• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberantasan Korupsi dan Perlawanan Balik Koruptor

Awal reformasi dan terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi adalah harapan bagi seluruh rakyat Indonesia agar pe- nyelenggara dan penyelenggaraan negara menjadi lebih baik dari masa orde-orde sebelumnya. Para politikus dan pejabat negara turut membuat iklan anti korupsi. Ada pula partai poli- tik yang berani pasang badan akan membubarkan diri bila ang- gotanya hidup dari uang korupsi.

Kinerja KPK dari mulai pendirian sampai detik ini masih mendapat apresiasi dari rakyat. Rakyat berani pasang badan agar lembaga ini tidak dilemahkan atau bahkan dibubarkan. Walaupun rakyat semuanya mengerti bahwa lembaga ini awalnya adalah sebagai shock terapy dan bentuk degradasi ke- percayaan kepada lembaga negara yang bernama kejaksaan, terutama untuk penanganan kasus-kasus korupsi.

Jika masa sebelum adanya KPK banyak kasus korupsi yang tak tersentuh hukum, khususnya yang melibatkan para pen- guasa, namun sejak KPK berdiri sudah banyak kasus-kasus be- sar yang ditangani dan dijatuhi hukuman. Dalam kurun waktu 2004 sampai ddengan Mei 2012, KPK telah berhasil membawa para koruptor kelas kakap ke Pengadilan Tindak Pidana Ko-

Content Analysis Terhadap Putuzan Peradilan Nomor: 04/Pid/Prap/2015/PN.Jkt.Sel.

rupsi (Tipikor) dan semuanya diputus bersalah (100% convic- tion rate). Mereka adalah 50 anggota DPR, 6 Menteri/Pejabat Setingkat Menteri, 8 Gubernur, 1 Gubernur Bank Indonesia, 5 Wakil Gubernur, 29 Walikota dan Bupati, 7 Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi Yudisial dan Pimpinan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). 4 Hakim, 3 Jaksa di Ke- jaksaan Agung, 4 Duta Besar dan 4 Konsulat Jenderal (termas- uk Mantan Kapolri), Jaksa senior, Penyidik KPK, seratus lebih pejabat pemerintah eselon I &II (Direktur Umum, Sekretaris Jenderal, Deputi, Direktur, dll), 85 CEO pemimpin perusahaan milik negara (BUMN) dan pihak swasta yang terlibat dalam korupsi serta beberapa jenderal aktif dari kepolisian. Data ini akan terus bertambah seiring banyaknya kasus korupsi yang saat ini sedang ditangani/disidangkan di Pengadilan Tipikor baik di Jakarta maupun di daerah (http://kpk.go.id/id/nukpk/ id/berita/berita-kpk-kegiatan/290-kpk-lembaga-permanen).

Kemudian hipokrisi muncul dari mulut dan sikap para politisi dan pejabat negara. KPK yang berkinerja baik diserang sedemikian rupa sebelum KPK menjerat mereka. Perlawanan secara politik hukum dan politik peradilan dilakukan agar lang- kah KPK tersendat. Perlawanan yang sekarang nyata dirasakan adalah upaya merevisi UU KPK dengan memangkas kewenan- gan dan membuat sedemikian rupa agar korupsi dengan nilai fantastis saja yang dapat disidik oleh KPK. Dan yang telah dan sedang berjalan ini adalah upaya permohonan praperadilan dari para koruptor atas penetapan status tersangka oleh KPK.

Pertama kali permohonan praperadilan terhadap KPK dia- jukan oleh Budi Gunawan, seorang Komisaris Jenderal Polisi yang ditetapkan sebagai tersangka. Budi Gunawan yang saat itu digadang-gadang sebagai calon Kapolri bahkan telah diaju- kan Presiden ke DPR dan telah melakukan fit and proper test

135

merasa dirugikan. Apalagi tuduhannya adalah melakukan ko- rupsi yang disangkakan oleh lembaga yang kinerja 100 % tidak pernah meloloskan para tersangka koruptor dari jeratan hu- kum, KPK. Akhirnya Budi Gunawan gagal menjadi kapolri.

Pada beberapa peraturan perundangan, efek dari pen- etapan tersangka tindak pidana berakibat diberhentikannya seorang pejabat negara dari jabatannya sampai berkekuatan hukum tetap. Dalam Pasal 33 Ayat (2) UU 30/2002, disebutkan bahwa:“Dalam hal Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi tersangka tindak pidana kejahatan, diberhentikan sementara dari jabatannya”. Lalu, dalam Pasal 10 Ayat (1) PP 3/2003, disebutkan bahwa : “Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dijadikan tersangka/terdakwa da- pat diberhentikan sementara dari jabatan dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia, sejak dilakukan proses penyidikan sampai adanya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap

Tidak terima dengan penetapan status tersangka, Budi Gunawan melalui beberapa kuasa hukumnya mengajukan per- mohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Padahal mereka semua tahu bahwa dalam KUHAP tidak ada aturannya. Permohanan praperadilan diterima dan putusan- nya membebaskan Budi Gunawan dari penetapan tersangka oleh KPK.

Tidak begitu lama dari “kemenangan” Budi Gunawan atas KPK menginspirasi para tersangka koruptor lainnya beramai- ramai mengajukan praperadilan dan banyak dimenangkan oleh tersangka koruptor.

Setelah Budi Gunawan gagal menjadi Kapolri, menurut penilaian para pegiat anti korusi, serangan balik kepada KPK

Content Analysis Terhadap Putuzan Peradilan Nomor: 04/Pid/Prap/2015/PN.Jkt.Sel.

berlanjut yakni ditetapkannya dua komisioner KPK (Abrham Samad dan Bambang Widjojanto) sebagai tersangka untuk masing-masing kasus yang disangkakan pada mereka oleh Kepolisian. Penetapan tersangka tersebut mengharuskan dua komisione KPK tersebut berhenti untuk sementara dari jabatannya masing-masing.

B. Analisis Prosedur Hukum Putusan Nomor: O4/Pid.

Prap/2015/PN.Jkt.Sel.

Prosedur pengajuan praperadilan ke Pengadilan Negeri tepat sesuai dengan ketentuan KUHAP. KUHAP menunjukkan dengan tegas bahwa praperadilan termasuk kompetensi abso- lut bagi PN. Yang menjadi soal adalah bahwa wewenang prap- eradilan sebagaimana tertera dalam pasal 77 KUHAP tidak me- masukkan atau tidak ada klausul sama sekali yang secara tegas memasukkan penetapan tersangka sebagai obyek.

Peneliti berkeyakinan bahwa tersangka Budi Gunawan dan kuasa hukumnya paham bahwa penetapan tersangka tidak ter- tulis dalam aturan hukum acara pidana sebagai obyek praper- adilan. Dalam sejarah sejak pertama kali praperadilan diber- lakukan pada tahun 1983, belum ada tersangka kasus tindak pidana mengajukan permohonan praperadilan atas penetapan statusnya sebagai tersangka baik oleh penyidik kepolisian ataupun kejaksaan.

Penulis menduga bahwa awal ide untuk mengajukan prap- eradilan atas kasus Budi Gunawan yang ditetapkan oleh KPK terasa beraroma politik. Aroma politiknya begitu kentara ka- rena selang satu hari sebelum fit and proper test Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri oleh DPR, KPK menetapkannya sebagai tersangka.

137

Penetapannya sebagai tersangka pelaku tindak pidana korupsi oleh KPK menjadi aral bagi Budi Gunawan menjadi

Kapolri. Keberhasilannya lolos dalam fit and proper test oleh

DPR sebagai calon tunggal Kapolri menjadi tidak berguna sama sekali. Karena aturan dalam pasal 10 Ayat (1) PP 3/2003, dise- butkan bahwa: “Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dijadikan tersangka/terdakwa dapat diberhentikan sementara dari jabatan dinas Kepolisian Negara Republik In- donesia, sejak dilakukan proses penyidikan sampai adanya putu- san pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap”.

Aroma politik balas dendam politik juga terlihat pada alasan-alasan bagi Budi Gunawan dalam surat permohonan praeradilan. Yakni bahwa Budi Gunawan sebagai orang yang menghalangi Abraham Samad (komisioner KPK) untuk men- jadi calon wakil presiden pada pemilu 2014. Terlepas dari

persoalan yang non hukum tersebut tidak menafikan penila- ian bahwa langkah yang diambil oelh Budi Gunawan dan Kuasa Hukumnya tepat secara prosedural, yakni mengajukannya ke Pengadilan Negeri.

Adapun kedudukan Pengadilan Negeri yang dimintakan mohon untuk memproses praperadilan penetapan status ter- sangka, tidak dapat menghindar untuk menolak satu kasus yang tidak atau belum diatur dalam peraturan perundangan. Hal ini berkesesuaian dengan aturan dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman pada pasal 10 ayat (1) yang menyatakan bahwa “pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang dia- jukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Ditam- bah dengan ketentuan pada pasal 5 ayat (1) yang menyatakan bahwa “hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti,

Content Analysis Terhadap Putuzan Peradilan Nomor: 04/Pid/Prap/2015/PN.Jkt.Sel.

dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

Oleh karenanya tepat pula bila hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyelenggarakan sidang praperadilan pada kasus yang dimohonkan oleh Pemohon dan Kuasa Huku- mnya. Permasalahan belum ada hukum yang mengatur tentang perkara tersebut, berdasar pada amanat 2 (dua) pasal terse- but memberikan wewenang kepada hakim untuk menetapkan suatu hukum yang sebelumnya tidak ada, dapat dengan meng- gunakan metode penemuan hukum (rechtsvinding), penafsiran (interpretasi) atau dengan metode lain yang dapat dibenarkan melalui penalaran ilmu hukum atau bahkan out of contect dari ilmu hukum atau mengkombinasikan berbagai metode (mix methode) yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk kasus permohonan praperadilan penetapan sese- orang sebagai tersangka yang nota bene tidak ada klausul jelas dalam KUHAP, hakim dengan menggunakan asas dalam ilmu hukum; legalitas dan kepastian hukum atau dengan dalil-dalil lain untuk menetapkan bahwa permohonan kasus tersebut tidak ada dasar hukumnya dan kasus dapat dilangsungkan dalam sidang peradilan biasa.

C.

Content Analysis dari Perspektif Idealitas Putusan