Bagian 3: Otonomi Daerah Merusak Ekologi Politik
F. Pemerintah yang Abai terhadap Isu Lingkungan 102
“Masalah lingkungan hidup sekarang belum menjadi perhatian prioritas pemerintah”. Begitulah statemen atau bahkan kesimpulan Megawati Sukarnoputri, pemilik partai pengusung utama duet Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK. Statemen tersebut ia sampaikan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) pada sebuah forum di Bali, beberapa bulan lalu. Statemen itu ramai diberitakan oleh berbagai media, termasuk SINDOnews (6/08/2016).
Tidak serius terkait perubahan iklim
Satu isu yang menjadi perhatian dunia karena dampaknya semakin terasa adalah pemanasan global. Sayangnya, hingga penghujung tahun 2016 ini pemerintah kita ternyata tidak serius dan belum mengambil langkah-langkah konkrit, dan bahkan pada kadar tertentu sangat ambigu. Pemerintah Indonesia cenderung memunculkan wajah bopengnya.
Pertama, terkait dengan emisi kendaraan, sebagai salah satu
penyumbang emisi sangat besar, Indonesia teryata masih belum serius. Saat ini Indonesia masih menggunakan Euro 2 (standar 1996) dan faktanya masih banyak kendaraan pribadi atau umum yang menggunakan
standar emisi Euro 1 (standar 1990). Pemerintah sebenarnnya sudah mulai menerapkan Euro 3, tapi sayangnya hanya untuk kendaraan roda dua, dan dalam praktek pelaksanaannya juga belum efektif. Hal ini secara jujur diakui oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO).
Rendahnya komitmen pemerintah kita ditunjukkan dengan tidak adanya kebijakan nyata, dan hanya sekedar lip service. Wakil Presiden Jusuf Kalla misalnya dalam satu kesempatan hanya menyampaikan bahwa ia telah meminta menteri tertetu untuk segera mengkaji penggunaan standar emisi kendaraan bermotor Euro 4 untuk industri otomotif dalam negeri. Entah bagaimana wujudnya, kita tidak pernah tahu. Sementara negara-negara Eropa saat ini telah menggunakan Euro 5 (standar 2009) dan bahkan kini tengah membahas implementasi Euro 6 (standar 2014). Kondisi semakin diperburuk karena pemerintah membuka pintu selebar-lebarnya untuk produksi kendaraan bermotor, semata untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.
Kedua, konsistensi implementasi hasil Conference of Parties (COP)
ke-21 tahun 2015 yang merupakan Konferensi Tingkat Tinggi Konvensi Kerangka Kerja dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perubahan iklim belumlah tampak. Bagi Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 memang telah ditetapkan agenda prioritas pengendalian perubahan iklim dengan tar-get pengurangan Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% tahun 2019 dan peningkatan ketahanan perubahan iklim di daerah. Indonesia berjanji untuk berjuang agar peningkatan emisi di bawah 20%, Namun, jika dikritisi secara serius, semuanya masih tanda tanya.
Secara pragmatis, pada beberapa event yang diikuit oleh penulis, sosialisasi perubahan iklim hanya terlihat sebagai kegiatan seremonial. Pemerintah daerah terlihat sangat tidak serius, terbukti dari peserta yang dikirim untuk menghadiri acara tersebut, respon dan paparan yang mereka sampaikan dalam kegiatan, dan kegiatan tindak lanjut dari kegiatan stimulan tersebut. Maka hinga kini kita dapat melihat belum ada perbaikan serius atau upaya preventif untuk mengatasi perubahan iklim yang sangat ekstrim itu. Justru yang marak adalah pemerintah daerah menggadaikan lahan, ruang terbuka hijau, dan hutannya untuk dieksploitasi sebesar-besarnya sehingga dapat mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD), terlebih menjeleng PILKADA serentak ini.
Pada level kebijakan nasional yang lain, sangat tampak wajah bopeng ini. Dalam hal ini ada baiknya kita menyimak rilis Greenpeace Indonesia (2016), dimana terungkap bahwa rencana besar elektrifikasi nusantara, pemerintah akan membangun tambahan 35 gigawatt (GW) pembangkit listrik baru hingga 2019. Sebanyak 22 GW berasal dari PLTU batubara. Pemerintah berencana membangun PLTU batubara dengan total kapasitas 31.982,5 MW di seluruh Indonesia, sebagai tambahan kepada kapasitas terpasang saat ini sebesar 23.365,5 MW. Dengan asumsi setiap 1.000 MW PLTU batubara mengeluarkan sebanyak 6 juta ton karbondioksida per tahun, maka perkiraan jumlah karbondioksida dari pembangkit batubara di seluruh Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai 332 juta ton per tahun, yang setara dengan emisi karbondioksida tahunan dari 69,7 juta kendaraan. Dengan kata lain, proyek-proyek pembangkit listrik batubara baru diproyeksi bisa menyumbang hampir 192 juta ton karbondioksida per tahun.
