lebih sedikit dari wisatawan nusantara tetapi wisatawan mancanegara ini sudah bisa dikatakan sangat memberikan pemasukan dan terhitung banyak. Karena setiap tahunnya selalu ada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke objek wisata ke’te kesu.
Dari potensi yang dimiliki oleh objek wisata ke’te kesu sebenarnya memiliki beberapa kendala sehingga terkadang potensi yang dimiliki objek ke’te kesu kurang sempurna seperti kurannya website khusus yang dapat dikunjungi untuk mendapatkan informasi-informasi yang mendalam dan mendapakan informasi yang tidak sempat diketahui pada saat berkunjung. Selain itu kekurangan lain yang dimiliki yaitu kurannya peta petunjuk yang di siapkan di depan pintu masuk objek wisata ke’te kesu.
Dari tahun 2019-2021 jumlah pendapatan terbanyak pada tahun 2021 dan paling mengalami penurunan pada tahun 2020. Meskipun pada tahun 2020 sempat mengalami penurunan pendapatan dan jumlah pengunjung yang datang ke objek wisata ke’te kesu dan pada tahun 2019 tidak sebanyak pendapatan pada tahun 2021, objek wisata ke’te kesu tetap memberikan pemasukan atau kontribusi kepada pemda, pada tahun 2020 sempat
51
mengalami penurunan karena dengan alasan covid-19. Karena di lihat dari jumlah pengunjung dan pendapatan dari objek wisata ke’te kesu pada tahun 2019,2020 dan 2021 maka dapat dikatakan bahwa objek wisata ke’te kesu memiliki potensi sebagai salah satu unsur PAD. Dan objek wisata ke’te kesu memberikan dampak positif kepada PAD kabupaten Toraja Utara.
Pencatatan pengakuan pendapatan yang diperoleh dari Dinas kebudayaan dan Pariwisata di laporkan kepada Bendaharaa penerimaan. Ketika pendapatan dari objek wisata di laporkan kepada bendahara penerimaan maka bendahara penerima mencatat pada buku rincian penerimaan dari objek wisata. Adapun cara pencatatan yaitu dengan mencatata setoran kemudain di realisasikan ke bagian objek dan pariwisata. Pencatatan dilakukan setiap hari di buku rincian penerimaan dan direkapitulasi setiap bulan oleh Bendaharaa penerimaan. Setelah dilakukan rekapitulasi setiap bulan maka dinas pariwisata melaporkan atau menyetorkan ke kas daerah, adapun jurnal pengakuannya yaitu :
Pelaporan Penerimaan Objek Wisata Rp 221.500.000 Kas di Bendahara Penerimaan Rp 221.500.000 (Jurnal pada saat melakukan penyetoran pennerimaan objek wisata ke kas daerah).
Pencatataan ini dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara ketika melaporkan penyetoran kepada kas daerah atau kepada Badan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Toraja Utara. Adapun pendapatan-pendapatan yang ada pada objek wisata ke’te kesu adalah pendapatan dari penjualan tiket masuk. Pada objek wisata ke’te kesu memberikan pendapatan kepada masyarakat setempat seperti seperti ketika masyarakat
menjual hasil kerajinan tangan yang dimiliki, namun pendapatan yang dilaporkan ke Pemda adalah pendapatan dari penjualan tiket masuk saja.
Namun pencatatan yang dilakukan setiap hari hanya dilakukan pada buku rincian penerimaan membuat kurang terstrtukturnya laporan keuangan pada dinas pariwisata. Seharusnya setiap hari ketika ada pemasukan maka di buatkan jurnal atau laporan keuangannya, sehingga rincian pemasukan dan pengeluaran yang ada pada dinas pariwisata jelas.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fawaidul Khair dkk pada tahun 2018 tentang Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah dimana penelitian ini mengatakan bahwa kontribusi sektor pariwisata kepada PAD selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal tersebut menyebabkan bertambahnya PAD yang dimiliki Kabupaten Jember, sedangkan pada penelitian saya mengatakan bahwa potensi objek wisata ke’te kesu benar memberikan kontribusi kepada Pemda sehingga dapat dikatakan bahwa objek wisata ke’te kesu merupakan unsur dari PAD. Walapun memiliki perbedaan dimana penelitian terdahulu menggunakan penelitian kuantitaif sedangkan penelitian saya menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, tetapi bisa dikatakan sama-sama sejalan karena objek wisata memberikan pendapatan kepada PAD.
53 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN