KUH PERDATA
D. Kekuatan Mengikat Klausula Syarat Batal Dalam Kontrak Bisnis Yang Mengesampingkan Pasal 1266 dan 1267 KUH Perdata.
1. Pembatalan Kontrak Bisnis Akibat Wanprestasi.
Wanprestasi merupakan lembaga hukum yang memegang peranan penting dalam hukum perdata karena mempunyai akibat hukum yang sangat penting yang biasanya dikaitkan dengan masalah pembatalan perjanjian atau ganti rugi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1243 KUH Perdata jo Pasal 1266 dan 1267
KUH Perdata.287 Menurut R. Subekti, ada empat macam alasan seorang debitur wanprestasi yaitu:288
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;
b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan; c. Melakukan apa yang dijanjikannya tapi terlambat;
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh melakukannya. Pasal 1243 KUH Perdata mengatur sebagai berikut:289
Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.
Dari ketentuan Pasal 1243 KUH Perdata terdapat pengertian bahwa pihak yang menuntut ganti rugi mempunyai kewajiban untuk membuktikan bahwa mitra berkontraknya telah melakukan wanprestasi. Tata cara penentuan wanprestasi diatur dalam Pasal 1238 KUH Perdata yaitu, “Debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.290
287
J. Satrio, Wanprestasi Menurut KUH Perdata, Doktrin, dan Yurisprudensi, Op.cit, hal 21.
Berdasarkan Pasal 1238 KUH Perdata, pembuktian telah terjadinya wanprestasi harus dilakukan dengan lembaga somasi. Secara teori, somasi untuk melunasi utang dilakukan melalui pengadilan yaitu exploit
288
R. Subekti, Hukum Perjanjian, Op.cit, hal 45.
289
Pasal 1243 KUH Perdata.
290
atau berita acara oleh juru sita pengadilan. Akan tetapi dalam prakteknya, somasi untuk membayar yang dilakukan sebagai dasar untuk membangun status wanprestasi. Penyampaian somasi oleh kreditur kepada debitur biasanya dilakukan melalui pengiriman somasi sebanyak tiga kali dan disampaikan untuk memenuhi kriteria status wanprestasi untuk mengambil langkah hukum sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh Pasal 1243 KUH Perdata, Pasal 1266 KUH Perdata, dan Pasal 1267 KUH Perdata.291
Menurut Octavian Cazac dalam kaitannya dengan pembatalan kontrak akibat wanprestasi, harus dibedakan antara pembatalan di luar pengadilan (out of court termination) yang dinyatakan dengan somasi dan pembatalan melalui pengadilan (in court termination) yang diputuskan oleh oleh hakim berdasarkan pelaksanaan para pihak.292
Pihak yang menuntut ganti rugi dapat mengajukan ganti rugi ke pengadilan sesuai dengan ketentuan Pasal 1266 KUH Perdata yang memberikan hak kepada salah satu pihak karena wanprestasi untuk membatalkan kontrak di pengadilan. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam kontrak, maka hakim di pengadilan leluasa menurut keadaan atas tuntutan tergugat untuk memberikan suatu jangka waktu kepada tergugat untuk kesempatan melaksanakan kewajibannya dalam jangka waktu tidak boleh lebih satu bulan.
291
Ricardo Simanjuntak, Op.cit, hal 221-222.
292
Octavian Cazac, “Toward A Comprehensive Concept Of Termination Of Contracts”, Moldovan Journal of International Law and International Relations, No. 3 (1982), hal 76.
Selain itu, debitur yang mempunyai kewajiban melaksanakan prestasi dalam kontrak namun wanprestasi, kreditur mempunyai hak menerima prestasi dapat memilih dan mengajukan tuntutan haknya di pengadilan berdasarkan ketentuan Pasal 1266 KUH Perdata dan Pasal 1267 KUH Perdata yaitu:293
a. Pelaksanaan kontrak;
b. Pelaksanaan kontrak disertai dengan ganti rugi; c. Ganti rugi saja;
d. Pemutusan kontrak;
e. Pemutusan kontrak disertai dengan ganti rugi.
Nilai ganti rugi yang dituntut hendaknya dapat diperhitungkan dan pasti nilainya. Pasal 1267 KUH Perdata berada dalam satu rangkaian dengan Pasal 1265 KUH Perdata dan Pasal 1266 KUH Perdata. Pasal 1266 ayat (1) KUH Perdata mengatur dalam perjanjian timbal balik, syarat batal dianggap selalu ada di dalamnya. Namun, apabila syarat batal itu terpenuhi, perikatan tidak batal sendirinya tetapi harus dimintakan pembatalannya kepada hakim. Jadi, untuk pembatalan perikatan di mana syarat batal terpenuhi, maka tidak diperlukan adanya somasi. Tidak terpenuhinya perikatan dalam Pasal 1267 KUH Perdata adalah sama dengan peristiwa dipenuhinya syarat batal sehingga untuk tuntutan pembatalan ke pengadilan tidak diperlukan somasi.294
293
M. Syaiffudin, Op.cit, hal 344.
Karena pada asasnya gugatan ke pengadilan diterima sebagai suatu somasi di mana dalam gugatan yang diterima sebagai suatu somasi, kreditur memperingatkan
294
debitur untuk berprestasi paling lambat pada suatu waktu tertentu dan sekaligus. Kalau tidak dipenuhi, kreditur menuntutnya di muka hakim.295 Ketentuan tata cara terjadinya wanprestasi dapat diatur secara tegas oleh para pihak dalam kontrak sehingga pembuktian yang dilakukan berdasarkan kontrak yang disepakati.296
Menurut J.H. Niewenhuis menegaskan bahwa dalam keadaan tertentu untuk membuktikan wanprestasi debitur tidak diperlukan somasi yaitu:297
a. Untuk pemenuhan prestasi berlaku tenggang waktu yang fatal; b. Debitur menolak pemenuhan;
c. Debitur mengakui kelalaiannya; d. Pemenuhan prestasi tidak mungkin; e. Pemenuhan tidak lagi berizin;
f. Debitur melakukan prestasi tidak sebagaimana mestinya.
J. Satrio berpendapat somasi merupakan suatu peringatan agar debitur berprestasi dan karenanya bersifat konstitutif dengan konsekuensi kalau debitur tanpa alasan yang sah tetap tidak berprestasi, somasi menjadikan debitur dalam keadaan lalai/wanprestasi.298
295
Ibid, hal 45.
Jika dikaitkan dengan Pasal 1266 KUH Perdata, pembatalan tanpa melalui pengadilan dengan somasi merupakan bentuk pengesampingan Pasal 1266 KUH Perdata karena pembatalan kontrak tanpa melalui pengadilan melainkan dengan somasi atau pembatalan kontrak karena wanprestasi berdasarkan kontrak.
296
Ricardo Simanjuntak, Op.cit, hal 220.
297
M. Syaiffudin, Op.cit, hal 341.
298
Dalam suatu somasi, kreditur harus memberikan waktu yang patut untuk memenuhi somasi yang lamanya tergantung dari keadaan.299
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tindakan wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak tidak perlu diberikan somasi jika tindakan tersebut sudah memenuhi kriteria atau persyaratan yang ditentukan dalam klausula-klausula kontrak dalam hal ini adalah terlampaunya batasan waktu untuk melakukan suatu tindakan recovery atas pelanggaran yang ditentukan dengan klausula-klausula kontrak sehingga pihak yang dirugikan dapat secara langsung melakukan eksekusi atas objek kontrak.
Ada pun akibat hukum dari pembatalan kontrak karena wanprestasi berdasarkan undang-undang atau demi hukum yaitu Pasal 1265 KUH Perdata yang mengatur syarat batal yang dipenuhi akan menghapuskan perikatan dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan. Setelah perikatan batal, segala sesuatu akan dikembalikan pada keadaan semula atau berlaku surut (ex tunc).300
299
Ibid, hal 32.
Jika debitur wanprestasi, perjanjian menjadi batal dan dapat diartikan batal sejak debitur wanprestasi dan dalam hubungannya dengan Pasal 1381 KUH Perdata di mana perikatan menjadi batal karena daya kerja
300
Herlien Budiono, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan: Buku Kedua, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2010), hal 239.
syarat batal. Kemudian adanya keputusan hakim mengenai hal itu, maka keputusan itu berlaku mundur sampai saat wanprestasi.301
Y. Sogar Simamora mengatakan bahwa tidak tepat syarat dalam Pasal 1265 KUH Perdata tidak dipenuhi kontrak menjadi batal demi hukum dan jika syarat dalam Pasal 1266 KUH Perdata tidak dipenuhi maka kontrak dapat dibatalkan. Dalam sistem common law, kontrak yang batal demi hukum (void) dan kontrak yang dapat dibatalkan (voidable) terjadi karena tidak dipenuhinya syarat dalam pembuatan kontrak. Dengan demikian sama dengan sistem civil law. Hal yang diatur dalam Pasal 1266 KUH Perdata pada hakikatnya menyangkut situasi pelaksanaan di mana salah satu pihak melakukan pelanggaran terhadap syarat dalam kontrak yang mengakibatkan breach of contract. Dalam hal demikian, pihak lain dapat melakukan pengakhiran (termination) jadi bukan pembatalan.302
Hak untuk membatalkan kontrak (right to terminate performance of the contract) dikaitkan dengan pengesampingan Pasal 1266 KUH Perdata dan Pasal 1267 KUH Perdata maka lebih tepat menggunakan istilah right to rescind dalam Bahasa Inggris.303 Hal ini dikarenakan rescind menurut Black’s Law Dictionary berarti membatalkan kontrak berdasarkan kesepakatan.304
301
J. Satrio, Hukum Perikatan: Perikatan Pada Umumnya, (Bandung: Alumni, 1999), hal 305.
Menurut Ewan McKendrick,
302
Y. Sogar Simamora, Hukum Kontrak: Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah di Indonesia, (Surabaya: Laksbang Justitia, 2013), hal 288.
303
Ewan McKendrick, Contract Law, 9th Edition. (Basingstoke: Palgrave Macmillan ,2011), hal 327-328.
304
akibat hukum dari rescind bersifat prospektif atau ex nunc bukan ex tunc.305 Artinya ketika pelaksanaan kontrak dibatalkan karena pembatalan, kewajiban untuk melaksanakan hanya dibatalkan untuk berlaku kemudian atau bersifat prospektif. Kontrak tidak dibuat untuk berakibat hukum ab initio atau batal demi hukum.306
Demikian dari pembahasan pembatalan kontrak akibat wanprestasi dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, wanprestasi mempunyai peranan penting terutama jika dikaitkan dengan pembatalan kontrak. Kedua, untuk membuktikan seorang debitur wanprestasi harus ada somasi walaupun tidak semua wanprestasi debitur perlu dinyatakan dengan somasi. Ketiga, adanya perbedaan antara pembatalan kontrak antara pembatalan kontrak di luar pengadilan dengan somasi dan pembatalan kontrak melalui pengadilan dengan keputusan hakim. Keempat, adanya perbedaan akibat hukum antara pembatalan kontrak di luar pengadilan dengan somasi dan pembatalan kontrak melalui pengadilan dengan keputusan hakim di mana pembatalan kontrak di luar pengadilan dengan somasi mempunyai akibat hukum berlaku kemudian atau (ex nunc) dan pembatalan kontrak melalui pengadilan dengan keputusan hakim yang harus sesuai dengan Pasal 1266 KUH Perdata dan Pasal 1267 KUH Perdata mempunyai akibat hukum berlaku surut (ex tunc).
305
Ewan McKendrick, Contract Law, Op.cit, hal 327-328.
306