Ironisnya, menurut catatan Greenpeace rezim Jokowi-JK lemah untuk tidak mengatakan tidak sama sekali mempromosikan peralihan cepat dari energi fosil menuju energi terbarukan. Pemantauan yang transparan terhadap emisi dari PLTU yang beroperasi saat ini, dan penegakan hukum serta penerapan sanksi bila terdapat ketidakpatuhan ternyata sangat lemah. Bangsa ini semakin lalai dan tidak fokus pada sumber energi terbarukan yang melimpah-ruah seperti panas bumi, tenaga air dan angin. Insentif untuk pengembangan energi terbarukan jumlahnya sangat tidak pantas, sementara dukungan pengembangan teknologi yang terkait dengan energi terbarukan cukup minim.
Lemahnya Penegakan Hukum
Publik diperlihatkan dengan berbagai peristiwa yang bukan hanya mencoreng komitmen Presiden Jokowi untuk penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan, namun juga mengusik rasa keadilan bagi publik. Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dikeluarkan oleh Kepolisian Daerah dengan berbagai alasan, antara lain tidak cukup bukti. Namun di ruang yang lain, penangkapan besar-besaran dilakukan terhadap masyarakat kecil, seakan tidak ada kompromi. Lemahnya wibawa negara di hadapan korporasi juga ditunjukkan dengan peristiwa penyanderaan petugas KLHK dan penghalangan sidak Badan Restorasi Gambut.
WALHI (2016) melalui press release-nya menilai bahwa dari hulu hingga hilir, korporasi melakukan berbagai tindak kejahatan, baik
kejahatan lingkungan maupun kejahatan kemanusiaan. Di hulu, di berbagai kasus yang diadvokasi oleh WALHI, korupsi dilakukan untuk mendapatkan izin. Dalam analisa yang WALHI lakukan bersama dengan organisasi masyarakat sipil lainnya menemukan, berbagai bentuk modus operandi kejahatan korupsi yang dilakukan oleh perusahaan. Korporasi juga melakukan kejahatan dalam rantai produksinya, dalam land
clear-ing dengan membakar yang mengakibatkan penghancuran ekosistem,
kematian, dampak kesehatan masyarakat yang buruk, kerugian negara dan kerugian non materi lainnya. PT. Musi Hutan Persada misalnya, selain konsesinya terbakar dengan luasan mencapai sekitar 80.000 hektar, mereka juga melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dengan menggusur tanah dan ladang milik masyarakat Cawang Gumilir Musi Rawas Sumatera Selatan. Sudah 158 hari masyarakat tinggal di pengungsian.
Menyuap, melakukan pelanggaran hukum dan aturan, melanggar hak asasi manusia, menjadi watak korporasi dalam menjalankan bisnis mereka. Penggunaan kekerasan, premanisme dan pendekatan keamanan, termasuk pengerahan aparat keamanan (Polisi/TNI) dan juga kelompok pamswakarsa selalu menjadi pola yang sistematis dan pada akhirnya terus melanggengkan konflik struktural agraria. WALHI mempertanyakan peran penegak hukum dalam hal ini Kepolisian dalam kasus-kasus struktural lingkungan hidup, terutama dalam kasus kebakaran hutan dan lahan. Ada apa dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia? Polisi tidak hanya gagal menegakkan hukum, terutama hukum lingkungan, akan tetapi juga gagal menterjemahkan Undang-Undang, bahkan terkesan memelintir isi Undang-Undang, sehingga gagal melihat penyebab kebakaran hutan dan lahan, dan gagal menetapkan tersangka pelaku pembakar hutan. Dalam beberapa kejadian ini polisi memposisikan diri mewakili kepentingan korporasi, bahkan terlihat mulai berani berhadapan dengan negara, sementara korporasi mulai terang-terangan menunjukkan kedudukannya melampui negara.
WALHI menyatakan “berbagai peristiwa hukum yang terjadi dalam beberapa hari ini, harusnya dapat menjadi momentum bagi Presiden untuk menyatakan bahwa Indonesia berada dalam Darurat Kejahatan Korporasi”. Untuk itu, WALHI merekomendasikan agar:
1. Presiden Republik Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh di tubuh POLRI juga TNI, dimana selama ini terindikasi menjadi backing korporasi
terutama korporasi perusak lingkungan dan melakukan pelanggaran HAM. Memastikan reformasi di sektor keamanan dapat berjalan di tubuh institusi Kepolisian/TNI
2. Mereview upaya penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan dan lahan dan kejahatan lingkungan hidup lainnya yang saat ini sedang berjalan, khususnya Kementerian/Lembaga Negara yang diberi kewenangan dan tugas menegakkan hukum. Mengingat proses penegakan hukum lingkungan yang berjalan saat ini, belum mampu menjangkau kejahatan korporasi
Mengingat situasi darurat kejahatan korporasi ini, kami juga mendorong adanya pengadilan lingkungan hidup. Pengadilan lingkungan hidup dibutuhkan karena kejahatan lingkungan dan kemanusiaan yang dilakukan oleh korporasi sudah pada tahap kejahatan luar biasa (extra
107
Bagian 4
MENGGUSUR KEARIFAN LOKAL
MERUNYAMKAN BENCANA EKOLOGIS
Kearifan lokal adalah sumber pengetahuan yang diselenggarakan dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya. -Caroline Nyamai-Kisia