• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Sejarah Perkembangan Praperadilan di Indo-

Hak untuk mendapatkan perlindungan adalah hak mutlak bagi warga negara dari negaranya, perlindungan dari apapun agar seseorang tersebut merasa nyaman, aman bertempat ting- gal dan menjadi suatu warga negara yang berada pada suatu wilayah atau negara yang dilindungi oleh hukum dan pemer- intah.

Perlindungan yang diberikan pemerintah itu tidak menge- nal status atau kedudukan seseorang dalam strata sosial, poli- tik, ekonomi, dan yang lainnya, yang pasti setiap warga negara harus dan wajib hukumnya berada pada lindungan pemerintah dalam bentuk apapun perlindungan itu. Bahkan perlindungan

111

itu sampai pada titik dimana seorang warga negara disangka- kan telah melakukan suatu tindak pidana.

Dalam konteks hak asasi manusia, negara menjadi subyek hukum utama, karena negara merupakan entitas utama yang bertanggung jawab melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia, setidaknya untuk waga negaranya masing-masing. Ironisnya, sejarah mencatat pel- anggaran hak asasi manusia biasanya justru dilakukan oleh negara, baik secara langsung melalui tindakan-tindakan yang termasuk pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga negaranya atau warga negara lain, maupun secara tidak langsung melalui kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik baik di level nasional maupun internasional yang ber- dampak pada tidak dipenuhinya atau ditiadakannya hak asasi manusia warga negaranya atau warga negara lain (Knut D. Asplund, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (Ed.), 2008: 53).

Pada dasarnya setiap manusia memiliki hak asasi untuk hidup bebas, diperlakukan manusiawi, dihargai harkat dan martabatnya sebagai manusia. Tetapi di lain sisi terkadang ada manusia yang secara sadar ataupun tidak sadar melaku- kan perbuatan-perbuatan yang dianggap sebagai pelangga- ran yang telah diatur dalam peraturan perundangan di ne- gara berhukum. Negara hukum yang memiliki tujuan menjaga melindungi seluruh warga negaranya berhak melakukan satu tindakan yang dibenarkan oleh hukum terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh warga negaranya. Walaupun begitu segala tindakan negara (organ) yang merampas hak warga negaranya harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, walaupun sering kali organ negara karena untuk kepentingan tertentu melakukan tindakan kurang cermat atau tidak sesuai dengan ketentuan hukum bahkan pelannggaran terhadap hukum.

Praperadilan Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Bagi warga negara yang merasa diperlakukan sewenang- wenang oleh organ negara, negara memberikan ruang untuk melakukan pembelaan diri sesuai dengan ketentuan yang ber- laku. Karena para penegak hukum dalam melaksanakan tu- gasnya tidak terlepas dari kemungkinan melakukan tindakan yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang ber- laku sehingga terlanggarlah hak-hak asasi warga negara (ter- sangka atau terdakwa) dalam proses peradilan pidana. Salah satu upaya untuk perlindungan hak dalam proses peradilan pi- dana adalah melalui lembaga praperadilan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘pra’ berarti awalan yang bermakna sebelum atau dimuka. Sedangkan praperadi- lan adalah sesuatu mengenai perkara pengadilan atau lembaga hukum bertugas memperbaiki (Badudu dan Zein, 1999: 236). Praperadilan dalam bahasa yang sederhana berarti sebelum pemeriksaan di sidang pengadilan (Andi Hamzah, 2012: 188). Arti kata secara bahasa ini berbeda dengan pengertian prap- eradilan dalam konsep peraturan perundang-undangan atau praktik yang dilakukan dalam lembaga peradilan.

Dalam Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 1 butir 10 KU- HAP, praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus menurut acara yang diatur dalam undang-undang ini tentang:

1. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atau kuasa tersangka;

2. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghen- tian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;

113

3. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersang- ka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

Dari pengertian resmi menurut undang-undang ini, men- unjukan bahwa praperadilan merupakan wewenang (kom- petensi) absolut dari Pengadilan Negeri. Dengan ketentuan tersebut, keberadaan lembaga pra peradilan bukan lembaga tersendiri yang terpisah dari lembaga peradilan, melainkan sebagai sebuah bagian dari proses peradilan atau bagian dari satu sistem peradilan.

Praperadilan pada mulanya menjadi bagian dari pemerik- saan sebelum dimulainya persidangan, biasa disebut sebagai pemeriksaan pendahuluan yang dilakukan oleh hakim Pen- gadilan Negeri atas permintaan pihak yang merasa haknya terampas oleh tindakan yang dilakukan oleh penegak hukum (polisi dan/atau jaksa).

Untuk memahami lebih jauh tentang praperadilan, menilik sejarah munculnya praperadilan dalam sistem peradilan pi- dana di Indonesia sangat penting dilakukan, dari mulai kapan kemunculannya sampai pada perkembangan mutakhir.

Pada masa pra kemerdekaan diberlakukan dua hukum acara pidana sekaligus di wilayah Indonesia Hindia Belanda. Bagi golongan Eropa berlaku Strafvordering (Rv) dan golon- gan Pribumi berlaku Inland Reglement (IR), yang kemudian diperbarui menjadi Herziene Indische Reglement (HIR) mela- lui Staatsblad No. 44 Tahun 1941. Hukum acara bagi golongan Eropa memiliki susunan hukum acara pidana yang lebih baik dan lebih menghormati hak-hak asasi tersangka/terdakwa. Se- dangkan dalam Inland Reglement maupun Herziene Indische

Praperadilan Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Reglement (HIR), golongan pribumi kedudukannya sebagai warga negara di negara jajahan (Salman Luthan dkk, 2014: 29).

HIR diberlakukan bagi pribumi yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang dan lain-lain, sedangkan IR diberlakukan bagi daerah-daerah lain- nya. Baik dalam IR maupun HIR tidak dikenal istilah praper- adilan, yang ada untuk urusan pemeriksaan awal adalah hakim komisaris.

Hakim komisaris bekerja aktif, bekerja sebagai bagian dari eksekutif, berbeda dengan hakim biasa yang memeriksa perkara pada sidang-sidang seperti biasanya. Hakim komisaris berperan sebagai pengawas pada tahap pemeriksaan penda- huluan dari serangkaian tahapan proses peradilan pidana. Lembaga ini juga dapat melakukan tindakan eksekutif sep- erti memanggil orang, baik para saksi (Pasal 46) maupun ter- sangka (Pasal 47), mendatangi rumah para saksi maupun ter- sangka (Pasal 56), dan juga memeriksa serta mengadakan penahanan sementara terhadap tersangka (Pasal 62). Tinda- kan hakim komisaris yang termasuk tindakan eksekutif terse- but menunjukan bahwa kedudukannya bersikap aktif dan memiliki tanggung jawab pengawasan yang besar pada tahap pemeriksaan awal (Salman Luthan dkk, 2014: 30).

Hukum-hukum buatan penjajah Belanda semuanya telah

establish di seluruh tanah jajahan Indonesia. Tanggal 17 Agus- tus 1945 Indonesia merdeka, masa itu adalah tonggak awal tata hukum Indonesia mulai disusun. Dengan argumentasi untuk menghindari kekosongan hukum (facum of law), dalam konstitusi itu tetap memberikan peluang masih berlakukanya peraturan-peraturan yang pernah berlaku dalam masa jajahan Belanda, yakni melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945.

115

Berdasarkan ketentuan tersebut, HIR masih berlaku dan bisa dipergunakan sebagai hukum acara pidana di pengadi- lan seluruh Indonesia. Hal ini diperkuat oleh Pasal 6 UU

No. 1 Drt/195, yang dimaksudkan untuk mengadakan unifi- kasi dalam bidang hukum acara pidana, yang sebelumnya terdiri dari dua hal, yakni hukum acara pidana bagi Landraad serta hukum acara pidana bagi Raad van Justice. Dualisme hu- kum acara pidana adalah akibat perbedaan antara peradilan bagi golongan Bumi Putra dan bagi golongan Eropa (Salman Luthan dkk, 2014: 31).

Pada akhir tahun 1979 Menteri Kehakiman Mudjono me- wakili Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Hukum Acara Pidana ke DPR. Pada masa itu pemerin- tah beranggapan bahwa HIR warisan Belanda sudah tidak rel- evan lagi setelah sekian puluh tahun Indonesia merdeka. Saat itu muncul gerakan penolakan RUU Hukum Acara Pidana dari kalangan LBH/YLBHI, Persatuan Advokat Indonesia (Peradin), akademisi dan kalangan pers. Mereka beranggapan bahwa RUU tersebut amat buruk bahkan lebih buruk dari HIR warisan Be- landa yang akan digantikannya. Rancangan itu dianggap masih saja berorientasi pada kekuasaan dan tidak cukup melindungi hak-hak asasi tersangka ataupun terdakwa yang selama berpu- luh-puluh tahun tidak dilindungi oleh HIR. Kemudian muncul draf-draf RUU tandingan dan sembari terus melakukan per- lawanan terhadap usulan pemerintah. Pemerintah tidak men- gendurkan semangatnya untuk menggati HIR dengan RUU Hu- kum Acara yang dibuatnya, namun menyetujui untuk membuat draf yang baru bersama DPR dengan masukan-masukan baik dari Komite Aksi Pembela Pancasila, Peradin maupun lembaga- lembaga lainnya. Maka RUU Hukum Acara Pidana yang diaju-

Praperadilan Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

kan ke DPR benar-benar rancangan baru yang dibuat oleh Pan- sus DPR dengan masukan-masukan dari steakholder.

Salah satu konten dan itu merupakan satu terobosan di bi- dang hukum dalam RUU tersebut adalah pengaturan tentang praperadilan untuk menggantikan model hakim komisaris yang diajukan dalam RUU Hukum Acara Pidana versi Pemer- intah. Lembaga ini lahir dari pemikiran untuk mengadakan tindakan pengawasan terhadap aparat penegak hukum agar dalam melaksanankan tugasnya tidak menyalahgunakan we- wenang. Karena pengawasan internal yang selama ini dilaku- kan dirasa kurang cukup sebab bisa saja ada faktor psikologis dan ikatan emosional antara pejabat negara yang bertugas dilembaga tersebut untuk men-judge teman seprofesinya. Un- tuk kepeningan fair prosses due of law dibutuhkan pengawasan silang antara sesama aparat penegak hukum.

RUU Hukum Acara Pidana yang sama sekali baru dan ber- beda dengan RUU versi pemerintah akhirnya disahkan dalam sidang Paripurna DPR dan menjadi Undang-Undang No. 8 Ta- hun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, kemudian Undang- Undang tersebut dikenal dengan sebutan KUHAP (Kitab Un- dang-Undang Hukum Acara Pidana). Pada saat itu, menurut beberapa pakar KUHAP ini dianggap sebagai karya besar bang- sa Indonesia untuk melepaskan diri dari sistem hukum acara warisan penjajah Belanda, HIR dan IR.

Dalam KUHAP buatan asli Indonesia yang mengatur prap- eradilan terinspirasi dari prinsip-prinsip hukum di negara bersistem hukum Anglo Saxon, yaitu hak habeas corpus act. Ha- beas corpus act memberikan hak pada seseorang melalui suatu perintah pengadilan menuntut pejabat yang melaksanakan hu- kum pidana formil agar tidak melanggar hukum (illegal) atau tegasnya melaksanakan hukum pidana formil tersebut benar-

117

benar sah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (Putu- san Mahkamah Agung.go.id).

Praperadilan yang diatur oleh KUHAP, dimulai dari sah atau tidaknya penangkapan dan atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan dan permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkara- nya tidak diajukan ke pengadilan. Pemikiran para perumus KU- HAP mendasarkan bahwa penangkapan dan penahanan meru- pakan upaya paksa yang dapat dilakukan oleh pejabat penegak hukum. Dan upaya paksa tersebut sangat mungkin melanggar hak asasi warga negara. Pada sistem hukum pidana Indonesia menganut asas presumtion of innocence (pra duga tak bersalah) yang artinya seseorang wajib dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya oleh suatu putusan pengadilan yang terbuka, bebas dan tidak memihak. Asas ini jelas menjunjung dan melindungi hak asasi warga negara serta menjadi asumsi awal bagi para hakim dalam memeriksa perkara.

Aturan tersebut telah lebih dari 4 (empat) dasawarsa ber- jalan tanpa ada riak-riak yang cukup berarti muncul diper- mukaan. Upaya paksa berupa penangkapan dan penahanan yang tidak prosedural dan merampas hak asasi manusia per- nah beberapa kali terjadi, yang cukup mendapatkan perhatian adalah kasus Abu Bakar Ba’asyir dan tersangka kasus teroris. Namun kasus-kasus tersebut tidak sampai pada munculnya kegaduhan hukum, baik dalam wacana hukum maupun praktik hingga muncul satu putusan hukum atas peristiwa itu, disamp- ing tidak adanya perlawanan yang berusaha keluar dari aturan hukum yang telah ada.

Berbeda dengan kasus yang menjerat Komjen Pol. Budi Gunawan, yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka korup-

Praperadilan Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

si. Budi Gunawan melakukan perlawanan hukum atas peneta- pannya sebagai tersangka korupsi, dengan mengajukan guga- tan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Pendaftaran gugatan praperadilan Budi Gunawan kemu- dian diproses, walaupun KUHAP sebagai buku induk hukum acara pidana tidak mengatur perihal praperadilan pada kasus penetapan seseorang menjadi tersangka. Biarpun tidak atau belum ada aturannya, hakim, secara normatif tidak boleh me- nolak perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan tidak ada, belum ada hukum yang mengaturnya atau alasan lainnya. Karena berdasar pada undang-undang kekuasaan kehakiman, seorang hakim tidak boleh menolak perkara yang diajukan ke- padanya dalam persidangan. Penolakan hakim terhadap per- soalan perkara yang diajukan padanya justru dinilai sebagai pelanggaran terhadap undang-undang dan dapat dipidanakan.

Hakim Sarpin yang menjadi hakim tunggal pada persi- dangan pra peradilan tentang gugatan status tersangka Budi Gunawan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dalam putusannya dengan berbagai argumentasi mengabulkan (me- menangkan) gugatan Penggugat dan menyatakan bahwa pen- etapan tersangka pada Penggugat (Budi Gunawan) oleh tergu- gat (KPK) dinyatakan tidak sah dan tersangka bukan termasuk penegak hukum. Argumentasi Hakim Sarpin tertuang dalam putusan perkara nomor 04/Pid/Prap/2015/PN Jkt Sel, den- gan naskah setebal 244 halaman.

Setelah putusan tersebut, dunia hukum Indonesia gempar. Karena baru pertama kali dalam sejarah KPK menetapkan sese- orang menjadi tersangka koruptor bisa lepas dari jerat hukum yang dipasang KPK. Syak wasangka, pro dan kontra bermuncu- lan, diskusi warung jalan, media elektronik, media cetak, me- dia sosial (facebook, twittwer, instagram dll), kajian, penelitian

119

ilmiah dan bincang-bincang hukum ramai membahas putusan Hakim Sarpin. Bahkan Komisi Yudisial mengadukan Sarpin ke Mahkamah Agung dan merekomendasikan untuk mengeksam- inasi serta mengevaluasi Hakim Sarpin. Ada pula yang mengu- sulkan KPK untuk mengajukan PK (Peninjauan Kembali) terha- dap putusan Pengadilan Negeri tersebut.

Ada sebagian pengamat yang menyatakan bahwa pu- tusan Hakim Sarpin merupakan terobosan atau penemuan hukum baru terkait putusan praperadilan, tetapi pendapat yang lain menyatakan bahwa putusan ini dinilai sebagai pu- tusan yang kontroversial, karena dianggap telah melampaui kewenangan praperadilan yang diatur di dalam Pasal 1 an- gka 10 dan Pasal 77 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (UU HAP).

Perdebatan apakah lembaga praperadilan berwenang untuk memeriksa dan memutus sah atau tidaknya penetapan tersangka akhirnya terjawab sudah, Mahkamah Konstitusi (MK) pada tanggal 28 April 2015 melalui Putusan Nomor 21/PUU-XII/2014 (Putusan MK) telah memutus diantaranya bahwa lingkup kewenangan praperadilan yang diatur dalam Pasal 77 huruf (a) UU HAP mencakup juga sah atau tidakn- ya penetapan tersangka (halaman 110 Putusan MK). Putusan MK ini artinya telah memperluas kewenangan praperadilan itu sendiri, yang dahulu mencakup sah atau tidaknya penangka- pan, penahanan, penghentian penyidikan, atau penghentian penuntutan, saat ini diperluas diantaranya pula mencakup mengenai memeriksa dan memutus sah atau tidaknya pen- etapan status tersangka seseorang (Zaqiu Rahman, 2015).

Pasca putusan MK tersebut beberapa tersangka korup- tor melakukan perlawanan hukum terhadap KPK, diantaranya mantan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan Mantan

Praperadilan Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Dirjen Pajak Hadi Purnomo yang dimenangkan dalam sidang praperadilan dan beberapa kasus lainnya. Atas beberapa kasus tersebut, banyak orang menyimpulkan bahwa peristiwa itu adalah bentuk perlawanan balik dari para koruptor terhadap usaha-usaha pemberantasan korupsi yang selama ini dilaku- kan oleh para penegak hukum, terutama KPK.